29 November 2007

Lukisan Yesus versi Jawa


Alkitab mengatakan, Yesus Kristus atawa Isa Almasih lahir di Betlehem, Palestina, negerinya mendiang Yasser Arafat. Namun, lukisan-lukisan Yesus yang beredar selama ini menampilkan sosok pria berwajah Eropa, berkumis, rambut gondrong. Sebagai pelukis asli Jawa, berproses cukup lama di Jogjakarta, Stevanus Djoko Lelono mengaku sangat tidak sreg.

"Yesus kok potonganne kayak Londo. Kok nggak kayak wong Palestina utowo Arab?" ujar Djoko Lelono kepada saya di rumahnya, Sidoarjo. [Yesus kok potongannya seperti bule Eropa? Kok tidak seperti orang Palestina atau Arab.]

Dia lalu menceritakan keresahan batinnya pada 1970-an di Jogja dulu. Setiap menjelang Natal, Djoko berusaha mendalami kisah kelahiran Yesus Kristus di Injil Lukas. Ada gembala sederhana. Kandang hewan. Orang-orang kecil yang sangat menderita. "Saya akhirnya bisa membayangkan kok mirip banget dengan keadaan di desa-desa Jawa saja. Kayak wong cilik di sawah, kampung-kampung."

Dari sinilah, Djoko mulai berani memainkan kreativitasnya untuk menggambarkan beberapa peristiwa Kristiani. Mau tahu bagaimana Yesus lahir dulu? Djoko melukis seorang ibu berkebaya biru dengan bayi dan gentong. Mirip dengan peristiwa kelahiran biasa di kampung-kampung.

Tidak ada gembala, kandang hewan, malaikat, tiga majus, dan seterusnya. "Soalnya, saya bayangkan Yesus itu lahir di Tanah Jawa," ujar Djoko Lelono, serius.

Djoko juga menggambar 'Perjamuan Terakhir' antara Yesus dengan 12 muridnya. Lagi-lagi gayanya khas wong tani di Jawa. Yesus duduk di tengah-tengah, badannya kurus, pakai topi khas petani Jawa. Tiga belas orang itu mengelilingi makanan rakyat yang siap disantap.

"Perjamuan itu kayak petani yang syukuran atau pesta panen. Saya menganggap Yesus dan murid-muridnya, ya, seperti itu," ujar pria kelahiran Sidoarjo, 21 Agustus 1959, itu.

Tak lupa Djoko Lelono menampilkan Yudas Iskariot, rasul yang mengkhianati Yesus. Si Yudas ini berada di bagian belakang dan tampak menyembul senjata tajam (arit) di balik bajunya.

Lukisan-lukisan semacam ini, kata dia, cukup banyak penggemarnya namun sulit berkembang di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo. Selain apresiasi masyarakat masih jauh dibandingkan Jogja, "Di Sidoarjo dan Surabaya belum ada tempat untuk memamerkan karya-karya yang dulu sangat sering saya buat di Jogjakarta," ujar seniman yang
pernah membuat rekor lukisan terpanjang versi Museum Rekor Indonesia (MURI).

Mengapa Djoko begitu getol 'men-Jawa-kan' cerita-cerita Alkitabiah? Ia mengaku tak punya pretensi apa-apa, tak punya motivasi teologis, selain keresahannya sebagai orang Jawa belaka. Bertahun-tahun ia melihat gambaran Yesus yang sangat khas Eropa, jauh dari potret manusia Jawa, dan itu membuatnya merasa asing.

"Gereja dan Yesus menjadi barang asing di masyarakat karena gambaran yang sangat Eropa tadi," tukasnya.

Ulah Djoko Lelono ini sebetulnya sudah banyak dilakukan seniman-seniman di Jepang, Korea, atau Afrika.Mereka sejak lama membuat lukisan Yesus sesuai dengan budaya dan adat-istiadat setempat. Jangan heran ada 'The Black Jesus', gambaran Yesus
ala kaum negro, dan seterusnya.

Ternyata, proses 'Jawanisasi' ala Djoko Lelono ini mendapat apresiasi positif dari pimpinan Gereja Katolik. Pada 1993 lalu Djoko mendapat medali 'Redemptor Hominis' dari Paus Yohanes Paulus II lewat Duta Besar Vatikan untuk Republik Indonesia. "Mungkin di seluruh Indonesia baru saya sendiri yang mendapat medali itu," ujar Djoko lalu memperlihatkan medali kecil tersebut.

26 November 2007

Setahun geger video mesra Maria Eva



Kalau janjian sama artis, anda harus punya kesabaran lebih. Harap maklum, artis harus merias diri, bersolek, pakai busana pantas, tetek bengek lainnya. Artis tidak boleh terlihat terlalu 'biasa' di depan banyak orang. Itulah yang saya alami ketika menunggu Maria Eva, pedangdut asal Sidoarjo, di Hotel Elmi Surabaya, pekan lalu.

Tak apa-apa, toh saya bisa minum kopi sambil baca majalah dan surat kabar secara intens. "Apa kabar? Baik-baik? Maaf, Bang Hurek menunggu cukup lama. Gak apa-apa kan?" ujar Maria Eva sambil menjabat tangan saya erat-erat. Wajah perempuan yang tahun 2006, akhir November, bikin geger jagat politik nasional ini sumringah. Tawanya lepas.

Maria didampingi seorang perempuan setengah baya, istri salah satu manajemennya. "Ibu ini yang dampingi saya ke mana-mana," beber Maria sambil tersenyum. "Ayo, makan ya? Makan ya? Kopinya ditambah ya?" Ah, kenalan yang satu ini akrab benar.

Dan itu wajar karena saya termasuk wartawan yang menulis cukup banyak artikel, termasuk di blog ini, tentang Maria Eva. Syukurlah, Maria Eva sangat mengapresiasi tulisan-tulisan saya. Putri Pak Amir Faisol dan Ibu Siti Sundari ini pun tak keberatan dengan puluhan komentar di blog saya yang menjelek-jelekkan diri.

"Biarkan saja. Toh, mereka tidak tahu banyak tentang Maria Eva. Kalau mereka kenal saya tentu mereka tidak akan menulis macam itu," kata Maria Eva. Diam-diam penyanyi yang sudah merilis tiga album ini ternyata menikmati tulisan saya tentang dia di blog ini.

Saya minum kopi, Maria Eva juga [dia penikmat kopi hitam, panas, kental], semua minum kopi. Lalu, bicara ringan-ringan tentang album baru Maria Eva [Ayam Berkokok] yang baru diluncurkan di Jakarta. Saya diberi satu keping cakram digital bergambar Maria Eva berbusana hijau, seksi nian. Ada 10 lagu di album ini.

Maria Eva juga cerita tentang aktivitasnya di film layar lebar. Diajak produser keturunan India, film tentang hantu-hantuan ini tayang serentak di Indonesia pada 29 November 2007. Cerita film ini tampaknya sengaja disesuaikan dengan pengalaman Maria Eva setahun lalu. Dia menjadi objek berita di media massa, khususnya televisi, selama tiga empat bulan gara-gara rekaman adegan ranjangnya dengan Yahya Zaini, politisi Golkar, beredar di masyarakat.

Yahya kemudian mundur sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kasus ini sempat diproses hukum, sehingga Maria dan Yahya harus membuka rahasia pribadi mereka. Karena berbagai pertimbangan, kasus rumah tangga ini tidak jelas muaranya. Polisi tentu lebih fokus ke kasus narkoba yang kini kian mendera kalangan selebiriti Indonesia.

"Aku sekarang deg-degan nih?" kata Maria Eva. Jessica, penyanyi freelance Surabaya, bergabung di meja kami. Maria Eva menyambut teman karibnya itu dengan hangat. "Dulu kami sama-sama berjuang dari bawah. Manggung dibayar murah, hanya cukup untuk beli nasi goreng. Hehehe," tukas Maria Eva. "Iya, Maria Eva ini dulu nggak ada apa-apanya. Sekarang sudah tekenal," tambah Jessica.

"Oh ya, kenapa deg-degan? Bukankah itu hari bahagia anda sebagai artis yang sudah merambah layar lebar?" tanya saya.

"Yah, gimana ya? Film horor itu memang momentum berharga dalam hidup saya. Tapi, jangan lupa, tanggal launching-nya bersamaan dengan satu tahun 'ledakan' video itu. Bagaimanapun saya ini perempuan, sehingga kasus ini sangat menyayat hati saya. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa keluar dari situasi itu," tutur alumnus Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, ini.

Kasus video ME-YZ itu membuat Maria Eva merasa lebih kuat menghadapi hidup ini. Ia jadi tahu mana sahabat sejati, mana bukan. Dia mengenang, ketika kasus ini pertama merebak akhir November ada temannya yang bicara ngalor-ngidul di media tak karuan. "Saya dijelek-jelekin, tidak sesuai dengan fakta. Tapi sudahlah, saya sudah banyak belajar dari kasus itu."

Kini, selain kariernya di dunia hiburan relatif menanjak, bisa main film, banyak job, Maria Eva ternyata ditaksir banyak laki-laki. Serius nih? "Hehehe... ada saja yang ngajak saya menikah. Tapi saya harus hati-hati karena saya bukan perempuan yang gampang ditipu. Saya harus teliti. Kalau memang jodoh, insya Allah, saya menikah juga," tutur Maria Eva.

Tiba-tiba seorang teman Maria Eva nyeletuk: "Hmmm... mungkin jodohnya dari Danau Toba. Hehehe." Maria Eva lantas tertawa lebar. Danau Toba? Maksudnya, laki-laki asal Tanah Batak, Sumatera Utara, ingin mempersunting Maria Eva? Perempuan berusia 30 tahun ini enggan bercerita lebih banyak. "Hmmm.. sekarang saya belum bisa bicara. Ntar aja kalau sudah jelas baru saya ceritakan sama Bang Hurek," ujar Maria Eva dengan wajah berbinar-binar.

Wah, pikir saya, Maria Eva rupanya sudah punya tambatan hati, orang Batak. Tapi identitasnya seperti apa, kerja di mana, artis atau bukan, saya belum tahu. "Kira-kira kapan diresmikan?" tanya saya. "Wah, nanya itu lagi. Katanya, kita bicara hal-hal di luar urusan jodoh. Hehehe..."

Tiba-tiba datang artis cilik Surabaya, Vanessa, bersama ayah dan mamanya. Mereka rupanya sudah janjian bertemu di Hotel Elmi, Jalan Panglima Sudirman Surabaya. Wah, peluang untuk membahas hal-hal pribadi, rencana Maria Eva menikah, lanjutan kasus ME-YZ, jadi buyar. Orangtua Vanessa tampaknya ingin konsultasi bagaimana pengalaman Maria Eva menjalani kehidupan sebagai artis.

"Nggak gampang jadi artis. Liku-likunya banyak sekali dan kita harus siap betul. Banyak risiko dan konsekuensnya," nasihat Maria Eva kepada Vanessa dan orangtuanya.

Lalu, Maria mengilas balik perjalanan kariernya sebagai artis, penyanyi, dari kafe ke kafe, panggung ke panggung, desa ke desa... hingga mengadukan nasib ke Jakarta. Saya lihat Vanessa menyimak penjelasan dengan saksama. Vanessa juga memberikan dua keping CD-nya kepada Maria Eva untuk dievaluasi. Layak atau tidak diangkat ke tingkat nasional.

"Singkatnya, harus kerja keras karena persaingan sangat ketat," tegas Maria Eva.

Tiba-tiba datang Doddy, teman dari JTV, untuk wawancara khusus. Tak terasa hampir dua jam saya menemani [atau ditemani? hehehe...] Maria Eva minum kopi di Hotel Elmi. Saya minta diri. "Kalau ada waktu, ntar malam aku manggung lagi. Sekali-sekali Bang Hurek lihat lah," pintanya. Permintaan yang asyik tapi sulit saya penuhi karena bukan malam Minggu.

Setahun sudah skandal video ME-YZ berlalu. Orang sudah pada lupa, dan saya lihat Maria Eva telah menemukan dirinya kembali. Menjadi lebih tegar, arif, berani, bijaksana. Hidup jalan terus!

The show must go on!

23 November 2007

Didit Hape, Rona-Rona TVRI Surabaya



Kini, stasiun televisi sangat banyak. Kalau anda langganan televisi kabel, wah, ratusan channel bisa dilihat setiap saat. 24 jam nonstop. Mau menikmati hiburan macam apa saja, olahraga, film, berita... tersedia. Kalau tidak bisa mengontrol diri, anda akan menjadi teradiksi televisi.

Sungguh kontras dengan era sebelum 1990. Televisi hanya satu, TVRI [Televisi Republik Indonesia], yang diresmikan Presiden Soekarno pada 1964. Jumlah televisi di Pulau Lembata, Flores Timur, waktu itu tak sampai lima biji, semua milik baba-baba Tionghoa. Itu pun hitam-putih, banyak bintiknya, karena stasiun relai terlampau jauh. Maka, kita di seluruh Indonesia menikmati tayangan yang satu dan seragam.

Acaranya: Aneka Ria Safari, Selekta Pop, Kamera Ria, Ria Jenaka, Dari Gelanggang ke Gelanggang, Temu Remaja, Rumah Masa Depan, Losmen, Dunia Dalam Berita, Wajah Baru. Lalu, ada Si Unyil Kucing, ACI [Aku Cinta Indonesia], Ragam Pesona, Candrakirana, Film Cerita Akhir Pekan.

Tayangan berita sangat khas TVRI: formal, banyak pidato pejabat, peresmian, keterangan Menteri Penerangan Harmoko. Presiden Soeharto kerap menggelar temu wicara, kelompencapir, sidang kabinet, dan itu harus disiarkan oleh TVRI secara utuh. Maka, selayaknya para awak televisi berhagia lantaran sekarang keragaman informasi dan televisi sudah terjadi. Mau bikin berita, liputan, dengan gaya apa saja oke. Berita bisa dinimati 24 jam tanpa harus khawatir dibredel atau disensor pemerintah.

