05 December 2007

Ludruk Pak Ali yang Mangkrak



Ludruk itu kesenian tradisional Jawa Timur. Tapi masyarakat Jawa Timur sendiri, khususnya di kota-kota, sudah tidak lagi menggemari teater rakyat ini. Anak-anak muda? Aha, mereka sangat doyan kesenian populer di televisi, sangat gila band, dan cenderung jijik [nggilani] pada seniman-seniman tradisi.

“Itu kan keseniannya orang tua. Kalau anak muda suka ludruk, itu namanya orang gila,” ujar Fitri, pelajar sebuah sekolah menengah atas negeri di Sidoarjo, kepada saya.

Wah, penyuka ludruk disamakan dengan orang gila! Logika apa pula ini? Saya khawatir, pandangan ini dianut oleh anak-anak muda lain. Dus, itu berarti, cepat atau lambat kesenian ludruk akan segera masuk museum di Indonesia.

Begitulah. Dalam suasana yang tidak kondusif macam itu, saya baru-baru ini bertemu Bapak Muhammad Ali. Dia seniman ludruk, punya grup ludruk bernama Wahyu Sejati. Ludruk yang bermarkas di Wonoayu, Sidoarjo, ini sekarang tinggal sejarah. Padahal, hingga 1990-an Pak Ali bersama teman-temannya main keliling Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan kota-kota lain di Jawa Timur.

"Kami punya pemain 30-an orang. Kami juga punya alat musik, perlengkapan panggung, semua komplet. Tapi, bagaimana lagi, 15 tahun terakhir ini kami sudah nggak pernah manggung," ujar Muhammad Ali. Bapak ini mengaku lahir tanggal 26 Desember 1921, berarti usianya 86 tahun. Saya agak ragu karena fisiknya masih terlalu kuat. Tapi, yang jelas, dia seniman sangat senior di Kabupaten Sidoarjo.

Pak Ali mengaku sudah malang-melintang di atas pentas ludruk sejak 1936, sembilan tahun sebelum Indonesia merdeka. Kehidupan bangsa serba sulit, sibuk berjuang mengusir penjajah. Toh, seni tradisi, khususnya ludruk, sangat hidup di masyarakat Jawa Timur. Ludruk boleh dikata menjadi katarsis alias wahana untuk mengusir kesumpekan hidup.

"Saya bahagia, senang, karena bisa membuat orang lain tertawa. Orang menjadi lebih semangat untuk berjuang," tegasnya.

Menurut Pak Ali, sebelum 1980-an grup ludruk di Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan kota-kota lain di Jawa Timur sangat banyak. Sebab, masyarakat sangat haus hiburan murah, lucu, dan merakyat. Tiap malam hampir pasti ada tanggapan. Seniman alam macam Pak Ali sangat banyak. Mereka serba bisa: nembang, main karawitan, melawak,hingga terlibat di manajemen ludruk. Kesenian wayang orang pun mudah dijumpai di mana-mana.

"Saiki wis bubrah kabeh. [Sekarang sudah bubar semua.] Anggap saja itu sejarah masa lalu," kata pria yang ramah ini.

Sempat istirahat lama, pada awal 1990-an Pak Ali dan beberapa seniman tua mendirikan Ludruk Wahyu Sejati yang didominasi generasi muda. Anak-anak SMP pun diajak serta. "Saya dan teman-teman yang sepuh berperan sebagai pembina, pembimbing. Kita
ingin agar seni tradisi ini jangan sampai mati," cerita Pak Ali, yang didampingi Anang Makruf, pelawak Ludruk Wahyu Sejati.

Lima tahun pertama, Wahyu Sejati mendapat sambutan meriah dari warga Sidoarjo. Tanggapan mengalir dari mana-mana, sehingga Pak Ali sempat kewalahan menyusun
jadwal. Beberapa tanggapan terpaksa ditolak karena para pemain sudah terlalu capek.

"Kami benar-benar menikmati masa keemasan. Dan ini membuat pemain-pemain bisa hidup hanya dari ludruk," katanya.

Waktu terus berjalan. Televisi swasta makin banyak, globalisasi mulai melanda Indonesia. Pelan tapi pasti seni tradisi, tak hanya ludruk, terdesak oleh ganasnya industri budaya dan hiburan Barat. Dan tanpa terasa Ludruk Wahyu Sejati pun oleng-kemoleng dan mati suri. Hal serupa dirasakan beberapa grup seni tradisi lain
di Kabupaten Sidoarjo.

"Tanggapan sudah nggak ada lagi. Padahal, kami punya pemain-pemain yang siap tampil di mana saja," ujar Pak Ali menggebu-gebu.

Bagaimana dengan nasib pemain-pemain Wahyu Sejati? Yah, mereka terpaksa bekerja di mana saja agar bisa bertahan hidup. Jadi petani. Kuli bangunan. Makelar. Tukang kredit. Tukang susuk. Tukang catut. Ikut partai politik. Pak Ali sendiri sempat menjadi ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Nasional Indonesia Marhaenisme Kabupaten Sidoarjo.

