29 September 2007

Juliani Pudjiastuti pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee





Setiap bulan Ramadan, pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee di Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya menggelar acara buka puasa untuk orang-orang miskin. Ini merupakan sebentuk solidaritas umat kelenteng, Tridharma, terhadap sesama yang beragama Islam.

"Sejak beberapa tahun lalu kami adakan buka puasa bersama, tiap hari Jumat. Mas Hurek, silakan datang menikmati hidangan kami," ujar Juliani Pudjiastuti, ketua pengurus kelenteng di Jalan Cokroaminoto itu, kepada saya, September 2007 .

Umat non-Islam di Kota Surabaya dan sekitarnya tentu saja tidak berpuasa selama bulan Ramadan. Namun, mereka tetap menggelar acara-acara untuk mendukung saudara-saudari kaum muslim yang sedang menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Pekan lalu, Pak Nugroho, ketua pengurus wihara di Sidoarjo, bikin buka puasa bersama anak-anak jalanan. Sejumlah gereja bahkan rutin menggelar acara sahur keliling sejak tahun 2001.

Saya salut dan ikut berbahagia atas semangat kerja sama, kerukunan, saling berbagi, macam ini. Ramadan, bulan penuh rahmat, ternyata juga diisi umat non-Islam dengan kegiatan-kegiatan amal saleh. Kebersamaan dirajut.

Datanglah halaman kelenteng di Jalan Cokroaminoto setiap Jumat, sekitar pukul 17.00 WIB. Begitu banyak kaum terpinggirkan [pemulung, pengemis, abang becak, tukang sapu, anak jalanan] menerima makanan dari pengurus kelenteng. "Hanya ini yang bisa kami lakukan. Sebab, kami sadar bahwa kelenteng kami bisa bertahan di sini karena dukungan warga," tutur Juliani Pudjiastuti.

Setelah Presiden Soeharto lengser, 21 Mei 1998, acara-acara bakti sosial memang sangat gencar dilakukan Ibu Juli dan kawan-kawan. Saya selalu diberi tahu karena kebetulan kenal baik. Asal tahu saja, dulu saya tergolong wartawan yang paling banyak menulis aktivitas warga keturunan Tionghoa di Kota Surabaya.

Sebelum era keterbukaan, ketika warga Tionghoa masih tertutup, saya sudah masuk keluar kelenteng. Bicara dengan pengurus. Meliput kegiatan sembahyang. Kue bulan. Wayang potehi. Ulang tahun makco. Dewa Dapur. Malam Imlek. Ciswak. Cerita-cerita kecil tentang kelenteng dan suka dukanya. Dan sebagainya.

Karena itu, saya berhubungan sangat dekat dengan Juliani Pudjiastuti. Saat dia terbaring sakit di rumah sakit, saya besuk dia. Kini, Juliani Pudjiastuti terpaksa ke mana-mana pakai kursi roda. "Puji Tuhan, yang penting saya masih dikasih berkat, dikasih hidup oleh Tuhan. Mas Hurek, mengurus kelenteng itu nggak gampang lho. Wow, ada saja masalah," tutur Juliani yang lahir di Surabaya, 4 April 1956, ini.

Dia lalu menceritakan beberapa kasus terakhir yang bersifat off the record. "Kalau nggak punya semangat pelayanan, anda akan bisa mengurus rumah ibadah semacam ini. Tapi saya lakoni ini sebagai wujud bakti saya kepada Tuhan dan leluhur saya," tutur Juliani Pudjiastuti.

"Silakan dihabiskan makannya. Kamu kan akhir-akhir ini jarang ke meliput ke sini. Katanya di kantor terus ya? Hehehe....," begitulah keramahtamahan khas Juliani Pudjiastuti.

Tiap saya mampir ke kelenteng di dalam Kota Surabaya ini, dan ketemu Juliani Pudjiastuti, hampir pasti saya dijamu makan. Pada malam tahun baru Imlek, wah, makannya makan besar. Aneka menu berikut buah-buahan disediakan pengurus kelenteng.

"Bagaimanapun juga Mas Hurek ini wartawan pertama yang saya kenal dekat di Surabaya. Saya nggak bisa lupa," ujar Juliani yang memang selalu kirim SMS manakala akan menggelar acara-acara penting.

Saya bertanya: "Bagaimana ceritanya Ibu Juliani menjadi pengurus kelenteng? Apakah Ibu ahli agama? Atau, diwarisi orang tua?"

"Wah, saya bukan ahli agama lho. Mas Hurek, saya ini tadinya Katolik lho. Saya kalau misa di Katedral, anak-anak saya sekolah di Santa Maria," tutur ibu tiga anak ini (Erwina Tedjaseputra, Erdina Tedjaseputra, dan Ervansyah Tedjaseputra) seraya tersenyum.

Di Surabaya, memang banyak orang Tionghoa yang berlatar belakang Konghuchu atau Tridharma beragama Katolik dan menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Katolik. Pada era Orde Baru [1966-1998] kelenteng-kelenteng praktis mati suri karena memang digencet rezim Soeharto. Banyak sekali aturan untuk menghambat segala sesuatu yang berbau Tionghoa. Memperbaiki kelenteng saja pakai izin. Sembahyangan pakai izin. Rezim Soeharto sejatinya ingin menghancurkan semua kelenteng, karena dianggap simbol Tionghoa, tapi gagal.

Nah, orang tua, kakek nenek Juliani Pudjiastuti, tentulah menganut kepercayaan leluhurnya. Tapi tradisi ini tidak diteruskan oleh anak cucu lantaran situasi politik yang tidak menguntungkan. Apalagi, rezim Orde Baru secara sistematis memaksa semua orang Indonesia untuk memilih salah satu dari lima 'agama resmi' [Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha]. Juliani Pudjiastuti memilih Katolik.

Pada 1990-an, Juliani menghadapi situasi dilematis. Setelah kematian orang tuanya, pengurus kelenteng, para rohaniawan melakukan doa khusus untuk menemukan orang yang pas untuk mengurus kelenteng. Singkat kisah, Juliani Pudjiastuti lah yang terpilih sebagai ketua pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee. Bukan yang lain.

Bukankah Juliani beragama Katolik?

"Itulah persoalannya," kata Juliani Pudjiastuti yang selalu murah senyum. Ia mengaku harus merenung, berdoa, bertanya kepada Tuhan, sebelum menerima amanah dari leluhur. Ini jelas kepercayaan luar biasa sebagai pelestari agama, budaya, tradisi... Tionghoa yang harus diemban.

"Saya sampai konsultasi sama Romo Thoby. Saya ceritakan semua permasalahan saya, khususnya situasi terbaru yang saya hadapi. Bagaimanapun juga saya ini orang Katolik yang aktif di gereja. Lha, kok saya ketiban sampur ngopeni kelenteng," kenang Juliani.

Romo Thoby yang dimaksud adalah Pastor Thoby M. Kraeng SVD, pastor kelahiran Lewuka, Kabupaten Lembata, Nusatenggara Timur, yang kini bertugas di Rumah Sakit Katolik [RKZ] Santo Vincentius a Paulo Surabaya. Romo Thoby ini teolog cum filsuf yang menulis buku tentang pentingnya cinta AGAPE.

"Cinta agape bukan saja merupakan model cinta yang terakhir dan tertinggi, tapi juga masuk dari dimensi yang lain ke dalam seluruh hidup dan kualitas cinta itu sendiri," tulis Romo Thoby. Jadi, bisa dimengerti bahwa wawasan pastor yang satu ini sangat terbuka dan iklusif.

Juliani plong setelah bicara panjang lebar dengan Romo Thoby. Sang pastor mempersilakan dia menangani Kelenteng Hong San Koo Tee yang sudah dipercayakan kepadanya. Harus serius, fokus, tekun, sungguh-sungguh... karena umat kelenteng cukup banyak.

"Romo Thoby bilang, apa pun yang kita lakukan dengan iman, insya Allah, mendapat ganjaran dari Tuhan. Sejak itulah saya sibuk mengurus kelenteng ini," kata janda mendiang The Eng An alias Anwar ini.

Dari Katolik taat menjadi orang nomor satu di Hong San Koo Tee jelas 'revolusi' kecil. Toh, bagi Juliani, pengalamannya menghayati agama yang berbeda membuat dirinya semakin matang dan dewasa.

Ia menemukan banyak benang merah yang sama di antara agama-agama. Ajaran boleh beda, ritual lain, tapi substansi agama pada asasnya sama.

"Semua makhluk Tuhan harus berbakti kepada-Nya. Bersyukur, memuji, dan memuliakan nama Tuhan," papar Juliani.

Perempuan berusia 50-an tahun ini [Bu Juli enggan menyebut usianya secara pasti. Malu ya? Hehehe....] bicara layaknya orang biasa, bukan rohaniawan yang suka mengutip ayat-ayat suci. Ia mengaku tidak layak disebut rohaniwan, karena sehari-hari ia hanya 'ngopeni' [merawat, mengurus, memelihara] Kelenteng Hong San Koo Tee. Tidak lebih!



Yang jelas, di tangan Juliani Pudjiastuti, Kelenteng Hong San Koo Tee [alias Kelenteng Cokro, kata warga sekitar] berkembang pesat. Saya lihat pembangunan fisiknya maju pesat. Kalau tahun 1998 bangunannya terkesan tua, kumuh, penuh asap... sekarang tampak sangat megah. Pelataran yang tadinya penuh rumput liar kini sudah dibangun menjadi satu kesatuan dengan ruang utama. Malam hari puluhan lampion memeriahkan suasana.

"Omong-omong apa bedanya kelenteng zaman sekarang dengan zaman Orde Baru?" tanya saya sebelum berpamitan. "Banyak," kata Juliani.

Kalau dulu, aparat keamanan [pakai pakaian dinas atau preman] ramai-ramai datang untuk mengintai dan melarang kegiatan-kegiatan di kelenteng. Hampir semua kegiatan diawasi secara ketat. Pengurus kelenteng setiap saat bisa diciduk karena dianggap menyebarkan 'virus' budaya Tionghoa di Indonesia.

"Sekarang aparat tetap datang, tapi tugasnya mengamankan kami-kami yang melaksanakan sembahyangan. Kami merasa sangat dilindungi, dan kehadiran kami semakin diakui di Indonesia," ujar Juliani lalu tertawa kecil.

Terkenang suara Ria Angelina



Pada tahun 1980-an musik pop kita pernah diwarnai pop manis, sweet pop. Belakangan Menteri Penerangan Harmoko [waktu itu] mengecapnya sebagai lagu-lagu cengeng. Penyanyi-penyanyi manis ini [wajahnya pun manis] murni penyanyi studio. Modal suara tak harus bagus karena bisa dipoles di studio.

JK Records [JK = Judhi Kristianto] sempat berjaya pada 1980-an dengan lagu-lagu pop manis. Secara musikal sangat sederhana, akor-akor terbatas, ambitus nada terbatas [sehingga gampang dinyanyikan], tidak menuntut skill menyanyi atau bermusik tingkat tinggi. Toh, kaset-kaset JK laku keras di pasaran.

Apalagi, artis-artis JK kerap tampil di TVRI [satu-satunya televisi], khususnya di acara Aneka Ria Safari [presenter: Sri Maryati, ke mana sekarang ya?], Selekta Pop [presenter: Mariana Ramelan], Kamera Ria, Album Minggu Ini. Nah, RIA ANGELINA pernah menjadi penyanyi andalan JK Records.

Saya sebut 'andalan' karena JK senantiasa melibatkan Ria Angelina di berbagai album. Waktu itu lazim dibuat lagu duet, di mana Ria kebagian suara perempuan. Taruhlah album Obbie Messakh, Deddy Dores, Rachmat Kartolo... Ria pun dilibatkan. Suara Ria yang mendesah, tipis, cenderung berbisik, macam orang tidak niat nyanyi pun terasa khas.

Sebaliknya, saat merilis album, gantian Obbie Messakh berperan membawakan suara laki-laki. Pola duet sederhana [sejatinya bukan duet] karena si laki-laki/perempuan hanya menyanyi di satu kuplet kecil. Toh, saya masih ingat, ketika usia saya masih bocah, lagu-lagu Ria Angelina sangat populer di Flores Timur. Ke mana-mana saya dengar kakak-kakak kelas saya bersenandung:

"Yang, selamat bermimpi
Ku ucapkan untukmu dari sini.
Yang sebelum terlena
Ukirlah namaku di relung hatimu...."


Manis banget, cenderung manja. Rayuan-rayuan remaja tahun 1980-an memang terasa lembut, tidak urakan macam sekarang. Kalau kita dalami lirik-lirik lagu sebelum 1990-an, terasa sekali kalau perempuan masa itu lembut, halus, pasrah, tidak neko-neko, meskipun kerap disakiti pasangannya.

Kenapa Ria Angelina populer di Flores Timur? Saya kira, Ria [dan sejumlah artis JK] bisa dibilang mewakili perasaan kaum perempuan pada masa itu. Dua toko kaset terkenal di Jalan Niaga Larantuka [pecinan] dulu juga sangat doyan memutar lagu-lagu JK. Belum lagi Radio Pemerintah Daerah [RPD] Flores Timur di Podor kerap memutar saat acara pilihan pendengar. Salah satu penyiarnya, Bung Aldo, guru bahasa Indonesia saya. Bung Aldo sangat terkenal di Larantuka, masa itu.

Kembali ke Ria Angelina. Belum lama ini saya menemukan kaset 'the best' Ria Angelina di emperan Jalan Pemuda Surabaya. Saya jajal dengan walkman, ah ternyata masih enak didengar. Saya seakan-akan dibawa ke alam Flores Timur, tatkala suara Ria Angelina banyak diperdengarkan di kampung.

