28 February 2007

Barongsai Full Pribumi di Jatim


GRUP BARONGSAI DHARMA BHAKTI EKSIS SEJAK AWAL 2004 LALU. GRUP SENI TRADISI TIONGHOA INI BERMARKAS DI PONDOK JATI X/8 SIDOARJO. SEMUA PEMAINNYA TERNYATA BUKAN WARGA KETURUNAN TIONGHOA. CIAMIK SORO, REK!

Berbeda dengan grup barongsai umumnya yang berafiliasi dengan kelenteng, Dharma Bhakti sejak awal dirancang sebagai paguyuban seni dan olahraga murni. Artinya, tak ada ikatan apa pun dengan kelenteng atau yayasan agama Tridharma (Buddha, Tao, Konghuchu). Aspek pembauran antaretnis dan sangat ditekankan di sini.

Bagaimana tidak. NUGROHO DHAMMA MANGALA alias NJOO TIONG HOO, pelatih Dharma Bhakti, beragama Buddha. Wim Umboh, pembina dan sesepuh Dharma Bhakti, muslim Tionghoa. "Anak-anak asuh saya mayoritas beragama Islam. Ada juga yang Kristen dari Gereja Bethany," jelas Nugroho kepada saya.

Berkekuatan 30 personel, Dharma Bhakti sering mengisi berbagai perhelatan di Surabaya, Sidoarjo, bahkan ke luar Jawa. Terakhir, pada perayaan SIN CIA alias tahun baru Imlek 2558 lalu, Dharma Bhakti mengisi acara di gereja dan beberapa tempat lain di Surabaya.

Di usianya yang masih belia--bandingkan dengan grup barongsai di kelenteng yang usianya puluhan, bahkan ratusan tahun--kinerja Dharma Bhakti tak mengecewakan. Mereka mampu memainkan gerakan-gerakan sulit, termasuk membuat berbagai formasi liang liong. "Liang liong yang paling sulit," kata Nugroho seraya tersenyum.

Lahirnya grup Dharma Bhakti, papar Nugroho, tak lepas dari keprihatinan akan ketiadaan barongsai di Sidoarjo. Sebagai tetangga Kota Surabaya, rasanya aneh kalau Sidoarjo tak ada punya barongsai. Sementara di pihak lain, kebutuhan untuk menampilkan kesenian barongsai cukup tinggi. "Masa, kita harus mendatangkan barongsai dari luar kota terus?"

Melihat kekosongan inilah, Nugroho mulai merintis Dharma Bhakti. Anak-anak Sidoarjo--tak peduli agama, ras, atau sukunya--dikumpulkan dan digembleng keras di Pondok Jati, rumah Nugroho. Tiga kali sepekan mereka dilatih untuk menguasai teknik barongsai. Di luar perkiraan, sambutan anak-anak muda belasan tahun ini luar biasa.

"Kita mengutamakan anak-anak putus sekolah. Kita ingin agar mereka mendapat penghasilan dari seni barongsai," ujar Nugroho.

Agar ada suasana baru, juga tak jenuh di Pondok Jati, Nugroho juga menggembleng anak-anak muda ini di fasilitas umum Sidoarjo. Misalnya, di halaman Gelora Delta, Dinas Pariwisata, atau halaman parkir GOR Basket. "Kami memang sudah diberi kemudahan berlatih di mana saja oleh Pak Bupati (Win Hendrarso). Perhatian beliau sangat besar pada barongsai Dharma Bhakti."

Di usia yang muda, Dharma Bhakti terus berusaha memperkenalkan diri di tengah masyarakat. Nugroho pun mengaku melobi berbagai pihak--pengusaha, PITI, birokrasi--agar Dharma Bhakti bernafas panjang. Ini penting, karena grup nonkelenteng rata-rata tidak diperkuat dana tetap seperti barongsai di bawah yayasan kelenteng. "Sekarang ini kami masih gerilya ke mana-mana agar bisa eksis," kata Nugroho.

Pria kelahiran Surabaya, 19 November 1962, ini berencana menggelar tur ke berbagai kecamatan di Sidoarjo. Tujuannya, menghibur masyarakat sekaligus mempromosikan keharmonisan suku, etnis, ras, dan agama yang ada di Sidoarjo. Kapan? "Sekarang kami masih cari sponsor. Belum ketemu."

Misi menghapus sentimen SARA memang sangat kental di barongsai Dharma Bhakti. Tak heran, mereka tampil di berbagai event yang sangat heterogen. Sejak 2004 mereka mengisi acara bernuansa keagamaan di hampir semua komunitas: Gereja Katolik, Waisyak, khitanan, muslim Tionghoa, hingga festival hadrah se-Jawa Timur di Sidoarjo.

27 February 2007

Melihat Kennel Terkenal di Trawas

Untuk menggembleng anjing-anjing show, para penghobi asal Surabaya menghabiskan biaya ratusan juta. Vila luas di pegunungan, kennel, pelatih kawakan, serta metode pelatihan bertaraf internasional.


Pagi itu udara di kawasan Sumberwekas, Trawas, sangat sejuk, sekita 20-25 derajat Celcius. Jalanan sepi, hanya ada beberapa perempuan petani yang tengah berangkat ke ladangnya. Nah, di jalan tanjakan dengan kemiringan tinggi itu 10 ekor anjing berperawakan gagah digenjot habis oleh sang pelatih.

“Ayo, lari! Mumpung masih pagi, cari keringat, biar sehat. Kamu harus bisa mempertahankan gelar,” teriak Choirul Abidin, sang pelatih dari Rexindo Kennel.

Sementara Akino, si anjing berambut hitam terus menjulurkan lidah, mengeluakan air liur dari mulutnya.

Setelah lari santai, Choirul yang didampingi Umbu Frans, juga kennel boy, menggenjot anjing-anjing itu berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi. Seakan-akan paham bahasa manusia, para penghuni kennel yang megah di Desa Sumberwekas, Trawas, itu mengikuti instruksi pelatihnya dengan saksama.

Rupanya, Dambo, Akino, Aiko, Ex (ini semua nama-nama anjing) lebih manut ketimbang beberapa pemain bola di ajang Piala Dunia yang kerap uring-uringan kalau diinstruksikan sang pelatihnya.

Dari jalan raya, kami kembali ke lapangan rumput berukuran setengah lapangan sepak bola di samping kennel. “Latihan lagi, fun game,” ujar Frans, pelatih anjing asal Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Lapangan ini dilengkapi beberapa rintangan serta fasilitas untuk mempertajam kemampuan anjing. Saat Akino terengah-engah, Frans menggodanya dengan bola merah berbentuk buah pir. Akino, yang didampingi Choirul, pun langsung berupaya merebut ‘pir’ itu.

Begitulah menu latihan yan wajib dinikmati para anjing juara di kawasan pegunungan Trawas dan Tretes setiap harinya. Apalagi, “Sebentar lagi ada kejuaraan nasional di Malang. Persiapannya harus lebih intensif lagi,” ujar Choirul Abidin, pemuda asal Jombang, kepada saya di sela-sela latihan di Rexindo Kennel, pekan lalu.

Berbeda dengan olahragawan, yang biasanya hanya berlatih intensif atau masuk training center menjelang turnamen, anjing-anjing di berbagai kennel di kaki Gunung Penanggunan dan Welirang ini siap bertanding kapan saja. Ini karena menu latihan dilakukan nonstop setiap hari. Dus, menjelang kejuaraan pelatih alias para kennel-boy cukup menambah sedikit porsi sekaligus menjaga kebugaran si anjing.

“Sekarang lomba pun kami sudah siap. Wong posturnya gagah seperti ini,” kata Irul, sapaan akrab Choirul Abidin.

Memang, inti perlombaan para anjing kelas kakap ini sama dengan bina raga pada manusia. Struktur otot harus sempurna, simetris, agah, tanpa cacat sedikit pun. Jika ada sedikit cacat, misal jalannya agak pincang, maka anjing itu langsung dijadikan ‘karya guna’ seperti anjing pelacak untuk kepolisian atau berburu. Sehingga, latihan-latihan spartan dua kali sehari ini harus difokuskan pada pembentukan tubuh (body building).



Kennel milik Hok Tan, pengusaha asal Surabaya, ini didirikan pada 1998. Saat ini, kata Choirul, salah kennel terkenal di Jawa Timur itu hanya membina 35 anjing dari berbagai trah. Masih ada lagi 20-an kennel serupa di kawasan Trawas dan Tretes milik pengusaha atau profesional penggemar anjing asal Surabaya.

“Atmosfer pegunungan memang paling ideal untuk anjing-anjing semacam ini. Kalau di Surabaya nggak cocok karena terlalu panas. Bisa, tapi harus pakai AC sehingga biayanya akan lebih mahal,” ujar Choirul.

Para bos atau majikan pemilik kennel di Trawas dan Tretes hampir semuanya aktif di komunitas penggemar anjing baik tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Melalui wadah Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin), anjing-anjing ini dilombakan dalam berbagai kejuaraan resmi atau tidak resmi di Tanah Air.

Namanya juga anjing elite, nama-nama anjing ini hampir pasti bernuansa Jerman atau Belanda yang ada kata ‘van’ atau ‘von’ (anak dari). Ini penting untuk mengetahui silsilah mereka. Contoh: Emil von Chritopher Land, Betty von Storchengassle (trah Rottweiler), Jago Indische Stamm von Heisenberg, Roma von Petra Bung (Dobermann).

Bagi para penggila anjing elite, nama bukan sekadar pengenal atau penanda belaka, tapi sekaligus menunjukkan perawakan sang anjing. Orang keder hanya dengan membaca namanya.

Kennel boy ini tak sekadar pelatih anjing jawara, tapi sekaligus orang tua anjing-anjing mahal itu. Hubungan kennel boy dengan para anjing ibarat hubungan antara orang tua dan anak kandungnya.

Setiap hari kennel boy tak boleh sekali-sekali meninggalkan anjingnya di dalam kandang. Bagaimana dengan istri atau anaknya? “Yah, dia yang harus ke sini. Kalau saya pergi dari kennel, wah kasihan dengan anak-anak saya. Tanggung jawab saya terhadap mereka sangat besar,” tegas Suyitno, pelatih anjing terkenal dari Zeit Bombe Kennel di kawasan Tretes, Pasuruan, kepada saya.

Para majikan, yang umumnya pengusaha dan kaum the haves asal Surabaya, pun sangat sadar akan peranan para kennel boy dan pelatih kepalanya. Karena itu, kennel-kennel boy di Tretes dan Trawas ini diberi fasilitas kamar khusus istimewa. Satu orang satu kamar besar, lengkap dengan fasilitas televisi dan hiburan. Maklum, lokasi kennel umumnya terpisah dari permukiman penduduk sehingga sosialisasi dengan warga amat terbatas.

“Hidup di sini senang, apa saja ada. Nggak kayak di kampung sana, susah, cari uang setengah mati,” kata Umbu Frans dari Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kampung si Umbu di Sumba sana memang kering kerontang, hanya sabana, kendati banyak diternakkan binatang seperti kuda, sapi, dan kerbau. Bujangan ini mengaku betah menjadi kennel boy di Rexindo, Desa Sumberwekas, Trawas.

Asrama untuk para kennel boy di Rexindo sepintas mirip barak tentara, tapi lebih mewah. Kamar mereka menghadap kamar anjing. Ini untuk memudahkan pengawasan, sekaligus demi kelancaran komunikasi antara si anjing dan kennel boy.

Agenda kerja mereka, lagi-lagi persis tentara: teratur, ketat, penuh disiplin. Sewaktu-waktu majikan mereka melakukan inspeksi mendadak alias sidak. Namun, menurut Umbu Frans, mereka tak pernah takut atau ketar-ketir dengan sidak oleh tuannya.

Kenapa? "Kami ini sudah tidak bisa lepas dari mereka (anjing, red). Justru rindu kalau sampai meninggalkan mereka, apalagi dalam waktu lama,” kata pemuda berbadan kurus ini.

Menjelang kejuaraan nasional di Malang bulan depan, yang diadakan Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin), beban kerja para kennel boy tentu saja berlipat ganda. Menjaga kebugaran, kesehatan, body building, kelincahan, kemampuan menghibur penonton dan juri.

Bayarannya naik? “Wah, itu rahasia. Yang jelas, kalau untuk soal makan-minum kami tidak akan kesulitan,” ujar Umbu Frans disambut tawa para kennel boy lain.

Bagi Frans, Suyitno, Choirul, dan kawan-kawan, even-even perlombaan anjing versi Perkin, Kodam, atau instasi lain merupakan momen yang selalu ditunggu-tunggu. Sebab, di ajang itulah mereka membuktikan kerja keras mereka dalam menggembleng bodi ‘anak asuhnya’ menjadi sesempurna mungkin. Mereka pun bisa memantau anjing-anjing kompetitornya yang sebagian besar sebetulnya wajah-wajah lama juga.

“Kalau bisa menang atau mempertahankan gelar, wah senangnya bukan main. Kerja kami di gunung jadi tidak sia-sia. Puaslah,” ujar Choirul Abidin, kennel boy asal Jombang, seraya tersenyum.

Gara-gara lomba ini pula, mereka bisa jalan-jalan keliling berbagai kota besar di Indonesia. "Saya menikmati pekerjaan ini karena unik, banyak tantangan,” ujar Suyitno, pembina Zeit Bombe Kennel.

Karena unik itulah, papar Suyitno, harga pelatih anjing berjam terbang sangat menjanjikan. Berapa? “Nggak enaklah kalau saya omong. Pokoknya, jutaan, dapat fasilitas macam-macam dari rumah sampai mobil. Saya sih belum seperti itu,” ujar Suyitno merendah.