Nah, dalam kondisi begini, Didit Hari Purnomo [lebih terkenal dengan Didit Hape], penyiar TVRI Surabaya, berusaha membuat liputan informasi yang berbeda. Didit ingin agar televisi kita setidaknya memuat human ineters features macam televisi di luar negeri. Berita-berita menarik tentang orang biasa, hal-hal unik, yang tidak formal. Beda versi dengan berita keras ala TVRI pada 1980-an.

"Saya ini kan orang yang gak suka formal-formalan. Saya punya hobi bertualang ke mana-mana. Saya banyak menemukan hal-hal menarik, dan itu mau saya tayangkan di televisi," cerita Didit Hape kepada saya di Sanggar Alang-Alang, Joyoboyo, Surabaya, belum lama ini.

Laki-laki kelahiran Lumajang, 14 September 1952 ini kemudian menyampaikan usulannya kepada petinggi pemberitaan TVRI Surabaya pada 1980-an. Respons mereka kurang baik. Wartawan-wartawan TVRI lain pun mengangap tayangan human interest ala Didit tidak lumrah. Sebab, saat itu, orang-orang TVRI melihat berita itu, ya, hardnews ala TVRI atau RRI yang bersifat formal, berita seputar pembangunan, peresmian gedung, pernyataan pejabat-pejabat. Orang biasa praktis tidak dapat tempat.

Tapi bukan Didit Hape kalau tidak nekat. Meski tidak didukung, dia tetap bertualang ke semua tempat di Jawa Timur [kadang-kadang luar Jawa Timur] untuk bikin liputan khas, features. Setelah lobi kanan-kiri, akhirnya liputan Didit ditayangkan di TVRI Surabaya. Nama programnya RONA-RONA. "Saya tayangkan hal-hal aneh dan menarik," tutur suami Budha Ersa ini.

Nah, sejak itulah penonton televisi di Jawa Timur bisa menikmati sajian khas Didit Hape. Binatang aneh, koleksi-koleksi antik, upacara tradisional, budaya lokal, hingga orang-orang saksi. Singkatnya, hal-hal yang tidak umum, luar biasa. Program RONA-RONA ternyata disukai penonton. Bahkan, televisi Jepang NHK pada 1992 mengundang Didit ke Osaka karena tertarik dengan Rona-Rona.

"Jadi, apresiasi pertama justru datang dari orang Jepang. Kalau nggak ada Rona-Rona nggak mungkin saya bisa jalan-jalan ke Jepang. Mana mungkin TVRI mau membiayai? Hehehe...," tutur pembina anak-anak jalanan di Surabaya ini.

Setelah diundang ke Jepang, para petinggi TVRI akhirnya mendukung penuh program Rona-Rona. Didit diberi kebebasan dan fasilitas untuk membuat liputan sebanyak-banyaknya, semenarik mungkin, untuk ditayangkan di Rona-Rona. Awalnya, tayang setiap bulan. Tapi, karena diminati pemirsa, Rona-Rona tayang setiap minggu. "Saya sampai kewalahan membuat liputan, tapi sangat asyik. Sebab, hobi saya ternyata mendapat wadah di TVRI, satu-satunya televisi saat itu."

Selama 10 tahun lebih Rona-Rona menemani pemirsa setia di Jawa Timur. Saya beberapa kali meliput acara unik, kebetulan, bersama-sama Didit Hape. Ditemani seorang kamerawan, Didit terlihat sangat menikmati pekerjaannya. jam terbang yang tinggi membuat dia fasih memilih sudut [angle] menarik. Usai penyuntingan, program itu ditayangkan di TVRI Surabaya [kini TVRI Jawa Timur]. Wajah Didit pun menjadi sangat akrab di Jawa Timur.

"Saya dapat ratusan, bahkan ribuan surat, dari masyarakat terkait Rona-Rona. Ada kritik, informasi, saran, minta diliput dan sebagainya. Saya sampai kewalahan," kenang ayah dua anak ini.

Karena sering meliput 'orang sakti', pawang ular dan semacamnya, Didit sering dianggap sebagai 'orang pinter' atau dukun yang punya kelebihan. Suatu ketika ada orang Surabaya yang rumahnya didatangi tiga ular besar. "Mereka bilang, gampang, panggil saja Pak Didit Rona-Rona pasti beres. Hehehe.... Padahal, saya nggak bisa ngatasi ular. Begitulah, saya sering disangka dukun sakti," cerita Didit Hape.

Kejadian lain, seorang perempuan hamil di Tulungagung ngidam minta dimandikan oleh Didit Hape. Hehehe... Bersama suaminya, perempuan itu pun datang menemui Didit Hape. Wartawan senior yang sudah haji ini tentu saja 'tak tega' memandikan ibu hamil tersebut. Tapi dengan bertemu Didit saja, perempuan itu akhirnya lega. "Macam-macam lah kejadian menarik yang saya alami," tuturnya.

Januari 1996, Didit Hape mulai tertarik pada anak-anak jalanan. Ketika usianya makin senja, Didit ingin fokus pada proyek sosial kemanusiaan, sekaligus mencari pahala. Popularitas sebagai produser sekaligus presenter Rona-Rona dirasa tak penting. Toh, sebagai pegawai negeri, dia akan pensiun, berhenti dari TVRI.

Rona-Rona pun meredup. Tayangan masih ada, tapi tidak serutin dulu. Sebenarnya Didit ingin ada wartawan baru yang melanjutkan program rintisannya di TVRI Surabaya. Tapi ternyata tidak mudah. Sadarlah Didit bahwa bakat seseorang itu tidak bisa diwariskan begitu saja. Rona-Rona memang khas Didit Hape, sulit menemukan orang lain dengan bakat, selera, petualangan, macam itu.

Maka, program features yang pernah menjadi favorit penonton televisi di Jawa Timur itu berakhir. Didit Hape memasuki masa persiapan pensiun, makin intens dengan urusan anak jalanan di Sanggar Alang-Alang. Apa pun kritik orang, diakui atau tidak, Rona-Rona merupakan pelopor tayangan human interest di televisi Indonesia. Pak Didit telah meninggalkan jejak berharga di jurnalisme televisi kita.

Terima kasih!


BACA JUGA

Didit Hape dan Sanggar Alang-Alang

Keluhan aktivis muda Lembata




Ciputra Golf dan Klub Keluarga merupakan kawasan paling elite di Kota Surabaya. "Angker duite," begitu kata-kata khas orang Surabaya.

Duitnya itu lho yang sangat muahaaaal. Kalau tidak kaya, jangan sekali-kali engkau menikmati fasilitas di situ. Dijamin bangkrut, Cak! Bagaimana tidak. Biaya menginap satu malam di sini Rp 700.000. Hehehe....

Nah, di tempat inilah teman-teman aktivis muda dari Kabupaten Lembata, kawasan Flores Timur, mengikuti lokakarya, sekolah demokrasi, selama dua hari dua malam. Tentu saja yang bayar bukan teman-teman dari Flores itu, tapi panitia dan donatur dari luar negeri. Selain 15 orang Lembata, sekolah ini diikuti 15 aktivis prodemokrasi dari Kabupaten Malang [Jawa Timur] dan 15 aktivis Kabupaten Jeneponto [Sulawesi Selatan].

"Wah, saya ngeri kok teman-teman ikut pelatihan di sini? Apa tidak ada tempat lain?" kata saya saat mengunjungi teman-teman Lembata di Ciputra Golf.

Sebagai orang yang cukup menguasai seluk-beluk Kota Surabaya, saya tahu sedikitlah mana tempat pelatihan yang supermurah, murah, mahal, sangat mahal, dan selangit harganya kayak Ciputra Golf. Saya kenal baik seorang romo yang mengelola tempat pelatihan berbiaya Rp 25.000 semalam per kepala. Dus, 24 kali harga di Ciputra. Ctttt.... cttttt.... cttttt!

"Kenapa ngeri? Kami sih hanya peserta, tahunya ditempatkan di sini, ya, sudah," sahut teman saya.

"Maksudnya, kalau pelatihan di tempat murah, kalian bisa santai-santai di Surabaya dan sekitarnya sampai 10 hari. Bisa jalan-jalan, lihat lumpur di Porong, ke Pasar Turi, dan sebagainya. Lha, kalau di Ciputra, kalian harus cepat-cepat check out, muahaaaal banget," kata saya. Teman-teman Lembata dan Jeneponto tidak bisa menjawab, karena memang tidak tahu situasi sebenarnya di Surabaya.

Sambil minum kopi di dekat kolam renang, pikiran saya lekas berputar. Lembata, Flores Timur, termasuk kabupaten miskin. Istilah yang dulu saya dengar lewat ceramah-ceramah di gereja atau sekolah: penduduk hidup di bawah garis kemiskinan! Jadi, bukan sekadar miskin, tapi di bawahnya miskin. Bahasa Indonesia belum punya istilah untuk kemiskinan di bawah garis kemiskinan.

Bahasa Jawa ada istilah: kere, mbambung, dan sejenisnya. Tapi di Flores, semiskin-miskinnya orang pasti punya rumah, kebun, hewan, bisa mencari ikan dan binatang atau tumbuhan laut. Sehingga, tidak bisa dibilang 'kere' atau 'mbambung'. Tapi memang sangat sulit mencari uang di Flores atau Nusa Tenggara Timur umumnya.

"Wah, berarti orang paling miskin di Indonesia bisa tinggal dua malam, ikut pelatihan, di tempat paling mewah di Jawa Timur. Luar biasa! Sungguh ekstrem! Tapi, mungkin, panitia ingin kasih tunjuk, begini lho rasanya tinggal di hotel mewah, bisa menikmati berbagai kesenangan hidup. Masa sengsara terus di kampung. Hehehe...," pikir saya.

Okelah, saya kemudian tanya-tanya soal kondisi Lembata. Apakah ada kemajuan pesat setelah jadi kabupaten sendiri. Fasilitas umum macam jalan raya, listrik, air minum, bagaimana? Peluang kerja bagaimana? Apakah jalan utama ke kampung saya, dari Lewoleba [ibukota Lembata] ke Mawa sepanjang 28 kilometer sudah diaspal?

Soalnya, orang-orang di Lembata sepanjang hidupnya tidak pernah tahu jalan aspal. Jalan raya, ya, tanah atau pakai pengerasan dengan bebatuan. Batu-batuan ini dibiarkan begitu saja, bertahun-tahun, sehingga kendaraan roda empat berjalan tidak karuan. Oleng sana sini, penumpang seakan dikocok perutnya. Ironis, karena bupati Lembata itu berasal dari kampung saya, yang tentu sering melintas di jalan raya paling bobrok di Indonesia itu.

"Apanya yang diperbaiki? Sampai sekarang, jalan raya ke kampung ya sama saja. Sama dengan ketika anda masih di Flores Timur," kata Yohanes, peserta sekolah demokrasi, aktivis di Lewoleba. "Malah tambah rusak. Jangankan memperbaiki jalan di desa-desa, di Lewoleba saja nggak karuan."

Tapi, menurut Yohanes, jalan raya di Lewoleba saat ini sangat ramai. Banyak kecelakaan di jalan. Ini berarti banyak warga sudah bisa membeli kendaraan bermotor. Rumah-rumah pun lebih bagus, tidak kumuh macam tahun 1980-an. Dari dermaga ke 'kota' [pakai tanda petik, karena Lewoleba itu sejatinya desa. Beda dengan kota-kota di Jawa] ada angkutan umum, ojek, bahkan becak. Sebelum 1990-an, kita harus jalan kaki ke pusat Lewoleba. Saya pun sering menikmati jalan kaki 28 km dari Lewoleba ke Mawa, desa kelahiran saya. Mirip gerak jalan Mojokerto-Surabaya [55 km] atau Tanggul-Jember [30 km]. Saya sangat mengenang masa-masa indah itu!

"Bagaimana dengan politik? Kebijakan publik?" pancing saya.

Aha, pertanyaan ini ternyata sangat disukai teman-teman dari Lembata. Sebab, mereka memang bergerak di bidang ini. Dari 15 peserta, ada anggota DPRD Lembata, kepala desa, pegiat NGO, wartawan, petani, dan sebagainya. Mereka sangat fasih bicara politik. Bahkan, menikmati topik politik [padahal, di Jawa Timur penduduk sudah malas bicara politik dan jengah dengan perilaku politisi saking korup dan tamaknya].

Sebelum 1990, orang Lembata cenderung apatis, antipolitik. Pokoknya bisa merantau, ke Malaysia, dapat uang, ya, sudah. Zaman memang sudah berubah!

Saya menyimak cerita tentang politik di Lembata. Mulai unjuk rasa menolak rencana tambang mineral. Anggota dewan [20 orang] tidak aspiratif, tidak memihak rakyat. Konflik horizontal gara-gara kebijakan penguasa. Sumpah-menyumpahi. Gerakan massa. Pegawai negeri yang cenderung menjilat atasan demi mengamankan posisi. Wartawan dianggap tidak netral, tidak membela kepentingan rakyat. Kata Yohanes, warga dan aktivis LSM sudah tidak percaya lagi pada koresponden media besar di
Lembata.

"Konflik kepentingan sangat tinggi. Sesama keluarga bisa terlibat perang karena beda kepentingan. Sebab, di Lembata sekarang mengkritik kebijakan pemerintah bisa dianggap musuh. Anda akan dikucilkan kalau bicara yang berbeda dengan selera pemerintah," tutur teman aktivis di Lembata.

Singkatnya, Yohanes mengatakan, setelah menjadi kabupaten sendiri, terpisah dari Flores Timur, kondisi semakin carut-marut. Orang-orang yang dulunya polos, apa adanya, berubah menjadi tamak dan rakus luar biasa. Proyek-proyek dijadikan bancakan, nyaris tidak menyentuh kehidupan rakyat yang sangat miskin itu. Pejabat dan keluarga pejabat berlomba memperkaya diri -- berkat proyek pemerintah. "Tender mesti jatuh ke kroni atau keluarga pejabat," tutur pria hitam manis ini.

