29 August 2007

Bangsa kuli di Malaysia


Kita, bangsa Indonesia, sering lupa sejarah. Jangankan rakyat biasa, pemimpin-pemimpin pun lupa. Akibatnya, ya, jadilah Indonesia macam sekarang ini. Harga dirinya lenyap, tidak direken di mata dunia.

Jauh-jauh hari Bung Karno sudah mewanti-wanti kepada bangsa kita, khususnya mereka yang dipercaya sebagai pemimpin. Jika tidak kerja keras, sibuk korupsi, maka "Indonesia akan menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa".

Bangsa kuli! Saya kira, tengara Bung Karno yang didengungkan pada 1930-an itu sudah menjadi kenyataan. Diakui atau tidak, kini kita sudah menjadi BANGSA KULI. Kuli di segala bidang. Kuli di antara bangsa-bangsa sehingga martabat orang Indonesia terpuruk di mata luar negeri.

Tak usah jauh-jauhlah. Di mata orang Malaysia, orang Indonesia adalah bangsa kuli atau bangsa budak. Orang bodoh yang tidak bisa kerja pakai otak, hanya bisa menjual tenaga. Buktinya, jutaan orang Indonesia [sebagian di antaranya perempuan] menjual tenaga sebagai kuli bangunan, kuli kebun, kuli rumah, kuli pelabuhan... di Kuala Lumpur dan bandar-bandar lain di Malaysia.

Hanya bisa jual tenaga. Dibayar murah. Diperlakukan layaknya budak atau kuli. Mana ada majikan yang derajatnya sama dengan kuli, bukan? Karena itu, saya tidak heran bahwa jutaan orang Indonesia disiksa, didera, diperkosa... oleh tauke di Malaysia. Saya tak heran mendengar kabar bahwa pekerja Indonesia melarikan diri dari apartemen [nekat menyambung kain] agar bisa bebas dari siksaan majikan.

Saya pun tak heran bahwa majikan-majikan jahat itu tidak mendapat hukuman sepadan di Malaysia. Sebab, undang-undang Malaysia tentu sangat melindungi warga negaranya sendiri. Mungkin saja pemerintah Malaysia menganggap apa yang dilakukan majikan sebagai perbuatan 'baik dan benar' kepada budak alias kulinya.

Kuli atau budak wajar saja kalau dihajar, diperlakukan tidak senonoh. Hak asasi manusia itu berlaku pula untuk kuli-kuli di Malaysia? Saya kurang tahu. Tapi, naga-naganya, Malaysia menganut ajaran macam itu. Mau apa lagi? Kita hanya bisa jadi kuli, jual tenaga dengan upah yang sangat murah, tapi masih lebih baik daripada menganggur di negeri sendiri.

Saking banyaknya kuli di Malaysia [ada yang bilang 10 juta, ada bilang 7 juta, 15 juta...], orang INDON identik dengan kuli atau budak. Dan itu berlangsung bertahun-tahun, sejak 1960-an, 1970-an, berlanjut terus sampai sekarang. Karena itu, jangan heran pandangan orang Malaysia terhadap orang Indonesia sangat buruk.

Melihat orang Indonesia yang jalan-jalan di Kuala Lumpur, misalnya, ya dikira budak atau kuli. Imej ini bisa menjelaskan mengapa Donald Pieter Luther Kolopita, wasit karate kita, dihajar oleh empat polisi Malaysia. Satu orang dikeroyok empat orang. Donald pun nyonyor, matanya berdarah, pelirnya terkena sepakan polisi Melayu... dan harga dirinya hancur. Donald, terlepas dari casus belli, dipelakukan layaknya binatang.

Mengapa empat polisi Malaysia itu begitu kejam? Lagi-lagi, imej orang INDON sebagai bangsa budak/kuli melekat erat di otak bangsa Malaysia. Biasanya, kuli-kuli Indonesia datang tanpa izin atau pendatang haram. Nah, polisi-polisi Malaysia itu tentu sudah hafal benar potongan orang Indonesia tak berizin [istilahnya PATI: pendatang asing tanpa izin] yang jalan-jalan di tempat umum Malaysia.

Melihat wajah dan sosok Donald di jalan raya, empat polisi itu niscaya percaya bahwa si Donald itu kuli tak berizin asal Indonesia. Hmmm... asal tahu saja, polisi Malaysia selama ini suka memeras kuli-kuli INDON itu untuk menggemukkan kantung. Ternyata, mereka salah karena Donald ternyata wasit karate yang datang ke Malaysia untuk sebuah kejuaraan karate antarbangsa.

Selasa 28 Agustus 2007. Saya melihat Menteri Luar Negeri Malaysia Hamid Albar dan Kepala Polisi Malaysia Musa menggelar jumpa pers di televisi kita. Tentu, kedatangan dua pejabat penting ini terkait penganiayaan Donald. Lihatlah si kepala polisi Malaysia [di SCTV] yang tinggi langsing, jalan petenthang-petentheng, penuh gaya. Tak terlihat penyesalan atau sekadar basa-basi sedikitlah bahwa empat anak buahnya sudah menghajar Donald.

Keterangan persnya yang standar saja. Empat polisi itu sudah diproses dengan undang-undang yang belaku di Malaysia. Tak ada pernyataan maaf sama sekali. Dan itu sangat wajar untuk Malaysia yang selama ini memandang rendah INDON sebagai bangsa kuli, bangsa budak. Mana ada majikan mau mengaku salah sama budaknya? Kuli ya kuli, majikan ya majikan....

Saya lihat pejabat-pejabat kita [presiden, menteri luar negeri, menteri sekretaris kabinet, menteri tenaga kerja, menteri olahraga, kepala polisi RI...] tak berkutik. Tidak bisa apa-apa. "Kita kan nggak bisa memaksa Malaysia untuk minta maaf," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Yah, mau apa lagi? Saya ingat kembali kata-kata Bung Karno istilah BANGSA KULI DAN KULI DI ANTARA BANGSA-BANGSA! Sampai kapan Malaysia, Arab Saudi... berhenti menghina martabat orang Indonesia?

Jawabnya gampang, tapi melaksanakannya sangat sulit. Sampai pemerintah kita mampu mencetak lapangan kerja di dalam negeri. Pemerintah harus bisa mengolah alam Indonesia yang kaya dan luas ini menjadi aset ekonomi yang luar biasa. Kalau cari kerja di dalam negeri sulit, ya, mau tak mau jutaan orang Indonesia lari ke Malaysia atau Timur Tengah.

Jadi kuli, jadi budak, jadi babu, jadi buruh-buruh kasar dan kotor! Bahkan, saya dengar-dengar banyak juga perempuan-perempuan Indonesia terpaksa jadi pelacur di luar negeri, khususnya Malaysia.

Kita boleh marah terus sama pemerintah dan rakyat Malaysia yang melecehkan orang-orang Indonesia. Tapi, kalau mau jujur, sebetulnya akar persoalannya ada di pihak Indonesia sendiri. Siapa suruh jadi kuli di Malaysia?

Saya berangan-angan, suatu ketika kita hanya mengirim pekerja-pekerja otak seperti dokter, ahli komputer, arsitek, dosen, dan sebagainya ke luar negeri.

Jazz di radio-radio Surabaya



Isa Anshori, pengasuh Jazz Traffic di Radio Suara Surabaya. [foto: suarasurabaya.net]

Pengemar musik jazz di Surabaya [Jawa Timur umumnya] tak begitu banyak. Boleh dikata, sangat sedikit. Bandingkan dengan pop, rock, apalagi dangdut. Jazz, kendati masuk ke tanah air sejak zaman Belanda, sulit hidup, apalagi berkembang.

Di mana-mana memang begitu. Jazz itu menggunakan accord, harmoni, cara bermain yang jauh berbeda dengan musik biasa. Maka, sering orang menyebut jazz sebagai musik nyeleneh. "Lagu bagus-bagus kok dirusak. Jazz itu hanya merusak komposisi," kata teman saya. Ia bekas penulis dan bekas pemusik.

Ada memang pergelaran jazz kecil-kecilan di Surabaya, tapi hanya dinikmati kelompok kecil. Penikmatnya itu-itu saja. Pemusiknya ya sama saja. Beda sekali dengan industri musik kita, termasuk band-band indie, yang sangat subur. Jazz memang ada, tapi sekarat kondisinya.

Rekaman jazz sulit dijual di Indonesia. Laku 10 ribu keping saja sudah bagus. Bandingkan dengan Peterpan atau Padi yang bisa jual kaset/CD sampai satu juta atau dua juta!

Syukurlah, di tengah lahan yang gersang, jazz tetap eksis di radio-radio Surabaya. Tidak semua radio, tapi kebanyakan di radio-radio berpengaruh. Saya selalu menyempatkan diri menyimak musik jazz di Radio Suara Surabaya setiap malam, Senin sampai Jumat. Musik jazz juga masuk program Radio Star FM, Delta FM, Sonora FM. Itu yang sempat saya pantau.

Kredit khusus saya berikan kepada Radio Suara Surabaya FM 100. Radio milik Pak Sutoyo ini sejak dulu memberi tempat kepada musik-musik non-industri macam jazz atau klasik. Meskipun penggemarnya sedikit, segmented, iklan [hampir] tidak ada, Radio Suara Surabaya menyiarkan program jazz secara tetap. Saya bisa katakan, Radio Suara Surabaya terdepan dalam urusan jazz di Kota Surabaya atau Jawa Timur.

Siaran jazz di Radio Suara Surabaya berlangsung pukul 22.00-24.00 WIB, Senin-Jumat, namanya JAZZ TRAFFIC. Pengasuhnya Isa Anshory, penyiar senior yang sangat gandrung jazz. Mas Isa ini konsisten banget dengan musik jazz. Selain memandu program jazz, Isa kerap meliput festival-festival jazz berkelas macam Java Jazz di Jakarta. Isa juga kerap memboyong pemusik-pemusik jazz ke studio Radio Suara Surabaya untuk wawancara khusus.

Wawancara dengan musisi jazz, kemudian interaksi dengan pendengar, menambah wawasan jazz bagi orang Surabaya. Kita pun jadi tahu gaya bicara pemusik-pemusik jazz, latar belakang, referensi, hobi, pendidikan, cita-cita, wawasan jazz... dan macam-macam lah. Sungguh sebuah medan apresiasi jazz ala Radio Suara Surabaya yang layak diapresiasikan.

Radio Suara Surabaya itu radio berita yang fokus pada laporan lalulintas. Sebagian besar programnya berisi KELANA KOTA. Pengguna jalan telepon lapor kemacetan, tabrakan, kecelakaan, dan sebagainya. Pendengar lain kritik pemerintah, komentar soal politik, lumpur lapindo, ganti rugi korban lumpur, korupsi... Musik di Radio Suara Surabaya hanya sekadar selingan belaka. Kalau ada kejadian besar, ya, musik dihilangkan.

Nah, di sela-sela KELANA KOTA itulah, Radio Suara Surabaya menyiarkan musik jazz. Saya perhatikan, Isa Anshory selalu memutar nomor-nomor jazz populer. Ringan atawa gampang dengar, easy listening. Dia berusaha menghindari jazz-jazz yang terlampau berat, karena bagaimanapun juga pendengar di Surabaya belum biasa dengan jazz berat.

Kalau terlampau berat, ruwet, pendengar bisa kabur. Itu yang terjadi pada konser hidup Indra Lesmana dan kawan-kawan di Vista Sidewalk Cafe Surabaya beberapa waktu lalu. Juga konser pejazz Prancis di Balai Pemuda. Nomor-nomor yang dimainkan asing di telinga sehingga penikmat tidak betah. Kaburlah dia!

Mas Isa kerap memutar nomor instrumental atau vokal karya Antonio Carlos Jobim. Jazz beraroma Brazil. Bukan apa-apa, orang Surabaya lazimnya suka dengan nomor-nomor macam begini. Bisa saja Isa suka dengan Carlos Jobim, hehehe.....

Buby Chen, legenda jazz asal Surabaya, menjadi mitra tetap Isa di siaran jazz Radio Suara Surabaya. Om Buby memilih lagu, membahas sedikit latar belakang musisi, kemudian diputar musiknya. Penjelasan Om Buby bersifat apresiasi, memandu pendengar untuk masuk ke alam jazz. Wow, beliau ini pendidik sejati yang tak jemu-jemunya memperkenalkan jazz di Surabaya. Radio Suara Surabaya beruntung bisa menghadirkan Buby Chen secara tetap.

Interaksi dengan pendengar menjadi ciri khas Radio Suara Surabaya. Dari sini saya bisa tahu selera jazz di Surabaya. Ada Ibu Tutut, lansia yang sangat suka musik apa saja, termasuk jazz. Ada lagi remaja yang suka jazz karena pengaruh orang tua. Ada anggota komunitas jazz yang suka minta nomor-nomor berat. [Biasanya tidak diputar Isa, mungkin karena tidak pas dengan selera jazz pendengar SS yang tidak suka berat-berat.]

Yang menarik, hampir selalu ada pendengar yang minta jazz Indonesia. Maksudnya, lagu-lagu jazzy berbahasa Indonesia, dimainkan orang Indonesia, sudah akrab di telinga orang Indonesia. Mas Isa biasanya kesulitan memenuhi permintaan itu. "Soalnya, koleksi rekaman jazz Indonesia memang terbatas," ujarnya.

Mudah-mudahan saja pemusik kita mau bikin album-album jazz bernuansa Indonesia. Entah etnik macam Krakatau [Dwiki Dharmawan dan kawan-kawan] atau Balawan atau band-band fusion ala 1990-an macam Karimata, Krakatau, Karimata, Emerald, Black Fantasy, Chaseiro, Bhaskara.

