31 May 2007

Achmad Albar Habis



Nama besar Achmad Albar dan Ian Antono, dua dedengkot God Bless, rupanya masih menjadi daya tarik bagi penggemar musik rock di Surabaya. Sayang, Achmad Albar kedodoran. Makin merosot. Mutu vokalnya sudah di bawah standar.

Sabtu [26/5/2007] malam, halaman Balai Pemuda penuh sesak oleh anak-anak muda yang haus musik rock. Mereka ingin menyaksikan dari dekat penampilan legenda hidup musik rock Indonesia: vokalis Achmad Albar dan gitaris Ian Antono. Kebetulan keduanya berasal dari Jawa Timur. Achmad Albar lahir di Surabaya, Ian Antono dari Malang.

Di usia kepala enam, Achmad Albar masih berusaha tampil energik di ajang Reborn Legend yang digelar Balai Pemuda, GNI, dan A Mild Production ini. Namun, kegarangan vokal Iyek, sapaan akrab Achmad Albar, sudah jauh berkurang. Pria kelahiran Surabaya 16 Juli 1946 itu tampak kewalahan saat membidik nada-nada tinggi.

Suara Iyek menebal, parau, sulit teriak. Nada-nada tingginya tidak pas alias pitch control tidak jalan. Bidikan nada meleset karena kunci yang dipakai terlalu tinggi. Yah... Iyek sekarang beda dengan Iyek pada 1980-an, apalagi 1970-an yang garang dan lantang.

Untung saja, gaya panggungnya yang energik mampu menutupi kekurangan power vokalnya. Untung juga, Iyek sengaja membawa penyanyi latar, Pungky, yang juga vokalis rock di Surabaya.

"Jujur saja orang seusia Mas Iyek, 61 tahun, pasti kedodoran kalau nyanyi rock. Usia memang tidak bisa ditutup-tutupi," komentar Dicky, fotografer penggemar musik cadas, kepada saya. Belum lagi sound system yang buruk.

Didampingi Gletzer, band cadas dari Surabaya, duo Achmad Albar-Ian Antono membawakan sembilan lagu dari album God Bless, Gong 2000, dan album solo Achmad Albar. Bekas suami Rini S. Bono itu menyapa penonton, sebagian besar anak-anak muda di bawah 20 tahun, dengan Kepada Perang dari Gong 2000.

Lagu bertempo cepat ini kontan menghangatkan suasana di halaman Balai Pemuda. Penonton yang tadinya duduk lesehan pun berdiri untuk bernyanyi dan jingrak-jingkrak.

Nomor kedua, Menjilat Matahari, Iyek kehilangan pitch control. Namun, pendiri sekaligus vokalis God Bless itu tetap berusaha menyelesaikan lagu karya Yockie Suryo Prayogo tersebut. Terus terang, saya khawatir Achmad Albar tak mampu menyelesaikan konser dadakan itu.

"Bagaimana kalau tiba-tiba dia tak mampu menyanyi lagi?" pikir saya. Kehebatan Iyek saat Konser Semut Hitam dan Konser Raksasa pada 1980-an tampaknya sirna.

Tujuh nomor lain adalah Bara Timur, Rumah Kita, Syair Kehidupan, Panggung Sandiwara, Musisi, Kehidupan, Semut Hitam. Ian Antono masih memperlihatkan kegemilangannya sebagai pemusik kawakan saat mengiringi Iyek dengan gitar akustik. Petikan gitar klasik khas Ian Antono sangat terasa di Syair Kehidupan dan Panggung Sandiwara.

"Saya dan Ian Antono mempersembahkan lagu-lagu ini untuk arek-arek Surabaya yang saat ini merayakan HUT Ke-714 Kota Surabaya," ujar Iyek, dedengkot rock yang masih awet menduda itu.

Sebelum Iyek-Ian, tampil juga legenda hidup Ucok AKA Harahap. Mantan vokalis ben legendaris AKA di Kaliasin, Surabaya, itu ternyata tetap prima di usia 68 tahun. Ucok menyanyi sambil bermain kibod serta iringan gitar dari Pardi Artun. Sulit dipercaya, vokal Eyang Ucok masih tetap prima. Powerful.

Improvisasi vokalnya pun ciamik saat membawakan My Sweet Lady dan I Don't Wanna Talk about It. Vokalnya tebal, bervibrasi, bergaya black singer.

"Saya ingin menunjukkan kepada anak-anak muda di Surabaya bahwa usia bukan halangan bagi seseorang untuk membawakan lagu-lagu rock. Sampai sekarang saya masih tetap berkarya," ujar Ucok Harahap kepada saya.

Penampilan pemusik asli Surabaya, Sawung Jabo, tetap khas dan memikat. Cak Jabo konsisten mengangkat persoalan-persoalan sosial, menyentil korupsi dan penyelewengan penguasa, dalam lagunya.

"Sing lancar pembayaran Lapindo ngacung!" tanya Sawung Jabo kepada hadirin.

Tak ada yang mengacung.

"Minta Bento, Cak!" teriak penonton di depan.

"Bentone sibuk korupsi maneh."

Lalu, meluncurlah nomor-nomor lama khas Sawung Jabo seperti Bongkar, Hio. Paduan musik modern dan tradisi membuat sajian Cak Jabo bersama Gong Dolly Gong terasa unik. Cenderung ke world music atawa ethnic rock.

"Aku mau wajar-wajar saja.
Aku nggak mau mengingkari hati nurani...."


Begitu antara lain lirik Hio. Iramanya macam musik kuda lumping atau reog di Jawa Timur.

Parade para legenda hidup ini diakhiri dengan Kebyar-Kebyar karya almarhum Gombloh. "Kita harus berterima kasih kepada Pak Nirwana Yudha. Berkat beliau musik rock hidup lagi di Surabaya," ujar Ucok AKA Harahap mengacu pada direktur Balai Pemuda Surabaya.

Prasasti Airlangga di Krian

Di Kabupaten Sidoarjo dijumpai cukup banyak situs kuno. Di antaranya, prasasti peninggalan Raja Airlangga bertahun 959 Masehi. Prasasti beraksara Sansekerta itu berada di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian.


Sira ratu cakrawarta umanun pamanghanikan rat hita pratidina panlingananikan sabhuwanari tan sharta kewala cri maharaja, yawat kawanunann yaca donanya, an kapwa kinalimban juag denira, sahana san byan sarwwa dharma kabeh.

Begitu kutipan tulisan di prasasti yang terbuat dari batu cadas setinggi 2,19 meter, tebal 29 sentimeter, dan lebar 1,16 meter tersebut.
Artinya kira-kira:

“Seorang bisa memutar roda dunia ini, apabila ia membuat dan menemukan hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Apabila di dunia ini ada tanda tidak makmur, hanyalah Cri Maharaja [yang bertanggung jawab]. Tujuannya ialah untuk membuat jasa oleh Cri Maharaja agar selalu diperhatikan semua tempat-tempat makam suci.”

Osin [51 tahun] merupakan penjaga alias juru kunci situs ini. Dia bilang, batu prasasti ini bertujuan untuk mengingatkan kepada rakyat [masa itu] bahwa di kawasan Dusun Klagen terdapat tambak luas pemberian Raja Airlangga dari Kerajaan Kediri.

“Dulu warga mendapatkan lahan dari sang raja untuk dibuat area pertanian dan tambak,” kata Osin.

Masih menurut Osin, prasasti tersebut juga menceritakan bahwa tempo doeloe di wilayah tersebut ada sungai bernama Kalagyan, pecahan dari Sungai Brantas. Sungai tersebut dianggap keramat oleh raja. Dan sang raja menyediakan tambak untuk diolah kawula alit.

“Setelah diberi tambak, raja juga memberi lahan pertanian kepada masyarakat untuk diolah,” tutur Osin.

Berkat tambak dan sawah itu, singkat cerita, rakyat hidup makmur. Hasil tambak dan sawah dapat dinikmati sepenuhnya karena raja tidak meminta pajak sedikit pun.

Osin menambahkan, raja pun tidak memungut pajak dari rakyat. Utang rakyat pun tidak dihitung. “Makanya, rakyat pada masa itu sangat damai dan sejahtera,” ujar Osin.

Namun, kemakmuran rakyat sirna setelah diserang air bah dari Sungai Brantas. Tambak dan sawah rakyat hancur. Puluhan tahun rakyat tidak beroleh hasil karena tidak mampu menutup lubang air bah. Berita ini akhirnya sampai ke Kediri. Sang raja akhirnya mendatangi Kalagyan dan berhasil menutup lubang luapan dari Sungai Brantas.

“Air bah itu dianggap oleh Kerajaan Kadiri sebagai musibah besar bagi rakyatnya. Dan ujian itu sampai kini tetap dirasakan oleh rakyat,” papar Osin, serius.

Ayah tiga anak ini meneruskan jejak Supinah dan Naib [bapak dan kakeknya] menjadi juru kunci situs. Sebab, menurut Osin, prasasti itu berdiri di atas lahan milik orang tuanya secara turun-temurun, 85 x 45 meter.

“Pernah pada 1997 tanah kami ditawar orang Australia dengan harga Rp 3 miliar, tapi saya tidak mau,” papar Osin.

Tepat di bawah prasasti terdapat batu kali ‘misterius’. Percaya atau tidak, menurut Osin, batu anakan itu hidup. Kenapa?

“Tiga tahun lalu tingginya hanya 75 sentimeter, sekarang 85 sentimeter,” ujarnya.

Osin bersama keluarganya yakin bahwa puluhan tahun mendatang akan muncul zaman yang mirip cerita di prasasti itu.

28 May 2007

Sholeh Eks Tapol Orde Baru


Gara-gara sering demo menentang rezim Orde Baru, Muhammad Sholeh dipenjara pada 1996. Setelah Presiden Suharto jatuh, Sholeh menjadi ketua Partai Rakyat Demokratik. Kini, dia berkarier sebagai pengacara di Kota Surabaya.

Sholeh ini tipe aktivis sejati. Tak gentar sama polisi atau tentara di era Orde Baru. Dia dan kawan-kawannya, waktu itu, bahkan siap mati kapan saja. Risiko perjuangan, katanya.

Sholeh mulai menjadi aktivis pada 1995, setahun setelah kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Dia nekat menentang pakem politik ala Orde Baru yang dipimpin Presiden Suharto.

Maka, dia bergabung dengan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). SMID ini wadah bagi aktivis mahasiswa yang getol menentang Orde Baru. Kelompok ini getol membaca buku-buku kiri. Banyak membahas pola perjuangan ala Che Guavara. Mereka pun kerap mendatangi kelompok marginal, khususnya buruh.

"Saya dan teman-teman dicap sebagai mahasiswa tukang demo. Bahkan dituduh sebagai antek-antek PKI," kenang Sholeh.

Asal tahu saja, di zaman Orde Baru unjuk rasa alias demo merupakan barang mewah di Indonesia. Unjuk rasa sedikit saja aparat sudah bertindak. Tentara bahkan ikut mendatangi pabrik-pabrik demi menjinakkan aktivis buruh yang dianggap kepala angin.

Pada 8 Juni 1996, Sholeh bersama Dita Indahsari dan Budiman Sudjatmiko menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Simo, Surabaya, untuk membela kaum buruh. Sejak itulah, Sholeh bersama Dita ditangkap petugas. Dua aktivis muda itu divonis di Pengadilan Negeri Surabaya dengan penjara empat tahun. Ikut dihukum Coen Husein Pontoh, juga aktivis PRD.

"Kami memantau perjuangan rekan-rekan mahasiswa yang menggulirkan arus reformasi dari dalam penjara," cerita Sholeh.

Presiden Suharto akhirnya lengser pada 21 Mei 1998. Dua bulan kemudian, tepatnya 23 Juli 1998, para tahanan dan narapidana politik mendapat amnesti dari Presiden B.J. Habibie.

"Artinya, saya hanya menjalani masa hukuman dua tahun di Penjara Kalisosok. Keluar dari penjara, saya dipercaya menjadi ketua PRD Jawa Timur," tutur pria yang pandai berdebat itu.

Keluar dari penjara, Sholeh ingin kuliah lagi. Namun, dia tidak kuliah di FISIP melainkan di Fakultas Hukum. Kenapa? "Karena saya lihat perjuangan Munir (almarhum), Bambang Wijoyanto, Adnan Buyung Nasution, dan Trimulya D. Suryadi yang gigih membela saya dan teman-teman aktivis yang ditahan. Saya pun tertarik kuliah di hukum agar bisa jadi pengacara."

Lalu, menikah dengan sesama aktivis. Kini dia punya lima anak.

Lulus pada 2001 dari Universitas Wijaya Kusuma, Sholeh menekuni dunia pokrol bambu alias kepengacaraan. Rupanya, pengalaman sebagai aktivis, bekas napol, sangat membantu.
"Saya jadi lantang membela klien. Saya juga banyak dikenal orang," akunya.

"Karena dikenal orang, saya bisa masuk ke mana saja dengan leluasa," tambahnya.

Kini, Sholeh dipercaya sebagai pengacara PDI Perjuangan Kota Surabaya. Tak heran, wajah Sholeh kerap nongol di media massa ketika menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan partai politik pemenang pemilu di Jawa Timur itu.
Dia pun meninggalkan PRD dan para aktivis lama yang masih berkutat dengan romantisme perjuangan ala Orde Baru dulu.
Sholeh dulu dan sekarang sudah beda. Bahkan, dia pernah dikontrak TVRI Surabaya sebagai presenter acara Suara Dewan.

