14 December 2007

Slamet Abdul Sjukur di Unesa

















Slamet Abdul Sjukur, pemusik kontemporer asal Surabaya, diberi kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan wawasan musik di kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), kawasan CitraRaya, Jumat 14 Desember 2007. Sekitar 60 mahasiswa dan dosen jurusan seni musik antusias mengikuti sesi Pak Slamet.

Saya ikut hadir karena diundang via SMS dan email oleh Pak Slamet. Panitia kaget. Bukan mahasiswa, bukan Unesa, kok tiba-tiba datang? Siapa gerangan dirimu? Hehehe.. Saya bilang, saya diajak Pak Slamet Abdul Sjukur. Maka, saya pun beruntung mengikuti kuliah bersama tentang musik ini. Sungguh beruntung!

Seperti biasa Pak Slamet, 72 tahun, bicara ceplas-ceplos. Dia gambarkan kondisi permusikan kita yang, maaf saja, masih centang perenang. Antara pemusik dan penonton belum ‘nyambung’ sehingga karya-karya Pak Slamet, misanya, masih dianggap aneh. “Musik opo iku? Musik taek!” ujar Pak Slamet menirukan protes sejumlah masyarakat.

Hehehe… Para mahasiswa tertawa ngakak.

Agar lebih mudah dipahami, pria yang beralamat di Jl Keputran Panjunan I/5 Surabaya ini mengibaratkan musik dengan permainan catur. Pemain-pemainnya sekelas grandmaster, sementara penonton baru belajar catur empat hari. Ya, jelas saja gak nyambung. Sebaliknya, jika penonton kelasnya grandmaster, pemain kelas kemarin sore, ya, susah juga.

Poinnya, apresiasi masyarakat harus ditingkatkan. Dan itu salah satu tugas media massa. Aha, kali ini saya yang jadi sasaran kritik Pak Slamet. Celakanya, di Indonesia wartawan yang menulis musik kebanyakan pendatang baru dan berkualitas buruk. “Yang bagus-bagus ditugaskan di bidang lain. Susah,” kritik Slamet Abdul Sjukur. Padahal, jika penulis musik punya wawasan bagus, insya Allah, apresiasi masyarakat perlahan-lahan terdongkrak.

Saya lihat para mahasiswa memanfaatkan kedatangan Slamet Abdul Sjukur dengan baik. Muncul banyak pertanyaan tentang kasus lagu RASA SAYANG yang diklaim Malaysia, juga kesenian lain yang justru diapresiasi masyarakat di luar negara. Pak Slamet menjawab dengan menceritakan beberapa karyanya yang menggunakan bahasa dasar lagu darah.

Pada 1969, misalnya, Slamet bikin JILA LAJI dengan menyadur JALI-JALI. Kemudian komposisi THE SOURCE yang mengacu pada BENGAWAN SOLO. Lalu, saat di Paris [Slamet Abdul Sjukur tinggal 14 tahun di Prancis] bikin komposisi yang bersumber pada INDONESIA RAYA. Hasilnya? Banyak penikmat kagum, tapi juga tidak tahu kalau komposisi itu sejatinya menggunakan bahan-bahan baku yang sudah dikenal luas oleh publik.

“Mereka yang kupingnya peka, punya ilmu, mesti tahu kalau komposisi saya itu menggunakan lagu daerah. Tapi, yang jelas, pihak-pihak yang ngurus hak cipta nggak akan tahu. Hehehe...,” ujar komponis yang juga piawai memijat dan meramal nasib orang itu.

Kita protes, marah-marah, pada Malaysia yang mencontek lagu RASA SAYANG, contek reog, angklung, dan sebagainya. Tapi kita sendiri tidak bisa merawat harta kesenian itu dengan baik. Pak Slamet mencontohkan lagi dokumen-dokumen sejarah kita di Utrecht, Belanda. Sejumlah pihak mendesak agar dibawa pulang ke tanah air. Karena ditekan terus, Belanda akhirnya mengirim pulang bahan-bahan sejarah itu. Apa jadinya?