Bisa juga penyanyi solo yang bertaat asas di jazz [ringan] macam Ermy Kullit, Iga Mawarni, Margie Siegers, Mus Mujiono, Utha, Tri Utami, Nunung Wardiman, Elfa's Singers.... Terus terang, industri musik Indonesia sejak tahun 2000-an terlalu seragam, monoton, tak banyak kasih ruang untuk jazz.

Bagaimana mau memutar jazz Indonesia secara rutin di radio? Salam saya untuk semua pengasuh jazz di radio-radio Surabaya.

25 August 2007

Ketegaran Ibu Kembar -Sekolah Darurat Kartini




Sekolah Darurat Kartini di sejumlah kawasan kumuh Jakarta digusur habis oleh aparat Pemprov DKI Jakarta. Padahal, sekolah alternatif gratisan ini telah berhasil mengentaskan sekitar 2.000 anak-anak kaum marginal di ibukota.

Ribuan kendaraan melintasi Tol Jembatan Tiga, Pluit, Jakarta Utara. Suasana kumuh di kolong jembatan terlihat jelas dari atas. Nah, di situ ada bangunan dengan dinding tripleks dan kayu jelek. Ruangan seluas 40 meter persegi itu menjadi tempat belajar anak-anak gelandangan, pemulung, serta pengemis di ibukota Republik Indonesia.

Sekolah Darurat Kartini. Itulah lembaga pendidikan semiformal yang didirikan Sri Rosiati dan Sri Irianingsih--lebih dikenal dengan Ibu Kembar--pada 1996. Sekolah itu bakal tinggal sejarah di Jakarta. Maklum, sejak beberapa bulan lalu Pemkot Jakarta Utara ngotot menutup sekolah khusus untuk anak-anak kaum miskin itu. Tenggat waktu alias deadline sudah ditetapkan, yakni 31 Agustus 2007.

“Yo opo maneh [Mau apa lagi?] Wong wali kotane gak kepengin ono sekolah ndek kolong jembatan tol. Kami memang diminta segera meninggalkan tempat ini,” papar Sri Rosiati alias Bu Rosi kepada saya, tadi (24/8/2007).

Perempuan kelahiran 4 Februari 1950 ini tetap tenang kendati sekolah yang dirintisnya bersama Sri Irianingsih (Bu Rian) satu dekade silam itu sedang terancam keberadannya. Rosi optimistis bakal mendapat jalan keluar terbaik, entah dari pemkot, swasta, parlemen, maupun masyarakat umum.

“Kalau saya ikut resah, bagaimana dengan anak-anak yang belajar di sekolah kami? Semuanya saya serahkan pada Allah SWT. Wong misi sekolah darurat ini juga kan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Ya, saya sama Ibu Rian menyerahkan semuanya kepada Allah SWT.”

‘Anak-anak’ yang dimaksud Bu Rosi tak lain para siswa sekolah darurat yang kini tersebar di berbagai kawasan Jakarta. Seluruhnya ada 2.100 orang. Menurut Bu Rosi, Senin (20/8) lalu dia mendapat surat dari Wali Kota Jakarta Utara beris perintah untuk membongkar sekolah darurat di kolong Tol Jembatan Tiga, Pluit. Bu Rosi dan Bu Rian bersama sejumlah aktivis dan para pemulung kemudian bergerak, meminta agar rencana pembongkaran ditunda.

“Tapi, ya, kayaknya mereka ngotot melakukan pembongkaran,” ucap Bu Rosi dalam logat Jawa yang medhok.




Kenapa Anda ngotot mempertahankan sekolah darurat di kolong jembatan dan di kantung-kantung pemulung? Bukankah Gubernur DKI Jakarta Soetiyoso sudah lama berniat menertibkan semua permukiman kumuh di Jakarta?

Persoalannya, kata Bu Rosi, tiga tahun lalu Bang Yos (sapaan akrab Gubernur Soetiyoso) berjanji menyediakan lokasi baru untuk Sekolah Darurat Kartini. Namun, ternyata, sampai sekarang janji itu tak pernah direalisasikan. Lokasi baru tak kunjung disediakan, sementara masa jabatan Bang Yos akan segera berakhir.

“Kalau pemda sudah menyediakan lokasi alternatif nggak ada masalah. Lha, sekarang ini sekolah kami mau dibongkar tanpa ada solusi. Jadi, kami hanya menagih janji dari Pak Gubernur,” ujar mantan dokter dan pengusaha properti itu.

Menjelang deadline 31 Agustus 2007, Bu Rosi, Bu Rian, bersama pengurus Sekolah Darurat Kartini bertekad mempertahankan komunitas anak-anak pemulung, gelandangan, dan sebangsanya, di kawasan Kampung Bandan, Jakarta Utara. Mulai Sabtu (25/8), Bu Rosi dan kawan-kawan memindahkan sekolah darurat di sebuah lahan terbuka.

“Atapnya kita pakai terpal. Soalnya, anak-anak yang belajar di situ ada sekitar 520 orang. Kalau ditutup begitu saja, mau ke mana lagi anak-anak itu?” tegas Bu Rosi yang tak memungut dana sepeser pun dari orang tua siswa. “Untuk makan minum sehari-hari saja susah, apalagi harus bayar biaya sekolah segala. Saya selalu menekankan agar sekolah darurat itu gratis.”

“Sampai kapan Anda berjuang mempertahankan sekolah darurat di Jakarta?” tanya saya.

“Pokoknya, saya akan terus mendampingi anak-anak itu sampai saya nggak ada lagi di dunia ini. Sebab, hati saya sudah tidak bisa dipisahkan dari anak-anak itu. Mereka sudah menjadi bagian dalama hidup saya bersama Bu Rian,” tegas Bu Rosi.

Menurut dia, kota sebesar Jakarta dengan penduduk 8-10 juta tak akan pernah lepas dari masalah-masalah sosial. Di balik gedung-gedung jangkung, pusat belanja mewah, selalu akan ada kaum marginal yang tidak beruntung. Mereka mudah ditemui di kawasan kumuh, kolong jembatan, kawasan stasiun, terminal, dan sebagainya.

“Anak-anak mereka butuh sekolah. Saya tidak ingin bocah-bocah itu menjadi pelacur cilik atau manusia yang tidak berguna,” ujar Bu Rosi, mantap.

Kini, Ibu Kembar (Rosi dan Rian) boleh berbangga karena selama 10 tahun terakhir ini telah berhasil ‘meluluskan’ lebih dari 2.000 alumni sekolah darurat di berbagai kawasan Jakarta. Di antaranya ada yang menjadi polisi, perawat, keryawan swasta, kasir, pegawai bank, hingga pengusaha kecil.




Facebook Sekolah Kartini:
http://www.facebook.com/pages/Jakarta-Utara/Sekolah-Darurat-Kartini-Ibu-Guru-Kembar/90394783601

24 August 2007

Waras, manusia berhati emas

Waras (56 tahun), orang jujur asal Siring, benar-benar mujur. Setelah mendapat hadiah uang Rp 20 juta serta perhiasan senilai Rp 30 juta, PT Minarak Lapindo Jaya memberikan sebuah rumah di Perumahan Griya Wisata Tanggulangin.

Rumah tipe 40/90 itu diberikan secara cuma-cuma kepada keluarga Waras. Tidak hanya itu. Rumah seharga Rp 70 juta tersebut tengah direnovasi bagian belakang, pagar depan, serta dipasangi sambungan listrik 1.300 watt.

Waras, korban lumpur panas, telah mengembalikan kelebihan uang pembayaran ganti rugi dari PT Minarak senilai Rp 429 juta pada Selasa (14/8) lalu. Waras punya sebidang sawah seluas 2.440 meter persegi yang terendam lumpur panas.

Berdasar ketentuan, dia berhak mendapat ganti rugi Rp 56 juta dari anak perusahaan Lapindo Brantas Inc itu. Namun, saat mengecek uang di rekeningnya, ternyata dana yang diterimanya Rp 486 juta lebih. Waras kemudian mengembalikan kelebihan uang itu. Sebagai ungkapan terima kasih, pihak Minarak kemudian memberikan berbagai hadiah kepada Waras dan keluarganya.

Menurut Waras, renovasi rumah dengan dua kamar tidur tersebut akan selesai pada Selasa (28/8), bertepatan dengan penyerahan kunci oleh manajemen PT Minarak. Selain itu, perusahaan yang bertugas menangani ganti rugi untuk korban lumpur panas ini memberikan berbagai perabot rumah tangga.

Antok, mandor pelaksana, mengatakan, pihaknya diperintahkan oleh pihak Minarak untuk menyelesaikan renovasi rumah untuk keluarga Waras secepat mungkin. "Bila tidak ada halangan, renovasi ini akan selesai Selasa depan," ujar Antok ketika ditemui RADAR Surabaya di Perumahan Griya Wisata Tanggulangin, Jumat (24/8).

Terpisah, Direktur Operasional PT Minarak Lapindo Jaya Bambang Prasetyo Widodo mengatakan, apa yang dilakukan PT Minarak adalah bentuk terima kasih serta penghargaan yang tulus kepada keluarga Waras. "Ini tidak sebanding dengan apa kebaikan Pak Waras dan keluarganya kepada kami," ujarnya di Sidoarjo.

Sementara itu, Waras yang kini tinggal di rumah kontrakan sederhana di Desa Juwetkenongo, Porong, mengaku masih tidak percaya dengan banjir hadiah yang telah diberikan oleh PT Minarak. "Saya masih belum percaya, Mas. Wong sudah diberi uang dan perhiasan kok masih diberi rumah lagi. Ini betul-betul anugerah yang tak ternilai. Saya juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak Minarak," ujar Waras.

Hingga kemarin, dia dan keluarganya belum sempat melihat kondisi rumah di Perum Griya Wisata. Namun, dia berencana memelihara kambing di rumah baru itu. "Saya hanya ingin tahu apakah nanti lima kambing saya ini bisa dibawa ke sana atau tidak. Kalau tidak bisa, karena para tetangga terganggu, ya, kambing itu akan saya jual," tuturnya.

Berita Konser Kemerdekaan RI SSO 2007



Saya sedang bincang dengan Pauline Poegoeh, soprano andalan SSO. Pauline penyanyi klasik paling top di Jawa Timur.

Oleh: Tim Surabaya Symphony Orchestra

KONSER HUT KE-62 KEMERDEKAAN RI, PEMENTASAN KE-53 SSO
Royal Ballroom Hotel JW Marriott, Surabaya
14 Agustus 2007

Untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-62, Surabaya Symphony Orchestra (SSO) telah menggelar konser besar di Royal Ballroom Hotel JW Marriott, Selasa (14/8/2007). Konser dihadiri para diplomat, tokoh masyarakat, veteran pejuang, pemuka agama, pejabat, tokoh pendidikan, kedokteran, serta pencinta musik klasik dengan jumlah sekitar seribu orang.

Sebelum konser ke-53 SSO ini resmi dimulai, disajikan dua lagu klasik yang dimainkan oleh ensembel gesek SSO di bawah pimpinan AGNES POEGOEH dan ALVINE KURNIAWAN serta sebuah nyanyian paduan suara anak berjudul "The Lord Bless You and Keep You" gubahan J. Rutter, dipimpin PAULINE POEGOEH dengan iringan piano IVANA NYOTOSETIADI.

Sedangkan acara konser dibuka resmi dengan pidato pembukaan oleh Sekretaris Kota Surabaya Sukamto Hadi, lalu dilanjutkan dengan lagu INDONESIA RAYA yang dinyanyikan Paduan Suara SOS bersama segenap hadirin.

Kemudian paduan suara menyanyikan dua buah lagu Indonesia: "Tanah Airku" gubahan N. Simanungkalit dan "Hati Memuji" gubahan Iskak. Aransemen kedua buah lagu ini dibuat oleh Solomon Tong dengan gaya dan nuansa Indonesianya yang begitu kental serta semangat patriotismenya terdengar begitu akrab di lubuk hati para pendengar.

Paduan suara juga membawakan dua buah lagu Indonesia lainnya yang tidak asing bagi pendengar, yaitu "Nyiur Hijau" gubahan Maladi dan "Indonesia Pusaka" gubahan Ismail Marzuki. Kedua buah lagu ini juga dibuat aransemennya oleh Solomon Tong dengan banyak variasi seperti penyanyi solo berduet ataupun berquartet yang dibawakan masing-masing oleh PAULINE POEGOEH, DEWI KANG, LINDA HARTONO, ANGELICA AUDREY AZARINE, HANDOKO, dan ANDRE SURYA.

Konser ini juga menghadirkan sejumlah vokalis seperti LILIANA yang membawakan Aria "Habanera" dalam versi score asli dari opera "Carmen" gubahan G. Bizet didukung background paduan suara. Sedangkan ANGELICA AUDREY AZARINE membawakan Aria Opera berjudul "Una Donna" dari Cosi Fan Tutte gubahan WA Mozart.

Suara lantang, bulat, dan tinggi yang dikuasai oleh Angelica Audrey Azarine telah mengundang applaus yang meriah seperti Melissa Setyawan yang tidak ketinggalan dengan suara manisnya, membawakan lagu Broadway gubahan L. Bernstein yang diambil dari "Westside Story" berjudul "Somewhere".

Baritone SAM W. TONG membawakan sebuah lagu "Any Dream Will Do" gubahan Andrew Lloyd Webber yang dinyanyikan bersama paduan suara anak disertai gerakan-gerakan yang amat lucu dan membuat suasana menjadi releks. Soprano LINDA HARTONO--penyanyi tamu khusus diundang dari Bandung--membawakan sebuah lagu bernuansa Negro Spiritual berjudul "Summertime" yang diambil dari "Porgy and Bess" gubahan G. Gershwin.

