16 December 2007

Jazz Natal Amerika yang asyik



Tiap bulan Desember, di Flores, setiap rumah seakan-akan berlomba putar lagu-lagu Natal. Lagunya sih itu-itu saja, tapi asyik dinikmati. Toko-toko kaset di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, apalagi. Lagu-lagu Natal ‘baru’ diputar keras-keras di Jalan Niaga agar masyarakat tertarik membeli.


Tidak heran, orang Flores macam saya punya koleksi album Natal sangat banyak. Mau gaya apa saja ada. Paduan suara. Opera. Pop. Disko. Campursari. Orkes simfoni. Jazz. Bahasa daerah. Macam-macamlah. Ada sebetulnya lagu Natal karya anak bangsa, tapi gagal mendarat di kuping jemaat serani. Unik memang bicara musik Natal atawa Christmas Carols itu.

Di Jawa Timur suasana Natal praktik tidak ada. Maklum, orang serani tak sampai 1%. Radio-radio pun, kecuali radio nasrani, tak punya minat untuk putar lagu-lagu Natal. “Buat apa, Mas? Berapa orang sih pendengar yang beragama Kristen? Putar lagu-lagu Natal sama dengan bunuh diri," ujar teman saya, penyiar radio.

Hehehe.... Ini memang urusan sensitif. SARA [suku, agama, ras, golongan], istilah orang media. Segmen pasar harus dijaga. Kalau radio anda tercitrakan sebagai stasiun nasrani, habislah bisnis anda. Suatu ketika, seorang pendengar Radio Suara Surabaya ‘mengamuk’ hanya karena sang penyiar memutar ‘Hallelujah’, karya GF Handell, yang tersohor itu. “Saya tutup kuping saat anda memutar lagu itu,” kata sang pendengar. Alasannya jelas.

Jadi, saya sangat bisa mengerti kenapa di Jawa Timur suasana Natal tidak pernah ada. Bahkan, beberapa keluarga Kristen yang saya datangi pun adem ayem saja. Natal ora Natal podo wae. Sama-sama sulit cari uang, bukan?

Tahun ini saya hanya membeli satu kaset Natal baru. Namanya ULTIMATE JAZZ CHRISTMAS. Album 12 lagu-lagu Natal yang dibawakan ala jazz standar. Penyayinya orang Barat semua: Duke Pearson [rekaman 1969], Nat King Cole [1946], Count Basie [1962], Nancy Wilson [1963], Eliane Elias [1996], Dianne Reeves [1996], Charles Brown [1956]. Ini di sisi A.

Kemudian sisi B: Booker Ervin [1966], Lou Rawls [1966], Duke Pearson [1969], Donald Byrd [1963], Norah Jones [2002], Thad Jones/Mel Lewis [1970].

Hebat sekali pemusik Barat itu: data kapan rekaman, studio, daftar pemain... semua lengkap. Kita orang di Indonesia biasanya mengabaikan detail macam ini.

Bagi saya, lagu-lagu Natal yang di-jazz-kan di album ini keren banget. Hampir semuanya dibawakan dengan instrumen akustik, khas jazz standar. Nat King Cole membawakan The Christmas Song dengan tenang, santai, tapi berisi. Dianne Reeves pun begitu. Membawakan Jingle Bells dengan tidak ngoyo. Akrab sekali! Kelebihan jazz memang di situ: intim, santai, tapi bernas. Nora Jones bahkan nyanyi sambil main piano di lagu Peace. Tidak ditemani pemusik lain.

Saya bandingkan album jazz Natal ini dengan album serupa milik Margie Segers, koleksi saya. Tante Margie bikin album Natal yang didukung pemusik Idang Rasjidi, Bintang Indrianto, Gerry, dan beberapa pejes top dalam negeri. Bagi saya, improvisasi Tante Margie terlalu ekstrem. Melodi manis asli lagu-lagu Natal hilang sama sekali. Dengar saja Jingle Bells versi Tante Margie. Seratus persen melodi aslinya tidak berbekas.

Beda sekali dengan lagu-lagu Natal di ULTIMATE JAZZ CHRISTMAS terbitan EMI. Improvisasi, sinkopasi, nada-nada biru jazz dan blues tak lantas menghilangkan melodi asli. Begitulah. Maksud hati mencontek gaya Amerika ala Tante Margie, kita beroleh musik jazz Natal nan asing.

Yang jelas, saat membuat catatan ringan ini saya sedang menikmati jazz-natal versi para empu jazz Amerika. Jazz to the world!

2 comments:

  1. yes...forever jazz ( rues )

    ReplyDelete
  2. bagi dong jazz natalnya,,,aku senang sama gambar diatas Nat King Cong, emang bagus, aku sih cuma punya koleksi satu milik putrinya Natalie Cole, minta dong koleksi Jazz natal yang lain,,,thanks bro, GBU

    ReplyDelete