Yang jelas, masyarakat umum tak banyak tahu sepak terjang serta suka-duka para kennel boy bersama pelatihnya membina anjing-anjing show di kawasan pegunungan yang sepi dan dingin. Kalau ada perlombaan, maka nama si majikanlah yang mencuat dan disebut-sebut banyak orang. Yah, kerbau punya susu, sapi punya nama.

26 February 2007

Nirwana Juda dan Simpangsche Societeit


Oleh Agus Wahyudi
Wartawan Radar SURABAYA

Pandum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Gerimis juga belum menepi. Namun, Nirwana Juda masih berada di pelataran Balai Pemuda. Hari itu, Juda masih sibuk mempersiapkan konser rock legendaris. Sejumlah penyanyi dan musisi kawakan dihadirkan. Antara lain Achmad Albar, Ian Antono, Arthur Kaunang, dan Ucok AKA Harahap.

Juda melihat persiapan terakhir sebelum konser. Mulai panggung, sound system, lighting, sampai penataan parkir. Itu rutin dilakoninya setiap kali menggelar acara di Balai Pemuda. “Kalau ada acara seperti ini, saya selalu melekan,” kata Nirwana Juda penuh semangat.

Juda berusaha melakukan persiapan secara matang. Ini sangat penting agar perhelatan nantinya tidak mengecewakan. Termasuk yang terakhir pada 18 Februari 2007, Juda mengundang lady rocker Ita Purnamasari.

Sejak ia mulai diangkat menjadi kepala UPTD Balai Pemuda & GNI, November 2002, Juda terus memutar otak bagaimana menggairahkan tempat yang dulu bernama SIMPANGSCHE SOCIETEIT itu. Pasalnya, di era itu Balai Pemuda yang menjadi unit pelaksana teknis dari Dinas Pariwisata, mengalami perubahan besar. Ini setelah Pemkot Surabaya mengembalikan fungsi salah satu ikon Surabaya itu sebagai pusat kegiatan kesenian dan kepemudaan.

“Saat itu cukup pelik. Tak mudah mengambil jalan tengah terkait pengembalian fungsi Balai Pemuda. Di satu sisi, pemanfaatan Balai Pemuda untuk pameran jelas mendatangkan keuntungan. Tapi, kegiatan kesenian dan kepemudaan jadi tidak tercermin. Padahal, hal itu jadi identitas Balai Pemuda,” terang pria kelahiran Surabaya, 20 April 1957 ini.

Kenyataan sebelumnya, pemkot kerap disorot karena tidak peduli dengan komponen masyarakat yang punya andil besar memajukan kebudayaan dan penyokong sejarah.
Makanya, tugas mengembalikan fungsi Balai Pemuda menjadi amat penting. Tantangan itu pula yang membuat Juda berani melakukan upaya kreatif. Salah satunya dengan mengundang para musisi dan penyanyi ternama.

Februari 2003, Juda menggelar pentas musik country. Tantowi Yahya diundang sebagai bintang tamu. Reaksi publik saat itu cukup positif. “Paling tidak, mereka selalu bertanya kapan lagi ada musik country di Balai Pemuda,” ungkap Juda.

Bulan berikutnya, Juda juga menjaring komunitas pecinta jazz. Sederet nama musisi dan penyanyi jazz dihadirkan. Di antaranya Ireng Maulana, Margie Segers, Mus Mudjiono, dan Bubi Chen. Dari sini sempat lahir SIMPANGSCHE SOCIETEIT JAZZ COMMUNITY (SSJC), komunitas jazz yang bermarkas di Balai Pemuda.

Proses kreatif terus berlanjut.

Juda mulai melirik grup musik yang ngetop di era 70-an. Seperti Panber’s, D’Lloyd, Koes Plus, The Gembel’s, The Hand, dan Usman Bersaudara. Belum lagi ditambah kehadiran penyanyi seperti Ebiet G Ade, Arie Kosmiran, Ermy Kullit, Franky Sahilatua, Dewi Yull, Mus Mulyadi, Dedy Dhukun, dan Iga Mawarni.

“Yang ini responsnya cukup besar. Hampir di setiap konser dibanjiri penonton. Saya tak tahu persis alasannya. Yang terang, pecintanya tembang-tembang lama cukup besar di Surabaya ini . Mereka sangat antusias sekali,” ujar Juda.

Juda memang ingin sekali mewujudkan impiannya : menjadikan Balai Pemuda sebagai ikon Kota Pahlawan yang layak dikenal. Meski hal itu diakui Juda tidak semudah membalik tangan.

Awal-awal menggelar konser, Juda mengaku kedodoran. Ini lantaran Juda tidak berpengalaman di bidang entertain nol. Buntutnya, ia pontang-panting, terutama dari segi finansial. Juda bahkan sempat menjual mobil Feroza dan motor Yamaha Fiz R miliknya. Peristiwa itu terjadi pada 2004.

Ketika itu Juda harus nomboki utang kekurangan biaya alat dan fee bintang tamu. Jumlahnya puluhan juta rupiah. “Itu pengalaman berharga yang selalu saya kenang,” ucap bekas kepala urusan kepegawaian Dinas Pendidikan Surabaya ini.

Kini, sudah memasuki tahun kelima Juda berkiprah. Dia mengaku masih tetap bersemangat dengan obsesinya menggelar konser-konser legendaris. Juda tak berpikir sampai kapan harus berhenti. Dia hanya berharap semua pihak bisa berlomba-lomba menggairahkan kegiatan di Balai Pemuda.

23 February 2007

Takrif 'Manusia Kambing' dari Sidoarjo



Takrif Ario (73) dari Desa Tulangan agak nyeleneh. Ke mana pun pergi, Takrif selalu ditemani DOLOG, domba kesayangannya. Ia pun dijuluki TAKRIF WEDHUS.

Si domba kesayangan TAKRIF ARIO ini berwarna putih, bulunya cukup lebat. Badannya lumayan berisi karena Takrif senantiasa memperhatikan makanan dan minumannya. Dalam acara apa pun, khususnya keramaian macam hajatan desa, si Dolog ini selalu menemani Takrif.

Takrif tentu saja menjadi pusat perhatian warga. "Biarkan saja orang mau bilang apa. Yang jelas, Dolog ini mau ikut saya ke mana-mana. Ditinggal di rumah, ya, dia nggak mau," ujar TAKRIF ARIO kepada saya di Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.

Watak Dolog yang berbeda dengan kambing atau domba biasa ini memang bisa dipahami. Lahir 39 bulan lalu, ibunda Dolog langsung tewas karena gagal melahirkan. Sang ibu meregang nyawa demi menyelamatkan jabang bayi yang kemudian dikenal sebagai si Dolog. Takrif pun langsung berperan sebagai orang tua yang merawat dan membesarkan si domba.

"Saya namakan Dolog karena nggak punya ibu. Kayak JOKO DOLOG itulah," ujar pria yang tinggal di belakang Polsek Tulangan itu.

Mirip bayi manusia prematur, menurut Takrif, Dolog harus mendapat perawatan khusus yang cukup rumit. Harus ditempatkan di kotak, minum air tajin beras sebagai pengganti ASI domba. Takrif mengaku mendapat 'ilmu' dari sesama penggemar domba di Tulangan. Selama tiga bulan penuh Takrif dengan telaten memberikan tajin sebagai pengganti ASI.

"Alhamdulillah, umur 16 hari dia sudah bisa makan rumput dan ampas dedak," kata pria yang selalu mengenakan kaos oblong 'Pak Sakerah' plus kopiah.

Busana macam ini penting agar si Dolog lebih mudah mengenal dirinya. Begitulah. Dari empat domba peliharaannya, si Dolog memang memperlihatkan perilaku yang berbeda dengan binatang umumnya. Dolog lebih suka 'lengket' dengan Takrif Ario ketimbang sesama kambing. Takrif menganggap, watak ini sebagai buah kasih sayang, perhatian, serta pengorbanannya merawat Dolog, si anak yatim.

"Di rumah saya juga tidur bareng dengan Dolog. Pokoknya, harus selalu dekat dengan saya. Kalau nggak ketemu saya, dia stres, nggak bisa tenang. Makanya, saya kasihan kalau harus meninggalkan dia di rumah," ujar bekas sopir truk barang itu, bangga.

Sebetulnya, Takrif bisa saja 'memaksa' Dolog menjadi kambing sejati, berkumpul dengan sesama kambing di Tulangan. Stres satu dua hari, kemudian terbiasa dengan kawanan kambing. Tapi ini tidak dilakukan Takrif Ario. Kenapa?

Reputasi si Dolog yang sudah terkenal ke mana-mana, khususnya wilayah Sidoarjo, mengundang selera maling. Menurut Takrif, sudah beberapa kali binatang kesayangannya ini hendak dicuri kawanan maling. Saat maling mendekati kandang kambing di Tulangan, naluri si Dolog mulai bermain sehingga domba-domba di sana 'bernyanyi' keras-keras. Maling akhirnya kecut, lari tunggang-langgang.

Selain maling, kata Takrif, banyak warga yang berminat membeli si Dolog. Namun, hingga sekarang Takrif mengaku belum ada keinginan untuk melepaskan domba kesayangannya.

"Ditinggal di rumah beberapa jam saja saya pusing, apalagi dibeli orang. Saya dengan Dolog ini sudah menyatu, sulit dipisahkan. Dolog ini banyak membawa rezeki," tegasnya.

Peludruk Termuda di Jawa Timur



Sulit dipercaya bocah polos seperti Dini Kristanti (11) mampu mengimbangi pemain-pemain ludruk senior di atas panggung. Bahasanya spontan, ceplas-ceplos, tahu posisi, dan perannya. Padahal, tak ada skenario, latihan, atau persiapan sebelumnya.


Berbeda dengan penampilan di atas pentas, saat saya temui di ruang tunggu pemain, siswi kelas I SMP Budi Utomo, Prambon, ini malu-malu dan tak banyak bicara. Karena itu, SUPARTININGSIH (ibunya) yang banyak menceritakan sepak terjang Dini di dunia ludruk.

Menurut sang ibu, Dini Kristanti mulai aktif naik panggung ludruk sejak usia delapan tahun. Waktu itu dia kelas 4 SD. Ini tak lepas dari aktivitas sang ayah, Muhammad Syafii, yang memang tokoh penting LUDRUK KARYA BARU. Asal tahu saja, Syafii yang merancang cerita, membagi peran, kepada awak Ludruk Karya Baru setengah jam sebelum pergelaran. Dan ini dilakukan setiap malam.

Si Dini kecil pun mengikuti kegiatan ayahnya setiap kali Karya Baru main. Tentu saja, di ruang tunggu pemain (sekaligus tempat istirahat) Dini berinteraksi dengan pemain-pemain dewasa, bahkan lansia. Bocah kurus ini dianggap sebagai adik, anak, atau cucu sendiri. "Memang hubungan di antara pemain-pemain Karya Baru mirip saudara sendiri," tambah Supartiningsih, sang ibu.

Suatu ketika, iseng-iseng, Dini Kristanti diajak naik panggung sebagai pemain figuran. Ia mengisi lakon anak-anak yang nota bene jarang ada di skenario ludruk. Eh, ternyata kehadiran Dini disambut antusias penggemar ludruk di beberapa desa. Dini malah dianggap sebagai pemberi warna tersendiri bagi grup ludruk yang dipimpin HADIPURO itu.

Sejak usia delapan tahun itulah, Dini Kristanti malang-melintang di panggung ludruk. "Sampai sekarang, ya, tetap main," kata Dini Kristanti, agak manja.

Gara-gara kecanduan main ludruk, kedua orang tua Dini memberi perhatian ekstra untuk anaknya. Supartiningsih, yang nota bene bukan pemain ludruk, terpaksa setiap malam mengikuti aktivitas sang anak di panggung ludruk. Di kamar ganti, Ningsih tak hanya mendampingi, tapi juga membantu merias serta mempersiapkan anaknya naik panggung.

Yang paling penting, Ningsih mendampingi anaknya belajar, menggarap pekerjaan rumah serta tugas-tugas sekolah, di ruang pemain ludruk. Ada ulangan atau ujian sekalipun, Dini Kristanti tetap main ludruk sambil mempersiapkan pelajaran di lokasi 'tanggapan'. Ningsih mengaku tak ingin anaknya ketinggalan pelajaran, apalagi putus sekolah karena main ludruk hampir setiap malam.

"Sekolahnya bagus, nilainya juga nggak mengecewakan," kata Ningsih, bangga.

Ningsih dan suaminya, Syafii, ingin agar pendidikan serta pengembangan berjalan seiring sejalan. Sebab, tanpa bekal pendidikan yang baik seorang pemain ludruk kurang wawasan, lemah logika, sehingga tidak bisa berkembang dengan baik. Ludruk itu kesenian improvisasi, sangat menuntut pengembangan logika.

"Kami ingin Dini sekolah terus, jangan sampai putus."

Main ludruk dengan intensitas tinggi, seperti ditekuni Dini Kristanti (bocah cilik), pada prinsipnya sama dengan bekerja. Dan Dini jelas mendapat bayaran atau honor cukup besar.

Apa tidak dianggap mengeksploitasi anak? Bukankah Dini masih di bawah umur? Kedua orang tua Dini menepis anggapan ini. Katanya, apa yang dilakukan Dini tak lebih sebagai 'latihan' atau pengembangan hobi belaka. Okelah.

22 February 2007

Dahlan Iskan Bahas Kecelakaan Adam Air


Kamis, 22 Februari 2007,
Percayalah, Pilot Lebih Tahu

Oleh DAHLAN ISKAN

Dapat dimaklumi kalau penumpang Adam Air yang mendarat tidak normal di Surabaya kemarin sore panik. Lalu masing-masing penumpang mengeluarkan cerita sendiri berdasarkan tingkat pengetahuan masing-masing. Misalnya, ada penumpang yang menelepon radio Suara Surabaya dengan nada jengkel karena ada keterangan dari pihak berwenang bahwa pesawat mendarat mulus.


