30 December 2007

Suster Yerona Hurek CIJ


Internet ternyata mampu mempertemukan keluarga dekat kita. Gara-gara sering 'main' internet, googling, saya bertemu dengan Suster Yerona Hurek CIJ di jagat maya. Di sebuah situs internet, biarawati Congregatio Imitationis Jesu alias CIJ, yang juga masih kerabat saya, itu menulis surat minta bantuan. Sebab, biara CIJ di Makassar yang ia pimpin sedang melakukan pembangunan sejumlah fasilitas.

Wah, saya jadi ingat Mama Suster Yerona yang baik hati, murah senyum, suka menolong, kerja keras tekun berdoa. Terakhir kali saya bertemu Mama Suster [sapaan akrab Suster Yerona Hurek] di Makassar tahun 1998. Waktu itu saya tinggal semalam di sana karena menunggu kapal laut ke Jawa. Saya ingat betul keramahan beliau.

Mama Suster Yerona CIJ menulis di internet [www.catholic.org] begini:

"At present, we are living in Makassar forming a community in which I myself as the leader. As the local Congregation, we have been actively involved in various pastoral ministries trying to deepen the faith of the local people and to help them grow towards a mature faith.

We are also partaking in the parish ministries, carring for the sick, doing the visitation, conducting the choirs, organizing the youth, and giving the retreat/recollection to various groups of people.

We are also involved in the Catholic education run by the Brothers (The Servants of Christ – HHK) in which we trying to educate young people, not just to gain some knowledge and skills but also to pass on them the Christian values which seem to disappear from young people. In order to fulfill these tasks and responsibilities entrusted to us, we need to establish a rather good living condition so that we can be able to exercise our ministries effectively."


Biasa lah, singkat cerita, Mama Suster sedang berusaha mencari donatur untuk membiaya beberapa proyek CIJ di Makassar. Sebagai kepala biara CIJ, Suster Yerona memang harus pandai-pandai mencari donatur serta mempertanggungjawabkan semua bantuan. Saya hanya bisa berdoa agar semua rencananya di Makassar, Sulawesi Selatan, berjalan dengan baik dan lancar. Kurang dana, ya, "ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu". Hehehe....

Suster Yerona hanyalah biarawati, bukan selebriti atau pesohor yang dikenal banyak orang. Namun, bagi kami di kampung halaman, pelosok Lembata, Flores Timur, putri sulung Bapak Yeremias Selebar Hurek ini tak asing lagi. Sebab, dia termasuk biarawati angkatan pertama di daerah saya. Bahkan, setahu saya, Suster Yerona CIJ merupakan suster pertama di kecamatan saya, Ile Ape.

Kami, keluarga besar fam Hurek Making, tentu saja bangga. Asal tahu saja, orang Flores itu sangat bangga kalau ada di antara anggota keluarganya yang terpanggil untuk "bekerja di kebun anggur Tuhan". Jadi suster, frater, bruder... apalagi pastor. Derajat keluarga langsung terangkat karena kalangan klerus masih dianggap elite di Pulau Flores.

Sejak awal 1970-an Suster Yerona sudah masuk biara. Sebagai orang kampung, keluarga sederhana, Yerona merintis "karier" dari bawah sekali. Berkat ketekunan, doa pribadi, dukungan keluarga, semangat untuk maju, Suster Yerona akhirnya bisa menjadi biarawati ternama.

Patut diingat, sebelum 1980-an tidak banyak kaum perempuan di Flores Timur yang diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Biasanya, lulus sekolah dasar [SD], ya, selesai. Tinggal di kampung lalu menunggu masanya dilamar laki-laki, lalu menikah, punya anak, dan seterusnya. "Buat apa sekolah tinggi, makan biaya, toh akhirnya jadi ibu rumah tangga," begitu pendapat umum di Flores Timur, sebelum 1980. Bahkan, sampai sekarang pendapat lama itu masih berlaku.

Karena itu, bagi saya, Suster Yerona ini mendobrak tradisi patriarki yang sudah berakar di kampung. Sudah selayaknya dia berterima kasih kepada sang ayah, Ama [Bapak] Selebar Hurek. Sebab, setahu saya pada tahun 1970-an hanya almarhum yang punya pikiran maju di kampung saya. Ketika orang tua lain masih berpikir sempit, hanya berkutat di kampung, Kakek Selebar sudah berpikir jauh ke depan. Bahwa masa depan kita ada di pendidikan. Tanpa pendidikan, kampung halaman tidak akan pernah maju.