Corak suaranya yang khas berkarakter sungguh memukau para pendengar setelah nada tinggi terakhir dinyanyikan dan ditutup dengan nada satu oktaf dibawakan secara portamento yang semakin membuat para pendengar tercengang akan kemampuan dan teknik vokal tinggi yang ditujukkan oleh Linda Hartono.

Sedangkan soprano kondang PAULINE POEGOEH andalan SSO membawakan sebuah Aria Opera "Cosi Fan Tutte" berjudul "Per Pieta, Ben Mio" dengan warna yang sangat spesifik, yaitu coloraturra soprano maupun teknik vokal yang sulit dan matang serta iringan orkestra yang apik membuatnya sebagai salah satu nomor yang sangat enak didengar.

Aria ini berdurasi sekitar sembilan menit dengan faktor kesulitan yang amat tinggi. Tidak semua penyanyi opera mampu mengatasinya. Bapak Solomon Tong menjuluki Pauline sebagai "One of The Best Sopranos in Indonesia”.

Konser itu juga menampilkan violinist remaja SAMUEL ADIDHARMA LUKITO yang memainkan "Concerto in A Minor" gubahan A. Vivaldi diiringi piano oleh ANGELIA SOEGITO dengan cantik dan sempurna. Samuel yang berusia 14 tahun, adalah pemain biola masa depan.

Ada juga "Concerto for Two Violin in D Minor" gubahan J.S. Bach yang dimainkan oleh dua gadis remaja NADIA NATHANIA berumur 12 tahun dan SHERLY BASOEKI berumur 14 tahun dengan gaya Baroque yang sempurna dengan diiringi oleh string orchestra yang sangat indah.

Puncak konser adalah “Piano Concerto No. 2 in Bb Major Op. 19” gubahan L.V. Beethoven yang dimainkan oleh pianis berbakat AERIN ANGGONO berumur 13 Tahun dalam tiga movement lengkap. Aerin mulai belajar piano pada usia empat tahun di bawah bimbingan Ibu ESTER KARLINA MAGAWE, istri konduktor SSO Bapak Solomon Tong.

Ketekunan belajarnya dengan bimbingan guru piano yang berpengalaman dan berkapabilitas tinggi disertai dukungan moril maupun material dari orang tua dalam kurun waktu hanya tiga bulan persiapan, Aerin sudah dapat memainkan concerto yang sulit ini dengan sempurna selama 35 menit dihafalnya dengan nyaris tidak terdapat cacatnya sedikit pun.

Movement (bagian) I bertempo cepat bersemangat, Aerin memainkannya dengan sempurna apalagi pada bagian cadenza yang membutuhkan kerjasamanya dengan orkestra yang begitu rapi dan pas. Movement (bagian II) adalah puncak dari perkembangan ekspresi yang dengan begitu lembut serta dalamnya perasaan dan bertempo adagio lambat-pun dimainkannya dengan indah, membuat para pendengar terlarut dalam suasana bak indahnya dunia mimpi.

Sebagai penutup dari concerto ini, Movement/bagian III yang bertujuan sebagai rekapitulasi dua movement sebelumnya juga dimainkan dengan jelas.

Sebuah sajian tersendiri yaitu lagu trio " Vengo ! Aspettate ! " yang diambil dari opera " Le Clemenza di Tito " gubahan W. A. Mozart dibawahkan oleh Pauline, Dewi dan Sam. Juga begitu enak didengar secara harmonis polyphone.

Kemudian konser ditutup dengan dua buah lagu paduan suara, yaitu "Freuden Lied" dari oratorio "Die Jahreszeiten" gubahan J. Haydn, dengan tiga orang soli yaitu Pauline, Tertiusanto dan Sam ; dan lagu berjudul "Regina Coeli" gubahan WA Mozart dengan empat orang soli: PAULINE, AGNES STEPHANI, TJOKRO, dan SAM. Paduan suara telah tampil dengan sukses dan mampu mengatasi faktor kesulitan yang begitu menantang.


SEKILAS TENTANG SURABAYA SYMPHONY ORCHESTRA

Didirikan pada tahun 1996, Surabaya Symphony Orchestra (SSO), bersama conductor Dr. Solomon Tong, telah berhasil menggelar 4 - 6 kali konser setiap tahunnya, dengan total 53 konser berskala 1,000 penonton di setiap konsernya.

SSO merupakan satu-satunya orkestra di Indonesia yang berdiri secara permanen dalam artian selain belum pernah mengalami pergantian nama ataupun bentuk organisasi sejak didirikannya; orkestra yang menerapkan kode format internasional dengan komposisi jumlah alat tiup, gesek, perkusi, piano, dan harpa ini pun wajib untuk berlatih secara rutin dengan tidak terpengaruh oleh ada atau tidak adanya even.

Demikian juga dengan Paduan Suaranya yang diberi nama Surabaya Oratorio Society (SOS) dan SSO Girls & Children Choir yang rutin berlatih setiap minggunya.

Dengan berjalannya waktu, SSO merasakan adanya kebutuhan untuk mendirikan sekolah musik yang berkiblat pada musik orkestra klasik internasional dalam mempersiapkan regenerasi dari 56 pemain tetapnya dan sekarang sekolah yang telah berdiri selama sekian tahun dengan Kepala Sekolah Ibu Ester Karlina Magawe ini telah memiliki beberapa kelompok ensembel yang dilatih oleh 5 orang asisten conductor dari Bapak Solomon Tong, sebagai calon penerus dari orkestra kebanggaan kota Surabaya ini.

Dengan motto LET THERE BE MUSIC, segala upaya ditempuh oleh Yayasan Surabaya Symphony Orchestra, yang merupakan sebuah yayasan non-profit yang mengusung misi kebudayaan, dengan General Managernya, Sam W. Tong, untuk memasyarakatkan musik klasik di Indonesia pada umumnya dan Surabaya pada khususnya.

Maka, selain dari orkestra dan sekolah musik tersebut, SSO juga menerbitkan buletin musik klasik bulanan CLASSICO yang berisikan pengetahuan/info musik klasik bagi masyarakat Surabaya secara cuma-cuma untuk melengkapi kerja samanya dengan salah satu radio swasta melalui acara musik klasik dalam mengedukasi masyarakat.

Selain itu, studio rekaman bernama EQ Record pun didirikan untuk memenuhi kebutuhan dari komunitas SSO, khususnya para murid sekolahnya dalam mengasah ketrampilannya sebagai pemusik profesional.

23 August 2007

Sejarah Gereja Katolik di Bali



FOTO: Para bocah Katolik Bali sedang misa di Gereja Tuka. Mereka merupakan orang Katolik generasi keempat sampai kelima.

Kedatangan agama Katolik di Bali mula-mula banyak mendapat cobaan dan kesulitan. Semua tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tapi pelan, namun dengan penyertaan Tuhan, semua itu bisa dilalui.


Bali, yang kini terkenal di seluruh dunia karena kebudayaan dan agama Hindu dengan segala keunikannya, sejak dahulu sudah menunjukkan adanya kesediaan untuk menerima masuknya agama Katolik. Satu dokumen yang mendukung hal ini adalah sepucuk surat di atas daun lontar yang ditunjukkan kepada orang-orang Portugis di Malaka pada tahun 1635. Dalam surat itu raja Klungkung mewakili raja-raja Bali menulis:

“Saya senang sekali jika mulai sekarang kita bersahabat dan orang datang ke pelabuhan ini untuk berdagang. Saya pun akan senang sekali jika imam-imam datang ke sini agar siapa saja yang menghendaki dapat memeluk agama Kristen."

Undangan Raja Klungkung itu mendapat sambutan dari Gereja Katolik Portugis dengan diutusnya dua misionaris Yesuit ke Klungkung Bali. Kedua pastor tersebut adalah Pater Mamul Carvalho SJ dan Pater Azemado SJ dari Malaka.

Namun, tidak adanya bukti-bukti yang menyatakan adanya hasil dari kedua pastor tersebut. Apalagi dengan adanya kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda untuk mempertahankan Bali agar bebas dari pengaruh agama Kristen melalui Pasal 177 yang terkenal itu. Maka, makin sulit bagi agama Katolik masuk ke Pulau Bali.

Kemudian, atas permohonan Vilkaris Apostolik Betawi, Gubernur Jendral Hindia-Belanda memberi izin dalam tahun 1891 bagi dua misionaris masuk di Buleleng. Surat gubernur jenderal itu yang antara lain berbunyi:

“Dari pihak saya tidak ada keberatan bila satu atau dua misionaris mulai menetap di Buleleng…… dengan maksud mempelajari bahasa Bali, dan sesudah itu menetap di Buleleng untuk mulai karya misi di antara penduduk setempat.''

Selanjutnya, pada 1912 Kepulauan Sunda Kecil diserahkan oleh Yesuit ke tangan imam-imam Societas Verbi Divini (SVD). Tahun 1913 wilayah Sunda kecil ditingkatkan statusnya menjadi Prefektur Apostolik yang meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, dan Timor.

Pada bulan Desember 1914 Mgr. Noyen yang menjabat Prefek Apostolik Sunda Kecil mengadakan kunjungan keagamaan ke Bali, setelah dengan susah payah mendapat izin dari pemerintah Belanda. Di samping izin untuk mengadakan kunjungan keagamaan, bahkan dalam tahun 1920 pemerintah mengabulkan permohonan Mgr. Noyen SVD untuk mendirikan sebuah sekolah Katolik di Bali. Namun, sayang sekali, kesempatan emas ini tidak dapat dimanfaatkan karena kekurangan tenaga.

Ternyata kesempatan tersebut tidak mudah diperoleh lagi, walaupun pengganti Mgr. Noyen yang meninggal tahun 1922, yakni Mgr. Verstralen, mengajukan permohonan untuk mendirikan HIS di Bali tidak mendapatkan persetujuan dalam Volkstraad.

Harapan muali muncul kembali sewaktu Mgr. Leven menjabat Vikarius Apostolik mengantikan Mgr. Verstralen yang meninggal karena kecelakaan tahun 1932.
Dan harapan itu pun menjadi kenyataan dalam tahun 1935, ketika Pater Van Der Heijden menjadi pastor di Mataram, Lombok.

Pater Van Der Heijden mendapatkan pula tugas khusus untuk mengadakan kunjungan rohani ke Bali dan Sumbawa. Dan sejak itu mulailah titik awal masuknya Gereja Katolik ke Bali. Tanggal 14 Mei 1935 Van Der Heijden menetap di Mataram, dan 9 Juni 1935 Gereja Katolik pertama didirikan dan diresmikan di kota Mataram. Tanggal ini dipandang sebagai hari masuknya karya Gereja Katolik di Pulau Lombok.

Empat bulan kemudian, persisnya 11 September 1935, Pater Van Der Heijden mengantar Pater J. Kersten SVD ke Denpasar dan mulai menetap di Denpasar. Dan hari tersebut dipandang sebagai tonggak perkembangan agama Katolik di Bali.

Tempat yang menjadi ladang pertama adalah Banjar Tuka, Dalung. Pada November 1935, dua pemuda Bali dari Banjar Tuka, yakni I Made Bronong (Pan Regig) dan I Wayan Diblug (Pan Rosa), datang ke Denpasar dan bertemu Pater Kersten SVD.

Dan Roh Kudus mulai berkarya dalm diri kedua pemuda tersebut ketika keduanya dipermandikan secara Katolik pada Hari Pentakosta, 6 Juni 1936. Saat yang penting itu disusul pula dengan peetakan batu pertama Gereja Katolik Tuka, tepatnya pada 12 Juli 1936 oleh Pastor J. Kersten SVD.

Acara ini dihadiri oleh Pater Van Der Heijden dan Pater Conrad SVD. Dan ternyata benih iman yang baru tumbuh ini dengan cepat berkembang menyusul pula dua tokoh lain di samping I Made Bronong dan I Wayan Diblug, yakni Pan Maria dan I Made Tangkeng (Pan Paulus).

Melalui semangat iman pertama ini, Roh Kudus berkarya dengan hasil yang besar. Dengan datangnya seorang pastor terkenal dalam tahun 1936, Pater Simon Buis SVD, Injil lebih disebarkan lagi, khususnya di pedalaman Pulau Bali. Dengan semangat berkorban dan cinta kasih, Pater Simon Buis mencari orang-orang Bali dan membawa mereka ke kandang Tuka.

Tahun 1938, sebanyak 128 orang dipermandikan di Tuka, Padangtwang, dan Gumbrih. Bulan Februari 1938, Pastor Ade Boer memperkuat barisan imam untuk melayani umat yang semakin banyak.



Pastor Simon Buis pada tanggal 15 September 1940 berhasil mengadakan eksodus dari Tuka dan sekitarnya ke ujung Barat pulau Bali dan membuka desa ditengah-tengah hutan yang kini terkenal sebagai desa Palasari. Dalam eksodus tersebut pastor yang keras kemauannya, dengan penuh semangat membawa 18 keluarga dari Tuka dan 6 keluarga dari Gumbrih untuk mulai tempat pemukiman yang baru itu.

Tantangan pertama mulai menghadang, yakni terasa kurangnya gembala, lebih-lebih pada masa pendudukan Jepang. Para misionaris Katolik ditahan oleh Jepang. Dalam masa yang sulit ini, para tokoh telah membuktikan diri sebagai tenaga-tenaga katekis yang penuh semangat memberikan kesaksian tentang kabar gembira yang telah meraka terima. Mereka benar-benar menjadi tokoh yang tangguh dalam mengisi kekosongan tenaga iman dalam masa pendudukan Jepang.

Di Tuka dan sekitarnya, tokoh awam yang dikenal adalah Pan Regig, Pan Rosa, Pan Paulus, Pan Maria, dan Anak Agung Nyoman Geledig dari Tangeb. Dan Palasari maju dengan pesat berkat bantuan seorang rasul awam wanita, Ibu Ayu, yang berkarya di bidang medis.