Saat ditanya tentang hasil reformasi selama sembilan tahun terakhir, Sholeh mengatakan bahwa reformasi 1998 ternyata menciptakan banyak pengkhianat. Orang-orang yang berkuasa justru menindas rakyat, menyelewengkan agenda reformasi. Kasus korupsi alias KKN tidak kunjung tuntas. Alih-alih mengadili Suharto, penguasa pascareformasi malah membebaskan presiden yang berkuasa sejak 1966 hingga 1998 itu.

"Saya kecewa dengan reformasi walaupun ada perbaikan di beberapa sendi," kata Sholeh.

Di sisi lain, tidak sedikit aktivis yang juga kecewa dengan kiprah Sholeh di PDI Perjuangan. Sholeh dinilai mengejar kemapanan dan melupakan masa-masa sulit saat menjadi pejuang buruh dan wong cilik pada era 1990-an dulu.

Aktivis juga manusia, bukan? Perlu uang, perlu makan, perlu istri yang butuh uang belanja. Hehehe....

Berjuang teruslah, Sholeh!

Memet Chairul Slamet Pemusik Madura



Setahu saya, jarang ada orang Madura yang menekuni profesi seniman. Di pulau garam itu memang banyak orkes dangdut, hadrah, grup kesenian islami..., tapi hampir tidak ada pemusik yang benar-benar seniman.

Nah, MEMET CHAIRUL SLAMET boleh dibilang orang Madura yang langka. Sejak 1970-an Memet memilih musik sebagai bagian dari hidupnya. Dia sengaja kuliah di Institut Seni Indonesia [dulu Akademi Seni Musik Indonesia] agar menghayati benar binatang apa musik itu. Kalau sekadar tahu musik di permukaan, ya, tak perlulah sampai kuliah di ISI segala.

Memet bukan saja lulus dengan gemilang, tapi juga larut dalam musik. Dia menganggap bermusik sebagai bagian dari ibadahnya. Memet kemudian menjadi dosen ISI jurusan musik, dan terus bermusik. Sebab, ‘virus’ musik tampaknya sudah mengalir deras di dalam darahnya.

"Saya ingin memberikan sesuatu kepada bangsa ini lewat musik. Di musik, yang namanya manusia dan kemanusiaan itu menyatu,” tutur Memet Chairul Slamet dalam beberapa kali percakapan dengan saya di Surabaya.

Opsi musik Memet Chairul Slamet di luar jalur industri. Dia memilih musik seni, musik kontemporer, tradisi, eksperimental.... Karena itu, musik Pak Memet memang kurang dikenal orang ramai. Jangankan masyarakat Indonesia, orang Madura sendiri pun saya kira tak banyak yang tahu kalau ada putra daerah mereka yang menekuni art music. Bahkan, teman-teman wartawan pun asing dengan nama Memet Chairul Slamet.

Di Indonesia, seperti diketahui, orang tergila-gila dengan musik industri. Memberhalakan penyanyi pop, dangdut, rock. Televisi menjadi referensi utama. Maka, yang disebut artis itu, ya, wajah-wajah yang kerap tampil di televisi. Muncul di program-program gosip alias infotainmen. Baru belajar main ben, belajar nyanyi, lalu lagunya laku keras... itulah artis. Piawai goyang seksi, meski suara fals dan tak paham musik, sah-sah saja disebut artis.

Bagaimana dengan orang-orang macam Memet Chairul Slamet?

“Itu sih bukan artis. Masa, potongan kayak gitu dibilang artis,” ujar teman saya, bekas wartawan koran terkenal di Surabaya.

Waktu itu saya ajak dia meliput konser Memet Chairul Slamet di Gelora Pancasila, Surabaya. Sebelumnya saya mengatakan bahwa Pak Memet itu sudah dikenal di mana-mana, bahkan ke luar negeri.

“Kalau bukan artis, lalu apa?”

“Apa ya? Artis itu kayak Peterpan, Dewa 19, Agnes Monica, Arie Wibowo.... Hehehe....”

Begitulah pemahaman artis di Indonesia. Apa boleh buat, saya terpaksa datang meliput pergelaran musik Memet Chairul Slamet di Gelora Pancasila, sendirian. Wartawan-wartawan lain menolak dengan alasan ‘nilai beritanya tak ada’ dan ‘koran tidak akan laku’. Gila!

Waktu itu Memet menyajikan musik alternatif. Kombinasi nada-nada Arab [macam kasidah], tembang pentatonik, nada-nada diatonis, dengan aneka macam instrumen. Dia juga pakai paduan suara. Ada seksi gesek yang orkestrasinya ditulis sendiri oleh Memet. Di atas panggung, Memet pun berperan sebagai dirigen.

"Saya memang bertanggung jawab penuh atas karya saya. Saya ingin agar jiwa musik saya terjaga,” ujar pemusik yang lekas akrab dengan saya itu. Oh, ya, Memet pun main beberapa instrumen tiup, mulai flute, suling, seruling, serta beberapa alat musik tradisional.

Menikmati sajian musik Memet Chairul Slamet, jujur saja, kita seakan-akan dibawa ke alam lain. Kita yang setiap hari digedor oleh musik industri tiba-tiba diingatkan oleh Pak Memet. Bahwa musik itu punya dimensi spiritual. Dimensi rohani. Dengan musik, kita diajak untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, Sang Pencipta Keindahan.

Musik bukan semata-mata menyuguhkan sensualitas, goyang ngebor, rayuan-rayuan gombal ala lirik lagu pop. "Saya hanya bisa menawarkan, ini lho musik saya. Perkara masyarakat menerima atau tidak, itu sih terserah. Yang penting, saya sudah berusaha berkarya dengan sungguh-sungguh,” tutur Memet.

Bicara dengan orang Bangkalan, yang mukim di Jogja, ini memang asyik. Kita diajak untuk berpikir lebih dalam. Lebih filosofis. Musik bukan semata-mata adonan bunyi yang terindra telinga. Musik itu anugerah Tuhan kepada manusia yang sungguh kaya. Tinggal bagaimana manusia mengelola bahan-bahan dasar tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi hidup dan kehidupan.

"Saya tahu Pak Memet itu sejak dulu memang konsisten. Dia tidak pernah beranjak dari idealismenya,” ujar Sudibyo, juga orang Madura, lulusan Akademi Musik di Jogja.

Beda dengan Memet, Sudibyo mencari nafkah di Surabaya dan Sidoarjo dengan menjadi pengiring di kafe-kafe malam. Skill musik Sudibyo tergolong sangat bagus untuk ukuran Jawa Timur. Dia mampu mengiringi lagu jenis apa saja dengan sempurna, termasuk lagu-lagu yang belum dia kenal. Saya pernah ‘mengetes’ Sudibyo dengan lagu karangan saya sendiri. Eh, ternyata langsung jadi, lengkap dengan aransemen musik yang dinamis.

Bersama Kelompok Seni Gangsadewa, Jogjakarta, Memet akan menampilkan karyanya di Festival Seni Surabaya [FSS] 2007. Temanya Culture Movement. Memet diundang panitia FSS 2007 karena karya-karyanya dinilai eksperimental, kontemporer, dan futuristik. Sesuai dengan standar FSS.

“Sejak awal saya tekankah bahwa FSS harus memenuhi tiga kriteria itu. Eksperimental, kontemporer, futuristik. Kalau biasa-biasa saja, jreng-jreng-jreng, ya, buat apa kita bikin festival yang menelan biaya sangat besar?” ujar Kadaruslan, penggagas sekaligus dedengkot FSS, kepada saya.

Memet Chairul Slamet menampilkan instrumen gado-gado dari dalam dan luar negeri. Taganing Batak. Gender Jawa. Rindik Bali. Kemudian jembe, dijeridu, tuba, violin, seruling, dan segepok lagi. Kenapa begitu bervariasi?

“Sebab, sejak dulu musik saya itu multikultur. Saya dan teman-teman [pemusik] menjadikan musik sebagai perayaan multikultur,” tegas Memet Chairul Slamet.

Bhinneka tunggal ika! Bagi Memet, ini bukan sekadar slogan atau jargon kosong tanpa isi. Orang Madura ini dengan tekun, kerja keras, ditambah wawasan musik akademisnya, menyatukan semuanya dalam komposisi-komposisi garapannya. Paduan nada-nada dari aneka instrumen [dari berbagai negeri] itu ternyata bisa melebur menjadi satu. Harmonis. Apik. Indah.

Bangsa ini membutuhkan orang-orang macam Memet, yang melihat perbedaan sebagai aset. Bukan malah membenci perbedaan dan getol memaksakan ideologi dan pandangan hidupnya kepada orang lain.

27 May 2007

Lagu Seriosa Itu Apa



Kisah Mawar di Malam Hari - komposisi yang sering dijadikan lagu wajib/pilihan dalam pemilihan bintang radio dan televisi pada 1990-an. Lagu karya mendiang Iskandar ini juga dipopulerkan oleh Trio Bimbo.


Catatan LAMBERTUS HUREK
Penikmat Musik Klasik

Pada 1980-an lagu seriosa sering diperdengarkan di Televisi Republik Indonesia [TVRI], satu-satunya televisi masa itu. Kini, seriosa nyaris tidak ada lagi. Tidak dapat tempat di televisi atau radio. Pertanyaannya, lagu seriosa itu apa?


Saya suka main-main ke kantor Surabaya Symphony Orchestra (SSO) di Jalan Gentengkali 15 Surabaya. Bangunan tiga lantai di kawasan strategis kota Surabaya. Selain kantor, SSO membuka kelas vokal dan musik, juga punya concert hall kecil untuk berlatih atau home concert. Tiap hari ada saja anak-anak dan remaja yang mengikuti les musik klasik.

Saya bertandang ke sana karena kebetulan kenal dekat dengan Pak Solomon Tong, dirigen sekaligus pendiri SSO. Para staf serta beberapa penyanyi andalannya pun saya kenal baik. Jelek-jelek begini, saya sempat mengikuti latihan vokal bersama Paduan Suara SSO. Diskusi dengan Pak Tong bikin wawasan musik klasik saya bertambah-tambah.

"Kamu ikutlah karena suaramu bagus. Kamu juga bisa menyanyi," kata Solomon Tong kepada saya di rumahnya, Jalan Kawi 3 Surabaya, di awal karier saya sebagai jurnalis, menjelang kejatuhan Presiden Suharto.

Sayang, karena sibuk meliput ke mana-mana, saya tidak bisa intens berlatih seni suara klasik. Cukup menonton, kemudian menulis sedikit liputan di surat kabar.

Baru-baru ini, setelah membual dengan Yanti dan Mimin (keduanya staf SSO), saya diterima Solomon Tong di ruangannya. Pria kelahiran Xiamen Tiongkok, 20 Oktober 1939, ini tengah menulis sambil menikmati rekaman Konser Kemerdekaan SSO, awal Agustus 2006 di Hotel JW Marriot. Dalam setahun SSO rata-rata menggelar tiga kali konser besar.

"Yang ini konser ke-46 selama 10 tahun usia SSO," ujar Solomon Tong. Saat itu Pauline Poegoeh, soprano andalan SSO, tengah membawakan lagu klasik karya W.A. Mozart.

"Pak Tong, saya ingin tahu apa sebetulnya seriosa itu?" pancing saya.

"Nah, ini pertanyaan bagus. Kita perlu meluruskan istilah seriosa itu. Di luar negeri tidak dikenal lagu atau musik seriosa. Kita di Indonesia saja yang salah kaprah," kata suami Ester Carlina Magawe, pianis top Surabaya, itu.

Celakanya lagi, "Seriosa dalam pengertian Indonesia itu sangat sempit, hanya untuk vokal serius. Ini yang sulit ditangkap masyarakat awam," ucapnya.

Saya pun teringat pemilihan Bintang Radio dan Televisi atau BRTV di TVRI pada 1980-an. Selain keroncong, lomba menyanyi tingkat nasional ini menampilkan kategori seriosa dan hiburan. Lagu seriosa yang saya lihat di TVRI dibawakan dengan 'sangat serius', busana formal, teknik vokal klasik, suara bergetar (vibrasi kuat)--mirip orang kedinginan, begitu olok-olok masyarakat--lagu-lagunya sulit, sehingga peserta sedikit.

Lagu-lagu seriosa yang kerap dilombakan di BRTV antara lain:

Seuntai Manikam (Djohari)
Keluhan Kuncup Melati (Ibu Sud)
Cempaka Kuning (Syafei Embut)
Taufan (C. Simandjuntak)
Fajar Harapan (Ismail Marzuki)
Karam (Iskandar)
Kasih di Ambang Pintu (Iskandar)
Bukit Kemenangan (R. Djuhari)
Bintang Sejuta (Ismail Marzuki)
Senja Semerah Bara (F.A. Warsono)
Mekar Melati (C. Simandjuntak).

Kisah Angin Malam (Saiful Bahri)
Puisi Rumah Bambu (FX Sutopo)
Wanita (Ismail Marzuki)
Kisah Mawar di Malam Hari (Iskandar)
Embun (GWR Sinsu)
Di Sela-Sela Rumput Hijau (Maladi)
Citra (C. Simandjuntak)
Dewi Anggraeni (FX Sutopo)
Kembang dan Kumbang (Sancaya HR)


Kebetulan saya bisa membawakan hampir semua lagu ini meskipun kualitas vokal saya masih di bawah peserta bintang radio. Saya sodorkan daftar lagu ini kepada Solomon Tong. "Lagu-lagu ini yang biasa disebut seriosa itu," kata saya. Tong tersenyum.