Mengapa Ama Selebar lebih maju daripada semua orang lain di kampung saya? Sederhana saja: dia guru agama Katolik atau katekis pertama di kampung. Mungkin guru awam angkatan pertama di kawasan Lembata. Beda dengan katekis sekarang yang sekolah di akademi atau sekolah tinggi, kerja dibayar, ada fasilitas, pada 1960-an katekis bekerja benar-benar tanpa pamrih. Semata-mata untuk melayani Tuhan. Semata-mata untuk menyebarkan agama Katolik di pelosok-pelosok Flores.

Ingat, jumlah pastor sejak dulu memang sangat terbatas. Dan para katekis alias guru-guru agama desa yang menggerakkan roda gereja di kampung-kampung. Kalau di kota-kota Jawa, umat Katolik bisa ikut misa tiap hari [kalau mau 10 kali sehari], di pelosok Flores Timur seperti yang pernah saya alami baru tiga bulan sekali.

Berkat kegigihan katekis desa macam Ama Selebar, akhirnya warga desa yang tadinya animis, bikin ritual di batu-batu besar dan pohon-pohon rindang, memeluk agama Katolik. Sebagai katekis, Ama Selebar juga menjadi panutan di masyarakat. Tiap hari berdoa, baca kitab suci, hidup sesuai dengan ajaran Katolik.

Tak heran, seperti juga katekis di tempat-tempat lain, anak-anaknya Ama Selebar sangat terdidik dan lebih maju ketimbang teman-teman sebaya. Sekolahnya lancar karena didukung otak cerdas dan gairah belajar tinggi. Selain Suster Yerona, anak-anak Ama Selebar yang lain sangat sukses.

Sebut saja Kayus Geleteng Hurek [dosen di Kupang] dan Paskalis Kabe Hurek. Yang terakhir ini, Om Paskalis, saat ini lebih dikenal dengan Romo Paskalis, pastor di Keuskupan Larantuka, Flores Timur. Suster Yerona, anak sulung merintis, dan Paskalis sebagai anak bungsu menyusul menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan.

Buah tak akan pernah jatuh jauh-jauh dari pohonnya. Teladan orang tua akan sangat mempengaruhi masa depan anak. Pengalaman Suster Yerona dan keluarga Ama Selebar membuktikan bahwa panggilan selalu berawal dari keluarga. "Keluargaku seminari kecil," begitu slogan yang pernah diperkenalkan di Keuskupan Larantuka.

Kalau keluarga berantakan, tidak pernah doa, jauh dari Tuhan, mana boleh anak-anaknya jadi pastor, suster, bruder? Mudah-mudahan orang Flores Timur masih menghayati kearifan tradisional yang sudah dirintis Ama Selebar ini.

Bulan lalu saya mendapat surat elektronik [email] kejutan dari Vatikan, Roma. Dia memperkenalkan diri sebagai cucunya Ama Selebar. Namanya Suster Sesilia Nasa Lebangu. Dia menulis demikian:

"Saya ada di kota Roma, seorang suster Wajah Kudus yang betugas dan belajar di Roma sejak 2000. Pasti nana [om] heran siapa ini???? Saya adalah anaknya Mama Rofina Hurek dan Bapa Nabas Lebangu. Cucu Yeremias Selebar Hurek."

Oh ya, teman-teman ingin membantu proyek Suster Yerona CIJ di Makassar? Silakan kirim dana melalui Bank Danamon Jalan Ahmad Yani Makassar atas nama Sr. Yerona CIJ, rekening nomor 060.090-52512.6

3 comments:

  1. Oh ya abang Hurek. P.Paskalis Hurek waktu TOP di witihama beliau jadi guru agama kami di SMAK Lamaholot Witihama. Saya kagum dengan suaranya yang merdu...lagu Mama eddy silitonga selalu dinyanyikan kalo ada acara di paroki witihama.

    ReplyDelete
  2. Halo, bung Lambert, terima kasih atas tulisan yang disajikan di "Blog Orang Kampung" ini. Romo Paskalis itu murid saya di Hokeng dulu.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih Pak Sosinus dan komentator anonim [hehehe.. siapa ya]. Salam kenal dan moga2 Tuhan memberkati selalu.

    ReplyDelete