29 December 2007

Natal di Sendangsono


Bertahun-tahun tinggal di Jawa, baru kali ini saya mengikuti misa malam Natal di desa. Biasanya di kota, bahkan kota-kota besar macam Surabaya, Jakarta, Malang, Jember, hingga Denpasar.

Natal di kota dari dulu, ya, begitu-begitu saja. Ramai, penuh sesak, paduan suara bagus... tapi setelah itu selesai. Habis misa malam Natal, ya, selesai. Umat pulang sendiri-sendiri tanpa ada ikatan yang kuat. Bahkan, karena sering natalan di luar parokiku, saya senantiasa menjadi orang asing di gereja. Tak ada yang kenal.

Natal tahun 2007 ini saya berada di Sendangsono. Ini tempat ziarah paling terkenal di Jawa, terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Jogjakarta. Sekitar 50 kilometer dari kota Jogja, namun karena lokasinya di perbukitan Menoreh, Sendangsono terasa jauh juga. Tiap hari [tak peduli Natal, Paskah], ratusan orang dari berbagai penjuru tanah air datang ziarah di Sendangsono.

Pada 24 Desember 2007 saya berada di Sendangsono. Berdoa, jalan salib, merenung, istirahat, bahkan tidur sepanjang malam di kompleks ziarah yang renovasi bangunannya diarsiteki Pastor YB Mangunwijaya alias Romo Mangun pada 1972. "Kalau natalan kayak begini nggak ada misa di gua. Misanya di Gereja Promasan jam tujuh malam," ujar Yohanes Sugianto, pekerja Sendangsono, kepada saya.

Meski baru kenal beberapa menit, kami langsung akrab. Cerita macam-macam, dia juga kasih penjelasan seputar tempat ziarah, pengunjung, manajemen, sikap pastor, dan sebagainya. Dia juga ajak saya bersama-sama ke gereja [sekitar 2,5 kilometer dari Gua Maria Lourdes] malam harinya.

Ah, suasana macam ini, keakraban, ramah-tamah, sapa, senyum... benar-benar khas desa. Maka, saya pun merasa bukan sebagai orang asing di desa berpenduduk 95 persen Katolik itu. Sangat cocok dengan saya yang berlatar belakang pedesaan, dengan sejarah kehadiran Gereja Katolik yang agak mirip dengan desa-desa Katolik di Jogjakarta.

Pukul 18.00 lebih sedikit saya berjalan kaki ke Gereja Promasan. [Sendangsono bagian dari paroki yang berdiri pada 11 Februari 1940 itu.] Saya ikuti rute jalan salib. Jalanan berbatu, agak becek habis hujan, sepi. Suara jangkrik dan sesekali lenguhan sapi. Teman-teman peziarah lain dari Jakarta, Bekasi, Surabaya, Bandung, dan umat setempat memilih jalan aspal atau naik kendaraan bermotor. Maka, puji Tuhan, saya bisa merenung sendiri di rute jalan salib [menurun, jadi stasi 14 ke stasi 1] di Promasan. Hitung-hitung bagian dari ziarah juga.

Di mana-mana misa malam Natal sangat penuh. Sebab, umat yang malas ke gereja biasanya berubah rajin pada hari khusus ini. Begitu juga di Promasan. "Kalau hari biasa sih nggak kayak begini. Kadang-kadang separo gereja saja," cerita Ignatius Sujamin, 50-an tahun, umat setempat.

Pukul 18.35 bangku-bangku di dalam gereja sudah terisi. Sesak. Apa boleh buat, saya hanya bisa berdiri di luar gereja. Sebab, terop yang dipasang di halaman pun penuh. Begitu juga pos keamanan sesak. Tapi tidak ada-apa. Justru saya bisa lebih leluasa 'memantau' jalannya misa malam kudus di gereja desa. Jarang lho dapat pengalaman macam ini.

Misa raya malam Natal dipimpin Pastor Slamet Wito Karyono Pr, asli Wonosari, Gunungkidul, Jogjakarta. Seratus persen pakai bahasa Jawa. Saya bisa merasakan nuansa berbeda dengan natal-natal sebelumnya. Di Surabaya dan sekitarnya memang pernah ada misa dalam bahasa Jawa. Tapi di Jogjakarta, Promasan, wah... luar biasa. Sangat komunikatif. Maklum, bahasa Jawa kelas tinggi, krama, memang menjadi bahasa sehari-hari warga pedesaan Jogja.

