30 April 2007

Presiden pun Sok Inggris


Program-program Metro TV hampir semuanya pakai bahasa Inggris.

Pada 2004, sebelum terpilih menjadi presiden Republik Indonesia, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO mendapat penghargaan sebagai tokoh berbahasa Indonesia terbaik. Pusat Bahasa yang kasih penghargaan ini. Susilo dinilai piawai dan cermat berbahasa Indonesia.

Kalau pejabat-pejabat lain berbahasa kacau, bergelemak peak, bahasa Susilo dianggap bagus. Setelah jadi presiden, 20 Oktober 2004, bagaimana gaya berbahasa Susilo?

Terus terang, saya sedih. Susilo ikut larut dalam arus ‘globalisasi’. Mengutip frase atau istilah-istilah Inggris secara berlebihan.
Padahal, kata-kata itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau daerah. Padahal, Susilo bicara di tengah orang Indonesia. Padahal, dia tahu banyak pendengar tak paham bahasa Inggris. Padahal.... ini yang penting, Susilo itu KEPALA NEGARA yang punya tugas menjaga harkat bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Ingat, pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945.

Wisnu Nugroho membuat catatan menarik di harian KOMPAS, 27 April 2007, muka 5. Menurut Wisnu, ketika bicara di depan alumni Lembaga Ketahanan Nasional selama 45 menit, Presiden Susilo menggunakan 120 kata asing.

“Ketika berpidato, Presiden [Susilo] sangat dermawan menggunakan kata asing, sementara Wakil Presiden [Jusuf Kalla] sangat kikir,” tulis Wisnu Nugroho, wartawan yang sehari-hari meliput kegiatan presiden dan wakil presiden.

Apa Presiden Susilo tidak boleh berbahasa asing, khususnya Inggris? Boleh! Silakan! Bahkan, kalau perlu 100 persen bahasa Inggris yang baik dan benar saat berpidato di forum internasional. Persoalannya, Susilo yang presiden Indonesia ini sangat gandrung mencampuri kalimat-kalimatnya dengan English.

Ini juga lazim dilakukan mahasiswa atau dosen kita yang menulis artikel. Istilah Inggris dimasukkan ke dalam kurung. Seakan-akan pembaca tidak paham bahasa Indonesia, sehingga harus ada padanan Inggris. Kalau tidak begitu, seakan-akan artikelnya kurang bermutu. Hehe... apa tidak terbalik? Istilah Inggris yang diterjemahkan atau dijelaskan dalam bahasa kita?

Presiden SUKARNO [bukan SOEKARNO, kalau kita taat asas dengan ejaan baku] seorang poliglot. Sang proklamator itu fasih banyak bahasa. Jauh lebih banyak daripada Presiden Susilo. Bacaan Sukarno banyak. Pengetahuannya sangat luas. Nah, saat pidato, Sukarno mengutip refrensi sesuai dengan aslinya. Bukan itu saja. Sukarno juga mengupayakan agar kutipan-kutipan itu dilafalkan sesuai dengan logat asli.

Maka, pidato-pidato Presiden Sukarno penuh warna. Warna Belanda, Jerman, Italia, Inggris, Latin, Jawa, Sunda, Bali... dan entah apa lagi. Belum ada pejabat atau tokoh Indonesia yang punya kemampuan secemerlang Presiden Sukarno.

Lalu, Sukarno menerjemahkan ungkapan-ungkapan itu dalam bahasa sederhana. Bahasa yang mudah dimengerti rakyat. Konsep asing dijelentrehkan dengan pengertian lokal. Ini yang bikin pidato Bung Karno sangat hidup dan digemari masyarakat.

Lha, Presiden SUSILO, asal Pacitan, Jawa Timur, ini terbalik. Pidatonya tidak pakai konsep-konsep rumit atau kutipan-kutipan asli ala Presiden Sukarno. Pidato Susilo mirip makalah atau artikel di media massa kita yang dibacakan di depan khalayak. Agar terkesan ‘ilmiah’, seperti cendekiawan Indonesia umumnya, maka beberapa frase bahasa Inggris pun dikutip di sana sini.

Jadi, Presiden Susilo bukan mengutip bacaan atau tuturan asli dari sumber yang kebetulan berbahasa asing seperti dilakukan Presiden Sukarno.

Ada baiknya, kita perlu belajar dari negara tetangga kita, Malaysia. Saya beberapa kali menyimak pidato pejabat-pejabat di sana. Wah, ternyata bahasa pejabat negara jiran itu sangat membumi. Pakai bahasa Melayu, ungkapan-ungkapan khas, sederhana, tidak sok Inggris. Padahal, Malaysia itu bekas jajahan Inggris dan rakyatnya, apalagi pemerintahnya, sangat fasih berbahasa Inggris secara lisan dan tulisan.

Kalaupun ada istilah Inggris, biasanya sudah ‘dimelayukan’ alias diserap. Tidak ada pejabat Malaysia yang berusaha memperjelas ujarannya dengan mengutip istilah bahasa Inggris. Kesadaran berbahasa nasional orang Malaysia memang sangat tinggi.

Beberapa tahun lalu, rakyat Malaysia heboh gara-gara Perdana Menteri Datuk Seri MAHATHIR MOHAMMAD berpidato dalam bahasa Inggris saat berkunjung ke Indonesia. Bagi orang Malaysia, seperti dikutip Datuk Mahathir dalam bukunya, DILEMA MELAYU, bahasa Indonesia itu sejatinya sama saja dengan bahasa Melayu, kemudian diperkaya dengan bahasa-bahasa daerah dan bahasa asing.

Karena itu, Mahathir dituntut rakyatnya agar berbahasa Melayu [Malaysia] selama berada di Indonesia. Saya geleng-geleng kepala membaca kecaman keras rakyat Malaysia kepada pemimpinnya. Ingat, waktu itu Mahathir masih merupakan orang kuat di sana.

Di Indonesia, mana ada yang hirau? Pejabat-pejabat berbahasa ngawur, beringgris ria, mengabaikan tata bahasa... rakyat sih tenang-tenang saja. Nama-nama program acara di televisi, macam Metro TV, pun dibiarkan saja. Iklan yang 100 persen berbahasa Inggris tak dilarang. Nama-nama perumahan.... Semua serba Inggris di bumi Indonesia, sementara pejabatnya pun ikut arus.

Di Surabaya, saya beberapa kali bertemu dengan diplomat yang bahasanya bukan Inggris. Entah itu Prancis, Belanda, Jepang, Tiongkok. Saya sangat yakin, sebagai diplomat yang sudah malang-melintang ke banyak negara, mereka tentu mampu berbahasa Inggris. Nah, saat saya minta wawancara dalam bahasa Inggris, para diplomat ini menolak dengan tegas.

"Saya bicara dalam bahasa Prancis, nanti Sita [Sunaryo, staf] yang menerjemahkan,” ujar Dimitri, bekas konsul Prancis di Surabaya, kepada saya.

Diplomat [dan warga] negara beraksara kanji [Jepang, Tiongkok, Thailand, Vietnam, Taiwan] jauh lebih ‘alergi’ bahasa Inggris. Walaupun sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia, mereka selalu bicara dalam bahasa negaranya. Kemudian diterjemahkan oleh staf bahasa Indonesia.

Negara mereka toh terbukti mampu bersaing di era pasar bebas, globalisasi. Siapa biang Tiongkok tidak maju? Jepang tidak maju? Vietnam ketinggalan? Malaysia tidak maju?

Mudah-mudahan Presiden Susilo mau menjaga martabat bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Bukankah itu salah satu tugas konstitusional kepala negara?

BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA.

29 April 2007

Mana Penyanyi Maluku?



Foto Bung Harvey bersama fansnya ini beta jepret di Hotel Garden Palace Surabaya sehabis wawancara singkat.


Beta lagi dengar HARVEY MALAIHOLLO menyanyi saat bikin catatan ini. Lagunya WANITA karya Ismail Marzuki, dulu biasa dipakai untuk lomba bintang radio dan televisi. Lalu SEANDAINYA SELALU SATU, lagu jawara festival internasional di Jepang, 1986.

Wow, beta senang betul suara Nyong Ambon yang satu ini. Suara bersih, jantan, teknik vokal tinggi... pokoknya seng ada lawan! Bung Harvey, teruslah menyanyi!

Sejak dulu beta yang orang Flores Timur suka betul dengan suara orang-orang Ambon. Rata-rata agak tebal, ada vibrasi, pernafasan bagus, oke punya. Orang-orang Maluku itu dikarunia talenta nyanyi sejak lahir. Tak usah latihan, ikut kursus, belajar teori musik, dorang so bisa menyanyi. Beta rasa, ungkapan ini berlebihan, tapi bisa dipahami.

Dulu, ketika beta masih kecil, lagu-lagu Ambon selalu diputar di kampung. Orang dansa pakai lagu Ambon. Bersiul melodi Ambon. Sampai berkemah pun menyannyi lagu Ambon. NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG. OLEH SIO. WAKTU HUJAN SORE-SORE. SUDAH BERLAYAR JAUH. MANDE-MANDE. Beta juga kalau melatih paduan suara untuk lomba selalu ‘mengutamakan’ lagu-lagu daerah Maluku macam GORO-GORONE, GEPE-GEPE, BURUNG KAKATUA....

Oh ya, pemusik liturgi di Flores pun ‘meminjam’ melodi SAYANG DILALE untuk bikin lagu komuni di Gereja Katolik. Liriknya antara lain begini: BUKANLAH ROTI ANGGUR YANG MEMBAWA DAMAI MELAINKAN SABDA...

Wah, lagu ini kalau dinyanyikan anak-anak Seminari Hokeng.. luar biasa. Melodinya membuai macam alunan gelombang di Laut Banda saja. Orang Ende, Flores tengah, juga sangat senang lagu ini. Tiap kali misa di gereja, teman-teman mahasiswa Flores ‘memaksa’ dirigen untuk menggunakan lagu liturgi inkulturasi ini.

Selain Bung Harvey, beta rindu dengar suara-suara nyom Ambon macam Ade Manuhutu, Broery Marantika, Melky Goeslaw, Enteng Tanamal... dan seabrek nama lainnya. Juga trio legendaris Lex’s Trio. Meminjam istilah Frans Sartono dari harian KOMPAS, cara orang-orang Ambon menyanyi mengingatkan beta pada istilah ‘seni suara’. Menyanyi itu, ya, seni suara. Ada keindahan, teknik, talenta, dan sebagainya.

Setelah era industri, tahun 2000 ke atas, dunia rekaman kita berkembang menjadi industri yang luar biasa. Menyanyi bukan lagi seni suara, tapi seni menjual kaset/CD/VCD sebanyak-banyaknya. Urusan suara nomor sekian, yang penting dikemas dengan teknik marketing canggih agar laku sebanyak-banyaknya.

Tubuh penyanyi disulap habis-habisan agar sesuai dengan tuntutan industri. Wajah cantik, tapi palsu. Rabut dicat. Mata dibirukan. Cengar-cengir di panggung. Pemilihan berhala-berhala pop/dangdut pakai SMS. Suara buruk tak apa-apa, yang penting dukungan SMS mengalir deras.

Maka, pernah terjadi anak abang becak yang tidak bisa menyanyi terpilih sebagai ‘penyanyi terbaik’ AFI. Kini, si Veri AFI sudah hilang ditelan angin karena memang sejak awal dia bukan penyanyi.

Setiap kali melihat pemilihan berhala-berhala pop, perut beta mulas. Beta kadang tertawa sendiri melihat cara menyanyi anak-anak muda yang dibuat-buat. Melodi dirusak habis dengan alasan improvisasi atau ornamentasi. Padahal, penyanyi-penyanyi hitam di Amerika sana menyanyi dengan cara wajar. Kalaupun suaranya ‘keriting’, itu semata karena penghayatan. Beta punya banyak koleksi penyanyi jazz/blues Amerika sehingga tahu betul perbedaan improvisasi dan suara yang dibuat-buat.

Sekarang ini ke mana penyanyi-penyanyi Ambon? Beta jarang melihat ada bakat baru yang muncul ke permukaan. Yang laku di Indonesia justru band-band atau penyanyi-penyanyi yang mengabaikan seni suara. Anehnya, kaset/CD/VCD mereka laku keras hingga jutaan kopi. Mau contoh?

PETERPAN. Penyanyinya, Ariel, nyanyi pakai suara hidung atau nasal. Teknik begini jelas-jelas melawan pakem seni suara. Vokalnya juga jelas. Buruk sekali. Kok bisa laku keras? Disukai anak-anak muda Indonesia? Beta bingung.

PADI. Fadly, vokalisnya, juga nyanyi pakai suara hidung, tidak karuan. Kalau nada-nada tinggi Fadly tidak punya kemampuan tekniknis untuk mengatasi. Suara nasal Fadly mirip orang yang punya polip di hidung. Kok bisa laku? Beta bingung.

DEWA. Sama saja. Penyanyinya, Once, juga menyanyi dengan suara aneh. Melawan teknik vokal. Teman beta bilang, suara Once mirip burung kakatua. Beta bingung, band ini laku keras.

Karena band-band laris pakai suara hidung, sekarang ini band-band baru pun menyanyi dengan cara yang sama. Cara hidung. Teknik vokal dasar macam pernapasan, frasering, vokalisasi, resonansi, vibrasi, ekspresi... sulit kita temukan. Maka, benar kata harian KOMPAS (29/4/2007), kita sebenarnya masih sangat membutuhkan penyanyi-penyanyi yang tahu SENI SUARA.

Kalau sekadar laris thok, ya, buat apa?

Wahai orang-orang Ambon yang bersuara merdu, bakat alam... ke manakah kalian? Beta rindu dengar suara kalian. Beta juga yakin Indonesia yang selalu resah, kacau, prihatin... ini perlu suara-suara indah dari orang Maluku.