Lalu penumpang tersebut menjelaskan bahwa sejak sebelum mendarat pesawat sudah miring. Ketika reporter radio menanyakan apakah penyebabnya pesawat itu sendiri, si penumpang mengiyakannya. Pesawatnyalah yang tidak beres. Sebagai bukti tambahan, katanya, saat kejadian itu masker-makser oksigen tidak keluar.

Penumpang lain mengatakan bahwa pesawat tidak beres dengan bukti ketika mendarat terasa sekali sentakannya. Lalu dilaporkan juga bahwa waktu mendarat mungkin rodanya tidak keluar. Ditambah lagi pramugari tidak berbuat apa-apa sehingga penumpang harus membuka pintu darurat sendiri.

Saya tidak melihat sendiri keadaan pesawat setelah mendarat. Mungkin saja yang dikatakan penumpang itu benar, mungkin juga hanya mencerminkan orang yang sangat panik karena nyawanya baru saja dipertaruhkan. Maka, sebaiknya, pihak yang berwenang segera memberikan jawaban yang benar agar cerita-cerita seperti itu tidak didengarkan masyarakat yang berpengaruh pada "pendidikan" masyarakat pada umumnya.

Melihat bahwa tidak ada penumpang yang cedera, tentu kita bersyukur. Tapi, juga sekaligus menunjukkan bahwa pendaratan tersebut belum bisa dikategorikan pendaratan darurat. Bahwa proses evakuasi pesawat dari landasan pacu hanya memakan waktu kurang dari tiga jam, bisa disimpulkan bahwa pesawat tidak sampai terjerembap keluar landasan.

Bahwa kantong oksigen tidak otomatis keluar menandakan tidak ada perubahan tekanan udara di pesawat. Kantong oksigen baru keluar kalau terjadi perubahan tekanan dalam pesawat yang mengakibatkan penumpang kekurangan oksigen. Namun, mungkin juga banyak penumpang yang membayangkan kantong-kantong oksigen itu seperti air bag di mobil, yang setiap terjadi kecelakaan otomatis keluar.

Bahwa tidak ada penumpang yang cedera atau terlempar dari kursinya, kita patut bersyukur dua kali. Yang pertama, menandakan bahwa penumpang cukup disiplin untuk mengenakan sabuk pengaman sebelum pesawat mendarat. Kedua, barangkali memang pesawat tidak berhenti secara mengejutkan.

Dari gambaran seperti itu, dunia penerbangan memang akan mengategorikan bahwa pendaratan tersebut termasuk mulus. Karena pemahaman penumpang berbeda, kata "mulus" itu lantas seperti menyinggung perasaan penumpang awam.

Naik pesawat di musim hujan memang harus menyiapkan mental lebih baik. Apalagi kalau terbang sore. Pesawat sore lebih sering terlambat daripada pesawat pagi. Mungkin keterlambatan sedikit-sedikit di pagi karena akan terkumpul di sore hari. Juga karena sore hari kecenderungan cuaca jelek lebih banyak.

Dalam cuaca bergolak, kesan penumpang yang duduk di bagian depan akan berbeda dengan yang di belakang. Yang di depan akan kurang merasakan guncangan (karena itu, mengapa business class menempati bagian depan). Yang di belakang akan seperti berada di buntut naga. Itulah sebabnya, di musim hujan banyak penumpang minta untuk dapat duduk relatif lebih depan.

Demikian juga saat mendarat. Roda yang menyentuh landasan lebih dulu adalah roda belakang. Karena itu, kalau kebetulan dapat duduk paling belakang, saya suka menghibur diri: ah, biar lebih terguncang, tapi bisa lebih dulu tiba! Maka, pendaratan yang lembut atau yang keras (dengan entakan) bagian belakang yang lebih bisa merasakan. Kalau mendarat di waktu hujan seperti kemarin, penumpang juga harus siap bahwa pendaratannya akan terasa seperti dientakkan. Ini bukan karena pesawatnya bermasalah, melainkan memang begitulah sebaiknya mendarat di landasan yang basah: agar roda bisa mencium landasan lebih baik.

Dalam cuaca jelek seperti apa pun, tenang akan lebih baik daripada panik. Kalau pesawat tiba-tiba anjlok di udara, percayalah bahwa anjloknya tidak akan sampai ke tanah. Pada ketinggian tertentu dia akan "jatuh" di udara yang normal, lalu pesawat mencapai keseimbangan lagi.

Pernah pesawat ANA jatuh sampai 3.000 kaki. Toh kemudian normal lagi. Hanya penumpang yang tidak disiplin menggunakan sabuk pengaman yang terpelanting dari tempat duduknya, membentur langit-langit, dan meninggal dunia.

Demikian juga ketika pesawat terombang-ambing udara jelek. Percayalah bahwa pesawat tidak akan jatuh, karena sudah didesain untuk menerima keadaan lebih buruk daripada itu. Bahwa tempo hari Adam Air nyungsep ke laut dekat Sulawesi dalam keadaan cuaca buruk, sungguh menjadi perhatian seluruh dunia sampai black box-nya ditemukan nanti.

Saya pernah terbang dengan pesawat kecil (hanya 12 tempat duduk) dari Pontianak ke Sintang. Karena pesawat itu saya carter, kalau kosong sayang sekali. Maka, saya ajak para pesuruh dan tukang sapu di kantor saya di Pontianak untuk bersama-sama naik pesawat itu. Toh sorenya sudah akan kembali dengan pesawat yang sama.

Waktu berangkat, kalau pesawat terkena mendung sedikit saja sudah terayun-ayun. Tapi, para penumpang dadakan itu malah senang, seperti berada di ayunan. Pulangnya, ketika tidak ada mendung, mereka pada minta apakah pesawat bisa diayunkan. Pilotnya cukup mengerti keinginan rakyat kecil itu. Maka, beberapa waktu lamanya pesawat pun dia ayun-ayunkan. Para tukang sapu itu pun tertawa-tawa.

Memang, yang paling membuat dag-dig-dug adalah saat mendarat di udara jelek. Saya sering mengalami yang "nyaris-nyaris" seperti itu. Ketika mendarat dalam cuaca buruk di Pontianak, Manado, Semarang, Palembang (yang lama), Kendari, Kupang, dan Lampung sudah hafal betul bahwa hati harus ditenang-tenangkan.

Tapi, kuncinya tetap satu: BERSIKAP TENANG AKAN LEBIH BAIK DARIPADA PANIK. Kita harus percaya kapten pilot lebih tahu daripada kita. Karena itu, normalnya, setiap penumpang yang berada di dekat pintu darurat tidak boleh anak-anak atau orang tua. Dia harus cukup tahu untuk membuka atau tidak membuka pintu darurat. Kapten pilotlah yang memegang komando di pesawat. Pramugari pun harus tunduk padanya. Tidak bisa tanpa komando kapten pramugari menyuruh Anda membuka pintu darurat.

Selebihnya adalah: TAKDIR.

21 February 2007

Dahlan Iskan tentang Imlek 2558


Oleh: DAHLAN ISKAN

"
Saya tidak bisa masak. Jadi, tiap hari raya Imlek, makan malam bersamanya di restoran," ujar istri teman saya. "Atau di rumah salah seorang keluarga kami yang bisa masak."

Dia mengaku tidak terlalu berpegang lagi pada tradisi Imlek karena agamanya Kristen. Wanita keturunan Hokkian itu selalu mengajak suaminya untuk juga ke gereja, tapi sampai sekarang belum berhasil. Pria keturunan Kanton tersebut tetap berpegang pada tradisi agama ibunya, Konghucu.

Malam Imlek barusan, saya diundang makan malam keluarga ini di satu restoran baru di Singapura. Sebab, mereka tahu, kebetulan saya lagi di Singapura karena sehari sebelumnya ada pesta kawin yang harus saya hadiri di sana. Yakni, pesta kawin seorang gadis Harbin (RRT) dengan keluarga pemilik bank di Singapura.

Sudah dua kali itu saya menyaksikan hari raya Imlek di luar negeri. Tiga tahun lalu, saya ikut merayakan Imlek di Nanchang, ibu kota Provinsi Jiangxi, RRT.

Keluarga Singapura tersebut memesan meja dengan sepuluh kursi. Dua untuk saya dan istri. Lalu, untuk suami istri tuan rumah beserta dua anaknya yang pulang dari Australia dan Kuala Lumpur. Satu lagi anaknya yang di AS tidak bisa pulang, bahkan lupa bahwa hari itu di Asia sedang ada perayaan Imlek. Kursi yang lain untuk adik-adiknya.

Dalam tradisi lama, makan malam itu harus dilakukan di rumah salah seorang keluarga yang paling dituakan. Semua kumpul di situ. Di samping makan besar, yang muda memberikan tabik ke yang lebih tua. Yang tua memberikan angpau ke yang lebih muda.
Ukuran "muda" di sini mulai anak-anak sampai orang dewasa sepanjang dia belum kawin.
Di Surabaya, seorang teman yang sudah tua tapi sehat menjadi tempat perayaan keluarga ini. Angpau yang dia sediakan sampai hampir seratus buah karena cucu, cicit, cucu keponakan, cicit keponakan, semua, kumpul di situ.

Maka, Imlek bukanlah sekadar perayaan tahun baru, melainkan juga hari raya. Penekanannya pada kerukunan dan kekompakan keluarga. Doanya agar badan sehat, semua kesulitan bisa diatasi, diberi kebahagiaan dan kesejahteraan. Juga minta rezeki yang tidak hanya banyak, melainkan juga terus-menerus.

Doa-doa itu tidak hanya diwujudkan dalam ucapan ketika memberikan tabik (gong xi fa cai dan seterusnya?), melainkan juga dalam simbol-simbol yang orang Jawa sering menyebutnya sebagai donga katon. Kalau di Jawa daun kluwih harus dipakai untuk tutup tumpeng (agar dapat rezeki luwih-luwih), dalam Imlek pun serupa: ada jeruk dan seterusnya.

Donga katon dalam perayaan Imlek tidak hanya berwujud simbol-simbol seperti jeruk, tapi juga tecermin dalam makanan yang dihidangkan. Malam itu, misalnya, makanan pertama yang disajikan adalah salad. Delapan macam bahan diiris-iris kecil. Ada jeruk bali, ubur-ubur, abalon, dan sayuran lainnya. Bahan-bahan itu ditumpuk seperti gunung di piring besar. Lalu, sausnya disiramkan ke atasnya.

Yang menarik adalah yang terjadi berikutnya: sepuluh orang di meja itu harus berdiri, masing-masing siap dengan chopsticks-nya. Setelah dikomando, semua orang harus menggunakan sumpitnya itu untuk mengaduk gunungan salad tadi agar antara sayur satu dan yang lain tercampur. Juga agar antara sayur dan sausnya menyatu.

Maka, ramailah aduk-mengaduk salad itu. Apalagi ada keutamaan lain: semakin tinggi bisa mengangkat bahan salad dengan sumpitnya, semakin terkabul doanya. Mawut-lah salad malam itu. Tepuk tangan gemuruh mengakhirinya. Masing-masing lantas mengambil salad yang sudah padu itu untuk dirinya sendiri. Upacara makan bersama pun dimulai. Itulah donga katon yang melambangkan agar seluruh keluarga besar itu bisa kompak, saling menolong, dan banyak rezeki.

Makanan berikutnya adalah tiga susun bahan sayuran, yang nama-nama sayur tersebut kalau diucapkan dalam bahasa Kanton bisa mirip ucapan gong xi fa cai. Lalu, ada mi panjang umur, satu mangkuk mi yang makannya tidak boleh dipotong-potong. Biar pun itu panjang sekali, harus dimakan apa adanya. Kalau perlu dengan cara disedot agar tidak putus.

Sebanyak 12 makanan malam itu dibikin tanpa babi mengingat saya bergabung di situ. Tapi, kalau Imlek tanpa babi, bukan Imlek namanya. Maka, saya diberi tahu jangan makan makanan terakhir. Makanan terakhir saya dan istri diganti bubur kacang merah.
Begitulah, tiap tahun, Imlek berlangsung. Tanggalnya tidak selalu sama. Tidak seperti tahun baru Masehi atau tahun baru Muharam.

Boleh dikata, kalender Imlek merupakan jalan tengah yang fleksibel, sebagaimana umumnya orang Tionghoa bersikap. Menurut kalender Imlek, satu tahun tidak harus 365 hari.

Kalender Masehi pun sebenarnya tidak tepat menetapkan bahwa setahun itu 365 hari. Yang tepat adalah 365,242199 hari. Meski selisih sedikit, kalau dikumpulkan, jadinya banyak juga. Karena itu, suatu saat, ketika selisih itu sudah terkumpul menjadi sepuluh hari, kalender harus diubah. Misalnya, di zaman ahli matematika Christopher Clavius pada 1582. Terpaksa diputuskan tidak ada tanggal 5 sampai 14 Oktober. Tanggal-tanggal itu dihilangkan begitu saja.

Perubahan seperti itu tidak diperlukan oleh kalender Imlek. Dia fleksibel sekali. Tiap tahun diadakan perubahan; kadang mundur, kadang maju. Jatuhnya di sekitar 15 sampai 28 Februari. Pengalenderan itu menjadi ilmu tersendiri dan akhirnya baku: tiap Imlek harus ada babi. Apalagi di Tahun Babi ini.

Sumber: Jawa Pos  21 Feb 2007

19 February 2007

Timnas Panik, Bola Beton Trial and Error


Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo makin pusing. Setelah berbagai teknik untuk menghentikan semburan gagal, kini teknik high density chained balls (HDCB) alias bola beton pun terancam gagal.