Saya ingat, kakak kelas saya bernama Nikolaus [sapaannya Laus] bermain gitar dan mengiringi teman-temannya menyanyi. Skill bermain gitar Kak Laus ini luar biasa. Di tangannya, gitar menghasilkan nada-nada yang enak, tempo pas, sehingga siapa saja bisa menyanyi dengan baik.

Di Indonesia, gitar ada di mana-mana, tapi sebetulnya hanya segelintir orang yang bisa main gitar dengan baik dan benar. Saya terus terang sulit menemukan gitaris [akustik] dengan kemampuan prima macam Laus, termasuk di Jawa.

Ria Angelina, seperti penyanyi-penyanyi JK lainnya, membawakan lagu ciptaan Obbie Messakh, Pance Pondaag, Deddy Dores, dan Judhi Kristianto. Ria, yang saat itu mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanegara, Jakarta, kalau tak salah, juga menulis lagu sendiri seperti Bersemi dalam Sunyi. Pas dengan karakter suaranya yang lembut, berbisik, ambitus kecil, lagu-lagu Ria Angelina mengingatkan kita pada kekasih yang lembut dan pasrah.

Setelah kerja keras, banyak berpikir, menghadapi tekanan deadline, lagu-lagu Ria Angelina kontan menurunkan ketegangan saya. Stres langsung hilang. Apalagi, suaranya seakan membawa saya ke kampung halaman di Flores Timur.

Jangan kau tanyakan lagi
Kesetiaan diriku
Atau pengorbananku untukmu
Mungkin kaulah yang lebih memahami
Kesabaran hati ini

Jangan kau tanyakan lagi
Pengabdian diriku
Untukmu kupasrahkan hidupku
Siang dan malam terucap dibibir
Doa untukmu kasihku

Di sini di sudut kota
Kucari damai di sisimu
Semakin ku sendiri
Semakin kusadari
Sepinya hidupku
Masih hangat terasa pelukanmu
Sayang, engkau sayang



Ah, Ria Angelina, yang benar saja! Liriknya dan melodinya beda nian dengan lagu-lagu masa sekarang yang makin liar, kasar, jauh dari kelembutan. Zaman memang sudah jauh berubah!

Saya kadang-kadang ingin bertemu dan berwawancara khusus dengan artis-artis penyanyi 1980-an, 1990-an, macam Ria Angelina dan artis-artis JK. Masa keratisan mereka sangat pendek. Rata-rata tak sampai 10 tahun. Mereka hanya sekelebat saja muncul di belantika musik Indonesia.

Ada yang rilis satu dua album, kurang laku, lalu hilang. Menekuni studi, bekerja di luar urusan musik, menikah, jadi ibu rumah tangga, kemudian tua dan meninggal dunia. Mereka menjadi orang-orang biasa dengan berbagai persoalannya. Coba, siapa yang tahu di mana nama-nama penyanyi 1980-an/1990-an ini:

Annie Ibon, Marina Elsera, Prilly Priscilla, Gladys Suwandhi, Meta Armys, Mega Selvia, Fenny Bauty, Nindy Ellesse, Hana Pertiwi, Lidya Natalia, Ria Resti Fawzy, Endang S. Taurina, Christine Panjaitan, Iis Sugianto, Nella Regar, Eva Solina, Dian Piesesha, Angel Pfaff.....

Yah, masa keartisan penyanyi di Indonesia umumnya memang tidak pernah panjang. Kecuali biduan-biduan unggulan macam Titiek Puspa atau Broery Marantika yang eksis sepanjang hayat. Apa pun kata orang, kecaman orang, saya berterima kasih kepada Ria Angelina dkk yang pernah 'memaksa' saya dan teman-teman duduk berlama-lama di depan toko kaset di Larantuka tempo doeloe.

Kenangan lama itu tak pernah saya lupakan. Mbak Ria, apa kabarmu sekarang? Jadi dokter di mana nih? Salam kangen. Mbak!



BIRUNYA RINDUKU
By Obbie Messakh

Pernahkah kau rasakan
rindu datang tiba-tiba
Ketuk hatimu, ajak langkahmu
datang ke sini oh... oh...

Kalau tiada kupunya
Rasa malu dalam hati
Mungkin di sana kamu dan dia
Duduk berdua cerita indah
tentang asmara

ULANGAN

Mengapa harus kau tanggung rindu
Hanya karena malu
Aku pun mengerti, aku pun sadari
Tapi rasanya berat langkahku ke sana
Wow... wow.... wow....

Insan yang mana bila bercinta
Tak rasakan rindu
Oh, inikah cinta buatku gelisah
Tiada menentu

Biarlah ku di sini
Di pembaringan sepi
Angan melayang hilang perlahan
Tinggal harapan dalam impian
Jumpa kau pujaan




BILA ENGKAU SENDIRI
By Pance F. Pondaag

Bila kau masih hidup sendiri,
Jangan kau bersedih
Aku di sini masih menunggu

Cinta yang pernah engkau berikan
Masih ku rasakan
kuanggap engkau masih milikku.

REFREIN

Siang dan malam aku berdoa
Ku pinta engkau datang kembali
seperti yang dulu
Lihatlah, sayang, sinar mataku
Di sana ada terukir kesetiaanku
padamu.


ELEGI RINDUKU
By obbie Messakh

Yang, selamat bermimpi
Kuucapkan untukmu dari sini
Yang, sebelum terlena
Ukirlah namaku di relung hatimu
Yang, cepatlah kau datang
Pintu mimpiku terbuka untukmu

Bawalah daku dalam mimpimu
Seperti kau lihat disini,
Di mataku hanya ada kamu

(Obbie)
Bermimpilah, bermimpi kita
Bagai ratu dan raja sehari

(Ria)

Bermimpilah, bermimpi kita
Tentang pulau Bali yang indah
Tempat yang kita janjikan
Pergi berbulan madu
Bunga-bunga kintamani menari

28 September 2007

Selamat Jalan Franky Sinai

Sahabat saya, Franky Sinay, meninggal dalam usia muda akibat penyakit kanker. Saya terkejut karena wartawan asal Maluku ini tak pernah memperlihatkan penyakitnya kepada orang-orang dekatnya, termasuk saya.

Ah, ternyata penyakit yang bersarang di tubuh Franky sangat parah. Ia tak kuat menghadapinya. Mengutip kata-kata Chairil Anwar: "Hidup hanya menunda kekalahan." Kita semua, pada akhirnya, akan kalah setelah diberi peluang oleh Tuhan untuk hidup beberapa tahun di dunia yang ramai ini.

Saya menilai Franky Sinai sebagai wartawan yang langka. Memulai karier sejak 1980-an, jadi reporter surat kabar ASAS [diterbitkan oleh sejumlah tokoh Flores Timur di Surabaya], Franky kemudian fokus pada media-media kristiani. Ini menarik karena, kita tahu, media-media rohani [kristiani] rata-rata beroplah sedikit. Sulit dijadikan andalan untuk mencari nafkah.

"Saya memang ingin mengangkat liputan-liputan gerejawi agar dibaca khalayak luas. Bukankah di gereja banyak hal menarik, sementara wartawannya sedikit?" ujar Franky Sinai suatu ketika.

Tidak gampang menjadi jurnalis media rohani di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Kenapa? Agama Kristen Protestan itu ternyata punya ratusan gereja, dan terus berkembang [atau pecah] menjadi gereja-gereja baru. Tiap bulan, saya rasa, selalu muncul denominasi gereja baru.

Sebagai orang Flores yang hanya mengenal Gereja Katolik, saya sungguh terkejut dengan begitu banyaknya gereja di lingkungan Kristen Protestan. Ada rumpun Protestan. Kemudian Pentakosta [jenisnya paling banyak, sulit didata]. Baptis. Karismatik [pertumbuhannya paling pesat, paling kerap membelah diri jadi gereja baru]. Lutheran. Kalvinis. Advent Hari Ketujuh. Juga rumpun-rumpun baru, yang kontroversial, macam Mormon hingga Saksi Yehuwa.

"Kalau Bung Hurek membuat tulisan tentang gereja-gereja Protestan, Bung harus mendalami semua gereja ini. Tidak bisa main pukul rata karena masing-masing gereja punya kekhasan sendiri-sendiri," begitu pesan almarhum Franky Sinai ketika tahu bahwa dulu saya aktif menulis acara-acara gerejawi di Jawa Timur.

Selain memahami latar belakang gereja, Franky meminta wartawan [khususnya yang beragama Nasrani] mengetahui tata ibadah, liturgi, atau pola kebaktian masing-masing gereja. Gereja-gereja karismatik, misalnya, suka bikin acara di convention hall, plaza, restoran mewah, hotel berbintang, dengan mendatangkan selebriti atau pendeta terkenal. Mereka juga pakai musik [band] yang menggelegar.

"Bung jangan kaget karena kebiasaan di Karismatik memang begitu. Bung harus ingat bahwa tradisi di Gereja Katolik dengan Protestan, dengan Karismatik, dengan Pentakosta, dengan Advent... sangat berbeda," pesan Franky.

Yah, berkat 'arahan' Franky Sinai, saya akhirnya pelan-pelan bisa memahamai keragaman gaya di lingkungan Kristen Protestan. Saya bisa memosisikan diri secara objektif saat membuat laporan kegiatan-kegiatan gereja di Surabaya. Saya pun diberi akses untuk mewawancarai hampir semua tokoh penting berbagai gereja di Surabaya.

"Kalau Bung bertemu Pendeta Stephen Tong, gayanya begini. Uraiannya begini. Pendeta Benny Santoso begini. Pendeta Gilbert Lumoindong begini. Yusuf Ronny begini. Lain lagi dengan orang Advent, mereka lebih eksklusif," urai sahabat Franky Sinai.

Berkat pengalaman dan wawasan yang dalam di bidang 'kegerejaan', Franky Sinai diajak Bapak HB Prawiromaruto [almarhum], pengembang yang juga pendiri Badan Musyawarah Antargereja [Bamag], untuk mengelola Majalah TIANG API. Launching-nya di Hotel Hyatt Surabaya. Saya diundang secara khusus untuk mengenali tokoh-tokoh Bamag, diskusi, serta bikin tulisan. Pemimpin redaksi TIANG API, waktu itu, Hanny Christian Potabuga, bekas wartawan Manado Pos [Grup Jawa Pos].

Saya melihat Franky begitu bahagia dengan TIANG API. Ini karena dia dan teman-teman wartawan rohani diberi wadah khusus untuk menyajikan informasi seputar gereja. Sebagai media interdenominasi, TIANG API bisa meliput berita apa saja di lingkungan gereja-gereja di Indonesia. Bahkan, mewawancarai pejabat-pejabat berkaitan dengan isu seputar gereja. TIAP API sempat menjadi majalah kristiani beroplah besar pada awal tahun 2000.

Namun, sepeninggal HB Praiwiromaruto, pelan tapi pasti, TIANG API merosot. Oplah turun drastis, donatur pada kabur, sehingga majalah ini terbit tidak teratur. "Kondisi TIANG API sudah sekarat, Bung. Yah, banyak problem internal sehingga kami sulit berkembang. Bung tolong angkat isu ini agar ada respons dari tokoh-tokoh Kristen di Surabaya," kata Franky kepada saya saat bekerja sebagai fotografer konser Surabaya Symphony Orchestra [SSO] beberapa waktu lalu.

Solomon Tong, dirigen SSO, pernah membantu TIANG API. Namun, apalah arti seorang Tong yang juga harus mati-matian menghidupi orkes simfoninya. Maka, TIANG API pernah terbit dengan empat halaman saja. Informasi seadanya.

"Saya harus cari kerja di tempat lain, meskipun saya tidak bisa lepas dari jurnalisme gerejawi," tegas Franky yang menikah dengan seorang perempuan pendeta. [Karena selalu tampil bersama para pendeta, tokoh-tokoh kristiani, hadir di hampir semua event besar di Jawa Timur, Franky sering dikira pendeta. Padahal, dia orang awam macam saya. Eh, dia akhirnya kenalan dan menikahi pendeta. Puji Tuhan!]

Ketika TIANG API kolaps, Franky bekerja di sebuah yayasan pendidikan kristiani. Yayasan ini membantu sekolah-sekolah kristen dalam soal manajemen serta pengembangan sumber daya manusia. Franky yang tadinya tinggal di Candi, Sidoarjo, kemudian memilih pindah ke Surabaya agar dekat dengan kantor yayasan.

"Mulai mapan sebagai orang kantoran?" pancing saya.

"Hehehe... Bung bisa saja. Tapi saya ini tetap wartawan. Saya menganggap profesi wartawan sebagai sarana bagi saya untuk melakukan pewartaan," ujar Franky.

Lama tak bertemu, belakangan saya membaca banyak liputan Franky Sinai di GLORIA. Ini tabloid mingguan kristiani yang diterbitkan Grup Jawa Pos, beralamat di Jalan Karah Agung 45 Surabaya. Saya tidak terkejut karena saya tahu itu memang bidangnya Franky Sinai. Dia tahu terlalu banyak tentang seluk-beluk gereja dan tokohnya di Surabaya. Dia bisa menulis puluhan artikel rohani [gerejawi] secara mendalam dan jernih.

Saya hanya membaca tulisan-tulisan Franky di GLORIA tanpa sempat menelepon, apalagi diskusi tentang liputan atau medianya yang baru. Eh, tiba-tiba saya mendapat pesan pendek [SMS] dari istri Franky, bahwa suaminya sudah 'kembali ke Rumah Bapa'.

Franky meninggal dunia? Di usia yang belum sampai 40? "Benar, Bang," kata istri Franky. "Saya baru sempat SMS karena syok cukup lama."