Di industri musik sekarang ada nama Glenn Fredly, keturunan Ambon. Tapi beta kurang suka suara Glenn karena kurang jantan layaknya suara orang-orang Maluku. Glenn nyanyi macam perempuan saja. Glenn juga pakai suara hidung. Lucu sekali!

Oh ya, beta selalu terharu saat mendengar atau memainkan lagu ini:

BETA BELUM BALAS MAMA
MAMA PU CAPEK SIOH DULU E
....
SIOH TETE MANISE
JAGA BETA PU MAMA E

Nonton Ludruk Irama Budaya


 


Malam Minggu beta lihat Ludruk Irama Budaya di kawasan Pulowonokromo, Joyoboyo. Ini grup ludruk satu-satunya yang masih bertahan di Kota Surabaya. Hebat! Ketika semua grup ludruk, juga seni tradisional lain, bubar karena digilas hiburan modern, Irama Budaya justru masih bertahan.


Irama Budaya juga menarik, karena pemainnya mayoritas waria. Mereka bikin komunitas di situ. Tiap malam waria dan pemain pria berusaha main ludruk walau kadang-kadang batal karena sepi penonton.

"Malam Minggu pasti main karena ramai. Hari-hari lain ya, lihat sikon dulu lah," ujar Renny, waria asal Kencong, jember, kepada beta.

Sabtu, 29 April 2007. Ludruk Irama Budaya memainkan lakon 'Beranak dalam Kubur'. Pergelaran dimulai pukul 22.00 lebih sedikit. Karcis Rp 4.000. Beta perkirakan penonton malam itu sekitar 250 orang. Anak-anak kecil hingga kakek-nenek ada.

Gedung Irama Budaya, yang berlokasi di dekat Terminal Joyoboyo ini, terasa gerah karena tak ada kipas angin, apalagi AC. "Silakan ambil kipas di dekat pintu. Kalau pulang, silakan dikembalikan," ujar seorang waria kepada beta. Kipas ini terbuat dari potongan kardus air mineral.

Para penonton rata-rata pegang kipas karena sudah tahu suasana gedung ludruk memang 'sumuk'. Toh, mereka menikmati tembang-tembang tradisional Jawa... sambil menggoda seniwati ludruk yang sebagian besar waria itu tadi.

Beta lihat penonton seperti berebut melemparkan kertas, yang digulung, ke atas panggung. Satimo, pembawa acara sekaligus peludruk kawakan asal Lumajang, mengambil dan membuka kertas itu. Aha, ternyata pesanan tembang dari penonton.

"Assalamualaikum... minta Caping Gunung, dibawakan Renny," baca Satimo.

Lalu, Renny, waria asal Jember ini, membawakan tembang yang diminta diiringi 15 pemusik tradisional. Tingkah polah Renny yang kemayu bikin penonton tertawa. Satimo dan beberapa laki-laki pun ikut-ikut melawak sehingga beta ikut tertawa. Adegan minta lagu, nembang ini, berlangsung satu jam lebih.

"Jujur, sebagian penonton ke sini untuk minta lagu," ujar Ahmad, penonton berusia 71 tahun, asal Ponorogo.

Tepat pukul 24.00 lakon 'Beranak dalam Kubur' dimulai. Ceritanya sederhana saja. Ronggo, pengusaha terkenal, punya istri cantik [diperankan waria], diam-diam menghamili pengemis bisu yang setiap hari minta-minta ke rumah. Si bisu minta tanggung jawab Ronggo.

Istri dan pembantu geger, tak tahu apa maksud si bisu yang bicara pakai bahasa isyarat. "Ronggo tidak mungkin melakukan itu! Ronggo itu moralnya baik," ujar Ronggo di depan istri, pembantu, dan anak buahnya.

Suatu malam, Ronggo meminta tiga anak buahnya untuk menghabisi si Bisu yang hamil tua. "Saya akan kasih bonus, berapa pun yang kalian minta," kata Ronggo. Si Bisu dibunuh, lalu rohnya gentayangan.

Tiga pembunuh si Bisu akhirnya mati secara mengerikan. Istri Ronggo pun kesurupan. Mudah ditebak, Ronggo kemudian mengakui perbuatannya di depan kiai. Si Bisu itu ternyata 'beranak di dalam kubur'.

Ludruk Irama Budaya memang selalu menampilkan cerita-cerita sederhana macam ini. Spontan. Tidak pakai skenario. Para peludruk sangat jago berimprovisasi, mengocok perut penonton. Logika dijungkir balik. Misal: pelayan seenaknya saja memarahi majikan. Kiai digoda atau dicopot kaca matanya.

"Aku senang karena lucu," ujar Rahmat, anak sekolah dasar di kawasan Wonokromo.

"Aku mesti nonton saban malam Minggu. Soale ludruk nang kampungku gak ono maneh," ujar Ahmad, kakek asal Ponorogo.

Beta kemudian menemui Zakiah, pemimpin Ludruk Irama Budaya, tokoh waria. Dia bilang apa pun yang terjadi ludruknya harus main terus agar seni tradisi ini tidak hilang.

"Nggak ono maneh ludruk nan Suroboyo iki. Opo maneh sing main saban dino kayak Irama Budaya. Tulis itu!" ujar Zakiah yang juga penjaga loket karcis Irama Budaya.

Di Joyoboyo ini Irama Budaya mengontrak selama tiga tahun. Sebelumnya, mereka sempat pindah lokasi ke kawasan Jarak dan Tandes, tapi kembali lagi ke Joyoboyo. Rupanya, komunitas ludruk di Surabaya yang bisa diandalkan, ya, di Joyoboyo.
Zakiah, yang beberapa kali menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya dan Taman Budaya Jawa Timur, sadar bahwa seni ludruk semakin tergilas oleh hiburan modern yang sangat digandrungi anak-anak muda.

"Tapi apakah kita menyerah? Saya bersama Irama Budaya akan berusaha menghadirkan kesenian ludruk di Kota Surabaya. Entah sampai kapan," tekad Zakiah.

"Hidup kami, ya, dari kesenian. Kalau ludruk bubar, terus kerja apa, Cak?" timpal Renny, waria yang nama aslinya Muin.

Beta salut sama Zakiah, Renny... para waria dan komunitas Irama Budaya. Terlepas dari citra miring waria, harus diakui, justr waria lah yang beristikamah melestarikan ludruk di Kota Surabaya.

Sukis, Remo Terbaik Jawa Timur


Oleh LAMBERTUS L. HUREK


Sepeninggal MUNALI FATAH, seniman tradisi asal Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, orang khawatir Jawa Timur kehilangan seniman remo. Syukurlah, SUKIS INDRAKUSUMA getol melestarikan tari remo di Jawa Timur.



“SAYA memang dititipi Cak Munali Fatah untuk melestarikan tari remo di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Amanah dari almarhum ini akan selalu saya ingat,” ujar SUKIS INDRAKUSUMA, kepada saya.

Lahir dari keluarga seniman tradisi, Cak Sukis sejak remaja sudah menekuni tari remo. Mula-mula hanya meniru gerakan penari senior yang bermain di grup ludruk. Tanpa banyak arahan, gerakan-gerakan Cak Sukis ternyata jauh lebih matang dibandingkan penari senior.

“Alhamdulillah, mungkin ini yang namanya bakat. Bakat, ditambah arahan dari senior dan pelatih, kemudian saya mengembangkan sendiri,” ujar pria kelahiran Sidoarjo, 7 Juli 1953, itu.

Cak Tomo (almarhum), sesepuh Ludruk Irama Baru (Kodim Sidoarjo, sekarang ludruk ini sudah bubar) merupakan penemu sekaligus penggembleng bakat Sukis di remo. Sukis juga banyak menimba inspirasi dari seniman besar remo macam Cak Munali.

“Cak Munali itu kental dengan gaya Suroboyoan yang lembut. Ada lagi gaya Malangan dan Jombangan. Saya kombinasikan tiga gaya ini agar tarian remo lebih menarik, tetap sesuai dengan zaman,” kata pria yang murah senyum itu.

Setiap tahun pemerintah provinsi Jawa Timur menggelar lomba atau festival remo. Cak Sukis sendiri sebetulnya kurang antusias mengikuti lomba-lomba macam ini. Tapi, karena terus dipaksa, akhirnya pria yang tinggal di Desa Gampang, Kecamatan Prambon, Sidoarjo, ini ikut serta. Hasilnya? Luar biasa.

Sejak 1982 Cak Sukis, mewakili Kabupaten Sidoarjo, terpilih sebagai penari terbaik alias juara pertama. Tahun berikutnya, 1983, Cak Sukis menang lagi, begitu seterusnya hingga tahun 2005.

“Pokoknya, tiap tahun saya menang. Saya sendiri sebetulnya tidak mencari kemenangan, yang penting bisa menari dengan sungguh-sungguh,” kata Sukis, yang kini menjadi penari remo andalan LUDRUK KARYA BARU.

Karena menang terus-menerus, panitia akhirnya melarang Sukis untuk ikut lagi dalam lomba remo di Jawa Timur. “Kalau Cak Sukis ikut, ya, yang lain pasti kalah. Kapan bisa muncul penari remo yang baru?”

Namun, Sukis tetap dihadirkan sebagai ‘bintang tamu’ atau pembimbing bagi penari-penari muda. Gerakan-gerakan Sukis pun sudah direkam di VCD/video sebagai panduan bagi siapa saja yang belajar remo. Kalau belum puas dengan hanya menonton, Sukis bersedia memberikan petunjuk secara langsung.

“Memang ini sudah jadi amanat Cak Munali, Cak Tomo. Kalau ada pertanyaan dari seniman pemula, turis manca, peneliti, soal tarian remo, ya, saya harus jawab. Ini termasuk kewajiban saya dalam merawat seni tradisi Jawa Timur,” katanya.

Dibandingkan tarian lain, menurut Sukis, remo memiliki kesulitan cukup tinggi karena karakternya sebagai tarian tunggal. Konsekuensinya, si penari remo harus benar-benar matang. Menguasai gerakan secara sempurna, juga filosofi remo. “Orang yang ngerti seni tradisi pasti tahu mana gerakan yang benar dan mana yang meleset,” tutur Sukis.

Remo sudah menjadi darah daging Sukis. Selain tampil tiap malam bersama grup ludruk, Sukis juga ‘ditanggap’ di berbagai tempat di Jawa Timur.

27 April 2007

Gereja Katolik Bebas



Di Surabaya ada Gereja Katolik Bebas. Lokasinya di Jalan Serayu Nomor 11, dekat Taman Bungkul. Di depan gereja ada papan nama ‘Gereja Katolik Bebas St. Bonifacius’. Bangunan tua warisan Belanda itu terkesan kumuh, tidak terurus. Tapi tetap antik dan punya kharisma.

Belum lama ini saya mampir ke sana.

“Kok tidak direnovasi? Kelihatan sudah tua banget.”

“Bagaimana mau renovasi? Jemaatnya sedikit, nggak sampai 20 orang. Jadi, mungkin uang yang terkumpul sedikit,” kata Ahmad Budi, penjaga gereja, kepada saya. Arek Surabaya asli ini sudah bertahun-tahun menjaga Gereja Katolik Bebas.

Sebagai orang Katolik, yang ‘tidak bebas’, Katolik Roma, sejak lama saya penasaran dengan Gereja Katolik Bebas. Apanya yang bebas? Tata liturginya seperti apa? Hierarki? Jemaatnya? Dan sebagainya.

Maka, pada sebuah Ahad pagi, pukul 08.00 WIB, saya bertamu di Gereja Katolik Bebas. Umatnya memang kurang dari 20 orang. Rata-rata sudah ‘berumur’ alias 50 tahun ke atas. Kedatangan muka baru tentu saja menarik perhatian jemaat. Saya pun memperkenalkan diri.

“Oh, silakan ikut misa. Kami senang sekali Anda mengikuti liturgi di gereja kami. Siapa saja boleh ikut karena Tuhan Yesus sayang sama semua orang,” ujar Ibu Lisa, salah satu pemuka umat, ramah.

“Oh, ya, di sini banyak juga orang Katolik [Roma] yang pernah misa di sini. Sama saja kok,” tambah wanita setengah baya ini.

Suasana di dalam gereja ini hening. Cocok untuk refleksi atau meditasi. Beda dengan gereja-gereja karismatik yang meriah, hiruk-pikuk, mirip konser musik rock. Juga beda dengan suasana misa di Katolik Roma yang ramai umat. Umat Katolik Bebas, rata-rata sepuh, tampaknya cocok dengan suasana hening macam ini.

Lalu, imam [semacam pastor atau romo] keluar dari sakristi. Pakai jubah, kasula, mitra, ala uskup di Katolik Roma. Imam alias pastor ini memimpin misa dengan membelakangi jemaat. Tidak menghadap jemaat macam di Katolik Roma.

“Kok mirip uskup, ya?” bisik saya.

“Iya. Memang beliau itu uskup,” ujar Bu Lisa. “Tapi uskup di gereja kami boleh menikah, boleh berkeluarga. Beda dengan di gereja Anda.”

Misa pun dimulai. Sebagai orang Katolik, apalagi asal Flores Timur, saya tidak kagok dengan liturgi Katolik Bebas. Mirip misa di Katolik Roma. Saudara-saudara di Katolik Bebas, Surabaya, banyak menggunakan plain songs alias lagu-lagu sederhana untuk mendaraskan mazmur. Lagu-lagu tanpa irama karena mengabdi ke syair mazmur.

Ayat-ayat mazmur didaraskan sampai selesai, kemudian masuk antifon. Sama dengan sebagian lagu di buku ‘Syukur Kepada Bapa’ yang dulu dipakai di Flores. Pola lagu macam ini menghadirkan ketenangan, suasana meditatif. Tidak ada iringan musik. Musiknya, ya, suara manusia ala lagu-lagu gregorian.

Jemaat Gereja Katolik Bebas Surabaya, meski sedikit, menyanyi dengan penuh semangat. Tak peduli suara fals, mereka berusaha memuji Tuhan dengan suaranya.