Sebagai dirigen orkes simfoni dan mantan juri BRTV jenis seriosa, Tong niscaya sangat paham lagu-lagu seriosa versi Indonesia itu. Dia berkeras istilah 'seriosa' salah kaprah. Tidak cocok dipakai di dunia musik karena bisa membingungkan orang luar negeri.

"Indonesia ini hanya mengutip setengah-setengah lagu-lagu pada zaman Barrock. Di Jerman istilahnya lieder artinya song. Tapi arti sesungguhnya art song," kata Tong.

Puisi yang dilagukan ini melahirkan lieder-lieder yang sangat terkenal di Jerman. Cara pembawaanya pun 'serius', berbeda dengan lagu-lagu biasa.

Di mata Solomon Tong, lagu-lagu seriosa yang dilombakan di BRTV tidak cocok dengan konsep art song.

"Itu kan lagu-lagu kepahlawanan, perjuangan, cinta tanah air. Kita jangan paksakan diri memakai istilah seriosa. Nanti bikin bingung orang," tutur Solomon Tong yang mendirikan SSO pada 1996 itu.

SSO merupakan orkes simfoni langka di Indonesia karena paling aktif menggelar konser besar maupun konser kecil.

Sebagai 'suhu' musik klasik, Tong memang berkeinginan kuat untuk meluruskan banyak istilah musik yang salah kaprah di Indonesia. Salah satunya seriosa. Kalau sekadar berarti 'serius', apanya yang serius? Apa hanya cari pembawaannya? Menurut dia, sebaiknya kita menggunakan istilah-istilah musik yang berlaku universal. Untuk vokal, misalnya, ada opera, aria, oratorio, sacred song, secular song, folk song.

"Kalau yang sedang dibawakan Pauline ini jenis aria dari Mozart. Jangan disebut seriosa! Nggak jelas!" tutur Tong.

"Kenapa anda tidak meluruskan istilah seriosa sejak dulu? Bukankah anda sering menjadi juri BRTV?" tanya saya.

"Saya sih maunya begitu, tapi tidak pernah diberi kesempatan oleh panitia. Waktu saya jadi juri, selalu ada pesanan supaya memberi bobot lebih kepada peserta yang berpenampilan menarik dan macam-macam lah," ujar Tong yang mulai membina paduan suara dan musik klasik sejak 1957.

Beberapa waktu lalu Tong sempat bertemu dengan kepala program TVRI Surabaya. Tong ingin 'meluruskan' salah kaprah istilah seriosa melalui televisi negara itu.

"Pak Sutrisno tanya apa saya bersedia jadi narasumber. Saya jawab oke. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasannya," kata Solomon Tong, kecewa.

Tidak itu saja. Tong pun ingin menggalakkan musik vokal untuk remaja lewat TVRI Surabaya agar muncul bibit-bibit vokalis masa depan. Ternyata, konsep sosialisasi ala Solomon Tong sangat dihargai, tapi masih sulit dilaksanakan di Indonesia. Karena itu, Tong selalu meminta wartawan-wartawan di Surabaya, khususnya saya, untuk membuat tulisan tentang musik klasik yang apresiatif.

"Tanpa media massa, musik klasik tidak akan jalan. Kalian itu mitra saya, partner saya," tutur Tong dalam berbagai kesempatan. Jangan heran, beliau senantiasa memberikan waktu kepada saya untuk membahas tetek-bengek seputar musik klasik kapan saja.



KELUHAN KUNCUP MELATI karya Ibu Sud. Lagu seriosa yang sederhana. Notasi angka ini saya tulis hanya berdasarkan ingatan belaka. Maaf sebesar-besarnya kalau kurang akurat.


AGAR bahasan ini komplet, saya lengkapi dengan pandangan Suka Hadjana, pemusik, dirigen, dan kritikus kelahiran Jogja 17 Agustus 1940. "Istilah musik seriosa sesungguhnya agak berlebihan," ujar Suka Hardjana.

Menurut dia, seriosa ala BRTV tak lain bagian dari seni olah suara (menyanyi) dengan teknik tertentu, diiringi piano atau aransemen orkes. Lagunya pendek-pendek dalam bentuk lied bermatra tiga frasa sederhana: awal, sisipan, ulangan.

"Dilihat dari bentuk penulisan dan pembawaannya pun sesungguhnya masih terlalu sederhana untuk dibilang seni serious(a). Istilah musik seriosa yang kedengaran agak ke-italia-italia-an itu sebenarnya berasal dari pemilahan khazanah musik di Amerika dan Eropa di awal perkembangan industri musik sesudah Perang Dunia II," Suka Hardjana menguraikan.

Adalah Amir Pasaribu yang mengimpor istilah 'seriosa' ke Indonesia untuk memberi ciri salah satu kategori Bintang Radio yang digelar pertama kali pada 1952. Waktu itu televisi belum ada di Indonesia. Setelah TVRI berdiri pada 1964, menjelang Asian Games di Jakarta, Bintang Radio pun diperluas menjadi Bintang Radio dan Televisi (BRTV).

Setelah dominasi TVRI sebagai satu-satunya televisi dihapus, pamor BRTV pun meredup sama sekali. Kini, ajang pemilihan BRTV praktis lenyap sama sekali di Indonesia. Seperti Pak Tong, Pak Suka Hardjana suka menulis kolom reguler di harian Kompas. Berikut sedikit catatan Pak Suka tentang lagu-lagu seriosa versi Indonesia:

"Sangat mengherankan bahwa mereka (penulis lagu seriosa Indonesia) sepertinya sama sekali tak terinspirasi oleh komponis-komponis yang lebih fundamental seperti Bach, Mozart, Debussy, Bartok, Stravinsky, dan lainnya.

Tapi hal itu bisa dimengerti bila diingat bahwa sesungguhnya lagu-lagu pendek mendayu-merdu-merayu dari para komponis Romantik mudah masuk selera. Dan itu rasanya lebih dekat dengan apresiasi diletantis para komponis Indonesia dari dulu hingga sekarang," demikian Suka Hardjana menulis di bukunya, Esai & Kritik Musik' (Penerbit Galang Press, Jogjakarta, 2004).

Yo wis, Cak! Suwun!



BUKIT KEMENANGAN
(Lagu Seriosa Paling Terkenal)

By Djuhari
 

Tiga windu kini hampir berlalu
Sejak kata perkasa berkumandang
Di bukit itu kami berkukuh
Kami hadang angkara menyerang

Pekan bulan penuh kisah sejarah
Pagi cerah kadang bersimbah darah
Tawa dan tangis berganti datang
D iantara nyala s’mangat juang

Dengan Bismillah … Fisabilillah…
Tekad bulat pantang m’nyerah
Demi merdeka nusa dan bangsa
Rela berkorban jiwa

Meriam menggelegar … p’luru menyambar
Hati tak pernah gentar
Kawan berguguran mayat berserakan
Namun aku terus maju

Serang … terjang …
Gempur … tempur …
Benteng lawan berantakan
Kugemakan sangkakala kejayaan

Kini tinggal aku dan bukit itu
Kunamakan Bukit Kemenangan
Tonggak kenangan tugu pahlawan
Lambang sakti abadi pertiwi
Tempat hati runduk bersemadi

26 May 2007

Mempengaruhi - Memengaruhi, Memperbesar - Memerbesar


Oleh Lambertus L. Hurek


Akhir-akhir ini, teman-teman editor sering membahas bahasa surat kabar. Pekan lalu, kami diskusi panjang lebar tentang kata bentukan baru seperti MEMENGARUHI, MEMESONA, MEMERHATIKAN, MEMERKOSA, MEMERCAYAI, MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN.... Lalu, ada model lebih baru lagi: MEMERBESAR, MEMERSATUKAN, MEMERBOLEHKAN....

Intinya, prefiks gabungan MEMPER +.... diluluhkan menjadi MEMER + ....

Diskusi berlangsung hangat. “Ini aneh sekali. Banyak pembaca yang bingung dengan kata-kata bentukan baru itu. Banyak yang telepon karena mengira salah ketik. Lha, kok salah ketiknya banyak sekali?” ujar teman penyunting menirukan masukan dari pembaca koran yang kritis.

"Saya juga tidak sreg. Media itu boleh bereksperimen, tapi jangan kebablasan. Kalau kelewatan, ya, bisa dianggap ngawur. Apa tidak sebaiknya kita kembali saja ke bahasa yang umum dipahami masyarakat? Menurut kamus, bagaimana sih?” tukas redaktur lain.

Diskusi cukup hidup, tapi tidak ada hasil. Macam debat kusir. Kata putus sonder ada karena, harus diakui, saya dan teman-teman ini bukan pakar bahasa. Orang media memang bekerja dengan kata-kata, tapi bukan pakar bahasa.

“Sia-sialah kita bertengkar karena kita bukan pakar bahasa. Celaka kalau kita buat keputusan sendiri berdasar kesepakatan, apalagi voting. Kapasitas kita apa? Nanti malah diketawain orang,” ujar wartawan lain.

Saya pun ikut gundah.

Kata-kata bentukan baru seperti contoh di alinea awal mula pertama diperkenalkan oleh harian KOMPAS pada 2005. Kebetulan koran Jakarta ini berhari jadi ke-40 tangal 28 Juni 2005. Redaktur bahasa KOMPAS bikin kebijakan, sejauh yang saya tangkap: meluluhkan semua konsonan tak bersuara [k, p, t, s]. Maka, ME + PESONA menjadi MEMESONA. Bentukan MEMPESONA yang kita pakai selama bertahun-tahun dianggap salah. MEMERHATIKAN, MEMERKOSA, MEMENGARUHI....

Kata dasar serapan dari bahasa asing pun diluluhkan. Contoh: KONSUMSI, POPULER, SOMASI.... ditambah awalan me + menjadi MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN, MENYOMASI....

“Alhamdulillah, akhirnya KOMPAS berani meluluhkan k, p, t, s. Seharusnya dari dulu begitu. Saya pun sejak dulu tidak sepakat dengan beberapa pengecualian dalam bahasa kita,” ujar Ahmad, editor bahasa sebuah media di Surabaya.

Gara-gara ‘gejala bahasa’ baru ini, saya mulai memeriksa lagi buku-buku lama saya. Sudah kusam, berdebu, karena lama tak dibaca. Salah membaca kembali TATABAHASA INDONESIA karya Prof. Dr. Gorys Keraf [RIP], pakar bahasa yang kebetulan berasal dari daerah saya, Lembata, Flores Timur. Buku terbitan Nusa Indah, Ende, 1970, ini paling banyak dipakai sebagai rujukan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Jangan heran buku tatabahasa karya Gorys Keraf dicetak ulang 20-an kali... sampai sekarang.

Gorys Keraf sejak tahun 1970 memang sudah merumuskan pedoman NASALISASI. Anda bisa membaca halaman 55-57 buku TATABAHASA INDONESIA TERSEBUT. Topik ini, saya nilai, sangat relevan dengan kebijakan redaktur KOMPAS [dan diikuti media-media lain] meluluhkan konsonan tak bersuara [k, p, t, s] yang kemudian bikin banyak pembaca ‘takjub’ itu.

Lima pedoman nasalisasi menurut Gorys Keraf:

1. Nasalisasi berlangsung atas dasar HOMORGAN. Artikulator dan titik artikulasi sama seperti fonem yang dinasalkan. Rumusnya agak sulit, tapi sangat mudah dipraktikkan orang Indonesia. Contoh: p dan b bernasal m [PUKUL jadi MEMUKUL, BUAT jadi MEMBUAT]. Fonem k dan g bernasal ng [KAIS jadi MENGAIS, GAMBAR jadi MENGGAMBAR].

2. Konsonan bersuara tetap, konsonan tak bersuara [k, p, t, s] luluh.

3. Nasalisasi hanya berlaku pada kata-kata dasar atau yang dianggap kata dasar. Kata berimbuhan tidak mengalami nasalisasi.

4. Fonem y, r, l, w tidak mengalami nasalisasi. Istilahnya, nasalisasi zero.

5. Kata-kata serapan yang masih terasa asing, meski menggunakan k, p, t, s tidak diluluhkan untuk menjaga jangan sampai menimbulkan salah paham.


Merujuk pada lima pedoman Gorys Keraf ini, maka bentukan-bentukan baru macam MEMENGARUHI, MEMUNYAI, MEMERHATIKAN, MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN... tidak salah. Sebab, konsonan tak bersuara [k, p, t, s] memang harus luluh. Bahwa selama puluhan tahun kita memakai MEMPENGARUHI, MEMPUNYAI, MEMPERHATIKAN, MENGKONSUMSI, MEMPOPULERKAN... semata-mata akibat kebiasaan saja. Salah kaprah. Kesalahan yang dibiasakan terus-menerus sehingga dianggap benar.

Tapi, ingat, di bahasa mana pun selalu ada pengecualian atau eksepsi. Formula tatabahasa tidak selalu diikuti begitu saja. Bahasa Inggris, misalnya, punya kata kerja tak beraturan yang menyimpang dari rumus umum. Kita harus menghafal sekian banyak irregular verbs kalau ingin berkomunikasi dengan baik dan benar dalam bahasa Inggris.

Karena itu, beberapa pakar bahasa tetap berpandangan bahwa MEMPENGARUHI, MEMPESONA, MEMPUNYAI, MEMERHATIKAN... haruslah dianggap sebagai irregular verbs dalam bahasa kita. Jadi, tidak perlu diluluhkan meski berkonsonan k, p, t, s.

Bagaimana dengan kata serapan macam POPULER, KONSUMSI, SOMASI, KAJI...?