Timnas masih terkesan coba-coba alias trial and error dengan skenario HDCB. Buktinya, rencana untuk memasukkan bola-bola beton ke lubang semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc terus tertunda-tunda. Rencana timnas mengaplikasikan HDCB hari ini (20/2/2007), lagi-lagi, gagal.

Ketua Timnas Basuki Hadimuljono mengatakan, pihaknya terpaksa menunda uji coba bola-bola beton karena kendala teknis. Menurut dia, uji coba tersebut baru akan dilakukan besok. Dijamin tidak akan ditunda lagi? Belum jelas.

Basuki berkilah, hingga Senin (20/2/2007) petang pembuatan menara untuk memasukkan bola-bola beton belum dimulai karena masalah teknis. “Sebab, ada kendala teknis di tanggul cincin,” ujar Basuki Hadimuljono kepada wartawan di Sidoarjo, kemarin.

Dijelaskan, jalan akses masuk ke calon lokasi menara HDCB masih becek akibat guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, tanggul cincin di sisi timur yang berada di dekat ruas Tol Gempol-Porong juga terancam ambles akibat luberan lumpur. “Insya Allah, kita mulai masukkan bola-bola itu secepatnya,” ujar Basuki.

Dia menepis anggapan bahwa pihaknya maju-mundur dalam menerapkan skenario bola beton yang digagas pakar fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu. Hanya saja, diakui Basuki, teknologi HDCB belum pernah diterapkan di negara mana pun di dunia. Sehingga, jika eksperimen di Porong ini berhasil, maka HDCB bakal menjadi alternatif terbaru dalam upaya menjinakkan semburan lumpur.

Di lapangan hanya terlihat beberapa tiang besi yang masih tergeletak di sekitar lokasi semburan lumpur panas. Menara dan perangkat untuk mengantarkan bola-bola beton ke dalam lubang semburan belum berdiri sama sekali. Sedangkan peralatan berat lainnya pun belum seluruhnya dimobilisasi ke dekat lokasi pemasangan menara bola beton.

Yang sudah berada di dekat pusat semburan adalah besi pemberat menara. Namun, Basuki meyakinkan masyarakat bahwa timnas tetap berkomitmen untuk menerapkan teknologi bola beton (HDCB) untuk menjinakkan semburan lumpur panas di Porong yang kian liar. "Kita tidak main-main,” tegas Basuki.

Di tempat terpisah, Humas Timnas, Rudi Novrianto, mengatakan, pihaknya akan tetap berusaha tepat waktu dalam mempersiapkan penempatan bola-bola beton ke lubang semburan. Meskipun alat-alat berat belum seluruhnya dimobilisasi, dia optimistis semuanya akan bisa diselesaikan.

"Memang belum seluruh peralatan beratnya ada di sini. Namun, saya yakin bahwa ini akan dikerjakan sesuai dengan jadwal," ujar Rudi, diplomatis.

Menurut dia, pemasangan menara hanya butuh waktu satu hari saja. Begitu menara terpasang, maka bola beton bisa segera dimasukkan. "Doakan saja semuanya lancar dan tidak ada kendala, sehingga kita bisa segera mengetahui hasilnya. Sebenarnya persiapan sudah beres dan tidak ada masalah," tambahnya.

TENTANG BOLA BETON

Ketua Timnas, Basuki Hadimuljono, saat dengar pendapat dengan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Senayan, Jakarta, Selasa (6/2/2007). Menurut Basuki, penempatan bola-bola beton ke lubang semburan lumpur di Porong ini merupakan temuan para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan sudah dikoordinasikan dengan timnas.

"Kami berharap teknologi ini dapat mengurangi semburan lumpur sampai 70 persen," ujar Basuki Hadimuljono.

Dia menepis anggapan masyarakat umum bahwa penempatan bola-bola beton itu bisa membuat semburan lumpur berbelok ke lokasi lain. "Kita sudah memperhitungkannya secara matang," tambahnya.

Teknologi untuk menjinakkan lumpur panas ini (killing mud softly) sebetulnya cukup sederhana. Bola-bola beton seberat 350-400 kilogram dijatuhkan di pusat semburan. Juru bicara Timnas Rudi Novrianto menjelaskan, satu untaian terdiri atas empat bola beton. Dua bola berdiameter 80 sentimeter, sedangkan dua yang lain 40 sentimeter. Satu untaian ada empat bola.

Nah, rangkaian bola-bola beton itu kemudian dimasukkan ke lubang di pusat semburan lumpur. "Kesulitannya memang menentukan titik semburan," ungkap Rudi.

Diharapkan, saat dijatuhkan nanti rangkaian bola-bola beton bisa jatuh persis di lubang semburan. "Untuk menjatuhkannya digunakan crane," jelas Rudi.

Timnas berharap, lumpur di pusat semburan bisa dihambat berkat hadirnya sekitar 2.000 bola tersebut. Karena lumpur 'sibuk' menghadapi ribuan bola, maka debit lumpur diharapkan bisa berkurang hingga 70 persen.

Sesuai dengan rencana, setiap hari dimasukkan 25 sampai 100 bola. Selanjutnya, digunakan sensor khusus yang dipasang di rangkaian bola-bola tersebut. Fungsi sensor untuk mengetahui tekanan dan arah bola. Pada tekanan tertentu, sensor akan terlepas dan naik sehingga bisa dipakai lagi.

Tomy Su soal Imlek dan Tionghoa

Jawa Pos, Senin, 19 Februari 2007

Menuju Harmoni Antarwarga Bangsa

Oleh Tomy Su

Menjelang Imlek tahun ini, saya sering bertemu banyak kalangan Tionghoa di tanah air, mulai pengusaha, intelektual, rohaniwan-rohaniwati, hingga aktivis kemanusiaan. Saya mendapatkan kesan amat kuat, tokoh-tokoh itu sangat rindu agar semua etnis yang hidup di negeri ini bisa saling menghormati. Syukur-syukur bisa saling bekerja sama serta bersinergi memberikan kontribusi positif bagi bangsa.

Setidaknya, diharapkan jangan sampai konflik antaretnis meledak, khususnya antara etnis Tionghoa dengan yang lain. Tentu, hal tersebut juga menjadi kerinduan kita semua. Tentu, kondisi harmonis dan rukun seperti itu menjadi harapan kita semua, tidak peduli apa etnis dan agamanya. Sebab, jika sampai konflik etnis meledak, yang rugi adalah kita. Ratusan konflik rasial berbau anti-Tionghoa sudah sering terjadi. Misalnya, yang fenomenal dan sering diulas di media adalah Tragedi 13 Mei di Jakarta pada 1998.

Yang tak kalah hebat dampaknya adalah peristiwa 30 September 1965. Anak atau cucu yang tak tahu-menahu pun, karena lahir setelah 1965, sering disangkutpautkan dan harus menanggung stigma komunis. Tionghoa dinilai Soeharto harus ikut bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Kedekatan etnis Tionghoa dengan Soekarno, membuat Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) sebagai media aspiratif etnis Tionghoa paling populer saat itu harus menerima kenyataan dibubarkan.

Padahal, tokoh-tokoh Baperki yang dipimpin Siaw Giok Tjhan tersebut pernah terlibat aktif dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan era sesudahnya. Akibat stigma itu, hingga kini, cukup banyak etnis Tionghoa yang alergi politik.

Alergi seperti itu bisa dipahami. Sebab, gara-gara peristiwa 1965, peradaban Tionghoa pun menjadi barang haram. Dengan Inpres No 14/1967, rezim Orde Baru yang otoriter dan represif telah melakukan "cultural genocide", meminjam istilah Geoffrey Robertson, untuk menunjuk pada segala pelarangan mulai huruf, kesenian (barongsai dan liong), termasuk Imlek. Khusus Imlek, Orba memang mengizinkan, tapi hanya di lingkup terbatas.

Dalam hal ini, yang dimaksud "cultural genocide" adalah "by prohibiting the use of a group’s language, rewriting or obliterating its history or destroying its icon" (dengan melarang penggunaan bahasa dari suatu kelompok, mengubah atau menghancurkan sejarahnya, atau menghancurkan simbol-simbol peradabannya).

Syukurlah, pada 17 Januari 2000, Gus Dur mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No 6/2000 yang isinya mencabut Inpres No 14/1967. Megawati dengan Keppres No 19/2002 tertanggal 9 April 2002 akhirnya meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional yang berlaku mulai Imlek 2003.


Belum Tuntas

Meski angin kebebasan sudah berembus di mana-mana, sehingga setiap etnis Tionghoa bisa mengekspresikan keberadaan (termasuk peradabannya seperti Imlek), yang disebut sebagai "masalah Tionghoa" masih belum sepenuhnya tuntas sampai saat ini. Untuk etnis Tionghoa yang beragama Tao, misalnya, dalam KTP mereka masih harus ditulis dengan agama lain.

Memang ada kemajuan cukup fenomenal. Misalnya, lahirnya UU No 12/2006 tentang Kewarganegaraan yang isinya tidak lagi mengotak-kotakkan warga bangsa dalam kategori asli Indonesia atau bukan. Tapi, toh umat Tao hingga kini belum menikmati kebebasan dan pengakuan dari negara seperti yang telah dirasakan umat Konghucu yang sejak Imlek 2557 tahun lalu resmi diakui negara.

Yang lebih menyakitkan, kadang dalam kehidupan sehari-hari, masih terjadi diskriminasi atau rasisme. Misalnya, yang dialami Lanny H.A. dalam skripsinya di Ubaya tentang Persepsi Pola Relasi Antar-Etnis pada Keluarga Tionghoa terhadap Etnis Jawa di Surabaya. Menurut pandangan Lanny, masih ada jarak antara etnis Tionghoa dengan yang lain. Mereka tidak bisa bergaul akrab. Seakan-akan ada batas atau kendala psikologis yang menjadi tembok penghalang.

Yang dikeluhkan Lanny tersebut mungkin kasuistis. Tapi, harus diakui, di lingkup cukup luas, masih ada rasialisme atau sentimen anti-Tionghoa. Di internet, misalnya, kita masih merasakan kuatnya prasangka buruk seperti tudingan etnis Tionghoa sebagai penjajah, bandar narkoba, pelaku illegal logging, koruptor, dan harus bertanggung jawab atas 1.001 kejahatan lain di negeri ini.

Prasangka seperti itu jelas kontraproduktif bagi upaya membangun relasi, silaturahmi, dan saling pengertian antarwarga bangsa. Bagi etnis Tionghoa atau etnis yang dianggap minoritas lainnya, hal seperti itu bisa mendorong orang membuat "Group Think". Dalam Group Think, orang merasa nyaman, enak, karena bergabung dengan kelompok sendiri. Sebaliknya, mereka merasa tidak nyaman atau tidak enak jika bergabung dengan kelompok lain.

Tentu, dampak hal tersebut sangat buruk karena justru gampang memicu prasangka atau sikap-sikap negatif lain. Ujung-ujungnya, orang yang merasa nyaman dalam Group Think akan cenderung punya mentalitas "Kami" versus "Mereka" dan menegasikan semua kelompok lain.

Bagi sebuah negara seperti Indonesia, kelompok seperti Group Think itu jelas sangat kontraproduktif. Maka, beberapa aktivis, multi etnis termasuk saya, terus bergiat lewat media dan berbagai acara untuk menumbuhkan semangat saling menghargai perbedaan di tengah masyarakat kita yang heterogen. Syukur-syukur, terjadi kerja sama dan sinergi positif bagi kepentingan bangsa.

Media memang punya tugas agar segregasi sosial tidak kian tajam, tapi bagaimana kelompok etnis yang satu dengan yang lain justru bisa saling menjalin tali silaturahmi dan saling pengertian.
"Gong xie fa cai" 2558.
*. Tomy Su, koordinator Masyarakat Pelangi Pencinta Indonesia

Pelacur Gemuk di Taman Bungkul

Tadi pagi (19/2/2007) saya melintas di Taman Bungkul. Ini kilometer nol Kota Surabaya, persis di Jalan Raya Darmo. Di timur jalan ada beberapa pedagang kecil jual minuman: soft drink, legen, air dingin, sekadar pelepas lelah pengendara motor.
Wow, seorang wanita gemuk, kulit kuning kayak Tionghoa, tengah berdandan. Pakai bedak tebal, lipstik merah. Sibuk banget rupanya. Ssst, bisik seorang penjual minuman kepada saya:

"Dia lagi jualan, Mas. Sampeyan suka gak?"

"Jualan apa? Sing jualan kan sampeyan?"

"Hehehe... maksudku, bisa diajak ngamar."

Ohhhh.... Siang-siang dia jualan itu. Jelasnya, pelacur yang praktik di siang bolong. Bagaimana kalau dilihat teman-temannya? Tetangga? Orang tua? Keluarganya? "Pokoknya, dia dah lama mejeng di sini. Banyak juga lho laki-laki yang berminat," ujar penjual minuman.

Sebagai 'ongkos' wawancara, saya beli sebotol minuman, teh sosro. Lumayan untuk melegakan tenggorokan sekaligus kenalan sama si pedagang kecil. Biasanya orang-orang macam ini merupakan narasumber paling kredibel dan objektif. Mereka bicara apa adanya. Polos. Tidak pakai sensor atau pertimbangan macam-macam.

Wanita gemuk tadi pun menghampiri saya.

"Mas, mau naik sama saya?"

"Naik ke mana?"

"Sidokumpul. Nggak jauh kok."

Sidokumpul nama kampung kecil, dekat kompleks pelacuran di Gang Dolly dan Jarak. Ternyata benar dugaan saya sejak awal. Wanita itu memang pelacur yang tengah menunggu pembeli di jalan raya. Saya mengorek lagi:

"Berapa harga?"

"Nggak mahal. Cuma Rp 150 ribu kok Mas. Ayolah, Mas."