Saya pun tak bisa bicara apa-apa lagi. Hanya bisa diam, mengenang sahabat saya, Franky Sinai, yang telah memberikan begitu banyak masukan kepada saya tentang berbagai hal di lingkungan Kristen Protestan. Saya kenang betul Franky, yang membuka sangat banyak akses kepada saya untuk mengenal begitu banyak tokoh Kristen Protestan di Surabaya dan Jawa Timur.

Franky Sinai, selamat jalan, selamat berbahagia di kediaman abadi, di Rumah Bapa!


Oh, ya, almarhum Franky Sinai pernah dipercaya sebagai ketua Rukun Tetangga (RT) di Sidoarjo. Harian Radar Surabaya edisi Desember 2004 pernah menampilkan sedikit sepak terjang Franky sebagai Pak RT. Berikut petikannya:


JADI ketua rukun tetangga (RT) itu benar-benar pelayanan. Tak ada gaji, harus mengurus berbagai persoalan warga, tapi membahagiakan.

Begitu pengalaman Franky Sinai, nyong Ambon yang baru saja ‘lengser’ sebagai ketua RT 08/RW 03 di Perumahan Palem Putri, Desa Balonggabus, Kecamatan Candi.

‘’Saya lengser karena terlalu sibuk di pekerjaan. Kalau saya menjabat terus nanti malah keteteran,’’ ujar Franky Sinai kepada RADAR Surabaya, kemarin.

Sebagai pendatang baru, pria yang juga pengelola beberapa media rohani ini mengaku terkejut ketika warga memintanya sebagai ketua RT. Apalagi, pada 2003 itu Franky masih bujang. Karena didesak terus, akhirnya Franky pun menerima jabatan sebagai ketua RT.

"Jelek-jelek begini saya dipanggil Pak RT," tutur pria yang baru menikah tahun lalu itu.

Sebagai Pak RT, kewajiban pertama Franky adalah mendata sekaligus ‘menghafal’ 100 keluarga yang ada di RT 08. Keliling, silaturahmi dari rumah ke rumah, sehingga ia tahu persis komposisi penduduk di wilayahnya.

"Jadi ketua RT itu memang berat. Kayaknya lebih enak jadi anggota dewan. Hehehe...," tukasnya.*

22 September 2007

Frater Vianney BHK dan Frater Clemens BHK


Museum Zoologi Frater Vianney di Malang, Jawa Timur.


Oleh Frater M. Clemens, BHK


Apa arti sebuah nama?
What's a name?
Nomen est omen?
Wat is een naam?


Frater Maria Vianney adalah seorang berkebangsaan Belanda. Beliau seorang biarawan (rohaniwan) Katolik dari Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK). JKP van Hoessel, nama pemberian orang tuanya, dilahirkan di Apeldoorn pada 2 Agustus 1908.

Sedari muda dalam gemblengan keluarganya, ia mulai merasakan adanya getaran kalbu, terpanggil untuk hidup membiara. Maka, pada 29 Agustus 1927 ia menggabungkan diri dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dan memilih nama Frater Maria Vianney–lazim disapa Fr M Vianney BHK.
Sebelum Perang Dunia II, ia diutus berlayar ke tanah misi. Menuju ke sebuah negeri indah di ufuk timur belahan bumi, negeri khatulistiwa, Nusantara, Indonesia. Dan misionaris muda karismatis ini ditugasi untuk berkarya di Malang, kota dingin di Jawa Timur, selanjutnya Ende (Flores tengah), kemudian Larantuka (Flores Timur).

Di ketiga kota ini beliau bertugas sebagai guru. "Relasi yang terindah di bumi ini ialah relasi antara guru dan murid," kata Sokrates.

Tahun 1959, saya berstatus siswa Sekolah Guru Atas (SGA) atau Pendidikan Sekolah Guru A. Di taman pendidikan guru ternama inilah, untuk pertama kalinya, saya berjumpa dengan Fr M Vianney. Waktu itu beliau sebagai pejabat kepala sekolah dan juga guru. Beliau mengajarkan bidang studi ilmu hayat (biologi).

Sebelum mengajar, ia telah menyiapkan diri secara cermat dan selektif. Dipilihnya sejumlah pertanyaan tentang ilmu tubuh manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan ilmu kesehatan. Pertanyaan-pertanyaan itu dicatat di papan dan siswa menulis dalam buku catatannya. Setiap kali masuk kelas, mengajar, Vianney membawa buku-buku pelajaran, termasuk sebatang tongkat kayu. Pada momen-momen tertentu kayu itu ikut 'berbicara' (mengajar).

Jika tongkat itu dibunyikan berarti semua aktivitas dihentikan.
Pandangannya diarahkan kepada setiap siswa secara merata (menyapu). Siswa yang tidak peduli–masih beraktivitas–didekatinya dengan tenang dalam kondisi sabar menanti. Selanjutnya, dalam gaya menarik, penuh wibawa, dijelaskannya satu per satu semua pertanyaan itu. Penjelasan yang singkat dan sarat isi serta mudah dipahami oleh siswa. Apa yang dibuat Vianney jika kelihatan ada siswa yang mulai lesu? Untuk membangkitkan semangat siswa, ia beberapa kali melemparkan tongkat ke atas dan berusaha menangkapnya dalam gaya seorang mayoret.

Atau cara lain: Vianney mulai menggerak-gerakkan gerahamnya sehingga kedua telinganya pun ikut bergerak. Tentu, ini suatu ketrampilan ekstra yang langka, yang tidak dimiliki orang lain. Setiap akhir suatu pelajaran, Vianney menyumbangkan nasihat kecil kepada anak didiknya.
Apa muatan nasihat itu? Motivasi belajar untuk calon guru agar aktif menyiapkan diri sebelum berguru di masyarakat. Carilah buku-buku sumber! Belajarlah secara autodidak! Berinisiatif! Celakalah, menurut Vianney, jika para calon guru ini hanya berkelakar tentang hal-hal yang sepele.


GURU DAN MURID


Mencermati gaya hidup Frater Maria Vianney BHK [penampilan, cara mengajar, kedekatannya dengan sesama, cinta pada ilmu pengetahuan] sangat memesona dan memikat hati. Seluruh gaya hidup beliau berimbas pada saya selaku anak didiknya.

Saya kagum dan merasa tertarik. Dari keterpesonaan inilah, akhirnya seluruh jalan hidup saya mengalir dan bermuara ke sumber dan muara yang dilewati oleh Vianney. Saya akhirnya dengan ikhlas menggabungkan diri dengan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK).

Pada 1961 saya resmi menjadi anggota kongregasi dalam acara penerimaan dan pengenaan busana (jubah) kebiaraan. Mulai saat itu namaku yang semula JOHANES DJUANG KEBAN berubah menjadi Frater MARIA CLEMENS BHK.
Juni 1963 saya menyelesaikan pendidikan Sekolah Guru A (SGA) dan dipindahkan ke Kupang, Nusatenggara Timur, untuk mengajar di sekolah dasar Katolik yang dikelola oleh Yayasan Swastisari. Sebelum itu, Vianney telah dipindahkan ke Ndao, Ende, Flores, sebagai kepala SGA Ndao. Rencana mutasi saya ke Kupang ternyata terhambat sulitnya mendapatkan kapal dari Larantuka ke Kupang.

Akhirnya, saya disarankan untuk menunggu di Ende, yang selalu disinggahi dua kapal Pelni (KM Rainy dan KM Nanas) secara reguler. Betapa hati saya berbunga karena akan berjumpa dengan Vianney. Selama saya di Ende, beliau meminjami saya buku tentang ular OPHIDIA JAVANICA. Buku ini karangan beliau sendiri. Saya diminta mempelajari dan meringkasnya untuk dibawa ke Kupang, Pulau Timor. Akhirnya, pada pertengahan September 1963 dengan KM Nanas saya tiba di Kupang, kota karang. Di sini niat mengoleksi bakat 'turunan' itu mulai kuwujudkan.
Kegiatan saya setiap hari Sabtu, sepulang sekolah, ialah bersepeda keluar kota Kupang bersama sejumlah anak SD. Kami memasuki semak belukar sepanjang pesisir pantai atau naik turun bukit kapur. Kegiatan ini memang ekstra repot. Harus membungkukkan tubuh, melirik ke lubang-lubang batu, barangkali di sana buruan-buruan kami sedang istirahat (ular, gecko, atau biawak).

Desember 1963, musim penghujan, tampak alam menghijau permai. Kami menangkap biawak (varanus) yang asyik berkeliaran memangsa laron. Kali ini kami menangkap tiga ekor biawak. Biawak ini kemudian diteliti. Saya menyimpulkan bahwa ini bukan biawak biasa [umumnya disebut Varanus salvator, yang dagingnya biasa disantap]. Panjangnya mencapai dua meter. [Yang biasa ditangkap di Pulau Timor mencapai 80 cm.] Warna dasar cokelat tua diselingi bintik-bintik kuning. Biawak jenis ini biasa berkeliaran pada musim hujan.

Saya mengalami hambatan dalam proses pengawetan. Bagaimana harus menyuntik, memasukkan formalin 40 persen. Ada usulan bahwa saya berkonsultasi ke kantor Dinas Kehewanan. Akhirnya, saya berhasil menjumpai Bapak Djari. Selain dekan Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana, Bapak Djari juga menjabat kepala Dinas Kehewanan. Menurut beliau, formalin dapat dibeli di rumah sakit. Dan beliau berjanji membantu penyuntikan varanus.

Akhirnya, saya mulai mengandalkan imajinasi saya. PYTON TIMORENSIS nama yang kuberikan kepada sejenis ular pyton yang saya tangkap di Pulau Timor. Untuk biawak kuberi nama VARANUS TIMORENSIS meskipun saya sendiri menyangsikannya. Seekor yang telah diawetkan saya kirim kepada Frater Vianney di Ende, Flores. Apa jawaban beliau? Ternyata, menurut Vianney, varanus itu juga terdapat di Australia utara. Sedangkan nama yang kuberikan sangat tepat, katanya.


SEKILAS TENTANG FRATER CLEMENS BHK

Frater Maria Clemens BHK lahir di Solor, Flores Timur, NTT, 25 Agustus 1937. Postulan BHK pada 25 Juni 1961, kaul kekal 7 Juni 1968. Ia pernah menjabat berbagai tugas kongregasi antara lain guru, overste, magister, vikarius, provinsial, bahkan wakil superior yang mengantarnya ke Belanda dan Kenya.

Pria yang fasih beberapa bahasa asing ini juga kutu buku, cinta sains, khususnya zoologi. Kini, Frater Clemens menjabat direktur MUSEUM ZOOLOGI FRATER VIANNEY, merujuk pada nama guru yang paling ia kagumi. Ia memberikan diri kepada dunia zoologi, dengan mengelola museum di Karangwidoro 7 Malang, sebagai ungkapan hormatnya kepada almarhum Frater Vianney.


Tulisan terkait:
http://hurek.blogspot.com/2006/09/museum-zoologi-vianney-malang.html

21 September 2007

Tantowi Yahya dan country manado



BALADA PELAUT

By Ferry Pangalila

Sapa bilang pelaut mata keranjang
Kapal bastom lapas tali lapas cinta
Sapa bilang pelaut pamba tunangan
Jangan percaya mulut rica-rica

So balayar sampe so ka ujung dunia
Banya doi... baroyal abis parcuma
Dorang bilang pelaut obral cinta
Dompet so kosong baru inga rumah

ULANGAN

Mana jo ngana pe sumpah
Mana jo ngana pe cinta
So samua kita pe punya
Ngana so minta....

Kita bale ngana so laeng
Kita bale ngana so kaweng
Cikar kanan...
Vaya condios cari laeng



Orang Manado cukup banyak di Jawa Timur. Mereka menggeluti berbagai profesi dan menjadi orang sukses. Siapa saja mereka? Silakan cari sendiri. Salah satunya Bapak Eddy Pirih, pengusaha besar, pentolan olahraga tinju, punya kebun binatang pribadi, giat di Gerakan Nasional Antinarkoba.

Karena orang Manado banyak, maka lagu-lagu Manado pun sering terdengar di kafe, televisi, pergelaran musik, hingga hajatan kelas bawah sampai atas di Jawa Timur. Teman akrab saya, Albert Pieter Lasut, bekas ketua PMKRI [Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia] Cabang Surabaya, pun asli Manado. Logatnya Manado, pandai memasak makanan khas Manado, yang pedasnya minta ampun. Juga suka lagu-lagu Manado. Salah satunya, BALADA PELAUT.

Di kalangan TNI Angkatan Laut, nyanyian khas pelaut ini pun sangat populer. Pak Putut, marinir asli Jawa yang suaranya macam Broery Marantika, suka menyanyikan BALADA PELAUT. Alasannya, lirik lagu karya Ferry Pangalila tersebut cocok sekali dengan kehidupan pelaut.

Di mana-mana dicurigai mata keranjang lah, obral cinta lah, suka pacaran lah, boros lah, dan seterusnya. Lagu pop terkenal, JAMAICAN FAREWEL, yang sangat saya sukai, pun sedikit banyak menceritakan 'kegemaran' para pelaut memadu kasih di mana kapal mendarat.

Pak Putut membawakan BALADA PELAUT dengan sangat enak. "Nggak kalah dengan penyanyi beneran. Malah suaranya Pak Putut lebih dahsyat," ujar Pak Hartono, bos sebuah kafe di Sidoarjo, kepada saya. Dulu, Pak Putut ini saban malam sumbang suara di kafe. Penonton terhibur, Pak Hartono tak usah bayar. Wong Pak Putut itu uangnya sudah banyak.