Pedoman nasalisasi ala Gorys Keraf pada 1970 mengecualikan peluluhan kata-kata yang terasa masih asing meski berkonsonan k, p, t, s. Jadilah MEMPOPULERKAN, MENGKONSUMSI, MENGKONSTATASI, MENSOMASI, MENGKAJI [dibedakan dengan MENGAJI Alquran]....

Rupanya, setelah melewati tiga dekade, para redaktur bahasa media berpendapat bahwa kata-kata serapan itu tidak terasa asing lagi. Karena itu, kata-kata serapan tersebut diperlakukan sama dengan kata-kata ‘asli’ bahasa Indonesia: mengalami peluluhan k, p, t, s. Repotnya, pemakai bahasa [masyarakat] sudah bertahun-tahun menggunakan bentukan yang tidak diluluhkan, sehingga mereka menganggap ‘aneh’ bentukan-bentukan seperti MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN, MENGAJI [ganti MENGKAJI]....

Bagaimana pula dengan bentukan lebih baru lagi: MEMERBESAR, MEMERPANJANG, MEMERSATUKAN... yang sudah dipakai di beberapa surat kabar Surabaya?

Pada 1970, sekali lagi, Gorys Keraf sudah membuat sedikit panduannya. “... pada prinsipnya peluluhan berlaku pada kata-kata dasar, bukan pada afiks [imbuhan],” tulis guru besar Universitas Indonesia, Jakarta, itu.

Persoalannya, sejak dulu sudah ada bentuk bersaing atau ketaksaan dalam bahasa kita. Di bukunya, Gorys Keraf mencontohkan MENTERTAWAKAN dan MENERTAWAKAN. Kedua-duanya dianggap benar, waktu itu. Kenapa? Persoalannya di kata dasar. Menurut Keraf, sebagian orang berpendapat bahwa TERTAWA itu kata dasar, sebagian lagi bilang TAWA. Kubu yang menganggap TERTAWA kata dasar membuat bentukan MENERTAWAKAN. Kubu lain menggunakan MENTERTAWAKAN karena TERTAWA dianggap kata berawalan TER.

Bentukan MENERTAWAKAN ini kemudian menganalogi dalam MENGELUARKAN, MENGETENGAHKAN, MENGEMUKAKAN.... dan seterusnya. Ini semua kata berimbuhan yang mengalami peluluhan konsonan tak bersuara. Di bukunya, TATABAHASA INDONESIA, Prof. Gorys Keraf secara eksplisit menolak peluluhan MEMPERTAHANKAN, MEMPERBAIKI, MEMPERSATUKAN... dan sebagainya [baca halaman 56].

Bahasa itu dinamis, hidup, mengikuti perkembangan masyarakat. Bisa saja tatabahasa yang dirumuskan pakar bahasa 30 tahun lalu, boleh jadi, tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat di tahun 2007 ini. Apalagi, bahasa asing, khususnya American-English, bukan lagi sekadar diserap secara terbatas, tapi dipakai secara berlebihan oleh orang Indonesia sekarang.

Bahasa gado-gado [Indonesia, Jawa, Betawi, Inggris] malah menjadi gaya hidup. “Please deh! Aku boring banget deh kalau listening music like that. By the way, aku coba meng-apreciate... siapa tahu content-nya keren. Hehehe....”

Beginilah gaya bahasa teman saya, 30 tahunan, di Surabaya. Khas anak gaul [remaja SMA] di Jakarta. Bahasa apakah ini? Saya yakin Gorys Keraf, J.S. Badudu, Anton M. Moeliono... pun pusing tujuh keliling mendengarkannya.

Kembali ke kata-kata berimbuhan. Apakah harus diluluhkan juga agar kita taat asas pada hukum kedua Gorys Keraf? Saya pribadi, terus terang saja, masih belum ikhlas menerima bentukan-bentukan baru macam MEMERBESAR, MEMERSATUKAN, MEMERSOALKAN... seperti yang dipakai di beberapa koran Surabaya.

Namun, menganalogi pada bentukan MENERTAWAKAN [saya berpendapat bahwa TERTAWA dibentuk dari kata dasar TAWA], kreativitas teman-teman penyunting bahasa untuk mengganti kombinasi awalan MEMPER + [asalnya ME + PER] menjadi MEMER + [fonem p diluluhkan] tidak tanpa alasan. Sangat masuk akal.

Sebab, kalau diurai lebih lanjut, kata MEMPERBAIKI [sebagai contoh] berasal dari ME + PERBAIKI. Nah, PERBAIKI bisa kita anggap sebagai kata dasar.

Dengan begitu, pedoman ketiga Gorys Keraf pun berlaku:

“Nasalisasi hanya berlangsung pada kata-kata dasar atau yang dianggap kata dasar.”

Bocah Disunat Jin

Nasrullah, bocah berusia lima tahun dari Desa Tenggulunan, Kecamatan Candi, Sidoarjo, disunat jin. Warga sempat geger, tapi bangga.


Kejadiannya sudah berselang sekitar dua bulan lalu. Tapi sampai sekarang kasus Nasrullah disunat oleh jin masih menjadi bahan pembicaraan warga RT 11/RW 04, Desa Tenggulunan, Candi, Sidoarjo. Menurut warga, bocah ini memiliki kelebihan khusus dibandingkan orang biasa.

Buktinya?

'Lihat kupingnya si Nasrullah, bisa bergerak ke mana-mana. Kuping orang biasa kan tidak bisa,' ujar warga kepada saya.

Nasrullah sih tenang-tenang saja. Anak kelima pasangan Muhammad Sukri dan Holiyah itu bahkan dengan bangganya memperlihatkan telinganya yang bisa buka tutup. Aneh memang!

Peristiwa khitanan ajaib ini, menurut orang tua Nasrullah, terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu bocah nol kecil Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita ini main-main bersama anak-anak sebaya. Nasrullah naik ke atas pohon gayam di pinggir jalan kampung.

Di atas pohon, cerita Mat Sukri, Nasrullah tampak kejang, menggenggam kedua tangannya, seperti menahan rasa sakit. Saat disapa teman-temannya ia diam saja. Barulah beberapa menit kemudian sang teman melihat celana Nasrullah berdarah. 'Ada apa? Ada apa?' tanya anak-anak kampung, penasaran.

Begitu terkejutnya Mat Sukri, pedagang ayam di Pasar Larangan, melihat penis anaknya sudah dalam keadaan terkhitan. Kulup atawa kulit penutup penis sudah tidak ada. Hasil khitan pun sangat rapi. Tak kalah dengan sirkumsisi oleh dokter atau juru sunat. Bersih, rapi, dan cepat kering.

Kalau anak biasa sulit pakai celana sehabis khitan, Nasrullah justru bisa pakai celana seperti tak ada apa-apa. 'Nah, saya baru sadar kalau anak saya dikhitan oleh malaikat. Alhamdulillah.'

Kabar tentang Nasrullah, bocah yang dikhitan makhluk halus, menyebar luas di Tenggulung dan sekitarnya. Mat Sukri, dua hari kemudian, mengundang warga untuk bikin selamatan sebagaimana layaknya acara sunatan di kampung.

Mengutip kata-kata seorang ulama lokal, Nasrullah ini dikhitan oleh malaikat atau jin
Islam. 'Jadi, tidak benar kalau disunat oleh gendruwo,' ujar Mat Sukri, didampingi istri dan kerabat dekatnya. Sebelumnya memang muncul kabar angin bahwa Nasrullah disunat oleh gendruwo atau makhluk halus yang berbahaya.

Baik Mat Sukri maupun istrinya, Holiyah, mengaku tidak mendapat firasat apa-apa. Hanya saja, saat Nasrullah dikandung oleh ibunya, Mat Sukri mengaku sangat rajin puasa dan tirakatan. 'Yah, berdoa semoga anak saya yang lahir nanti sehat-walafiat, ibunya selamat, dia bisa menjadi anak yang baik. Saya tidak pernah membayangkan jadinya seperti ini,' ujar Mat Sukri.

Lalu, bagaimana dengan telinga Nasrullah yang bisa bergerak-gerak aneh?

Ini juga buntut khitanan unik di atas pohon gayam tersebut. Setelah sembuh--hanya dua hari saja--Nasrullah mengalami perubahan di kedua daun telinganya. Sepertinya ada arus listrik yang membuat telinga bocah kurus ini bergetar.

'Saya yakin ini semua karena kehendak Yang di Atas. Makanya, saya sebagai orang tua harus menerima kenyataan ini dengan penuh rasa syukur. Jarang lho anak-anak yang dikhitan oleh malaikat kayak anak saya,' ujar Mat Sukri, bangga.

Dasar anak-anak, Nasrullah tampaknya tidak banyak berubah. Ia tetap bercanda dan bermain-main dengan anak-anak di Tenggulunan yang sebagian besar keturunan Pulau Madura. Mereka juga tidak menganggap Nasrullah sebagai anak istimewa yang perlu mendapat perhatian khusus.

Namun, mereka yakin Nasrullah punya bakat supranatural yang tidak dimiliki oleh orang biasa. 'Sunatnya saja sama jin. Pasti dia punya kelebihan,' ujar beberapa warga di dekat makam Islam Tenggulunan kepada saya.

25 May 2007

Wadji MS Pembuat Relief KBS


Kebun Binatang Surabaya [KBS] punya ratusan relief di dinding yang sangat menarik. Kisahnya seputar dunia binatang. Yang bikin itu semua ternyata Wadji MS, seniman asal Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.


“Buatnya nggak sulit, tapi capek. Fisik saya benar-benar diuji saat membuat relief binatang di KBS,” ujar Wadji MS kepada saya.

Wadji MS alias Wadji Iwak memang seniman serba bisa. Berbekal gemblengan keras di Akademi Seni Rupa Surabaya alias Aksera, Wadji MS tumbuh sebagai orang yang menghayati benar kehidupan sebagai perupa. Apa saja dia tekuni di awal kariernya pada era 1970-an. Relief. Sketsa. Lukisan cat minyak. Lukisan di atas kanvas.

Bagi Wadji MS, membuat relief dalam jumlah puluhan hingga ratusan sama sekali bukan pekerjaan sulit. Tekniknya tak berbeda jauh dengan pekerjaan seni rupa lainnya. Hanya saja, untuk membuat sekian banyak relief seperti di KBS pada tahun 1980-an, ia harus memimpin pasukan dalam jumlah besar.

Kerja keras banting tulang di bawah sinar matahari Surabaya yang panas. Ketika hujan turun, ia dan pasukannya harus cepat-cepat mengamankan relief yang belum kering. Kerja tiap hari sampai seluruh dinding kebun binatang di kawasan Wonokromo/Joyoboyo itu rampung. Kesel tenan!

“Cukup repot, sangat capek, tapi itulah tantangan dalam berkesenian. Semua pekerjaan itu pasti ada tantangan dan kendala. Sing penting, awak dhewe iki lakoni urip ae. Kabeh-kabeh iku wis diatur ambe Gusti Allah,” ujar pria asli Sidoarjo ini seraya tersenyum.

Usai menggarap pesanan relief dari Perkumpulan KBS di Surabaya, Wadji MS mengaku ingin mencari tantangan baru. Tidak mungkin ia terus-menerus menggarap relief lantaran berbagai kerepotan mengkoordinasi sekian banyak orang tadi. Lagi pula, “Secara fisik saya merasa tidak sanggup bekerja seperti itu. Capek,” tegasnya.

Dan, singkat cerita, Wadji MS pun menjadi ‘Wadji Iwak’ seperti yang dikenal para seniman dan kolektor di Jawa Timur saat ini. Berbeda dengan kebanyakan pelukis yang mau menjajal objek apa saja, Wadji MS sengaja membatasi diri pada lukisan ikan. Kenapa ikan? “Yah, saya suka ikan. Filosofi saya juga ikan,” ujarnya.

Di mata Wadji MS, ikan itu binatang yang gesit, rajin, tidak pernah tidur, bisa hidup di lingkungan yang buruk, pantang menyerah. Wadji mengidentikkan diri sebagai ikan.
Makhluk air bernama ikan ini dieksploitasi habis-habisan oleh Wadji MS dalam karya-karyanya sejak 1970-an sampai hari ini.

Kendati begitu, ia merasa tidak mengalami kejenuhan atau kemandekan kreativitas. Ikan bisa dilukis dengan berbagai sudut pandang, gaya, gerak, irama, dan seterusnya. Belum lagi jenis ikan yang juga tak habis-habis ia eksplorasi.

“Sampai saya mati pun, insya Allah, saya tetap punya ide untuk menggambar ikan. Saya betul-betul tertarik dengan ikan, khususnya arwana,” tuturnya.

Khusus untuk arwana ini, menurut dia, ada banyak cerita mistis di baliknya, tentu bagi mereka yang percaya. Syahdan, dahulu kala arwana hanya boleh dikonsumsi oleh raja-raja atau kalangan bangsawan. Karena itu, ikan ini punya kelebihan khusus yang sulit dicari tandingannya. Latar belakang kisah seperti ini, bagi yang percaya, membuat lukisan arwana dijadikan bahan koleksi di rumah atau kantor. Siapa tahu sang kolektor mendapat keutamaan bak sang raja atau ratu.

“Kalau sudah bicara keyakinan, kita sulit menggunakan rasio biasa untuk memahaminya. Di sinilah seninya menggambar ikan, khususnya arowana,” kata Wadji MS yang sudah berkali-kali menggelar pameran di Sidoarjo, Surabaya, serta kota-kota lain di Indonesia.