Saya geleng-geleng kepala. Lalu, ponsel saya berdering. "Kamu ditunggu di Hotel Sahid ada diskusi dengan teman-teman redaktur," ujar kawan saya. Cepat-cepat saya meninggalkan Taman Bungkul.

"Walah, ngomong thok," gerutu si wanita tadi.

Sin Cia 2558 di Surabaya

Cuaca Surabaya yang cerah, suhu hangat, menandai malam tahun baru (Sin Cia) Imlek 2558. Warga keturunan Tionghoa merayakan tradisi tahunan ini dengan cara masing-masing. Umat Tridharma (Buddha, Konghuchu, Tao) yang paling kental merawat tradisi leluhur, ramai-ramai ke beribadah di kelenteng.

Sanggar Agung, kelenteng baru di Pantai Kenjeran, di malam sin cia boleh dikata paling ramai pengunjung. Sejak pukul 18.00, umat Tridharma menyambut datangnya tahun baru dengan bersembahyang. Bakar hosua, jalan keliling di depan arca dewa-dewi.

“Intinya, kami berharap agar tahun yang baru ini membawa kemakmuran dan keselamatan bagi kita semua, bangsa Indonesia. Kita berdoa, semoga dijauhkan dari segala macam bencana,” ujar Gunawan kepada Saya. Pengusaha berusia 55 tahun ini datang ke Sanggar Agung bersama istri dan dua anaknya.

Malam Sin Cia di Kenjeran ternyata dinikmati pula oleh warga yang bukan keturunan Tionghoa. Apalagi malam Minggu, kawasan wisata ini padat pengunjung. Selain menikmati air pasang, warga melihat-lihat kompleks arca Buddha empat muka yang disirami cahaya keemasan. Sekelompok pelajar dan mahasiswa bahkan memanfaatkan even ini untuk membuat film dokumenter.

Sejumlah santri, pakai busana muslim, berpose bareng di bawah arca. Juga beberapa biarawati Katolik bersama rombongan bersantai sambil menikmati es kelapa muda. Sebuah pemandangan yang memperlihatkan kebersamaan umat lintas agama. "Kami penasaran dengan Sanggar Agung. Ternyata, suasananya menyenangkan,” ujar Sr Maria.

Lain lagi dengan Kelenteng Hong San Koo Tee di Jalan Cokroaminoto. Umat menggelar kebaktian bersama tepat pada pukul 00.00. Menurut Juliani Pudjiastuti, pemimpin kelenteng, tradisi ini sudah dilakukan sejak 10 tahun terakhir.

"Kami biasakan umat untuk berdoa bersama jam 12 tengah malam agar ada kebersamaan,” kata Juliani kepada Saya.

Usai mengelilingi altar dewa-dewi sebanyak sembilan kali, doa bersama pun dimulai. Semua umat pegang hosua, mengunjuk beberapa kali, lalu mengucapkan doa-doa tertentu. “Intinya, doa syukur dan minta keselamatan selama tahun baru. Kalaupun tahun yang lalu kita dapat banyak cobaan, kegagagalan, itu semua kita serahkan kepada Tuhan,” papar Juliani.

Wanita 50-an tahun yang duduk di kursi roda ini menambahkan, "Saya sendiri dapat banyak cobaan, kegagalan, dan macam-macam. Apa yang kita buat untuk kelenteng ini kadang ada saja yang kecam. Tapi semuanya kita serahkan ke Tuhan. Jadi, tahun baru ini merupakan saat untuk merenung.”

Karena itu, tidak ada keramaian macam atraksi barongsai, liang liong, petasan, orkes dangdut, dan hiburan lain. Umat Tridharma, dan warga Tionghoa umumnya, memilih untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sebelumnya, pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee mengadakan bakti sosial berupa pembagian bahan makanan kepada warga kurang mampu di sekitar Jalan Cokroaminoto.

IMLEK DI GEREJA

Suasana Sin Cia 2558 pun terasa di Gereja Katolik Ngagel. Umat mengelar misa bernuansa Tionghoa. Pastor, petugas liturgi, paduan suara, serta sebagian umat mengenakan busana khas Tiongkok. Aksesoris di dalam dan luar gereja didominasi warna merah, lengkap dengan lampion.

Bukan itu saja. Musik liturgi pun didominasi dengan lagu-lagu bertangga nada pentatonik Tiongkok. Ervinna, penyanyi pop terkenal pada 1980-an, membawakan beberapa lagu rohani bernuansa Tionghoa dalam misa yang dipimpin Romo Andreas Andre Nurcahyono, Pr. itu. Namun, misa tetap dalam bahasa Indonesia seperti biasanya.

“Sebab, romone gak iso boso Mandarin,” ujar Romo Andre yang didampingi Romo Paul Klein, S.V.D. (Malang).

Menjelang berkat penutup, Romo Andre mengumumkan bahwa semua umat akan mendapat angpao. Tepuk tangan pun menggema. “Tapi yang dapat uang hanya anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun. Yang lain angpaonya jeruk. Lumayan kan,” ujar Romo Andre disambut tawa sekitar 2.000 jemaat.

Di sudut gereja, Panitia Imlek menyiapkan pohon angpao. Amplop kecil berwarna merah pun bergelantungan. Kontan saja umat ramai-ramai berebut angpao. Ternyata, isinya bukan uang, melainkan ayat-ayat Alkitab.

"Saya kira uang, makanya saya ambil tiga amplop. Hehehe...,” kata Yosef, mahasiswa dari luar Jawa.

17 February 2007

Pelukis Jumaadi Pulang Kampung


FOTO: Jumaadi dan istri di depan Rumah Budaya Pecantingan, Sidoarjo.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Setiap tahun JUMAADI pulang kampung di Desa Sekardangan, Sidoarjo. Jumaadi pelukis yang tinggal bersama istrinya, bule Australia, SIOBHAN CAMPBELL, di Sydney. Ritual pulang kampung ini selalu dilakukan pada awal tahun. Macam ‘kewajiban’ untuk menengok ayah bunda di kampung halaman.

“Di sini saya menemukan kedamaian,” ujar pria kelahiran Sidoarjo, 25 September 1973 itu, kepada saya di RUMAH BUDAYA PECANTINGAN.

Sanggar ini dibuat Jumaadi untuk pelatihan, workshop, apresiasi seni. Dia lebih suka seni budaya tradisional warisan nenek moyang. Pecantingan ini pernah terkenal di Sidoarjo, bahkan pemusik SAWUNG JABO, INISISRI, bikin workshop dan berlatih di sana. Bupati WIN HENDRARSO dan pejabat-pejabat Sidoarjo pun pernah mampir dan kasih bantuan.

Kalau pulang kampung, Jumaadi tidak sekadar jalan-jalan atau tidur-tidur saja. Sejauh yang saya amati, Jumaadi selalu bikin program seni budaya. Pameran. Workshop. Diskusi. Studi banding (kayak wakil rakyat hehehe..). Jumpa pers. Gelar seni. Makan rujak. Singkatnya, Jumaadi ingin menghidupkan kesenian di Sidoarjo, Surabaya, dan Jawa Timur umumnya.

“Nggak usah muluk-muluk, kita bisa bikin kegiatan sederhana. Misalnya, workshop membuat wayang rumput, wayang daun, wayang kertas,” ujar bekas pekerja di Pusat Pendidikan dan Lingkungan Hidup, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, ini.

Awal 2007 ini, seperti biasa, Jumaadi pulang kampung. Dia bikin banyak program, termasuk jalan-jalan ke Bali, Jogja, Bandung, Surabaya... menemui teman-teman lama di Indonesia. Yang paling menonjol adalah pameran tunggal di Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL), Jalan Darmokali Surabaya. saya nilai dia pintar diplomasi dan lobi, sehingga beroleh peluang berpameran di CCCL. Padahal, seniman-seniman Surabaya atau Jawa Timur saya lihat sangat jarang pameran di sana. Jumaadi alias GEPENK sudah dua kali di CCCL.

Nah, tahun 2007 ini Jumaadi menggelar karya-karya seni rupa khasnya. Dia pakai kertas buku bekas (berbahasa Inggris) sebagai medium untuk mengambar. Pakai tinta biasa. Objeknya naif, simpel, kayak anak-anak. Gambar tentang perempuan Indonesia, bapak-ibu tani, peternak, alam desa... begitu-begitulah.

Gaya lukisan Jumaadi sejak dulu memang begitu. Baik itu pakai medium papan/tripleks, kanvas, instalasi, kertas, objek lukisannya, ya, soal alam dan manusia di Indonesia, khususnya Jawa. "Saya memetakan memori masa kecil saya,” jelas Jumaadi kepada saya.
Sebagai perantau di Australia, meski punya istri bule setempat, Jumaadi tetaplah anak Sidoarjo ndeso. Ingatan-ingatan semasa kecil ini tak akan pernah hilang.

Bebunyian, gemerisik pepohonan, pengalaman sebagai anak gembala, main-main rumput, bikin wayang-wayangan, nonton ludruk, wayang kulit, keserhanaan manusia.... Semua itu terekam dengan jelas di memori Jumaadi. Lalu, ketika dia menggeluti hidup di negara lain, yang serba modern, iklim lain, bahasa beda, gaya hidup kontras... terjadilah pergumulan dalam diri Jumaadi. Sadarlah dia bahwa dia hanya ‘numpang hidup’ di Australia. Jiwa dan raganya toh tetap Indonesia, tetap arek Sidoarjo ndeso.

Ketika Jumaadi pulang kampung, dia lihat wajah kampung halamannya berubah. Pembangunan fisik di Sidoarjo sangat pesat. Puluhan, bahkan ratusan hektare sawah di Sekardangan dan sekitarnya, sudah berganti menjadi perumahan lingkar timur. Banyak muncul penduduk baru yang tidak saling kenal. Orang-orang yang asal usulnya macam-macam. Rakyat Sekardangan yang dulunya petani kini tak jelas lagi pekerjaannya. Sawah-sawah dijual. Manusia makin mata duitan. Acara cangkrukan, main-main, ngobrol, hampir tidak ada lagi. Semua orang sibuk, sibuk, sibuuuuk.

Anak-anak sekarang pun beda dengan masa kanak-kanan Jumaadi pada 1970-an dulu. Anak sekarang tak kenal sapi, kerbau, bebek, itik. Main-main di sawah? Tak mungkin lah. Sawah kan sudah jadi perumahan, permukiman penduduk. Wayang suket, wayang daun, wayang ngamen, wayang kulit dan kesenian tradisional lain? Juga tidak ada lagi.

Anak-anak sekarang main PS, lihat televisi, ikut les, main internet. Hiburannya musik industri, suka infotainmen, gaya hidup kelas menengah-atas. Mereka lebih kenal Peterpan, Ungu, Letto, Samsons dan nama-nama beken di televisi. Artis tradisional malah jadi bahan tertawaan belaka.

Maka, setiap kali berlibur di kampung halamannya, Sidoarjo, Jumaadi bak kehilangan orientasi. Dia seperti tak kenal lagi kampungnya, berikut budaya, tradisi, cara ungkap, masyarakat di desanya. Toh, Jumaadi ingin terus menghidupkan memorinya, antara lain dengan cara membuat pergelaran wayang ngamen, wayang suket, wayang daun, dongeng, dolanan... di Rumah Budaya Pecantingan.

Sebagai bentuk solidaritas untuk Jumaadi, teman-teman seniman, anak-anak kampung, pejabat, warga biasa, datang menonton. Senang karena seni tradisi lama bisa hadir lagi di ruang publik.

Masa liburan Jumaadi paling lama satu bulan. Setelah kembali ke Australia, rumah budaya di dekat (bekas) sawah Sekardangan itu pun sepi lagi. Acara dolanan anak-anak, dongeng, wayang anak-anak, serta semua seni khas masa kecil Jumaadi pun tidak digelar lagi. Rumah Budaya Pecantingan pun lengang. "Saya akui sulit menghidupkan Pecantingan kalau Mas Jumaadi nggak di sini,” ujar SUHARI, adik kandung Jumaadi, yang selama ini mengelola Rumah Budaya Pecantingan.

Terang saja sulit karena konfigurasi budaya sekarang sudah jauh berbeda. Anak-anak sekarang, masyarakat, seniman, punya selera dan kesibukan masing-masing. Kesenian lama yang ditawarkan Jumaadi setiap kali pulang kampung, saya nilai, sebetulnya tidak menjadi kebutuhan rohani anak-anak dan manusia masa kini di Sekardangan. Dia lebih sebagai ungkapan nostalgia seorang anak desa di Sidoarjo masa lalu yang bernama Jumaadi.

Rupanya, Jumaadi yang tinggal menetap bertahun-tahun di Sydney, Australia, kecewa berat dengan Indonesia sekarang. Dia tak menemukan lagi apa yang pernah sangat disukainya pada masa anak-anak dan remaja. Karena kesenian itu (nyaris) punah, ya, Jumaadi pun bikin sendiri di sanggarnya.

Dus, guncangan budaya macam ini sejatinya selalu dialami siapa saja, termasuk saya. Hehehe....

KBIH Mabruro Terbesar di Jawa Timur

YAYASAN MABRURO, KELOMPOK BIMBINGAN IBADAH HAJI (KBIH) DI PERUMAHAN PURI SURYA JAYA B2/19 GEDANGAN, KABUPATEN SIDOARJO, BENAR-BENAR FENOMENAL. KINI, MABRURO SALAH SATU KBIH TERBESAR DI INDONESIA.

Pada musim haji kemarin, 31 Desember 2006, Yayasan Mabruro membawa dua kloter jemaah, sekitar 900 orang. Dua kloter dari Kabupaten Sidoarjo diborong oleh Mabruro. Luar biasa!