Khotbah tidak panjang, mungkin, karena sang uskup tidak suka bicara. Lalu, liturgi ekaristi. Sekali lagi mirip Katolik Roma, hanya beda susunan kalimat. Doa syukur agung juga ada. Ekaristi diakhiri dengan komuni. Semua jemaat diberi kesempatan untuk menyambut Kristus dalam simbol hosti dan anggur. Upacara penutup, lagi-lagi, pakai pendarasan mazmur.

Karena sudah pernah ikut misa di Gereja Katolik Bebas, saya pun bisa memahami kata ‘bebas’ di gereja ini. Mereka ‘bebas’ karena tak mau terikat dengan Takhta Suci di Vatikan. Tapi, di sisi lain, mereka tetap mengikuti tata liturgi Katolik dengan segala pernak-perniknya. Karena itu, umat Katolik Bebas tidak mau disebut orang Kristen Protestan, apalagi Pentakosta atau Karismatik.

"Kami ini Katolik, tapi Gereja Katolik bebas. Bukan Gereja Katolik Roma,” tegas Lisa. Saya pun mengangguk.

Di Indonesia, Gereja Katolik Bebas dimasukkan dalam rumpun gereja-gereja Protestan. Ikut Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Protestan, Departemen Agama Republik Indonesia. Ikut Pembinmas Kristen Protestan kalau di Jawa Timur.

Ironisnya, orang-orang Protestan [Pentakosta, Karismatik, Baptis, Reformed...] tidak menganggap Gereja Katolik Bebas sebagai salah satu denominasi Kristen Protestan di tanah air.

Gereja Katolik [Roma] jelas tidak mengakui gereja-gereja yang ‘menyempal’ dari Takhta Suci, Vatikan, termasuk Katolik Bebas. Toh, urusan tetek-bengek admisitrasi macam ini tidak menyurutkan semangat jemaat Gereja Katolik Bebas untuk beribadah.

Nama Orang pun Disingkat


Virus singkatan dan akronim di media massa Indonesia akhir-akhir ini makin kronis. Akronim dan singkatan sudah sangat berlebihan. Diproduksi tiap hari tanpa pakem atau pedoman. Jangan heran, banyak orang bingung membaca media-media berbahasa Indonesia kini.

"Saya seperti orang yang baru belajar bahasa Indonesia. Padahal, saya ini orang Indonesia yang kebetulan tinggal di Belanda. Masa, nama orang pun disingkat,” ujar John, tinggal di Belanda, saat chatting dengan saya.

Keluhan John juga dirasakan saudara-saudari kita di Malaysia, Brunei Darussalam, atau Singapura. Saat membaca surat kabar Indonesia, mereka mengalami kendala. Banyak istilah disingkat, nama pun disingkat.

“Sukarlah awak memahami bahasa Indonesia yang masih serumpun bahasa Melayu,” ujar Muhammad Nasaruddin bin Haji Ibrahim, pemandu wisata asal Negeri Pahang, kepada saya di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.

Sebagai orang media, saya sangat memahami keluhan-keluhan ini. Bahasa kita memang luwes, bahkan terlalu longgar. Tata bahasa longgar, tata kalimat, tata bunyi, tata singkatan... semua serba longgar. Nyaris tidak beraturan.

Celakanya, ketika singkatan atau akronim itu berlebihan, overdosis, maka mutu bahasa Indonesia ambruk.

“Bahasa Indonesia, cara berbahasa orang Indonesia, memang mencerminkan sikap orangnya yang kurang disiplin. Posisi subjek, predikat, objek... bisa ditukar seenaknya saja,” kritik Pater Stanislav Pikor SVD, pastor asal Polandia, yang tinggal di Surabaya.

Pater Pikor ini poliglot, menguasai banyak bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia. Pater Pikor dan para misonaris Barat yang banyak bekerja di Flores, saya tahu sendiri, memang sangat tertib berbahasa. Mereka menguasai bahasa secara mendalam, termasuk filosofinya.

Saya periksa beberapa surat kabar dan media internet. Para wartawan memang akhir-akhir ini suka menyingkat nama tokoh. Alih-alih istilah khas kepolisian: curas, curwan, curat, curhat, sisdiknas, raskin, kasiba [kawasan siap bangun], rusunawa, monkasel.... Tiap hari saya menemukan puluhan singkatan frase di surat kabat terbitan Surabaya.

Susilo Bambang Yudhoyono, presiden kita, sejak dulu menjadi korban singkatan. Namanya disingkat SBY. Lalu, pola ini merembet ke nama beberapa pejabat lain. Hidayat Nur Wahid disingkat HNW. Soetrisno Bachir menjadi SB. Akbar Tandjung AT. Megawati Soekarnoputri MS.

Saya pernah membaca berita di media online begini:

“HNW meminta SBY agar berhati-hati me-reshuffle KIB. Hal senada disampaikan SB, ketua DPP PAN, dan TS dari PKS.”

Pahamkah Tuan?

Bagi orang media macam saya, singkatan-singkatan dalam berita itu gampang ‘diraba’. Sebab, dari dulu pendapat orang-orang inilah yang selalu dikutip reporter. HNW maksudnya tentu Hidayat Nur Wahid, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat. DPP PAN = Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional. SB = Soetrisno Bachir. TS = Tifatul Sembiring, presiden Partai Keadilan Sejahtera. KIB = Kabinet Indonesia Bersatu.

Tapi, saya bisa bayangkan, betapa sulitnya masyarakat umum memahami nama-nama tokoh yang disingkat tersebut. Nama orang kok disingkat? Itulah watak orang Indonesia, termasuk wartawan, yang rata-rata malas mengetik secara lengkap. Bahasa pesan pendek [SMS] yang sarat singkatan, naga-naganya, akan memperparah tata bahasa baku kita.

Saya sendiri sejak dulu menolak singkatan SBY untuk Presiden SUSILO BAMBANG YUDHOYONO. Sebab, saya tahu cara menulis nama macam ini tidak lazim di media internasional. Media asing, berbahasa Inggris, lazimnya menulis Presiden YUDHOYONO. Majalah PANTAU yang diasuh Andreas Harsono [www.andreasharsono.blogspot.com] menganjurkan media-media di Indonesia untuk menggunakan sistem penulisan nama ala Barat. Menurut Andreas, nama marga atau keluarga dipakai di tubuh berita setelah nama penuh [full name] ditulis lengkap.

Sekali menulis nama lengkap, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, selanjutnya pakai YUDHOYONO saja. Nama-nama etnis yang pakai marga [Batak, Ambon, Flores, Manado, Sulawesi...] cukup sebut marganya. Contoh: MARSILAM SIMANJUNTAK ditulis penuh, selanjutnya SIMANJUNTAK saja. Imbauan majalah PANTAU ini ternyata tidak banyak diikuti. Majalah pemantau media itu malah gulung tikar alias tidak terbit lagi.

Bagaimana dengan nama etnis yang tidak punya marga [Jawa, Betawi, Sunda, Madura...]? Andreas Harsono tetap mengusulkan penggunaan nama belakang. Jadi, seakan-akan orang Jawa itu punya marga. Andreas HARSONO bahkan menjadikan HARSONO sebagai marganya.

Contoh: DIAH AYU WARDHANI.

Dalam tubuh berita, kata Andreas, tulis saja WARDHANI. “Menurut Wardhani, masyarakat makin pusing karena harga bahan pokok di Pasar Wonokromo naik 30 persen.”

Khusus untuk SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, presiden Indonesia, saya sejak dulu mengusulkan disingkat SUSILO. Presiden SUSILO. Bukan Presiden SBY. Bukan Presiden YUDHOYONO.

Kenapa? Setelah saya cek di keluarga dekatnya, asal Pacitan, Jawa Timur, sejak kecil Susilo Bambang Yudhoyono biasa disapa SUSILO. Tidak pernah disapa Yudhoyono, apalagi SBY. “Biasanya, ya, disapa Pak Susilo, Mas Susilo,” kata Sutopo, kerabat dekat Susilo Bambang Yudhoyono di Sidoarjo, kepada saya.

Lha, kok tiba-tiba jadi SBY atau Yudhoyono?

“Hehehe... Itu kan karena pemberitaan media massa. Karena media terus-menerus pakai istilah SBY, ya, akhirnya terbiasa. Tidak masalah,” kata Sutopo, enteng.

Saya pun mencermati berita di BERNAMA [kantor berita Malaysia) dan surat kabar Utusan Malaysia. Eh, ternyata orang Malaysia sejak dulu sudah menggunakan istilah PRESIDEN SUSILO, BUKAN Presiden SBY. Lebih sederhana, mudah, sesuai dengan pakem Jawa. Kenapa kita tidak pakai PRESIDEN SUSILO atau Pak SUSILO? Kenapa SBY?

Menurut saya, Pusat Bahasa perlu membuat pedoman penulisan nama-nama orang untuk media massa. Kenapa? Indonesia yang terdiri dari sekian banyak etnis punya tata nama dan tradisi yang berbeda. Lagi pula, di negara-negara berbahasa Inggris pembakuan tata nama ini sudah ada. Tidak kacau-balau macam di sini.

Berikut beberapa variasi nama yang kerap membingungkan redaktur media massa:

Nama orang Jawa, Sunda, dan beberapa etnis lagi. BAMBANG SUGIARTO DANURI: disingkat BAMBANG [lazim] atau SUGIARTO atau DANURI?

Nama Jawa muslim atau Jawa serani. AHMAD BAMBANG YULIANTO: disingkat AHMAD atau BAMBANG atau YULIANTO? YOHANES BAMBANG YULIANTO: disingkat YOHANES atau BAMBANG atau YULIANTO?

Nama berlatar Timur Tengah. IMAM GAZALI disingkat IMAM atau GAZALI. AHMAD ZAMRONI: disingkat AHMAD atau ZAMRONI?

Nama orang Bali. I WAYAN SUARTANA: disingkat WAYAN atau SUARTANA? FRANSISKUS WAYAN SUARTANA bagaimana? Lalu, AHMAD WAYAN SUARTANA?

Nama etnis bermarga [Batak, Flores, Maluku, Papua, Manado...]. IGNATIUS KOPONG PAYONG: disingkat PAYONG, KOPONG, atau IGNATIUS? ROSIANNA MAGDALENA SILALAHI: disingkat ROSIANNA, MAGDALENA, atau SILALAHI?

KESIMPULAN:

Berbahagialah orang Indonesia yang namanya hanya satu kata. Sukarno. Suharto. Susilo. Suprapto. Demong. Ucok. Upit.....

26 April 2007

Devi Pembina Tari Sidoarjo




Namanya AFRISIA SYARAH DEVI, akrab disapa Devi. Mbak Devi! Tiap sore ia berkumpul dengan anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah Pendapa Kecamatan Gedangan, Sidoarjo.

Afrisia Sarah Devi memang pembina Sanggar Tari Clarissa. Dia juga dikenal sebagai salah satu penari jempolan dari Kabupaten Sidoarjo. Sampai sekarang tangan dan tubuhnya ‘gatal’ kalau tidak menari. Tarian apa saja.

Pada 1990-an, Devi pernah berguru ke padepokan Bagong Kusudiarjo [almarhum], empu tari dari Jogja. Lulus dari sana, wanita berdarah Aceh ini bikin sanggar di Sidoarjo. Sanggar Clarisa.

"Saya ingin agar anak-anak punya kegiatan positif sepulang sekolah. Siapa tahu bakat tari mereka bisa berkembang," ujar Aprisia Sarah Devi keada saya.

Bermula dengan beberapa gelintir murid, sanggarnya terus berkembang. Promosinya cukup gethuk tular dari anak-anak yang belajar di Sanggar Clarisa. "Sekarang ini murid saya yang aktif 50 orang lebih," ujarnya, bangga.

Menurut Devi, belajar tari bagi anak-anak tidak dimaksudkan untuk menjadikan anak-anak penari profesional. Kalau ada satu dua yang kemudian menekuni tari, “Alhamdulillah,” katanya. Tapi kalau tidak pun tidak apa-apa. Yang penting, dasar-dasar seni gerak sudah ‘bersarang’ di tubuh mereka.

Ia percaya seni tari yang telah dipelajari sejak anak-anak membuat orang lebih mampu menghayati keindahan. Cita rasa lebih halus. “Seni tari itu banyak gunanya. Ada olah rasa, juga olah raga,” ujar wanita yang ramah ini.

Belum lama ini, Devi mengadakan gelar tari di Pendapa Kecamatan Gedangan, Sidoarjo. Anak-anak asuh Devi, yang sebagian besar masih sekolah dasar, unjuk kebolehan di depan ratusan penonton. Mereka harus membuktikan bahwa proses latihan selama tidak sia-sia.

Benar saja. Anak-anak yang lucu, lugu, polos, itu memang tampil bagus. Percaya diri, senyam-senyum, lenggak-lenggok, tak ubahnya penari profesional.

“Sulit dipercaya bocah itu bisa menari remo dengan baik,” ujar Wahyu, pria 50-an tahun, warga Gedangan.

Usai remo, sebagai tari pembuka, disusul Tarian Anak Kuda. Lagi-lagi anak-anak melakoninya dengan baik. Karya maestro tari BAGONG KUSUDIARJO ini diolah lagi oleh Devi, disesuaikan dengan usia para penari. Ciamik!

Di usia yang sangat dini, anak-anak itu tampil lucu, menggemaskan, layaknya anak-anak kuda yang gembira. Tingkah pola mereka ‘rewel’, bercanda bersama kawan, mengusili kawan, dan seterusnya. Kontan saja, penonton -- kebanyakan keluarga penari -- memberikan tepuk tangan meriah.

Devi, yang berdiri di pinggir panggung, senyam-senyum bangga.

Lalu, diperlihatkan Tari Shalawat khas Nanggroe Aceh Darussalam. Dibawakan tujuh orang, tarian ini menggambarkan sikap religius orang Aceh.