Kabar gembira yang dibawa oleh para misionaris perintis dan misionaris sesudahnya diwujudkan melalui karya sosial terhadap orang miskin, karya pengobatan terhadap orang sakit, karya pendidikan, dan karya sosial lain seperti asrama dan panti asuhan baik untuk putra maupun putri.

Melalui karya-karya tersebut, secara nyata kabar gembira disampaikan kepada masyarakat Bali, khususnya yang hidup di pedesaan. Maka, pada 1939 Gereja Gumbrih diresmikan, disusul Gereja Padangtawang, September 1940. Kemudian Gereja Tangeb pada 8 Desember 1940, dan Gereja Palasari pada 19 Juni 1941.




Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, misi Katolik di Bali yang kocar-kacir karena kehilangan gembalanya mulai dibenahi lagi. Puji Tuhan, perkembangan memperlihatkan garis yang menanjak. Tanggal 14 Juli 1950 daerah Bali dan Lombok dipisahkan dari Sunda Kecil, dan menjadi Prefektur Apostolik di bawah pimpinan Mgr. Hubertus Hermens SVD.

Dalam masa jabatan beliau, karya-karya karikatif dan edukatif berkembang pesat. Hal ini membawa perkembangan baru dalam penambahan lapangan kerja dan kebutuhan akan tenaga kerja yang banyak.

Babak baru bagi karya para suster pun mulai, dan datanglah para Suster Fransiskanes dari Semarang tahun 1956 ke Desa Palasari dan Suster-Suster Abdi Roh Kudus (SSpS) di Ampenan tahun 1952. Kelak di kemudian hari disusul pula oleh suster-suster kongregasi lain seperti CB, RVM, CIJ, dan ALMA.

Di balik itu semua, suatu hal yang dapat dikatakan istimewa bagi gereja yang baru berkembang ini adalah didirikannya sebuah SMP Seminari dalam tahun 1953 di Tangeb di bawah pimpinan Pater Norbert Shadeg SVD. Atas dasar beberapa pertimbangan, Seminari Rendah ini pada 1956 dipindahkan ke Tuka.

Melalui banyak perjuangan, seminari ini tetap hidup dan berkembang dan ternyata membuahkan hasil mulai tahun 1969. Tiga belas tahun kemudian, pastor asli Bali yang pertama berhasil ditahbiskan. Yakni, Patrr Servatius Nyoman Subhaga SVD pada 9 Juli 1969 di Gereja Paroki Roh Kudus Babakan.

Benih panggilan imam, suster, bruder, ternyata tumbuh sangat subur di Pulau Bali. Dalam jangka waktu relatif singkat sejak seminari didirikan, yakni selama 29 tahun, telah ditahbiskan 19 imam dari pemuda asal Bali.

Kemudian, 65 gadis asli Pulau Dewata ini menghayati hidup sebagai suster dan 13 pemuda sebagai bruder. Dibandingkan dengan jumlah umat di Keuskupan Denpasar yang berjumlah sekitar 13.000 orang, maka persentase panggilan imam, suster, dan bruder di Bali cukup tinggi.

Satu langkah maju lagi dalam perkembangan Gereja Katolik Bali adalah dengan ditingkatkannya Prefektur Apostolik Bali menjadi Keuskupan Denpasar tanggal 3 Januari 1961. Bapa Uskup pertama Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden SVD ditahbiskan menjadi uskup di Gereja Palasari pada 3 Oktober 1961.

Pada masa ini karya Gereja Katolik Bali sudah meliputi bidang pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, dan Sekolah menengah. Dalam bidang medis melaui Poliklinik, BKIA, dan rumah sakit yang tersebar di Tuka, Tangeb, Gumbrih, Palasari, Denpasar, dan Singaraja. Di Lombok terdapat Rumah Sakit Santo Antonius di Ampenan.

Asrama atau panti asuhan dan pemberian bea siswa bagi anak-anak yang disekolahkan di luar Bali secara khusus digalakkan oleh Mgr. Hubertus Hermens SVD. Ternyata, karya-karya kreatif ini telah banyak membawa orang menjadi pengikut Kristus.



Setelah masa-masa indah yang mengembirakan, masa panen yang banyak, maka datanglah saat-saat sulit bagi perkembangan Gereja Katolik di Bali. Masalah kuburan yang ada kaitannya dengan hukum adat di Bali ternyata sempat membuat terbendungnya perkembangan umat di beberapa pedesaan, khususnya di diaspora-diaspora pedesaan di mana iman baru mulai ditaburkan.

Dengan adanya kenyataan bahwa kuburan adalah milik Pura Dalem serta banyak penyungsung (umat Hindu) yang berhak dikuburkan di kuburan umum tersebut, maka umat yang bukan Hindu tidak boleh dikuburkan di situ. Hal ini cukup membawa pengaruh negatif bagi umat Katolik di pedesaan dan membuat para katekumen (calon baptisan)dan banyak simpatisan Katolik mundur. Mereka takut tidak mendapat kuburan ketika meninggal dunia.

Maklum, masalah kuburan bagi orang Bali, merupakan hal ang luar biasa pentingnya. Karena itu, perkara tersebut telah mempengaruhi, bahkan menghambat perkembangan umat Katolik, khususnya di pedesaan di mana hukum adat sangat kuat. Jenazah orang Katolik akhirnya dikuburkan di halaman rumah orang Katolik. Hal mana menurut pandangan umat Hindu saat itu sebagai "najis".

Maka, akhirnya ditemukan jalan keluar berupa pemisahan kuburan bagi umat beragama Kristen.

Hal lain yang boleh dikata sebagai mengurangi penganut Katolik di Pulau Bali adalah program transmigrasi besar-besaran umat Katolik ke Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra. Ini sejalan dengan kebijakan rezim Orde Baru untuk mengurangi kepadatan penduduk dan pemerataan penduduk di Indonesia.

Ternyata, banyak umat Katolik dan Protestan di beberapa kawasan Bali berbondong-bondong bertransmigrasi ke luar pulau. Diperkirakan, jumlah transmigran Katolik yang keluar Bali pada saat itu 5.000 jiwa. Mereka terpencar di daerah transmigran dan sangat memerlukan perawatan rohani mengingat iman Katolik mereka belum mantap.

Akhirnya, dikirimlah seorang pastor ke daerah transmigrasi tersebut dan secara khusus memperhatikan kebutuhan rohani para transmigran Katolik di Sulawesi.

Namun, di tengah-tengah kesulitan dan rintangan, Gereja Katolik sampai sekarang tetap tegak di Pulau Bali. Kita percaya Roh Kudus secara nyata tetap berkarya sehingga stasi-stasi baru tetap dapat dirintis. Paroki juga semakin berkembang walaupun tidak lagi sepesat seperti masa kejayaan dulu.



FOTO: Misa di Gereja Katolik Kuta, Bali. Turisnya gaul abis deh!


Keuskupan Denpasar punya 14 paroki induk dan stasi yang tersebar di berbagai wilayah di Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB):

1. Denpasar
2. Tuka
3. Gumbrih/Slabih
4. Tangeb, Abianbase, Cemagi dan Sading
5. Singaraja
6. Palasari dan (candikuning) Gilimanuk
7. Tabanan dan Piling
8. Babakan dan Kelibul
9. Negara
10. Tuban
11. Amlapura
12. Mataram
13. Ampenan
14. Gianyar


Perkembangan jumlah umat Katolik di Bali sejak 1836 sampai 1983:

1936 – 1937: 145 orang
1937 – 1938: 246 orang
1938 – 1939: 323 orang
1939 – 1940: 389 orang

1940 – 1941: 470 orang
1946 – 1947: 1.266 orang
1947 – 1948: 1.237 orang
1948 – 1949: 1.304 orang
1979 : 10.415 orang

1980 : 10.851 orang
1981 : 11.337 orang
1982 : 12.066 orang
1984 : 12.140 orang
1985 : 13.016 orang
1986 : 13.565 orang

BAHAN: dari berbagai sumber, terutama dikumpulkan oleh PATER SHADEG SVD.

20 August 2007

Durian bangkok, penjajahan gaya baru

Jual duren bangkok di pinggir jalan raya Pandaan, Jatim. 


Benarkah kita sudah merdeka? Apa makna Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 1945? Yang jelas, kita semakin dijajah oleh berbagai produk impor, khususnya komoditas pertanian.


Pada 17 Agustus 2007 saya melakukan refleksi kecil-kecilan di pasar buah pinggir jalan. Aha, saya tertarik pada buah durian yang elok dipandang. Durian impor. Tepatnya, durian bangkok.

Jawa Timur, mungkin juga kota-kota lain di Indonesia, memang sudah lama diserbu buah-buahan impor. Durian alias duren. Duku. Leci. Apel. Jeruk. Anggur. Pir. Naga. Paling banyak dari Thailand. Dan masih banyak lagi.

Nah, durian bangkok itu akhirnya saya beli Rp 50 ribu sebuah. Rata-rata durian bangkok di Jawa Timur berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 80 ribu. Jauh lebih mahal dibandingkan dengan durian lokal.

Saya mendengarkan lagu-lagu kebangsaan, saya nikmati durian bangkok. Hmm.. lezat nian. Manis. Dagingnya sangat tebal. Biji sangat kecil. Nyaris sempurna. Kok bisa ya buah-buahan kok bisa sesempurna itu?

Sebagai alumnus Fakultas Pertanian, saya tentu paham proses pemuliaan tanaman dengan rekayasa genetika. Teman-teman kita di Thailand melakukan riset luar biasa untuk menghasilkan produk pertanian berkualitas terbaik. Berkat teknologi pertanian, Thailand menjadi negara yang sangat unggul di bidang pertanian.

Bagaimana dengan kita, Indonesia? Contoh sederhana: durian. Saya biasa membeli durian yang dijajakan di sepanjang Jalan Raya Pepelegi [Aloha] Sidoarjo - saat musimnya dua bulan lalu. Sekarang tak musim lagi, sehingga diisi durian bangkok [thailand]. Harganya murah: ada Rp 5.000, Rp 10 ribu, Rp 15 ribu. Paling mahal ya Rp 25 ribu.

Bagaimana rasanya? Pepatah lama bilang 'alah membeli menang memakai'. Benar-benar parah. Jauh sekali dibandingkan dengan durian bangkok. Durian kita tak ada jaminan mutu. "Silakan anda beli yang Rp 5.000, tapi saya nggak berani menjamin rasanya seperti apa. Anda tahu sendiri lah," kata Ahmad, pedagang asal Madura.

Saya nekat beli. Saya berharap, pedagang berlogat Madura ini tidak sampai hati menipu saya. Hari itu lima butir durian saya bawa pulang ke rumah. Lalu, saya buka. Amboi, semuanya [kelima-limanya] tidak layak dimakan karena busuk. Saya pun memaki-maki si penjual, tapi mau bilang apa. "Risiko anda tanggung sendiri," begitu pesan si pedagang buah-buahan di pinggir jalan raya itu.

Besok, lusa, beberapa hari kemudian, saya berusaha menemui si pedagang buah di jalan raya. Benar dugaan saya. Si penjual durian buruk itu tak ada lagi. Yang ada wajah-wajah baru dengan produk yang sama. Sejak saat itu saya trauma membeli durian lokal di pinggir jalan Sidoarjo, Surabaya, Malang. Sebab, uang kita habis, sementara kepuasan tidak ada.

Saya pernah lihat di televisi Presiden Susilo panen durian bersama wartawan. Pak Susilo saya lihat sangat menikmati durian lokal itu. "Hmm... enak sekali," katanya di televisi.

Tapi, maaf saja, saya belum percaya. Sebab, berbagai buah-buahan lokal di Jawa Timur mutunya sangat buruk. Pemerintah tidak berani jamin mutu, apalagi pedagang kecil macam orang-orang Madura itu. Bangsa kita sudah telanjur jadi 'homo homini lupus'. Menjadi serigala bagi sesama. Biasa menipu sesama anak bangsa tanpa rasa bersalah. Inikah hikmat kemerdekaan itu?

Terus terang, saya iri sama pemerintah Thailand. Meskipun sering terjadi kudeta, perhatiannya sama petani luar biasa. Semua produk pertanian Thailand ditempeli label. Bahwa pemerintah menjamin mutu buah-buahan atau sayur-mayur. Dijamin buah-buahan yang kita beli tidak busuk seperti di Aloha, Sidoarjo. Dijamin pedagang tidak akan lari setelah menjual buah berkualitas jelek.

Tulisan di label durian bangkok itu begini:

For quality problem, please contact Agricultural Product Export Promotion Center, Ministry of Agriculture and Cooperatives Thailand. Tel: 66-29406320-1 Fax: 66-29406322 E-mail: apepc@doa.go.th. Website: www.successimp-expfuits.com

Saya sangat malu menjadi manusia Indonesia. Manusia yang kurang [bahkan tak pernah] mementingkan kualitas. Manusia tak bertanggung jawab, tega menjual produk busuk kepada sesama bangsa. Manusia yang lupa asal-usul bahwa bangsa ini bangsa agraris. Manusia yang keblinger sehingga produk-produk pertanian pun harus diimpor, sementara tanah pertanian di Indonesia sangat luas.

Hancurnya pertanian kita, ditandai membanjirnya produk-produk impor di plasa, mal, bahkan kaki lima. Durian pakai impor. Apel impor. Jeruk impor. Jagung impor. Kedelai impor. Ubi kayu impor. Beras yang notabene makanan pokok kita pun sudah impor.

Mau dibawa ke mana negara ini kalau ketahanan pangannya ambruk seperti sekarang? Pramoedya Ananta Tour, penulis dan novelis besar kita, mengatakan bahwa sebuah bangsa yang melupakan produksi, hanya melulu konsumsi, cepat atau lambat akan hancur. Tanpa produksi, maka kita hanya menjadi konsumen yang rakus.