Yang membuat saya geli, teman-teman bercerita bahwa kondisi Lembata sekarang macam era pengujung Orde Baru. Ada tiruan Pak Harto yang feodal dan sangat berkuasa. Kemudian Tutut, Tommy, Tatiek, hingga Bambang Tri. "Sudahlah, Bang, kondisi KKN di Lembata sekarang sangat, sangat buruk," begitu cerita teman-teman peserta sekolah demokrasi.

"Sikap gereja bagaimana? Uskup Larantuka?" tukas saya.

"Ada gerakan moral dari gereja, tapi tidak solid. Uskup sulit diharapkan. Romo-romo praja sulit. Hanya imam-imam SVD [Societas Verbi Divini] yang bersikap tegas menghadapi situasi ini."

Yohanes mengingatkan Felix Fernandez, bekas bupati Flores Timur, yang saat menjabat kerap dikecam kalangan LSM dan hierarki. Felix bahkan berusaha menjebloskan Romo Frans Amanue ke penjara, tapi gagal. Setelah menjabat, giliran Felix yang dikirim ke penjara karena dakwaan korupsi uang rakyat di kabupaten termiskin di Indonesia. "Saya khawatir, jangan-jangan di Lembata pun seperti itu," ucap Yohanes.

Saya tak punya data, tak tahu situasi sebenarnya, sehingga hanya bisa diam dan pasang kuping. Jadi pendengar yang baik. "Kok bisa ya Lembata menjadi seperti sekarang, kalau cerita teman-teman itu benar. Lalu, apa makna pemekarasan wilayah? Buat apa jadi kabupaten sendiri?" renung saya dalam hati.

Sambil menghirup kopi hitam ala Ciputra Golf dan Klub Keluarga [harganya belasan ribu, di warung kopi hanya Rp 1.000], saya lantas bertanya. "Lantas, apa evaluasi pemerintah pusat tentang Kabupaten Lembata. Masih layakkah dipertahankan sebagai kabupaten? Atau, dibubarkan, kembali ke Flores Timur?"

"Wah, kalau dievaluasi, jelas rapor Lembata merah. bocorannya, Lembata dan Rote dinilai gagal jadi kabupaten," kata Yohanes.

Begitulah. Setelah Pak Harto lengser pada 21 Mei 1998, lalu reformasi, provinsi dan kabupaten dipecah-pecah alias dimekarkan. Kalau dulu kita kenal 27 provinsi [termasuk Timor Timur], setelah reformasi dan Timor Timur merdeka, jumlah provinsi malah bertambah menjadi 33. Hilang satu provinsi, tambah tujuh provinsi. Pemekaran kabupaten malah nggak karu-karuan, termasuk Lembata di Flores Timur. Tiap tahun bertambah lima sampai 10 kabupaten baru di Indonesia.

Hasilnya, seperti cerita teman-teman saya ini, elite-elite lokal berpesta pora, bancakan proyek, memperkaya diri, tak punya empati dengan kemiskinan struktural yang diderita rakyatnya. Ketika LSM menyoal kemiskinan rakyat, tak segan-segan raja-raja kecil di pelosok ini berkata: "Berbahagialah orang miskin karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga!"

Prek!

21 November 2007

Santoso pembuat patung Cak Durasim




Festival Cak Durasim ke-8 di Taman Budaya Jatim baru saja berlalu dan menuai sukses besar. Jumlah pengunjung jauh lebih banyak ketimbang tujuh festival sebelumnya. Kehadiran Does Cabaret, kelompok ludruk asal Suriname, dengan bahasa Jawa yang antik menjadi pemicu antusiasme warga Surabaya dan sekitarnya untuk menikmati festival seni pertunjukan berbasis etnik ini.

Tapi ada peristiwa yang nyaris lolos dari pantauan publik. Yakni, peresmian patung Cak Durasim, seniman ludruk legendaris Surabaya, yang berjuang lewat kesenian tradisional. "Begupon omahe doro, meluk Nipon tambah soro," begitu parikan Cak Durasim yang bikin pemerintah Jepang tersinggung.

Cak Durasim ditangkap, disiksa, dan akhirnya meninggal dunia pada 1944. Patung Cak Durasim diresmikan pada 10 November 2007, bertepatan dengan Hari Pahlawan, mengawali Festival Cak Durasim ke-8.

Upacara peresmian patung Durasim yang dipimpin Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur Dr Rasiyo berlangsung meriah. Ada reka ulang adegan Cak Durasim ditangkap tentara Jepang saat kidungan di atas panggung. Juga visualisasi dengan multimedia nan menarik. Kapten Does dari Suriname ikut pidato. Tapi si pembuat patung Durasim tak ikut didaulat ke panggung. Ada apa?

"Saya memang meminta Pak Pribadi Agus Santoso (kepala Taman Budaya, red) supaya tidak dipanggil ke atas panggung. Itu komitmen saya. Aku iki opo sih? Pematung biasa, pekerja seni patung. Tidak lebih," ujar Santoso Setijono, lulusan alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) tahun 1978, kepada saya.

Santoso lah yang 'ketiban sampur' menggarap patung Cak Durasim. Membuat patung (apa saja) bukanlah pekerjaan sulit buat Santoso yang sudah malang melintang di seni patung sejak 1970-an. Santoso bahkan ikut menggarap patung-patung di Monas (Jakarta) serta Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta. Namun, menggarap patung Cak Durasim ternyata punya kesulitan sendiri.

"Soalnya, kita tidak punya dokumentasi foto Cak Durasim," tutur Santoso yang masih energik di usia 57 tahun itu.

Taman Budaya memang punya koleksi sebuah lukisan Durasim, tapi sejatinya bukan wajah Durasim otentik. Santoso kemudian mencermati sosok legenda ludruk itu, mulai guratan wajah, sorot mata, otot, hingga model ikat kepala (udheng). Setelah mewawancarai para sesepuh dan budayawan, ternyata udheng Durasim di lukisan itu salah.
"Saya juga melacak ke rumah keluarga dekat Cak Durasim di kawasan Jogoloyo. Saya tanya sosok Cak Durasim itu seperti apa, ciri-ciri, kebiasaan, dan sebagainya," tutur pria yang tinggal di kawasan Gedangan, Sidoarjo, itu.

Sudah menjadi rahasia umum, para pematung di tanah air kerap melakukan 'olah spiritual' sebelum membuat patung tokoh tertentu, khususnya figur karismatik. Inilah bedanya dengan membuat patung aksesoris yang biasa dijual di jalan-jalan. Maka, Santoso pun nyekar ke makam Cak Durasim di kawasan Tembok, Surabaya. "Saya sampai akrab dengan orang-orang di sekitar makam saking seringnya ke sana. Hehehe...."

Percaya atau tidak, berkat 'laku spiritual' ini sosok Cak Durasim semakin jelas. Dan, suatu ketika, Santoso seperti mendapat petunjuk agar bagian mata dibuat lebih dulu. Jadi, berbeda dengan teknik membuat patung yang dipelajari di akademi seni rupa atau tradisi di masyarakat.

"Lazimnya, dua mata itu dibuat paling akhir, untuk memberi roh pada patung. Nah, ini terbalik, matanya harus dibuat lebih dulu. Tapi, bagi saya, tidak apa-apa karena sudah komitmen untuk membuat patung Cak Durasim sebaik mungkin," kenang ayah dua anak ini.

Awal Juli, Santoso mulai menggarap patung seniman ludruk idolanya itu. Tanah liat didatangkan dari Kebumen, Jawa Tengah. Menurut para pematung profesional, struktur tanah liat Kebumen paling bagus untuk bikin patung. Tanahnya tidak cepat kering seperti di Jawa Timur. Kekuatannya pun lebih bagus.

Dimensi patung: tinggi 100 cm, vestek 160 cm, luas 60 x 60 cm. Kenapa tidak membuat patung berukuran besar atau jumbo? Kata Santoso, disesuaikan dengan halaman depan Gedung Cak Durasim serta lay out Taman Budaya secara keseluruhan. "Patung itu yang penting rohnya, hidup, bukan besar kecilnya. Orang bisa saja bikin patung setinggi puluhan meter. Tapi kalau nggak ada rohnya, buat apa?"

Secara umum penggarapan patung Cak Durasim berjalan lancar. Santoso diberi ruang khusus di Taman Budaya agar bisa lebih fokus. Dia pun sengaja tidak menggarap pekerjaan lain agar konsentrasinya tidak terpecah. "Eh, dalam perjalanan ada sedikit keanehan," tutur Santoso.

Apa itu? "Belakang kepalanya meledak jadi bubur. Ini baru pertama kali saya alami. Padahal, secara teknik, bahan, tukang yang ngecor, sudah profesional dan malah melebihi standar. Gipsnya pun kelas satu," tambahnya.

Kembali Santoso melakukan konsultasi dengan beberapa pemangku adat di Surabaya. Lalu, Santoso melanjutkan proyek ini setelah melakukan penyesuaian di sana-sini. "Begitulah. Seni patung itu memang bukan kerajinan tangan belaka, tapi ada dimensi lain yang lebih luas. Alhamdulillah, patung itu selesai juga dan saya pasang tanggal 4 November 2007 di lokasi sekarang," kata pengurus Ikatan Alumni Institut Seni Indonesia (ISI) di Jawa Timur itu.

Sabtu Legi, 10 November 2007, Santoso mengaku sangat lega. Patung Cak Durasim garapannya diresmikan di hadapan ribuan orang, termasuk rombongan seniman asal Suriname dan pejabat dari beberapa daerah. Waktu itu, kata Santoso, ada sejumlah pengunjung, bahkan orang Suriname, bertanya-tanya siapa yang buat patung Cak Durasim. Kok tidak diperkenalkan di panggung?

"Saya bilang nggak tahu. Hehehe...," cerita Santoso lalu tertawa kecil.

Menurut dia, seniman patung itu ibarat arsitek atau tukang bangunan yang membuat bangunan, misalnya, hotel berbintang atau pusat belanja modern nan megah. Setelah bangunan jadi, si tukang pun mundur teratur. Bahkan, bisa saja para tukang bangunan itu tidak pernah sekalipun datang menjenguk bangunan yang pernah dibikinnya. Si tukang menggarap proyek lain lagi, dan seterusnya.

"Kami sudah puas, bahagia, kalau karya kami dihargai dan bermanfaat bagi orang lain. Jadi, buat apa pematung diperkenalkan segala?" tukas Santoso dalam nada tinggi.

Dengan filosofi ini, Santoso mengaku tidak ingat lagi sudah berapa banyak karya patung yang dihasilkannya selama 30 tahun terakhir. Terlalu banyak, katanya. Ratusan, bahkan ribuan patung, tersebar di seluruh Indonesia. Namun, patung Cak Durasim memberi kepuasan tersendiri bagi Santoso.

Kenapa? "Siapa yang nggak kenal Cak Durasim? Ketokohan, kepahlawanan, kesederhanannya sangat kuat. Dan, alhamdulillah, saya mendapat kepercayaan untuk menggarap patungnya," kata Santoso bangga.

Setelah Cak Durasim, kini Santoso berancang-ancang membuat patung almarhum Gombloh. Kalau Cak Durasim legenda ludruk, siapa pun mengakui bahwa Gombloh seniman musik legendaris yang karya-karyanya sangat merakyat.

"Bicara musik di Surabaya orang pasti ingat Gombloh. Dia itu pahlawan musik meskipun belum ada penghargaan resmi dari pemerintah. Saya akan sangat bangga kalau bisa membuat patungnya," tutur Santoso.

Santoso berencana membuat patung Gombloh dalam ukuran yang jauh lebih besar daripada Cak Durasim. Dia juga ingin agar patung itu ditempatkan di lokasi strategis di Surabaya, sehingga bisa disaksikan masyarakat. Pada 1996, sejumlah seniman mengenang Gombloh dengan membuat patungnya di Taman Hiburan Rakyat. Namun, patung ini tak banyak diketahui masyarakat.

"Saya tidak ingin seperti itu. Saya ingin patung dipasang di lokasi yang pas. Tidak sembarangan," tegas Santoso.

Bukan apa-apa. Di Surabaya ini banyak patung yang 'salah tempat'. Patung karapan sapi, sebagai contoh, 'ketelisut' di kawasan Keputran. "Siapa yang lihat patung itu? Padahal, patung itu hanya bermakna kalau diapresiasi masyarakat dan bisa memberi inspirasi bagi masyarakat," papar Santoso.


Larang Anak Jadi Seniman

Sebagai alumni Akademi Seni Rupa Indonesia tahun 1978, Santoso melihat perbedaan mencolok antara mahasiswa sekarang dan mahasiswa pada masanya. Dulu, mahasiswa dibiarkan mengembara sebebas-bebasnya untuk menemukan jati diri. Kampus ASRI--sekarang bergabung dengan akademi-akademi lain menjadi Institut Seni Indonesia (ISI)--dikondisikan untuk mencetak seniman bebas.

Mahasiswa bebas diskusi, berkarya, demonstrasi, manggung, dan melakukan apa saja sepanjang masih dalam koridor kesenian. Tidak ada batasan satuan kredit semester (SKS), pun batasan masa studi yang ketat. Sistem gugur alias drop out (DO) belum dikenal.
"Makanya, tiap tahun ada saja mahasiswa yang gila. Benar-benar gila. Seleksi alam sangat ketat, sehingga kelihatan mana yang seniman dan bukan," tutur ayah dua anak ini.

Ketika pemerintah Orde Baru memandang perlu membuat diorama untuk memperingati peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Lubang Buaya, Jakarta, mahasiswa ASRI ketiban proyek. Santoso yang masih muda pun ikut bekerja membuat begitu banyak patung.

