29 December 2007

Tempat ziarah Puhsarang makin sekuler


Dari Sendangsono, Kulonprogo, Jogjakarta, saya menyempatkan diri mampir ke Gua Maria Lourdes di Puhsarang, Kecamatan Semen, Kediri. Banjir dahsyat menerang tanah Jawa gara-gara Bengawan Solo meluap. Macet empat jam, Cak!

Akhirnya, saya tiba di Puhsarang sekitar pukul 02.00 WIB, Kamis [27/12/2007]. Hujan masih cukup deras. Ternyata, saya tidak sediri. Ada sekitar 10 anak muda asal Blitar dan Puhsarang merenung di depan Gua Maria lama, persis di depan gereja antik ala Majapahit itu. Juga empat orang Tionghoa berdoa di pelataran gereja tua.

Puhsarang terkenal karena gereja antik buatan 1930. Di sini pun sejumlah orang Jawa menerima baptisan Katolik. Puhsarang kemudian menjadi terkenal di Jawa Timur setelah Uskup Surabaya Mgr Johanes Hadiwikarta [RIP] meresmikan pusat ziarah rohani sekitar lima hektare di samping kompleks gereja tua pada 1 Januari 2000. Ada gua raksasa berikut patung Bunda Maria berukuran jumbo. Juga areal jalan salib dengan arca-arca kelas tinggi dan... sangat mahal.

Di tengah malam dingin, saya berdoa rosario sampai tuntas. Ini kebiasaan masa kecil di Flores yang agak saya alpakan karena berbagai alasan: capek, tidak fokus, lihat bola di televisi, dengar musik, baca buku. Singkatnya, MALAS! Di sinilah pentignya ziarah ke tempat-tempat macam Puhsarang atau Sendangsono.

Kita diingatkan bahwa 'manusia itu tidak hanya hidup dari roti saja'. Setiap saat kita dipanggil Tuhan, sehingga kita perlu memberikan waktu untuk Tuhan. Dulu, saya suka mencibir orang-orang Surabaya yang doyan ziarah ke Puhsarang, Sendangsono, bahkan Lourdes, Palestina, atau Vatikan. Tapi sekarang, setelah ziarah ke beberapa tempat, saya akhirnya insaf dan menyesali kata-kata saya dulu.

Siang hari, meski malamnya kurang tidur dan stres gara-gara jalan raya Jawa Tengah-Jawa Timur putus, saya merasa segar. Lalu, saya berkeliling kompleks Puhsarang, melihat berbagai detail di sana. Karena baru saja pulang dari Sendangsono [tiga hari], referensi saya tentang Sendangsono yang dibangun pada 1928 sangat kuat. Saya pun membanding-bandingkan kedua tempat ziarah bernama sama itu: Maria Lourdes.

Wah, bedanya luar biasa!

Suasana di Puhsarang lebih mirip tempat wisata atau piknik. Kebetulan saat itu saya melihat lebih banyak orang yang jalan-jalan, foto-foto, tertawa, bercanda, ngobrol, daripada berdoa. Peziarah yang khusyuk berdoa memang ada, tapi pelancong hehehehe malah lebih banyak.

"Ayo, ayo... senyum dong! Gayanya yang keren gitu lho!" teriak seseorang di stasi kedua jalan salib. Rombongan delapan orang itu lalu tertawa bersama. Yah, jauh-jauh dari Jakarta [logatnya jelas khas Betawi] hanya untuk mejeng di arca-arca jalan salib.

Seorang pria 50-an tahun pun uring-uringan karena konsentrasi doanya terganggu. Saya cuek saja, berdoa jalan salib versi pendek. Tidak mau tahu kalau di sekitar saya banyak pelancong yang menghabiskan waktunya di kompleks ziarah Puhsarang.

Di stasi keduabelas lain lagi suasananya. Ada sepasang remaja berpacaran mesra. Saling pegang, cium-ciuman, cekikikan. Padahal, saya berada di depan stasi itu. "Pacaran kok di tempat ziarah. Apa tidak ada tempat lain di Kediri? Kenapa bercumbu rayu justru ketika ada sejumlah pengunjung berdoa?" begitu kata saya dalam hati.