Bagaimana dengan ikan lohan? Dipaksa seperti apa pun, Wadji MS enggan melukiskannya. Lho, kenapa? “Lohan itu singkatan dari ‘lo hancur’. Anda boleh percaya boleh tidak, tapi itu kenyataan. Saya mau lihat mana ada pemelihara ikan lohan ya eksis sampai sekarang? Nggak ada. Lohan itu pembawa sial,” ujar Wadji MS.


Pelukis di Surabaya dan Sidoarjo dalam beberapa tahun terakhir melonjak luar biasa. Di Sidoarjo 200 orang lebih. Di sisi lain pasar seni rupa tidak berkembang, sehingga persaingan menjadi sangat ketat.

"Nah, di sinilah teman-teman bisa menunjukkan ciri khasnya. Silakan orang menggambar ikan seperti yang saya lakukan. Tapi pasti ikan yang dihasilkan tidak sama dengan karya saya," ujar Wadji MS.

Setelah malang-melintang di seni rupa sejak 1976, menekuni beberapa jenis seni rupa, Wadji MS 'menemukan' dua filosofi penting dalam seni rupa.

Pertama, seniman harus bisa menghidupi karyanya.

Kedua, seniman harus bisa hidup dari karya sendiri. "Kalau saya jelaskan akan sangat panjang. Intinya, kita tidak boleh setengah-setengah kalau terjun ke seni rupa atau kesenian pada umumnya. Ini pilihan hidup yang harus dilakoni," ujar pria asal Dukuh Bangsri RT 08, Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, itu.

Hidup dari karya, apa berarti membuat lukisan yang disukai pasar (pembeli, kolektor, pedagang)? "Oh, tidak seperti itu," tepisnya cepat.

Menurut Wadji MS, saat berkarya, entah membuat relief atau lukisan, sang seniman harus bekerja berdasarkan idealisme atau prinsip-prinsip kesenian yang dianutnya. Menggambar tidak boleh dilakukan asal-asalan, harus seideal mungkin. Hanya dengan begitu, karakter seseorang akan muncul di karyanya. Inilah yang disebut Wadji MS sebagai 'menghidupi' karya.

Setelah karya, katakanlah lukisan itu jadi, maka idealisme itu selesai. Yang bicara sekarang adalah bagaimana 'mengantar' lukisan itu kepada kolektor alias pembeli. Ilmu marketing jelas terlibat dalam bisnis seperti ini. "Supaya bagus, lukisan dipigura, didandani yang bagus, ketemu kolektor, diskusi, ketemu wartawan, pameran, dan sebagainya."

Dalam praktik, tak sedikit pelukis yang tak banyak bergerak setelah menghasilkan karya yang, katanya, idealis. Lukisan itu hanya disimpan saja di studio, rumah, tidak diapa-apakan. Pola seperti ini membuat si seniman sulit hidup dari karyanya.

"Sebagus-bagusnya karya kita nggak akan ada kolektor yang tahu. Memang jadi seniman itu harus kerja keras, sama dengan profesi yang lain."

Wadji MS sendiri beberapa kali menyebut 'alhamdulillah' karena sudah 30 tahun lebih bisa hidup semata-mata dari lukisannya, yang khas ikan (arwana). Rahasianya sederhana saja:

"Kalau sudah punya kolektor, silakan dirawat dengan baik. Kolektor harus makin lama makin banyak, bukan makin lama makin sedikit. Punya 10 kolektor saja kita sudah bisa makan satu tahun, bahkan lebih. Yang penting, kerja keras, ulet, tidak pernah menyerah. Filosofi ikan itu yang saya pakai, sehingga saya eksis sampai sekarang."

Bicara dengan Wadji MS niscaya Anda tak menemukan kata-kata pesimistis, apalagi putus asa. Seperti ikan yang tak pernah lelah berenang.

24 May 2007

Sekolah Musik Purwacaraka



Purwacaraka Musik Studio (PCMS) berada di kompleks Sun City Plaza, Jalan Pahlawan Sidoarjo. Kursus musik ini dibina oleh Purwacaraka, pemusik asal Bandung, yang juga komposer dan penata musik ternama di Nusantara.

Siapa tak kenal Purwacaraka alias Kang Purwa? Kalau engkau rajin nonton televisi, pemusik ini selalu nongol di acara-acara musik papan atas. Sebutlah kontes nyanyi dangdut di TPI. Purwacaraka, kakak kandung penyanyi Trie Utami, memang dipercaya mengaransemen musik sekaligus memimpin big band pengiring KDI.

Purwacaraka juga menata musik untuk Tembang Kenangan di Indosiar. Juga di sejumlah acara musik lain di televisi kita. Sibuk nian pemusik nan murah senyum ini. “Tapi saya juga tetap memerhatikan sekolah-sekolah saya di seluruh Indonesia. Sebab, yang bertanggung jawab di PCMS itu saya,” kata Purwacaraka.

PCMS ini tergolong sekolah musik yang berkembang pesat. Setelah muncul di Surabaya, PCMS membuka cabang di Sidoarjo. Di seluruh Indonesia sudah ada sekira 40 PCMS. Kang Purwa datang sendiri untuk menyeleksi guru-guru musiknya. Kenapa? Dia ingin menyamakan standar mutu PCMS di seluruh Indonesia. Kebetulan sekolah ini punya buku pegangan, manual, tetek bengek... yang sama di mana-mana.

Mau tahu cara Kang Purwa menyeleksi guru alias instruktur di PCMS? Kira-kira 20 pelamar di Sidoarjo antre menunggu giliran diuji. Purwacaraka menunggu di dalam kelas. Lalu, petugas membacakan nama-nama pelamar untuk diuji langsung oleh sang maestro.

“Selamat datang, silakan main ini. Santai saja lah,” ujar Purwacaraka kepada salah satu pelamar seraya menyodorkan partitur [score].

Orang ini kelimpungan. Rupanya, dia bisa main, tapi buta notasi musik alias not balok. Ada yang bisa mengikuti not balok, tapi tidak lancar. Hasilnya jelas: pelamar ini ditolak mentah-mentah oleh Purwacaraka. Sebab, menurut Purwacaraka, PCMS adalah lembaga pendidikan yang menuntut pengajarnya bisa mengajar musik.

Lha, kalau guru tak bisa baca notasi musik, mau ngajar apa?

Purwacaraka justru menerima pelamar yang kualitas main musiknya biasa-biasa saja, tapi punya visi pendidikan musik. Baginya, guru tak harus pintar sekali, asalkan bisa mengarahkan siswa. Tugas guru pertama-tama bukan bermain musik, tapi membimbing siswa. Akan sangat afdal manakala ada guru yang pintar mendidik sekaligus pintar bermain musik. Yang begini ini lazimnya sangat langka.

“Guru musik itu beda dengan player. Banyak orang pintar sekali bermain musik, tapi tidak punya kemampuan sebagai guru. Sebaliknya, ada yang main musiknya biasa-biasa saja, tapi berbakat sebagai guru. Saya pilih yang kedua,” tutur Purwacaraka.

"Oke, terima kasih, Anda sudah ikut audisi. Sekarang giliran peserta lain," ujar Purwacaraka.

Begitulah seleksi guru PCMS ala Purwacaraka. Dari 20-an pelamar, tak sampai 10 yang diterima. Sebab, mencari guru musik yang benar-benar berkualitas memang bukan pekerjaan mudah di Nusantara.

"Saya nggak lulus, Mas. Mungkin tidak sesuai dengan kriteria Purwacaraka,” ujar seorang pemusik di Sidoarjo kepada saya. Padahal, orang ini dikenal sebagai pemusik yang mumpuni. “Gak apa-apa lah, kan masih ada peluang di tempat lain,” tambahnya, menghibur diri.

PCMS ini menggunakan pendekatan empat mata. Satu guru berhadapan dengan satu murid. “Kenapa begitu?”

“Supaya hubungan instuktur dengan siswa lebih intensif. Sistem kelas tidak efektif,” ujar Suhada, kepala cabang PCMS Sidoarjo. 

Suhada, PCMS Sidoarjo.

Dia lalu mengajak saya meninjau kelas-kelas PCMS di kompleks Sun City Plaza, Sidoarjo. Kelas atawa studio PCMS ini kecil, hanya berkisar 2 x 2 meter. Sistem peredam suaranya dibuat sedemikian rupa sehingga suara di dalam studio tidak terserak ke mana-mana. Suara asli siswa, karena itu, akan terdengar sangat jelas.

Di setiap studio terdapat piano elektrik bagi instruktur. Ada papan tulis putih [white board] di dekat piano. Bagi PCMS, perangkat ini penting karena kursus atau pelajaran musiknya sangat mengutamakan pengetahuan musik dasar musik. Kalau dasar alias fondasi sudah kuat, maka gampanglah kita merangkai bangunan yang lebih rumit.

“Di sini notasi balok wajib dikuasai oleh para siswa. Itu prinsip paling dasar di PCMS,” tutur Suhada.

Kenapa harus not balok? Menurut Suhada, bagaimanapun juga yang namanya not balok merupakan notasi musik internasional. Dengan not balok, para siswa akan bisa dengan mudah mengembangkan sendiri pengetahuan dasar yang diperolehnya di PCMS. Lama tatap muka rata-rata setengah jam.

“Berdasarkan pengalaman Pak Purwacaraka, bermain musik selama 30 menit paling efektif. Kalau terlalu lama malah hasilnya kurang bagus,” kata Suhada, yang asli Arek Surabaya.

PCMS Sidoarjo punya kelas vokal, piano, drum, biola. Nah, para siswa diberi wawasan musik selama setengah jam. Selanjutnya, mereka diberi tugas untuk digarap di rumahnya masing-masing. Jika siswa sudah fasih not balok, pengelola PCMS optimistis anak-anak itu bisa bermain musik apa saja.

“Pertama mungkin masih kaku, nggak lancar. Tapi kalau dilatih terus-menerus secara konsisten, pasti mulus. Modalnya, ya, kemampuan membaca not balok,” tutur Suhada.

Not angka atau hafalan [atau bakat alam] tidak dikenal di lembaga pendidikan musik versi Purwacaraka di Sidoarjo ini. “Kalau sekadar bisa main band, gitaran, nyanyi-nyanyi, ya, monggo. Tapi kalau sudah bicara pendidikan, kemampuan membaca notasi menjadi sangat mutlak,” tegasnya.

Menurut Suhada, notasi balok ini sebetulnya tidak sulit. Buktinya, para siswa yang datang tanpa pengetahuan musik apa pun cepat sekali menyerap pelajaran dari para instruktur PCMS. Anak-anak kecil [di bawah tujuh tahun] mampu bermain piano dengan membaca partitur. Tentu saja, ditulis dalam not balok.

“Di sini kami membuat orang yang tadinya tidak bisa apa-apa menjadi bisa,” ujar Suhada berpromosi.

“Ah, yang benar saja?” kata saya.

“Kalau nggak percaya, silakan sampeyan coba sendiri. Sampeyan boleh memilih kursus apa saja, terserah. Hehehe....”

“Ikut gitar klasik saja. Kayaknya menarik tuh.”

“Silakan.”

Begitulah. Suhada serta para staf PCMS di Sidoarjo memang ramah-tamah menghadapi tamunya. Saya pun dijanjikan diskon khusus kalau ikut kursus gitar klasik di PCMS. Tapi sampai sekarang belum sempat daftar karena belum ada waktu yang pas.

Beberapa kali saya menyaksikan penampilan para siswa-siswi PCMS dari kanak-kanak hingga 50-an tahun di Sidoarjo dan Surabaya. Penampilan mereka ternyata tidak mengecewakan untuk ukuran pemusik amatir.

23 May 2007

Pebatik Anita Go International


Anita Kusumawati, perajin batik asal Taman, Sidoarjo, go international. Setelah menggelar pameran di Jepang, awal 2004, kini ia diundang ke Spanyol.

Oleh Lambertus L. Hurek

Belum lama ini Anita Kusumawati menggelar pameran dan demo batik di Hotel Shangri-La dan Hotel Majapahit Surabaya. Anita menampilkan garapan-garapan khasnya berupa batik kayu. Mulai dari asbak, pigura, boneka, hiasan dinding, hingga perlengkapan rumah tangga lainnya.

Dia juga menggarap batik konvesional, tapi fokusnya lebih ke batik kayu. "Saya ingin menampilkan batik yang unik. Kalau batik kayu kan bisa dipakai untuk suvenir bagi para ekspatriat dan turis asing," kata Anita Kusumawati kepada saya.

Sejak lima tahun terakhir, Anita memang sering menggelar demo dan pameran di hotel berbintang semacam Shangri-La dan Majapahit di Surabaya. Ternyata, sambutan para ekspat, turis, tamu, serta pengusaha yang kebetulan berada di hotel tersebut sangat bagus.

Mereka tak sekadar melihat batik-batik kayu made in Sidoarjo, tapi juga mengorek informasi lebih banyak dari sumber pertama. Mereka meminta anak buah Anita melakukan demo di tempat. Anita pun harus membeberkan proses pembuatan batik hingga hasil akhir.

"Bagi orang luar (negeri), seni batik kita sangat unik dan eksotis. Itu yang membuat mereka tertarik," ujar sarjana teknik ini.

Nah, dari pameran di hotel bintang lima, Anita bertemu dengan penggemar seni batik asal Jepang. Namanya Ayasato. Mereka diskusi intensif. Lalu, Anita diminta menggelar pameran selama 35 hari di Jepang. Semua biaya ditanggung warga Jepang yang gandrung batik tulis Nusantara itu.

"Mungkin baru pertama kali itu ada seniman batik Indonesia yang menggelar pameran selama satu bulan lebih di Jepang," katanya, bangga.