Pusat belanja modern berdiri di mana-mana sebagai simbol konsumsi berlebihan bangsa ini. Badan boleh miskin, pendapatan pas-pasan, yang penting bergaya, Bung! Maka, di Surabaya pemerintah kota memihak kaum kapitalis dengan menjual habis semua ruang terbuka untuk plasa, mal, hipermarket, dan pusat-pusat belanja [konsumsi] lainnya.

Kapan ya pemerintah kita memikirkan buah-buahan, sayur-mayur, peternakan, pengolahan makanan macam di Thailand? Kapan ya pemerintah kita memakmurkan petani? Kapan ya kita membanjiri negara-negara lain dengan produk-produk pertanian? Kapan ya pemerintah dan birokrat kita tidak korupsi? Tidak makan suap? Ah, malu lah awak jadi bangsa Indonesia.

Masih dalam suasana tujuh belasan, kita kembali dikejutkan oleh kasus buruh migran kita yang dianiaya di Malaysia. Parsiti nekat melarikan diri dari lantai 17 apartemen majikannya. Bulan sebelumnya Ceriyati juga melakukan hal serupa di Kuala Lumpur, juga dari lantai 17. Beberapa kain diikat, dijadikan tali untuk bergelantung ala Spiderman. Wah.. gila!

Masih suasana kemerdekaan, beberapa perempuan pekerja kita di Malaysia tewas disiksa oleh majikannya. Kasus memalukan, dan seharusnya memalukan bangsa kita, ini terus berulang. Tapi, seperti biasa, pemerintah kita tidak pernah berpikir jauh ke depan untuk mengatasi akar masalahnya.

Pernyataan-pernyataan Menteri Luar Negeri dan Menteri Tenaga Kerja, bahkan Presiden Susilo [doktor pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor], sejak dulu saya nilai belum sentuh akar masalah. Nanti, kalau ada kasus lagi, dia ulangi statemen itu. Saya ketawa, tapi juga sedih. Sebab, pemerintah kita cenderung berpikir pendek, kasuistik, nyaris tidak mau menyentuh akar masalah.

Bagi saya, kasus durian bangkok yang membanjiri Jawa Timur, dengan kualitas sangat bagus, merupakan bukti nyata bahwa produk-produk pertanian sesungguhnya efektif menjadi komoditas ekspor andalan. Bayangkan, ribuan hektare lahan dibuka dan digarap dengan manajemen modern ala Thailand. Berapa banyak pekerja yang bisa diserap?

Nilai tambah akan sangat banyak. Sehingga, jutaan perempuan Indonesia, yang asalnya petani, tidak perlu diekspor jadi babu di Malaysia atau Timur Tengah. Tapi, apa boleh buat, pemerintah kita membiarkan bangsanya jadi babu di luar negeri [ada juga yang jadi pelacur lho!] daripada serius mengurus bidang pertanian. Indonesia ambuk karena sektor pertanian ditelantarkan.

Ah, jangan-jangan yang kerja di kebun durian di Thailand atau kebun sawit di Malaysia ternyata orang Indonesia juga?

Riwu Ga, orang NTT penyebar berita proklamasi RI


Riwu Ga begitu dekat dengan Bung Karno karena dia satu-satunya yang berada di samping Bung Karno pada saat-saat yang paling berat dalam perjuangan ini.

-- MEGAWATI SOEKARNOPUTRI, 6 September 2004.


Siapa yang kenal almarhum Riwu Ga? Mungkin ada, tapi sangat sedikit. Padahal, orang Nusatenggara Timur (NTT) asal Pulau Sabu ini telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa untuk Republik ini. Saya, yang kebetulan orang Flores, NTT, ikut bangga dengan beliau. Ternyata, orang kecil macam Riwu Ga punya kontribusi besar untuk Indonesia.

Cerita tentang Riwu Ga sudah ditulis Peter A. Rohi, wartawan senior asal NTT, dan diterbitkan menjadi buku. Peter menulis bagaimana Riwu Ga mendampingi Bung Karno [Ir. Soekarno] selama 14 tahun. Sejak di tanah pembuangan, Ende [Flores], ke Bengkulu, Jakarta, hingga Bung Karno menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Mengutip buku karya Peter A. Rohi, Riwu Ga berperan penting dalam penyebaran berita proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, Soekarno, Hatta, dan para pejuang lainnya mendengarkan proklamasi dan mengibarkan bendera merah putih. Bung Karno, tutur Riwu Ga, menyanyi Indonesia Raya keras-keras.

"Upacara berlangsung sederhana, tapi banyak yang menangis. Saya juga ikut menitikkan air mata," cerita Riwu Ga kepada Peter A. Rohi di pelosok Pulau Timor, NTT, Agustus 1991. Peter perlu merayu pelaku sejarah ini agar mau buka mulut tentang pengalamannya mendampingi Bung Karno.

"Wo, kini giliran angalai (anda). Sebarkan pada penduduk Jakarta bahwa kita sudah merdeka. Bawa bendera!" perintah Bung Karno kepada Riwu Ga, yang akrab dia sapa Wo.

Maka, Riwu Ga membawa bendera merah putih di atas jip terbuka yang dikemudikan Sarwoko.

"Saya melambai-lambaikan bendera itu. Rakyat berjubel menyambut kami. Saat itu memang tegang. Siapa tahu tiba-tiba kami dicegah atau ditembak Kenpeitai. Tapi ini tugas nasional dari Bung Karno. Maka, saya pun berteriak memberitahukan penduduk Jakarta yang tumpah ke jalan: Hei, rakyat Indonesia, hari ini kita sudah merdeka!"

Ucapan Riwu Ga beroleh sambutan. Semua oang di sepanjang jalan mengepalkan tangannya ke atas, lalu berpekik, "Merdeka! Merdeka!"

Dari Pegangsaan Timur, Riwu Ga bergerak ke Tanah Abang, Pasar Baru, Jatinegara, Pasar Ikan... seluruh sudut Jakarta. Hari itu, tulis Peter A. Rohi, penduduk Jakarta mendengar berita proklamasi kemedekaan dari mulut Riwu Ga, orang NTT. Tidak mungkin dengar radio karena sudah disegel pasukan Jepang.

Sore hari, setelah mendengar berita proklamasi, warga Jakarta berkumpul di Pegangsaan Timur. Banyak yang bawa senjata siap siaga menghadapi segala kemungkinan. "Saya dengar mereka bisik-bisik untuk melucuti tentara Jepang. Kita harus punya tentara, dan tentara itu haus punya senjata. Begitu kata penduduk," papar Riwu Ga.

Seperti diketahui, proklamasi 17 Agustus 1945 berlangsung pada hari Jumat, bulan Ramadan atau puasa. Ketika azan magrib dikumandangkan, rakyat yang berkumpul di Pegangsaan melakukan sujud syukur. Ada yang ke masjid. Ada yang salat di halaman rumah. Lalu, buka puasa bersama-sama.

Pesan Bung Karno ketika masih berada di Flores, 1934-1938: "Kalau sudah merdeka, tidak ada lagi Jawa, tidak ada lagi Timor, Flores, atau Sabu."

Esok harinya, 18 Agustus 1945, Bung Karno resmi menjadi presiden. Kepala negara tentu membutuhkan ajudan, pembantu, staf administrasi... yang cakap. Riwu Ga merasa tahu diri dan minta pamit pada Bung Karno dan Ibu Fatmawati.

"Saya orang kampung, buta huruf lagi. Tapi saya sudah siap kembali ke kampung halaman saya," ujar Riwu Ga.

Sabtu, 17 Agustus 1996, sekitar pukul 18.10 Witeng, Riwu Ga meninggal dunia di Rumah Sakit W.Z. Johannes, Kupang, setelah dirawat selama tiga minggu karena tifus dan komplikasi. Usianya 78. Riwu Ga meninggalkan istrinya, Belandina Riwu Ga, bersama sembilan anak dan 16 cucu.

Tak ada pesan atau wasiat apa pun dari almarhum Riwu Ga. Almarhum juga tak pernah meminta dimakamkan di taman makam pahlawan atau minta gelar pahlawan nasional. "Orang tua kami hidup sederhana. Selama hidup beliau tak pernah minta fasilitas kepada pemerintah," kata Nona Ritha Foeh, keluarga Riwu Ga.

Tentang Riwu Ga, Megawati Soekarnoputri [anak Bung Karno, mantan presiden] menulis:

"Riwu Ga menjadi sekrup kecil yang sangat menentukan ketika sejarah menemukan jalannya. Andaikata dia tidak ada, andai kata dia tidak dekat dengan Bung Karno, dan sejuta andai kata lagi, bisa membelokkan sejarah negeri ini."

17 August 2007

Bingky Irawan, pejuang Konghuchu


Kamis siang di Jl Raya Sepanjang, Taman, Sidoarjo. Panas terik membakar kawasan pertokoan lama di perbatasan Surabaya-Sidoarjo itu. Suasana di sebuah toko pracangan terlihat sangat sibuk. Ada pekerja yang hilir-mudik memikul barang. Pembeli minyak tanah, beras, minyak goreng, terigu, dan sebagainya.

Oleh: LAMBERTUS L. HUREK

Semua bicara keras-keras, dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, layaknya pasar tradisional. Belum lagi deru suara kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalan raya utama Sepanjang itu. Setelah menunggu sekitar 20 menit, seorang pria paro baya keluar menemui saya. Kami pun bersalaman.

"Yah, begini inilah suasana di toko saya. Dari dulu, ya, sama saja. Yang penting, kita syukuri sajalah hidup ini," ujarnya.

Laki-laki itu tak lain Bingky Irawan alias Poo Sun Bing. Dia pemilik toko tua yang terkesan 'kuno dan berantakan' itu. Bingky, warga keturunan Tionghoa, seperti membiarkan siapa saja masuk-keluar tokonya, sekadar melihat-lihat barang, belanja, atau ngobrol dengan keluarganya. Bingky menyambut hangat setiap pelanggan atau warga sekitar yang mampir ke toko merangkap rumahnya. Silakan tanya beberapa tukang parkir di situ, mereka niscaya mengenal benar Bingky Irawan berikut sepak terjang dan kesehariannya.

Bingky Irawan tak sekadar pedagang di Pasar Sepanjang. Sejak Orde Baru pria sederhana ini dikenal sebagai pemuka agama Konghuchu di Jawa Timur, bahkan Indonesia. "Sekarang ini saya sudah ditarik ke pusat, sebagai anggota presidium Matakin. Saya baru saja dari Jakarta karena kebetulan ada acara di sana," paparnya.

Matakin singkatan dari Majelis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia, semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk agama Islam. Matakin mengurus berbagai hal seputar Konghuchu dari Sabang sampai Merauke, mulai dari soal ritual, rumah ibadah (kelenteng), hingga hubungan antaragama dan pemerintah.

"Dulu saya kan hanya berkutat di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Sekarang dipecaya ke pusat, ya, saya jalani saja. Ini amanah," ujar Bingky Irawan, tokoh yang sangat dekat dengan KH Abdurrahman Wahid, mantan presiden Republik Indonesia sekaligus kiai senior Nahdlatul Ulama.

Berbeda dengan pedagang Tionghoa umumnya yang hanya melulu berdagang, urus bisnis, jarang terlibat dalam aktivitas sosial kemasyarakatan, Bingky Irawan sejak dulu aktif di majelis agama Konghuchu. Bahkan, karena beleid pemerintah Orde Baru yang menafikan kaum Konghuchu,
Bingky pun tumbuh sebagai agamawan sekaligus aktivis. Sebagian besar waktunya diabdikan untuk memperjuangkan hak-hak sipil umat Konghuchu dan warga Tionghoa umumnya.
Tahun 1990-an merupakan puncak kesibukan ayah empat anak ini. Sibuk, karena saat itu umat Konghuchu--dibantu aktivis hak asasi manusia dan berbagai elemen masyarakat sipil--getol-getolnya melakukan dekonstruksi pakem politik Orde Baru. Sebagai pemuka Konghuchu, Bingky Irawan tampil di garis depan sebagai pejuang hak-hak sipil jemaatnya.

Asal tahu saja, waktu itu warga keturunan Tionghoa di Indonesia mengalami diskriminasi hampir di segala bidang. Ekspresi budaya Tionghoa dilarang keras. Harus ganti nama dan ganti agama. Rezim Orde Baru membakukan lima agama (Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha) sebagai agama resmi. Di luar lima itu dianggap bukan agama. Nah, warga Tionghoa yang kebanyakan beragama Konghuchu, seperti leluhurnya, pun apa boleh buat, harus mengingkari suara hatinya. Ingin selamat, ya, harus menyesuaikan diri.

"Makanya, selama Orde Baru kami sulit melakukan penataan manajemen organisasi. Melaksakan ritual agama pun tidak bebas. Selalu dihantui kekhawatiran," kenangnya.

Berdasar catatan Irianto Subiakto dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), sedikitnya ada 50 peraturan perundangan-undangan yang mendiskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia. Sebut saja Keputusan Presidium Kabinet Nomor 127 Tahun 1966 tentang peraturan ganti nama bagi WNI yang memakai nama Cina. Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 285 Tahun 1978 tentang larangan mengimpor, memperdagangkan, dan mengedarkan segala jenis barang cetakan dalam huruf, aksara, dan bahasa Cina. Instruksi Presidium Kabinet Nomor 37 Tahun 1967 tentang kebijaksanaan pokok penyelesaian masalah Cina.

Nah, sekian banyak aturan itu benar-benar membatasi warga Tionghoa di Indonesia. Mereka juga diawasi secara ketat, termasuk ketika beribadah di kelenteng masing-masing.

"Sudahlah, sekarang kita lihat ke depan saja. Apa yang terjadi di masa lalu kita anggap sebagai pelajaran. Mari kita mengambil hikmah untuk kebaikan bersama," ujar Bingky Irawan yang murah senyum itu.