"Memang, waktu itu kami, para mahasiswa, bayar kuliah, cari makan, ya, pakai biaya sendiri. Nggak minta-minta orangtua kayak anak sekarang," tuturnya.

Iklim pendidikan yang keras di ASRI, kemudian ISI, hingga 1980-an terbukti melahirkan banyak seniman berkarakter. Dari tangan mereka lah lahir karya-karya bagus di berbagai daerah di tanah air, bahkan mancanegara. Bagaimana dengan kampus akademi kesenian sekarang?

"Sudah berbeda jauh," tegas Santoso.

Menurut dia, kurikulum sekarang sangat ketat, ruang kebebasan menyempit, ada ancaman DO, sehingga mahasiswa cenderung melahap teori agar lulus secepat mungkin. Orientasinya segera mendapat ijazah.

"Saya sering tanya anak-anak yang baru lulus. Setelah punya ijazah, kamu mau kerja di mana. Ternyata, dia tidak tahu."

Lantas, apakah Santoso mengarahkan kedua anaknya, Natashia Sekar Akoso dan Christosa Lingga Hasmoro, mengikuti jejaknya sebagai seniman?

"Tidak. Sejak awal saya justru melarang anak-anak saya jadi seniman. Cukup bapaknya saja yang jadi seniman. Saya tidak mau anak-anak melakoni hidup seperti saya," ujar Santoso, serius.

Kehidupan seniman yang bebas, seenaknya, tidak terikat pada formalitas, menurut dia, tak jarang melahirkan nestapa. Penghasilan tidak jelas, sehingga sering kelaparan. "Mana ada seniman yang kaya? Paling cuma Afandi (pelukis eksentrik) dan beberapa nama saja. Seniman-seniman lain umumnya susah. Makanya, saya larang anak saya jadi seniman," tandasnya.

Karena itu, dua anak Santoso yang sudah dewasa memang hidup 'normal' layaknya orang biasa. Meski begitu, mereka tetap mengapresiasi kesenian, entah itu seni rupa, seni musik, dan sebagainya.



Nama : Santoso Setijono
Lahir : Jogjakarta, 12 Oktober 1950
Istri : Lisa Andriana
Anak : Natashia Sekar Akoso (29)
Christosa Lingga Hasmoro (29)

Alamat :
Buyut Ngungsen 377, Desa Keboan Anom, Gedangan, Sidoarjo

Pendidikan : SD-SMA di Jogjakarta
ASRI Jogjakarta, 1978
Aktivitas :
Pematung profesional.
Dekorasi.
Komunitas Perupa Sidoarjo.
Komunitas Seniman Surabaya.
Ikatan Alumni ISI Jogjakarta.
Penyelenggara pameran lukisan.

19 November 2007

Padi Band di Jawa Pos


Kali terakhir Padi meluncurkan album pada 2005. Setelah dua tahun, band beranggota Fadly (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Rindra (bas), dan Yoyo (drum) tersebut akhirnya merilis Tak Hanya Diam, album kelima mereka. Sabtu (17/11/2007), Padi berkunjung ke Surabaya untuk promo album itu. Di redaksi Jawa Pos, mereka bercerita soal album anyar tersebut.

Oleh Ratna Ayu Permananingtyas



Mengapa harus menunggu dua tahun?

Sebenarnya, dua tahun ini merupakan siklus yang bisa Padi lakukan. Satu sampai dua tahun adalah waktu yang cukup bagi kami untuk melakukan brainstorming dan menyelaraskan energi bersama. Kami selalu beranggapan, album bukanlah rutinitas industri. Banyak sekali pesan yang ingin kami sampaikan melalui album. Jadi, kalau belum merasa nyaman, kami tidak mengeluarkan dulu.


Bagaimana Padi menggambarkan album Tak Hanya Diam ini?

Album yang sangat fun. Padi tak pernah mau terjebak dalam mainstream industri musik Indonesia yang ada selama ini.


Lagu apa yang menjadi andalan?

Pada dasarnya, semua andalan. Tapi, Sang Penghibur dipilih sebagai single pertama dan dibuatkan video clip-nya di London karena kami ingin mewakili sesuatu yang berbeda. Sang Penghibur memberikan gambaran album baru Padi, sesuatu yang penuh energi dan spirit bermain musik.


Apakah ada kendala yang berarti selama pembuatan album?

Secara umum, kendala yang berarti tidak ada. Tapi, susahnya didapat ketika kami harus menyatukan energi dan spirit. Kami memaknainya dengan komunikasi yang baik dan tak hanya dilakukan melalui telepon. Harus ada pertemuan yang intens. Kami semua ingin membuat lagu yang tak hanya bagus di album, tapi juga bisa dimainkan apik secara langsung di panggung. Jadi, kami selalu membuat lagu yang bagus di atas panggung.


Jadi, fokus utama Padi sebenarnya adalah pentas?

Seperti band-band besar dunia, misalnya Rolling Stones, mereka tak harus setiap tahun mengeluarkan album baru, kan. Atau sering kali tampil di televisi. Namun, mereka sering mengadakan konser-konser dan itu yang membuat mereka ditunggu. Kami juga ingin besar di panggung. Berbeda di Indonesia, makin sering sebuah band mengeluarkan album, makin dikenal mereka.


Lantas, mengapa Padi membuat album?

Album itu semacam syarat bagi Padi untuk bisa bermain di berbagai konser. Kami ingin konsisten bermain di atas panggung dan ditunggu-tunggu penampilannya. Padi ingin eksis di panggung, bukan album.


Apa ada ekspektasi khusus atas album ini?

Diterima masyarakat dan laku sebanyak-banyaknya, sudah pasti. Namun, yang lebih ingin kami capai adalah pesan positif yang kami bawa dalam album ini akan diserap dengan baik oleh pendengar. Misalnya saja, di lagu Aku Bisa Menjadi Kekasih. Pesan lagu ini sebenarnya tentang memaafkan. Memaafkan itu mudah jika kita mau memaafkan. Semua hal tergantung kita sendiri.


Kalau album kelima ini, apa ada arti khusus untuk Padi?

Setiap album akan selalu menggambarkan sejauh mana perkembangan Padi. Album sekarang seperti sebuah biografi foto. Pada 1999, album pertama, Lain Dunia, bercerita tentang cara mencari cewek lewat lagu-lagu semacam Sobat. Sedangkan album kedua, Sesuatu Yang Tertunda (2001), kami mulai belajar bahwa ternyata cinta tak harus memiliki. Album ketiga, Save My Soul (2003), kami menggambarkan tengah berada di level terbawah dan merasakan ketakutan-ketakutan. Di album keempat, Padi (2005), kami mulai menggambarkan keoptimisan. Dan, di album kelima ini, Padi ingin memberikan pesan bahwa kita hidup tidak sendirian. Kita hidup saling bersambung dan ada koneksinya. Saya bertemu dengan para wartawan di ruang ini pasti ada maksudnya.


Apa itu juga tergambar lewat cover album Padi?

Iya, benar. Kalau disimak, gambarnya merupakan koneksi dan pertautan antarenergi.


Bagaimana dengan pergantian logo? Yang semula penuh warna dan luwes, menjadi lebih tegas dan formal?

Logo sebenarnya juga pesan yang ingin dibawa dalam album ini. Huruf P di awal dan I di akhir memakai huruf kapital yang lebih besar daripada huruf a dan d di tengah. Semua menggambarkan bahwa yang besar harus melindungi yang kecil. Yang mayoritas harus menjaga yang minoritas. Misalnya, sebuah negara harus mampu menjaga warga negaranya, yang lelaki harus bisa melindungi yang wanita.


Personel Padi sudah tak muda lagi. Bagaimana cara menjaga stamina, terutama saat akan tampil di atas panggung?

Kami selalu melakukan persiapan-persiapan menjelang tur. Fadly, misalnya, mulai latihan lompat tali tiga kali seminggu. Setiap sebelum main, kami juga selalu melakukan pemanasan.


Soal maraknya pembajakan, apa tanggapan Padi?

Kami berusaha berkarya dengan serius dan profesional. Setiap proses kami jalani detail, dari mixing hingga mastering sampai dalam bentuk kaset dan CD, kami melakukannya dengan sebaik mungkin. Salah satu strategi yang kami lakukan adalah dalam membuat cover album. Kami ingin album ini tak hanya dibeli, namun juga menjadi koleksi. Jadi, cover dibuat sebagus mungkin. Barang-barang yang dibajak tidak akan bisa sebagus aslinya. Kami juga berharap, dengan begitu album kami menjadi berharga dan pantas menjadi collectable item, barang yang bisa dikoleksi.


Apa itu cukup dengan makin mudahnya sebuah lagu didapat dengan hanya download?

Kami yakin, sebuah lagu tak bisa dipahami dari satu atau dua kali mendengar saja. Kami tak masalah jika mereka ingin mendengar lagu Padi dari radio dulu atau download dulu. Yang pasti, setelah sering mendengar, mereka akan memutuskan bahwa ternyata lagunya enak dan harus memiliki album kami. Mereka akan membeli album kami. Tak masalah, dari mana mereka mendapatkan. Yang penting, mereka menikmati dan memutuskan untuk memiliki album kami atau tidak.


Padi termasuk sukses menjaga keawetan grup. Apa rahasianya?

Sebenarnya, kami sering terlibat konflik juga, namun semua bisa diatasi dengan komunikasi yang baik. Yang pasti seimbang saja. Selama dua tahun ini, kami tetap menjaga kekompakan dengan konsisten melakukan tur. (*)


Album: Tak Hanya Diam

Track Album:
1. Sang Penghibur (Cipt.Piyu)
2. Harmony (Cipt. Piyu)
3. Belum Terlambat (Cipt. Piyu)
4. Rencana Besar (Cipt. Piyu-Fadly)
5. Terluka (Cipt. Piyu-Fadly)
6. Jika Engkau Bersedih (Cipt. Piyu)
7. Teruslah Bernyanyi (Cipt. Rindra-Fadly)
8. Ode (Cipt. Piyu-Fadly)
9. Jangan Datang Malam Ini (Cipt. Piyu-Fadly)
10. Aku Bisa Menjadi Kekasih (Cipt. Piyu)

Diskografi:
1999 Lain Dunia
2001 Sesuatu Yang Tertunda
2003 Save My Soul
2005 Padi
2007 Tak Hanya Diam

Musik liturgi Katolik Jawa




Surabaya dan Sidoarjo itu berada di JAWA Timur, tapi saya sangat jarang melihat perayaan ekaristi dilakukan dengan 'cara Jawa'. Musik liturgi berbasis etnik Jawa sangat jarang. Kalaupun ada, ya, cuma satu dua lagu dari Puji Syukur atau Madah Bakti yang kebetulan menggunakan tangga nada pentatonik Jawa.

Saya juga mengecek ke teman-teman Gereja Kristen Jawi Wetan [GKJW], yang dikenal sebagai gereja pribumi di Jawa Timur. Ternyata, belakangan ini GKJW makin mengindonesia. Nyanyian-nyanyian dan kebaktian menggunakan Kidung Jemaat berbahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa. Ya, tidak ada beda dengan GPIB [Gereja Protestan Indonesia Barat] atau GKI [Gereja Kristen Indonesia].

Di Paroki Pagesangan, Surabaya, ada kebiasaan menggelar misa berbahasa Jawa--termasuk penggunaan gamelan, khotbah, semua dalam bahasa Jawa--pada hari Minggu kelima. Minggu kelima itu kan sangat jarang, sehingga boleh dikata misa jawa ini tidak populer. Umat di sini, yang berlatar Jawa sekalipun, gamang dengan bahasa daerahnya.

Musik litugi berbasis pentatonik Jawa? Apalagi.

Tidak aneh. Sebab, sejak awal agama Kristen [Katolik dan Protestan] yang disebarkan di Indonesia pada abad ke-16 memang gereja-gereja berwajah Barat. Para misisonaris kurang mengembangkan musik liturgi ala Indonesia, bahkan cenderung mencemooh gending-gending Jawa sebagai kurang rohani, kurang pantas untuk kebaktian.

Kalaupun GKJW menggunakan nyanyian berbahasa Jawa di desa-desa, sebetulnya tangga nadanya tetap 100 persen Barat. Syairnya saja yang Jawa. Melodi dan sebagainya sama persis dengan nyanyian di gereja-gereja Barat.

Maka, lokakarya komposisi musik litugi di Surabaya beberapa waktu lalu, meski tak banyak yang tahu, sangat menarik. Para pegiat musik liturgi Katolik dari berbagai daerah di Jawa Timur berupaya mengangkat musik daerah, jawa timuran, untuk perayaan ekaristi. Tokoh Pusat Musik Liturgi [PML] Jojakarta--Romo Karld Edmund Prier SJ dan Paul Widyawan--hadir memberikan masukan berharga untuk para pemusik dan pembina paduan suara di sini.

"Selama ini Jawa identik dengan Jogjakarta dan Surakarta yang dikenal memiliki gaya musik halus dan lembut. Padahal, ada daerah lain di Jawa yang mempunyai karakter musik yang khas, yaitu Jawa Timur," kata Romo Prier yang mendirikan PML pada 11 Juli 1971. PML merupakan dapur pengolah musik etnik untuk 'diangkat' sebagai musik liturgi di Indonesia.

Nah, pada 1971, Gereja Hati Kudus di Jogjakarta mulai memperkenalkan Misa Inkulturasi Jawa. Misa dirayakan dalam bahasa Jawa, menggunakan lagu-lagu Jawa, yang diiringi musik gamelan. Jadi, bukan sekadar menerjemahkan lagu-lagu liturgi Barat ke dalam bahasa Jawa. Terobosan penting ini jalan di Jogja dan Jawa Tengah, tapi tidak bisa berkembang pesat.

