08 December 2007

RIP! Pater Lambert SVD telah tiada





Pater Lambertus Padji Seran SVD, yang akrab disapa Romo Lambert alias Pater Songkok, wafat di Surabaya pada 30 November 2007. Usianya 77. Romo pensiunan ini meninggal karena jatuh di kamar mandi Biara Soverdi Jalan Polisi Istimewa Surabaya.

Pastor ini mempermandikan saya di kampung, Lembata, Flores Timur. Karena itu, nama saya disamakan dengan nama romo asal Hinga, Adonara Timur, Flores Timur, itu: Lambertus. Pada 1970-an Pater Lambert pernah menjadi pastor di kampung saya. dia juga sering mampir, makan, bahkan menginap di rumah orang tua saya yang sangat sederhana.

"Lambert, bagaimana engkau punya kabar? Sudah lama engkau tidak ke sini," begitu kata-kata khas almarhum saat saya kunjungi di Soverdi.

Suaranya keras, tegas, dengan logat Adonara kental. Orang yang belum kenal bisa saja mengira kalau Pater Lambert marah. "Dari dulu Pater Lambert memang selalu bersuara tinggi. Saya belum pernah dengar beliau bicara dengan nada rendah," kata Pater Aurel Pati Soge SVD, rektor alias kepala Soverdi Surabaya. Pater Aurel juga berasal dari Adonara Timur.

Pater Lambert pergi begitu cepat. Mendadak. Selama ini saya lihat beliau sehat-sehat saja. Kerja di kebun. Melayani misa untuk orang-orang meninggal. Diundang ke rumah jemaat. Pergi ke Jakarta, Bali, Kalimantan. Juga minum tuak, minuman tradisional Flores Timur, sambil ngobrol sana-sini tentang apa saja. Pater punya wawasan luas karena cukup lama di Eropa, sudah menjadi imam hampir 50 tahun. Pater juga poliglot, piawai banyak bahasa asing [Eropa].

Pater Lambert ringan kaki dan ringan tangan. Suka membantu orang kapan saja. Jika ada umat yang tak punya uang, dia tak segan-segan mengeluarkan seisi dompetnya. Kalau masih kurang, dia janji akan menambah sumbangan jika ada stipendium [honor memberikan misa]. Pater akan sangat sedih jika dia tidak bisa membantu orang yang sedang susah.

"Saya ini pastor. Semua kebutuhan sudah tercukupi. Makan sudah siap, minuman ada, sakit sudah ada rumah sakit, rumah sudah ada di biara. Saya tidak kekurangan apa-apa. Makanya, saya berusaha menolong siapa saja yang butuh," ujar Pater Lambert kepada saya, suatu ketika.

Di Surabaya, Pater Lambert dikenal sebagai 'romonya orang mati'. Kenapa? Dia selalu ditanggap untuk mendoakan atau memimpin misa arwah [requiem], entah di rumah duka, gereja, atau Adiyasa, krematorium terkenal di Jalan Demak. Kalau anda sekali-sekali ke Adiyasa untuk melayat orang Katolik yang meninggal, hampir pasti anda bertemu Pater Lambert Padji Seran SVD. Dia mudah dikenali karena selalu pakai songkok atau kopiah.

Kini, Pater Lambert tidak ada lagi. Pastor songkok itu pergi tanpa harus menyusahkan orang lain. Dia pergi sangat mendadak. Tidak sakit, tidak ada tanda-tanda kelelahan, apalagi harus berobat di rumah sakit. Sungguh, almarhum gembala sejati. Dia setiap saat repot untuk domba-domba, tapi tidak mau merepotkan orang lain hingga meninggalnya.

Wafat Jumat, dimakamkan di Kembang Kuning, Minggu 2 Desember 2007.

Misa pemakaman dipimpin Mgr. Anton Pain Ratu SVD, mantan Uskup Atambua, juga teman kelas Pater Lambert di seminari. Mereka tergolong klerus atawa biarawan Flores Timur generasi pertama. Banyak cerita menarik, menggelitik, lucu, disampaikan saat homili. Salah satunya, kegemaran Pater Lambert minum tuak atau katakanlah bir untuk menambah semangat kerja dan hidup.

"Suatu ketika saya bercanda dengan beliau," tutur Pater Aurel Pati Soge. "Saya bilang, Pater Lambert, di surga tidak ada tuak. Lalu, pater minum apa di sana?"

"Kalau di surga tidak ada tuak, saya mau masuk neraka saja," tukas Pater Lambert. Ratusan umat yang ikut misa arwah tertawa ngakak. Apalagi, Pater Aurel bercerita dalam bahasa Lamaholot, 'bahasa resmi' di Kabupaten Flores Timur.

Mgr. Pain Ratu mengatakan, dia dan Pater Lambert serta beberapa alumni Seminari Mataloko berencana merayakan pesta emas [50 tahun] hidup imamat. Rencana sudah matang. Persiapan sudah ada. Bahkan, Pater Lambert minta dibuatkan logo salib terbuat dari parang dan tombak, senjata khas Adonara. Lalu, beliau minta ditulikan 'sudah selesai' pada salib ala Adonara itu.

Yah, Pater Lambert yang sejak 1996 pensiun di Surabaya merasa bahwa tugas penggembalaannya sudah selesai. Tapi, faktanya, dia tetap bertugas melayani umat yang membutuhkan, khususnya memimpin misa atau doa arwah. Saking cintanya pada umat, Pater Lambert bahkan enggan dipindahkan ke Ende, Flores Tengah, agar lebih dekat dengan keluarga di Adonara Timur.

"Pater Lambert ini maunya di Surabaya agar dekat umat. Memang dia gembala yang sejati," ujar Mgr. Pain Ratu.

Saat jenazah dibawa ke luar Soverdi hujan turun sangat deras. Makam di Kembang Kuning tergenang air hingga setengah meter. Hampir satu jam kami, warga Flores Timur di Surabaya [khususnya Adonara, menunggu sampai upacara pemakaman pater kebanggaan kami itu dilakukan.

Pater Aurel kembali memimpin upacara. Ajaib, hujan berhenti dan matahari bersinar terang. Saya percaya bahwa Pater Lambert telah menuntaskan perjalanan panjang di dunia ini serta berhasil menjadi gembala yang baik.

Beristirahatlah dengan damai. Resquescat in pace!

BACA JUGA

Pater Lambert Padji Seran SVD Pastor Songkok

4 comments:

  1. selamat jalan, pater. RIP.

    ReplyDelete
  2. mo maiko molo... kame dote Tuang Lambert!

    ReplyDelete
  3. maaf, salah ketik: kame dore! kami menyusul ke sana.

    ReplyDelete
  4. Romo walau sekali saya ketemu Romo wkt misa di kembang kuning tahun 2002 saya terkesan sekali dgn pribadi Romo yg ramah dan hangat ...skrg udah 3 thn Romo berbahagia bersama Bapa disurga..

    ReplyDelete