Kedahsyatannya justru di kombinasi gerak, dinamika, tempo yang berubah sangat cepat. Tempo musik dan nyanyian Aceh memang sangat dinamis. Tujuh penari asuhan Devi ini meningkahi dengan gerakan cepat dan rancak. Tentu saja, butuh konsentrasi dan kemampuan tari tingkat tinggi. Salah sedikit saja bisa rusaklah tarian itu. Alhamdulillah, selamat.

“Saya kan orang Aceh. Jadi, Tari Shalawat atau tarian Aceh yang lain selalu menjadi andalan saya. Anak-anak pasti saya ajarkan tarian Aceh,” ujar Devi.

Aceh memang andalan, tapi bukan satu-satunya. Sanggar Clarissa menampilkan aneka tarian dari hampir semua daerah di Indonesia dengan pola gerak, corak musik, serta kostum yang berbeda-beda. Bhinneka Tunggal Ika!

Pada 2005 Devi terpilih sebagai salah satu Pemuda Pelopor tingkat Jawa Timur. “Nggak nyangka kalau aktivitas saya di sanggar ini diperhatikan orang. Alhamdulillah,” ujar Devi.

Saya senang dengan orang-orang kreatif macam Devi. Dia membuat anak-anak Indonesia tetap menari di tengah krisis panjang ini.

25 April 2007

Mgr Gabriel Manek SVD Sang Peziarah

Oleh Dr Gregor Neonbasu SVD

Setitik Harapan di Balik Kehidupannya

IA telah pergi ke rumah Bapa pada 30 November 1989, dan jenasahnya pun telah dikebumikan 5 Desember tahun yang sama di pekuburan SVD di Techny, IL, Amerika Serikat. Ketika 10 April 2007 hendak diambil kerangkanya untuk kembali ke nagi Larantuka, ternyata jenazahnya masih utuh, sama seperti ketika ia dimasukkan dalam peti 17 lebih tahun silam (kata para suster seperti bukti para saksi).

Jenazah uskup sang peziarah tetap awet: tidak ada cacat, peti masih utuh, mitra pun tampaknya masih bersih berdempet dengan kepala yang dihiasi rambut tersisir rapi, juga sebuah kain Timor masih utuh membentang di kaki uskup sang peziarah.

Minggu (15/4/2007) sore lalu, penulis bersama Rektor Soverdi Oebufu, Pater Paul Nganggung SVD, mengunjungi biara PRR Naikoten. Sr. Hilaria PRR bersama beberapa rekan suster PRR berkisah tentang jalan panjang usaha mengembalikan kerangka sang uskup, bapak pendiri tarekat ke kampung asal rohani Larantuka, Flores Timur.

Upaya itu telah dirintis semenjak tahun 2005 - 2006, yakni berbagai pendekatan dengan semua pihak, baik yang ada di USA (pemerintah dan pihak gereja maupun SVD setempat), pihak SVD dan Gereja lokal dalam negeri. Semua usaha sedang bergerak ke puncak, dan jenazah Uskup Gabriel Manek - bukan kerangka - sedang bergerak dari USA menuju Indonesia.

Tanggal 12 Maret Sr. Simprosa PRR menuju Techny yang diikuti Suster Pemimpin Umum, Sr Benedictis PRR, 12 April untuk merampungkan serta menyelesaikan berbagai urusan berkenaan dengan penggalian kubur sang pendiri.

Maka tanggal 10 April 2007 kuburan itu mulai digali. Aneh bin ajaib, peti ditemukan sedang terapung di atas air di musim semi. Tindakan yang ditempuh ketika menyaksikan kondisi demikian, waktu diundur beberapa hari untuk berdoa, hingga 14 April peti diangkat, lalu dibuka.

Ternyata jenazah masih utuh, kedua pipi sang uskup masih tampak kemerah-merahan, sebuah titik hitam tampak pada hidung, pakaian pun masih utuh, mitra tampak sangat terawat berdempetan dengan kepala sang uskup dengan rambut tersisir rapi.

Sang peziarah tampak sedang tidur dan menanti waktu untuk sesegera bale nagi Larantuka. Sebuah kain Timor, yang terletak di bagian kaki masih utuh, yang semuanya mengisyaratkan: cinta sang peziarah untuk kembali ke Indonesia.

Mendengar uraian para suster PRR yang berapi-api diselingi genangan air mata bahagia yang hampir-hampir menetes ke pipi, komentar Rektor Soverdi Oebufu, semua kejadian yang sedang dan akan kita alami ini harus ditempatkan dalam bingkai iman, iman akan kebesaran dan keagungan Tuhan. Kemuliaan Tuhan menyata dalam hidup sang peziarah!

Karena itu, yang sedang dinanti-nanti bukannya kerangka melainkan seluruh jenazah Uskup Gabriel Manek, yang diterbangkan dari USA ke Indonesia. Uskup Gabriel Manek SVD telah melukis sebuah sejarah spiritualitas yang indah dan secuil pengalaman hidup rohani yang tidak tertandingi, di mana dalam segala sepak terjang ziarah hidupnya, ia sungguh telah bersaksi tentang Tuhan yang hidup.

Segala liku-liku hidupnya yang khas bagai melodi indah untuk mewartakan Tuhan yang diimaninya, yang senantiasa setia memelihara dan membimbingnya, meski di padang sahara kesepian nun menyakiti hati sekalipun. Ia memang menderita di tanah rantau, namun lebih indah dari semuanya ia mendapat kesempatan untuk menderita bersama Tuhan yang diimaninya.

Imannya yang teguh memberi gambaran yang paling paripurna akan Tuhan sebagai the invisible hand yang selalu menuntun ke padang rumput yang hijau, ke ziarah hidup yang berkenan bagi Pencipta dan Khalik yang selalu pandai menulis lurus di atas garis-garis sejarah kehidupan manusia yang bengkok.

Dari kisah hidup beliau, seperti dilukis salah seorang konfrater senior Pater Alex Beding SVD ("Mgr Gabriel Manek SVD, Uskup, Pendiri Tarekat Puteri Reinha Rosari:, 2000) juga sebuah terbitan Komsos Provinsi SVD Timor 10 tahun sebelumnya (Kenangan 75 tahun SVD Timor [1990: 46-49], karya alm. Piet Manehat SVD dan Gregor Neonbasu SVD) dan lain-lain, di situ ditemukan bahwa meski manusia lihai berkisah lurus di atas garis-garis sejarah yang bengkok, namun kebesaran dan kemuliaan Tuhan mustahil ditipu.

Benar sekali, Tuhan sangat pandai menulis lurus di atas garis-garis sejarah manusia yang bengkok, meski manusia dengan akal-budi kehendak dan perasaannya yang rapuh sangat lihai menulis bengkok di atas garis-garis lurus kehidupan manusia yang semenjak awal dicipta Tuhan.

Sacerdos Magnus

Dalam usia sangat muda (28) beliau ditahbiskan menjadi imam (1941) bersama rekannya Pater Karel Kale Bale, SVD. Lalu 10 tahun kemudian (25 April 1951) beliau ditahbiskan menjadi Uskup Larantuka. Peristiwa tahbisan Uskup Manek sebagai penghargaan terhadap karya misi Gereja di Flores/NTT, juga sebuah respek rohani terhadap orang NTT, yang sudah mampu untuk diberi fungsi pimpinan sebagai Sacerdos Manus (baca juga Alex Beding, 2000: x).

Tempo 10 tahun berikutnya, Uskup Manek diangkat menjadi Uskup Agung Ende yang ternyata tidak semulus ketika beliau menjadi gembala di ujung timur Pulau Flores. Sebuah wawancara menarik antara beliau dengan Sr M. Gabriella PRR (16 Agustus 1986) membuktikan betapa persoalan demi persoalan datang silih berganti, seakan membimbing beliau untuk mengambil keputusan ‘sesegera mungkin hijrah’ ke USA untuk urusan medis.

Tidak mudah untuk memilih jalan yang telah diambilnya demi membebaskan diri dari tekanan, penyakit dan berbagai kesulitan di peringkat manajerial dan relasi dengan para sama saudara dalam serikat (SVD). Semuanya dapat dijalani berkat iman dan pengharapan yang kokoh kepada Tuhan.

Sebuah surat berharga dari uskup emeristus, Theodorus Sulama SVD, ketika mengisi pensiun dan menjabat Pastor Atapupu (13 Oktober 1987) sangat membesarkan hati uskup peziarah di perantauan. Kata Uskup Sulama, karya besar Tuhan telah tampak dalam seluruh kehidupan Mgr Manek. Hal itu terungkap juga dalam sebuah surat Mgr. Manek kepada Awen (Petrus Manek Mesakh) tentang liku-liku kehidupan yang sedang dijalani di perantauan nun jauh di USA (3 Agustus 1985).

Tulis Mgr. Manek, kehidupan manusia dapat berliku dan sulit dipahami oleh karena keterbatasan kemampuan manusia, namun di atas segala-gala kebesaran dan kemuliaan Tuhan tidak pernah tertandingi segala tipu daya manusia dalam zaman macam manapun. Benar, uskup peziarah telah mengalami kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang dalam beberapa saat akan segera hadir di tengah kita.

Tuhan semenjak awal telah memberi lingkungan yang baik agar hambanya – Mgr. Manek SVD - dapat berkembang, tidak saja dalam mengimani Tuhan yang hidup, melainkan untuk menceritakan Kasih Tuhan yang lestari. Seluruh kehidupannya, baik masih di tengah kehidupan istana, maupun ketika menjadi Uskup Larantuka dan Uskup Agung Ende, dan terlebih 20-an tahun hidup di diaspora (USA) ia telah membuktikan karya besar Tuhan dalam dirinya yang rapuh.

Terbaca dengan sangat indah ekpresinya yang sangat khas ketika menjawab pertanyaan Sr M. Gabriella PRR tentang perbedaan Larantuka dan Ende. Misalnya ia mengatakan, di Ende saya merasa berat waktu itu. Keuskupan Agung Ende besar dan luas, dan saya tinggal di Ndona. Dalam banyak hal saya merasa sendirian, putuskan sendiri, orang tempat bertanya sering amat sulit diperoleh.

Saya ingin kunjungi umat seperti yang biasa saya buat di Larantuka. Tetapi hal itu sulit terlaksana. Tahun 1968, saya tinggalkan Flores, saya akhirnya jalan saja. Tuhan tahu hidup saya. Hidup mati kita memang di tangan Tuhan dan Tuhan yang tahu tentang hidup kita.

Sepintas dari sepenggal kata-katanya ini tersingkap keterbukaannya pada Kehendak Tuhan yang terbukti dari kehidupannya yang penuh derita di perantauan. Hal yang sungguh indah terlukis dalam dirinya, penyerahan diri tanpa tanggung-tanggung ke dalam kebesaran karya Tuhan.

Hal serupa terungkap secara berbeda dari co-pendiri Tareka PRR Sr. Ibu Anfrida SSpS, ketika diwawancarai Sr Benedictis PRR pada 22 Mei 1993 di Bexem, Nederland.

Pastor Bonus

Tak pernah dibayang bahwa antara tahun 1942 - 1946, sang peziarah menjadi satu-satunya pastor untuk seluruh kawasan Flores Timur, termasuk pulau-pulau sekitar Adonara, Solor, Lembata, Alor dan Pantar (Alex Beding 2000: 32 et. Seq.).

Kunci yang menjadi pokok perhatiannya adalah menyapa setiap umat secara personal: mengenal mereka, memperhatikan persoalan yang sedang dihadapi dan mencari upaya untuk meningkatkan kualitas iman umat. Ia menjadi pastor bonus, gembala yang baik dengan cara berjalan kaki, naik perahu seperti peledang ke Lamalera dan Lembata, lalu tunggang kuda untuk sedapat mungkin bertemu dengan sekian banyak umat. Di sini, imam muda Gabriel Manek membaktikan seluruh hidupnya di tengah umat yang telah diberi Tuhan kepadanya.

Yang sama dilakukan ketika menjadi Uskup Larantuka: dengan leluasa menyapa umat gembalaannya, mengunjungi dan melayani umat, yang kemudian berbias pada kehidupannya yang penuh duka di tanah rantau ketika berjuang untuk melayani suku Indian yang sangat kasar.

Mgr Manek sudah kembali kepada Bapa pada 30 November 1989, dan jenazahnya sudah berada di tengah kita. Ia berbicara kepada kita tentang karya pelayanan yang unggul di mata Tuhan, yakni karya terpuji kepada sesama tanpa lelah, karya terbaik tanpa menunggak untuk kepentingan kelompok dan diri sendiri, karya luhur yang semata hanya demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan manusia sesama, karya bhakti yang hanya demi kebesaran Pencipta dan luhurnya martabat manusia.

Akhirnya terungkap ketika beliau merayakan HUT di senja usia, di mana muncul seribu satu ucapan dari para sahabat dan kenalan, beberapa di antaranya:

To a wonderful man of God, May God grant you many blessing. Happy birthday!

Terima kasih kepada Tuhan yang memperkenankan kami mengenal Anda walau hanya dalam waktu yang singkat.

Kami telah menerima banyak berkat dan kami dibawa lebih dekat pada Tuhan.

Kami sungguh yakin, kami telah bertemu dengan seorang kudus yang masih hidup.


Yang lain:

To a special man of God, Archbishop Manek. Engkau telah memperkaya hidup saya; engkau sangat khusus buatku.

Dia memang seorang gembala sejati, seorang pelayan gereja yang tangguh dan kontekstual. Ia memiliki visi jauh ke depan untuk membesarkan kehidupan gereja lokal, yang salah satunya terungkap ketika pada 15 Agustus 1958 ia mendirikan Tarekat Puteri Reinha Rosari (PRR) yang dikemas dari persepsinya atas kehendak Tuhan untuk mendidik gadis-gadis pribumi untuk menjadi pelayan Tuhan di Kebun Anggurnya.

Beliau bale nagi Larantuka, dengan melewati tanah air leluhur di Lahurus-Timor, semata-mata atas usaha, kreativitas dan doa yang tiada henti dari para Suster PRR di seantero jagad.