#####
Singkat cerita, rezim Orde Baru yang otoriter dan represif itu akhirnya ambruk pada 21 Mei 1998. Presiden Soeharto lengser keprabon, tapi tak sempat mandeg pandhito karena menderita 'sakit permanen'.

Angin perubahan terasa di mana-mana. Ruang gerak warga Tionghoa dibuka perlahan-lahan. KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, tokoh NU yang belakangan menjadi teman dekat Bingky Irawan, tak dinyana terpilih sebagai presiden Republik Indonesia.

Sebuah kejutan politik yang luar biasa mengingat Gus Dur bukan tokoh dari partai politik besar. Kondisi fisik Gus Dur pun tidak prima. Bingky Irawan mengaku terkejut menyaksikan kenyataan politik itu. Kiai, budayawan, politikus, kolumnis... yang sejak beberapa tahun lalu getol membela hak-hak warga Tionghoa, khususnya orang Konghuchu, itu pun menjadi orang nomor satu di republik ini.

"Siapa yang mengira kalau Gus Dur menjadi presiden? Tapi, sebagai orang beragama, kita percaya bahwa itu semua sudah diatur oleh Tuhan yang Maha Esa. Kalau bukan karena kehendak Tuhan, nggak mungkin Gus Dur jadi presiden. Iya apa nggak?" tukas Bingky Irawan.

Di saat euforia reformasi masih terasa, Presiden Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000. Keppres ini mengatur antara lain penyelengaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Pada tahun 2001 Gus Dur kembali membuat gebrakan dengan menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif. Gus Dur sendiri hadir dalam perayaan Imlek tingkat nasional di Jakarta.

"Saya sangat terharu waktu itu. Seperti mimpi saja melihat seorang presiden hadir di perayaan Imlek," kenang Bingky Irawan. Bisa dipahami karena selama tiga dekade lebih tidak pernah ada perayaan Imlek maupun ekspresi seni budaya Tionghoa di tempat umum. Jangankan pejabat sekaliber presiden, pejabat rendahan macam kepala desa atau ketua rukun tetangga pun ramai-ramai menjauhi apa saja yang berbau Tionghoa.

Kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid kemudian diteruskan oleh Megawati Soekarnoputri, penggantinya. Presiden Megawati menetapkan Tahun Baru Imlek alias Sin Cia sebagai hari libur nasional. Ekspresi budaya, agama, seni, bahasa, dan segala sesuatu yang berbau Tionghoa pun bisa dinikmati di tanah air.

#####

Perjuangan panjang Bingky Irawan dan kawan-kawan untuk memulihkan hak-hak sipil warga Tionghoa berbuah manis. Berkat reformasi yang digerakkan mahasiswa di berbagai kampus. Berkat Gus Dur yang berani melawan arus. Bekat sokongan dari berbagai elemen civil society. Juga dukungan para tokoh lintas agama.

Bingky Irawan sendiri melakukan semacam reposisi. Kalau 1990-an hingga tahun-tahun awal reformasi selalu berada di depan, getol bicara soal hak-hak sipil orang Konghuchu (dan Tionghoa umumnya), bila perlu berperkara di pengadilan, memilih keluar dari hiruk-pikuk sorotan publik. "Saya kembali bekerja, beraktivitas seperti biasa," ujar kakek empat cucu itu.

Lantas, apakah perjuangan Bingky Irawan selesai? Sudah puas karena hak-hak sipil warga Konghuchu diakomodasi, bahkan Konghuchu sudah diakui sebagai salah satu agama yang dipeluk cukup banyak orang Indonesia?

Bingky menegaskan, yang namanya perjuangan itu tidak pernah mengenal kata selesai. Semua manusia, selama masih bernapas, akan terus berjuang di bidang apa saja. Perjuangan baru berakhir setelah ajal datang menjemput.
"Sekarang, menurut saya, perjuangan itu justru semakin berat," tegas Bingky Irawan.

"Kenapa begitu?" tanya saya.

"Okelah, sekarang hak-hak sipil sudah kita dapatkan. Mau beribadah dan melakukan apa saja sudah tidak ada halangan. Tapi itu kan baru tentang hak-hak sipil. Sekarang bagaimana dengan kewajiban kepada bangsa dan negara?"

Senyampang masih dalam suasana Hari Kemerdekaan RI, Bingky mengingatkan umat Konhuchu akan kewajibannya kepada nusa dan bangsa. Sebab, kadang-kadang orang terlalu getol menuntut, memperjuangkan, hak-haknya, tapi lupa dengan kewajibannya. Padahal, antara hak dan kewajiban harus berjalan seiring.

"Siapa pun dia, agama apa pun, punya kewajiban yang sama untuk republik ini," katanya.

Bingky Irawan mengaku prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang. Kenapa? "Kita mengalami krisis moral dan etika. Sebab, banyak pemimpin yang tidak lagi mengindahkan moral dan etika. Jauh sekali dari ajaran Rasulullah Muhammad SAW, Yesus Kristus, Buddha, Konghuchu.... Ini berbahaya untuk bangsa kita," begitu petuah Bingky Irawan.




Dekat dengan Keluarga Gus Dur

Kedekatan Bingky Irawan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU), sudah menjadi rahasia umum. Dalam berbagai acara, entah formal maupun informal, Bingky keap terlihat mendampingi Gus Dur. Bingky berjalan bersama, menggandeng tangan Gus Dur, bahkan sekali-sekali membisiki mantan presiden Republik Indonesia itu.

Saking dekatnya, ada yang menyebut Bingky Irawan sebagai penasihat Gus Dur. Bagaimana ini?

"Hehehe.... Masak, saya disebut penasihat spiritual Gus Dur. Apalah saya ini sih, kok disebut-sebut seperti itu. Justru saya yang perlu nasihat dari Gus Dur karena beliau itu guru bangsa," ujar Bingky Irawan.

Bagi Bingky, Gus Dur merupakan tokoh luar biasa yang banyak berjasa mengembalikan hak-hak sipil warga Konghuchu, dan Tionghoa umumnya, yang sempat dibredel rezim sebelumnya. Kita masih ingat, saat menjabat presiden, KH Abdurahman Wahid mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967.

Inpres yang dikeluarkan Presiden Soeharto itu melarang semua bentuk ekspresi adat istiadat serta seni budaya Tionghoa di Indonesia. Berkat Keputusan Presiden Abdurrahman Wahid Nomor 6 Tahun 2000, semua belenggu itu hilang. Selanjutnya, pada 2001, Gus Dur menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur fakultatif. Sejak itulah ekspresi budaya Tionghoa terlihat marak di mana-mana. Tarian barongsai dan lian liong yang mati selama 30 tahun lebih pun bangkit kembali.

"Apa yang dilakukan Gus Dur itu membutuhkan keberanian dan kemauan politik yang luar biasa. Sulit dibayangkan hal itu bisa dilakukan pejabat lain. Itu yang membuat kami tidak akan pernah melupakan jasa-jasa beliau," kata pria bernama lahir Poo Sun Bing ini.

#####

Bagaimana seorang Bingky Irawan yang hanya pedagang biasa di Pasar Sepanjang, Sidoarjo, mengenal Gus Dur? Ceritanya panjang. Awalnya, Bingky hanya mengetahui nama Gus Dur dari media massa karena sejak 1980-an cucu pendiri NU itu aktif sebagai pemikir sosial budaya di tanah air. Gus Dur sangat berani melontarkan pendapat-pendapat alternatif yang bebeda dengan pandangan rezim Orde Baru.

Apa yang dikatakan Gus Dur senantiasa menjadi bahan polemik menarik. Dibahas di mana-mana, menjadi wacana yang mencerahkan. "Saya ya tahu Gus Dur dari koran-koran. Dan saya sangat menghargai pemikiran-pemikirannya yang pluralistik, multikultural, demokratis, menghargai sesama apa pun latar belakangnya."

Nah, menjelang kejatuhan Orde Baru Bingky Irawan bersama umat Konghuchu menghadapi masalah serius menyangkut hak-hak sipil. Ada sepasang pengantin beragama Konghuchu, Budi Wijaya dan Lanny Guito, menghadapi masalah besar saat hendak mencatatkan pernikahannya di Kantor Catatan Sipil Surabaya.

Pegawai Catatan Sipil menolak karena agama Konghuchu tidak diakui di Indonesia. Seperti diketahui, pemerintah hanya mengakui lima 'agama resmi' (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha). Budi-Lanny pun diminta untuk memilih salah satu dari lima agama itu agar pernikahannya bisa dicatat dan diakui negara. Praktik ini sudah dianggap 'lazim' selama Orde Baru.

Hampir semua umat Konghuchu terpaksa main sandiwara dengan 'mengganti' agamanya di depan pejabat Catatan Sipil hanya untuk melegalisasi pernikahannya. Begitu pula untuk beroleh selembar kartu tanda penduduk (KTP) atau surat-surat lain yang punya kolom agama. Konghuchu, kita masih ingat, tidak dianggap agama oleh rezim Soeharto.
Nah, Budi dan Lanny yang baru saja melangsungkan pernikahan di kelenteng Konghuchu menolak kebijakan Catatan Sipil (Dinas Kependudukan) yang diskriminatif itu. Keduanya nekat mengajukan gugatan resmi ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. Disebut 'nekat' karena sejak dulu tidak ada orang Konghuchu atau penganut agama/kepercayaan di luar lima agama resmi yang berani mempertanyakan kebijakan pemerintah di bidang administrasi kependudukan.

Sebagai pemuka Konghuchu, Bingky Irawan mau tidak mau harus mengawal dan mendampingi kedua jemaatnya yang masih muda itu. "Masak, umat saya ada masalah saya diam saja. Kami nggak minta yang muluk-muluk. Catatlah pernikahan umat Konghuchu seperti juga umat yang beragama lain. Kita sama-sama bangsa Indonesia yang punya hak-hak yang sama dan dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945," papar Bingky Irawan.

Sidang kasus Budi-Lanny ini mendapat sorotan luas dari media massa. Polemik, perbedaan pendapat, muncul dari berbagai tokoh. Boleh dikata, sebagian besar pembicara menganggap tepat kebijakan Catatan Sipil yang menolak mengakui pernikahan Budi-Lanny. Polemik kemudian melebar seputar layak tidaknya Konghuchu disebut agama. Saat itulah Gus Dur muncul dengan pembelaannya yang blak-blakan terhadap umat Konghchu, khususnya Budi dan Lanny.

Tak hanya itu. Gus Dur menyatakan siap menjadi saksi ahli di PTUN untuk membela Budi dan Lanny. Tawaran Gus Dur ini jelas tak disia-siakan oleh Bingky Irawan dan para aktivis Konghuchu di Jawa Timur. Ketika saatnya tiba, Gus Dur akhirnya benar-benar tampil sebagai saksi ahli di pengadilan. Bobot politik sidang warga negara biasa ini pun menjadi sangat tinggi karena media massa memberitakan kasus ini secara luas.

"Nah, sejak itu saya mulai dekat dengan beliau. Jadi, kasus Budi-Lanny itu punya banyak hikmah untuk saya pribadi dan umat Konghuchu umumnya. Kami punya kawan baru yang selalu mendampingi kami dalam perjuangan mengurus hak-hak sipil. Namanya Gus Dur," kata ayah empat anak ini.

Gara-gara dekat Gus Dur, nama Bingky Irawan mulai dikenal publik. Wartawan yang selama ini tidak kenal Bingky Irawan akhirnya tahu bahwa pria ini pemuka agama Konghuchu. Jabatan Bingky Irawan saat itu ketua Majelis Agama Konghuchu Indonesia (Makin) Jawa Timur. Ia juga mengurus Kelenteng Boen Bio di Jl Kapasan Surabaya.

"Saya sampai kewalahan melayani permintaan wawancara dari berbagai wartawan. Tapi nggak apa-apa. Itu merupakan peluang bagi saya untuk menjelaskan berbagai hal seputar agama Konghuchu."

Kini, perjuangan panjang Bingky Irawan dan kawan-kawan bersama Gus Dur boleh dikata telah behasil. Berbagai ekspresi budaya Tionghoa boleh digelar di mana saja, kapan saja. Pencatatan pernikahan warga Tionghoa pun tidak lagi dipersulit. Lalu, bagaimana kelanjutan hubungan antara Bingky Irawan dan Gus Dur?

"Ya, tetap bagus seperti dulu. Kami selalu berkomunikasi. Sebab, Gus Dur itu sudah saya anggap seperti sahabat dan guru saya. Saya itu mau berjuang karena ada Gus Dur. Kalau nggak ada Gus Dur, ya, saya nggak mungkin berjuang seperti ini," tegas Bingky Irawan.




Berhenti Melukis demi Kekasih

Tak banyak yang tahu kalau Bingky Irawan sejak kecil berbakat sebagai pelukis. Begitu senangnya pria ini dengan seni rupa, Bingky sempat bergabung dengan sebuah komunitas perupa di kawasan Jl Embong Macan, Surabaya, pada tahun 1970-an.

"Saya bisa menggambar apa saja. Tapi umumnya lukisan saya itu naturalis, melukis pemandangan. Banyak lukisan saya yang dikoleksi orang Belanda, Jerman, dan sebagainya. Saya sendiri malah tidak punya simpanan satu pun lukisan karya saya sendiri," tutur Bingky Irawan kepada saya di rumahnya, 16 Agustus 2007.

Pada 1970-an bioskop di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur sangat digemari masyarakat. Film-film Indonesia maupun Barat diputar di mana-mana. Nah, waktu itu distributor melibatkan para pelukis untuk membuat poster-poster film. "Dulu poster film sangat besar. Saya ikut menggambar bersama teman-teman. Tiap hari ada saja yang kami garap," kenangnya.