Coba anda main-main ke pelabuhan, mampir ke atas kapal. Kalau ada live music, saya pastikan lagu-lagu Manado, Ambon, atau Indonesia Timur umumnya terdengar. Iramanya membuai ala musik Hawai. Cocok untuk dansa karena rata-rata cenderung bercorak country. Kata-katanya juga sederhana: menceritakan pengalaman orang-orang kampung di Manado, Flores, Maluku, Papua.

"No napa sekarang hidup sandiri di negri orang? So setenga mati cari makan sendiri," begitu petikan lirik lagu PULANG JO [karya Ricky Pangkerego]. Kesannya cengeng, tapi begitulah musik pop ala Indonesia Timur.

Belum lama ini saya mendapat bingkisan kasetnya TANTOWI YAHYA bertajuk COUNTRY MANADO. Isinya 10 lau pop Manado yang musiknya digarap oleh Ricky Pangkerego. Lagu BALADA PELAUT jelas masuk, bahkan ada versi minus-one [musik saja] di sisi B.

Tantowi memang cukup getol memperkenalkan musik country di Indonesia. Suaranya sih tidak bagus, namun orang Palembang ini sangat konsisten di jalurnya: jalur country. Tantowi punya program musik country di TVRI dan Metro TV. Dia juga berusaha menghidupkan lagu-lagu pop lama macam PATAH HATI [Rachmat Katolo] atau ARYATI [Ismail Marzuki] dalam irama country.

Sambutan masyarakat cukup bagus. Ini terlihat dari beberapa konsernya di Surabaya dan Sidoarjo yang dipadati penonton. Ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, serta anak-akan sangat menikmati alunan suara Tantowi. Tentu saja, jangan dibandingkan dengan band-band pop papan atas macam Peterpan, Ada, Dewa 19, Padi, dan seterusnya. Sebab, musik country sejatinya belum punya basis pendukung yang kuat di negara kita.

Kenapa Tantowi Yahya merilis album COUNTRY MANADO?

Presenter papan atas itu mengaku sejak lama bercita-cita membuat album country daerah. Sebab, lagu-lagu daerah di Indonesia memang bagus-bagus dan bisa di-country-kan. Country itu, menurut Tantowi, hanya sekadar format musik saja. Dia kompatibel dengan lagu apa saja.

"Saya terkesan ketika membawakan lagu-lagu daerah Sulawesi Utara. Karakternya sangat dekat dengan country yang menedepankan kesederhanaan dan kejujuran," papar Tantowi Yahya.

Nah, berkat bantuan musisi asal Sulawesi Utara seperti Ricky Pangkerego, Hanny Pangkerego, jadilah album countri dengan nuansa Manado yang sangat kental. Kita, khususnya orang Indonesia Timur, bisa menjadikan album ini sebagai musik pengantar tidur sambil bernostalgia dengan kampung halaman.

"Biar busu-busu, itu kampung sendiri...," salah satu lirik di album ini. Maksudnya: Biar jelek-jelek, itu kampung sendiri. Jangan karena sudah tinggal lama di Jawa, kawin dengan orang Jawa, menikmati berbagai fasilitas hidup di Jawa, lantas lupa sama kampung halaman di pelosok Indonesia Timur. Begitu kira-kira pesan utama album COUNTRY MANADO.


KONSER TANTOWI DI SIDOARJO

Beberapa waktu lalu, sebelum merilis album Manado, saya sempat menyaksikan konser Tantowi Yahya di halaman Makro, Pepelegi, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Saat itu Tantowi juga menjadi juru lelang pusat grosir terkenal itu.

“Saya baru kali ini diberi kesempatan tampil di Sidoarjo," ujar Tantowi Yahya di hadapan sekitar 800 penonton.

Pria murah senyum yang memulai debut sebagai presenter GITA REMAJA di TVRI pada 1990-an ini membawa serta The Old Friends. Ini kelompok band country yang biasa mengiringi Tantowi di Country Road TVRI dan Metro TV.

Kalau tidak salah ingat, ada sembilan personel yang sudah tak asing lagi di kalangan penggemar musik country Indonesia. Mereka YUNUS HIDAYAT (gitar akustik), IMAN SATRIA (piano), SAM QOMAR (violin), DOLF WEMAI (bas), MELLI WEMAI (drum), RICHARD MAKASUCI (gitar utama), VERA VERIAL (vokal), PINKY WAROUW (vokal). Mas TANTOWI YAHYA sebagai vokalis utama.

Tanpa banyak basa-basi, Tantowi Yahya bersama teman-teman lamanya membawakan beberapa lagu berirama country. Di antaranya, I’m Gonna Miss You (Kenny Rogers/Dolly Parton), Aryati (Ismail Marzuki), Kisah Kasih di Sekolah (Obbie Messakh). Di dua lagu pop Indonesia, yang di-country-kan ini, Tantowi memberi kesempatan kepada penonton untuk menyanyi bersama-sama.

“Wuenaaak tenan Sidoarjo,” ujar Tantowi di atas panggung.

Kepada saya, beberapa personel The Old Friends mengaku gembira bisa memainkan musik country di Sidoarjo. “Respons penonton di sini sangat bagus. Mereka bisa menikmati irama country, bernyanyi bersama, goyang-goyang kepala, enjoy deh,” ujar Dolf Wemai, pemain bas, yang pada 1990-an pernah merilis album pop.

“Ini berarti musik country sudah menyebar dan bisa dinikmati masyarakat dari berbagai golongan,” Dolf menambahkan.

Dansa di rumah Lorens Serworwora

Berita tentang pencopotan tujuh jaksa di Papua dimuat cukup besar di halaman muka koran-koran Surabaya. Mereka dianggap mbalela karena tidak mengindahkan arahan dari Kejaksaan Agung. Tujuh jaksa ini menuntut ringan terdakwa pencuri ikan.

M.S. Rahardjo, ketua jaksa agung muda bidang pengawasan, mengatakan bahwa para jaksa di Papua itu telah melakukan perbuatan tercela. Arahan Kejaksaan Agung agar terdakwa dituntut hukuman beat tidak diikuti. "Instruksi Kejaksaan Agung diabaikan," kata Rahardjo.

Saya terkejut membaca saat membaca koran karena salah satu dari tujuh jaksa itu, Lorens Serworwora, sedikit banyak saya kenal. Lorens kepala Kejaksaan Tinggi Papua, jabatan karier yang terbilang sangat tinggi di Indonesia. Lorens orang nomor satu di lingkungan Kejaksaan Tinggi Provinsi Papua. Sangat sedikit jaksa beroleh peluang meniti karier setinggi Lorens Serworwora.

Pak Lorens mendapat sanksi paling berat, dan paling bikin malu, karena dialah yang menginstruksikan agar terdakwa pencuri ikan cukup dituntut denda hanya Rp 500 juta. Adapun Jakarta [Kejaksaan Agung] meminta agar terdakwa dituntut penjara empat tahun dan perintah ditahan, denda Rp 1 miliar.

Lorens Serworwora membangkang?

Saya terkejut. Kok Pak Lorens sekarang kok beda dengan yang saya kenal saat masih kuliah di Jember pada tahun 1990-an? Kenapa nekat mbalela? Bukankah institusi kejaksaan punya hierarki yang menuntut loyalitas? Pak Lorens sudah berubah? Begitulah. Banyak sekali pertanyaan tentang keberanian Pak Lorens 'mengabaikan' instruksi Jakarta.

Siapa Lorens Serworwora itu?

Dia lahir di pelosok Maluku, terbiasa hidup susah di kampung halaman. Berkat keuletan, ketekunan, kecerdasan, Lorens bisa meraih gelar sarjana hukum. Istrinya orang Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Dus, Bu Lorens sama-sama satu kabupaten dengan saya. Karena itu, pada 1990-an beliau dianggap sebagai tokoh Flores, NTT, di Jember dan sekitarnya [Bondowoso, Situbondo, Lumajang].

Pak Lorens benar-benar meniti karier sebagai penegak hukum dari bawah. Terbiasa hidup sederhana, bahkan sangat sederhana. Terjerat kemiskinan struktural macam orang NTT, Maluku, Papua pada umumnya. Pada 1990-an Lorens Serworwora bertugas sebagai jaksa penuntut umum di Bondowoso, sekitar 40 kilometer dari Jember.

Saat itu Om Lorens [kami, para mahasiswa Unej asal Flores, biasa menyapa Om Lorens] mengontrak rumah kecil di Perumahan BTN Mastrip, kalau tidak salah Blok I. Keluarga Om Lorens sangat religius. Tak heran, kami sering berkumpul untuk sembahyang keliling [doa rosario, lingkungan, dan sebagainya] di antara sesama jemaat.

Kalau ada sembahyangan di rumah Om Lorens, anak-anak muda asal Flores biasanya datang ramai-ramai. Selain menjadi ajang diskusi dan konsolidasi, mahasiswa bisa menikmati makanan enak dan gratis. Sesuatu yang amat mewah untuk ukuran mahasiswa Flores yang rata-rata berlatar belakang keluarga miskin di kampung.

Kalau bulan rosario [Mei, Oktober], doa bersama plus makan gratis ini diadakan hampir setiap hari. Kami tentu saja tidak pernah absen karena itu tadi, bisa makan enak dan gratis! Saya kadang-kadang 'curiga' dengan kerajinan anak-anak muda Flores dalam berbagai kegiatan gereja di Jember saat itu. Nomor satu agar bisa dapat jatah makan gratis.

Hehehehe..... Bukankah berdoa bisa dilakukan di mana saja? Sebab, setelah tidak lagi jadi mahasiswa, punya penghasilan lumayan, umumnya semangat untuk doa bersama ini kendor. Sangat beda dengan saat masih menjadi tangungan orang tua.

Nah, saya masih ingat betul beberapa kali acara keluarga Flores, khususnya anak-anak muda, di rumah Lorens Serworwora. Suatu ketika, mungkin malam tahun baru, teman-teman asal Kabupaten Ngada, Flores Barat, berinisiatif menggelar makan besar.

"Sekali-sekali kita makan daging lah. Masak, tiap hari kita makan tempe atau mi instan thok," kata Vinsen, adik kelas saya di Universitas Jember.

Acaranya, ya, di rumah Om Lorens Serworwora. Teman-teman cewek menyiapkan makanan sejak siang, kemudian ada yang urus dekorasi, tempat duduk, tim doa, sound system, siapkan kaset/CD, undang beberapa tokoh Flores. Lalu, pesta bersama di rumah Om Lorens. Suasana sangat guyub.

Om Lorens, seperti biasa, tidak banyak bicara, namun selalu ramah pada kami, anak-anak muda.

Tahu sendirilah pesta ala orang Flores. Tidak pernah langsung pulang setelah berdoa dan menikmati makan enak, tapi menghabiskan malam panjang di lokasi. Musik diputar dan... mulailah dansa-dansi di antara muda-mudi. Saya sendiri tidak bisa berdansa sehingga selalu memilih tempat paling belakang. Takut dipaksa MC ke lantai dansa. Atau, pura-pura cari alasan agar tidak diajak berdansa.

Sikap saya ini dianggap 'aneh' oleh teman-teman Flores. Sebab, dansa merupakan peluang emas untuk bisa berakrab ria dengan gadis-gadis manis. Kita bebas memilih nona manis yang kita inginkan untuk dansa bersama selama satu lagu. Menurut adat Flores, gadis secantik apa pun pantang menolak ajakan cowok seburuk apa pun. Tak sopan kalau dia menolak si A atau B, tapi mau berdansa bersama si X dan si Y. Bisa jadi gunjingan besar!

Saya menilai orang Ngada paling maniak dansa di Pulau Flores, bahkan Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya. Laki-laki, perempuan, tua, muda, sama saja. Pokoknya, kalau ada musik dansa [biasanya waltz, irama 3/4], orang Ngada itu pasti gatal berdansa. Orang Ngada hanya bisa dikalahkan orang Kupang dalam urusan dansa. Orang Timor Timur pun gila dansa juga, bahkan cara peluk perempuannya lebih erat.

Tiap kabupaten di Flores memang punya cara peluk nona yang khas. Ada yang erat, ada yang hanya pakai telunjuk. Cara mengayun-ayunkan mitra dansa pun berbeda-beda. Saya memang tidak bisa berdansa, tapi sejak anak-anak suka mengamati orang berdansa di desa hingga kota kabupaten dan provinsi. NTT memang identik dengan dansa-dansi, tapi dansanya itu termasuk social dance. Tidak profesional ala juara dansa di Surabaya atau Jakarta.

Demikianlah. Malam itu anak-anak muda Flores berdansa ria di halaman rumah Om Lorens Serworwora. Capek berdansa, minum kopi, istirahat sejenak, lalu dansa lagi. Warga perumahan tidak mempersoalkannya karena sudah sering memantau kegiatan anak-anak muda Flores di Jember.
Dansanya orang NTT itu masih sehat, sekadar tari pergaulan. Tidak sampai menjurus ke hal-hal yang tidak senonoh. Apalagi, tuan rumah, Om Lorens dan beberapa tokoh Flores, ikut mengawasi pesta kecil tersebut. Dan, berbeda dengan di Flores, acara dansa-dansi ini tidak berlangsung sampai pagi hari. Di Jawa, kami batasi sampai jam yang masih bisa diterima masyarakat lokal.

Saya ingat betul acara-acara keluarga Flores, NTT, di rumah kontrakan Om Lorens Serworwora di Jember pada tahun 1990-an. Rumah kecil BTN sangat sederhana, tak ubahnya rumah pegawai negeri di Jember. Dia pun tak punya mobil sehingga ke mana-mana pakai motor dinas. Bahkan, naik kendaraan umum layaknya anak kos di Jember.