Setelah tiba di Indonesia, ungkap Pak Slamet, dokumen-dokumen tersebut hanya diikat rapi di kantor LIPI [Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia], Jakarta. Sama sekali tidak digunakan. “Sebab, kita tidak tahu cara merawat dokumen-dokumen itu,” tutur pria berjanggut panjang ini. Para mahasiswa silakan mengartikan sendiri kata-kata Slamet. Begitulah cara Pak Slamet menawarkan gagasan kepada siapa, entah mahasiswa, dosen, wartawan, pemusik, guru musik, siapa saja.

Slamet juga menjelaskan mengapa orang-orang Barat sangat menguasai musik tradisional Indonesia. Bisa bikin komposisi hebat pakai bahan baku dari bumi nusantara. Jawabannya sederhana saja. “Mereka itu kalau belajar langsung ke empu-empu kita. Sebaliknya, kita belajar musik Barat lewat tangan ke-214,” ujar Slamet Abdul Sjukur.

Hehehe… para mahasiswa tertawa lagi. Lucu, nyelekit, tapi kena. Slamet lalu mengilustrasikan betapa banyak anak-anak di Surabaya yang ‘dipaksa’ konser di luar negeri. Pulang dari sana, bangganya setengah mati. Koar-koar di mana-mana. “Padahal, kualitas mereka hanya rongsokan saja,” paparnya santai.

Seorang perempuan dosen mengeluh bahwa banyak musik yang tidak dipahami orang Indonesia. Menurut Slamet, itu wajar saja karena musik itu sangat luas. Buku sejarah musik saja tebalnya sekitar 60.000 halaman. Kita, orang Indonesia, mungkin hanya baca halaman sekian, lari ke halaman sekian. Tidak mungkin baca semua dan paham semua. “Kalau kita gak ngerti itu normal. Yang penting, ada niat untuk mengerti,” tegas Pak Slamet.

Di akhir kuliah, Pak Senyum, dosen ilmu bentuk musik, memperdengarkan komposisi olahan SEPASANG MATA BOLA. Cukup panjang, sekitar 15 menit. Wah, asyik juga. Banyak variasi di sana-sini, dinamika, tempo, akor... yang membuat lagu karya Ismail Marzuki ini terasa nikmat. Pak Slamet dan semua hadirin bertepuk tangan usai menikmati komposisi ini.

“Nggak nyangka kalau di Unesa ada yang bisa bikin komposisi lebih bagus daripada di Jogja,” puji Slamet. Hanya saja, dia kasih masukan bahwa karya Senyum ini terlalu dominan piano. Tapi secara keseluruhan sudah baik.

Usai kuliah bersama, kami minum kopi di ruang dosen. Kami ngobrol lagi. Pak Slamet bicara lagi. Mengupas sejumlah persoalan musik di tanah air. Termasuk fenomena orang-orang kaya di Surabaya yang ngotot agar anak-anaknya masuk Muri [Museum Rekor Indonesia]. Bagi Slamet, gejala ini tidak sehat dan perlu dihentikan. Kenapa?

Menurut dia, masuk Muri bukanlah cermin kualitas sebuah karya. Toh, mereka yang ingin masuk Muri, ya, harus mengeluarkan uang untuk bayar petugas Muri dan sebagainya. Sekadar mengingatkan, pekan lalu Unesa mendatangkan dedengkot Muri ke kampus untuk sebuah konser berbiaya mahal. Apa dampaknya bagi apresiasi musik, masih perlu dilihat lagi.

Yang jelas, diskusi atawa ngobrol dengan Pak Slamet [ngakunya keturunan Turki dan Eskimo, hehehe..] sangat asyik. Selalu ada pikiran-pikiran baru, provokatif, cenderung melawan arus macam karya-karyanya. Di situlah kehebatan seorang Slamet Abdul Sjukur, komponis yang lebih dikenal di luar negeri ketimbang di negaranya sendiri.

“Ngobrol sama Pak Slamet itu biarpun tiga jam nggak terasa,” komentar Gema, mahasiswa Unesa, yang rupanya pengagum Pak Slamet.

Sssst! Ini hari Jumat, teman-teman mau salat nih! Saya pun permisi. Pak Slamet dan teman-teman Unesa, sampai ketemu!

No comments:

Post a Comment