13 December 2007

Sugianto [alm] pemusik otodidak


Saya baru dengar kabar bahwa DESIDERIUS SUGIANTO meninggal dunia karena kecelakaan. Pitche, penyanyi asal Bajawa, Flores Barat, yang biasa kerja sama dengan Pak Sugianto bilang, Pak Sugianto berpulang sekitar tiga bulan lalu.

“Saya juga kaget banget. Tapi itulah penyelenggaraan Tuhan,” ujar Pitche kepada saya. “Kita tidak tahu kapan akan mati. Sebab, kematian itu datang seperti pencuri di malam hari. Makanya, berjaga-jagalah selalu,” wejang Pitche. Ah, teman-teman Flores memang suka mengutip kitab suci sebagai bumbu ujaran.

Resquescat in pace! Selamat jalan, Pak Sugianto.

Lahir di Solo 23 mei 1958, Pak Sugianto merupakan pemusik otodidak. Kepada saya, pria kurus yang energik ini mengatakan, dia tidak pernah makan sekolah musik. Tadinya saya kita dia lulusan Akademi Musik atau Institut Seni di Jogja setelah melihat kemampuannya.

“Uang dari mana? Saya ini benar-benar otodidak. Semua hal yang berkaitan dengan musik saya pelajari sendiri. Caranya: banyak baca buku-buku, belajar dari teman, kemudian latihan setiap hari. Orang otodidak itu menuntut disiplin pribadi sangat tinggi,” ujar Pak Sugianto.

Terakhir, ayah empat anak ini menjadi dirigen orkestra saat final Bintang Radio Tingkat Nasional di halaman Balai Kota Surabaya, 14 Juli 2007. Saya ngobrol agak banyak dengan beliau. Yah, soal musik, job, paduan suara, musik liturgi, hingga pengalamannya sebagai pemusik otodidak.

Bukan apa-apa. Saya sulit mengerti bagaimana orang yang tidak sekolah musik bisa bikin orkestrasi lagu-lagu seriosa, membirama [jadi dirigen], piawai memainkan berbagai alat musik, memimpin pemusik-pemusik sekolahan. “Hurek, yang penting kita kerja keras, menekuni bidang yang kita minati. Jangan setengah-setengah,” begitu nasihat almarhum yang dulu tinggal di kawasan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Saya masih ingat, di malam final BRTN itu Pak Sugianto memimpin orkestra untuk jenis seriosa. Lagu-lagunya: Lagu untuk Anakku, Lumpur Bermutiara, Kepada Kawan, Cintaku Jauh di Pulau, Derita. “Berapa lama sampeyan mengaransemen lagulagu itu?” tanya saya.

“Ah, cepat sekali kok. Polanya sudah ada, latihan sebentar, lalu main,” tegas dirigen Orkes Studio RRI Surabaya ini.

Aransemen karya Pak Sugianto cukup bagus. Hanya saja, karena dipentaskan di halaman terbuka, nuansa klasiknya tidak sempurna. Belum lagi sistem suara [sound system] yang juga kurang bagus. Toh, Pak Sugianto yang pakai ikat kepala [udheng] khas Surabaya tampil penuh semangat.

Bagi saya, pengalaman Pak Sugianto sebagai pemusik otodidak bisa menjadi pelajaran bagi anak-anak Indonesia yang berlatar belakang keluarga menengah ke bawah. Cocok untuk anak-anak kampung di mana saja yang tidak bisa ikut les piano sejak dini.

Sebagai gambaran, anak-anak orang kaya di Surabaya rata-rata pada usia 4-7 tahun sudah les piano klasik. Konser di mana-mana. Didanai orang tuanya dengan biaya berapa pun. Bikin rekaman independen. Tampil di televisi atau acara-acara di hotel dan sebagainya. Mana mungkin anak orang miskin bisa begitu? Jangankan les piano, uang pembeli makanan saja susah.

Bahkan, di Kabupaten Flores Timur saya belum pernah melihat keluarga yang punya piano klasik. Hanya ada orgel [organ] tua di gereja. Itu pun hanya segelintir. Maka, saya hanya bisa geleng-geleng kepala, kagum, dengan bocah Surabaya yang bisa main konserto piano bersama orkes simfoni. Tanpa perlu baca partitur pula! Luar biasa.

Nah, Pak Sugianto berasal dari keluarga menengah ke bawah yang tidak mampu les piano, kursus musik, dan sebagainya. Dia mengaku belajar gitar dari teman-temannya di Solo, Jawa Tengah. Tentu saja tidak ilmiah, tak pakai silabus standar ala sekolah musik. Saat sekolah menengah atas (SMA) dia belajar meniup recorder. Itu lho suling vertikal untuk anak-anak sekolah dasar (SD).

“Ingat, recorder itu basic-nya saksofon,” bebernya. Dari sini Pak Sugianto meloncat ke saksofon, instrumen seksi yang lazim untuk musik jazz. Tiap hari dia belajar, belajar, dan belajar. Akhirnya, Pak Sugianto mampu menjadi salah satu saksofonis ternama di Surabaya. Kalau ada hajatan manten, Pak Sugianto laku keras.

Saya senang melihat dia bergaya dengan saksofon atau flute. Singkatnya, semua alat musik tiup dikuasai dengan baik, ya, berkat latihan dan pelajaran otodidak itu tadi. Dia juga memimpin paduan suara, bikin aransemen kor, hingga menulis lagu. Oh, ya, Pak Sugianto juga belajar seni suara klasik. Jangan heran, lagu-lagu seriosa mampu ia bawakan dengan baik. Lagu-lagu pop, keroncong, jazz, blues, gospel..? Enteng saja baginya.

Karena sangat menguasai instrumen tiup [brass instrument], Pak Sugianto mengembangkan diri sebagai tukang servis semua jenis alat tiup. Rumahnya di Brigjen Katamso J/8 Waru, Perumahan RRI, dulu penuh dengan alat musik yang rusak. “Orang-orang tahunya kalau aku ini tukang servis saksofon, trumpet, flute...,” paparnya.

Lantas, aransemen atau bikin orkestrasi belajar di mana? Apa ada guru khusus?

“Hehehe... Nggak pakai guru. Guru saya, ya, buku dan teman-teman,” tegasnya. Tapi dia mengakui suatu ketika dia ikut pelatihan musik paduan suara bersama Romo Piet Wani SVD di Surabaya. Sejak itu dia sering diskusi soal musik klasik, khususnya musik liturgi, dengan pastor asal Flores itu.

Menurut dia, siapa saja bisa menjadi pemusik [atau apa saja] secara otodidak. Tapi syaratnya sangat berat. “Harus punya tekad dan tanggung jawab pribadi yang sangat besar. Lakukanlah apa yang anda senangi, latihan, latihan, dan latihan. Hanya dengan berlatih anda akan mendapat ketrampilan memainkan instrumen,” pesannya.

Namun, dia buru-buru menambahkan, ketrampilan saja tidak cukup. Pemusik harus menjiwai musik yang dibawakannya. Harus ada kombinasi jiwa dan ketrampilan (skill).

Kini, pemusik otodidak yang telah banyak membagikan pengetahuan kepada saya itu telah dipanggil Tuhan. Mudah-mudahan Tuhan menerima Pak Sugianto di alam baka. Saya hanya bisa kirim doa dari alam fana. RIP!

No comments:

Post a Comment