Ada tujuh kota yang dijelajahi Anita selama di Jepang. Yakni, Kyoto, Kyushu, Nagasaki, Saetama, Osaka, Kobe, dan Tokyo. Pameran, sekaligus workshop di Jepang ini, tak lepas dari peranan Ayasato, warga Jepang yang sudah dianggap Anita sebagai orang tuanya sendiri. Luar biasa!

Rencana demo batik di Spanyol pun hampir sama prosesnya dengan pameran di Jepang pada 2004 lalu. Vittoria, warga Spanyol, ternyata tertarik melihat produk-produk batik Anita saat pameran di Surabaya. Perempuan itu bahkan belajar secara khusus di rumah Anita, kawasan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo.

"Dia sampai tiga kali belajar langsung di rumah saya. Dia serius sekali," kata Anita, pemilik Kusuma Art & Collection, Jalan Raya Kalijaten, Sepanjang, itu.

Vittoria ternyata pencinta seni eksotik. Ia pun meminta Anita Kusumawati agar bersedia melakukan demo dan pameran di Spanyol. "Saya bersyukur karena orang asing sangat mengapresiasi produk-produk saya," kata Anita Kusumawati.

Anita Kusumawati juga pernah ikut Indo-Expo diMalaysia. Minat masyarakat negara jiran itu pada batik Indonesia ternyata cukup besar.


Pameran bersama beberapa pengusaha Indonesia itu berlangsung di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur. Anita merupakan satu-satunya perajin asal Jawa Timur yang dilibatkan dalam rombongan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Indonesia.

"Mungkin karena sering pameran di hotel berbintang, banyak yang mengenal saya. Saya kemudian diajak gabung ke Malaysia," cerita Anita kepada saya.

Sayang sekali, di Kuala Lumpur Anita melihat kinerja panitia penyelenggara kurang menggembirakan. Kurang promosi. "Saya tanya orang-orang Malaysia, mereka ternyata tidak banyak tahu tentang Indo-Expo," kenang alumnus Universitas 17 Agustus, Surabaya, itu.

Anita tak kehilangan akal. Ia langsung menghubungi beberapa pengusaha Malaysia yang pernah bertemu dengannya di Surabaya. "Kenalan saya itu datang mengajak teman-temannya ke pameran. Jadinya ramai sekali."

Orang-orang Malaysia rupanya kagum melihat seni batik tulis Indonesia yang sederhana namun antik. Apalagi, seni batik ini bisa diterapkan di medium apa saja: kayu, tempurung kelapa, wayang, boneka, mug, hiasan dinding, dan seterusnya. Meski Malaysia tergolong bangsa serumpun Indonesia, seni batik tulis kurang dikenal di sana.

Tak heran, ketika Anita Kusumawati menggelar demo membatik di arena ekspo pengunjung ramai-ramai menyaksikan. Mirip atraksi hiburan saja. "Mereka juga banyak bertanya tentang proses serta berbagai hal seputar batik tulis," urai Anita.

Untung saja, bahasa Malaysia mirip bahasa Indonesia sehingga Anita bisa menjelaskan seni batik khas Indonesia ini dengan lancar. Hasil apa yang paling dirasakan setelah ikut pameran tiga hari di Kuala Lumpur? “Relasi lebih luas.”

Di era perdagangan bebas ini, tandas Anita, jaringan global sangat penting. Bisa saja komoditas kita terkenal di dalam negeri, tapi tanpa relasi yang kuat sulit bagi kita menembus pasar global. "Terus terang saja, kelemahan kita selama ini karena persoalan network."

Anita Kusumawati termasuk tipe pengusaha yang mengandalkan relasi secara informal. Hampir semua relasi di luar negeri--umumnya diperoleh setelah menggelar pameran di hotel berbintang--punya hubungan khusus dengan Anita. "Mereka seperti keluarga saya sendiri," jelasnya.

Dan Anita selalu memelihara hubungan baik itu sampai kapan pun. Berkat 'relasi kekeluargaan' itu pula, Anita bisa jalan-jalan ke berbagai negara sambil mempromosikan produk batiknya.

22 May 2007

Daniel Hurek Calon Wawali Kupang



Daniel Hurek tampil sebagai calon wakil wali kota Kupang, berpasangan dengan Daniel Adoe, calon wali kota. Perhitungan cepat Lembaga Survei Indonesia menyebutkan bahwa Daniel Adoe-Daniel Hurek meraih suara 26,71 persen.

Adapun Jefritson Riwu Kore-Johanes Dae 22 persen, Albert Foenay-Andreas Agas 20 persen, Jonas Salean-Alex Ena 16 persen, dan Djidon de Haan-Anton Bele 14,51 persen. Menurut aturan pilkada di Indonesia, jika tak ada pasangan yang beroleh suara di atas 25 persen, maka diadakan pemilihan ulang.

Sukses Adoe-Hurek mendulang dukungan terbanyak [meski sementara] dari rakyat Kupang jelas merupakan peristiwa politik menarik. Bagaimana tidak. Paman saya hanya didukung 10 partai gurem. Apalagi, kandidat inkumben ikut juga dalam pilkada langsung pertama di Kupang ini.

Belum lagi, menurut kabar yang saya baca di koran, menjelang pencoblosan sempat muncul aneka rekaya untuk menenagkan pasangan tertentu. Baca saja Politik Busuk Cederai Demokrasi Kota Kupang [KOMPAS, 20 Mei 2007]. Sekira 20 ribu warga berhak pilih ternyata tidak didaftar hingga sehari menjelang pencoblosan. Juga intimidasi dan teror kepada pegawai negeri sipil.

Sekali lagi, hasil pilkada di Kupang, Senin, 20 mei 2007, ini masih sementara. Tapi setidaknya melegakan saya. Pertama-tama bukan karena bapa kecil saya unggul, berpeluang besar menjadi wakil wali kota Kupang, tapi menunjukkan betapa rakyat Kupang berani menentukan pilihannya. Dalam demokrasi langsung pascareformasi, rakyat berhak memilih pemimpin yang dia sukai.

Engkau boleh saja tidak didukung partai-partai besar, tapi kalau rakyat sudah memutuskan mau bilang apa? Suara rakyat itu suara Tuhan. Vox populi vox Dei!

Teman saya, sebut saja Yohanes, orang Flores Timur, pernah diskusi ringan dengan saya. Dia heran kenapa orang-orang dari daerah saya di pelosok Lembata, Flores Timur, ternyata banyak yang jadi orang. Pada tahun 1970-an Anton Buga Langoday menjabat bupati Flores Timur.

Lalu, Andreas Duli Manuk sebagai bupati Lembata. Juga pejabat-pejabat penting maupun tokoh pendidikan. Apa rahasianya? Saya tertawa kecil.

"Maaf ya, Bung, kampung Anda itu kan pelosok betul. Saya tahu persis. Listrik nggak ada, kondisinya memprihatinkan, sengsara banget. Kok orang-orangnya banyak yang jadi? Aku kok heran sekaligus kagum," ujar teman saya.

Saya tenang-tenang saja.

Dibilang ndeso, kampung, udik.. ya, memang benar. Listrik PLN baru masuk tahun 2000-an, itu pun tidak rata. Kampung saya memang masih gelap dan bersuasana ndeso sampai sekarang. Hanya saja, saya ingatkan Yohanes bahwa sejak dulu kakek-nenek di kampung saya, yang buta huruf, mati-matian berjuang agar anaknya bisa sekolah. Kalau bisa, sekolah setinggi mungkin.

"Kami ini [orang tua] miskin, buta huruf, tidak bisa baca-tulis, tapi kalian harus sekolah," begitu tekad para sesepuh di Lembata sejak akhir 1960-an.

Apalagi, orang Flores Timur punya semangat gotong royong alias gemohing yang sangat tinggi. Gemohing mang gelekat lewotanah. Gotong royong untuk berbakti pada orang banyak dan kampung halaman. Ingat, gedung DPRD Flores Timur di Larantuka bernama Bale Gelekat Lewotanah.
Kekuasaan, dalam konsep orang Lembata atau Flores Timur, harus diabdikan untuk kepentingan rakyat banyak. Bukan kepentingan diri sendiri atau keluarga. Teorinya sih begitu! Praktiknya, ya, soal lain lagi. Hehehe....

Kembali ke paman saya, Daniel D Hurek, calon wakil wali kota Kupang. Dia anak keempat dari lima bersaudara pasangan Kakek Samun Hurek [RIP] dan Nenek Ebong [RIP]. Almarhum kakek-nenek saya ini punya lima anak, yakni Nikolaus Nuho Hurek [ayah saya], Margareta, Paulina Perada, Daniel Demong Hurek, dan Urbanus Ola Hurek.

Saya anak sulung dari pasangan suami-istri Nikolaus N Hurek dan Maria Yuliana [RIP]. Jadi, memang hubungan saya dengan Daniel Hurek tentu sangat dekat. Dia kami panggil bapak kecil alias pak lek dalam istilah bahasa Jawa.

Kakek-nenek saya atau bapa-mamanya Daniel Hurek, keduanya sudah almarhum, tidak bisa baca tulis alias buta huruf. Bekerja sebagai petani di Dusun Nobolekan, Desa Bungamuda, Kecamatan Ile Ape, Lembata. Seperti orang Flores Timur umumnya, bertani di sana bersifat subsisten, hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Yang bisa ditanam, ya, jagung dan palawija. Curah hujan terlalu sedikit.

Air bersih untuk minum dan mandi jadi masalah besar. Tiap hari harus jalan kaki lima kilometer pergi-pulang ke sumur umum di Bungamuda. Harus hemat betul. Kalau air laut sih buanyaaak... karena kampung kami sangat dekat laut. Saat masih hidup Kakek Samun mencari hasil laut, khususnya kulit kerang [lola], untuk dijual. Harganya mahal, memang. Hasilnya dipakai untuk membiayai sekolah tiga anak laki-lakinya: Nikolaus, Daniel, dan Urbanus.

Nikolaus Hurek, ayah saya, berhasil menjadi guru pegawai negeri sipil di kampung. Ya, berkat kerja keras dan semangat juang habis-habisan Kakek Samun. Setelah jadi orang gajian, meski tidak banyak, Nikolaus berkewajiban membantu biaya sekolah dua adiknya: Daniel dan Urbanus. Maka, ayah saya ikut menyisihkan gaji PNS untuk ongkos sekolah Daniel dan Urbanus di sekolah lanjutan.

Dasar anak cerdas, Daniel Hurek lulus dari SMP swasta bernama SMP Muda Karya di Omesuri, Kedang, dengan nilai bagus. Juara terus!

Oh, ya, di Kedang itu Daniel terpaksa 'ikut orang' alias nunut urip di rumah orang lain. Nama induk semang itu Muhammad Kasim, tukang jahit. Tiap hari Daniel harus kerja ambil air, sapu rumah, bantu masak... sambil menekuni pelajaran SMP-nya. Pola ini juga dilakoni Urbanus Hurek di tempat yang sama.

Lulus SMP Muda Karya di Kedang, Daniel meneruskan ke Sekolah Menengah Atas Olahraga [SMOA] di Kupang, ibukota Nusatenggara Timur. Kembali pola nunut urip ditempuh Om Daniel karena ayah saya tidak bisa kasih uang banyak. Dia juga harus cari uang tambahan agar bisa selesai SMOA-nya. Kembali lagi ketekunan yang bicara. Daniel Hurek lulus dengan prestasi sangat memuaskan.

"Saya harus kuliah di Undana [Universitas Nusa Cendana]," ujar Daniel kepada ayah saya di kampung. Saya masih bocah sehingga tidak paham kata-kata mereka.

"Yah... saya tetap bantu ongkos, tapi engkau juga harus cari tambahan. Gaji guru di kampung berapa sih," begitu kira-kira pernyataan ayah saya.

Perjalanan kuliah Daniel Hurek penuh lika-liku. Masak sendiri, tinggal di rumah yang buruk. Dindingnya gedhek, bolong-bolong lagi. Tapi dasar anak cerdas dan rajin, Daniel akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya di Undana. Saya sulit membayangkan anak-anak muda sekarang, di Jawa Timur, bertekun luar biasa macam Om Daniel.

Sejak di SMOA Kupang, Daniel aktif di organisasi. Sibuk terus. Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia [PMKRI], saya nilai, banyak menempa dirinya sebagai mahasiswa, aktivis, pejuang. Apalagi, dulu di Kupang ada Kanis Pari [RIP], tokoh nasionalis asal Maumere, Flores, yang menjadi mentor pengembleng anak-anak PMKRI.

Nah, Daniel Hurek ini tinggal di samping rumah Bung Kanis, sapaan akrab orator paling berpengaruh di NTT itu. Tepatnya di Naikoten II. Jujur saja, sampai sekarang belum ada tokoh NTT yang pidatonya hebat macam Bung Kanis. "Almarhum Bung Kanis itu Bung Karno-nya NTT," begitu kata aktivis PMKRI Kupang dalam berbagai kesempatan.

Bung Kanis politikus Partai Katolik. Partai ini kemudian berfusi dengan Partai Demokrasi Indonesia [PDI] pada awal 1973. Bisa dimaklumi Daniel pun terpengaruh dengan Bung Kanis. Orientasi politiknya pun nasionalis ala Bung Kanis. Di era Orde Baru, Daniel sudah berani ikut PDI dengan segala risikonya. Pasang-surut, jatuh-bangun, lika-liku politik... pun diikuti Daniel Hurek.