Di Surabaya, misa ala Jawa praktis tidak jalan sama sekali. Ini diperparah lagi dengan minimnya kemampuan warga Surabaya, termasuk Sidoarjo, berbahasa Jawa. Jangankan anak-anak dan remaja, orang dewasa saja semakin sulit menguasai ungkapan-ungkapan dalam bahasanya sendiri.

Belum lagi citra bahwa berbahasa daerah identik dengan 'ndeso, 'wong kampung', 'terbelakang', 'tidak modern', dan berbagai imej buruk. Apa boleh buat, gereja pun tercerabut dari akar budayanya sendiri. Jangan heran, ada pendapat miring di Pulau Jawa bahwa 'Nasrani itu agamanya Londo [Belanda]'.

"Ini memang tantangan tersendiri bagi para aktivis musik liturgi untuk mengembangkan musik bernuansa Indonesia," kata Markus Kurnianto, teman saya, pemimpin sebuah paduan suara inkulturasi di Surabaya.

Markus mengakui tidak mudah mengembangkan musik liturgi inkulturasi di Jawa Timur baik karena kendala internal maupun eksternal. Sebab, bagaimanapun juga mencari anak-anak muda [Katolik] yang bisa main gamelan itu tidak mudah. Pula, saat ini hampir tidak anak muda yang mau belajar musik tradisional. Para orang tua lebih senang memasukkan anak-anaknya ke kursus musik Barat seperti piano, biola, flute, gitar, dan sebagainya.

Lebih parah lagi karismatik katolik. Kelompok kategorial ini nyaris tidak punya pemahaman sama sekali terhadap musik liturgi. Karismatik pakai musik pop, band, rock, musik apa saja, tanpa mempertimbangkan unsur teologis, budaya, tradisi, dan berbagai kelaziman di Gereja Katolik. Jangan heran misa ala karismatik cenderung heboh, hura-hura, dan kurang mendukung misi 'indonesiaisasi' musik liturgi.

Kalau kita membuka catatan sejarah, sebenarnya sudah cukup banyak misionaris [Protestan, Katolik] yang telah berusaha mengindonesikan gereja. Coonraad l. Coolen, lahir di Semarang 1773, wafat di Ngoro [Jawa Timur] 1873, ayah Rusia mama Solo, mewartakan Injil dengan pendekatan budaya Jawa.

"Coolen belajar mendalang dan menjadi dalang, melaras gamelan di gereja, menggunakan tradisi macapat warisan Wali Sanga...," tulis Remy Sylado.

Masih menurut Remy, penulis paling hebat di Indonesia [versi saya], Romo van Deinse SJ mengembangkan nada-nada pelog-slendro di Semarang pada tahun 1950-an. Eksperimen Romo Deinse beroleh penghargaan dari Presiden Soekarno karena dinilai sebagai sumbangan berarti bagi musik Indonesia pada umumnya.

Kini, eksperimen sekaligus kegandrungan pada musik tradisi kita diteruskan oleh Romo Karl Edmund Prier SJ bersama Pusat Musik Liturgi di Jogjakarta. Sekarang kembali kepada kita, orang serani sekaligus orang Indonesia. Sebab, melestarikan budaya bangsa, tradisi musik kita, merupakan tugas sejarah saya dan anda -- yang masih mengaku bangsa Indonesia.

18 November 2007

Mazmur 51 untuk Roy Marten


Anna Maria [istri Roy Marten] bersama anaknya. Ia titip Mazmur 51 untuk sang suami yang ditangkap polisi di Surabaya gara-gara terlibat narkoba.

Selasa, 13 November 2007, aktor kawakan Roy Marten ditangkap di Novotel Surabaya gara-gara terlibat kasus narkoba jenis amfetamin. Roy dicokok bersama tiga kawannya, termasuk Winda, kupu-kupu malam.

Roy tersandung batu yang sama karena sebelumnya dia sudah dipenjara delapan bulan di Cipinang, Jakarta, juga gara-gara kasus narkoba. Tiga hari sebelumnya, Roy Marten ceramah di Graha Pena, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya, tentang bahaya narkoba. Bicaranya enak, memukau, tapi melakukannya tak gampang.

Saya teringat kata-kata bijak: "Ikuti nasihat orang Farizi, tapi jangan ikuti kelakuannya. Sebab, orang Farizi itu hanya pandai bicara, tapi tidak melakukan apa yang dikatakannya."

Tentu, saya tidak berhak mengatakan bahwa Roy Marten tergolong kaum Farizi. Sebab, siapa saja, saya juga, senantiasa terjebak kasus apa pun. Ingat, bekas menteri agama kita saat ini mendekam di penjara gara-gara korupsi. Beliau hafal kitab suci, dikenal piawai berkhotbah, dan punya kualitas alim. Bicara itu gampang!

Kamis, 15 November 2007, Anna Maria Sofyana, istri Roy Marten, menggelar jumpa pers di rumahnya, Kalimalang, Jakarta Timur. Intinya, Anna menyesalkan perbuatan Roy, namun tetap setia, tetap mendukung aktor kawakan itu dalam doa. Tidak ada kamus perceraian bagi Anna Maria.

"Semoga Mas Roy lebih jujur," ujar Anna Maria, tegar. Bagi Anna, yang terlihat makin religius, kasus kedua Roy Marten ini ibarat ujian kenaikan kelas di bidang rohani. Orang beriman, di mana-mana, memang selalu bicara begitu.

Yang membuat saya terkesan dari kata-kata Anna Maria adalah pesan agar Roy Marten berdoa setiap saat, khususnya Mazmur 51. "Ah, Mazmur 51!" kata saya dalam hati saat menyaksikan kata-kata Anna Maria di televisi.

Bukan apa-apa, mazmur itu sangat terkenal di kampung saya, pedalaman Flores Timur. Kalau di Jawa, orang Katolik lebih mengenal Mazmur 23 [Tuhan Gembalaku], karena ada beberapa lagu bagus berdasar Mazmur 23, di Flores Timur Mazmur 51 paling populer. Bukan karena orang Flores rajin baca Alkitab--sungguh, saya baru mendalami Alkitab setelah di Jawa Timur--tapi gara-gara dibiasakan oleh pater-pater Belanda.

Pater Petrus Maria Geurtz SVD [alm] di kampung saya dulu selalu membiasakan umat di desa-desa untuk mendaraskan Mazmur 51. Dua puluh ayat itu kita daraskan pelan-pelan, berirama [12333...35432... 22222...234321], lalu diresapi. Mazmur ini ditulis Daud sebagai ungkapan pertobatannya setelah berzinah dengan Batsyeba [2 Samuel 12:1-15]. Maknanya sangat dalam.

"Kasihanilah aku ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!" Kata-kata ini diucapkan Anna Maria sambil menangis. Saya ikut terharu.

Pada pekan suci, menjelang Paskah, Pater Geurtz juga membiasakan pendarasan Mazmur 51 saat upacara lamentasi. Lamentasi dilakukan pada Jumat Agung pagi dan Sabtu Paskah pagi. Saya yang masih kecil, belum begitu paham mazmur, masih ingat pater Belanda itu begitu tekun memimpin Mazmur 51. Melodi yang sederhana, tapi indah, sehingga masih saya ingat sampai sekarang.

Ketika Anna Maria mengingatkan agar Roy Marten, suaminya, mendaraskan Mazmur 51, saya pun merasa ditegur. "Kenapa engkau tidak pernah mendaraskan dan merenungkan Mazmur 51? Apakah engkau lupa bahwa dulu, di kampung, mazmur itu menjadi doa jemaat yang selalu didaraskan? Apakah engkau terlalu sibuk sehingga lupa bermazmur?"

Begitu suara hati saya berkata. Maka, tengah malam saya membuka-buka Alkitab, mencari Mazmur 51. Saya mencoba merenungkan, dan tenyata maknanya sungguh dalam. Siapa saja, saya, anda, Roy Marten, ya, kita semua, sesungguhnya jatuh dalam dosa yang sama berkali-kali. Bentuknya saja yang berbeda.

Jikapun Roy Marten disorot media massa, jadi objek pemberitaan, bukan berarti dia manusia paling berdosa. Kita semua berdosa, berdosa, berdosa, dan berdosa. "Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, siapakah yang dapat bertahan?"

Seperti Anna Maria, saya pun berharap Roy Marten beroleh banyak peluang untuk merenungkan ayat-ayat mazmur, khususnya Mazmur 51, selama menjalani proses hukum yang cukup panjang ini. Dan mudah-mudahan Roy 'naik kelas' seperti harapan sang istri.

"Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir. Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!"

Sekilas paduan suara di Indonesia



Himne Guru, aransemen SATB oleh Bapak Binsar Sitompul (almarhum). Sejak sekolah dasar, anak-anak Indonesia sudah dibiasakan berpaduan suara!

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

Mas Hurek, tolong jelaskan secara umum mengenai perkembangan paduan suara Indonesia? Kapan mulai berkembangnya (apa betul pertengahan tahun 1950-an seperti yang diceritakan oleh Om Simanungkalit? Awal perkembangannya bagaimana? Dan terpengaruh dari hal apa?

Oh iya, secara pribadi Mas Hurek terkesan dengan karya Om Lit [Simanungkalit] yang mana? (Kalau Om Lit bilang ke saya dia sangat bangga dengan "Peralihan"). Lalu, menurut mas, apa yang membedakan lagu-lagu karya Om Lit dengan karya orang lain?

Yudha Trisna Wati
Mahasiswi UI Jakarta



Wah, saya jawab secara spontan saja ya. Soalnya, gak sempet buka literatur nih.

Menurut saya, paduan suara itu terkait erat dengan kehadiran gereja-gereja di Indonesia, entah Katolik, Protestan, Pentakosta, Baptis, Advent, dan sebagainya. Liturgi atau ibadah kristiani tak lepas dari nyanyian. Bisa dipastikan, paduan suara muncul di Indonesia sejalan dengan kehadiran gereja. Jadi, sudah 400-an tahun.

Namun, harap diingat, Indonesia kan baru merdeka 1945. Sebelum itu orang Indonesia mengalami diskriminasi oleh Belanda, termasuk di gereja, sehingga kaum bumiputra [Inlander] tidak bisa aktif di paduan suara. Orang Indonesia waktu itu juga belum makan sekolah, primitif, sehingga bisa dipastikan belum bisa berpaduan suara. Kalau nyanyi, ya asal saja. Belum bisa disebut paduan suara.

Di kota-kota besar pada era Hindia Belanda [sebelum 1945] terdapat tempat-tempat hiburan atau konser untuk orang Belanda atau Eropa. Di Surabaya pusatnya di Balai Pemuda [Simpangsche Societeit, tahun ini usianya 100 tahun]. Di situ ada konser musik jazz, klasik. Bisa dipastikan orang-orang Belanda pun menikmati konser paduan suara atau musik klasik di situ.

Saya pernah lihat rekaman milik Des Alwi tentang suasana menjelang Perang Pasifik, 1942, di Surabaya. Sebelum tentara-tentara Belanda dikirim perang dengan kapal-kapal di Tanjung Perak, ada paduan suara yang sangat bagus. Diiringi orkes kecil [mini orchestra]. Tentu yang nyanyi itu orang-orang Belanda.

Jadi, saya sangat yakin paduan suara sudah ada sejak Hindia Belanda, namun penikmatnya ya penjajah-penjajah plus pejabat pribumi yang dekat Belanda. Bung Karno, putra priyayi, saat sekolah di Surabaya sampai HBS saya yakin ikut menikmati paduan suara atau musik Barat umumnya.

Setelah proklamasi, 17 Agustus 1945, suasana kacau-balau. Revolusi fisik berkepanjangan karena Belanda tidak mau pergi hingga penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949. Selama itu saya kira tidak ada acara-acara hiburan, termasuk paduan suara. Tinggal paduan suara gereja untuk kebaktian atau misa, itu pun sangat simpel. Buktinya, saya belum pernah menemukan komposisi paduan suara gerejawi karya komponis Indonesia pada era itu. Gejolak terus, mana sempat mikir musik? Itu asumsi saya.

Kalau Pak Nortier Simanungkalit mengatakan, awal perkembangan paduan suara sekitar 1950-an, saya kira benar. Sebab, pada era itu nyanyian seriosa mulai berkembang. Musik pop masa itu pun bergaya seriosa yang pakai vibrasi itu. Lalu, pada 1952 pertama kali diadakan Bintang Radio yang melombakan jenis seriosa, hiburan, dan keroncong.

Seriosa pasti terkait erat dengan paduan suara. Hampir bisa dipastikan semua penyanyi atau juara seriosa adalah aktivis paduan suara. Semua pencipta lagu seriosa bisa dipastikan pemusik klasik yang mendalami paduan suara. Nama-nama terkenal masa itu antara lain RAJ Sudjasmin, FX Soetopo, Subronto K Atmodjo, Mochtar Embut, Syaiful Bachri, Ismail Marzuki, Cornel Simandjuntak, Iskandar, Sudarnoto, Ibu Soed... merupakan pengarang lagu seriosa sekaligus pembina paduan suara. N Simanungkalit termasuk di dalamnya. Bahkan, sampai tahun 1990-an N Simanungkalit masih menjadi juri seriosa dan paduan suara.

Dari mana komponis-komponis ini berguru? Sama musisi Belanda atau Indo, tentu. Di Surabaya ada pemusik plus pengajar vokal klasik terkenal macam Tino Kerdjk, Le Clerg van Hammel, Magda Ang. Mereka-mereka ini melahirkan komponis dan dedengkot paduan suara macam Solomon Tong.

Di Surabaya, Jawa Timur lah, Solomon Tong [lahir 1939] bisa dikatakan sebagai bapaknya paduan suara Jatim. Komponis-komponis lain belajar di guru musik gereja atau sekolah Katolik [bentukan Belanda] yang punya tradisi bermusik sangat kuat. Salah satunya SMA Van Lith di Muntilan yang antara lain melahirkan cukup banyak komponis paduan suara berpengaruh di Indonesia.