Ini prestasi hebat mengingat Yayasan Mabruro tergolong KBIH baru. Mabruro baru menyelenggarakan ibadah haji pada 1995. “Waktu itu Yayasan Mabruro baru bisa memberangkatkan 50 orang. Sangat sedikit, satu bus saja kurang,” ujar WASIS, alumnus Yayasan Mabruro.

Tapi, berkat marketing profesional, sosialisasi yang konsisten, pertumbuhan Mabruro sangat bagus. Tahun berikut, 1996, jemaah haji meningkat menjadi 100 orang alias naik 100 persen. Kenaikan selalu drastis, sehingga tahun 1998 sudah 200 orang. Kini, jemaah yang diurus Mabruro bukan lagi dalam hitungan bus, tapi kloter. Jangan heran, jemaah Mabruro paling menonjol saat pelepasan di kantor Bupati Sidoarjo.

Di balik Yayasan Mabruro terdapat nama-nama kiai kondang. Di antaranya, KH MASDUQI MAHFUDZ, KH KHOZIN MANSYUR, KH LUTFILLAH MASDUQI, KH SALIM IMRON, H ABD WAHAB HASAN. Para pengelola selalu mengatakan, sukses yang diraih KBIH-nya tak lepas dari doa para kiai. Allah SWT memberikan barokah berlimpah karena yayasan ini bekerja sungguh-sungguh, amanah, bisa dipercaya.

ABD WAHAB HASAN, ketua Yayasan Mabruro, menyebutkan, pihaknya mengelola KBIH ini dengan pendekatan yang berbeda dari mengelola biro perjalanan wisata biasa. Mengurus para tamu Allah ke Tanah Suci butuh pendekatan khusus. “Kami memadukan dua konsep,” kata Wahab Hasan.

Konsep pertama adalah aspek ibadah. Ini sangat ditekankan pengurus kepada semua komponen yang terkait dengan Yayasan Mabruro, mulai petugas pendaftaran, hingga pembimbing ibadah haji. Sadar bahwa konsumen Mabruro adalah tamu-tamu Allah, papar Wahab, pelayanan dilakukan dengan istimewa.

Konsep kedua, duniawi.

“Kami berkewajiban memberikan pelayanan secara profesional dan optimal,” ujar Wahab. “Bila Anda sibuk, cukup telepon kami. Kami akan datang ke rumah Anda, dan kami akan mengurusnya sampai selesai.”

PARA haji yang pulang dari tanah suci menjadi juru bicara sekaligus ujung tombang ‘marketing’ Yayasan Mabruro. Sistem gethuk tular ini sangat efektif. Naik haji di luar KBIH--murni Departemen Agama--baik-baik saja, tapi akan lebih baik kalau ditangani KBIH. “Kita lebih diperhatikan. Pelayanannya sangat personal,” ujar H AHMAD, salah satu alumni Yayasan Mabruro.

Pengalaman berkesan juga dirasakan H WASIS. Officer in charge Bandara Juanda ini pada 1998 dipercaya menjadi ketua regu jemaah haji Yayasan Mabruro. Menurut Wasis, kelebihan sekaligus daya tarik utama Yayasan Mabruro adalah perhatian pada semua anggota rombongan. Jemaah dibagi dalam regu-regu kecil, masing-masing 10 orang.

Seorang di antaranya dipercaya sebagai ketua regu. Ketua regu ini jauh-jauh hari sudah digembleng (istilah H Wasis ‘didoktrin’) untuk memberikan perhatian dan pelayanan kepada anggota regunya semaksimal mungkin.

“Melakukan ibadah untuk diri sendiri itu baik, tapi lebih baik lagi kalau Anda juga mengurus ibadah orang lain,” kata Wasis kepada saya. Tanggung jawab ketua-ketua regu ini berlangsung sejak pelatihan (manasik), kemudian pemberangkatan, asrama haji, Tanah Suci, hingga pulang ke tanah air. Apa pun keluhan dan kondisi regu harus segera ditangani dengan sebaik mungkin.

Di atas ketua regu, Yayasan Mabruro membentuk ketua-ketua rombongan. Satu rombongan terdiri dari lima regu. Ibarat komandan, ketua rombongan ini selalu berkoordinasi dengan para ketua regu. Diskusi, laporan, informasi seputar ibadah... selalu dibahas setiap saat.

Di atas ketua rombngan, ada ketua kloter. Ketua kloter ini harus sangat berpengalaman karena dia menangani jemaah dalam jumlah sangat besar.

Berkat ‘doktrin’ yang keras, ditambah motivasi mereka semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT, menurut pengamatan Wasis, semua kepala regu Yayasan Mabruro ini bekerja keras di Tanah Suci. Sepuluh anggota regu diusahakan agar tidak memisahkan diri, apa pun alasannya.

“Kalau ada yang belanja, ya, semuanya ikut bareng-bareng. Makanya, kita di satu regu itu sudah seperti keluarga sendiri. Ke mana-mana selalu bareng-bareng,” ujar Wasis.

Selain itu, jemaah dilengkapi identitas khas Yayasan Mabruro, dan harus selalu dipakai selama menunaikan rukun Islam kelima itu. Baju Mabruro, kopiah Mabruro, tas Mabruro, kain ihrom Mabruro, jilbab dan slayer Mabruro, mukena Mabruro, dan ID Card lain bertuliskan Yayasan Mabruro.

“Di sana juga ada posko yang buka 24 jam untuk menampung dan mengurus keluhan-keluhan jemaah,” tutur Wasis.

Saat proses wukuf di Arafah dan Mina, KBIH ini juga menyediakan perangkat sound system berkekuatan besar untuk memandu para jemaah. “Kalau sudah selesai semua, kita juga dibawa tur atau rekreasi dengan bus khusus. Terus terang saja, banyak orang sering tanya, kok hanya Mabruro yang punya bus, kita kok tidak,” kata Wasis lalu tertawa kecil.

15 February 2007

Pelestari Wayang Potehi di Surabaya


MUDJIONO [49 tahun, foto] SUDAH 25 TAHUN MENJADI SE HU (DALANG POTEHI) DI KELENTENG HONG TEK HIAN, SURABAYA. DIA MENGGANTUNGKAN HIDUP DARI WAYANG BONEKA ASLI TIONGKOK ITU.

Empat kim choa (kertas merah bertulis sesanti huruf Tionghoa) yang tergantung di empat sudut tonil dijumput MUDJIONO lalu dibakar. Ritual itu menjadi tanda pertunjukan Potehi selama dua jam sejak pukul 12.00 itu usai.

MUDJIONO, sang dalang alias se hu langsung undur dari belakang tonil. Begitu juga seorang pemain yang menjadi pembantu dalang (ji jiu) dan tiga pemusik yang disebut au tay. Kelimanya anggota LIMA MERPATI, grup wayang potehi terkenal di Surabaya.

Kostum berwarna kuning kunyit dilepas dan dilipat. Wayang berbentuk boneka yang berwujud manusia dan hewan berukuran 40 centimeter, masuk kotak besar berukuran 100 x 75 x 50 cm. Alat-alat musik diletakkan atau digantung. Ada or wu (semacam rebab), dong ko (semacam tambur), sia lo (semacam kendang), tua lo (semacam canang), alat tiup suling dan terompet serta song chen (gitar tiga senar).

Usai menggelar pertunjukan rutin di kelenteng yang biasa dikenal dengan nama Kelenteng Dukuh, Mudjiono tak langsung pulang. Bersama timnya, ia biasa membicarakan jadwal manggung yang mulai padat sejak awal Februari 2007.

Selain harus bermain di kelenteng atas permintaan umat Tri Dharma yang menitipkan nazarnya, Mudjiono mulai padat tanggapan. Dari buku bertulis tangan tentang tahapan adegan-adegan cerita Potehi, mereka berlima membicarakan hal-hal lain yang mungkin harus dipelajari atas permintaan penanggap.

"Penanggap kini juga sering meminta kami memasukkan hal baru. Seperti lagu campursari yang harus dimainkan au tay," kata Mudjiono yang tinggal sekitar 500 meter dari kelenteng.

Sehari-hari hidup Mudjiono tak bisa lagi lepas dari Potehi. Pria asli Kampung Dukuh itu mencintai Potehi sejak kecil. Saat masih sekolah dasar, perjalanan pulang sekolah yang melintasi kelenteng membuatnya suka mampir melongok permainan Potehi.

Saat itu, sang se hu masih asli keturunan Tionghoa, bukan pribumi dan muslim seperti dirinya. “Namanya GAN CO CO. Ia tak bisa sedikit pun berbahasa Indonesia. Ia suka membiarkan saya memainkan wayang dan alat musik usai pertunjukan,’’ kata Mudjiono.

Siang itu juga membiarkan David Yulianto (6), anak kampung yang mengubek-ubek kotak penyimpan wayang. ’’Persis begitulah saya dulu. Dari ngglibet dan jadi suruhan GAN CO CO untuk beli rokok atau makanan, saya akrab dengan Potehi,’’ kenang Mudjiono.

Mudjiono kecil pun mencintai tontonan yang memainkan epos zaman kerajaan di Tiongkok itu tanpa terasa. Ia berani nyantrik mulai belajar memainkan semua alat musik. Dari hanya melihat gurunya yang meninggal 10 tahun lalu dalam usia 82 itu mentas, 15 cerita Potehi dikuasainya. Tahu-tahu Mudjiono bisa mentas sejak SMP. ’’Saat itu ada dalang lain yang harus mentas di kelenteng lain. Gan Co Co minta saya gantikan,’’ kata Mudjiono, yang sudah menekuni profesi sebagai se hu selama 25 tahun.

Dari rasa cinta itulah, Mudjiono berani menggantungkan hidupnya dengan hanya menjadi se hu. Dari tanggapan di luar kelenteng, baik dalam kota maupun luar kota yang bertarif Rp 2-5 juta, Mudjiono kebagian 30 persen, sementara ji jiu dan au tay bisa mendapat bagian 11-15 persen dari nilai tanggapan.

Meski hanya cukup untuk hidup sederhana dengan Munipah dan satu anaknya, Mudjiono bertekad bakal setia menjadi se hu hingga akhir hayat seperti gurunya. ’’Meski tak pernah bisa berbahasa Tionghoa, guru saya pernah miris apakah Potehi bakal lestari. Saya ingin tak membuatnya resah. Ini bakti saya untuk dia juga,’’ kata Mudjiono yang mulai mengader se hu Potehi.

Edi Sutrisno, dalang potehi muda, pelestari budaya klasik Tiongkok di Surabaya.

Di belakang Mudjiono yang tergolong barisan se hu (dalang potehi) senior, ada EDI SUTRISNO, 36 tahun. Melihat kiprah se hu muda ini, rasanya keliru kalau membayangkan Potehi bakal punah.

Petilan (cuplikan) lakon San Pen vs Ban Kuang dipentaskan Edi Sutrisno di Kelenteng Hong Tek Hian, Rabu (14/2/2007) siang, dalam dua jam. Kopi yang tersedia di meja dekat tonil ia seruput untuk menghapus penat karena memainkan tangan dan berdialog mewakili puluhan tokoh.

Dari raut mukanya, pemuda dari Jl Dukuh tak jauh dari kelenteng itu tampak lega karena bagi seorang se hu, Edi dianggap telah menyenangkan dewa-dewa. ’’Meski atas tanggapan umat kelenteng yang bernazar, sejatinya Potehi digelar untuk dewa. Makanya kalau pentas lancar, saya amat lega karena tontonan ini juga bernilai sakral,’’ kata Edi.

Untuk kemarin, Edi menjadwalkan bermain dua kali. Satu petilan yang lain telah dimainkan sebelumnya oleh Mudjiono, seniornya. Dalam sehari, bisa saja Edi bermain hingga tiga kali dalam petilan berbeda. Jika minimal sekali sehari satu petilan dimainkan, satu lakon utuh akan bisa tuntas dalam dua minggu.

Karena harus mentas saban hari, Edi pasti terlihat di kelenteng Jl Dukuh itu seolah tak kenal waktu. Kewajiban itu bukan justru membuat Edi terbebani, tapi suami Amin Khoiriah itu merasa panggilan jiwanya menuntunnya setia menjadi se hu seperti Mudjiono atau Gan Co Co.

Seperti Mudjiono, Gan Co Co juga guru Edi. Orang pertama yang memberinya kecintaan kepada Potehi begitu diidolakannya hingga ia ingin bisa mencontoh permainan maut Gan Co Co. “Ia se hu hebat, tapi rendah hati yang pernah saya temui,” kata Edi, yang juga berguru kepada Mudjiono.

Seperti Mudjiono yang ngglibet saat Gan Co Co bermain, Edi belajar ndalang dengan menjadi au tay (pemain musik Potehi) lebih dulu. Mulai menyertai Gan Co Co dan Mudjiono mentas, pada 1995, atau saat masih berusia 24 tahun, Edi naik tonil untuk menemani Mudjiono bergantian ndalang.

Sejak reformasi, Lima Merpati memang bisa leluasa mentas di luar kelenteng. Sebelum itu, izin tanggapan di luar amat ribet. Begitu go public-nya, sampai-sampai pada 2002, PT Jayatu Cakrawala Film dan Video pernah mengajak Lima Merpati membuat 26 espisode Potehi untuk ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Edi juga terlibat.

Sebagai satu dari sekitar 30-an orang pendukung Potehi di kelenteng itu, Edi harus siap mentas di luar sewaktu-waktu. Beberapa tim yang setiapnya terdiri dari lima orang bisa pecah mentas ke berbagi kota.

Dalam bulan Februari 2007 ini, sudah ada dua tim yang dikirim kelenteng memenuhi tanggapan ke Bogor dan Jakarta. "Ada yang ke Semarang untuk mentas dengan Pak Mudjiono,’’ kata Edi, yang harus menjadi se hu, ji jiu (pembantu dalang), atau au tay.