Ayah saya, sekaligus kakaknya, karena PNS ikut Golkar, pun terheran-heran. "Apa sudah dipikir ikut PDI? Risikonya banyak lho. Kenapa tidak ikut Golkar saja," ujar ayah saya. Orang-orang kampung pada 1980-an pun mengatakan hal yang sama.

Bahkan, para aktivis mahasiswa [PMKRI] Kupang yang kebetulan libur di kampung selalu diwaspadai. Mereka diminta tidak 'menghasut' rakyat untuk keluar dari paradigma politik Orde Baru. Karena anak-anak PMKRI ini suka khotbah di gereja pada hari Minggu, sebelumnya mereka diminta untuk 'bicara yang baik-baik saja'. Tidak usah bahas politik, apalagi mengkritik pemerintah.

Lucunya, Daniel Hurek [dan para mahasiswa Kupang] harus berhadapan dengan kepala desa atau ketua stasi yang nota bene masih keluarga sendiri. Waktu itu, seingat saya, Kepala Desa Mawa, Philipus P Hurek, dan Kepala Desa Bungamuda, Longginus G Hurek. Ah, sesama fam Hurek [jadi, masih kerabat sangat dekat] harus mengawasi anak-anak dan keponakan sendiri.

"Siapa suruh disekolahkan tinggi? Hasilnya, ya, mereka membawa pikiran-pikiran baru ke kampung. Kita orang mau larang juga susah," kata sejumlah tokoh di kampung menanggapi banyaknya aktivis mahasiswa yang kerap kasih 'kursus politik' di kampung halaman.

Begitulah. Liku-liku pendidikan dan aktivitas sosial kemasyarakatan Daniel Hurek serta para mahasiswa asal kampung saya memang panjang. Mereka rata-rata prihatin, miskin, tapi kerja keras. Kutu buku, suka belajar, bergaul dengan siapa saja... dan berani. Risiko apa pun dihadapi di era Orde Baru dengan dwifungsi ABRI-nya.

Singkat cerita, Daniel Hurek kemudian aktif di Partai Kebangkitan Bangsa [PKB]. Partai Islam nasionalis yang dibidani Gus Dur [KH Abdurrahman Wahid]. Kok bisa orang Katolik pimpin PKB?

Bisa saja kalau di NTT. Berkat kendaraan PKB, karier politik Daniel Hurek pun menanjak pasti. Pada Pemilihan Umum 2004 Daniel terpilih sebagai anggota DPRD Kota Kupang. Kursi itu tak pernah ia dapatkan saat aktif di Partai Demokrasi Indonesia.

Di Provinsi NTT, atau Kota Kupang, PKB partai gurem. Karena itu, pada pilkada ini PKB berkoalisi dengan sembilan partai lain untuk mengusung calon wali kota dan wakilnya. Daniel Hurek pun dipercaya menjadi calon wakil wali kota Kupang mendampingi Daniel Adoe, calon wali kota.
"Bung, pasangan Adoe-Hurek ini sangat kuat. Saya kok menjamin Adoe-Hurek bakal jadi. Di mana-mana orang omong kalau Adoe-Hurek berpeluang paling besar," ujar seorang teman saya yang mengaku netral.

"Ini sejarah, Bung. Baru kali ini ada orang Lembata, dari fam Hurek, terpilih sebagai pemimpin di Kota Kupang. Hebatnya lagi, ini pemilihan langsung, Bung! Bukan pemilihan oleh anggota DPRD yang bisa diatur-atur. Selamat Bung," tambahnya.

"Selamat apanya?" kata saya.

Proses pilkada masih panjang. Dan jabatan publik apa pun, kata orang bijak, adalah amanah yang harus diemban dengan sebaik-baiknya. Ulama-ulama di Jawa Timur [sebagian besar orang PKB] bilang: jabatan tinggi itu bisa menjadi musibah kalau tidak diimbangi dengan kemampuan untuk memberi arti padanya.

Karena itu, ada seorang ulama terkenal di masa kejayaan Islam [saya lupa namanya] justru beristigfar saat dipercaya mengemban jabatan publik. Dia tidak bilang alhamdulillah, tapi astagfirullah.

Mudah-mudahan pesan ulama PKB ini diingat-ingat oleh paman saya, Daniel Hurek. Juga idealisme yang selalu diusung anak-anak PMKRI bahwa politik itu semata-mata pro bene publico, diabdikan demi kemaslahatan masyarakat.

Maang gelekat lewotanah.

21 May 2007

Komunitas Pengemis Cilik


"Belajarlah sejak usia dini.
Makin dewasa Anda makin pandai!"


Ada tetapinya, yang dipelajari itu kebajikan, ibadah, kasih sayang, hal-hal positif lain. Belajar mengemis sejak usia dini? Jelas tidak dianjurkan. Tapi, di Sidoarjo, mulai muncul komunitas pengemis cilik di alun-alun dan sekitarnya. Entah dapat ilmu dari mana, anak-anak ini tidak sungkan meminta-minta uang di perempatan.

"Tolong, Om, saya nggak punya uang. Saya belum makan," ujar Wati, nama samaran, bocah berusia delapan tahun.

Diberi uang logam Rp 100, si Wati masih merasa kurang. "Seratus itu buat apa, Om. Lima ratus atau seribulah. Masa, nggak kasihan sama saya," ujar Wati, memelas.

Geng Wati, sekitar 10 orang, pun kerap menggunakan jurus yang sama untuk menguras belas kasihan warga di jalan raya.

Ada perkembangan menarik di Sidoarjo. Kalau sebelumnya pengemis cilik hanya anak-anak jalanan, broken home, anak si 'gepeng', kini status anak-anak ini meningkat. Mereka sekolah di (SD/madrasah) kawasan Sidoarjo dan sekitarnya. Karena itu, penampilan pengemis cilik ini jauh lebih bersih ketimbang pengemis generasi lama.

Busana Wati, kaos merah muda, celana bagus, tak berbeda dengan anak-anak di kompleks perumahan kelas menengah. Otaknya pun cukup cerdas, terlihat dari cara menjawab pertanyaan kita.

"Saya masih kelas satu SD, kebetulan sekarang libur," ujar Wati, polos.

Menurut dia, aksi mengemis di jalan raya ini untuk mencari tambahan penghasilan karena orang tuanya miskin. Sayang, Wati enggan menyebut nama berikut pekerjaan orang tua. "Uangnya saya pakai untuk beli makanan, sisanya ditabung. Lumayanlah," kata gadis cilik ini.

Wati mengaku diajak temannya, sesama anak sekolah, untuk mencari rezeki di jalan raya. Mula-mula ia malu, tak tahu bagaimana jurus efektif untuk mengetuk belas kasihan pengguna jalan raya. Tapi, bocah ini hanya kagok beberapa menit saja. Begitu turun ke jalan, ia cukup mendekati pengendara, menengadahkan tangan kanan, lalu meminta dengan halus.

"Kalau nggak dikasih juga nggak apa-apa. Kita kan nggak maksa," ujar Wati didampingi tiga temannya.

Setelah berpanas-panas di jalan--kulit hitam, mandi keringat, tak apa--Wati mendapat hasil lumayan. Di 'masa percobaan' ia mendapat koleksi uang sedikitnya Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari.

Lumayan! Coba kalau tidur-tidur saja atau main games di rumah, uang sebesar ini tak akan pernah didapat. Penghasilan lumayan besar itu sebetulnya fatamorgana belaka. Sebab, di sisi lain mental anak-anak, seperti Wati, sudah mulai rusak. Mental mengemis, tak perlu bekerja, cukup menadahkan tangan toh dapat uang, mulai merasuki jiwa mereka.

Mau bukti?

Biro Jawa Pos di Sidoarjo beberapa kali mengajak para pengemis cilik ini untuk menjual koran. "Daripada mengemis, minta-minta, bikin malu, apa tidak sebaiknya menjual koran saja? Kalau bisa menjual banyak, bonusnya pun lumayan, lebih besar ketimbang mengemis di jalan," kata Helly, pemasar Jawa Pos Biro Sidoarjo, kepada saya.

Eh, jawaban pengemis-pengemis cilik ini ternyata ketus.

"Lha, buat apa jualan koran. Mendingan minta-minta, santai, dapat banyak," ujar Helly menirukan ucapan para pengemis cilik.

"Mentalnya sudah rusak. Kalau nggak diperbaiki, ya, sampai tua dia jadi pengemis. Wong diajak kerja beneran nggak mau," tambah Helly.

Dari sini kita bisa mahfum kenapa Polisi Pamong Praja Sidoarjo sulit 'membersihkan' para gelandangan dan pengemis di Sidoarjo. Dan, memperbaiki mental warga yang sudah telanjur rusak jauh lebih berat ketimbang membangun gedung-gedung bertingkat.

20 May 2007

Di Makam WR Soepratman


Minggu, 20 Mei 2007, hari kebangkitan nasional. Saya mengunjungi makam Wage Rudolf Soepratman di Surabaya. Sepi. Geliat hari besar nasional itu tak terasa.

Di makam penulis lagu Indonesia Raya ini, saya bertemu dengan Wanda, bocah Kenjeran. Kanak-kanak kelas nol besar. Kebetulan dia datang bersama ayahnya, nyekar.

"Om tahu gak siapa yang tabur bunga di sini," tanya si Wanda. "Ayo... siapa?"

"Wah, siapa ya? Nggak tahu."

"Aku," ujar Wanda, bahagia.

"Untuk apa kau tabur bunga di makam pahlawan nasional, Wanda?" tanya saya.

"Biar cantik," kata bocah cerdas ini.

Lalu, saya menyuruh dia membelikan es degan [kelapa muda]. Saya memerhatikan syair Indonesia Raya di kompleks makam yang diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 13 Mei 2003 silam. Ada tiga bait, namun selama ini kita hanya nyanyi satu kuplet.

Saya tidak tahu alasannya. Mungkin karena lagu kebangsaan ini terlalu panjang dan sulit. Bandingkan dengan lagu kebangsaan Inggris yang pendek, gampang, selalu dinyanyikan penonton bola kaki. Tapi, yang jelas, syair yang ditulis Wage Rudolf Soepratman, pemusik yang juga wartawan, sangat dalam maknanya.

Berisi cita-cita akan sebuah bangsa yang merdeka, berdaulat, kaya, makmur, diperhitungkan di kancah dunia. Ingat, Soepratman menulis Indonesia Raya saat penjajah Belanda masih bercokol di sini. Jika ketahuan menggunakan kata-kata Indonesia Raya, merdeka, merdeka..., maka konsekuensinya sangat berat. Bisa dipenjara. Bisa juga ditembak polisi kolonial.

Saya membaca kata-kata terakhir WR Soepratman sebelum meninggal di rumah sederhana, Jalan Mangga 21 Surabaya, pada 17 Agustus 1938, hari Rabu Wage. Kata-kata ini diabadikan di monumen di kompleks makam WR Soepratman.

"Nasibku sudah begini. Inilah yang disukai pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal. Saya ikhlas. Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka."

Sambil menunggu Wanda, bocah kanak-kanak membeli es degan, saya membaca koran Kompas edisi Minggu, 20 Mei 2007. Di halaman 29 ada tulisan tentang festival seni pertunjukan di Bantul, Jogjakarta.

Rachael Saraswati menempeli tubuhnya dengan segala macam sampah. Lalu, seniwati ini berdiri di dalam ember besar berisi air seraya menyanyikan lagu Indonesia Raya, menghadap dan menghormat tiang bendera. Ternyata, yang dinaikkan bukan bendera merah putih melainkan bendera Amerika Serikat.

Nah, di makam WR Soepratman saya bisa menangkap kegetiran Rachel Saraswati. Kita, bangsa Indonesia, makin linglung di era globalisasi ini. Rasa kebangsaan, nasionalisme, solidaritas sebagai bangsa... makin pudar. Resminya, lagu Indonesia Raya masih menjadi lagu kebangsaan karena dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945. Tapi masih adakah 'merah-putih' di dada saya dan anda? Ada yang bilang, Indonesia sudah menjadi negara bagian Amerika Serikat.

"Om, esnya diminum dong. Masa dari tadi baca koran melulu," tukas Wanda.

Lamunan saya pun hilang. Saya lalu mengajak Wanda menjadi model foto saya di makam WR Soepratman. Lalu, pulang ke arah selatan Kota Surabaya. Saya mencoba mengingat amanat almarhum WR Soepratman: beramal... ikhlas... dengan cara masing-masing.

Mengapa Keroncong Mati 2


Orkes keroncong yang masih eksis di kawasan Prambon, Sidoarjo. Personelnya sudah tua-tua karena tak ada regenerasi.

Oleh Lambertus L. Hurek

Tema ini sengaja saya angkat, dan saya diskusikan, dengan sejumlah pemusik di Surabaya dan Sidoarjo. Saya sengaja melecut para senior ini untuk melakukan sesuatu. Semata-mata demi menyelamatkan musik keroncong. Kalaupun mati juga, ya apa boleh buat, kita toh sudah berusaha, bukan?

Ahmad Basuki adalah guru musik, pembina band, juga pemerhati musik di Surabaya dan Sidoarjo. Saat omong-omong dengan Pak Mamat, sapaan akrabnya, saya tanya soal keroncong. Dia sepakat bahwa musik keroncong sedang sekarat di Jawa Timur. Sangat parah kondisinya.

"Mas, keroncong itu ibarat orang tenggelam, hanya kelihatan tangannya thok. Kalau tidak diantisipasi sebentar lagi bakal tenggelam total," kata Ahmad Basuki, pemusik lulusan Akademi Musik Indonesia, Jogjakarta.