Hingga suatu ketika Bingky Irawan bertemu dengan Susilowati, gadis manis asal Surabaya. "Saya pacaran dengan dia yang sekarang menjadi istri saya. Dia melarang saya menjadi pelukis. Tidak perlu jadi seniman," cerita Bingky Irawan lalu tertawa kecil.

Kenapa begitu?

"Sebab, seniman itu suka lupa diri. Kalau sudah melukis, wah, dia asyik sendiri. Jiwanya dicurahkan habis-habisan ke objek lukisannya. Nah, kalau saya terus melukis, Susilowati khawatir saya lupa sama dia. Hehehe...," ujar Bingky Irawan.

Saking cintanya pada Susilowati, Bingky memilih mematuhi syarat dari kekasihnya. Awalnya berat, tapi lama kelamaan dia bisa meninggalkan dunia lamanya, seni lukis. "Sampai sekarang saya masih bisa melukis, tapi sekadar hobi saja. Paling bikin karikatur kalau ada ide yang mau saya sampaikan."

Nah, setelah menikah, Bingky Irawan yang terlahir dari orangtua beragama Konghuchu mengaku mulai belajar mendalami agamanya. Sebab, sebelum itu ia beragama secara formalitas belaka. "Saya mulai dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan mendalam seperti mengapa orang harus beragama. Agama itu apa. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul justru karena saya dekat dengan orang-orang Kejawen."

Sambil berdagang di Sepanjang, Sidoarjo, Bingky Irawan semakin tekun mempelajari ajaran Konghuchu di Kelenteng Boen Bio, Jl Kapasan Surabaya. Di sini ayah empat anak (satu perempuan, tiga laki-laki) mengaku semakin menemukan Tuhan melalui ajaran agama yang diwariskan oleh leluhurnya itu.

Akhirnya, pada tahun 1985 Bingky Irawan ditahbiskan sebagai pengurus kelenteng ternama di Kota Surabaya itu. 'Karier' Bingky Irawan di bidang keagamaan Konghuchu terus menanjak seiring perjuangannya untuk mengembalikan hak-hak sipil umat Konghuchu yang terpasung selama rezim Orde Baru. Kini, Bingky tercatat sebagai salah satu anggota presidium Majelis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia (Matakin) yang berkedudukan di Jakarta.


Nama : Bingky Irawan alias Poo Sun Bing
Tempat/tanggal lahir: Surabaya, 7 Februari 1952
Istri: Susilowati

Anak:
1. Puspita Sari (menikah)
2. Agus Purwanto (menikah)
3. Agus Cahyono
4. Agus Kurniawan

Alamat: Jl Raya Sepanjang, Taman, Sidoarjo.
Pekerjaan: Pengusaha, Agamawan Konghuchu

Pendidikan:
*SD Tionghoa di Praban, Surabaya.
*Sekolah Seni Lukis, Surabaya
*Sekolah Teologi Konghuchu, Jl Kapasan, Surabaya

Karier/Aktivitas:
*1986-1991: Wakil Ketua Pengurus Kelenteng Boen Bio, Surabaya.
*1991-2006: Ketua Pengurus Kelenteng Boen Bio, Surabaya.
*1991-2006 : Ketua Majelis Agama Konghuchu Indonesia (Makin) Jawa Timur.
*2006-sekarang: Anggota Presidium Majelis Tinggi Agama Konghuchu. Indonesia (Matakin), Jakarta.
*1991-sekarang: Forum Lintas Agama di Surabaya, Jawa Timur.

Mbah Tardjo dapat bintang mahaputra

Wakil Ketua DPR RI Soetardjo Soerjogoeritno (73) mendapat anugerah Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apa reaksi politikus senior yang akrab disapa Mbah Tardjo itu?


RABU (15/8/2007), penampilan Soetardjo Soerjogoeritno alias Mbah Tardjo berbeda dari biasanya. Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 30 April 1934, yang biasanya ceplas-ceplos, suka bercanda, ini terlihat serius dan agak tegang. Berdampingan dengan Letjen TNI (Pur) Rais Abin, Mbah Tardjo mendapat penghargaan bergengsi dari kepala negara berupa Bintang Mahaputra Adipradana.

Usai menyematkan penghargaan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyalami Mbah Tardjo. Kedua tokoh itu pun berjabatan tangan sangat erat. Ini pemandangan menarik, karena selama ini Mbah Tardjo dikenal luas sebagai tokoh yang sering mengkritik kebijakan pemerintahan Presiden Susilo. Maklum, Mbah Tardjo tokoh senior Fraksi PDI Perjuangan, fraksi yang memilih menjadi oposan di Dewan Perwakilan Rakyat.



Foto dikutip dari presidensby.info

"Harus diingat, kali ini Susilo berperan sebagai kepala negara yang memberikan penghargaan kepada warga negaranya. Alhamdulillah, saya akhirnya termasuk dalam daftar nama orang yang layak menerima Bintang Mahaputra Adipradana dari pemerintah," ujar Mbah Tardjo.

Dia mulai terjun ke politik sejak 1950 dengan menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI). Artinya, ketika usianya baru 16 tahun ayah dua anak ini sudah merasakan pahit getirnya politik.

Lantas, apa jasa Mbah Tardjo sehingga mendapat penghargaan dari presiden? "Wah, jasa-jasa saya kepada negara tidak ternilai besarnya. Wuakeh banget," ujarnya setengah bercanda. "Saya ini kan sejak zaman Jepang berjuang dan baru kali ini mendapat penghargaan. Dulu saya dibilang Soekarnois, tapi sekarang nggak."

Mbah Tardjo mengaku sangat senang bisa mendapat penghargaan dari kepala negara. Lebih bangga lagi, karena kepala negara yang menganugerahinya bintang mahaputra adalah SBY, pendiri Partai Demokrat, yang secara politik berseberangan dengan dirinya di PDI Perjuangan.

"Itu artinya penghargaan untuk saya itu objektif. Lha, kalau yang beri itu presiden yang satu partai dengan saya, ya, mungkin dicurigai macam-macam seperti KKN dan sebagainya," ujar Mbah Tardjo lalu tertawa kecil.

Mbah Tardjo bercerita, sejak zaman Jepang (1939-1945) dia sudah berjuang sebagai tentara pelajar. Untuk zaman sekarang, mungkin aneh ada remaja belum berusia 10 tahun sudah jadi tentara. Tapi, di zaman Jepang, ketika Belanda baru saja menyerah tanpa syarat kepada pasukan Jepang, praktis hampir semua orang Indonesia menjalani wajib militer. Remaja dan anak-anak terpaksa angkat senjata, berjuang untuk tanah air yang belum merdeka.

"Kalau dihitung-hitung, saya ini ikut berjuang untuk bangsa dan negara sejak masih sangat muda. Jadi, saya tidak sempat menjalani masa remaja seperti anak muda sekarang," papar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, tahun 1969, itu.

Jepang akhirnya kalah. Pada 17 Agustus 1945 Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia. Soetardjo muda kemudian mengisi kemerdekaan dengan berjuang melalui medan politik, tepatnya Partai Nasional Indonesia (PNI). Boleh dikata, hampir sepanjang usianya, Mbah Tardjo tak pernah lepas dari partai politik. Setelah PNI berfusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI), kemudian PDI Perjuangan, Mbah Tardjo tetap terlibat di dalamnya.

Di zaman Orde Baru, ketika PDI dipecah belah oleh pemerintah, Mbah Tardjo memilih berjuang bersama Megawati Soekarnoputri. "Namanya perjuangan, ya, selalu ada pasang surut. Tapi hidup memang harus begitu," kata pria yang pernah berkarir sebagai guru pada 1953-1965 itu.

"Sekarang pun saya masih berjuang untuk bangsa ini. Tapi baru kali ini saya dapat penghargaan Mahaputra. Tentu saya bangga dihargai seperti itu," kata Mbah Tardjo. Karena itu, dia benar-benar merasa lega dan tidak putus-putusnya mengucapkan syukur kepada Allah SWT.

Mbah Tardjo juga mengaku sangat berterima kasih kepada rekan-rekannya di DPR yang selalu menganggap dirinya sebagai orang tua yang layak dihormati. Jika ada anggota dewan yang menggelar hajatan, Mbah Tardjo pun didaulat untuk memberikan wejangan. "Alhamdulillah, saya bersyukur karena sampai sekarang saya masih dihargai," ujarnya.

14 August 2007

Konser Kemerdekaan SSO 2007

Menjelang Hari Kemerdekaan, Surabaya Symphony Orchestra (SSO) menggelar Konser Kemerdekaan. Ini penampilan ke-53 satu-satunya orkes simfoni di Kota Surabaya dan Jawa Timur itu. Sejak didirikan pada 1996, Solomon Tong, dirigen dan motor utama SSO, memang menjadikan konser kemerdekaan sebagai agenda tahunan.

Selasa, 14 Agustus 2007, konser digelar di Hotel JW Marriott, Jalan Embong Malang 85-89 Surabaya. Kepada saya, Pak Tong mengatakan, hampir semua pengisi acara (pemusik, penyanyi) orang SSO jua. "Penyanyi tamu ada dua: Linda Hartono dan Audrey Azarine. Saya memang biasakan demikian," ujar Pak Tong sambil makan siang di kantor SSO, Selasa (14/8).

Meski namanya konser kemerdekaan, SSO tetaplah orkes simfoni klasik yang menyuguhkan nomor-nomor klasik. Keliru kalau membayangkan program konser sejak awal sampai akhir diisi lagu-lagu nasional (perjuangan) atau lagu daerah. Mungkin, orkes lain macam Twilite Orchestra pimpinan Addie M.S. melakukan seperti itu.

Kali ini Pak Solomon Tong memperkenalkan pianis remaja, Aerin Anggono. Usianya pekan depan genap 14 tahun, siswa Sekolah Musik SSO. Aerin memainkan Piano Concerto No. 2 in B-Flat Major Op. 19 gubahan L.v. Beethoven. Pak Tong memuji anak muda ini.

"Dia main sekitar 35 menit. Komposisi itu tingkat kesulitannya sangat tinggi. Saya bisa katakan bahwa itu kelasnya mahasiswa S-2. Tapi si Aerin bisa memainkannya dengan baik," ujar Pak Tong. Dirigen kawakan ini banyak membantu saya memahami musik klasik, komponis klasik, meresensi musik klasik, paduan suara, bell canto, hingga opera.

Seperti biasa Pak Tong menghadirikan petikan opera sebagai menu utama konsernya. Ada penyanyi Pauline Poegoeh, Melissa Setyawan, Liliana, Dewi Kang, Samuel Tong [anaknya Pak Tong]. Kemudian Linda Hartono dan Audrey Azarine. Soprano Pauline membawakan karya Mozart dengan suaranya yang menggelegar. Linda nyanyi Summertime karya George Gerswin (1898-1937).

Disusul paduan suara klasik, rohani. Freuden Lied (Haydn), Regina Coeli (Mozart), Tuhan Memberkati Engkau (J. Rutter). Kebetulan SSO punya paduan suara khusus, Surabaya Oratorio Society, yang memang sudah biasa menyanyikan lagu-lagu paduan suara dengan tingkat kesulitan tinggi.

Nah, nuansa kemerdekaan ditampilkan di bagian akhir. Ada empat komposisi, yakni Hati Memuji (R. Soetedja), Nyiur Hijau (Maladi), Tanah Airku (Iskak), Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki). Lagu-lagu ini tak asing di telinga orang Indonesia, sehingga diharapkan bisa melepas 'ketegangan' setelah disuguhi nomor-nomor klasik yang rada berat.

Omong-omong berapa biaya produksi konser ini? Dua ratus juta? "Di atas itu. Sekitar Rp 230 juta," kata Pak Tong kepada saya.

Uang besar dan tak mudah didapat di Surabaya. Apalagi, sponsor sulit diajak untuk mendukung musik klasik. Tapi Pak Tong selalu percaya mukjizat Tuhan dan mengalami mukjizat itu berkali-kali. Menjelang konser, kata Pak Tong, uang mengalir dari mana-mana sehingga kebutuhan konser pun terpenuhi.

"Hurek, mungkin suatu saat kita bicara lebih banyak tentang mukjizat Tuhan. Ini benar-benar saya alami di SSO," kata Pak Tong, kakak kandung Pendeta Stephen Tong, yang terkenal itu.

Okelah! Bincang-bincang pun diakhiri karena Pak Tong harus segera ke lokasi konser untuk check sound. "Kapan-kapan kita bicara lebih banyak lagi ya?" ujar Pak Tong. Saya keluar ruangan Pak Tong, lalu makan pisang bersama beberapa staf SSO. Hehehe....


INFORMASI LEBIH LANJUT
Surabaya Symphony Orchestra
Jalan Gentengkali 15 Surabaya
Telepon (031) 531 3297, 534 2440
www.surabayasymphonyorchestra.com

Rindu sama Ebiet G. Ade




















 
NYANYIAN RIDU

coba engkau katakan padaku
apa yang seharusnya aku lakukan
bila larut tiba, wajahmu terbayang
kerinduan ini semakin dalam

gemuruh ombak di pantai kuta
sejuk lembut angin di bukit kintamani
gadis-gadis kecil menjajakan cincin
tak mampu mengusir kau yang manis

bila saja kau ada di sampingku
sama-sama arungi danau biru
bila malam mata enggan terpejam
berbincang tentang bulan merah

coba engkau dengar lagu ini
aku yang tertidur dan tengah bermimpi
langit-langit kamar jadi penuh gambar
wajahmu yang bening sejuk segar

kapan lagi kita akan bertemu
meski hanya sekilas kau tersenyum
kapan lagi kita nyanyi bersama
tatapanmu membasuh luka oh...
du..du.. du.. du....

coba engkau dengar lagu ini
aku yang tertidur dan tengah bermimpi

(Dipetik dari album Ebiet G. Ade in Love, 2007)



Tiga pekan ini saya tersihir lagi oleh lagu-lagunya Ebiet G. Ade. Pak Ebiet, apa kabar? Gara-gara membeli album baru Pak Ebiet, tajuknya 'Ebiet G. Ade in Love 25th Anniversary', beta terkenang lagi suara, gaya, syair, penampilan....