Paduan suara di lingkungan Gereja Katolik [kalau Protestan saya kurang tahu] mulai berkembang pesat sejak Pastor Karl Edmund Prier SJ, romo yesuit, mendirikan Pusat Musik Liturgi atau PML pada 11 Juli 1971 di Jogjakarta. PML tidak hanya menerbitkan buku-buku paduan suara, tapi juga menggelar lokakarya komposisi dan pelatihan paduan suara di seluruh Indonesia. Saya bisa pastikan, hampir semua pelatih paduan suara di Gereja Katolik menggunakan referensi dari PML.

PML sampai sekarang membuka kursus dirigen untuk gereja-gereja atau masyarakat umum di Jogjakarta. PML menggelar kursus dirigen di mana-mana. Nah, saya perhatikan pelatih-pelatih paduan suara mahasiswa di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Nusa Tenggara Timur, adalah alumni PML atau setidaknya pernah belajar dari alumni PML. Pelatih PSM UGM Jogja ya lulusan PML.

Kalau di Protestan, yang punya program rutin Pesparawi, N Simanungkalit sangat dominan. Buktinya, ia paling banyak menyusun komposisi-komposisi untuk lomba. Peranan Yayasan Musuk Gereja [Yamuger] di Protestan juga tak bisa diabaikan dalam menggairahkan paduan suara di lingkungannya.

Pada 1950-an Presiden Soekarno juga ikut melatih paduan suara pada waktu senggang. Bung Karno yang dekat dengan seniman meminta agar diciptakan sebanyak mungkin lagu bertema cinta tanah air, nasionalisme, perjuangan, semangat pahlawan, dan sebagainya. Bung Karno juga 'memaksa' para seniman untuk bikin lagu-lagu daerah. Dari sinilah kita kenal lagu-lagu macam Yamko Rambe Yamko, Rasa Sayange, Kampuang Nan Jauh di Mato, dan seterusnya.

Bersamaan dengan itu, paduan suara berkembang tidak lagi di gereja, tetapi di ranah umum, khususnya sekolah-sekolah dan universitas. Lomba paduan suara sangat sering diadakan mulai tingkat kecamatan hingga nasional. UI, UGM, ITB, Unair, Unibraw, dan universitas-universitas tua sangat serius menjadikan paduan suara sebagai kegiatan ekstra kurikuler terpenting.

Kalau bikin lomba, lagu apa yang dilombakan? Nah, di sinilah komponis-komponis macam N Simanungkalit, Alfred Simanjuntak, Binsar Sitompul, FX Soetopo, RAJ Sudjasmin... pegang peranan. Mereka bikin lagu khusus 'dalam rangka' festival paduan suara. Kenapa? Sebab, partitur paduan suara ala Indonesia belum banyak tersedia. Pak Simanungkalit termasuk komponis paduan suara paling produktif, antara lain dirangsang oleh lomba-lomba paduan suara yang sangat sering di mana-mana.

Pesta paduan suara gerejawi [Pesparawi] pun banyak memesan lagu pada Simanungkalit. Orang bikin himne, mars, pesan ke Simanungkalit. Di samping itu ia langsung turun gunung untuk melatih. Jadi juri. Pengamat. Pembicara. Di mana-mana, khususnya di Jawa.

Tahun 1964 Bung Karno meresmikan TVRI sebagai satu-satunya televisi di Indonesia. Bintang Radio menjadi Bintang Radio dan Televisi [BRTV] dan makin ngetop. Agar populer harus ikut Bintang Radio dulu. Paduan suara bahkan mendapat acara khusus di TVRI. Lagi-lagi, nama Pak Kalit makin dikenal di seluruh tanah air.

TVRI juga menyajikan pelajaran menyanyi dan paduan suara yang diasuh oleh Pranadjaja. Beliau ini mantan juara seriosa, aktivis paduan suara, dan penggubah banyak lagu, khususnya anak-anak. Saya waktu bocah duduk di depan TV hitam-putih [warna belum ada] untuk menyimak pelajaran almarhum Pranadjaja. Wawasan musik saya banyak dipengaruhi siaran TVRI dulu.

Tiap tanggal 17, semua perguruan tinggi di bersaing agar bisa tampil di TVRI dalam acara 'Cintaku Negeriku'. Lagu-lagu nasional dan daerah. Banyak yang membawakan karya dan aransemen Pak Simanungkalit. Daftar tunggu di TVRI sangat banyak, sehingga Universitas Negeri Jember [kampus saya], misalnya, menunggu sampai satu tahun lebih sebelum tampil di TVRI. Kami, aktivis PSM, saling memata-matai kekuatan, salah satunya dari TVRI.

Di era Orde Baru paduan suara tetap marak. Kampus-kampus, sekolah-sekolah, tetap dikondisikan agar paduan suara berkembang. Ini ada kaitan dengan program normalisasi kampus dari Menteri Pendidikan Daoed Joesoef. Mahasiswa dikondisikan agar banyak aktif di kegiatan-kegiatan kampus dan tidak berpolitik. Demo, bicara politik, mengkritik pemerintah sangat berbahaya sebelum 1998.

Menurut Solomon Tong, dedengkot paduan suara di Surabaya, pemerintah Orde Baru sengaja menjadikan paduan suara sebagai katarsis bagi mahasiswa.
"Mahasiswa dibuat sibuk nyanyi agar tidak macem-macem sama pemerintah," kata Tong yang juga pendiri dan dirigen Surabaya Symphony Orchestra.

Pengalaman saya, pihak rektorat Universitas Jember jarang menolak proposal dana untuk lomba paduan suara yang jutaan rupiah. Padahal, unit-unit kegiatan lain agak susah mendapat bantuan. Ini karena paduan suara selalu dibutuhkan untuk wisuda, dies natalis, dan seremoni-seremoni lainnya.

Saya melihat sampai sekarang paduan suara masih berjalan baik meskipun tidak seramai pada era saya, sebelum 1998. ITB tetap bikin lomba, dan jadi barometer nasional. Universitas Parahyangan Bandung tetap jalan dengan keunggulannya. Anak-anak SMA 6 Surabaya saat ini sedang persiapan untuk dikirim ke Jepang.

Paduan suara gereja juga jalan, tapi saya nilai rata-rata kurang bermutu karena kurang latihan. Juga kekurangan pelatih berbobot. Akibatnya, ordinarium misa serta lagu-lagu liturgi yang seharusnya dahsyat dan berkualitas tinggi jarang saya dengarkan saat ikut misa di tanah Jawa.

14 November 2007

Helen Sparingga reuni di Porong




Helen Sparingga kini berusia 53 tahun dan sudah jadi nenek satu cucu bernama Aldo James McOrmack. Tapi, sungguh, kecantikan penyanyi terkenal di era 1980-an ini masih terjaga. Dia sedap dipandang, segar, ramah, selalu gembira. Yah, nenek yang awet muda.

Setidaknya itulah yang terlihat saat Helen Sparingga berkunjung ke SDN Porong 2 di Desa Mindi, Kecamatan Porong, Sidoarjo, hanya sekitar satu kilometer dari pusat semburan lumpur. Helen datang bersama pelawak Doyok, Senin [12/11/2007], untuk sebuah temu kangen para alumni sekolah itu. Asal tahu saja, Helen Sparingga dan Doyok [Sudarmaji] memang alumni SDN Porong 2 yang kini sudah nyaris ambruk terkena lumpur panas.

"Waktu kecil saya ya sekolah di sini. Kok suasananya jadi berubah menjadi gak karuan kayak gini ya?" tukas suami Mus Mulyadi, penyanyi legendaris asal Surabaya, itu. Bersama Doyok serta 40-an alumni, Helen Sparingga bernostalgia sekaligus berempati dengan penduduk Porong yang sejak akhir Mei 2006 menjadi korban lumpur lapindo.

Doyok sebelumnya sudah beberapa kali menjenguk kampung halamannya, karena dia memang lahir di Mindi. Ayah Doyok bekas juragan pabrik rokok rumahan di Desa Mindi. Meski berkarier di Jakarta, Doyok masih sering datang ke Sidoarjo untuk menemui kerabatnya. Adapun Helen Sparingga tumbuh sebagai anak polisi yang dulu kebetulan berdinas di Porong. Oh ya, Porong dikenal sebagai 'markas polisi' karena ada beberapa institusi kepolisian berskala nasional di situ.

"Saya hanya minta agar warga di sini tidak putus asa. Tabah, tawakal, terus berdoa, agar Tuhan memberikan bekat-Nya melalui musibah ini. Kita harus percaya setiap musibah itu selalu ada hikmahnya," ujar Helen Sparingga yang beberapa tahun terakhir ini juga aktif dalam pelayanan rohani kristiani.

Melihat Helen Sparingga datang ke Porong, saya teringat masa kecil di kampung halaman, Flores Timur. Waktu itu saya kerap mendengar lagu-lagu Helen Sparingga yang diputar teman saya, Mator, tetangga sebelah. Album perdana Helen Sparingga bertajuk
Birunya Cintaku terbitan JK Records.

Perusahaan rekaman milik Judhi Kristianto [JK] ini, kita tahu, sangat berjaya pada 1980-an dengan lagu-lagu manis. Meski suara Helen biasa-biasa saja, JK merasa Helen bisa dijual karena wajahnya yang jelita. Promosi gencar lewat TVRI, televisi
satu-satunya, membuat nama Helen Sparingga langsung melejit.

Dan saya menikmati suara Helen Sparingga di rumah tetangga. Tape recorder sederhana, pakai baterai biasa, karena listrik tidak ada. Kenapa di rumah tetangga? Hehehe... Keluarga kami tidak punya tape. Yang ada hanya radio transistor. Si Mator, kakak kelas ini, sangat suka suara Helen Sparingga yang melankolis dengan melodi lagu yang manis ala Obbie Messakh. Lagu Birunya Rinduku diputar ulang-ulang, sehingga saya
hafal. Sampai hari ini. Bahkan, intro hingga interlude-nya pun saya tidak lupa.

Seminggu yang lalu kau masih di sini
cerita padaku tentang asmara.
Seminggu yang lalu kau masih di sini
kau ikat kembang di rambut hitamku....
Oh... indahnya, oh... mesranya malam itu

Belum habis manis yang kuberikan
Sudah kaubalas pahit begini
Ternyata untukku kau berikan sisa
Dari cintamu yang penuh berduri

ULANGAN

[Maafkah sayang..
memang salahku membagi cinta]
Tak kusangka tak kuduga semula
Kau yang kucinta pandai berdusta

[Ohh... namun dengarlah dari semua
engkau yang kusayang]
Pergilah, pergilah saja
dan jangan datang lagi
aku pun tak mau
kau berikan cintamu yang palsu

Putuskan cintaku jangan harap lagi
Kuterlena dalam belaianmu
Merahnya asmara birunya cintaku
bagai mimpi-mimpi yang hitam




Tak hanya saya dan Mator, bocah-bocah di kampung saya pada 1980-an [album ini terbit 1985] selalu menyanyikannya. Maka, seluruh desa pun ikut-ikut dilanda virus Helen Sparingga, khususnya Birunya Cintaku. Lagu-lagu manis macam itu memang cepat mendarat di hati orang-orang Flores Timur, selain karena akornya sederhana, juga melodius. Lagu apa saja, jika melodinya tak kuat, sulit populer di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Helen Sparingga tergolong artis JK yang langsung sukses pada album perdana. Dan itu termasuk bagus untuk ukuran bisnis kaset [CD belum ada] masa itu. Sebab, JK yang dikenal piawai mengendus pasar musik pada 1980-an ternyata gagal mengobitkan sejumlah penyanyi meski wajah mereka cantik-cantik.

 Sukses Helen tak lepas dari tangan dingin Obbie Messakh, pencipta lagu pop asal NTT paling laris masa itu, yang menulis lagu sesuai dengan karakter vokal Helen Sparingga. Suara Obbie juga dipakai di bagian refrein, tentu untuk mengangkat popularitas Helen.

Kalau tidak salah, Helen Sparingga merilis lima album bersama JK Records. Juga ada sejumlah single bersama artis-artis JK, termasuk album Natal. Selera masyarakat yang sulit ditebak membuat album-album Helen tidak semuanya mulus. Nama Helen Sparingga melejit lagi ketika merilis album Antara Hitam dan Putih, juga karya Obbie Messakh. Nomor ini ngehit hampir bersamaan dengan Hati yang Luka [juga karya Obbie Messakh] yang dibawakan Betharia Sonata.

Radio-radio swasta di Jawa Timur--saya sudah pindah ke Malang--sangat sering memutar Antara Hitam dan Putih. Cukup lama lagu ini bertengger di urutan pertama tangga lagu radio di Malang. Dari sini sadarlah saya bahwa penggemar Helen Sparingga ternyata bukan hanya orang-orang kampung di luar Jawa, tapi juga kota besar di Jawa. Kaset Helen Sparingga laku keras.

Dia bersama para artis JK sempat menggelar konser di GOR Pulosari, Malang [sekarang tidak ada lagi], dan saya kebetulan menonton. Artis-artis JK ini sejatinya bukan penyanyi pangung, melainkan spesialis rekaman. 

Suara mereka dipoles sedemikian rupa oleh Judhi Kristianto karena rata-rata materi suara mereka pas-pasan. Nah, di atas panggung, di depan ribuan penonton, Helen Sparingga, Dian Piesesha, Meriam Bellina, Ria Angelina... kelabakan. Tapi tidak apa-apa karena para penggemar di Malang bisa melihat langsung penyanyi idolanya dari dekat.

Booming lagu-lagu melankolis bertema patah hati, kekerasan dalam rumah tangga, kesedihan mendalam--umumnya karya Obbie Messakh--membuat Menteri Penerangan Harmoko resah. Dia melarang TVRI menyiarkan lagu-lagu macam itu. Intervensi politik Harmoko ternyata sangat efektif untuk mengakhiri tren musik melankolis ala Obbie Messakh, Pance Pondaag, Rinto Harahap, Judhi Kristianto, dan sejenisnya. 