Para suster PRR, profisiat atas iman, harapan dan kasih anda semua untuk berjalan bersama pendiri yang telah lama berziarah di tanah rantau!

Sumber: Pos Kupang 19 April 2007

23 April 2007

Pabrik Sepatu Ecco Indonesia




PT Ecco Indonesia yang berlokasi di kawasan Candi, Kabupaten Sidoarjo, memproses kulit sapi mentah sebagai bahan baku sepatu. Kalau dipukul rata, hampir 2.000 ekor sapi dikuliti setiap hari untuk menyediakan bahan baku sepatu kualitas dunia.

“Semuanya sapi Jawa karena sapi Jawa kualitas kulitnya sangat baik. Buat apa kita mencari kulit dari negara lain kalau di Indonesia sudah tersedia banyak sapi,” ujar Elly Kandouw, manajer personalia, sekaligus public relations PT Ecco Indonesia, saat menerima rombongan finalis Guk dan Yuk Sidoarjo.

Bagaimanapun juga kulit sapi yang menumpuk di pabrik itu tetaplah bangkai hewan. Karena itu, baunya... wuih... minta ampuh deh! Lebih ‘hebat’ lagi manakala proses pembersihan kulit sudah dijalankan. Saluran pembuangannya, yang bisa dilihat dengan jelas, mirip [maaf] sapi sedang mengeluarkan kotoran. Kotoran dari kulit itu langsung ditampung di tanki khusus dan dikirim ke Cieulengsi, Bandung.

Sadar akan besarnya dampak lingkungan, manajemen Ecco tidak tanggung-tanggung dalam mengelola air limbah. Instalasi pengolahan air limbah [IPAL] alias water treatment milik pabrik yang berdiri di Candi tahun 1991 ini sangat canggih.

“Habis Rp 9 miliar. Kalau ditotal semua, ya, Rp 11 miliar lebih,” kata pekerja senior yang berperan sebagai ‘pemandu wisata’ di Ecco.

Dengan pengolahan lombah berlapis, sandar Uni Eropa, manajemen Ecco Indonesia sangat yakin bahwa limbah pabriknya tidak membahayakan lingkungan hidup. Air limbah itu justru bagus untuk mengairi tanaman.

Program community development juga menonjol di PT Ecco Indonesia. Setiap tahun manajemen menyisihkan dana cukup besar untuk tiga desa di Kecamatan Candi, yakni Blegoh, Tenggulungan, dan Candi. Kebetulan lokasi pabrik Ecco berada di tiga desa tersebut. Setiap tahun, kata Elly, ratusan juta disalurkan ke sana.

Program macam ini, lanjut Elly, juga dilakukan di negara-negara lain yang ketempatan PT Ecco seperti Tiongkok dan Portugal. Manajemen sangat percaya bahwa community development program berikut menyerap tenaga kerja setempat, khususnya di lingkungan pabrik, membawa banyak manfaat bagi perusahaan. Semuanya sama-sama untung.

Sayang, harga sepatu buatan PT Ecco rata-rata Rp 1 juta ke atas. Itu pun tidak dijual di pasar Indonesia. Seratus persen diekspor ke negara-negara maju, khususnya Eropa.




20 April 2007

Mama Nafsiah Mboi




Baru-baru ini NAFSIAH MBOI PhD datang ke Surabaya. Sebagai sekretaris Komisi Nasional Penanggulangan AIDS, istri ALOYSIUS BENEDIKTUS MBOI [akrab disapa BEN MBOI] ini bicara panjang lebar tentang HIV/AIDS. Juga memperkenalkan kondom perempuan. Perempuan kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940, ini tetap memikat. Murah senyum, ramah, cerdas, penuh empati.

Aha, saya pun teringat masa kecil di Flores Timur, pada 1980-an. Waktu itu Nafsiah ‘mendampingi’ suami, Gubernur Ben Mboi memimpin provinsi termiskin di Indonesia itu. Selama 10 tahun, dua periode, 1978-1988, Ben Mboi menjabat gubernur NTT. Meski masih sangat belia, saya mengikuti kiprah Ben Mboi bersama sang istri, Mama Nafsiah [sapaan akrab Nafsiah Mboi di NTT], lewat surat kabar DIAN dan RRI Kupang.

Saya berani mengatakan, Ben Mboi yang didukung penuh Nafsiah, menjadi gubernur terbaik yang pernah dimiliki NTT sejak menjadi provinsi pada 20 Desember 1958. Banyak kebijakan strategis dibuat. Operasi nusa makmur. Operasi nusa hijau. Keluarga berencana alamiah. Mengurangi perantauan. Pemberdayaan perempuan. Dialog dengan rakyat kecil. Ben dan Nafsiah tak hanya bicara, tebar pesona, tapi bekerja sangat keras.

Saya yang tinggal di pelosok Lembata, untuk kali pertama melihat sosok gubernur NTT, ya, Ben Mboi ini. Gubernur-gubernur lain, ya, hanya kedengaran namanya saja. Jangankan gubernur, bupati sekalipun tidak pernah berkunjung ke kampung-kampung... pada 1980-an. Di NTT, pejabat itu ibarat raja-raja kecil yang kurang peduli pada rakyat. Nah, Ben Mboi plus istri ini lain.

“Kenapa harus merantau? Kenapa mau jadi budak di Malaysia, padahal bapa-bapa bisa jadi tuan di kampung halaman sendiri,” begitu pesan Gubernur Ben Mboi di hadapan ribuan warga Lembata saat berkunjung di Lewoleba, 1980-an.

Nafsiah Mboi, di pihak lain, ikut memotivasi perempuan-perempuan di kampung agar punya pendidikan, ketrampilan, wawasan. Maka, pada 1980-an itu, berbagai kursus diadakan secara masif di NTT. Tata boga, tata busana, table manner, manajemen keuangan, keluarga berencana. Nah, sumbangan Mama Nafsiah dalam bidang ini benar-benar dahsyat dan berasa di Bumi Flobamora.

Kiprah orang-orang hebat di pelosok macam Ben Mboi dan Nafsiah Mboi ternyata dicatat dan diperhatikan orang luar. Padahal, saya tahu Bapa Ben dan Mama Nafsiah tidak suka publikasi. Mau publikasi pakai apa di tahun seperti itu? Pada 1985, kalau tidak salah, Ben dan Nafsiah beroleh RAMON MAGSAYSAY AWARD, penghargaan bergengsi di Asia Tenggara. Keduanya dinilai sukses meningkatkan kualitas pembangunan di NTT.

Saya terharu. Sejak itulah untuk pertama kali NTT banyak dibicarakan di kancah nasional internasional dari sudut lain. Kalau sebelumnya hanya bencana alam, kelaparan, kemiskinan, kebodohan... yang dibahas, Ben-Nafsiah memunculkan prestasi. “Selamat ya, gubernur NTT memang hebat,” kata Muhammad Chotib [alm], kepala sekolah saya di SMAN 1 Malang, kepada saya.

Orang NTT memang sangat bangga dengan prestasi ini. Sampai-sampai ada wacana agar Ben Mboi dipilih lagi sebagai gubernur untuk periode ketiga. Namun, tentu saja tidak gol karena undang-undang membatasi jabatan gubernur hanya dua periode. Kecuali, tentu saja, Presiden Suharto yang boleh menjabat sampai kapan saja.

Sebelum wacana feminisme dan gender mencuat ramai seperti sekarang, Nafsiah Mboi sudah membuktikan diri sebagai istri gubernur yang tidak sekadar mendampingi suami. Saya teringat Hillary Clinton yang juga berperan penting saat suaminya, Bill Clinton, menjadi presiden Amerika Serikat.

Kenapa Mama Nafsiah mampu?

Ini tak lepas dari latar belakang keluarga dan pendidikan Nafsiah. Dia putri sulung HA WALINONO, tokoh masyarakat dan intelektual di Sulawes Selatan. Nafsiah punya saudara kandung Prof Dr ANDI HASAN WALINONO, direktur jenderal dan sekjen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada era 1980-an. Saudari Nafsiah yang lain, Dr ERNA WITOELAR, aktivis lingkungan yang juga mantan menteri era Presiden Abdurrahman Wahid.

Nafsiah pada 1958-1964 studi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kebetulan Ben Mboi kakak kelas Nafsiah di FK UI. Setelah berpacaran selama empat tahun, mereka menikah pada 1964. “Ben sangat pintar, aktif berorganisasi, tapi orangnya sederhana. Itu yang membuat aku tertarik,” ujar Nafsiah seperti dikutip majalah TEMPO edisi 1 April 2007.

Sempat menjadi dokter relawan Dwikora di Ende, Nafsiah memperdalam pediatrik sosial di Amsterdam, Belanda, serta pediatrik klinik di Belgia pada 1971-1972. Sang suami, sementara itu, menempuh master of public health (MPH) di Belgia. "Saya tidak bisa kalau hanya diam di rumah. Saya harus menambah ilmu,” tutur ibu tiga anak dan nenek empat cucu ini.

Ben Mboi berhenti menjabat gubernur NTT pada 1988. lalu, bagaimana dengan Nafsiah? Istirahat juga menikmati pensiun? Oh, tidak. Nafsiah Mboi justru kian mantap menekuni bidang baru sesuai dengan minat dan bakatnya.

Pada 1997-1999 Nafsiah dipercaya sebagai ketua Komite Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "Saya satu-satunya orang Asia yang pernah menjadi ketua di situ,” ujar Nafsiah, bangga.

Selepas berkarier di Komite Anak PBB, Nafsiah dipercaya lagi menjadi direktur bidang gender dan kesehatan perempuan World Health Organisation (WHO) di Jenewa, 1997-2002. Lalu, balik ke Indonesia sebagai wakil ketua Komnas Perempuan.

Nafsiah tak berhenti belajar. Kali ini dia pigi ke Harvard University, Amerika Serikat, untuk mendalami HIV/AIDS. Nafsiah melihat HIV/AIDS bakal menjadi ancaman global karena virus menyebar sangat cepat. HIV/AIDS itu macam puncak gunung es. Kelihatan sedikit di puncak, tapi sebenarnya prevalensinya sangat luar biasa.

Pada 2005-2006 Nafsiah dipercaya sebagai konsultan Family Health International alias Aksi Stop AIDS. Pada Agustus 2006 Nafsiah akhirnya menjabat Sekretaris KPA Nasional. Sejak itulah dia berkeliling Indonesia untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya HIV/AIDS.

Terkini, yang saya ingat, dia bicara panjang lebar di Hotel Shangri-La Surabaya, tentang HIV/AIDS, kemudian memperkenalkan kondom perempuan. Kondom ini lima kali lebih besar daripada kondom laki-laki. Garis tengah tujuh sentimeter, panjang 17 sentimeter.

Menurut Nafsiah, dengan kondom perempuan yang kali pertama diperkenalkan di Surabaya ini, maka perempuan biasa mengontrol nasibnya sendiri. Tidak lagi dikendalikan laki-laki yang, kata aktivis peduli HIV/AIDS, kurang suka pakai kondom saat bersebadan. Orang boleh protes, mencibir... tapi Nafsiah masih percaya bahwa kondom merupakan senjata ampuh dalam mencegah HIV/AIDS.

Orang NTT layak bangga punya Nafsiah Mboi. Di alam patriarki [ekstrem] ala NTT, sulit dipercaya muncul seorang tokoh perempuan nasional sekaliber Nafsiah Mboi. Dia tak jemu-jemu belajar, mengembangkan diri, berusaha menjadi orang yang berguna bagi bangsanya.

Di sisi lain, Nafsiah mampu memosisiskan diri sebagai seorang istri, mama bagi anak-anak, nenek bagi cucu-cucu, dan sahabat bagi siapa saja.

Profisiat, Mama Nafsiah!

19 April 2007

Nasrullah Mudik ke Swiss


Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Teman saya Nasrullah, pelukis asal Desa Ketapang, Tanggulangin, Sidoarjo, baru saja pamit ke Swiss.

"Bung Hurek, saya mudik ke Swiss dulu. Mungkin enam bulan di sana, persiapkan pameran di Geneva. Istri saya sudah menunggu. Sampai jumpa lagi di Sidoarjo," ujar Nasrullah via telepon.

Dan orang kampung Ketapang, yang sebagian wilayahnya terkena lumpur panas lapindo, ini cepat-cepat meluncur ke Bandara Juanda. Garuda sudah menunggu. Transit di Singapura, Frankfurt... lalu Zurich.

Belasan jam kemudian dia sampai di Swiss. "Saya sudah kangen sama Christine, istri saya. Dia yang akan jemput saya. Gak dijemput ya gak masalah, wong aku wis hapal jalane," kata Nasrullah lalu tertawa kecil.

Christine Rod guru matematika sekolah lanjutan [sejenis SMP] di Swiss. Mereka berkenalan saat Christine berlibur ke Candi Jolotundo di pegunungan Kabupaten Mojokerto. Nasrullah dan teman-temannya dari Sidoarjo mendampingi, dan mulailah benih cinta bersemi. Mereka berkomunikasi lewat pesan pendek [SMS], lalu menikah setahun kemudian.

"Kami nikah secara Islam di Sidoarjo, dilanjutkan dengan catatan sipil di Geneva. Saya tidak pernah menduga bakal mengalami kehidupan seperti ini," ujar Nasrullah yang spesialis menggambar alam dan suasana pedesaan.

Baik Nasrullah maupun Christine banyak bercerita kepada saya tentang kehidupan di negara makmur itu. Christine punya vila yang indah di pegunungan. Nah, Nasrullah alias N Roel diminta menjaga vila, melukis apa saja, di situ. Nasrullah tidak diperbolehkan bekerja.

"Dia bilang, saya itu seniman, ya, kerjanya saya, ya, melukis. Jangan kerja yang lain, toh gaji saya sudah cukup untuk hidup kita," tutur Nasrullah.