Saat tanggapan itulah, penghasilannya bisa lebih besar. Namun, bukan lantaran itu jika Edi memilih se hu sebagai profesi tetapnya sejak 1995, bukan karyawan atau wiraswasta yang pernah ia lakoni. Bagi Edi, Potehi telah menuntun kehidupan ayah dua anakini menjadi lebih baik.

Menjadi se hu dalam lingkungan kelenteng yang bernilai ritual juga membuatnya tahu lebih banyak makna hidup. "Setiap lakon, pasti ada pesan moral. Sebagai se hu, saya dituntut tak hanya sebagai penggerak wayang-wayang itu sebisa-bisanya diterapkan dalam hidup saya sendiri. Jika mampu, ada kepuasan yang tak terbeli," ungkap Edi.

Dalam lakon San Pen vs Ban Kuan, misalnya, San Pen yang baik akhirnya mengalahkan Ban Kuan yang menjadi tokoh jahat, pesannya diserap Edi berkali-kali.

Setelah kopi tandas dan sebatang rokok tinggal putungnya, Edi bersiap memainkan petilan selanjutnya. Mengawali pentas, khim choa dibakar Edi. Baunya khas menyeruak tonil yang sempit. “Ini doa agar setan jahat pergi selama pentas,” bisik Edi.

TERKAIT
Wong Jawa lestarikan wayang potehi

14 February 2007

Arif Amaral Korban Negara Timor Leste



Jajak pendapat di Timor Timur (Timtim), yang melahirkan negara Timor Leste, membuat ARIF AMARAL terdampar di Jawa Timur. Arif kini berusaha survive dengan membuka warung sederhana di pinggir Jalan Raya Bandara Juanda, Gedangan, Kabupaten Sidoarjo.

Pria kelahiran Viqueque, Timtim, ini bernama lengkap Arif Satya Pramudya. Jawa banget. Tapi postur, kulit gelap, rambut ikan, bentuk rahang... jauh dari potongan Jawa.
Arif ini bicara dalam bahasa Indonesia logat Tetun, bahasa daerah di kawasan Timor Timur dan Timor Barat. "Saya ini asli Timtim, tapi sejak kecil sudah ikut orang Jawa di Dili. Saya Islam, sementara saudara-saudara saya Katolik," ujar Arif kepada saya.

Ikut orang Jawa, membantu berjualan di ibukota Timtim, membuat pria kelahiran 17 Juli 1960 ini mampu membuka usaha sendiri. Kemampuan memasak mi, menyeduh kopi, tak ayal merupakan hasil magang dari orang Lamongan itu. Asal tahu saja, orang Timtim asli, yang terbiasa berladang, memelihara cendana atau beternak, tidak biasa menjadi PKL seperti dilakoni Arif sekarang.

Nah, bagaimana Arif bisa terdampar di Jawa? Bujangan berusia 45 tahun ini niscaya akan bercerita dengan senang hati. Menurut dia, kasus jajak pendapat pada 1 Oktober 1999 yang mengubah dirinya, sekaligus membuat dia tercerabut dari akar budaya, Timor Loro Sae.

Namanya juga ikut orang Jawa, pakai nama Jawa, sejak awal Arif berdiri di pihak Indonesia (pro-integrasi). Ia pun kenal baik Eurico Gutteres, tokoh milisi integrasi.
Selang empat hari, 5 Oktober 1999, PBB mengumumkan jajak pendapat. Pro-integrasi kalah telak. Dan mulailah huru-hara, aksi bumi hangus, di tanah Timtim.

Arif dan beberapa kawannya mengungsi ke NTT, tepatnya Atambua kemudian Kupang. "Saya tidur di masjid Kupang," ujarnya, lirih.

Karena barang-barangnya masih tertinggal di Dili (kos-kosan), Arif ikut kendaraan Eurico Gutteres ke tanah asalnya. Ternyata, barang-barangnya masih selamat. "Semuanya saya bawa ke Jawa, kebetulan ada sedikit modal untuk usaha," tuturnya.

Singkat cerita, Arif kemudian lari ke Jawa bersama Valdo, mahasiswa asal Timor Leste di Malang. Sejak itu Arif sudah tidak pernah berpikir bakal kembali ke Timtim. Ia terlalu cinta Indonesia, sehingga mati-hidup harus berusaha di Indonesia, tepatnya Jawa Timur. Kendati punya relasi dengan orang-orang Jawa eks Timtim, Arif tidak bisa mengandalkan hidup dari mereka.

"Saya luntang-lantung selema empat tahun di Juanda sini. Untungnya, satpam kasihan sehingga saya diperbolehkan tidur di dalam kompleks Hotel Permata Juanda," kenang Arif seraya tersenyum.

Nahas masih berlanjut. Pada 1 Oktober 2003 Arif ditabrak sepeda motor di Sawotratap, Gedangan. Ini membuat pria Timtim ini dirawat lama di RSUD Sidoarjo. Ditambah masa penyembuhan, Arif praktis istirahat total selama sembilan bulan. Syukurlah, beberapa orang Jawa yang pernah dekat dengannya di Timtim bahu-membahu membantu biaya pengobatan.

"Sampai sekarang kaki saya masih bengkok," ujar Arif Amaral. Amaral adalah marga ayahnya. Arif kemudian menunjuk kaki kanannya kepada saya.

Masa pahit itu sudah berlalu. Kini, Arif membuka warung lesehan di kawasan Bandara Juanda, persisnya di depan kantor Badan Pengawasan Jatim setiap malam. Ia sengaja berjualan di atas pukul 19:00 untuk menampung para karyawan atau anak-anak muda yang ingin santai sambil cangkrukan.

Rata-rata pengunjung Warung Bung Arif selalu ramai, kecuali hujan. "Sekarang sudah lumayan, saya bisa jualan. Jadi, untuk hidup nggak masalah lagi," katanya seraya tersenyum.

Kapan pulang atau sekadar berlibur ke Timor Leste?

Ini yang sulit dijawab Arif. Selain kondisi Timtim sudah banyak berubah, dia tak tahu keberadaan sanak familinya. "Jualan saja di Juanda. Kalau ke Timtim mau kerja apa?

13 February 2007

PIG Project Gizikan Jazz Surabaya


Oleh Lambertus L. Hurek

Tempik sorak menyambut tiga pemusik terkenal negeri ini: INDRA LESMANA (pianika, piano), GILANG RAMADHAN (drum), PRA BUDIDHARMA (bas). Sabtu malam, 10 Februari 2007, tiga sekawan ini mengusung bendera PIG PROJECT. Nama projek jazz yang diambil dari inisial nama mereka: Pra, Indra, Gilang.

"Kami sudah kerja sama selama 21 tahun. Dan sejak 2006 kami kumpul lagi, buat projek. Sempat rekaman, main di festival,” jelas Indra Lesmana.

Tiga sekawan ini pada era 1980-an sempat bikin KRAKATAU, dengan vokalis TRIE UTAMI, populer di kalangan mahasiswa macam saya. Saya hafal nomor-nomor populer KRAKATAU. Sekarang KRAKATAU masih ada, tapi musiknya jazz eksperimen, jazz etnik, digawangi DWIKI DHARMAWAN.

Nah, malam itu, PIG PROJECT menghibur sekitar 500 peminat jazz asal Surabaya di Sidewalk Cafe, halaman Hotel Garden Palace. Tempatnya terlalu sempit, sementara peminat terlalu banyak, sehingga banyak yang tidak dapat tiket @ Rp 50.000. “Sayang juga karena konser jazz seperti ini jarang terjadi di Surabaya. Apalagi yang main itu kelasnya Indra, Gilang, Pra,” ujar ROEDHI POERNAMA, ketua C.TwoSix Jazz Community, kepada saya.

Apa boleh buat, malam itu sekitar 50 penggemar jazz terpaksa pulang dengan kecewa. Sementara sekitar 50 lainnya bertahan dengan menonton sambil berdiri dari jalan raya, Jalan Pemuda Surabaya. Indra Lesmana justru senang melihat banyak penonton di jalan raya.

"Saya senang karena yang menikmati jazz malam ini bukan hanya teman-teman di dalam, tapi juga di luar,” ujar Indra Lesmana, motor penggerak PIG PROJECT.

Berbeda dengan beberapa pergelaran sebelumnya, PIG menghadirkan musik jazz ‘bergizi’. Kelas berat. Jazz modern dengan sentuhan rumit, eksperimental, panjang. Durasinya rata-rata 15 menit. Tak ada satu pun nomor vokal ala Tri Utami, Ermy Kullit, Syaharani... macam konser sebelumnya.

PIG ini naga-naganya mau menunjukkan musik jazz beneran. Bukan jes-jesan yang ringan dan tanggung. Saya hanya ingat dua nomor: Footprint dan Impression.

Gilang Ramadhan, yang sempat memperkuat grup rock GODBLESS, selalu membuka nomor-nomor PIG PROJECT. Lalu, Indra atau Pra meningkahi. Kalau Indra Lesmana biasanya main piano, kali ini meniup sambil memencet pianika. Instrumen sederhana yang biasa dipakai di sekolah dasar itu dieksplorasi Indra Lesmana secara optimal. Hasilnya bagus sekali. Sementara Pra Budidharma, seperti biasa, tetap setia dengan fretless bass-nya. Masing-masing pemusik tampil dengan karakter yang kuat. Jam terbang di atas rata-rata membuat trio ini sangat matang.

Tampil habis-habisan dalam durasi panjang membuat Pra, Indra, Gilang, mandi keringat. Untung, mereka tak lupa bawa handuk putih panjang milik hotel. Selesai satu nomor, lap keringat bareng. Santai, akrab, ala konser-konser jazz umumnya.

Melihat penonton yang tegang, maklum asing dengan komposisi jazz modern, Indra berkata: “Sekarang satu nomor dari dalam negeri. Anda pasti kenal.” Lalu, dengan pianikanya Indra memainkan melodi BEGADANG, lagu dangdut ciptaan RHOMA IRAMA. Aplaus panjang. Penonton tersenyum simpul menikmati dangdut yang di-jazz-kan. Awalnya, melodi BEGADANG masih tampak jelas. Makin lama makin kabur, diganti improvisasi ala PIG. Ramuannya, ya, macam jazz modern juga.

FOTO: Pra Budidharma, basis favorit saya.

Di ujung acara, Indra memanggil BUBY CHEN, maestro jazz asal Surabaya. Malam itu pria kelahiran 9 Februari 1938 ini terlihat kurang sehat. Jalan harus dibantu tongkat dan perlahan-lahan. Indra turun dari panggung menjemput Om Buby.

“Beliau ini sahabat ayah saya, almarhum JACK LESMANA,” papar Indra Lesmana disambut tepuk tangan penonton. Cukup lama Buby Chen mencoba menemukan posisi duduk di balik piano listriknya. Indra dengan setia membantu. Lalu, Indra membisikkan nomor yang akan dimainkan dalam jam session.

Ajaib! Setelah memencet tuts piano, wajah Buby Chen sumringah. Sehat walafiat. PIG PROJECT kolaborasi dengan Buby, main nomor blues nan rancak.

Buby dan Indra sempat bikin penonton ketawa-ketawa dengan call and response. Indra meniup melodi via pianikanya, lantas Buby menirukan. Persis! “Kayaknya Indra mau ngetes pendengar Buby Chen. Alhamdulillah, masih bagus,” ujar Sutoyo, penonton asal Sidoarjo.

Malam kian larut. Gilang dan Pra turun. Tinggal Buby Chen dan Indra Lesmana yang memainkan sebuah encore untuk memenuhi permintaan penonton. Bagi saya, PIG PROJECT telah berhasil menyuguhkan makanan jazz lezat bagi komunitas jazz di Surabaya dan sekitarnya. Bahwa sebagian penonton ‘pusing’, ya, itulah sebuah tahapan dalam proses apresiasi jazz.

NTT Provinsi Seribu Pulau


Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi kepulauan. Ada tiga pulau utama, yakni FLORES, SUMBA, TIMOR--disingkat Flobamora. APOLY BALA, komponis musik liturgi asal Lembata, kemudian menciptakan himne syahdu berjudul FLOBAMORA. Lagu ini sudah dianggap 'lagu kebangsaan' warga Nusatenggara Timur di mana pun berada.

Selain empat pulau utama tadi, masih ada ratusan pulau kecil dan sangat kecil yang berada di perairan NTT. Belum ada data pasti berapa jumlah pulau kecil di
seluruh NTT. Seorang dosen Universitas Nusa Cendana, Kupang, pernah menyebut angka 2.000-an pulau.

Kecuali kabupaten di daratan Timor seperti Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, hampir semua kabupaten punya koleksi pulau-pulau kecil dan sangat kecil. Yang jelas, pulau-pulau kecil itu tidak berpenghuni, tidak dikelola, ibarat lahan tidur yang tidak berfungsi apa-apa.

Nah, Manggarai Barat merupakan kabupaten yang kaya gugusan pulau-pulau kecil. Di sana ada gugusan Pulau Komodo, yang di dalamnya termasuk Pulau Bidadari yang tengah naik daun itu. Selain Manggarai Barat dan Manggarai, kabupaten lain di Flores pun punya banyak pulau kecil. Kita tentu masih ingat Pulau Babi di Kabupaten Sikka, dekat kota Maumere, yang hilang setelah disapu gelombang tsunami beberapa tahun lalu.

Pulau-pulau kecil ala Babi atau Bidadari juga mudah ditemukan di Kabupaten Ende, Flores Timur, dan Lembata.

Pertanyaannya, kenapa ratusan pulau kecil di NTT dibiarkan telantar, tanpa penghuni? Bukankah pulau-pulau itu merupakan harta karun di depan mata? Kenapa tidak dikelola sebagai objek wisata seperti dilakukan Dewski di Pulau Bidadari? Ini tak lepas dari
persepsi masyarakat NTT (umumnya) yang kurang positif.