Kini, hampir tiap hari saya memutar album Ebiet G. Ade baik yang baru rilis maupun lama. Tak ada rasa bosan sedikit pun. Makin didengarkan, direnungkan, beta makin mabuk dengan kata-kata khas Pak Ebiet. Tak syak lagi, Ebiet G. Ade punya tempat khusus di hatiku dan, mungkin, banyak orang Indonesia.

Kalau tak salah, Ebiet G. Ade mulai merilis album perdana, Camellia I, tahun 1977. Usia Ebiet waktu itu tentu masih muda, di bawah 30. Tapi kok syair-syairnya sangat matang, dipadu melodi manis, aransemen, dan semuanya yang serba apik? Wah, anak-anak muda tahun 1970-an rupanya ditempa zaman menjadi manusia matang.

Melodi matang, syair matang, indah nian. Sederhana tapi bernas.

Saya merenung. Makin tahun, ketika pembangunan fisik sangat maju, teknologi informasi, internet, digitalisasi, televisi berjibun, teknologi rekamanan luar biasa, alat musik sangat canggih... kematangan penyanyi Indonesia kok tak ada lagi ya? Setidaknya makin sulit ditemukan di era serbainstan ini. Makin lama kok makin sulit menemukan sosok macam Pak Ebiet.

Simak saja lagu-lagu pop masa kini. Ben-ben terkenal. Liriknya macam apa sih? Begitu-begitu saja lah. Cinta remaja tanpa kedalaman, hanya permukaan. Sulit beta menemukan lirik-lirik puitis, kuat, reflektif....

Pak Ebiet, penyanyi yang sangat religius itu, salah satu dari sangat sedikit seniman musik di negeri kita. Di Indonesia begitu banyak penyanyi, penulis lagu, pemain musik, tiap saat ada kontes nyanyi... tapi sangat sedikit yang layak disebut seniman.

Dan seniman tidak akan pernah dilahirkan secara instan. Tidak akan lahir berkat dukungan pesan pendek (SMS) yang manipulatif itu.

Wahai, Ebiet G. Ade, katakanlah pada kami, mengapa tuan bisa membuat lagu dengan melodi dan syair begitu kuat selama 25 tahun? Resepnya apa? Rumusnya apa?

Ketika negeri ini dilanda nestapa, bencana, dukacita, lagu-lagumu hadir menguatkan hati anak bangsa. Kita selalu diajak merenungkan hidup, kehidupan, berikut berbagai misterinya.

Ini bukan hukuman
Hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah....


Saya ingat benar suasana misa requiem mengenang para korban bencana tsunami Aceh di Katedral Surabaya. Ratusan jemaat menangis saat mendengar lagu ini, Untuk Kita Renungkan.

"Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat."

Ebiet G. Ade memperlihatkan kepada kita, bangsa Indonesia, bahwa menjadi penyanyi rekaman (industri) itu tidak harus glamor. Cat rambut norak. Goyang heboh macam Inul Daratista dan sejenisnya.

Saya melihat langsung beberapa konser Ebiet G. Ade di Surabaya dan Malang. Ia bawa gitar akustik, duduk di kursi. Pakaiannya sederhana saja macam orang biasa. Di panggung ia tak pakai teriak-teriak, bergaya norak artis sekarang. Santai dan santun.

Tapi, ketika Ebiet G. Ade sudah memetik gitar dan bernyanyi, amboi, kita dibawa berenang dalam lautan puisi. Kata-kata apik yang tak jauh dari keseharian kita.

Tentang 'cinta yang bukan mesti bersatu'. Tetang kita 'yang masih dibei waktu'. Tetang 'roda zaman mengilas kita, terseret tertatih-tatih'. Ajakan bertanya 'kepada rumput yang bergoncang'. Tentang 'bercumbu dengan bayang-bayang'.

Luar biasa!

Semua lagu ciptaan Ebiet G. Ade [dan ia menyanyikan hanya lagu-lagunya sendiri] adalah puisi sekaligus filosofi. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. "Padahal, saya tidak pernah membayangkan bahwa lagu-lagu saya bakal menjadi back sound untuk siaran bencana alam di televisi," ujar Ebiet G. Ade di Surabaya, tahun 2005.

Kembali ke album Ebiet G. Ade tahun 2006 yang baru saja dirilis. Total 16 lagu. Hanya satu lagu baru: Demikianlah Cinta. Lainnya, 15 lagu, tak asing lagi di telinga kita, khususnya penggemar Ebiet G. Ade di nusantara. Dua lagu diaransemen ulang oleh Anto Hoed, suami penyanyi dan penulis lagu Melly Goeslaw.

Tadinya saya sangka Anto Hoed 'merusak' langgam gaya Ebiet G. Ade yang sudah klasik itu. Saya salah duga ternyata. Aransemen Anto Hoed, khususnya string section, membuat dua lagu itu [Nyanyian Rindu, Camellia 3] bertambah manis. Karakter Ebiet sudah begitu kuat, sehingga di tangan penata musik siapa pun, Ebiet tetaplah Ebiet.

Dua lagu lama [aransemen baru] ini sungguh membuat beta kagum akan keunggulan Ebiet G. Ade di belantika musik Indonesia. Ketika industri musik kita dijajah habis oleh ben-ben dengan pola lagu, syair, cara menyanyi, sama dan dangkal, Ebiet G. Ade datang pada saat yang tepat. Ebiet G. Ade datang membawa 'nyanyian rindu'.

Yah, kita rindu penyanyi yang benar-benar seniman, membawa misi spiritual untuk bangsanya. Bukan artis yang sekadar mengumbar sensualitas, seksualitas, kata-kata hampa. Ebiet G. Ade, terima kasih banyak. Salam saya untuk anda dan keluarga! Semoga anda tetap berkarya, memberi warna tesendiri bagi musik Indonesia.

Bulan lalu saya dengar wawancara Ebiet G. Ade di Radio Suara Surabaya. Pak Ebiet bilang album baru ini hanya untuk mengetes pasar. Di mana gerangan Ebiet G. Ade setelah berkecimpung di dunia musik selama 25 tahun? Apakah penggemar Ebiet masih ada? Apakah generasi baru konsumen musik, yang usianya sama atau di bawah anak-anak Ebiet, masih bisa menikmati suara, puisi, melodi, gaya Ebiet G. Ade?

Syukurlah, waktu itu para pendengar Suara Surabaya menyampaikan kerinduannya untuk Ebiet G. Ade. Mereka ingin Pak Ebiet tetap berkarya. Tetap bikin album. Tidak boleh pensiun dulu. Kenapa? Bangsa Indonesia yang semakin ditelan globalisasi butuh seniman yang berkarakter.

Lagu-lagu Ebiet G. Ade senantiasa mengajak kita untuk mencintai sesama, mencintai Tuhan, mencintai alam. Selalu mengambil hikmah, pelajaran, dari pengalaman sepahit apa pun.

Tuhan ada di sini
Di dalam jiwa ini
Berusahalah agar dia tersenyum
Berusahalah agar dia tersenyum


Pak Ebiet, saya mau bicara apa lagi ya? Lagu-lagu anda sungguh menjadi berkat bagi beta. Menjadi bahan introspeksi, koreksi diri, menuju hari esok yang lebih baik. Pak Ebiet, terima kasih!


CAMELLIA 3

di sini di batu ini
akan kutuliskan lagi
namaku dan namamu

maafkan bila waktu itu
dengan tuliskan nama kita
kuanggap engkau berlebihan
oh....

sekarang setelah kau pergi
kurasakan makna tulisanmu
meski samar tapi jelas tegas
engkau hendak tinggalkan kenangan
dan kenangan

di sini kau petikkan kembang
kemudian engkau selipkan
pada tali gitarku

maafkan bila waktu itu
ku cabut dan ku buang
kau pungut lagi dan kau bersihkan
oh.....

engkau berlari sambil menangis
kau dekap erat kembang itu
sekarang baru aku mengerti
ternyata kembangmu kembang terakhir
yang terakhir

oh... Camellia,
katakanlah di satu mimpiku
oh... Camellia,
maafkanlah s'gala khilaf dan salahku

di sini di kamar ini
yang ada tinggal gambarmu
ku simpan dekat dengan tidurku
dan mimpiku


(Dipetik dari album Ebiet G. Ade in Love, 2007)

Indonesia Raya Jiplak Leka-Leka?



Aransemen SATB lagu INDONESIA RAYA untuk paduan suara campuran (Mixed choir).

 
Sebelum Roy Suryo, polemik seputar lagu INDONESIA RAYA pernah digulirkan Yapi Tambayong alias Remy Silado di harian KOMPAS tahun 1991. Saya pernah membaca polemik itu dengan minat. Berkali-kali saya baca di perpustakaan Universitas Jember, Bumi Tegalboto, Jawa Timur. Perpustakaan besar ini ikut merangsang saya menjadi peminat buku.

"Wah, Pak Yapi ternyata hebat banget. Tahu banyak soal musik, punya begitu banyak data dan referensi," kata saya waktu itu. Pak Yapi alias Remy Silado pun menjadi salah satu penulis musik dan bahasa idola saya. Tulisannya penuh warna, sarat data, tekun menelusuri peristiwa-peristiwa masa lalu.

Maka, ketika Roy Suryo mengaku 'menemukan' INDONESIA RAYA tiga stanza [bukan hal baru sebetulnya], awal Agustus 2007, saya langsung teringat tulisan-tulisan musik Remy Silado pada 1990-an. Sayang, saya tak punya kliping apa pun. Hanya mengandalkan ingatan yang terbatas.

Tapi, syukurlah, Selasa, 14 Agustus 2007, Yuli Ahmada menurunkan pendapat Remy Silado yang dipetik dari KOMPAS tahun 1991.

Menurut Remy, INDONESIA RAYA yang kita kena sebagai lagu kebangsaan kita sudah populer sejak abad ke-18 hingga tahun 1930-an. Bercorak jazz klasik, tegolong hot jazz. Judulnya: LEKKA-LEKKA atau PINDA-PINDA. Tetapi pada tahun 1927 lagu itu direkam dalam piringan hitam menjadi INDONEES-INDONEES.

Lantas, pada 28 Oktober 1928 dalam kongres pemuda di Jakarta diubah menjadi INDONESIA RAYA. "Penggubah lagu yang dimaksud adalah pemimpin band jazz di Makassar pada 1920. Siapa lagi kalau bukan Wage Rudolf Supratman," tulis Remy.

Supratman muda memang biasa memainkan musik jazz untuk mengiringi orang Belanda berdansa-dansi. "Saban malam Minggu ia memainkan jazz bersama Kaerne.

Di KOMPAS, 5 Januari 1992, Remy Silado menulis lagi. Menurut dia, Supratman pernah menyurati Bung Karno sekaligus mengirim rekaman untuk diperdengarkan di kongres pemuda 1928. Kongres antusias, tetapi menyarankan agar nada-nada dan irama yang sama dengan LEKKA-LEKKA diperbaiki. Upaya perbaikan kemudian dilakukan beberapa kali.

Pada 1951 INDONESIA RAYA dibakukan atas inisiatif Jusuf Ronodipuro, kepala Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Jusuf meminta Jozef Cleber, pemusik Belanda, untuk menggubah lagu itu. Bung Karno setuju.

Pada 1953 komponis Kusbini berinisiatif membebaskan INDONESIA RAYA dari bayang-bayang LEKKA-LEKKA. Ia utarakan niat itu ke Bung Karno. Reaksi Bung Karno yang presiden? "Hai, kamu seniman goblok! Kamu tidak punya kesadaran politik. Apa yang sudah diterima secara politik tidak usah diperkarakan secara estetik," tulis Remy.

Ia mengutip kesaksian Kusbini [penulis lagu BAGIMU NEGERI] kepada majalah TOP Nomor 29 Tahun IV. Remy juga mengutip keterangan Salamoni, dirigen Orkes Harmoni Kepolisian Semarang, kepada SINAR INDONESIA, 14 Agustus 1963. Salamoni mengatakan, ada delapan bar (birama) di LEKKA-LEKKA plat 78 Fono 2132, Euro, yang sama dengan INDONESIA RAYA.

Remy tak lupa mengkritik lagu IBU KITA KARTINI karangan W.R. Supratman yang juga mencontek lagu rakyat Minahasa, O INA NI KEKE, dan lagu rakyat Timor, BOLELEBO. "Perhatikan ada delapan bar yang diulang jadi 16," tulis Remy.

Menurut dia, kedua lagu rakyat yang sangat terkenal itu pun aslinya dari lagu Portugis:

Haja Luz:
E disse Deus,
O, haja luz,
O haja luz
e houve luz.


Tulisan Remy Silado mendapat sanggahan dari Kaye A. Solapung, pengamat musik. Di KOMPAS 22 Desember 1991, Solapung mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada 1950-an.

"Dalam literatur musik ada lagu PINDA-PINDA LEKKA-LEKKA di Negeri Belanda, begitu pula BOOLA-BOOLA di Amerika Serikat," tulis Solapung mengutip Amir Pasaribu.

Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu, dibandingkan dengan Indonesia Raya. Menurut Solapung, lagu BOOLA-BOOLA tidak sama persis dengan Indonesia Raya. Hanya delapan ketuk yang sama. "Jadi, INDONESIA RAYA itu bukan karya jiplakan," tegas Solapung.

TERKAIT
Sedikit tentang Indonesia Raya