Wah, saya rasa Nasrullah sangat beruntung. Semua biaya hidup, biaya tiket pergi-pulang, biaya nikah... apa saja ditanggung Christine. Bagi kita, orang Indonesia, yang hidup di alam patriarkhi, kedengaran janggal istri malah 'menafkahi' suami. Tapi Christine sendiri merasa biasa-biasa, tak ada yang aneh.

"Jadi, saya sejak menikah dengan Christine terus belajar adaptasi," aku Nasrullah.

Proses kreatif Nasrullah selama di Swiss pun difasilitasi sang istri. Melobi Kedutaan Indonesia. Bikin jaringan. Cari ruang pameran. Cari perkakas melukis. Menurut Nasrullah, hal ini membuat dia harus benar-benar bekerja ekstrakeras. Harus menghasilkan lukisan-lukisan berkelas.

"Alhamdulillah, teman-teman asal Indonesia di Swiss banyak membantu. Ada perasaan yang sama kalau kami ini sama-sama perantau," ujar mantan santri di Sidoarjo itu.

Kini, Nasrullah sudah berbahagia bersama sang istri, Christine Rod, di Swiss. Saya pun merenung. Globalisasi telah membuat dunia tak berbatas. Nasrullah dan Christine sama-sama merasa sebagai 'warga' dua negara: Indonesia dan Swiss. Batas negara, ras, warna kulit, paham politik, budaya, tradisi, agama... mencair berkat globalisasi.

"Bung Hurek, saya lagi main-main sama ponakan di Geneva. Anaknya pinter banget dan lucu," begitu pesan pendek Nasrullah.

Wah, saya merasa seakan-akan Swiss itu dekat Stasiun Tanggulangin.

Reshuffle Iku Opo, Cak?


Saya biasa cangkrukan di warung kopi di pinggir Jalan Raya Bandara Juanda, kawasan Sedati, Sidoarjo. Di tengah malam yang dingin saya keluarkan beberapa koran. Jawa Pos, Radar Surabaya, Kompas, Surya [kadang-kadang]. Peserta cangkrukan pun berebut baca.

Saya suka karena ini berarti minat baca koran teman-teman masih tinggi. Mereka paling suka berita sepak bola [Jawa Pos], kejahatan, kemudian politik. Baca sebentar, lalu dibahas ramai-ramai. Suasana cangkrukan pun jadi mirip diskusi politik atau sepak bola.

"Mas, RESHUFFLE iku opo to? Panganan opo sih?" tanya Arif, pemuda asal Semambung, Sedati. Yang lain tertawa karena si Arif ini memang polos. SMP pun tidak tamat karena dia harus kerja cari uang.

"Yah, RESHUFFLE iku ya panganan kayak pudak. Koen ngerti gak pudak? Iku sing jenenge RESHUFFLE. Dipangan karo ngopi-ngopi... wuenaaak tenan," timpal Jamil, aktivis partai politik. Hehehehe.... ada-ada saja!

Begitulah.

Dalam dua bulan terakhir koran-koran memberitakan RESHUFFLE kabinet. Berita di televisi pun sama saja. RESHUFFLE, RESHUFFLE, RESHUFFLE, RESHUFFLE.... Tapi menterinya tidak diganti-ganti sehingga pembaca bosan. "Opo gak ono berita liyane, Cak," komentar teman-teman di warung kopi.

Saya merasa terpojok. Sebagai orang media, kami ikut bertanggung jawab atas mewabahnya istilah RESHUFFLE di masyarakat. Begitu pula istilah DEADLINE. CASH AND CARRY. RESETTLEMENT. RELIEF WELL. BREAKING NEWS. PUBLIC CORNER. SAVE OUR NATION. Dan banyak lagi istilah bahasa Inggris yang sudah ada padanan, atau bisa diterjemahkan, dalam bahasa Indonesia.

Kepala Pusat Bahasa Dr Dendy Sugono, seperti dikutip Jawa Pos [19 April 2007], menyebut media massa justru menjadi contoh buruk penggunaan bahasa. Media kerap menggunakan istilah asing yang sudah ada padanan dalam bahasa kita. "Selain membingungkan orang yang tidak mengerti, juga tidak menghargai bahasa pemersatu bangsa," kata Dendy Sugono.

Saya setuju. Media massa dan masyarakat Indonesia di kota-kota [umumnya] makin kehilangan kontrol dalam berbahasa. Apa saja yang asing, Inggris, dipakai. Ditelan bulat-bulat. RESHUFFLE, misalnya, artinya 'mengganti menteri', 'merombak kabinet'.

Akan lebih sederhana bila berita di koran berbunyi: "Presiden Susilo berencana mengganti beberapa menteri yang kinerjanya buruk."

Tapi, apa lacur, koran-koran menulis: "Presiden Susilo berencana melakukan RESHUFFLE kabinet. Tapi PPP menolak rencana RESHUFFLE karena momentumnya sudah lewat."

Virus bahasa Inggris yang lebih parah terlihat di televisi. Contoh di INDONESIAN IDOL. Saya kadang-kadang menyaksikan siaran pemilihan berhala-berhala pop ala Amerika ini. Tentulah semua peserta Indonesian Idol 100 persen orang Indonesia. Tapi, setiap kali usai menyanyi, para peserta berkata, "THANK YOU. THANK'S."

Saya tidak pernah mendengar ucapan: TERIMA KASIH, MATUR NUWUN, SUWUN... atau ungkapan-ungkapan khas Nusantara. Indra Lesmana, komentator Indonesian Idol, pun selalu mencampur-campur bahasa Inggris saat menilai peserta. Yah, inikah globalisasi itu? Ketika kita melebur menjadi warga masyarakat global dan kehilangan jatidiri?

Dendy Sugono, kepala Pusat Bahasa, dalam buku 'Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing' [2003] menulis, "Globalisasi dan pasar bebas tidak memasuki kawasan Indonesia saja.... Namun, masyarakat yang bahasanya bukan bahasa Inggris seperti Jerman, Prancis, Italia, Jepang, dan Cina [seharusnya Tiongkok] tidak mengalami proses penginggrisan yang memprihatinkan."

Lha, kenapa orang Indonesia masa kini kok bahasanya gado-gado, campur-campur, amburadul, seperti sekarang?

Saya pun teringat pepatah lama yang tertulis di sampul buku pelajaran bahasa Indonesia untuk SMA pada 1980-an:

"Bahasa menunjukkan bangsa."

Tarmudji Dokumentator Ulung


Tarmudji, paling kanan, saat mendampingi anaknya, Indri Sedhana, yang menerima penghargaan dari Kraton Solo, 2005. Foto: Dokumentasi pribadi.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

"Mas Hurek, apa sampeyan punya koran RADAR SURABAYA edisi pertama? Dan koran SUARA INDONESIA edisi terakhir?" ujar Tarmudji Sofyan kepada saya di kediamannya, Perumahan Gading Fajar B-VI/10 Buduran, Sidoarjo, pekan lalu.

Saya, wartawan RADAR Surabaya, hanya bisa bengong karena memang tidak pernah menyimpan koran edisi bersejarah itu. Koran-koran bekas saya malah dikilokan atau diberikan kepada pemilik warung atau tukang loak.

Bagi Tarmudji Sofyan, perubahan nama SUARA INDONESIA menjadi RADAR SURABAYA merupakan peristiwa penting yang layak didokumentasikan. Karena itu, ia menyimpan SUARA INDONESIA edisi 23 Februari 2001 dan RADAR SURABAYA edisi 24 Februari 2001. Dua koran edisi khusus ini disimpan dengan baik di almarinya.

“Suatu ketika koran ini akan sangat bernilai dan [mungkin] dicari banyak orang.”

Pria kelahiran Surabaya, 22 Maret 1944 ini, juga tekun mengkliping artikel SOERABAIA TEMPO DOELOE alias STD, karya DUKUT IMAM WIDODO yang dimuat RADAR SURABAYA sejak edisi pertama. Praktis, tak ada satu pun naskah STD yang luput dari dokumentasi Tarmudji. Ironis juga karena saya ikut mengedit beberapa naskah STD. Hehehe...

Tarmudji Sofyan juga memfotokopi, kemudian menyimpan naskah-naskah STD yang segar, informatif, penuh dengan nuansa nostalgia para tuan dan nyonya Belanda di Surabaya tempo doeloe itu. Sebelum Dukut Imam Widodo membukukan STD, dan menjual dengan harga Rp 500 ribu, Tarmudji tak perlu merogoh uang sebanyak itu. "Saya cukup baca kliping. Isinya kan sama. Hehehe…"

Jauh sebelum itu, Tarmudji getol mengoleksi naskah-naskah Surabaya era kolonial, gedung-gedung tua, dari koran-koran lokal. Artikel-artikel macam itu memang sudah banyak ditulis wartawan di Surabaya pada 1980-an, khususnya JOKO INTARTO (bekas wartawan JAWA POS). Hanya saja, harus diakui, Dukut Imam Widodo menulis lebih banyak, lebih detail, dengan gaya suroboyoan.

Kita tentu masih ingat parikan khas Dukut di STD tentang kompleks pelacuran di Pelabuhan Tanjung Perak tempo doeloe:

"Tanjung Perak kapale kobong
Monggo pinara kamare kosong!"

*******

Sejak remaja, di Surabaya, Tarmudji Sofyan mengaku sudah biasa mendokumentasi hal-hal yang ia anggap penting. Dari sekadar hobi, pengisi waktu luang, Tarmudji kian lama kian keranjingan. Dunia seolah ‘kiamat’ jika Tarmudji tidak melakukan aksi koleksi dan dokumentasi.

"Kalau sudah hobi, mau bagaimana lagi?"

Ketika berdinas sebagai bankir di Bank Negara Indonesia 1946 (sekarang Bank BNI), hobi ini tak juga surut meskipun Tarmudji Sofyan sangat sibuk menghitung segunung uang (milik orang lain!), sibuk mengaudit di mana-mana. Tarmudji Sofyan dulu dikenal sebagai auditor ulung, yang harus berdinas di berbagai kawasan di Indonesia.

"Selama 35 tahun di BNI saya sudah keliling kota-kota di Indonesia," tuturnya.

Saat bepergian ke daerah-daerah itu, muncul ide antiknya. Apa itu? Tarmudji MENGOLEKSI TANAH. Di mana pun berada, Tarmudji mengambil segenggam tanah dan disimpan di dalam kantung plastik. Lalu, diberi label Aceh, Kupang, Flores, Mataram, Medan, Makassar, dan seterusnya.

Begitulah. Kalau orang lain pulang membawa oleh-oleh makanan khas daerah yang bersangkutan, Tarmudji membawa oleh-oleh TANAH. Koleganya di BNI tertawa melihat kebiasaan Tarmudji, tapi dia cuek saja. Dari sinilah Tarmudji bisa mengidentifikasi jenis-jenis tanah di Indonesia.

Belum lama ini, rombongan pelukis dan aktivis lingkungan hidup asal Sidoarjo bertandang ke situs Jolotundo, Mojokerto. Pukul 20:00 WIB, suasana gelap gulita. Suara air dari kolam pemandian itu terasa angker.

"Anda berani uji nyali di sini," ujar Tarmudji Sofyan kepada saya. Wah, awak tidak berani lah.

Tarmudji pun tertawa kecil. "Kalau mau uji nyali, ya, di sini. Jangan uji nyali kayak di televisi, nggak ada apa-apanya."

Dengan telaten Tarmudji Sofyan meminta anggota rombongan untuk menikmati segarnya air Jolotundo. Air ini keluar langsung dari perut bumi sehingga sangat jernih dan sehat. "Pasti segar kalau sudah berendam di Jolotundo. Jangan lupa minum airnya," pesan Tarmudji.

Candi Jolotundo tak lain kolam pemandian raja-raja sebelum Kerajaan Majapahit. Menurut Tarmudji, Jolotundo hanyalah salah satu dari sekian ratus situs kuno yang terdapat di kawasan Gunung Penanggungan. "Kalau kita naik masih banyak lagi. Situs-situs di sini banyak sekali, tapi belum diidentifikasi semuanya."

Pria yang senang mengenakan topi ala Tino Sidin (almarhum, guru melukis anak-anak) itu menyebutkan, situs di Jawa Timur yang sudah tercatat di buku-buku sejarah baru sekitar 30. Ini yang membuat Tarmudji geregetan. Bagi Tarmudji, situs-situs tempo doeloe itu harus ditapaki, diperbaiki, menjadi warisan sejarah dan budaya bagi bangsa Indonesia.

Di masa pensiun ini, Tarmudji berobsesi mendatangi situs-situs yang belum diidentifikasi. Masih kuat jalan kaki? Untuk urusan yang satu ini, Tarmudji Sofyan siap menantang anak-anak muda kelahiran 1970-an, 1980-an, atau 1990-an. Bagaimana tidak.

Selama ini Tarmudji dan beberapa budayawan (sepuh) Sidoarjo aktif melakukan acara jalan kaki dari Pandaan hingga kompleks Candi Jolotundo. Bukan main!

"Kayaknya Pak Tarmudji itu dapat kekuatan dari Erlangga atau raja-raja Majapahit. Anda dijamin kalah telak kalau berlomba jalan kaki dengan Pak Tarmudji," ujar Bambang, warga Sidoarjo, kepada saya.

Untuk urusan situs-situs purbakala (nama resminya benda cagar budaya), Tarmudji Sofyan dikenal sangat telaten. Ia tidak percaya begitu saja informasi dari buku-buku, termasuk terbitan Dinas Purbakala. Proses cek, recek, senantiasa dilakukan Tarmudji. Jangan heran, ia sering membawa meteran ke lokasi situs-situs tua.

Ia mengukur panjang, lebar, tinggi, serta membuat sketsa situs tersebut. Bakatnya sebagai pelukis sketsa ulung (tahun 1980-an Tarmudji menjadi kartunis tetap di koran SURABAYA POST) sangat membantu merekam situs-situs purbakala ini.