Syukurlah, sekitar 10 menit kemudian seorang satpam menghalau secara halus muda-mudi itu.

Dari lokasi jalan salib, saya berjalan ke arah pondok rosario di pinggir tempat ziarah. Banyak pohon mangga, tetanaman hijau, kompleks yang terawat. Lagi-lagi, suasana hening dan meditasi kurang terasa. Sekitar 10 anak muda, ternyata orang Flores Barat, tertawa-tawa sambil jalan. Juga memetik mangga. Juga foto-foto bersama. Tidak ada doa bersama.

Flores bukan Flores, Jawa bukan Jawa, ya, sama saja. Tidak ada jaminan bahwa orang Flores lebih religius ketimbang bukan Flores. Malah mahasiswa-mahasiswa sekolah perawat di Kediri memetik begitu saja mangga di kebun Puhsarang. Apa bukan mencuri namanya?

"Wah, itu memang kesulitan kami di sini. Soalnya, pengunjung sering merasa kalau buah-buahan itu milik bersama. Miliknya juga," ujar Theophilo, pemuda asal Timor Timur, yang bekerja di Wisma Bethlehem.

Menurut dia, satpam atau penjaga terlalu sedikit untuk mengawasi kompleks peziarahan terbesar di Jawa Timur itu. "Mestinya orang-orang datang ke sini untuk berdoa. Tapi kami kan nggak bisa memaksa orang harus begini, harus begitu. Itu urusan pribadi masing-masing," kata Theophilo yang fasih bahasa Jawa itu.

Kata pepatan, lain padang lain belalang. Lain Sendangsono lain Puhsarang. Sama-sama tempat ziarah, ajang devosi, tapi suasananya sangat berbeda. Di Sendangsono, setiap saat kita mendengar orang mendaraskan rosario, jalan salib, nyanyian rohani. Juga bermenung lama dengan tasbih di tangah.

Bagaimana dengan Puhsarang?

Suasananya campur-baur dan lebih terkesan rekreatif. Orang bicara keras-keras, tertawa lepas, seakan-akan kebun binatang, kebun bibit, kebun buah, atau tempat rekreasi keluarga. Terus terang, saya kurang cocok dengan suasana Puhsarang.

Belum lagi puluhan pedagang di antara kompleks gereja tua dan Gua Maria yang menjajakan jualannya macam di pasar malam. Suasana itu tak akan kita temui di Sendangsono. "Saya sendiri kurang sreg di sana. Saya lebih suka berdoa di gereja lama karena lebih meresap," kata seorang pemuda asli Puhsarang.

Jumiatun, perempuan asli Puhsarang, mengatakan kepada saya bahwa jumlah pengunjung Puhsarang jauh berkurang dibandingkan pada tahun 2000/2001. Hotel-hotel sepi. Stan- stan makanan tutup. Tukang ojek menjerit. "Sekarang semua orang mengeluh, Mas," kata cleaning service sebuah hotel di Puhsarang.

Saya kira, pengelola Puhsarang harus mau introspeksi. Kalau kompleks megah berbiaya miliaran rupiah ini [pernah dikritik pedas di Surat Domba] dibiarkan seperti sekarang, bisa dipastikan, pelan tapi pasti, peziarah Puhsarang akan habis. Kecuali mereka-mereka yang ingin datang ke sana untuk piknik, rekreasi, foto bersama, jalan-jalan, bahkan pacaran.

Almarhum Mgr Hadiwikarta yang dimakamkan di kompleks itu, saya yakin, tidak suka melihat suasana Puhsarang yang kurang religius. Malu sedikit lah sama Mgr Hadiwikarta! Mudah-mudahan pengelola Puhsarang mau berbenah. Mumpung lagi Natal dan Tahun Baru.



BACA JUGA
Gereja Antik di Puhsarang, Kediri.

3 comments:

  1. Saya setuju dengan Anda tempat Ziarah Puhsarang seyogianya hening bukan seperti tempat wisata yang hingar bingar.

    ReplyDelete
  2. Cara ke puhsarang dari surabaya kalau naik transportasi umum bagaimana???

    ReplyDelete
  3. Wah betul ini mungkin karena pembangunannya dulu nggak melihat keadakan masyarakat sekitarnya jadinya akhirnya begini,

    ReplyDelete