06 January 2008

Air terjun Dlundung, Trawas, Mojokerto





Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan beruntung punya banyak objek wisata alam di pegunungan. Ini penting sekali bagi orang Surabaya untuk melepas penat setelah kerja keras selama satu minggu. Tiap akhir pekan banyak orang Surabaya yang rekreasi ke pegunungan.

Menghirup udara segar, menikmati alam pegunungan yang sejuk. Maklum, udara di Surabaya sangat panas, bisa tembus 35-37 derajat Celcius pada puncak kemarau. "Akhir pekan kami sekeluarga, kalau gak ada halangan, mesti ke pegunungan," tutur Willy, pengusaha di Surabaya. Naik pegunungan itu bisa berarti Prigen, Tretes, Pacet, Ledok, Pujon, Batu, dan seterusnya.

Salah satu objek pegunungan yang bagus dinikmati adalah air terjun [kerennya: waterfall]. Ada tiga air terjun bertetangga: Kakekbodo, Putuktruno, Dlundung. Nah, Minggu 6 Januari 2007 saya menengok air terjun Dlundung di Trawas, Mojokerto. Ini kali pertama saya ke sana.

Jalan relatif bagus. Dari Sidoarjo [macet di Porong karena lumpur lapindo], Pandaan, masuk Raya Trawas, lalu berbelok ke arah Dlundung. Ada papan nama cukup besar. Para tukang ojek siap memberikan petunjuk kalau kita bingung. Sekira dua kilometer dari jalan raya, menanjak, sampailah di pintu gerbang.

Bayar karcis Rp 3.500 per orang [termasuk asuransi Rp 100]. Ini retribusi untuk Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Beda dengan Kakekbodo atau Putuktruno [kedua air tejun ini di Kabupaten Pasuruan], kita bisa bawa kendaraan bermotor hingga di depan air terjun. Parkir, lalu jalan kaki sebentar saja sampai. Tak perlu ngos-ngosan macam di Air Terjun Kakekbodo.

Cipratan air terjun menambah sejuk suasana. Ada sensasi tersendiri. Kita bisa merasakan kebesaran Tuhan, berefleksi, di depan air terjun sekira 50-60 meter itu. Volumenya kecil saja. Suara air yang konstan, menghantam batu-batu gunung, asyik disimak. Di sini tidak begitu ramai karena lokasinya relatif jauh ketimbang Kakekbodo dan Putuktruno.

Saya perhatikan mayoritas pengunjung anak-anak muda. Mereka membawa pasangan [pacar] masing-masing. Bikin acara sendiri-sendiri. Khas anak muda, remaja, yang baru kenal nikmatnya berkasih mesra. "Memang yang datang ke sini umumnya anak-anak muda. Tapi ada juga lho keluarga yang bawa anak-anak," tutur Riyati, pemilik warung. Ibu ini didampingi Lia, anaknya.

"Sampean kok sendiri? Nggak bawa pasangan?" tanya Bu Riyati.

"Maunya sih pacaran, tapi ketuaan," jawab saya sekenanya. Bu Riyati, Lia, dan beberapa pengunjung tertawa lebar. Suasana makin gayeng. Saya pesan mie rebus, teh hangat, untuk sarapan. Lalu, saya bertanya sedikit tentang kondisi wisata alam Dlundung, Trawas, nan alami itu.

Air terjun Dlundung bukanlah objek wisata kemarin sore. Pada era Hindia Belanda lokasi ini sudah sering dikunjungi tuan-tuan dan nyonya-nyonya Belanda untuk rekreasi. Pada 10 Februari 2007, Carolina Lenkiewicz-Andreiessen alias Rieki berkunjung ke rumah Bapak Max Arifin [seniman, tokoh teater Jawa Timur, kini almarhum] dan Ibu Sitti Hadidjah di Mojokerto. Rieki ini anaknya Gerardus Andriessen, arsitek terkenal pada masa penjajahan Belanda.