JK Records pun perlahan-lahan menghadapi masa surut. Bagaimana tidak? Lagu-lagunya dianggap 'cengeng', tidak membuat orang Indonesia punya semangat membangun.

Tentu saja, Helen Sparingga ikut terkena getah kebijakan bredel 'lagu cengeng' ala Harmoko. Sejak itulah karier musik Helen semakin surut. Dia sih tetap menyanyi, apalagi punya suami Mus Mulyadi yang penyanyi terkenal, tapi cerita sukses albumnya macam Birunya Cintaku atau Antara Hitam dan Putih sudah tinggal sejarah.

"Sekarang saya sih tetap nyanyi, tapi nggak kayak dulu. Saya menikmati hidup dan berkat yang Tuhan berikan kepada saya dan keluarga. Saya harus selalu bersyukur," ujar Helen Sparingga dalam sebuah kebaktian di Surabaya.

Berkat yang terbesar, menurut dia, adalah rumah tangga yang bahagia, jauh dari gosip. Ketika begitu banyak selebriti, termasuk artis lama angkatan Helen Sparingga, diberitakan kawin cerai, pasangan Helen Sparingga dan Mus Mulyadi justru tenang-tenang saja. Dia mengaku sangat bahagia punya seorang cucu, Aldo James, buah pernikahan anak pertamanya, Irene Patricia, dengan pria Australia.

Irene kebetulan pernah ikut Daniel Sparingga, adik kandung Helen Sparingga, dosen Universitas Airlangga yang kuliah di Australia. Nah, di negara kanguru itulah Irene berkenalan dengan bule setempat yang kemudian menjadi suaminya. "Keluarga yang harmonis itu merupakan berkat terindah dari Tuhan," kata Helen Sparingga.

Saya pernah menanyakan resep rumah tangga harmonis kepada pasangan suami-istri Mus Mulyadi dan Helen Sparingga ketika mereka mengisi sebuah acara di Surabaya. Mus Mulyadi langsung tersenyum ramah. 

 "Resepnya itu ya sederhana saja. Kita sebagai orang percaya, ya, menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Kalau ada masalah, kita bawa dalam doa kepada Tuhan. Dan, yang penting, kita saling percaya," ujar Mus Mulyadi.

Karena itu, jika anda mendengar lagu-lagu Helen Sparingga yang hampir semuanya melankolis, sedih, gagal cinta, percayalah, itu hanya lagu. Sama sekali tidak mencerminkan kehidupan rumah tangga Helen Sparingga dan Mus Mulyadi. Jadi, berbahagialah Mus Mulyadi yang punya istri cantik, setia, dan beriman kepada Tuhan dalam suka dan duka!



20 HITS HELEN SPARINGGA

1. Antara Hitam dan Putih [Obbie Messakh]
2. Birunya Cintaku [Obbie Messakh]
3. Antara Cinta dan Kenyataan [Obbie Messakh]
4. Masih Ada Kita-kita [Obbie Messakh]
5. Semerah Duka di Hati [Judhi Kristianto/Maxie
Mamiri]
6. Beri Mereka Kesempatan [Ted Sutedjo]
7. Ku Dustai Dukaku [Judhi Kistianto]
8. Seandainya Kau Punya Perasaan [Judhi Kristianto]
9. Selamat Malam [Judhi Kristianto/Ade Putra]
10. Lagu Cinta [Deddy Dores]

11. Rindu dan Air Mata [Pance Pondaag]
12. Birunya Kasihku [Benny Ashar]
13. Di Saat Aku Ingat Dirimu [Judhi Kristianto]
14. Bukan Kau yang Pertama [Pance Pondaag]
15. Segalanya Untukmu [Pance Pondaag]
16. Kecewa [Judhi Kristianto/Maxie Mamiri]
17. Antara Dusta, Duka, dan Cinta [Nosita]
18. Kau Biarkan Aku Rindu [Mully Mulia]
19. Seuntai Puisi Untukmu [Maxie Mamiri]
20. Tak Percaya Tapi Nyata [Pance Pondaag]

12 November 2007

Selamat jalan Pak Agil H Ali



Oleh Djoko Pitono
Sumber: Jawa Pos 12 November 2007


"Dunia jurnalistik adalah satu dunia yang penuh dengan fatamorgana. Ia menakutkan, menggelisahkan, tetapi menghibur jiwa. Saya telah memilihnya dan saya tidak keliru. Karena itu, saya tidak ingin melepaskannya."


Kata-kata itu adalah salah satu pernyataan Agil H. Ali, tokoh pers nasional, yang meninggal dunia pada Minggu (11/11/2007) petang. Dia tutup usia dalam usia 62 tahun setelah hampir sebulan dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya, akibat serangan stroke.

Agil memang tetap setia kepada profesinya sebagai jurnalis. Kepada kawan-kawannya, dia bahkan menyebutkan akan menerbitkan sebuah surat kabar di Jakarta pada Januari 2008.

Karena kesetiaan pada profesinya itu, juga berkat prestasinya di dunia pers, para sahabatnya di Universitas Brawijaya, Malang, malah sedang mengupayakan pemberian gelar doktor honoris causa (Dr HC) untuk Agil.

"Cukup banyak kawannya di Unibraw yang mendukungnya," kata Djanalis Djanaid, seorang sahabatnya, yang tak bisa bertakziah karena ada acara di Batam.

Sebagai jurnalis, Agil H. Ali dikenal sebagai seorang orator. "Dia orator dan agitator yang andal, bisa bikin orang terharu, bangkit, atau marah. Beliau juga selalu sukses kalau diminta untuk menangani proyek-proyek jangka pendek," kata Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan begitu mendengar kabar meninggalnya Agil.

Dalam beberapa bulan terakhir, Agil menunjukkan hal-hal yang agak berbeda daripada biasanya. Dia sering menelepon saya dan sejumlah kawannya. Tidak seperti biasanya, dia juga sering berbicara tentang kematian. Mati besok atau sekarang sama saja, katanya. Apa yang kita tunggu?

Lahir di Tondano, 1 Juli 1945, Agil H. Ali mengawali karir jurnalistiknya saat menjadi mahasiswa di Unibraw dengan mendirikan Bulletin Mahasiswa, kemudian berubah menjadi Mingguan Mahasiswa, sebelum akhirnya menjadi Mingguan Memorandum, dan terakhir Harian Memorandum (kini di bawah Grup Jawa Pos).

Laki-laki yang selalu tampil perlente itu juga pernah mengangkat prestise dunia sepak bola di Indonesia berkat kepiawaiannya memotivasi para pemain bola.

Tetapi, kawan-kawan Agil merasa paling terkesan ketika masa mahasiswa pada 1960-an dan 1970-an. Saat itu, Agil sering diundang untuk berbicara di berbagai forum diskusi, seminar, dan semacamnya, terutama di kampus-kampus di berbagai kota di Indonesia. Dia memikat ratusan dan bahkan ribuan pendengar yang berdarah muda hingga menyulutnya bergerak melakukan demonstrasi-demonstrasi. Dia pun berkali-kali harus mendekam di balik jeruji besi kekuasaan.

Seorang sahabatnya, Sam Abede Pareno, melukiskan gaya jurnalistik Agil sangat indah, namun bebas dan lugas sehingga membuat para pejabat geregetan terhadap pemuda kurus yang dandy dan flamboyan itu.

"Bukan hal yang mengherankan bila kemudian Agil harus ditangkap dan dijebloskan ke tahanan," kata Sam Abede.

Sam juga melukiskan, Agil adalah seorang aktor yang besar meskipun panggungnya kecil. "Gagasan-gagasannya melampaui sekat-sekat kewilayahan, keagamaan, kebangsaan, dan ideologi," tambah Sam.

Begitu besarnya daya tarik Agil ketika berbicara dan memengaruhi massa, dua jenderal terkemuka pada masanya, Jenderal Soemitro dan Jenderal Ali Murtopo, merasa perlu mengundang Agil untuk bertemu.

Para duta besar negara-negara kaya bergantian mengundang Agil untuk melakukan kunjungan jurnalistik ke negeri-negeri mereka. Para pejabat sipil militer, seperti Pangdam dan gubernur, serta tokoh-tokoh Jawa Timur lainnya juga sering mengundang dia untuk bertukar pikiran.

Dia juga pernah menjadi ketua PWI Jawa Timur dua kali masa jabatan, juga pengurus Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Pusat, dan menjadi anggota MPR.

"Dia memang pandai sekali berpidato. Pidato-pidatonya selalu menarik. Jarang saya temui orang yang pintar berbicara seperti Pak Agil," kata Prof Budi Darma PhD, sastrawan terkemuka dan guru besar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Sebagai pemimpin sebuah koran, Agil juga bermurah hati kepada anak-anak muda yang berniat menjadi jurnalis. Lewat korannya, Agil telah menumbuhkan entah berapa ratus jurnalis yang kini tersebar ke berbagai media massa, termasuk radio dan televisi. Mereka datang dan pergi, tapi tak ada rasa kecewa, apalagi sakit hati. Dia bahkan selalu memuji para mantan anak buahnya yang berprestasi.

Dalam kiprahnya yang panjang itu, Agil memang kadang menimbulkan kontroversi-kontroversi. Sebagian orang tentu tidak senang kepadanya. Tetapi, sejak lama Agil telah menyadari hal itu dan memang itulah konsekuensi yang harus dipikul seorang tokoh seperti dia. Saat mengakhiri jabatan ketua PWI, Agil menutup sambutannya dengan sangat puitis:

"Sebagai ketua, sebagai pemimpin organisasi ini, saya menyadari bahwa saya dicintai dan sekaligus dibenci, saya dipuja bersamaan saya dicaci. Kepada yang mencintai dan yang membenci, maafkanlah saya, izinkan saya pergi dari jabatan ini, kembali ke tengah Saudara-Saudara dalam keakraban yang tidak berjarak. Saya mencintai Anda semua, lebih lama dari selama-lamanya," kata Agil.

Seorang kawannya, Noor Fattah Syafi’i, punya komentar yang menarik hanya dua hari menjelang meninggalnya Agil. "Setiap orang punya kelemahan, termasuk Mas Agil. Tetapi, saya berani mengatakan, nyaris tidak ada jurnalis di Jawa Timur ini yang di masanya tidak pernah bersentuhan dengan dia dan memperoleh sesuatu darinya," katanya.

Dan, jurnalis itu sekarang telah pergi. Selamat jalan Bung Agil.

Ludruk Suriname puaskan penonton



Pelawak Surabaya, Cak Kartolo, tampil bersama Susi alias Soelijanto, waria cakep asal Suriname keturunan Jawa, di Gedung Cak Durasim Surabaya.


Baru kali ini saya melihat Gedung Cak Durasim di Jalan Gentengkali 85 Surabaya penuh sesak. Setengah jam sebelum pertunjukkan, pukul 21.00, gedung teater itu tiga perempat penuh. Sepuluh menit sebelum pertunjukkan penuh. Sekitar 1.200 orang tumplek-blek.

Lantas, ratusan orang terpaksa [atau malah enak?] berselonjor di karpet, persis di bawah panggung. Gayeng suasananya! Macam nonton ludruk tobong di pelosok-pelosok Jawa Timur.

Kok orang Surabaya bisa antusias begini? Tak lain karena malam itu [10/11/2007] para seniman dari Republik Suriname, Amerika Selatan, manggung. Dipimpin Kapten Does, empat seniman memainkan lakon Lelakone Wong Songko Jowo. Cerita tentang sejarah pembuangan orang Jawa pada 1890, tanggal 9 Agustus, ke negeri asing. "Soro.. soro tenan," kata Kapten Does alias Salimin Ardjooetomo, ketua rombongan, dalam pengantarnya.

Dikirim sebagai kuli perkebunan, orang-orang Jawa masa itu harus babat alas, buka hutan. Tidak ada rumah, ya, harus bikin gubuk. Makanan terbatas. Untuk mengusir stres, para kuli perkebunan itu main ceki [judi] bersama temannya.

"Kalau uangnya habis, istrinya digadaikan," tutur Kapten Does dalam bahasa Jawa. Penonton tertawa, suit-suitan. Istri kok digadai? Tapi, itulah, suasana perbudakan era Hindia Belanda yang memang kejam dan tak manusiawi.

Tahun berganti, tak terasa Kapten Does sudah tergolong generasi ketiga. Kini, kehidupan orang-orang Jawa di Suriname [50.000 orang dari 500.000 penduduk Republik Suriname alias 10 persen] sudah makmur. Istilah Does: wis mulyo! Mereka bisa menikmati hidup bersama penduduk keturunan India, Kreol, Tionghoa... yang latar belakangnya sama, yakni sebagai budak di perkebunan tebu.

Lantas, bagaimana orang Jawa mempertahankan budaya, adat, agama, unggah-ungguh... di Suriname di tengah gempuran globalisasi dan budaya Barat? Itulah kisah Does Kabaret yang ditampilkan dalam Festival Cak Durasim tahun 2007 ini. Selama satu jam lebih, kami menikmati ludruk ala Suriname. Benar-benar ludruk kayak di Joyoboyo, minus tari remo. Juga mengedepankan laki-laki yang bermain sebagai perempuan.

Kalau Ludruk Irama Budaya, Joyoboyo, punya banyak waria, ludruk Suriname punya Amatirsat Soelijanto, waria cakep. Ia bermain sebagai gadis gaul Suriname [Susianti] yang sangat modis, kebarat-baratan, pacaran bebas dan panas, nyaris melupakan budaya Jawa. Susi ini manis, tidak pakai operasi apa pun. Banyak gadis di Surabaya yang iri. Hehehe....

