22 January 2008

Album SBY Rinduku Padamu


Saya baru saja membeli album Rinduku Padamu, kumpulan sembilan lagu karya Susilo Bambang Yudhoyono. Harganya Rp 20.000. SBY, begitu pria kelahiran Pacitan 9 September 1949 ini biasa dipanggil, adalah presiden Republik Indonesia. Bagus lah, presiden kita bisa menulis lagu, main gitar, bisa nyanyi.

"Sejak masa remaja saya menyenangi seni. Termasuk seni musik, seni lukis, dan menulis puisi. Bermain musik bersama grup band di kota kecil Pacitan tahun 60-an tentu meninggalkan kenangan manis dan kerinduan tersendiri," tulis SBY di sampul albumnya.

SBY tidak nyanyi sendiri. Adalah Dharma Oratmangun, pemusik senior yang dulu populer dengan lagu Januari di Kota Dili, mengajak sepasukan penyanyi dan pemusik untuk bikin album perdana SBY. Selain Dharma sebagai penyanyi paling dominan, dan rupanya cocok dengan selera SBY, terdapat nama-nama Gee Foregia, Senno Haryo, Kerispatih [band], Ebiet G. Ade, Widi Mulia, serta Dea Mirella.

Penata musik: Jumadi [paling dominan], Jimmie Manopo, serta Purwatjaraka. Kerispatih yang memainkan lagu Kawan tentu membuat aransemen sendiri sesuai dengan gayanya. Pemusik senior Bartje van Houten, gitaris, ikut mempermanis lagu-lagu melankolis ala SBY.

Yah... bagaimanapun SBY itu presiden, politikus, tentara, pemikir. Musik atau menulis lagu sekadar hobi. Pengisi waktu senggang belaka. Karena itu, kita tak perlu berharap terlalu banyak pada album ini. Datar-datar saja. Tak ada sesuatu yang baru selain kerinduan pada Indonesia yang damai, aman, makmur. Juga kebanggaan akan tanah air yang indah.

Gaya nyanyi Dharma Oratmangun mirip Broery Marantika [alm]. Iringan musik pun dibuat ala lagu-lagu Broery yang ditulis Rinto Harahap atau Pance Pondaag. Karena itu, pendengar bisa mengira seakan-akan ini album Broery pada 1980-an atau 1990-an. Beda banget deh dengan langgam musik sekarang yang heboh, meriah, khas remaja. Kerispatih menjadi kecuali.

Pejabat bikin album, bahkan menjadi penyanyi bukan hal baru. Di Jawa Timur dulu Gubernur Basofi Sudirman tiba-tiba menjadi penyanyi dangdut. Basofi sempat mencetak hit Tidak Semua Laki-Laki. Karena sulit bersaing di pasar musik, maka penjualannya pun dilakukan ala birokrasi.

Semua pejabat mulai provinsi, kabupaten, kecamatan, sampai desa dikerahkan untuk menjual album Basofi Sudirman. Hasilnya, laku keras, tapi sukses semu. Padahal, suara Basofi jelek, khas penyanyi tujuh belasan di kampung. Mudah-mudahan saja album SBY ini tidak dipasarkan lewat mesin birokrasi. Hehehe....

SISI A
1. Rinduku Padamu [vokal: Dharma Oratmangun]
2. Rinduku Padamu [tempo lebih cepat]
3. Kasih Aku pun Rindu [Gee Foregia]
4. Mentari Bersinar [Senno Haryo]
5. Kawan [Kerispatih]

SISI B
1. Dendang di Malam Purnama [Dharma Oratmangun]
2. Mencari Keberkahan Tuhan [Ebiet G. Ade]
3. Hening [Widi Mulia]
4. Kuasa Tuhan [Dharma Oratmangun]
5. Selamat Berjuang [Dea Mirella]

2 comments:

  1. http://471belajarnulis.blogspot.com/2008/03/resensi-album-sby-dalam-versiku.html

    ReplyDelete
  2. Yup...

    Apakah SBY bersedia untuk membaca blog saya di http://jejaknusantara.blogspot.com
    Berisi inspirasi yang menggali nilai-nilai luhur bangsa...

    ReplyDelete