Setelah disketsa, Tarmudji menggali informasi seputar tahun pembuatan, fungsi, da beberapa detail penting lainnya. Yang pasti, hasil eksplorasi situs purbakala versi Tarmudji Sofyan jauh lebih lengkap ketimbang informasi di buku-buku sejarah.

Kisah-kisah sejarah, latar belakang, kejadian-kejadian penting di situs, legenda, tak luput digali Tarmudji. Saya menyaksikan naskah-naskah karya Tarmudji Sofyan masih dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip). Setiap saat ia melengkapi tulisannya dengan data baru jika sudah menemukan situs tertentu.

"Ini belum apa-apa, masih kurang," ujar Tarmudji memperlihatkan manuskrip karyanya yang begitu tebal.

Yang jelas, kecintaan pada hal-hal kuno membuat Tarmudji semakin cinta pada situs-situs tadi. Secara teratur ia mengajak anaknya, tetangga, relasi, menikmati eksotisme luar biasa di balik situs-situs tadi.

"Jolotundo ini akan lebih indah kalau bulan purnama," ujar Tarmudji kepada saya di kompleks Candi Jolotundo.

*******

Saat bekerja sebagai auditor BNI, Tarmudji Sofyan selalu memanfaatkan jam istirahat untuk menemui rekan-rekannya, sesama penggiat seni rupa, di Balai Pemuda Surabaya.

"Kebetulan jarak BNI dengan Balai Pemuda sangat dekat. Jalan kaki beberapa menit saja sudah sampai," kenangnya.

Di komunitas Aksera (Akademi Seniman Surabaya) itulah Tarmudji berproses bersama para pelukis-pelukis kawasan Surabaya waktu itu. Diskusi. Sekadar cangkrukan. Minum kopi. Ngobrol ngalor-ngidul. Membuat sketsa. Ini yang membuat Tarmudji tetap memelihara darah senimannya di tengah-tengah kesibukan sebagai di BNI. Jiwa seniman yang spontan, polos, tak suka formalitas, dalam banyak hal dibawa Tarmudji ke lingkungan kantor.

Karena itu, ayah dua anak ini kerap membuat sketsa tentang perilaku orang-orang BNI yang harus dikritik. Misalnya, pegawai yang suka uang sogok agar urusan mulus. Tarmudji membuat karikatur seorang pria tengah membuka mulut lebar-lebar, dan dicekoki (pakai sendok makan) $ (dolar USA). Karikatur ini bikin geger BNI 1946 pada 1980-an.

"Sebab, teman-teman biasanya memfotokopi dan dibagi-bagikan ke semua pegawai," cerita Tarmudji Sofyan lalu tertawa kecil.

Tarmudji sendiri mengaku tenang-tenang saja. "Teman-teman yang merasa nggak pernah dicekoki, ya, nggak usah marah. Wong cuma sentilan ringan kok."

Hari lain Tarmudji Sofyan bikin karikatur gajah hendak menginjak pelanduk kecil. Rupanya, Tarmudji menyentil pejabat (atasan) yang pada masa Orde Baru cenderung sok kuasa, mentang-mentang. Bagi Tarmudji, pegawai-pegawai rendahan (tak hanya orang bank) sebetulnya cukup cerdik untuk menghadapi berbagai situasi.

"Kita yang pegawai itu orang kecil, tapi pelanduk. Silakan saja diancam si gajah, tapi kita kan punya akal. Harus cerdik. Mana ada pelanduk yang mau kalah sama gajah?"

Gara-gara sering membuat karikatur sindiran—-dan dimuat di majalah BNI--Tarmudji sempat dipanggil 'atasan'. Secara pribadi Tarmudji diminta mengatakan secara jujur maksud di balik berbagai karikatur, sketsa, atau lukisan yang sangat kritis itu.

Lagi-lagi, Tarmudji menggunakan jurus pelanduk untuk berkelit. "Kalau nggak merasa melakukan itu, ya, nggak usah
tersinggung atau marah."

Tarmudji meyakinkan sang bos bahwa ia tak punya niat buruk, selain demi perbaikan kinerja bersama. Sang bos, alias gajah, pun akhirnya takluk.

Tak hanya seni rupa, Tarmudji dikenal sebagai dedengkot seni musik di Surabaya dan sekitarnya pada tahun 1980-an. Masih sebagai pegawai BNI, Tarmudji mengelola band-band di Surabaya. Ada band instansi, tapi lebih banyak band-band lepas. Anak-anak muda itu, kata Tarmudji, rata-rata sudah sarjana, tapi masih menganggur. Melamar kerja ke mana-mana, belum juga diterima.

"Kenapa bakat musik mereka tidak dikembangkan? Musik kan bisa jadi lahan cari nafkah," begitu pemikiran Tarmudji Sofyan.

Akhirnya, Tarmudji berperan sebagai manajer band-band yang malang-melintang di tempat-tempat hiburan Surabaya. Saking banyaknya 'tanggapan', Tarmudji terpaksa harus mengajak band-band lain untuk mengisi order band-nya.

"Itu semua sudah masa lalu. Uang saya sampai habis untuk membiayai band-band itu. Makanya, setelah 35 tahun jadi bankir saya nggak punya apa-apa. Kemampuan saya serba tanggung," ujar Tarmudji, merendah.

Yang jelas, setelah pensiun, Tarmudji Sofyan kian rajin mengunjungi situs-situs kuno, mendokumentasikan naskah-naskah lama, serta apa saja yang bernilai sejarah.

Itulah yang membuat dia tetap tersenyum, bahagia, dan optimis tanpa mengidap penyakit post power syndrome.

17 April 2007

Pamekasan Berangus Hiburan




Pamekasan sejak dulu dikenal sebagai barometer musik di Pulau Madura. Konser rock, dangdut, pop, kerap digelar di sana. Saya pernah meliput festival band remaja yang menampilkan grup-grup terkemuka di Jawa Timur. Salah satunya, UNGU [Kediri], juara pertama Djarum Super Rock Festival tingkat nasional versi Log Zhelebour.

Informasi terkini, Pamekasan punya 30 band/orkes dangdut, 25 sanggar tari, tujuh sanggar lukis, tujuh grup ludruk, delapan sanggar mode, dan satu grup wayang kulit. Lumayan, kesenian cukup subur di Pamekasan.

Kini, medio 2007, Gerakan Pengembangan Syariat Islam [Gerbang Salam] menggeliat di Kabupaten Pamekasan. Kiai-kiai berpendapat bahwa industri hiburan telah mempengaruhi akhlak dan moral anak-anak muda. Orang muda lebih memilih lihat band, orkes, hiburan, daripada mengaji.

Lantas, dibuatkan terapi berasaskan Gerbang Salam. Majelis Ulama Pamekasan mengeluarkan fatwa nomor 1/Fatwa/MUI/PMK/II/2006 yang mengatur tata cara pentas hiburan di Kabupaten Pamekasan. Berdasar fatwa ini, sedang digodok Peraturan Bupati.

Andai saja peraturan ini berlaku, kata banyak pengamat, habislah riwayat industri hiburan di Pamekasan. Sebab, regulasinya sangat ketat, nyaris tidak memberi ruang untuk hiburan populer.

Berikut beberapa butir [rancangan] Peraturan Bupati Pamekasan:

1. Penonton laki-laki dan perempuan harus dipisahkan.
2. Jam pentas dibatasi hingga pukul 22.00 WIB.
3. Hiburan bersifat edukatif.
4. Alat musik harus tenang, tidak hingar-bingar. Tidak bersifat hura-hura.
5. Lirik [syair] lagu tidak bersifat fitnah, sopan.
6. Gerak tubuh atau tarian tidak membangkitkan nafsu birahi penonton.
7. Penyanyi/penari harus berpakaian sopan dengan menutup aurat.
8. Penyanyi/penari wanita tidak lebih dari 12 tahun. Kalau penyanyi/penari usianya 13 tahun ke atas, maka penontonnya perempuan semua. Intinya, artis perempuan tidak boleh tampil di depan penonton pria.

Jika sebuah ajang hiburan melanggar sebagian atau seluruh kriteria ini, maka aparat Polisi Pamong Praja berhak menghentikannya. Bahkan, sekarang pun Satpol PP sudah menghentikan pergelaran dangdut yang ditaja sebuah perusahaan rokok gara-gara busana wanita penyanyi dianggap tidak sopan.

Membaca konsep Peraturan Bupati Pamekasan ini, saya langsung geleng-geleng kepala. Apa mungkin diterapkan di zaman ini, ketika industri hiburan berkembang sangat pesat? Ketika televisi dan teknologi informasi menembus batas-batas apa pun? Ketika perangkat TI, telepon seluler, video, VCD, DVD, home theatre, dan alat-alat canggih lain sudah menjadi barang konsumsi masyarakat sehari-hari?

Okelah, pergelaran orkes dangdut, band, dan aneka hiburan 'dipersulit' [gampangnya, dilarang], bagaimana dengan televisi yang siaran 24 jam? Melarang masyarakat Pamekasan menonton Inul Daratista, Trio Macan, KDI... artis-artis di televisi? Atau, barangkali melarang sekalian internet yang menciptakan dunia tanpa batas?

"Penampilan artis di televisi kan nggak kalah norak. Bahkan, banyak yang tidak sesuai dengan agama dan kepribadian bangsa," ujar Syaifuddin Miftah, ketua Dewan Kesenian Pamekasan, seperti dikutip Surya [16/4/2007].

Miftah berpendapat, pengaturan itu seharusnya menekankan pada sterilisasi minuman keras dan senjata tajam. "Kami tidak setuju dengan pemasungan kreativitas, baik langsung maupun tidak langsung," ujar Syaifuddin Miftah.

APS Lain dengan IPDN



Kasus penganiayaan Cliff Muntu, mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri [IPDN] di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, mencuatkan wacana reformasi perguruan tinggi kedinasan. Berbagai departemen memang bikin kampus sendiri ala IPDN. Jumlahnya 20 lebih, tersebar di tanah air.

Nah, di Sidoarjo ada perguruan tinggi kedinasan bernama Akademi Perikanan Sidoarjo [APS]. Lokasinya di Desa Buncitan, Kecamatan Sedati. Tak jauh dari Bandara Juanda, yang sama-sama di Kecamatan Sedati. Kampus APS boleh dikata cukup terpencil. Di luar kota, berada di kawasan tambak. Tak jauh dari situ ada kampung nelayan Tambakcemandi.

Karena pernah bertugas di Sidoarjo, 2003-2006, saya tentu sering ke kawasan tambak. Kadang-kadang mampir ke kampus APS di pinggir jalan raya Buncitan. Rektor dan beberapa dosen APS pun kenal saya, bahkan sempat marah gara-gara tulisan saya yang sempat bikin heboh di Sidoarjo. Tulisan ini mengutip pendapat dosen APS tentang prospek tambak udang di Sidoarjo.

Setelah 'dimarahi', saya justru makin akrab dengan orang-orang APS. Saya disambut baik ketika datang ke APS untuk wawancara. Disediakan makanan kecil, kopi, atau teh. Tidak ada kesan 'sangar' seperti di IPDN [bekas STPDN].

APS, meski berlokasi di Sidoarjo, dikelola langsung Departemen Kelautan dan Perikanan. Mahasiswanya disebut TARUNA. Rambut cepak, tinggal di asrama, menjalani latihan fisik ketat. Badan mereka bagus-bagus dengan seragam layaknya IPDN. Mereka juga disiplin dan tegas.

Tapi, saat bertemu tamu macam saya, mereka menyapa saya dengan ramah. "Bisa saya bantu, Pak? Mau ketemu siapa?" kata salah satu mahasiswa APS.

Seperti sekolah-sekolah kedinasan lain, semua taruna alias mahasiswa APS tinggal di asrama. Dosen-dosen pun tinggal di kawasan itu. Suasana tambak dan alam pedesaan yang tenang tampaknya kondusif untuk belajar.

"Mahasiswa APS berasal dari seluruh Indonesia. Hampir semua provinsi punya wakil di sini. Bhinneka tunggal ika. Kami juga sudah bekerja sama dengan beberapa pemda di Jawa Timur," ujar Direktur [Rektor] APS Ir Dedy Haryadi Sutisna MS kepada saya. Sekarang Dedy sudah ditarik ke Jakarta.

"Kampus kami memang di Sidoarjo, tapi wawasan kami nasional. Lulusan APS langsung ditempatkan di berbagai wilayah Indonesia," jelas Dedy Haryadi Sutisna.

Belum lama ini, APS menerima mahasiswa yang dikirim oleh Pemkab Sumenep, Madura. Mereka mula-mula diseleksi oleh pemerintah setempat, kemudian diseleksi lagi oleh tim khusus APS. Yang lolos masuk kampus APS bersama mahasiswa-mahasiswa lain. Sesuai dengan memorandum kesepahaman APS dan pemda, para mahasiswa khusus ini didesain untuk membangun dunia perikanan di daerahnya. APS spesialis perikanan air payau.

"Para taruna APS dicetak untuk kembali ke desa. Lulus dari APS, mereka tidak bisa ongkang-ongkang di kota, tetapi bekerja untuk mengembangkan perikanan di kampung halamannya masing-masing," ujar Dedy Haryadi Sutisna.

Beberapa kali saya melintas di depan APS, kebetulan ingin memancing dan mencari ikan segar di Tambakcemandi. Saya melihat para mahasiswa berlatih drumband. Suasananya riang, rileks, layaknya kampus-kampus umum. Tidak ada dosen yang mengawasi, hanya beberapa senior.

Dan, yang penting, tidak ada kekerasan fisik maupun verbal. Bentak-bentak, kata-kata kasar, tendangan, pukulan... tidak ada. Kalau ada kasus kekerasan di APS yang berakibat fatal, macam di IPDN, tentulah saya sudah tahu sejak dulu. Apalagi, saya punya beberapa teman akrab yang tinggal di kawasan Buncitan, yang setiap saat bisa 'membocorkan' informasi itu kepada media massa.

