01 December 2007

Mbah Warno Pengabdi Sendangsono


Umat Katolik di Pulau Jawa, termasuk DKI Jakarta tentu saja, niscaya kenal Sendangsono. Setidaknya tahu di situ ada kompleks Gua Maria, tempat ziarah umat Katolik paling terkenal di Jawa. Bisa saya pastikan, paling terkenal di Indonesia.

Setiap hari ada saja umat yang datang ke sana untuk wisata rohani. Mendaraskan rosario, berdoa, macam-macamlah ujud atawa intensi. Mei dan Oktober, bulan Maria, wah meriahnya luar biasa. Sendangsono di Jawa Tengah itu sungguh membawa berkat bagi masyarakat di sekitarnya.

AGUSTINUS SUWARNO MIHARJO, 69 tahun, bukan romo, bukan tokoh penting, tapi berperan besar dalam menjaga kompleks peziarahan Katolik ini. Sejak kecil ia tak pernah lepas dari Sendangsono. “Saya mulai dari laden, pelayan tukang,” katanya. Hampir dalam semua proses pembangunan Suwarno selalu terlibat.

“Tugas saya ya ngurusi, ngawasi, Sendangsono,” ujar suami Maria Poniyem (61 tahun ini). Jika ada renovasi atau membangun tempat baru, perokok berat ini yang mencarikan tukang.

Sepanjang usianya Mbah Warno, begitu ia disapa, melayani Tuhan di Sendangsono. Sudah ada 12 romo datang dan pergi, tapi Mbah Warno tetap di Sendangsono. Bahkan, mati pun, katanya, dia akan dimakamkan di kawasan itu, kampung halamannya. “Habis, mau ke mana lagi?” ujarnya, kalem.

Kakek satu cucu ini juga buka usaha penginapan sederhana. Bagian depan rumahnya dimanfaatkan untuk penginapan bagi peziarah. Bisnis itu, di samping tugas pokok sebagai pelayan Senangsono, membuat ayah empat anak (tiga laki-laki dan satu perempuan) bisa membiayai hidup. Hidup sederhana, apa adanya, ala wong ndeso di pelosok Jawa.

“Saya selalu bersyukur kepada Tuhan melalui Bunda Maria. Sebab, selama diserahi tanggung jawab mengelola tempat ziarah ini, saya dapat melaksanakan tugas dengan baik dan tanpa hambatan yang berarti. Tanpa protes dari siapa pun. Semua rencana yang akan dilaksanakan selalu saya sosialisasikan kepada umat, romo, dewan paroki, dan pihak-pihak yang berkepentingan,” bebernya.

Mbah Warno mengaku banyak belajar dari Romo YB [Yusuf Bilyarta] Mangunwijaya. Almarhum arsitek utama tempat ziarah Sendangsono. Romo yang juga sastrawan, budayawan, pekerja sosial, kolumnis, itu tak segan-segan menegur pekerja yang seenaknya atau malas. Tapi teguran Romo Mangun selalu bijaksana, sarat motivasi.
“Sekarang saya dan teman-teman tinggal meneruskan, merawat, ini sebagai bentuk penghormatan terhadap karya beliau,” ujarnya.

Berdasar pengalamannya selama hampir tujuh dekade, menurut Mbah Warno, orang yang berziarah di Sendangsono adalah orang-orang yang bersyukur atas anugerah Tuhan. Bersyukur karena doa atau usahanya berhasil. Juga memohon pertolongan Bunda Maria untuk intensi pribadi. Macam-macam lah!

“Saya berharap makin banyak orang yang berziarah ke sini, tidak hanya berdoa memohon pertolongan Bunda Maria, tetapi sekaligus napak tilas cikal bakal Gereja Katolik di tanah Jawa,” harapnya.

Mbah Warno bangga karena Sendangsono masih tetap menjadi pusat ziarah utama di Jawa meski belakangan muncul tempat ziarah baru seperti Gua Maria Puhsarang, Kediri. Kata dia, Sendangsono punya nilai sejarah yang tinggi. Sendangsono punya karakter. “Lihat saja mobil yang masuk siang malam ke sini. Lebih banyak yang plat nomornya luar Jogja,” tuturnya.

Mbah Warno bertekad terus menata Sendangsono agar para peziarah semakin betah, boleh menimba rahmat dan kasih Tuhan lewat Bunda Maria. Ia juga akan selalu ingat petuah Romo Mangun: ‘Membangun tidak dengan merusak, tapi tetap menjaga lingkungan’.

Kepada para peziarah, Mbah Warno selalu berpesan: “Jangan lupa ajaran cinta kasih dari Gusti Yesus. Kita sebarkan ajaran kasih ini melalui kerendahan hati, kesederhanaan, kejujuran, sabar dalam menghadapi cobaan, bekerja dengan tekun, berdoa, selalu bersyukur setiap saat. Jangan sombong, jangan cepat putus asa.”

Ah, wejangan Mbah Warno yang awam ini ternyata tak kalah bobotnya dengan homili romo-romo di gereja! Bahkan, mungkin lebih berbobot karena berangkat dari pengalaman hidup.

TULISAN TERKAIT
Sendangsono dalam Gambar

5 comments:

  1. Salam buat buos Hurek dari www.denuglu.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. salam kenal.

    johni, malang

    ReplyDelete
  3. mohon dijaga agar tempat doa itu tidak dijadikan ajang jual beli.

    ReplyDelete
  4. Suwun atas komentar teman2. Salam khusus untuk raden bagus uglu, bos detiksurabaya.com. Merdeka!!!!

    ReplyDelete
  5. salam kenal mas..

    thanks tulisannya. jadi kangen sendangsono nih.. udah lebih 20 tahun nggak kesana..

    thanks lagi.

    ReplyDelete