Namun, pelan tapi pasti, kegigihan Lorens Serworwora SH membuahkan hasil. Kariernya sebagai jaksa terus menanjak. Cukup lama saya tak mengikuti kabarnya, tiba-tiba saya membaca berita di koran bahwa Lorens Serworwora sudah menjadi kepala Kejaksaan Tinggi NTT di Kupang.

"Pulang kampung nih. Teman-teman asal Flores yang dulu kerap bikin pesta kecil di rumah Om Lorens bisa lebih leluasa kalau mampir ke Kupang. Bisa ditraktir makan enak. Hehehehe...," batin saya.
Saya memang kagum dengan prestasi Lorens Serworwora yang luar biasa itu.

Sukses di Kupang, Lorens Serworwora dipindahkan ke Papua. Provinsi ini lebih menantang karena kasusnya lebih besar. Lorens diperlukan untuk menuntut seberat mungkin penjahat-penjahat kelas teri hingga kakap yang merugikan masyarakat. Illegal fishing tentu menjadi garapan utama.

Diam-diam, saya berpikir: "Teman-teman asal NTT di tanah Papua tentu bisa sembahyangan, makan enak, dansa-dansi di rumah Om Lorens Serworwora. Rumah kajati kan pasti besar, megah, mewah, punya fasilitas macam-macam." Tapi saya sama sekali tidak pernah mendengar cerita-cerita ringan seputar keluarga Lorens Serworwora selama bertugas di Papua.

Kini, awal September 2007, saya membaca berita di surat kabar. Kajati Papua Lorens Serworwora dicopot!

"Sejak dicopot, Lorens Serworwora sulit ditemui. Dia menolak ketika TEMPO hendak menemuinya di kantor Kejaksaan Tinggi Papua," tulis majalah TEMPO edisi 23 September 2007.

Mudah-mudahan Om Lorens bersama keluarga bisa mengambil hikmah kebijaksaan dalam musibah ini.

19 September 2007

Kurma ajaib di Mojokerto


Oleh: Radar Mojokerto

Pohon kurma yang tumbuh di halaman Masjid Al-Mubarok, lingkungan Prajurit Kulon, Kota Mojokokerto, Jawa Timur, terus tumbuh besar. Kurma yang ditanam pada tahun 1990 ini memiliki tinggi lebih dari lima meter.

Salah satu pengurus Masjid Al-Mubarok, Kuswari, mengatakan, pada Ramadan biasanya pohon kurma tersebut sudah memasuki masa berbuah. Namun, hingga memasuki pertengahan Ramadan ini belum menujukkan tanda akan berbuah. Tak pelak, para tamu yang berdatangan dari luar kota macam Cirebon, Semarang, Gresik dan Surabaya harus kembali dengan tangan kosong.

“Kami tidak dapat memastikan bulan apa kurma itu berbuah,” ungkap Kuswari yang sehari-harinya juga bertugas merawat kurma.

Dikatakannya, pohon kurma tersebut cukup dikenal di Indonesia. Karena telah berbuah dalam beberapa musim terakhir ini. “Ya, mungkin saat ini belum waktunya berbuah. Nanti jika sudah berbuah, siapa saja boleh memetiknya. Banyak yang menggunakannya sebagai obat,” ungkap Kuswari.

Lalu, dia menjelaskan, cara makan kurma yang bertujuan sebagi obat pun tergolong unik. Sebelum dimakan, lebih dulu kurma yang dipetik langsung dari pohonnya itu harus dikunyah sampai halus.

Setelah dipastikan halus, baru kemudian kurma boleh ditelan dengan menggunakan air putih. Cara seperti itu, menurut Kuswari, merupakan salah satu cara makan kurma yang baik sesuai anjuran H Nur, warga Betek Mojoagung Jombang, yang sudah lama di Kota Makkah sebagai sopir jamaah haji.

Namun, tingkat kemujaraban kurma untuk menyembuhkan penyakit, semuanya bergantung niat dari hati masing-masing orang. “Semua bergantung niatnya ketika berangkat dari rumah. Buah kurma ini hanya sebagai perantara,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Affandi, warga asal Gresik yang biasa datang ke Masjid Al-Mubarok mengaku, kedatangannya ke masjid tersebut sengaja untuk memetik buah kurma yang akan dijadikan obat oleh beberapa kerabatnya.

“Awalnya dulu saya sendiri yang membuktikan. Setelah itu, banyak kerabat saya yang penasaran,” kata Affandi yang pernah mengalami lemah syahwat.

Belakangan diketahui, pohon kurma tersebut merupakan milik H Mat Asnawi yang dibawanya dari Makkah pada musim haji tahun 1990. Waktu itu Asnawi membawa dua bibit kurma berusia sekitar dua bulan. Oleh Asnawi, satu bibit ditanam di halaman rumahnya di Magersari, satu lainnya sengaja disumbangkan untuk Masjid Al-Mubarok. Namun, anehnya, dari dua bibit pohon kurma tersebut, hanya pohon yang ditanam di halaman Masjid Al-Mubarok yang bisa berbuah. (ris)

Musik ramadan makin garing


Sebagai bangsa muslim terbesar di dunia [200 juta penduduk, tidak main-main lho!], seharusnya bulan Ramadan ini menjadi momentum emas bagi seniman-seniman musik untuk adu kreativitas. Sayang, setelah KANTATA TAKWA kreativitas itu nyaris tak muncul lagi.

Kita kaya dengan ribuan macam bebunyian maupun instrumen etnik yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Semua itu merupakan bahan baku yang luar biasa. Tinggal kepekaan, ketelitian, kecerdasan... sang seniman untuk meramunya menjadi karya seni musik.

Menurut saya, kelebihan utama seni musik islami adalah perkusinya yang luar biasa. Contoh sederhana. Menjelang sahur,anak-anak kampung keliling permukiman sambil memainkan musik perkusi yang indah. Musik patrol, begitu istilah di Jawa Timur, bisa dimainkan di mana saja, oleh siapa saja.

Lantas, apakah bahan-bahan dasar musik dari bumi nusantara itu mewujud dalam industri musik Indonesia? Maaf saja, sampai sekarang tidak ada. Industri jalan dengan logika sendiri, seakan-akan tak ada hubungan tradisi musik nusantara. Padahal, televisi-televisi kita mengisi ramadan dengan aneka macam program islami. Bukankah itu peluang berkreasi yang luar biasa?

Sayang sekali, ketika industri musik makin maju, pemusik-pemusik 'islami' [agamanya tidak harus Islam] tidak menghasilkan karya yang khas nusantara. UNGU, grup band paling terkenal saat ini, baru saja merilis album mini lima lagu islami. Ini untuk mencoba mengulan sukses tahun lalu. Jelas sekali, proses produksinya dibuat sangat cepat agar bisa rilis menjelang ramadan.

"Beberapa materi kami garap di studio," ujar Sigit Purnomo alias Pasha, penyanyi sekaligus pemimpin UNGU. Bisa dibayangkan, apa hasilnya jika sebuah album digarap buru-buru di dalam studio. Kalau mau serius, ya, seharusnya pola penggarapan album rohani [Islam] tidak bisa dilakukan dengan jalan pintas macam ini.

Hasilnya, ya, begitu-begitu saja. Album ramadan Ungu ternyata 100 persen sama dengan warna ben selama ini. Tata musik sama. Cara nyanyi sama. Yang beda hanyalah syair berlirik islami, disesuaikan dengan iklim ramadan. Ragam pesona bebunyian nusantara, Timur Tengah, kekhasan musik islami sama sekali tidak berasa.

Syukurlah, orang Indonesia yang sejak 10 tahun terakhir dicekoki musik industri oleh beberapa kapitalis asing menerima begitu saja. 'Sukses' Ungu juga dinikmati GIGI Band serta GITO ROLLIES, penyanyi The Rollies terkenal era 1970-an. Gito malah hanya sekadar mengganti syair lagu-lagu cinta lama dengan muatan rohani.

Pola melodi dan lain-lain sama saja. Lantas, Gito mengklaim album barunya ini sebagai 'album religi'. Hehehe.... Orang sekaliber Gito Rollies ternyata terjebak pula dalam banalitas yang memang dikembangkan oleh industri musik pop saat ini. Hanya menjajakan kulit, tanpa banyak usaha menciptakan kreaitvitas baru untuk musik Indonesia.

Kata orang Jawa: "Sekarang zaman edan. Kalau nggak edan, nggak kebagian!" Yah... daripada tidak kebagian, ya, lebih baik menceburkan diri di industri musik sekarang. Siapa tahu popularitas pulih, materi pun datang.

Pada tahun 1990-an saya terkagum-kagum dengan kreativitas beberapa seniman musik yang tergabung dalam KANTATA TAKWA. Dimotori Setiawan Jodi, proyek musik beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, Inisisri, Yockie Suryo Prayogo, W.S. Rendra ini memang luar biasa. Selain musiknya yang sangat kaya, efek perkusi luar biasa, syair-syairnya sangat kuat.

Saya menilai KANTATA TAKWA sangat berhasil meramu kekayaan musik nusantara, juga kekayaan musik islami. Sejak intro sampai koda, penikmat musik KANTATA TAKWA dibuat terpesona. Musik benar-benar musik. Bukan sekadar hiburan pengusir sepi di kamar atau klangenan belaka. Kejayaan KANTATA tentu tak lepas dari 'kenekatan' Setiawan Jodi yang berani menerobos iklim musik inustri yang stagnan.

Masak sih tidak ada lagi seniman idealis macam para senior kita di KANTATA? Masak tidak ada Jodi-Jodi yang lain? Masak tidak ada pemusik [islami] yang mau menyumbangkan musik yang bernas untuk bangsanya, ketimbang sekadar membonceng ramadan ala GIGI, UNGU, GITO?

Sulit dipercaya, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini sulit menelurkan karya-karya seni musik berbobot, bisa dikenang sepanjang masa. Lha, kalau sekadar bikin lagu-lagu bersyair rohani macam UNGU, nyanyi sambil menangis ala Gito Rollies, siapa yang tak bisa?

Kita, bangsa Indonesia, memerlukan orang-orang kreatif yang tidak boleh tunduk begitu saja pada logika industri dan kapitalis. Nah, ketika seniman-seniman muslim pun ditaklukkan logika kapitalis, maka habislah kita.

Menutup catatan ringan ini, saya ingin mengutip pendapat Suka Hardjana, pemusik, dirigen, dan kritikus musik terkemuka di tanah air:

"Rasa rendah diri dan mental terjajah masih sangat menghantui diri kita dalam hal daya cipta dan tata pergaulan dunia.

"Para pencipta dan pelaku musik Indonesia tidak akan pernah menjadi seniman yang unggul selama mereka tidak mau menoleh pada kebudayaan sendiri yang sebenarnya sangat unggul."

17 September 2007

Koran di Surabaya Rp 1.000


Di Surabaya harga barang-barang selalu naik, kecuali surat kabar. Begitu kata-kata saya sejak era reformasi tahun 1998. Dan benar-benar terbukti. Makin lama koran makin murah dan murah, nyaris tak ada harga lagi.

Bahkan, beberapa koran disebarkan gratis, tak perlu keluar uang serupiah pun. Koran-koran gratis ini lazimnya marak saat menjelang pemilihan bupati, gubernur, pemilu. Teman-teman seniman pun bikin majalah 'gratis', dalam tanda petik. Saudara boleh bawa pulang, boleh berinfak seikhlasnya.

Saudara, harga koran-koran [harian] di Kota Surabaya saat ini benar-benar tidak masuk akal. Logika ekonominya tidak jalan. Lihat saja di jalan-jalan. Saya sendiri tidak tega melihat surat kabar kita yang terpaksa melakukan obral besar-besaran, entah sampai kapan.

Harian SURYA Rp 1.000. [Harga ini bahkan dicetak di halaman depan, dekat logo koran.] Jam 10 pagi, KOMPAS dijajakan Rp 1.000. Padahal, resminya ditulis 'harga eceran Rp 2.900'. MEDIA INDONESIA Rp 1.000. REPUBLIKA Rp 1.000. SEPUTAR INDONESIA Rp 1.000. KORAN TEMPO Rp 1.000. REK AYO REK Rp 1.000. MEMORANDUM Rp 1.000.

"KOMPAS dijual Rp 1.000? Ah, yang benar saja. Setahu saya KOMPAS itu punya standar harga kok," bantah Romo Laurentius Heru Pr, bos Penerbit Dioma Malang, kepada saya. Romo Heru tergolong pembaca KOMPAS yang loyal. Dia menganggap koran ini sangat berkualitas.

Hehehe.... Maklum, pastor ini tinggal di Malang, sering ke Jakarta dan luar negeri, sehingga tak banyak tahu liku-liku bisnis koran di Surabaya. Sekali-sekalilah dia melintasi jalan protokol Surabaya, mulai Jalan Ahmad Yani hingga Tanjung Perak, untuk melihat langsung banderol koran-koran Surabaya.

RADAR SURABAYA pagi-pagi dijual Rp 1.500, agak siang sedikit Rp 1.000. JAWA POS lumayan karena harganya stabil, Rp 2.500 [sore Rp 2.000], dan selalu laku keras. Dijual berapa pun, berita apa pun, JAWA POS senantiasa dicari masyarakat Surabaya. Anehnya, kalau disuruh melanggan, penduduk Surabaya pikir-pikir dulu.

Selain banting harga, saya melihat begitu banyak upaya pengelola koran untuk meningkatkan omzet. Mulai jalan santai, donor daah, bedah buku, lomba ini-itu..... Terlalu banyak untuk disebutkan. Tapi ya itu tadi, pembeli koran sedikit meskipun harga sudah diobral tinggal Rp 1.000. Saya khawatir, suatu ketika harga diturunkan lagi ke Rp 500, lantas nol rupiah.