"Hidup itu mengalir saja kayak air. Kadang main ludruk, ketoprak, wayang orang, kadang urus partai politik," ujar Pak Ali. Toh, jagat politik kita pun tak ubahnya adegan ludruk, bukan? Celetukan saya ini disambut tawa renyah Pak Ali. “Malah lebih lucu ketimbang ludruk, Mas. Makanya, Srimulat kan buyar. Hehehe..,” ujar Pak Ali lalu tertawa renyah.

Di usia senja, Pak Ali mengaku resah melihat seni budaya kita yang semakin tergusur dari masyarakat. Televisi tidak memberikan sedikit ruang kepada seni tradisi, kecuali TVRI serta beberapa acara kecil macam ketoprak humor atau wayang kulit di Indosiar. Anak-anak muda bukan saja tidak suka menonton ludruk, ketoprak, wayang orang, tapi sudah melecehkan seni tradisi nenek moyangnya.

Di akhir obrolan, Pak Ali berpesan supaya bangsa Indonesia merenungkan pesan Bung Karno, Trisakti. “Punya kemandirian politik, berdikari di bidang ekonomi, serta berkepribadian di bidang kebudayaan”. "Mau jadi apa bangsa kita kalau budayanya jebol?" kata Pak Ali.

4 comments:

  1. jamane wis lain. yg penting ada usaha untuk merawat seni budaya kita.

    ReplyDelete
  2. sangat menarik! silakan kunjungi ke blog saya! www.herueksis.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/22/11581226/itb.gelar.pesta.rakyat.jawa.timuran

    ITB Gelar Pesta Rakyat Jawa Timuran

    Sabtu, 22 November 2008 | 11:58 WIB

    BANDUNG, SABTU--Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar "Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008" yang akan dilaksanakan di Kampus Ganesha Kota Bandung, 30 November 2008 mendatang.

    Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008 itu mengambil momentum yang bertepatan dengan ulang tahun perak atau 25 tahun terbentuknya "Loedroek ITB".

    Kegiatan ini untuk mengenalkan seni Jatim dan membangkitkan semangat nasionalisme melalui penguatan benteng budaya, sekaligus mencari solusi berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini," kata Rizki Primasakti, Ketua Panitia Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008, di Bandung, Jumat.

    Rangkaian kegiatan pesta itu antara lain tradisi "Nggendheng Loedroek", Festival Seni Budaya dan kuliner Jawa Timur, diskusi panel "Kerajaan Indonesia, Kenapa Nggak?" serta Maen Gedhe Loedreok ITB dengan lakon "Deja vu De Java" di Sasana Budaya Ganesha 30 November mendatang.

    Kegiatan pesta rakyat itu diisi juga dengan tari tradisional Jatim seperti Jejer, Gandrung dan Ngremo. Kemudian, Reog Ponorogo, kesenian patrol dari Banyuwangi, stan komunitas budaya, stan Loedroek ITB.

    Sedangkan parade kuliner antara lain festival kuliner, stan jamu, pecel Madiun, sate Ponorogo, rujak cingur, rawon, soto Lamongan, bebek goreng serta aneka jajanan pasar khas Jawa Timur.

    Selain itu juga akan dilakukan kolaborasi Darma Wanita Loedroek ITB dengan Keroncong Merah Putih Bandung.

    Loedroek ITB bermula dari pendirian perkumpulan seni Guyu Sedaya Jamuran yang merupakan singkatan Paguyuban Seni Budaya Jawa Timuran.

    Kemudian perkumpulan itu populer dengan Loedroek ITB yang pentas dengan Bahasa Indonesia tapi tetap mempertahankan pakem ludruk asli dengan gaya mahasiswa ITB. (ANT)

    goeh

    ReplyDelete
  4. Banyak terdapat agama yang diakui oleh negeri ini. agama sebagai penegak moralitas bangsa. yg katanya mengajarkan kedamaian, dan rahmat untuk alam semesta.

    sebaliknya, yg sekarang tampak di wajah negeri ini justru muka beringas, sadis, intoleran, wajah garang, galak, suka memukul, membakar, bahkan membunuh !
    Mari kita tegakkan bangsa dan negeri yg sejuk, arif, bijaksana, damai, tenteram, kita kembalikan hati nurani manusia yg jujur.

    kearifan lokal (local wisdom) warisan nenek moyang dan leluhur bangsa ini telah mengajarkan semua itu kepada anak cucu keturunannya sejak ribuan tahun silam.

    tapi...apa daya, kini para keturunan bangsa ini lebih memilih budaya asing, "baju" impor yg tidak mengakar dengan hati nurani bangsa.

    http://sadalangit.wordpress.com

    membangun bumi nusantara yg berbudi pekerti luhur.
    hidupkan budaya daerah.

    ReplyDelete