Umat selalu menjawab sapaan romo dengan keras dan spontan. "Sugeng daluh," sapa Romo Slamet. "Sugeng daluuuuh!!!!" jawab umat. Singkatnya, semua aklamasi misa dijawab dengan lepas. Lain sekali dengan umat Katolik di kota yang menjawab dengan setengah suara, bahkan diam saja.

Misa Natal berjalan seperti biasa dengan ordinarium Pustardos, lagu-lagu standar misa [kyrie, gloria, sanctus, agnus dei] yang dikembangkan para pastor Societas Verbi Divini alias SVD di Flores. Senang juga jadi orang Flores. Meski jelek, hitam, ikal, pengaruhnya menembus berbagai komunitas Katolik di tanah air, termasuk Jogjakarta. Hanya, itu tadi, liriknya pakai bahasa Jawa krama.

Khotbah atawa homili Romo Slamet, menurut saya, sangat bagus, komunikatif, dan mengena. Jarang lho ada romo macam dia. Dia tak hanya pandai bicara, tapi tahu benar apa yang dibicarakan. Ilustrasinya pas, cocok dengan kehidupan orang desa. "Romo Slamet memang tahu benar situasi di sini. Wong dia aslinya Wonosari," kata Pak Sugianto, teman saya selama di Sendangsono.

Usai homili hujan deras. Kami yang di luar ramai-ramai mencari tempat berteduh, baik di terop maupun pos keamanan. Hujan sama sekali tidak mengganggu perayaan ekaristi. Justru menjadi bumbu dan kekhasan Natal. "Tidak sempurna kalau Natal tidak hujan," begitu guyonan orang-orang di Flores.

Ah, malam itu saya merasa seperti orang Sendangsono, Promasan. Bukan pendatang. Lain sekali dengan misa di kota-kota besar macam Surabaya, Malang, Denpasar. Lantas, saya berpikir, untuk seterusnya saya hanya akan misa natal di desa saja. Saya tidak cocok bergereja di kota yang umatnya modern, hedonis, individualistis, tak mau peduli pada orang lain.

Esok harinya, 26 Desember, jemaat Sendangsono mengadakan natal bersama di kampung. Ibarat halal bihalal satu sama lain. Mau tahu hidangannya? Sangat sederhana. Tidak pakai daging atau makanan lezat. Yang ada hanya nasi bungkus dengan lauk relor ceplok. Juga ubi-ubian rebus. Orang di Sendangsono tidak kenal pohon terang, aksesoris natal, dan ornamen-ornamen kayak di kota.

"Kami memang sepakat untuk selalu sederhana. Wong Gusti Yesus saja lahir di kandang binatang, kehujanan, kedinginan, nggak punya apa-apa. Aneh kalau Natal dirayakan secara mewah," ujar Agustinus Suwarno. Bapak 69 tahun ini sejak awal 1970-an ikut membantu Romo Mangun merenovasi tempat ziarah Sendangsono.

Di Sendangsono juga tak ada tradisi bikin kue, masak enak, keliling dari rumah ke rumah untuk berhari raya. Setelah 'pesta bersama' di rumah seorang warga [selatan gua], ya, wis. Tuntas. Orang-orang desa itu pun kembali melakukan kegiatannya masing-masing. Ke ladang, kandang sapi, jualan, ojek, menyapu halaman, dan seterusnya.

Selama tiga hari di Sendangsono saya pun tak pernah mendengar orang-orang di sana [hampir semua Katolik] memutar lagu-lagu Natal. Rupanya, musik dan aneka hiburan Natal hanya dikenal di kota-kota belaka.

Tadinya, saya ingin menyesuaikan diri secara total dengan gaya hidup orang Sendangsono. Tapi ternyata tidak bisa. Saya tergoda memutar album White 'Christmas' versi R. Tony Suwandi, pemusik terkenal yang kerap mengorkestrasi lagu-lagu hiburan di TVRI Jakarta pada era 1980-an. Sambil merenung di atas rumah panggung, saya menyaksikan kedatangan begitu banyak rombongan peziarah dari Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lain.

Ah, ternyata banyak orang tak betah di kota dan kemudian mencari 'pelarian' di Sendangsono. Termasuk saya.

No comments:

Post a Comment