Saya pernah ditanya beberapa teman wartawan dan pengamat media, mengapa harga koran di Surabaya tidak rasional, tapi oplah stagnan. Ada apa? Bukankah makin banyak orang yang melek huruf? Banyak orang cerdas? Saya selalu jawab: masalah ini terkait habitus membaca orang Indonesia. Kita belum menjadi masyarakat membaca. Reading society masih jauh sekali!

Sehari setelah diskusi ringan itu, besoknya Yonky Karman menulis artikel menarik di KOMPAS, 15 September 2007, berjudul 'Berhenti Berpikir Cara Televisi'. Pendeta ini pun mengungkapkan keundahannya macam saya. Soal kematian surat kabar [media cetak umumnya] karena tergilas televisi.

"Pesona televisi dapat melumpuhkan minat baca kita yang notabene masih rendah. Ada korelasi kemajuan bangsa dengan kegemaran membaca," tulis Yonky Karman. Pendapat ini sudah sangat umum, boleh dikata sudah menjadi postulat umum. Namun, memang perlu digemakan terus-menerus.

Kini, televisi menjadi sumber informasi utama orang Indonesia, khususnya Surabaya. Pak Bambang, seniman yang bekas wartawan, misal, berjam-jam duduk di depan televisi. Hampir semua acara, termasuk gosip artis, dilalapnya. Padahal, salah satu sumber penting saya di Sidoarjo ini, dahulu kutu buku, penulis produktif di Jawa Timur.

Pak Bambang tidak pernah melanggan koran meski sangat senang membaca koran kalau dikasih gratis. Tiap hari dia membeli beberapa bungkus rokok seharga belasan ribu. Bandingkan dengan koran yang hanya seribu. "Saya menganggap semua informasi sudah ada di TV. Gak baca koran gak masalah," kata Pak Bambang.

Lain lagi Ibu Irene, pengusaha kaya. Hampir tiap hari dia makan bersama rekanan, atau keluarga, di restoran mewah. Sambil menikmati hiburan karaoke, live music, dan sebagainya. Saya pastikan, tiap hari ratusan ribu rupiah [minimal] dia keluarkan untuk konsumsi dan hiburan. Beberapa kali dia mentraktir saya makan mewah.

"Bu Irene, boleh tahu sampeyan langganan koran apa?" tanya saya.

"Wah, nggak langganan sama sekali. Saya tidak punya waktu untuk membaca," katanya santai.

Irene tak merasa perlu berlangganan surat kabar. Ingat, harga koran cuma Rp 1.000 atau Rp 2.000. Beda dengan sate kambing satu porsi yang paling murah Rp 50.000. Setelah bincang-bincang lebih banyak, tahulah saya bahwa Irene ini malas membaca. Bukan tidak punya waktu. Dus, budaya membaca belum ada di keluarganya.

Yonky Karman mencatat buku yang dicetak di Indonesia hanya 4.800 judul setahun. Malaysia 7.000, Thailand 8.000, Jepang 10.000, Korea Selatan 43.000, Amerika Serikat 50.000. Saya yakin, dalam hal oplah koran pun Indonesia dipastikan kalah jauh daripada negara-negara lain.

Penduduk Surabaya plus Sidoarjo dan Gresik sekitar 7 juta. Tapi pelanggan koran tidak sampai 500 ribu. Pembeli eceran banyak, toh tetap tidak sepadan dengan penduduknya yang boleh dikata melek huruf dan punya penghasilan bagus.

Ironisnya, beberapa pengusaha di Surabaya, yang pernah disoroti media cetak, menganjurkan warga supaya tidak lagi membaca koran. "Koran itu sama dengan sampah," katanya. Wah, anjuran yang sangat tolol dan makin merusak budaya baca masyarakat kita yang sangat lemah.

Selain televisi, tantangan media cetak yang sangat serius adalah internet. Saya mencermati, anak-anak muda di Surabaya belakangan ini menghabiskan waktunya berjam-jam di internet untuk chatting, berselancar, main game. Satu jam rata-rata Rp 3.000. Padahal, umumnya anak-anak muda ini minimal menghabiskan dua jam di warnet, plus menikmati minuman ringan dan camilan.

Habis berapa tuh? Eh, ternyata anak-anak muda pecandu internet ini tidak pernah membeli, apalagi melanggan, surat kabar. Terus terang, saya belum pernah melihat anak-anak muda Surabaya mengeluarkan koran dari tas dan membacanya di tempat umum macam kafe, restoran, depot, hall bioskop.

Sudah pasti yang dikeluarkan adalah ponsel dengan aneka variasnya. Ponsel serta berbagai produk teknologi informasi memang lawan berat surat kabar. Asyik, enteng, menghibur. Lain dengan media cetak atau buku yang menuntut konsentrasi, olah pikir, kemauan berefleksi.

Lantas, apa yang bisa dilakukan pekerja dan pengelola media cetak?

Sebetulnya sudah banyak usaha dan masukan dari mana-mana. Koran-koran pun sudah laksanakan meski belum optimal. Namun, hasilnya belum juga terlihat. Yang terjadi, masyarakat semakin kecanduan televisi [plus internet, PS, games] dan mengabaikan media cetak.

Menurut saya, pemerintah, pendidik, pemimpin, yang punya kepedulian pada masa depan bangsa harus segera mencari jalan keluar. Bukan semata-mata demi menaikkan oplah koran, melainkan demi masa depan bangsa Indonesia sendiri.

"Jangan berharap banyak pada industri pertelevisian yang berorientasi bisnis," tegas Yonky Karman. Saya mengutip kembali tulisan Pak Yonky di KOMPAS 15 September 2007:

"Tayangan televisi merusak karakter reflektif manusia. Iklan komersial dikemas menarik sampai tak ada hubungan dengan kualitas dan manfaat produk yang diiklankan. Orang dibujuk membeli karena pencitraan. Kesan pertama dibuat menggoda, selanjutnya terserah pemirsa.

"Pesona tulisan tergeser pesona tayangan. Bisnis surat kabar di Amerika Serikat [pun] terdesak televisi dan mesin pencari berita, opini, dan iklan seperti Google dan Yahoo."

14 September 2007

Mus Mulyadi dan keroncong rohani



BAWALAH PERSEMBAHAN karya Paul Widyawan salah satu contoh keroncong (tepatnya langgam) yang diciptakan dengan notasi keroncong. Bukan lagu rohani biasa yang dikeroncongkan.

Keroncong rohani itu apa?
Komposisinya macam apa?
Bedanya dengan musik keroncong biasa?


Begitu pertanyaan-pertanyaan yang kerap saya dengar.

Di toko-toko kaset/CD/VCD kristiani [Protestan/Katolik] selalu kita temukan embel-embel 'keroncong rohani'. Mus Muyadi, penyanyi terkenal yang piawai membawakan lagu-lagu keroncong, paling banyak bikin kaset keroncong rohani.

Setahu saya Cak Mus [dia memang berasal dari Surabaya] hingga saat ini sudah merilis sekitar 10 album keroncong rohani. Saya sendiri mengoleksi dua album keroncong versi Mus Mulyadi. Juga ada nama Anastasia Astuti, penyanyi keroncong yang lumayan ternama di Indonesia.

Setelah saya putar, tahulah saya apa gerangan yang dimaksud dengan keroncong rohani itu. Yang jelas, iringannya pakai orkes keroncong lengkap. Plus kibod, drum. Jadi, boleh dikata, 100 persen sama dengan keroncong-pop yang kerap dibawakan Hetty Koes Endang. Saya kira, pemusik-pemusik yang mengiringi Mbak Hetty pun terlibat di proyek keroncong rohani ala Cak Mus Mulyadi.

Berikut 10 lagu di album KERONCONG ROHANI Volume 5 Mus Mulyadi, produksi Maranatha, Jakarta.

1. Gembala Baik Bersuling Nan Merdu [C. Akwan, 1984]
2. Lebih Dekat Pada-Mu [Oscar C./R. Jackson]
3. Di Doa Ibuku Namaku Disebut [Peter P. Bilhorn]
4. Betapa Kita Tidak Bersyukur [Subronto Kusumo Atmodjo]
5. Kasih [Yuda D. Mailo'ol]

6. Ku Tak Dapat Hidup Tanpa Dia [....]
7. Dia Hanya Sejauh Doa [.....]
8. Seperti Rusa [Martin J. Nystrom]
9. Bapa Surgawi [Lisna G. Arifin/Herna]
10. Ku Siapkan Hatiku Tuhan [Hank Samuel].


Dari daftar ini, tahulah kita bahwa lagu-lagu yang dibawakan Cak Mus [juga penyanyi-penyanyi rohani lain] sejatinya pop rohani alias gospel yang diiringi dan dinyanyikan dengan cara keroncong. Bisa dipastikan, keroncong rohani mengambil pujian-pujian yang paling populer di kalangan jemaat kristiani di tanah air.

Sejauh ini saya belum pernah menemukan 'keroncong rohani' yang menggunakan lagu baru. Apalagi, lagu yang sejak awal diniatkan sebagai komposisi keroncong, yang memerhatikan kriteria lagu keroncong: akord, notasi, jumlah bar, dan sebagainya. Namanya juga pop rohani atau nyanyian jemaat, format lagu-lagu itu sudah lazim kita kenal.

Satu-satunya lagu keroncong 'beneran' hanyalah Persembahanku karya Paul Widyawan di salah satu album Mus Mulyadi. Pak Paul dari Jogja, salah satu dedengkot Pusat Musik Liturgi [PML] Jogjakarta, merupakan komponis musik liturgi Katolik yang sangat produktif menciptakan nyanyian liturgi bernuansa Indonesia sejak 1970-an sampai sekarang.

Paul Widyawan menciptakan beberapa lagu keroncong [lebih tepat: langgam] dan dimuat di MADAH BAKTI, buku doa dan nyanyian Katolik. Karena itu, keroncong-keroncong rohani karya Paul Widyawan sangat populer di lingkungan Gereja Katolik Indonesia. Saya bisa katakan, Paul Widyawan merupakan satu-satunya penulis keroncong rohani sejati.

Saya akan membahas kiprah Paul Widyawan di sebuah tulisan khusus. Orang ini mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mengembangkan musik gerejawi bernuansa Indonesia. Paul merupakan salah satu pejuang inkulturasi musik liturgi terdepan di Indonesia. Saya benar-benar salut akan kegigihan Paul Widyawan dalam bidang musik liturgi.

Lain dari itu, ya, keroncong-keroncongan. Pop biasa dengan lirik rohani, tapi dinyanyikan dengan cara keroncong. Saya sempat merasa tertipu saat membeli dua album Mus Mulyadi berembel-embel keroncong rohani.

"Yang penting, saya bisa mengajak saudara-saudara seiman untuk makin dekat dengan Tuhan. Syukur kalau album saya diterima di semua gereja," kata Mus Mulyadi dalam suatu kesempatan di Surabaya.

Terlepas dari beberapa kelemahan, misal pembuatan album yang cepat, musik monoton, bagaimanapun juga Mus Mulyadi bersama Maranatha telah melakukan sosialisasi musik keroncong di kalangan umat kristiani secara teratur dan konsisten. Entah melalui rekaman atau penampilan langsung, Cak Mus senantiasa menunjukkan bahwa dialah salah satu penyanyi keroncong terbaik di Indonesia.

Hanya saja, akan lebih afdal lagi manakala penulis-penulis lagu kristiani mau bekerja keras seperti Paul Widyawan. Bikin lagu dengan pola, struktur, rumus, sesuai dengan ketentuan musik keroncong [atau langgam atau stambul] yang sudah baku. Ditambah syair yang kristiani, barulah komposisi itu layak disebut keroncong rohani.

Kapan ada komposisi keroncong rohani yang benar-benar keroncong ya? Pak Paul Widyawan, bikin komposisi keroncong yang banyak dong!BAWALAH

Puasa minoritas muslim Flores Timur





Umat Islam di Flores Timur tidak banyak, minoritas, karena daerah saya memang didominasi orang Katolik. Umat Protestan boleh dikata tidak ada. Aliran kepercayaan alias agama asli cukup banyak.

Meski jumlahnya sedikit, gairah beribadah sangat tinggi. Setiap Jumat, misalnya, laki-laki, perempuan, anak-anak, ramai-ramai menunaikan salat Jumat di masjid. Di Jawa Timur, saya lihat salat Jumat didominasi oleh laki-laki. Kaum perempuan malah tenang-tenang saja di rumah.

"Perempuan kan nggak wajib. Jadi, perempuan gak jumatan gak apa-apa," kata Dewi, teman saya, mantan aktivis ormas mahasiswa Islam. Kok di kampung saya semua perempuan salat Jumat? tanya saya. "Itu malah bagus. Tapi yang wajib itu laki-laki," tambah Dewi. Oh...!

Bagaimana puasa Ramadan di kampung saya, Lembata, Flores Timur? Kebetulan keluarga kami, marga Hurek Making, banyak yang mengurus masjid, menjadi tokoh muslim di kampung. Nenek saya dari pihak mama beragama Islam, sangat religius. Sehingga, sedikit banyak saya tahu tradisi puasa di kampung meskipun saya beragama Katolik.

Sehari sebelum puasa, semua muslim di kampung saya melaksanakan ritual MANDI BERSAMA di laut. Boleh dikata, ini ritual wajib sebelum puasa. Ziarah kubur ada juga, tapi tidak semeriah mandi bersama di laut.

Kebetulan kampung saya berada di pinggir pantai. Bapak Muhammad Ansyahari Paokuma, imam Masjid Nurul Janna [masih tergolong paman saya], memimpin ritual ini. Katanya, sebagai simbol menyucikan diri untuk menyambut kedatangan bulan suci, puasa sebulan penuh.