Gerardus membangun banyak gedung bersejarah di Jawa, salah satunya kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan Surabaya. Rieki kebetulan membawa album kenangan semasa di Jawa Timur. Di antaranya, air terjun Dlundung, Trawas, pada tahun 1934. Hebat benar orang Belanda! Dokumen lama pun masih dirawat dengan sangat baik.

Sebaliknya, kita di Indonesia lemah dalam urusan arsip dan dokumentasi macam ini. Bisa saya pastikan, Pemkab Mojokerto tidak punya foto masa lalu Dlundung atau objek wisata lain di Mojokerto. Harus cari di Belanda dulu! Hehehe.....

Membandingkan air terjun Dlundung pada 1934 dan 2008 sungguh jauh berbeda. Di foto lawas itu aliran air sangat deras, tebal. Sekarang saya perkirakan tinggal 20 persen saja. Saya bisa bayangkan betapa gemuruhnya air terjun Dlundung pada masa Hindia Belanda. Sekarang gemuruh itu tak ada. Hanya kecipak-kecipak kecil saja. Kalau tidak dijaga baik-baik, hutan gundul, bisa jadi suatu ketika air terjun ini hilang.

Hampir satu jam saya berada di lokasi air terjun Dlundung. Tak banyak yang bisa digali dari objek wisata alam ini karena petugas maupun pedagang di Dlundung tak punya referensi sejarah. "Saya jualan, jam lima sore pulang," kata Ibu Riyati.




Air terjun Dlundung, Trawas, 1934, koleksi Carolina Lenkiewicz-Andreiessen.

11 comments:

  1. saya ada tugas observasi ke air terjun Dlundung..
    apa anda punya referensi tentang sejarahnya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduchh,, ada tugas nech bwat mkalah ,, tp kok gg ada yha sjarah.eee

      Delete
  2. q seng omahq trawas ae nang dlundung jek ping 4

    ReplyDelete
  3. nie lia,. anaknya b. riati
    low mw tw sejarahna mending tanya ke balai desa ketapan rame,.
    capa tw dsna ad,.
    yang setahuku itu air terjun di temukan ketika pendiri desa ketapan rame melihat para warganya membutuhkan air.

    ReplyDelete
  4. nie lia anaknya ibu yang punya warung,.
    kalo mw tau sejarahnya,. tnya ke balai desa ketapan rame ajach,.
    capa tau dsana ada,.
    yang sya tahu lwt cerita kakek,. air terjun ini ditemukan oleh yang babat desa ketapan rame,. beliau ke hutan mencari sumber air,untuk kehidupan warga yang tinggal di desa ini,.

    ReplyDelete
  5. q juga sering ke dlundung, tapi sejarah detailnya kurang tahu, dengar2 katanya disana ada batu besar yang biasanya buat bertapa cari ilmu, lalu ada penunggunya berupa ular yang sangat besar. Percaya gak percaya tapi aku pernah lihat ada goa kecil yang diameternya kurang lebih 1/2 meter, lalu diatasnya dlundung itu ada air terjun lagi kalau gak salah namanya air terjun kembar. Tapi lebih detailnya coba kamu tanya langsung ke warga setempat.

    ReplyDelete
  6. aku org pasuruan tp belum pernah ke dlundung. baru denger sih. hehehe *cupu
    ntar saya coba survei ke sini

    ReplyDelete
  7. smpk.st.vincentius9:00 AM, June 14, 2011

    kemarin saya ke dlundung..
    ada camping besar..
    jalan menuju dlundung sendiri sungguh sangat curam dan licin...
    tapi jika anda berjiwa petulangan silahkan datang..
    tapi alangkah baiknya jika kita bersama teman teman...

    ReplyDelete
  8. c. brod
    saya minta customer service x
    bisa no hp atau alamat email.

    ReplyDelete
  9. dlundung kalo dr pertigaan masjid cheng hoo ke arah mana yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. ke arah prigen/tretes. di pom bensin silvi belok kanan lalu belok kiri lurussss..... di pertigaan silvi belok kanan lurus terus... nanti masuk wilayah trawas. silakan bertanya ke warga, entar ditunjukin jalan ke arah Dluncung. pastikan rem kendaraan anda dalam kondisi prima.

      Delete