Pulau-pulau kecil itu sering dianggap sebagai 'pulau hantu', mistis, angker, misterius. Dan misteri pulau-pulau kecil itu sampai sekarang belum bisa disingkap oleh orang-orang Flobamora sendiri. Saya, yang kebetulan asli Flores Timur, berkali-kali mengetahui sendiri banyaknya warga yang hilang tak berbekas setelah mencoba menjejaki beberapa pulau kecil di kawasan Lembata dan Flores Timur.

Menggunakan perahu kecil, bercadik dua, warga Flores Timur yang umumnya orang pantai mencari ikan dengan peralatan sederhana. Cuaca buruk membuat perahunya nyasar ke kawasan Pulau Betar (bukan nama resmi, hanya nama populer di kalangan warga setempat). Mereka kemudian mencoba mampir ke Pulau Komba [alias Betar] sembari menunggu cuaca bagus. Hasilnya? Dua nelayan kampung itu hilang tak tentu rimbanya sampai sekarang.

"Betar minta korban. Mau bagaimana lagi? Kita pasrah, berdoa, minta misa ke pastor untuk mendoakan keselamatan arwah mereka," ujar warga. Ayah seorang dosen di Kupang termasuk korban misteri gugusan pulau tak bernama di NTT.

"Sampai sekarang kita tidak tahu sebab-musabab meninggalnya ayah saya. Yang jelas, dia bersama temannya hilang setelah cari ikan di Pulau Betar," kata dosen itu.

Peristiwa hilangnya para nelayan kampung ini bukan hal aneh bagi warga NTT, khususnya yang tinggal di kawasan pantai. Begitu seringnya, sehingga para sesepuh adat
membuat upacara khusus untuk mencegah terulangnya kasus serupa itu. Misa khusus--kebetulan Flores itu daerah Katolik--juga sering diadakan. Tapi, ya, tetap
saja muncul peristiwa nelayan lokal hilang di sekitar pulau-pulau kecil tak bernama.

Pertanyaannya, kenapa nelayan-nelayan sering hilang ketika hendak mencari rezeki di sekitar 'pulau liar'? Pemkab, apalagi pemprov, tidak pernah melakukan survei
atau penelitian khusus untuk menemukan misteri pulau-pulau kecil, berikut hilangnya para nelayan.

Tapi, secara logika kita bisa memberikan hipotesis sederhana. Ombak besar, cuaca yang cepat berubah ganas, sementara perahu nelayan sangat kecil. Bisa jadi nelayan-nelayan hilang disapu gelombang kendati mereka sangat pandai berenang.

Seharusnya pemda, dengan dukungan pemerintah pusat, bisa menjawab teka-teki yang telah berkembang menjadi mitos di kalangan warga NTT itu. Masih banyak lagi mitos dan spekulasi khas orang kampung yang membuat pulau-pulau itu selalu dijauhi warga setempat.

Bayangkan, ada yang bilang beberapa sesepuh adat menyebut pulau kecil semacam Pulau Betar di Flores Timur sebagai 'pulau dewa' yang pantang didatangi manusia.

Nah, di tengah kepercayaan primitif yang tidak ilmiah inilah, datang turis-turis dan investor bule yang melihat ratusan pulau kecil di NTT sebagai lahan investasi luar biasa. Memanfaatkan kebodohan warga dan pemerintah lokal, orang bule seperti Ernest Lewandowsky membeli pulau-pulau, misalnya Pulau Bidadari, menjadi objek wisata berkelas internasional. Geger, karena Dewski dianggap telah 'membeli' Pulau Bidadari dan menjadikannya sebagai sebuah 'negara dalam negara' di Indonesia.

Terlepas dari berbagai kontroversi, apa yang dilakukan Haji Mahmud dari Flores Barat serta Ernest Lewandowsky dari Inggris bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah pusat dan pemda NTT untuk memanfaatkan potensi alamnya demi kesejahteraan warga. Kita baru sadar bahwa Bidadari itu bukan pulau hantu, tapi pulau emas.

Ah, seandainya ratusan pulau di NTT disewakan selama sekian tahun (tidak usah dijual) kepada investor asing atau lokal.... Orang NTT tidak perlu merantau ke mana-mana, tetap terjerat dalam lingkaran kemiskinan.

SKM DIAN Koran Pelopor di NTT





Kota Ende, di tengah-tengah Pulau Fores, sudah tidak asing lagi dengan pers. Dan itu ada hubungannya dengan kegiatan misi Katolik yang dianggap paling sukses di Indonesia. Pastor-pastor SVD sejak dulu, sebelum kemerdekaan, sudah mengusahakan literatur atau bacaan-bacaan untuk jemaat.

Maka, didirikanlah Percetakan Arnoldus dan Penerbit Nusa Indah. Masih ingat buku TATA BAHASA INDONESIA karangan Prof. Dr. Gorys Keraf? Nah, itu salah satu terbitan Ende, Flores.

Pada 1973 kongregasi Societas Verbi Divini alias SVD mendirikan koran DIAN, terbit dua mingguan. Formatnya koran biasa (harian), berita keras, tapi dijilid sehingga mirip majalah. Hitam putih, 16 halaman. Lantas, format berubah menjadi tabloid, periode terbit menjadi mingguan. Jadilah surat kabar mingguan (SKM) DIAN.

Waktu masih mahasiswa, saya aktif mengisi kolom dan kirim berita untuk DIAN. Biasanya kolom tetap 'Sekenanya Saja' dan 'Asal Usul' di halaman dua. Saat itu saya banyak mengkritik rezim Orde Baru yang korup dan otoriter. Katanya, banyak pembaca yang suka karena saya menulis secara gamblang, berani, dan sederhana.

Sampai sekarang DIAN masih hidup, berdampingan dengan FLORES POS, koran harian. Bicara profesionalisme, saya rasa standar di DIAN atau luar Jawa umumnya masih jauh sekali dari pengertian 'profesional' yang sejati. Kenapa?

Berdasar pengalaman saya, menulis di DIAN itu bisa dilakukan siapa saja, dengan gaya apa saja, tanpa ada pakem atau format tertentu. DIAN membuka kesempatan yang luas kepada siapa saja untuk mengirim berita, kolom, artikel ilmiah populer, foto, dan apa saja. Kalau dianggap baik, ya, dimuat.

Tulisan saya mungkin dianggap baik sehingga selalu dimuat. Waktu itu masih pakai mesin ketik manual, kirim per pos, karena email belum ada atau sangat jarang. Berita telat dua pekan pun dimuat. Jadi, unsur aktualitas sulit dipenuhi DIAN masa itu. Saya tidak ikuti lagi sejak jadi wartawan di Surabaya, 1997.

Saya bersyukur mendapat kesempatan luas oleh redaksi DIAN. Dan, syukurlah, saya selalu dipercaya oleh sumber meskipun tidak pernah punya ID card atau kartu wartawan dari redaksi DIAN. Saya hanya bilang, saya mau menulis untuk DIAN, lalu tanya ini-ini-ini.

Sumber percaya saja karena saya sering nongol di DIAN, dan paling penting, saya tidak pernah minta amplop atau bingkisan, apalagi memeras narasumber. Sebagai mahasiswa, aktivis PMKRI, saya tergolong idealis hehehe…

Saya pernah tanya wartawan DIAN yang benar-benar karyawan, digaji layak, berapa orang. Tapi ternyata sulit dijawab. Lha, saya yang pengirim tetap (kontributor) pun dianggap wartawan DIAN, padahal tak dibayar. Kalau dimuat, ya, dapat sedikit honor untuk beli kertas dan pita mesin ketik.

Memang, DIAN banyak kelemahan, tapi saya harus angkat topi karena eksis terus, punya pembaca dan pelanggan setia, sejak 1973 sampai sekarang. Oh, ya, kebetulan ayah saya di Flores Timur menjadi agen DIAN selama bertahun-tahun. Karena itu, saya selalu baca sampai tandas berita-berita dan artikel di DIAN.

Oplahnya tidak besar, tapi awet. Dus, beda sekali dengan banyak media di Jawa yang oplahnya melejit, tapi tidak bisa bertahan lima tahun.

Salut untuk DIAN dan pers terbitan SVD di Flores. Para jurnalis senior DIAN macam Pak Frans Anggal, Pak Thom Wignyanta, Pater Edu Dosi, Pak Chris Nau boleh dikata merupakan 'guru-guru' pers saya di DIAN.

Setelah reformasi, terbit koran harian bernama FLORES POS. Pengelolanya, ya, sama juga dengan orang-orang DIAN. Maka, koran bersejarah di Flores dan Nusatenggara Timur itu pun punya saingan berat. Di Kupang pun muncul beberapa koran. Belum serbuan koran-koran Jawa dan Bali.

Apakah DIAN akan bertahan di tengah bisnis surat kabar yang kian ramai? Kita lihat saja.

10 February 2007

Inul Daratista Belum Habis




INUL DARATISTA pernah 'sangat berkuasa' di belantika musik dangdut Indonesia pada 2002-2003. Sebelumnya, dia membius penggemar dangdut di Jawa Timur. Goyanannya ngebor, berputar sangat cepat, eksotik, sangat menghibur. Suara Inul juga lumayan. Bisa membawakan macam-macam lagu.

Tapi, lama-lama ya orang bosan melihat goyangan Inul yang itu-itu saja. Muncul begitu banyak penyanyi dangdut dengan gaya lain, yang bahkan lebih gila. Inul pun redup pelan-pelan. Wanita asal Kejapanan, Gempol, Pasuruan--lahir 21 Januari 1979--ini pun buka karaoke. "Untuk persiapan ke depan setelah saya nggak bisa nyanyi lagi," ujar istri ADAM SUSENO ini.

Saya belum lama ini sempat nonton INUL DARATISTA di kawasan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Namanya juga wartawan, saya dapat peluang untuk ngobrol dengan Inul di kamar ganti, belakang panggung. Hmmmm... parfum si Inul ini ternyata sangat harum semerbak. Terus terang, hidung saya tidak kuat menghirup aroma yang sangat tajam itu.

Rata-rata artis kita memang sengaja membungkus tubuhnya dengan parfum untuk menutupi bau keringat. Bedak tebal. Busana panggung ketat untuk menunjang gerakan Inul yang dinamis.

"Tanggapan selalu ada lah. Rezeki itu kan sudah diatur sama Allah. Nggak akan lari ke mana-mana," ujar Inul Daratista kepada saya.

Dia membantah pendapat bahwa sosok Inul sudah habis sama sekali di dunia hiburan. "Kalau habis kenapa kok aku masih ditanggap? Yang nonton kan masih banyak, termasuk sampeyan. Hehehe," tukasnya.

Sejak dulu Inul memang akrab dengan wartawan Jawa Timur, sehingga bicaranya ceplas-ceplos. Kayak teman sendiri. Dia pun kerap minta umpan balik (feed back) atas penampilan maupun suaranya. Tentang goyangannya, Inul bilang sudah jadi ciri khas. Tapi bisa disesuaikan dengan situasi.

"Aku gak berlebihan kok. Siapa bilang pornoaksi?" kata wanita bernama asli Ainur Rochimah ini.

Setelah bicara santai sekitar 15 menit, Inul pun bersiap-siap naik panggung. "Aku nyambut gawe sek, ya. Nanti aja ngomong-ngomong maneh," ujar Inul.

Keramahannya masih seperti dulu. Sama dengan ketika saya meliput penampilannya di kafe-kafe Surabaya, saat dia belum ngetop. "Pokoknya, yo opo carane penonton senang."
Setelah dipanggil pembawa acara, Inul Daratista naik panggung. Sekitar 500 penonton (sedikit karena ini acara intern sebuah perusahaan swasta) mengelu-elukan Inul. Sebagian besar ibu-ibu rumah tangga dan remaja kampung. Buruh pabrik tak sedikit.

Si Inul ini tidak langsung nyanyi, tapi berinteraksi dulu dengan penonton. Banyolan-banyolan khas Jawa Timur, pakai bahasa ngoko.

"Siapa yang mau goyang sama saya? Hayo? Aku wis nafsu, rek," kata Inul. Hadirin cekakan.

"Maksude nafsu goyang, bukan nafsu yang lain-lain. Siang-siang kok ngeres!" tambah Inul.

Cukup banyak lagu yang dibawakan Inul, diiringi ben lokal. Saya ingat beberapa seperti KOCOK-KOCOK, JUJUR (Radja), BANG THOYIB, GOYANG INUL, MABUK JANDA, CUCAKROWO. Mungkin karena siang-siang, goyangan Inul tak seheboh di kafe pada awal 2000an. Dia lebih matang, bisa mengendalikan diri.

Inul kemudian memanggil seorang penonton pria ke atas panggung. Pria ini pemalu. Tapi berkat provokasi Inul, 'kemaluan' si pria berangsur-angsur hilang. Lagu GOYANG INUL. Aha, Inul tak segan-segan mengetuk pantat si pria yang goyangannya kaku.

"Goyang kok loyo. Masa, kalah sama aku. Semangat dong," celetuk Inul.

Tak puas hanya di atas panggung, Inul turun panggung untuk menyalami penonton. Semua memang berebut menyalami 'ratu ngebor' ini. "Terima kasih, terima kasih. Berkat dukungan kalian, Inul bisa jadi seperti ini," ujar Inul.

Lagu terakhir, apalagi kalau bukan Cucakrowo. "Main F, Mas" perintah si Inul kepada ben pengiring. Yang dimaksud tentu kuncinya F (satu mol).

MANUKE-MANUKE CUCAKROWO
CUCAKROWO DOWO BUNTUTE...."


Ah, Inul Daratista belum habis.