Saya suka menyaksikan adegan mandi bersama ini. Waktu anak-anak, saya pun ikut mandi, tapi tidak bercampur dengan jemaat muslim agar tidak mengganggu. Suasana sangat ceria. Usai mandi, makan bersama. Kami semua, tak peduli apa agamanya, diajak mencicipi makanan lezat. Besoknya puasa.

Karena umat Islam sangat sedikit, tak ada larangan ini-itu macam di Jawa Timur. Warung bebas buka, orang boleh makan di mana saja, kapan saja. Tak ada perda macam-macam seperti di Jawa Timur. Saudara-saudara muslim sadar benar hal itu, toh puasanya tidak terganggu.

Ibadah diperbanyak dengan pengajian di masjid kampung. Anak-anak dan remaja muslim juga suka main beduk, latihan kasidah, dan macam-macam. Mengapa kasidah? Sebab, ada tradisi di kecamatan saya menggelar lomba kasidah antardesa setiap tahun.

Kak Aisyah Hurek [anaknya Pak Abdul Madjid Hurek], masih kerabat kami, berperan sebagai pelatih kasidah. Suaranya lumayan bagus meski serak-serak basah. Berkat gemblengan Kak Aisyah, kampung saya kerap mendapat juara kasidah tingkat kecamatan. Tapi kalau ikut lomba tingkat Kabupaten Flores Timur, biasanya kalah. Hehehe...

Menjelang sore, keluarga muslim sibuk menyiapkan menu buka puasa. Menunya sangat lezat, jauh di atas menu harian. Kelapa muda, kolak pisang, kolak kacang hijau, kolak singkong, kolak ubi jalar, kolak umbi-umbian... pasti ada. Dicampur gula merah atau gula putih, sedapnya sangat terasa. Saya selalu ngiler sehingga sering mencicipi lebih dulu sebelum kaum muslim berbuka.

Azan magrib selalu ditunggu-tunggu. Diawali dengan memukul beduk, azan dikumandangkan oleh beberapa 'spesialis' yang kebetulan marganya pun HUREK seperti saya. Bisa Pak Hasan Kotak Hurek atau anak-anaknya yang kebetulan tinggal di dekat masjid. Keluarga Pak Hasan Hurek memang ditugaskan untuk merawat dan membersihkan masjid yang dibiayai kampung itu.

[Masjid Nurul Janna ini dibangun dan dibiayai warga desa yang mayoritas Katolik. Di kampung saya, perbedaan agama sama sekali bukan masalah. Tak ada kecurigaan kristenisasi, islamisasi, dan macam-macam. Kampung saya memang benar-benar melaksanakan Pancasila dan asas Bhinneka Tunggal Ika. Hehehe....]

Buka puasa merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu. Umat Islam selalu berusaha melakukan buka bersama di masjid. Mereka membawa menu dari rumah masing-masing, lantas dinikmati bersama di masjid. Saling tukar makanan lah. Di mana-mana yang namanya kaum minoritas sangat kompak dan solid karena merasa sedikit.

Kami, anak-anak non-Islam, bermain-main di halaman masjid yang terletak di tengah-tengah kampung. Setelah kaum muslim buka bersama, kami dipanggil ke pelataran masjid. "Silakan dihabisi makanan ini," kata Pak Hasan Hurek. Maka, dalam hitungan menit, sisa makanan buka bersama tandas disikat anak-anak kampung.

Malam hari, tarawih bersama di masjid. Setelah itu dilakukan berbagai kegiatan untuk anak-anak muslim seperti kasidah, mendengar cerita islami, hingga pelajaran agama Islam. Suasana akan semakin meriah manakala ada kunjungan pejabat, polisi, tentara, yang beragama Islam. Biasanya, dia ikut buka bersama, tarawih, serta berbagi pengalaman.

Pejabat-pejabat asal luar Flores [Jawa, Sumatera, Kalimantan, NTB, Sulawesi, dan lain-lain] umumnya kagum dengan kerukunan umat beragama di kampung saya. Bagaimana tidak. Meski umat Islam sangat sedikit, masjidnya cukup bagus dan dibangun secara gotong royong oleh warga yang hampir semuanya beragama Katolik. Ketua pembangunan masjid Bapak Carolus Keluli Nimanuho, yang juga kepala desa pada 1980-an.

Maka, saya selalu heran dengan ribut-ribut soal pembangunan tempat ibadah di Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan daerah-daerah lain. Kenapa sih bikin rumah ibadah kok ramai, sulit, kontroversial... terus-menerus? Yah, lain padang lain belalang, lubuk lain ikannya!

Kini, saya tinggal di Jawa Timur. Jujur, saya masih merindukan menu buka puasa di kampung halaman yang pernah saya nikmati semasa anak-anak. Sederhana, lezat, dan benar-benar menjalin kebersamaan di antara kami, warga kampung.

BACA JUGA TULISAN TERKAIT
Islam di Flores Timur.

Bintang Radio Tanpa Keroncong?



Notasi "Keroncong Dewi Murni", lagu yang sangat terkenal di lingkungan penggemar musik keroncong.


Pemilihan Bintang Radio tingkat nasional berlangsung di Surabaya pada 14 Juli 2007. Jadi, sudah lama lewat. Tapi ada beberapa penggemar keroncong di Surabaya dan Sidoarjo bertanya-tanya, tepatnya menggugat:

Kenapa jenis keroncong tidak dilombakan? Kenapa keroncong dianaktirikan? Bukankah sejak dulu jenis keroncong selalu dilombakan di bintang radio [dan televisi]? Kenapa tiba-tiba dihilangkan? Apa pertimbangannya?

Saya tidak bisa menjawab. Sebab, saya tidak ada urusan dengan bintang radio dan tidak punya akses ke sana. "Tolong anda sampaikan lewat tulisan, siapa tahu didengar oleh Bapak-Bapak di RRI. Lain kali, kalau ada bintang radio, mbok yo keroncong dilombakan juga," pesan Ibu Nurhayati, penyanyi keroncong senior di Sidoarjo.

Tak hanya Bu Nur, saya pun heran saat menyaksikan malam final Bintang Radio 2007 di halaman Balai Kota Surabaya. Yang dilombakan hanya dua jenis: hiburan [pop] dan seriosa. Peserta seriosa sangat sedikit seperti dulu-dulu. Pop sangat banyak, bahkan berlebih. Saya tidak sempat bertanya kepada Pak Parni Hadi, bos RRI se-Indonesia, meskipun sempat ketemu malam itu.

Pak Parni, bekas pemimpin redaksi Republika, malah mengusulkan agar kapan-kapan Bintang Radio diperluas. Kalau perlu melibatkan Malaysia, Singapura, Brunei. Kalau perlu ada jenis lagu melayu [bukan dangdut lho!] mengingat pemenang Bintang Radio otomatis ikut festival lagu melayu. Jenis keroncong? Sama sekali tidak disebut-sebut malam itu.

Kita tahu, sejak 1950-an Bintang Radio selalu melombakan tiga jenis musik: hiburan, seriosa, keroncong. Hiburan alias pop jelas sudah tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia di zaman apa pun. Industri musik hiburan berkembang pesat, penyanyi muncul di mana-mana, entah lewat kontes SMS, festival, dan sebagainya. Jenis pop tak mungkin dihilangkan.

Seriosa identik dengan seni suara klasik Barat. Jenis musik yang sangat sulit karena menuntut latihan, pengetahuan, wawasan, yang sangat tinggi. Akan sangat ideal kalau seriosa dilombakan di bintang radio. Tapi, kalau dianggap tidak efisien, karena peserta selalus sedikit, menurut saya, seriosa sebaiknya dihapuskan saja.

Kenapa seriosa bisa dihapus dari Bintang Radio? Saya yakin seriosa tak akan pernah mati. Asal tahu saja, kelompok-kelompok paduan suara di gereja, sekolah, perguruan tinggi, pada dasarnya menyanyikan lagu klasik alias seriosa. Teknik vokal ala Barat, termasuk bell canto, tentu dipelajari di paduan suara.

Solis-solis di gereja bisa dipastikan belajar teknik vokal seriosa. Anak-anak muda yang mengikuti kelas vokal, ya, tentu belajar seriosa juga. Dengan modal itu, dia bisa menyanyi apa saja sesuai dengan kebutuhan. Jika paduan suara berlatih dengan baik dan benar, saya jamin anggota-anggotanya tidak akan kesulitan membawakan lagu seriosa ala Bintang Radio.

Bagaimana dengan keroncong? Menurut saya, jenis keroncong MUTLAK HARUS ada di Bintang Radio. Selain punya sejarah yang sangat panjang, musik keroncong sangat berasa nusantara. Sangat Indonesia. Keroncong itu, kata guru musik Musafir Isfanhari [Universitas Negeri Surabaya], merupakan musik yang sangat unik, khas Indonesia. Menggunakan instrumentasi berat, notasi Barat, tapi dimainkan secara Indonesia, khususnya Jawa.
Jangan lupa, di era menjelang dan sesudah proklamasi, 1940-an hingga 1950-an, musik keroncong sangat digemari masyarakat Indonesia. Ibaratnya, keroncong menjadi musik paling populer masa itu. Tak heran, lagu-lagu keroncong bertemu perjuangan sangat populer sampai hari ini.

Misal: Sepasang Mata Bola, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Jembatan Merah, Bung di Mana, Pahlawan Merdeka, Sampul Surat, Sapu Tangan dari Bandung Selatan, Bandung Selatan di Waktu Malam, Rangkaian Melati... dan masih banyak lagi. Setiap bulan Agustus, keroncong-keroncong perjuangan macam ini selalu kita dengarkan.

"Ingat, keroncong itu musik perjuangan," kata Prof. Tjuk K. Sukiadi, ekonom dari Universitas Airlangga, yang juga pembina musik keroncong di Surabaya. Dus, menikmati lagu-lagu keroncong berarti kita diajak menikmati romantisme di masa perjuangan untuk memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Lha, bagaimana mungkin musik keroncong 'dibuang' begitu saja dari Bintang Radio? Pak Parni Hadi, bagaimana dengan misi RRI sebagai pelestari budaya bangsa? Mudah-mudahan tahun depan, dan seterusnya, RRI menyertakan keroncong di Bintang Radio.

Kita tidak mungkin berharap pada televisi swasta yang sangat komersial atau radio swasta yang jangkauan dan jaringannya sangat terbatas. Hanya RRI yang tersebar dari Aceh sampai Papua punya kemampuan untuk mengangkat bakat-bakat muda pelestari musik keroncong.

Joko Supriyadi, pemusik keroncong di Sidoarjo, malah menyebut pemilihan Bintang Radio sebagai satu-satunya kontes seni suara yang bisa diandalkan untuk melestarikan keroncong. Dia melihat keroncong semakin redup seiring dihentikannya kontes Bintang Radio jenis keroncong.

13 September 2007

Nindy Ellesse Jadi Penginjil




Kamis, 13 September 2007, hari pertama saudara-saudara kaum muslim menjalankan ibadah puasa. Saya menghabiskan waktu dengan membaca buku HIDUP BUKAN TEKA-TEKI karya Nindy Ellesse. Saya tertarik membeli buku ini bukan karena isinya, melainkan penulisnya. Nindy Ellesse bikin buku? Buku rohani Kristen?

Dulu, tahun 1980-an, di Flores Timur, saya hanya bisa menyaksikan wajah Nindy Ellesse di TVRI [televisi satu-satunya, hitam-putih] sebagai penyanyi pop manis. Nindy bergabung dengan JK Records milik Judhi Kristianto. JK Recods saat itu menguasai acara musik di TVRI: Aneka Ria Safari, Kamera Ria, Selekta Pop, hingga Album Minggu Kita.

JK Records selalu menghadirkan nona-nona manis, tak peduli kualitas suara. Vokal buruk bisa dibenahi di studio oleh Pak Judhi sendiri. Artis-artis JK pun membawakan lagu-lagu manis karya Pance Pondaag, Obbie Messakh, Wahyu OS, Deddy Dores, Judhi Kristianto, Maxi Mamiri, dan beberapa nama lagi. Tentu saja, Nindy Ellesse ikut kebagian menyanyikan lagu-lagu manis ala JK Records.

Perempuan kelahiran April 1967 ini sejak tahun 1985 merilis album pop manis bersama JK Records. Di antaranya, Naluri Seorang Wanita, Selendang Biru, Surat Terakhir. Berbeda dengan Dian Piesesha, album Nindy Ellesse rata-rata tidak 'meledak' alias biasa-biasa saja di pasar musik. Toh, itu sudah cukup untuk mencatatkan nama Nindy Ellesse di belantika musik Indonesia.



Nindy pun dilibatkan dalam beberapa album kompilasi versi JK Records. Engkau pernah dengar suaranya? Vokal Nindy ini tidak manis mendayu-dayu, tapi agak tebal dan lantang. Dia punya dasar-dasar ilmu menyanyi, sehingga bisa membawakan lagu apa saja. Termasuk yang nadanya tinggi.

Nindy Ellesse kemudian digandengkan dengan Mega Selvia dan Gladys Suwandi [sesama artis JK] dalam Trio Glamendy. Pada 1990-an trio ini kerap muncul di TVRI, namun tak bisa bertahan lama. Setelah Menteri Penerangan Harmoko melarang lagu-lagu cengeng di TVRI, Agustus 1988, berakhir sudah rezim musik ala JK. Label rekaman ini pun surut meski masih eksis sampai sekarang.

Sejak itulah nama Nindy Ellesse pun hilang di tengah masyarakat. Toh, begitu banyak penyanyi masa itu yang bikin satu dua album lalu menikah, lalu hilang. Sebab, masa itu menyanyi umumnya masih dianggap sebagai hobi, bukan profesi sampai tua. Nindy Ellesse yang pernah membintangi film layar lebar dan sinetron pun tekun menyelesaikan kuliahnya di Jakarta.

