22 December 2007

Idul Adha di Gereja Algonz


Kamis, 20 Desember 2007, Gereja Aloysius Gonzaga [lebih dikenal dengan Algonz] menggelar penyembelihan hewan kurban di halaman gereja. Tradisi ini dirintis oleh Romo Alexius Kurdo Irianto Pr sejak pengujung rezim Orde Baru dan dipertahankan sampai sekarang. Umat Katolik di Algonz juga kerap menggelar hajatan-hajatan lintas agama.

Karena Idul Adha kali ini berdekatan dengan Natal, maka panitia Natal yang sibuk mengurus peringatan Idul Adha bersama umat muslim di kawasan paroki Algonz. Tahun 2007 ini mereka menyembelih dua sapi untuk dibagikan kepada 600 warga kurang mampu di sekitar gereja. Tahun lalu tiga sapi untuk 1.200 paket.

“Agak krisis tahun ini,” kata Ketua Panitia Kurban Gereja Algonz Miskan, yang juga anggota Forum Komunikasi Masyarakat Pelangi (FKMP) dari unsur Islam. Sesuai namanya, pelangi, FKMP merupakan forum lintas agama yang dikembangkan di Paroki Algonz.

Setiap paket berisi 0,75 kilogram daging sapi kemudian dibagi-bagikan kepada warga di Sukomanunggal, Tanjungsari, Donowati, dan Simo. Para tukang becak yang mangkal di sekitar gereja dan Rumah Sakit Mitra Keluarga pun mendapat jatah daging gratis.

“Sejak dulu yang menyembelih dari unsur muslim agar tidak ada keraguan sedikit pun tentang kehalalan daging,” jelas Ketua Panitia Natal Gereja Algonz Willy.

Adapun umat Katolik bertugas sebagai pengemas dan pembagi daging kurban. "Tuhan itu melihat hati kita. Tuhan itu tak melihat tampilan kita, apakah sungguh-sungguh atau pura-pura,” tegas Willy.

Menurut Ketua FKMP Surabaya Hermawan Holey, kegiatan rutin sejak tahun tahun 2001 itu dimaksudkan untuk menciptakan kerukunan umat beragama melalui kegiatan bersama. "Kami sudah sering merayakan Idul Adha, Natal, puasa Ramadan, Paskah, dan tradisi keagamaan lainnya secara bersama-sama dengan pembagian sembako atau bingkisan buka bersama," katanya.

Bahkan, Gereja Algonz setiap tahun selalu digunakan sebagai pusat distribusi makanan untuk sahur keliling bersama isteri mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Umat mengumpulkan makanan sahur, kemudian berkeliling ke sejumlah titik di Kota Surabaya untuk membagi-bagikan makanan tersebut.

"Tujuan kami sederhana saja. Yakni, membangun persaudaraan sejati melalui kegiatan nyata, bukan sekadar teori,” ujar Hermawan yang berasal dari Maumere, Flores, itu.

Menurut catatan saya, semarak kegiatan lintas agama di Paroki Algonz mulai dirintis oleh Romo Kurdo Irinto pada 1995/1996. Saat itu pastor yang juga aktivis kemanusiaan itu sering mengajak para aktivis muslim, protestan, hindu, dan buddha ke gereja untuk mendiskusikan berbagai persoalan nyata di masyarakat. “Kita ingin menciptakan saling pemahaman, kebersamaan,” katanya.

Tak heran, pastoran Algonz pernah menjadi tempat mangkal sejumlah aktivis mahasiswa Islam, khususnya dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atawa PMII. Romo Kurdo juga bikin gebrakan dengan mengundang KH Said Aqil Siradj, cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), untuk memberikan wejangan kepada umat Katolik di Gereja Algonz.

Kegiatan ini sempat 'geger' karena seakan-akan KH Said Aqil berkhotbah di gereja. Padahal, sejatinya, KH Said Aqil memberikan ceramah kepada umat Katolik sebelum misa berlangsung. Tempatnya saja yang di dalam gereja. Apa pun kritik orang, yang jelas, terobosan Romo Kurdo ini kontan melahirkan sejumlah aktivis lintas agama di gereja tersebut. Salah satunya, Hermawan Holey.

Romo Kurdo pindah ke paroki lain. Kemudian pastor berganti beberapa kali. Namun, puji Tuhan, kegiatan-kegiatan lintas agama masih dipelihara dengan baik di Gereja Algonz.

4 comments:

  1. menarik sekali.
    ternyata ada sebuah kegiatan lintas agama seperti ini. mudah-mudahan terus berlangsung.

    salam kenal.
    selamat natal.
    salam dari belanda.

    ReplyDelete
  2. selamat natal bung. blog anda cukup bagus. gak nyangka ada orang NTT bisa bikin blog macam ini hehe... cerita idul adha ini bisa jadi inspirasi bagi kita semua di tanah air.

    ReplyDelete
  3. kabarnya romo kurdo yo opo, cak? jarene dipecat? saiki ndek mana?

    fenny

    ReplyDelete
  4. Yang jelas, Romo Kurdo bertugas di Paroki Blora, Jawa Tengah, sejak September 2007. Terima kasih atas perhatian anda.

    ReplyDelete