Salam untuk mahasiswa dan dosen APS!

16 April 2007

Gesang Bengawan Solo


Oleh: HELEN SONYA SINOMBOR/AGUSTINA LILIASARI
Sumber: Kompas, 16 April 2007

Tanggal 1 Oktober nanti, penggubah lagu "Bengawan Solo" ini genap 90 tahun. Di usianya yang senja, ia memang sering sakit-sakitan, jarang bepergian, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama dua adiknya yang juga sudah berusia senja.

"Mohon doa restu. Tolong doakan saya, biar cepat sehat." Berulangkali kalimat itu terucap dari mulut Gesang Martohartono (89) pencipta lagu Bengawan Solo ketika kami temui, Sabtu (14/4) petang. Saat ditemui di rumah yang beralamat di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo, Gesang dalam kondisi belum pulih benar.
Selama hampir sepekan (7-13 April 2007), Gesang dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo karena gejala penyakit tifus. Selain gangguan usus, jantung Gesang sempat melemah karena kondisinya yang drop. Menurut keluarga, sebelum dibawa ke RS Gesang sempat tiga hari berturut-turut tidak bisa makan.

Setelah dirawat, Jumat pekan lalu, Gesang diperbolehkan dokter pulang rumah di Kampung Kemlayan. Rumah yang selama enam tahun terakhir ini ditinggali Gesang merupakan rumah keluarga, peninggalan orangtua Gesang.

Di tempat ini Gesang tinggal bersama dua adik kandungnya yakni Ny Kayati (75) dan Thoyib (73). Suami Kayati telah meninggal. Sedangkan Thoyib seperti Gesang selama ini hidup sendiri. Di rumah warisan orangtua mereka lah kini tiga kakak beradik tinggal bersama anak dan cucu Kayati.

Meski telah diperbolehkan pulang ke rumah, namun mungkin karena usianya yang sudah senja, Gesang yang dilahirkan 1 Oktober 1917 mendatang genap berusia 90 hanya bisa beristirahat di tempat tidur. Untuk duduk pun ia belum kuat. Bahkan meski telah keluar dari RS, namun Gesang masih menggunakan kateter untuk pembuangan urinenya.

Saat ditemui, Gesang tampak senang. Ketika ditanya tentang keadaannya, Gesang hanya bilang mohon doa restu, biar cepat sehat. "Hari Rabu saya disuruh kontrol," katanya.
Yang lebih mengharukan lagi, walau suaranya tidak begitu jelas dan agak bergetar, Gesang sempat menjawab beberapa pertanyaan. Dengan suara terbata-bata, Gesang berusaha mengungkapkan kebanggaannya terhadap lagu Bengawan Solo yang melegendaris.

"Saya bangga. Lagu Bengawan Solo jadi lagu Indonesia," paparnya.

Ia kemudian menyatakan karena lagu Bengawan Solo, ia bisa ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Cina dan Jepang. "Tetapi sekarang enggak bisa pergi jauh-jauh," katanya.

Ketika ditanya apakah ia masih ingin mencipta lagu, Gesang menjawab, "Kalau istilah seniman, ya tentu masih ingin melangkah lagi dan membuat lagu. Tetapi apa daya, badan saya sudah kurus kering, kempeng. Ingatan tak kuat lagi," ujar Gesang.

Kendati Gesang mengaku ingatannya tak kuat lagi, namun dari percakapan dengan Gesang sekitar 10 menit, sebenarnya ingatan Gesang masih bagus. Buktinya ia masih ingat bagaimana pada masa penjajahan Jepang, lagu-lagu keroncong sangat digandrungi masyarakat.

"Dulu keroncong pernah hebat. Pada waktu itu di mana-mana ada radio siaran lagu keroncong. Di jaman Jepang, cuma lagu keroncong atau lagu daerah yang boleh. Tapi setelah merdeka, kita sudah bebas dengan lagu," ujarnya.

Sebelum tinggal kembali di rumah tempat kelahirannya, Gesang pernah tinggal di Perumnas-Palur, Karanganyar. Rumah yang merupakan satu-satunya aset yang dimiliki Gesang adalah pemberian Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam itu, saat di berusia 62 tahun.

Karena usia Gesang yang makin tua dan kondisi kesehatannya sering terganggu, sejak tahun 2001 Gesang memang diminta pindah tinggal bersama kedua adiknya di Kemlayan. Rumahnya di Palur dijaga Hasanudin Santoso, anak dari Kayati. "Tahun 2000-an Pak Dhe kena penyakit batu ginjal," papar Hasanudin Santoso.

Ruang tamu di rumahnya di Kemlayan penuh dengan piagam penghargaan dari pemerintah dan lembaga-lembaga swasta serta foto-foto Gesang bersama pejabat dan teman-temannya. Bahkan ada foto Gesang dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Ada pula foto Gesang dengan pencipta lagu Koesbini.

Kecuali jalan pagi di sekitar rumahnya, selama enam tahun terakhir tidak banyak aktivitas Gesang. Sesekali ia menghadiri undangan, namun hanya sebatas di Kota Solo saja. Acara yang cukup besar yang dihadiri Gesang antara lain "Temu Kangen dengan Gesang" di awal bulan September 2006 di nDalem Wuryaningratan Solo.

Acara ini menyambut delegasi pengagum Gesang dari Jepang digelar Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Solo, Yayasan Karya Cipta Indonesia dan Perhimpunan Indonesia-Jepang.
Pada awal September 2006 Gesang sempat hadir dalam malam pembukaan Festival Keraton Nusantara di Pura Mangkoenegaraan. "Setelah itu, Pak Dhe nggak bisa kemana-mana," ujar Yani Efendi (40) keponakan Gesang yang selama ini mendampingi Gesang kalau menghadiri acara.

Di usianya yang senja ini, Gesang yang tidak pernah absen mengikuti acara keroncong di salah satu televisi swasta di Solo, hanya bisa berharap musik keroncong yang sangat dibanggakannya akan terus mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, terutama generasi muda saat ini.

"Keroncong jangan sampai mati sama sekali," ujar Gesang terbata. Semoga.

15 April 2007

Pantai Wisata Dalegan Gresik


Sabtu, 14 April 1007.

Saya pesiar ke Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik. Meskipun jaraknya hanya sekitar 50 kilometer dari Surabaya, saya sebelumnya tak pernah ke sana. Apalagi, pantai di Kecamatan Panceng, dekat Tanjungkodok dan Ujungpangkah, ini kurang terkenal. Alih-alih orang luar, warga Kabupaten Gresik sendiri pun tak banyak yang tahu.


"Di mana ya? Aku kok gak pernah dengar Dalegan," ujar seorang pria 60-an tahun di depan kantor Pariwisata Gresik. Saya mampir ke kantor itu untuk cari informasi. Ternyata, Dalegan tidak tercantum di peta wisata Gresik. Yang ada cuma objek wisata ziarah macam Makam Sunan Giri hingga Pulau Bawean. "Maaf, saya tidak tahu," ujar seorang tukang becak.

Saya pun mengontak Adi Sucipto, teman saya yang wartawan KOMPAS di Gresik. Adi menjelaskan bahwa lokasi Pantai Dalegan [Panceng] sekitar 40 kilometer dari Gresik. "Ikuti saja jalur pantura, kawasan Manyar, Bungah... hingga Ujungpangkah. Dijamin Anda sampai," papar Adi Sucipto yang asli Banyuwangi.

Begitulah. Sering kali orang luar lebih mengenal daerah kita, sementara orang awak justru tak tahu apa-apa.



Melintasi jalan raya di pantai utara memang asyik. Tambak begitu banyak. Alam pedesaan yang asri. Tapi, hati-hati, banyak truk gandeng yang sopirnya ugal-ugalan. Jalan yang tak seberapa lebar, sebagian di antaranya berlubang, memaksa kita untuk ekstrawaspada. Wajah-wajah ramah, santai, terlihat di sepanjang jalan. Orang kampung memang jarang stres kayak orang kota.

"Welcome, wisata pantai Dalegan," begitu tulisan di plang. Karcis masuk dewasa Rp 1.500, anak-anak Rp 1.000. Hari itu pantai berpasir putih itu cukup ramai. Umumnya anak-anak muda SD hingga SMA. Ada juga beberapa pasangan suami-istri bersama anak-anaknya.

Secara umum, Pantai Dalegan relatif masih perawan, belum tersentuh tangan-tangan pengusaha pariwisata. Namun, warga desa sudah menata objek rekreasi itu dengan membuat gasebo, tempat duduk, hingga menyewakan ban dalam untuk berenang. Ombaknya nyaris tidak ada, sehingga digemari anak-anak dan remaja.

Di sepanjang pantai, sekitar 300 meter, warga buka warung makanan, es, penganan kecil, suvenir, hingga kamar mandi untuk bilas. "Abang sila renang. Ombak di sini tak ganas. Tak usah dicemasi lah," ujar seorang pria berbadan kekar saat melihat saya asyik membaca koran.

Aha, logat Malaysia-nya kental. Apa ada orang Melayu yang terdampar di Gresik? Omong punya omong, lelaki ini bernama Ahmad Sonhaji, 40 tahun. Dia penjaga pantai, sekaligus menyewakan ban-ban dalam untuk renang. "Saya 22 tahun di Semenanjung [Malaysia}. KL, Johor, semua... saya sudah keliling. Anak pertama saya bahkan lahir di KL. Maklumlah, logat Malaysia belum boleh lenyap pula," tutur Sonhaji.

Saya pun menimpali dengan dialek Malaysia, sehingga kami cepat akrab. Istrinya, Eni Mafula, 30 tahun, juga bercakap ala orang Kuala Lumpur. Ramailah kedai Cik Sonhaji di pojok pantai itu. Suasana macam inilah yang selalu saya rindukan. Bertemu orang baru, sederhana, polos, langsung akrab. Kami cerita macam-macam, layaknya sahabat lama.

"Di Malaysia saya akrab dengan siapa saja. Saya tak hendak cari musuh. Saya cari teman sebanyak mungkin," kata Sonhaji.

"Abang tahu tak? Orang Desa Dalegan sini 90 peratus [persen] merantau ke Malaysia. Yang tinggal di desa sikit saja lah. Kalau dah punya modal, baliklah dia, usaha di sini. Lalu merantau lagi ajak saudara atau teman. Begitu seterusnya," jelas Sonhaji panjang lebar.

Wah, kok mirip orang-orang kampung di Flores Timur ya? Merantau ke Malaysia, khususnya Sabah-Serawak, sudah menjadi tradisi turun-temurun. Banyak kampung di Flores yang 'kehilangan' warganya karena merantau ke Malaysia atau Batam. Warga pesisir Gresik lebih memilih Malaysia Barat untuk mengadu nasib.

Menurut Ahmad Sonhaji, Pantai Dalegan sejak dulu telantar. Tidak dikemas sebagai objek wisata yang bisa mendatangkan uang. Orang desa, karena orientasinya merantau ke Malaysia, membiarkan begitu saja.

Paling-paling sejumlah nelayan memanfaatkan untuk armada ikan. Oh ya, di sini ada tempat pengolahan ubu-ubur berikut gudangnya. "Yang punya orang Tionghoa," kata Sonhaji. "Sekarang mangkrak karena ubu-ubur makin sikit. Kelak kalau ada ubur-ubur pabrik ini dibuka lagi."

Pemerintah Desa Dalegan baru mendandani pantai ini pada 2005. Dibuat dermaga sederhana yang menjorok ke laut. Ahmad Sonhaji bikin gubuk-gubuk beratap ilalang untuk tempai istirahat pengunjung. Sampah-sampah dibersihkan. Bahkan, tiap hari pada pukul 17.00 ada pekerja yang khusus membersihkan pantai. Hanya saja, saya lihat sampah-sampah laut seperti batang kayu, rerumputan, serta sampah rumah tangga dibiarkan saja di bibir pantai. Jelas ini mengganggu pemandangan.

Lalu, dimulailah bisnis objek wisata dengan menarik karcis masuk. Konternya sederhana, terbuat dari bambu. Uang tiket masuk kas desa, sebagian dipakai untuk mengembangkan Pantai Dalegan.

Sejauh ini, papar Sonhaji, Pemerintah Kabupaten Gresik belum ikut-ikut menangani Pantai Dalegan. Warga desa justru khawatir, jika diambil alih pemda, biasanya uangnya tak banyak jatuh di desa. "Kami kembangkan pelan-pelan lah. Sekarang dah dikenal orang banyak lah. Orang dari Surabaya, Malang... ya, dari mana-mana sudah pernah ke sini," kata Sonhaji, ayah dua anak ini, bangga.

Makin sore pengunjung makin banyak. Saya melihat dua rombongan anak sekolah masih berseragam sekolah. Turun dari kendaraan, pakai jilbab, anak-anak itu berlari bersama ke pantai. Byurrr!!! Langsung mencebur badan ke laut. Semuanya gembira. Di sisi lain, sekitar 15 remaja putri SMA main-main pasir, 'memaksa' salah satu temannya yang rupanya enggan mandi, untuk segera berbasah-basah ria. Suasana pun heboh.

"Pokoknya, kalau hari Sabtu, Ahad, tanggal merah, selalu ramai," tambah Eni Mafula seraya menyerahkan kelapa muda yang saya pesan. "Sering-seringlah ke sini, Bang," kata istri Ahmad Sonhaji ini, ramah.

Yang jelas, objek wisata Pantai Dalegan ini tidak punya fasilitas penginapan atau akomodasi. Naga-naganya tak bakal ada. Mau nginap, ya, harus ke Gresik. Kenapa?

Masyarakat Gresik sangat religius, santri, muslim taat. Mereka tak ingin daerahnya dicemari dengan berbagai praktik maksiat. Bagi warga, fasilitas penginapan rawan disalahgunakan untuk perbuatan tidak senonoh. Jangan heran, di pantai ini ada sejumlah aturan yang harus ditaati pengunjung, khususnya seputar etika dan moral.