Saat krisis moneter pada 1998, saya sempat menemui Nindy Ellesse di Surabaya. Waktu itu dia memberikan kesaksikan di sebuah kebaktian kebangunan rohani (KKR) di Gereja Rehobot, Jalan Mayjen Sungkono. Saya diundang panitia untuk meliput.

"Nindy Ellesse yang penyanyi itu?" tanya saya. Panitia mengiyakan. Di Surabaya, khususnya gereja-gereja aliran karismatik, memang ada kebiasaan untuk menghadirkan artis/selebriti yang kebetulan beragama Kristen. Mereka dibayar untuk membagikan pengalaman pribadinya serta pandangan hidupnya kepada jemaat. Kalau si artis itu penyanyi atau bekas penyanyi, dia didaulat membawakan satu dua pujian rohani.

Nindy Ellesse pun demikian. Tapi saat bicara, saya menilai perempuan cantik ini sangat matang. Bicaranya, penguasaan Alkitab, wawasan... di atas rata-rata. Ia lebih pantas disebut evangelis, pengkhotbah, atau pendeta daripada sekadar penyanyi yang menyampaikan kesaksian. Saya terkejut melihat perubahan Nindy Ellesse. Beda sekali dengan artis-artis yang masih populer, yang rata-rata kurang fasih mengutip ayat-ayat suci.

Mendengar penjelasan Nindy Ellesse di depan ratusan jemaat, tahulah saya bahwa Nindy Ellesse bukan lagi Nindy Ellesse yang dulu. Istilahnya, Nindy Ellesse sudah 'lahir baru', mengubah dirinya secara radikal: dari selebriti pop ke orang yang intens dalam pelayanan rohani. Dia mengaku mulai 'lahir baru' sejak 1995.

Lantas, Nindy Ellesse menceritakan panjang lebar masa lalunya yang kelam. Termasuk dua kali usahanya untuk bunuh diri pada usia 16 tahun lantaran frustrasi. "Saya merasa hidup saya ini tidak ada artinya," aku Nindy Ellesse. "... saya merasa tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang mencintai saya, tidak ada yang mengasihi saya, bahkan tidak ada yang menginginkan saya."

Lalu, dia minum satu botol minyak kayu putih. Dia muntah-muntah, tapi nyawanya tertolong. Sebelumnya, dia mau bunuh diri dengan minum belasan butir obat sakit kepala.

Nah, di buku yang diterbitkan oleh Visimedia, Jakarta, ini kesaksian-kesaksian yang kerap disampaikan Nindy Ellesse di depan jemaat bisa kita baca. Juga bagaimana dia bertobat pada 1995 saat mengikuti kebaktian kebangunan rohani di Wisma Antara Jakarta. Nindy Ellesse maju dan didoakan oleh Pendeta Jeffrey Rachmat.

"Air mata mulai mengalir di pipi. Sebagai orang berdosa, saya menyadari perlu tangan Tuhan untuk menolong kehidupan saya. Setelah malam itu, hidup saya mulai berubah. Sesuatu telah terjadi di dalam roh, pikiran, dan hati saya. Tuhan sudah masuk di dalam hati dan telah menjamah kehidupan saya.

"Itulah pilihan terbaik yang pernah saya lakukan dalam hidup saya. Tuhan selalu menghadapkan kita kepada pilihan-pilihan di dalam hidup ini...," begitu kesaksian 'Ibu Pendeta' Nindy Ellesse kepada pembaca bukunya.

Pengalaman hidup Nindy Ellesse yang berwarna--nyaris bunuh diri, jadi artis, terkenal, hingga lahir baru--sangat mewarnai isi bukunya. Dengan kemampuan parafrasenya, menemukan ayat-ayat dan kisah di Alkitab yang relevan, Nindy memotivasi kita untuk menghargai hidup. Sembilan artikelnya menekankan dengan tegas dan jelas betapa pentingnya kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

Jangan sia-siakan hidupmu! Hiduplah dalam kuasa Tuhan! Saat ini juga engkau haus bertobat dan kembali pada Tuhan. "Jika kita tidak pernah meninggalkan dosa, hidup kita sama dengan keadaan yang selalu dijajah dan diperbudak oleh dosa," pesan Nindy Ellesse.

Yah... Nindy Ellesse kini telah menjadi pengkhotbah, bukan lagi penyanyi yang melantunkan lagu-lagu sendu gara-gara ditinggal kekasih.

MAU DENGAR SUARA NINDY ELLESSE?
Bertakhta di Hatiku by Steve & Sydney [gospel song]

10 September 2007

Aku Juri Duta Wisata Sidoarjo 2007


Sabtu, 8 September 2007. Bertempat di Convention Hall Suncity Plaza, Jalan Pahlawan Sidoarjo, berlangsung malam final Pemilihan Guk dan Yuk Sidoarjo 2007. Saya menjadi salah satu dari empat juri.

Sebuah kejutan tersendiri bagi saya, duduk di bangku dewan juri, persis di kanan panggung. Dulu, pada tahun 2004, saya duduk di bangku penonton, sebagai peliput. Jadi penonton [atau peliput], kita bebas tertawa, komentar, merespons tingkah pola peserta di panggung.

Sebagai juri, kita harus sangat cermat memerhatikan penampilan, jawaban, menjaga standar penilaian. Harus serius dan objektif. Baru kali inilah saya duduk sebagai juri event sebesar pemilihan duta wisata Kabupaten Sidoarjo. Kalau sekadar juri lomba karaoke di kampung, paduan suara ibu-ibu PKK, vocal group.. sih sudah beberapa kali saat masih mahasiswa.

"Anda memang layak jadi juri pemilihan duta wisata. Sebab, anda kan sudah keliling semua kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Sudah tahu banyak tentang Sidoarjo, khususnya seni budaya dan objek wisata," ujar Hartono, mantan ketua Dewan Kesenian Sidoarjo.

Pak Hartono, yang juga bos Galeri Akar Jati, satu jam sebelum acara dimulai, memang memotivasi saya agar percaya diri. Maklum, sebelumnya saya merasa kurang pantas menjurii pemilihan duta wisata Sidoarjo, tetangga terdekat Kota Surabaya, salah satu 'kabupaten elite' di Jawa Timur.

Asal tahu saja, kualitas anak-anak muda Sidoarjo tak jauh berbeda dengan Surabaya. Sebagian finalis pun kuliah di Universitas Airlangga serta kampus terkenal di Surabaya. Wawasan mereka boleh lah! Kalau ada pemilihan duta wisata Jawa Timur, Raka-Raki, wakil Sidoarjo pun biasanya dapat nomor.

Wah, ketika sudah berada di convention hall, saya masih belum percaya ditunjuk sebagai juri. Saya pun sempat bincang-bincang dengan Pak Mukhlis Yasin, kepala Dinas Pariwisata Sidoarjo, penanggung jawab utama acara ini. Beliau ini sering diskusi dengan saya saat saya masih bertugas di Sidoarjo.

Tidak ada pesan atau 'titipan' apa-apa untuk juri. Artinya, kami berempat bebas memilih pemenang Guk [laki-laki] dan Yuk [perempuan] secara objektif. Apa adanya. "Carilah yang terbaik karena mereka akan mewakili Kabupaten Sidoarjo dalam berbagai event di Sidoarjo, Jawa Timur, maupun nasional," kata Pak Mukhlis yang didampingi istrinya.

Dari panitia pelaksana, Dicky Hermawan [mantan Guk Sidoarjo], juga tak ada titipan, apalagi intervensi. Dicky hanya berpesan bahwa penilaian hanya mengacu pada PENAMPILAN dan kualitas JAWABAN peserta di atas panggung. Boleh menjawab pakai bahasa Indonesia, boleh bahasa Inggris.

"Biarpun menjawab pakai bahasa Inggris, kalau jawabannya tidak tepat, ya, nilainya rendah. Tapi, kalau jawabannya tepat, pakai bahasa Inggris, dia dapat nilai tambah," kata Dicky, teman lama di Sidoarjo. "Selanjutnya, kami serahkan pada dewan juri."

Sekitar pukul 20.30 WIB, Wakil Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah bersama istri masuk ruangan. Acara utama pun mulai. Setelah pidato dari Pak Mukhlis dan Pak Saiful, 20 finalis [10 pasang] diperkenalkan kepada hadirin. Pemilihan tahunan ini diikuti 68 peserta [39 laki-laki, 29 perempuan]. Melalui babak penyisihan dan proses selama satu minggu, terpilih 10 finalis.

Nah, semua finalis memakai busana khas Kabupaten Sidoarjo yang mengacu pada tradisi Kerajaan Jenggolo. Busana ini digali oleh sebuah tim budayawan, salah satunya almarhum Bapak Munali Patah.

Anggun sekali busana itu!

Karena pertimbangan efisiensi, karena Sun City Plaza membatasi masa pinjam gedung, para juri tidak bertanya langsung. Tapi sebelumnya kami dimintai daftar pertanyaan. Saya menyodorkan 23 pertanyaan, dan ternyata paling banyak dipakai malam itu. Usulan pertanyaan saya bervariasi: seputar Sidoarjo, pariwisata, lumpur lapindo, kemacetan lalulintas, Deltras.

Pembaca acara [MC], Guk Onny dan Yuk Awaliah, yang membacakan pertanyaan untuk masing-masin peserta. Pertanyaan saya umumnya sederhana. Pertanyaan dari juri lain agak abstrak, dan saya rasa agak sulit dijawab. Misal: apa tujuan hidup anda? Apa yang terpenting dalam hidup? Apa saja kekecewaan dalam hidup anda?
Pertanyaan-pertanyaan abstrak memang selalu ada dalam ajang pemilihan Duta Wisata, Putri Indonesia, Miss Indonesia, hingga Miss Universe. Pertanyaan abstrak melatih peserta berpiki abstrak pula. Ia harus menjawab dengan singkat, padat, tepat. Nah, di sini saya cermati jawaban beberapa peserta agak ngambang. Gak titis, kata orang Jawa Timur.

Logika sirkuler alias berputar-putar juga lazim ditemui di ajang macam ini. Jawabannya kelihatan panjang, tapi isinya sedikit. Saya juga tidak bisa menyalahkan peserta, karena ketahuilah bicara di atas panggung, di depan ratusan pasang mata, itu tidak gampang, Saudara!

Saya menilai, hampir semua finalis malam itu sudah memberikan yang terbaik. Untuk ukuran Sidoarjo, bahkan Jawa Timur, mereka sudah layaklah. Kalau diperdalam lagi, insya Allah, pemenangnya bisa menembus acara-acara serupa di tingkat nasional. Apalagi, dua finalis putri mampu menjawab dengan tepat, pakai bahasa Inggris pula. Cantik-cantik dan tinggi lagi!

Ada diskusi kecil di antara kami, empat juri. Ibu Erma Savitri [NJS Modelling Surabaya] mengingatkan bahwa pemilihan duta wisata itu bukan pemilihan bintang pelajar. Kita jangan terlalu kaku pada unsur BRAIN [kecerdasan, kualitas jawaban]. Jangan lupakan BEAUTY [penampilan, postur, fisik] dan BEHAVIOR [sikap, perilaku].

Berdasar pengalaman di mana-mana, peserta yang sangat pandai, pintar menjawab, ternyata tidak mau aktif menjalankan tugas sebagai duta wisata. Ada-ada saja alasannya untuk mengelak. Dikirim ke tingkat provinsi tak mau. Sulit dihubungi. Dan sebagainya. Ada lagi yang BRAIN-nya bagus, tapi fisiknya payah sehingga belum apa-apa dicibir penonton.

Saya dan ibu-ibu juri sepakat. Bahwa kriteria penilaian harus diperluas. Harus menimbang banyak unsur. Sebab, bagaimanapun juga para pemenang akan mewakili Kabupaten Sidoarjo ke kontes tingkat provinsi [Pemilihan Raka-Raki Jawa Timur] di Surabaya. Kami berkepentingan agar wakil Sidoarjo menjadi juara tingkat provinsi.

Singkat cerita, penilaian grand final ternyata tidak sulit. Jangankan juri, sejak penonton sudah bisa meraba-raba pemenangnya. Di ruang rapat pun kami sepakat siapa-siapa yang harus lolos. "Bagaimana pandangan Mas Dicky sebagai ketua panitia? Hasilnya seperti ini. Apakah ada pertimbangan khusus dari pemkab atau panitia?" kata Ibu Erma, ketua dewan juri.

"Tidak ada. Kita objektif saja, sesuai dengan pilihan juri. Dan memang nama-nama itu layak," kata Dicky Hermawan. Alhamdulillah, tugas kami sebagai juri pun selesai.

Sebuah pengalaman baru dan indah buat saya: menjadi juri grandfinal Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Sidoarjo Tahun 2007. Bisa menambah daftar di curriculum vitae saya. Hehehehe.....

HASIL PEMILIHAN GUK DAN YUK SIDOARJO 2007

Guk Sidoarjo : Tedy Mikael Rismawan [Krian]
Yuk Sidoarjo : Maya Faridha [Kota]

Wakil I Guk : Reska Prakasa [Buduran]
Wakil I Yuk : Prisma Ashardita [Gedangan]

Wakil II Guk : Azlansyah [Waru]
Wakil II Yuk : Anafia Dwi Maharani [Taman]

CATATAN:

Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat, dan telah dilegitimasi oleh Wakil Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah. Mereka berhak menjadi duta wisata resmi Kabupaten Sidoarjo hingga Pemilihan Guk dan Yuk tahun depan.