Pak Mamat lantas mengungkap kelemahan-kelemahan pemusik keroncong sendiri. Ini membuat musik ini terlihat tua, tidak menarik, sulit diterima anak muda.

PERTAMA, kualitas instrumen sangat buruk. Bukan rahasia lagi, alat-alat musik keroncong kita berkualitas murahan, bahkan buatan sendiri.

"Saya dengan suara biolanya saja sudah pusing. Bagaimana bisa bagus kalau kualitas alatnya seperti itu?" ujar Pak Mamat. "Alat musik yang jelek akan menghasilkan suara, sound, yang jelek. Itu sudah jelas. Anda lihat saja musisi Barat, instrumen mereka itu mahalnya bukan main. Kalau konser di Indonesia, mereka bawa sendiri alat-alat musiknya, sound system-nya, dan sebagainya. Sebab, itu memang sangat penting."

Sebagai perbandingan, instrumen yang dipakai anak-anak band di Sidoarjo dan Surabaya saja harganya puluhan juta rupiah. Di Jakarta lebih mahal lagi.

KEDUA, sound system keroncong sangat jelek. Ini juga mempengaruhi kualitas musik. Masyarakat yang terbiasa menikmati musik pop (industri) dengan investasi ratusan juta jelas enggan mendengar musik keroncong.

KETIGA, secara musikal, keroncong itu musik mahal, akademis, dan sulit. Jadi, sulit dimainkan musisi kemarin petang.

Ahmad Basuki sering mengetes anak-anak band (muda) untuk bermain musik keroncong. Hasilnya? Anak-anak muda itu kewalahan karena akor-akor keroncong itu jauh lebih sulit ketimbang lagu pop atau rock.

"Kalau latihan lagu Top 40 satu hari bisa dapat tiga lagu, untuk lagu keroncong belum tentu 12 hari dapat satu lagu. Itulah yang membuat saya tertarik sama keroncong, tapi sekaligus sulit dimainkan anak muda," kata Basuki, penuh semangat.

Martono, penggemar keroncong di Surabaya, meminta para sesepuh keroncong untuk taat asas alias konsisten. Sebelum meminta orang lain mendengarkan musik keroncong, ya, mereka harus memberi contoh di masyarakat sekitar. Selama ini Martono menilai orang kita lebih suka hanya bisa bicara tanpa tindakan konkret.

“Buktinya, kalau punya hajatan malah nanggap dangdut. Lha, bagaimana bisa melestarikan musik keroncong,” katanya sengit.

Maka, menurut Martono, yang juga seniman teater itu, kita semua harus melakukan langkah-langkah konkret. Apa yang bisa dilakukan, lakukanlah. Contohnya sederhana saja. Belilah kaset/CD keroncong, lalu putar di rumah setiap hari. Cukup satu jam saja setiap hari. Dengan begitu, lama kelamaan anak-anak di rumah terbiasa mendengar alunan irama keroncong.

“Kalau sekadar diseminarkan, dibahas, diskusi, ya, gak mari-mari. Mbulet terus. Bagaimana menurut sampeyan, Mas Hurek?” ujar salah satu pentolan teater di Jawa Timur itu.

“Siap! Setujuuuuu!!!!!”

19 May 2007

Ki Dalang Bambang Sugiyo



Bambang Sugiyo baru saja terpilih sebagai tiga dalang terbaik Jawa Timur. Dua dalang yang lain adalah Hari Bawono [Lumajang] dan Anom Hartono [Ponorogo]. Ki Bambang Sugiyo dinilai paling berani bikin terobosan untuk menghidupkan wayang wetan.

Oleh Lambertus L. Hurek

Ki Bambang Sugiyo berani membuat terobosan baru yang tidak pernah dilakukan dalang-dalang lain. "Beliau bukan saja aset Sidoarjo, tapi Jawa Timur," ujar Ki Sinarto, ketua Paguyuban Dalang Wetan, yang juga pengamat wayang kulit kepada saya.

Sinarto, yang juga juri Festival Dalang Jatim itu, mengaku jarang melihat keberanian dalang lain seperti Bambang. Selama ini hampir semua dalang wetan [wayang kulit khas Jawa Timur] terikat pada pakem lama sehingga tidak berkembang. Kalaupun bertahan, paling-paling penggemarnya sangat terbatas.

Karena itu, Sinarto berharap Ki Bambang terus mengembangkan kreativitasnya agar dalang wetan tidak kalah dengan wayang Jawa Tengah yang sudah lama menyerbu pasar Jawa Timur. "Saya hanya bisa berharap sama Ki Bambang," ujar Ki Sinarto.

Kepada saya, Ki Bambang mengaku mempelajari wayang kulit sejak kecil. Dan kebetulan wayang Jawa Timuran alias wayang wetan. Setelah menekuni dunia wayang, ia melihat perkembangan wayang wetan mandek. Dari dulu, katanya, gaya dan pola permainannya tidak berubah. Padahal, tantangan yang dihadapi makin banyak, khususnya wayang Surakarta atau Jawa Tengah umumnya.

"Harus diakui, mereka sangat kreatif. Mereka bisa menangkap kebutuhan masyarakat yang datang untuk mencari hiburan sekaligus tuntunan. Jangan lupa, watang kulit itu tidak sekadar tontonan, tapi juga tuntunan," jelas Ki Bambang, yang juga ketua Pepadi Sidoarjo.

Nah, saking kerasnya pengaruh wayang Surakarta--dengan dalang-dalang top semacam Ki Anom Suroto atau Ki Mantheb Soedarsono--penggemar wayang di Jawa Timur pun mengalami perubahan selera. Mereka merasa lebih dekat dengan wayang Solo ketimbang wayang Jawa Timuran.

"Lha, kalau kita tetap bertahan seperti sekarang, ya, lama-lama habis," tutur Ki Bambang.

Maka, dia bikin jajak pendapat kecil-kecilan untuk mengecek selera penggemar wayang kulit di Jawa Timur. Masukannya cukup banyak. Di antaranya, warga umumnya kurang sreg mendengar pelayan berbahasa ngoko dengan sang prabu, misalnya.

"Kok nggak pantas. Wong kita di rumah saja jarang seperti itu. Masa, di wayang kulit kok boleh," papar Ki Bambang.

Dari sinilah, sejak tahun 1990-an Ki Bambang mulai bereksperimen. Mulai dari bahasa, sabetan, teknik, ia sesuaikan dengan tren yang berkembang sekarang. Ia juga tidak segan-segan melibatkan seniman lain untuk memberi warna baru pada keseniannya.

"Banyak yang protes pada awalnya. Tapi lama-kelamaan orang senang juga dengan teknik baru itu," ujarnya lalu tertawa kecil.

Ki Bambang termasuk orang yang rendah hati. Meski sudah tergolong senior, ia tak segan-segan belajar pada dalang lain, termasuk dalang-dalang muda. Sebab, dalang muda punya kelebihan karena rata-rata punya latar belakang akademis.

"Kalau mau maju, ya, harus belajar terus. Masukan itu saya kumpulkan kemudian dipakai untuk membuat teknik baru, gaya saya sendiri."

Bertemu Des Alwi



Saya [kiri] bersama Des Alwi di Graha Pena, Surabaya.

Siapa tak kenal Des Alwi Abubakar, 79 tahun? Senin 14 Mei 2007, orang Maluku ini mengunjungi Graha Pena, Surabaya. Kami omong-omong sambil nonton film.

Terus terang, baru kali ini saya menjabat tangan Des Alwi Abubakar, ngobrol, diskusi, bercanda. Tokoh yang dikenal luas sebagai dokumentator film-film sejarah ini periang. Dia lekas akrab dengan kami, macam so kenal lama.

"Eh, saya mau duduk dulu. Kasih kursi dulu," ujar ketua Yayasan 10 November 45 itu. Lalu, kami duduk di meja rapat untuk omong-omong santai.

Om Des datang ke Surabaya untuk diskusi sekaligus memutar film dokumenternya. Kebetulan Kota Surabaya lagi berhari jadi ke-114. Pertama, film tentang perjuangan di Surabaya, pabrik kapal terbang tempo doeloe [milik Jerman di Tanjung Perak], Perang Pasifik, hingga masuknya tentara sekutu.

Kedua, film tentang hari-hari terakhir Presiden Sukarno. Bagaimana Sukarno akhirnya meninggalkan istana sebagai rakyat biasa. Dia bagi-bagi suvenir kepada para pelayan dan teman-temannya. Des Alwi dapat bagian satu dasi dari Bung Karno. Presiden pertama, sekaligus proklamator, ini tampak tersenyum meski barangkali hatinya menangis.

"Dapat dari mana film itu? Kok lengkap sekali? Apa Om Des Alwi yang syuting?" ujar saya yang duduk di samping Des Alwi Abubakar.

"Hehehe... ada lah. Saya kan punya banyak teman di luar negeri. Juga lobi-lobi dengan Sarah Fergusson, Putri Diana, dan macam-macam. Saya juga ada syuting film sendiri, tapi tidak banyak," tutur Des Alwi.

Pria berdarah Arab ini juga mengaku sering didatangi orang-orang yang sengaja menjual film-film dokumenter tempo dulu. Des lihat-lihat dulu, kalau cocok, ya, dibeli. Proses dokumentasi ini dilakukannya bertahun-tahun. Lalu diedit, dirawat, dirangkai jadi sebuah cerita yang utuh.

Des Alwi bicara pakai bahasa Indonesia logat Maluku, maklum orang Bandanerira meski sekarang tinggal di Tanah Tinggi, Jakarta. Dia selalu bilang pigi untuk kata pergi.

"Nah, kamu lihat, itu tentara-tentara pigi perang. Dengar itu, mereka menyanyi lagu Willhelmus... kemudian lagu perpisahan. Memang betul... berpisah untuk selamanya. Mereka punya kapal, 21 kapal, habis semua. Hanya dalam delapan hari. Tiga kapal yang selamat, lari ke Australia," urai Des Alwi menunjuk adegan perang yang diawali seremoni di Pangkalan Angkatan Laut Belanda di Ujung, Surabaya.

Menyaksikan film dokumenter koleksi Des Alwi sungguh asyik. Sejarah menjadi benar-benar hidup. Bukan cerita-cerita masa lalu yang kaku dan mati. Kita jadi tahu kebiasaan orang Belanda pada 1930-an yang suka pesta, dansa, makan enak.

Jenis musik kegemaran tuan, nyonya, dan noni-noni Belanda. Yang pasti, gadis-gadis Belanda pada zaman perang itu sangat cantik dan anggun. Prianya ganteng-ganteng. Mereka jua romantis nian.

Sebaliknya, kondisi orang awak sengsara nian, miskin, diperas habis oleh penjajah. Harus hormat, bahkan menyembah penjajah keparat itu. Orang Jepang nan kejam. Tapi tak sedikit politisi kita jadi penjilat Nipon.

"Wah, kalau bicara soal kejam-kejaman, Jepang itu kejamnya bukan main. Dia hanya jajah kita tiga tahun, tapi kita orang setengah mati," papar Des Alwi yang bertemu Muhammad Hatta dan Syahrir di Bandaneira pada usia delapan tahun itu.

Adegan perang benar-benar mencekam. Seru! Lebih dahsyat ketimbang film-film perang di bioskop atau televisi. Padahal, ini perang sungguhan, bukan perang-perangan.

"Kok masih sempat-sempatnya disyuting? Apa juru kamera tidak takut? Lha, kok masih ada rekaman sampai sekarang?" komentar Wawan.

Menurut Des Alwi, sejak dulu wartawan atau kamerawan Barat [juga Jepang] tidak pernah melewatkan adegan-adegan penting, apalagi yang bernilai sejarah. Meski sadar bahwa risikonya sangat tinggi, nyawa melayang, para wartawan gigih bekerja di medan perang. Mereka wartawan sejati.

"Gampangnya begini. Kalau ada empat wartawan yang meliput, tiga mati, kan masih ada satu. Hehehe...," ujar Des Alwi lalu tertawa kecil. Kami pun tertawa bersama. Sementara adegan perang terus berlangsung di layar monitor.

"Bagaimana kalau film ini kami kopi? Copy paste lah," kata saya sambil menepuk pundak Des Alwi. Teman-teman tertawa.

"Hehehe... tidak boleh. Ini barang mahal dan langka kok. Kalau orang Surabaya mau lihat, datang saja ke Pusat Kebudayaan Prancis. Atau, hubungi saya saja," ujar Des Alwi.

Tak terasa sudah satu jam lebih kami nonton film plus berbincang akrab dengan Des Alwi Abubakar. Tiba-tiba ada teman berteriak, "Deadline! Deadline! Deadline....."

Acara nonton film pun bubar. Des Alwi pamit, dan kami sangat berterima kasih bisa bertemu dengan salah satu saksi sejarah, pejuang Republik.

"Om Des pigi ke Hotel Majapahit kah?"

"Oh, tidak, saya tidak mau. Ada pengalaman sejarah yang bikin saya trauma," kata Des Alwi.

Asal tahu saja, Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan Surabaya itu tempo dulu menjadi saksi sejarah perobekan bendera tiga warna Belanda. Zaman Jepang Hotel Oranje ini [di film sangat jelas, berikut suasana lalulintas di jalan raya] berubah nama menjadi Hotel Yamato.
Pemuda Des Alwi, belasan tahun, melihat dengan mata kepala sendiri pergolakan di sekitar hotel itu. Maka dia mengaku trauma kalau berada di sekitar Hotel Majapahit, apalagi tinggal di situ. Trauma sejarah!

"Saya pigi ke Hotel Elmi," kata Des Alwi.

Terima kasih banyak, Pak Des Alwi!