Saat mamanya ke pasar, Susi mengajak pacarnya, Jon [Resosumito Rakimin], untuk datang ke rumah. Nah, di situlah keduanya bercumbu ria. Lantas, si mama datang memergoki adegan mesra nan panas itu.

Susi gegeran [dan ger-geran] dengan mamanya yang energik dan sangat ketat menjaga adat istiadat leluhurnya. "Wong njowo kok gak duwe unggah-ungguh. Eling, mbahmu iku wong njowo," nasihat si mama. Tapi, dasar Susi, semua nasihat selalu dilawan dengan celetukan-celetukan protes, tapi penuh humor, sehingga penonton terbahak-bahak.

Cerita biasa-biasa, pemain yang hanya empat, ternyata sangat berhasil. Kedekatan budaya, kesamaan bahasa, juga beda istilah antara Suriname dan Surabaya menjadi bahan humor tersendiri. Penonton geli mendengar kata 'sroto' yang di sini sama dengan 'kunci'. Kalau di sini 'bumbu' berarti rempah-rempah penyedap masakan, orang Suriname mengartikan sebagai masalah atau problem. Inggris menjadi Engels.

Si mama dan Susi ternyata sudah melakukan 'survei' tentang Gang Dolly [pusat pelacuran di Surabaya] hingga kebiasaan masyarakat mlaku-mlaku nang TP [Tunjungan Plaza].

Sayang sekali, ludruk yang sangat menghibur ini tiba-tiba dipotong Kapten Does karena durasinya sudah satu jam. "Kalau gak dipotong, sampai pagi pun belum selesai. Kita sambung besok karena saat ini ada kesenian lain yang mau tampil," ujar Does. Penonton puassss!

Usai pergelaran, saya mampir ke kamar ganti artis. Saya ketemu Kapten Does, Argill, Soelijanto... ya semua personela kabaret. Pak Does tersenyum ria saat saya menjabat tangannya. "Matur nuwun, matur nuwun!" kata penyiar radio dan televisi Garuda di Paramaribo, ibukota Suriname itu.

Soelijanto alias Susi pun sumringah. "Kalau bisa saban tahun bisa main di sini," katanya kepada teman-teman Trans TV yang mewawancarai di ruang ganti. Dia bicara dalam bahasa Jawa, tentu saja. Nah, teman-teman reporter banyak yang kelabakan karena sulit bicara panjang dalam bahasa Jawa. Hehehe...

Masih di kamar ganti, Argyll Legiran Ardjooetomo [pemeran mama] menangis histeris. Menangis sejadi-jadinya macam anak kecil. Ada apa ini? Ternyata, kawan dari Suriname ini sangat terharu dengan sambutan masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Dia tak menyangka kalau ludruk Suriname beroleh sambutan begitu luas. Gedung penuh sesak, respons penonton selama show pun luar biasa.

Begitulah! Argyll mengungkapkan rasa bahagianya dengan menangis, menangis, menangis. Air mata bahagia! Saya menilai Argyll ini luar biasa karena sudah 15 tahun ikut kabaret Kapten Does. Bicara sendiri alias monolog, penguasaan panggung, komunikasi dengan penonton, sangat bagus. Dialah motor, roh, kelompok ludruk Suriname itu.

Esoknya, ludruk dilanjutkan dengan cerita yang mirip. Pertunjukkan khusus untuk pelajar, guru-guru, dan undangan khusus. Ger-geran masih terjadi, apalagi pelawak Kartolo ditanggap khusus sebagai bintang tamu. Susi [Soelijanto], si waria yang biasanya fasih 'menghantam' lawan mainnya kali ini seperti kena batunya. Kartolo bukan seniman sembarangan memang. Maka, semua umpan Susi dimakan habis. Penonton ger-geran!

"Wonge endek, sembarange ya mesti endek," goda Susi.

"Endek tapi pancalane banter. Koen durunge ngerti rasane," jawab Kartolo.

Yah, lawakan-lawakan macam ini memang khas ludruk di Jawa Timur. Asosiasinya ke seks dan dijamin semua penonton paham, lalu tertawa. Eh, Kabaret Does alias Ludruk Suriname ini pun pakai formula yang sama.

Luar biasa!

Sudah 117 tahun orang Jawa di Suriname berpisah dengan negeri asalnya, yang kini sudah menjadi Republik Indonesia, tapi adat istiadat, bahasa, dan unggah-ungguh Jawa tidak hilang. Boleh dikata, cara Jawa ala Suriname jauh lebih murni karena di negaranya Kapten Does itu ada semacam konservasi budaya. Ada yayasan, paguyuban, orang tua, media massa [televisi, radio] yang secara teratur melestarikan semua yang berbau Jawa.

Di sini, orang Jawa sudah 'menjadi Indonesia', berinteraksi dengan nilai-nilai baru yang makin berkembang seiring gempuan arus globalisasi. Generasi muda dibiarkan mencari jati diri sendiri. Orang tua [Jawa] pun tidak ketat lagi memaksa anak-anaknya berbahasa Jawa dengan segala unggah-ungguh basanya. Anak-anak muda dibiarkan berbahasa gado-gado, Melayu-Betawi, nginggris-ngingris, ngaka pasaran, dan mengabaikan kesenian tradisional macam ludruk, ketoprak, atau wayang kulit.

"Saya malah nggak bisa pidato dalam bahasa Jawa seperti Kapten Does," aku Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Dr. Rasiyo. "Anak-anak sekarang apalagi. Bicara bahasa Jawa sudah susah."

Melihat ludruk Suriname, cara bertutur Kapten Does dan lima anggota rombongan [salah satunya kamerawan], bahasa Jawa ala Suriname yang relatif 'murni', saya optimistis bahasa dan budaya Jawa tidak akan hilang. Negara kecil bernama Suriname itu telah menjadi cagar budaya Jawa yang luar biasa!

Matur nuwun Kapten Does! Matur nuwun para pemain kabaret atawa ludruk Suriname! Sebagai bentuk apresiasi saya kepada enam saudara dari Suriname ini, saya memberikan tali asih berupa kostum tim sepak bola Indonesia, kaus merah dengan gambar burung garuda. Jumlahnya hanya empat, sehingga Pak Does dan Mas Doel dapat kaus hitam komunitas motor di Surabaya.

Sekali lagi, matur nuwun dan salam persahatan dari saya untuk semua warga keturunan Jawa di Republik Suriname.

BACA JUGA
Orang Suriname yang antik

Berlian Hutauruk album rohani


Cukup lama saya tidak membeli kaset/CD/VCD lagu rohani [kristiani]. Ini membuat referensi saya tentang artis-artis gospel yang beredar di Indonesia tidak mutakhir alias ketinggalan zaman. Tapi tak apa, saya memang cenderung kurang suka dengan pop rohani yang itu-itu saja dan menurun kualitasnya.

Kenapa?

Rata-rata tak ada bedanya dengan musik niaga atau pop biasa. Bedanya hanya lirik yang disesuaikan dengan semangat 'pujian dan penyembahan'. Ada kutipan ayat Alkitab, seruan 'Haleluya', banyak menyebut kata-kata 'Tuhan' dan sejenisnya. Umumnya album rohani di sini digarap asal jadi, aransemen musiknya tidak sekaya pop sekuler.

Jumat, 9 November 2007, saya mampir ke toko kaset plus toko buku di Griya Pukat, Jalan Bengawan 3 Surabaya. Tempat ini tiap hari digelar misa kudus, diikuti para pengusaha Katolik. Mereka-mereka yang tidak sempat misa hari Minggu di gerejanya bisa 'bayar' misa di sini.

Aha, saya ketemu Piche, orang Bajawa, Flores Barat, yang sudah merilis dua album rohani independen. Piche ini penyanyi dan pemusik rohani, spesialis melayani hajatan perkawinan. "Modal kita orang Flores kan cuma suara. Kita pakai talenta yang Tuhan berikan itu untuk cari nafkah. Bung Lambert, sekarang ini tanggapan untuk saya cukup banyak," ujar Piche dengan gayanya yang riang dan kadang agak ngawur.

Lalu, saya masuk ke kontet kaset Griya Pukat. Tidak banyak karena juragannya sudah berganti. Tiba-tiba saya menemukan kaset bersampul biru BERLIAN HUTAURUK, tajuknya Yesusku Juruselamatku. Ada sketsa Berlian, dengan raut wajah khas Batak, tersenyum manis. Saya langsung membeli kaset itu karena terbilang langka di Surabaya. Saya membeli bukan karena sedang gandung praise & worship songs atau lagu-lagu gospel, melainkan karena si penyanyinya: Berlian Hutauruk.

Bagi saya, suara sopran Berlian yang melengking merupakan jaminan mutu. Maka, ketika si petugas bertanya apakah kaset itu dicoba dulu, saya menggeleng. "Nggak usah Mbak. Saya yakin lagu-lagunya pasti enak karena yang nyanyi Berlian," ujar saya, mantap.

Album rohani ini sebetulnya produksi lama, tahun 2002, dari Soli Deo. Hanya saja, distribusi kurang baik sehingga banyak penggemar vokal Berlian Hutauruk yang kecele karena tidak bisa mengoleksi. Termasuk saya. "Bagaimana Bung, kalau kaset ini dihadiahkan untuk saya?" tanya Piche.

Saya terpaksa menolak karena tidak ada stok lagi di Surabaya. Andai banyak, sudah saya berikan kepada Piche karena beberapa waktu lalu dia menghadiahi saya CD terbarunya.

Ada 10 lagu di kaset Berlian Hutauruk ini. Bagian A: Bapa [Laura Wattimena], Yesusku Juruselamatku [Bonar Gultom alias Gorga], Arbab [Bonar Gultom], Yesus Hadir dalam Hidupku [Tetty R. Panggabean], Power of Love [Geoff Bullock]. Bagian B: Aku Inilah Jalan [Bonar Gultom], Janji Tuhan [Laura Wattimena], Yeshua Hamashia [Yusak dan Hana], Ku Tak Berdaya Tanpa Tuhan [Tarida P. Hutauruk], Tuhan Yesus Memanggil [...].

Suara Berlian Hutauruk mulai dikenal publik musik pop pada 1977 ketika mengisi sound track film Badai Pasti Berlalu. Lagu-lagu dalam album ini, karya Eros Djarot, kini menjadi legenda, lagu abadi, karena kualitasnya yang tinggi. Musiknya yang digarap antara lain oleh Yockie Suryo Prayogo memang sangat luar biasa untuk ukuran teknologi pada tahun 1970-an.

Album Badai Pasti Berlalu kemudian dibuat ulang oleh Chrisye [almarhum], kemudian terakhir Andi Rianto. Tapi orang tetap mengenang suara Berlian Hutauruk, Chrisye, dan mencari album terbitan 1977. Sayang, album legendaris ini tidak diproduksi lagi meskipun selalu dicari para kolektor.

Nah, sewaktu memutar album rohani ini, bayangan saya tentulah suara sopran Berlian Hutauruk di era Badai Pasti Berlalu. Dan saya tidak terlalu kecewa karena mutu suara Berlian Hutauruk relatif masih terjaga di usianya yang sudah tak muda. Frasering, penapasan, vokalisi, penghayatan Berlian akan komposisi tetap mantap. Hanya saja, harus diakui, tata musik [aransemen] yang dikerjakan Yongki D. Ramlan, Johanes Purba, Utje F. Tekol [personel The Rollies] tidak sehalus Badai Pasti Berllau.

Yah, standar saja lah macam album rohani kristen yang biasa kita kenal. Musiknya tidak begitu kaya, sehingga vokal Berlian Hutauruk yang dahsyat tidak bisa dinikmati secara total. Ini menjadi pelajaran bagi semua pemusik: seorang yang vokalnya sangat luar biasa akan menjadi biasa-biasa manakala albumnya digarap dengan cara biasa-biasa. Saya melihat kasus ini juga dialami Joy Tobing, bekas jawara Indonesian Idol, yang album rohaninya juga terkesan digarap biasa-biasa saja. Para pelaku industri musik [entah pop biasa, rohani] harus memperhatikan ini.

Ini juga bedanya artis kita dengan artis Barat. Pemusik-pemusik Barat dikenal 'sangat rewel' demi mempertahankan kualitas penampilan. Mereka hanya menggunakan penata musik teruji, bahkan menjadi mitra tetap, menuntut kualitas sound, mixing, dan tetek-bengek lain dengan standar tinggi. Tidak menerima begitu saja tawaran rekaman dengan standar lebih rendah. Harus lebih baik, lebih baik, dan lebih baik.

Karena itu, jangan heran kalau penyanyi/band Barat membawa rombongan dan peralatan dalam jumlah sangat besar manakala berkonser di Indonesia. Bukan jumawa, melainkan semata-mata tuntutan profesionalisme. Saya sedih menyaksikan beberapa artis kita, yang pernah sangat terkenal, legendaris, dalam beberapa tahun terakhir tampil dengan kondisi seadanya. Sound system parah, musisi pendukung tidak sepadan, kinerja yang biasa-biasa saja. Bisa ditebak, nama besar si artis pun berantakan. Bandingkan dengan Rolling Stones yang sampai hari ini masih mampu mempertahankan penampilan macam era 1970-an.

Terlepas dari beberapa kelemahan, album rohani Berlian Hutauruk ini layak diapresiasi. Dan, sebenarnya, yang paling utama dalam album rohani itu bukanlah siapa yang nyanyi, suaranya macam apa, melainkan ajakan kepada kita untuk selalu memuji Tuhan dalam hidup ini. Album rohani akan berhasil kalau mampu mengajak umat Tuhan untuk senantiasa ingat, berserah, kepada-Nya.

Seperti syair lagu Berlian Hutauruk berikut ini:

"...Bila saatnya nanti akan tiba
Kau panggil aku tinggal dengan-Mu
Ku berserah kepada-Mu."


Baca juga: Berlian Hutauruk - Badai Pasti Berlalu