22 December 2007

Gubernur Jatim dan kemacetan


Apa pun kata orang, saya menilai Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso telah menelurkan kebijakan yang tegas dan benar tentang transportasi umum di Jakarta. Dia bikin busway dengan konsekuensi macet di mana-mana. Bang Yos juga tahu kalau dia bakal dimaki-maki jutaan orang. Tapi itu lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa.

Pemimpin yang baik harus visioner. Punya visi jauh ke depan: 10, 20, 50, bahkan 100 tahun ke depan. Apa jadinya jika kemacetan di Jakarta dibiarkan saja? 10, 20, tahun mendatang macam apa jadinya? “Kebijakan saya memang tidak populis, tapi itu saya lakukan demi kebaikan warga Jakarta dan sekitarnya. Bukan untuk saya,” tegas Bang Yos saat berkunjung ke Surabaya.

Kini, Bang Yos berstatus bekas gubernur. Dia keliling ke mana-mana, termasuk di kawasan Lumpur lapindo, untuk mensosialisasikan pencalonan dirinya sebagai presiden RI, 2009. Di luar Jakarta, Bang Yos dikagumi karena berani membuat keputusan meski ditentang banyak orang. Bang Yos berani melawan arus.

Saya kira, pemimpin di Jawa Timur, khususnya di Surabaya dan sekitarnya [Sidoarjo, Gresik, Malang, Lamongan] harus mencotoh ketegasan Bang Yos. Tegas menyikapi masalah kemacetan di jalan raya. Harus ada solusi! Jalan di Surabaya tidak boleh dibiarkan semrawut macam sekarang. Harus ada proyeksi 5, 10, 20, 30, 50… tahun ke depan macam apa. Wakil rakyat di DPRD pun perlu focus ke soal ini.

Kenapa? Minggu ini Surabaya mengalami dua kali kemacetan terparah. Gara-gara hujan tiga jam lebih, jalan raya di semua kawasan macet total. Stagnan, tidak bergerak. Waktu tempuh Aloha, Gedangan, ke Graha Pena Jalan Ahmad Yani Surabaya yang biasanya 10-15 menit, pecan lalu molor hingga 120 menit. Betapa tersiksanya saya dan para pengguna kendaraan bermotor di jalan raya. Dua jam untuk jarak tempuh lima kilometer. Alamak!

Bagaimana kalau harus ke Tanjung Perak? Wah, bisa 3-4 jam. Tiap kali macet, warga Surabaya maki-maki pejabat di radio. Minta perhatian. Minta solusi. Desak polisi turun tangan. Dan seterusnya. Tapi setahu saya sampai sekarang pejabat-pejabat Jatim, apalagi Kota Surabaya, tidak punya proposal untuk memecahkan masalah kemacetan.

DPRD tak usah diharap banyak lah. Wakil rakyat lebih suka ngelencer, foya-foya, menaikkan tunjangan, dan bisnis pribadi. Nyaris tidak ada pejabat public yang berpikir bagaimana mengurangi kemacetan. Bagaimana Surabaya, Sidoarjo, Gresik 10-20 tahun mendatang.

Gubernur Imam Utomo yang menjabat 10 tahun pun tidak focus pada kemacetan. Beda dengan Bang Yos, yang juga berkuasa 10 tahun, tapi berani ambil risiko. Satu-satunya terobosan Pak Imam adalah turun tangan mengatasi sampah akibat penutupan LPA Keputih. Waktu itu Wali Kota Surabaya Cak Narto [alm] dirawat di Australia. Andai saja Pak Imam berani bikin kebijakan strategis untuk mengatasi kemacetan, insya Allah, dia akan dikenang setelah lengser. Jangan-jangan nasib Pak Imam macam gubernur-gubernur Jatim lain yang ‘hilang’ setelah menjabat, kecuali Pak HM Noer.

Kenapa Surabaya macet total? Saya kira, gampang sekali mencari penyebab. Jalan utama dari utara ke selatan [Perak-Waru] hanya satu. Semua kendaraan menumpuk di situ. Jalan alternatif nyaris tidak ada. Lha, kalau ribuan kendaraan berkumpul di satu dua ruas utama, ya, macet total.

Pengembangan Surabaya ke selatan [Sidoarjo] sejak 1980-an menimbulkan komplikasi baru. Sebab, saat ini ribuan warga yang tinggal di Sidoarjo kerja di Surabaya. Saya pernah melakukan ‘riset’ kecil-kecilan di beberapa kantor. Amboi! Rata-rata jarak rumah dengan kantor di Surabaya 10-15 kilometer. Bahkan, banyak teman yang tinggal di Malang atau Lamongan, tapi kerja di Surabaya. Tiap hari dia komuter atawa ngelaju.

Artinya, orang perlu kendaraan bermotor untuk berangkat dan pulang kantor. Sementara kendaraan umum di Surabaya sangat jelek. Rata-rata bus kota di Surabaya bobrok, usia 30-an tahun. Jejal-jejalan, panas, jadwal tak tentu, rawan copet. Halte tak berfungsi. Siapa gerangan yang mau naik bus atau angkot? Maka, pilihan rasional adalah membeli sepeda motor atau mobil.

Jalan raya di Surabaya dipenuhi kendaraan pribadi. Sepeda motor lari ngawur. Mobil pribadi yang mewah pun ngawur. Jalur kiri kanan tak jelas. Serobot sana sini. Singkatnya, hukum rimba berlaku di jalan raya Surabaya [dan Sidoarjo]. Jangan heran kalau setiap hari ada saja warga yang mati konyol di jalan raya: diserempet bus/mobil, dihantam sesame motor, dan seterusnya.

NYAWA MANUSIA DI SURABAYA SEPERTINYA SANGAT MURAH!

Apakah kondisi ini dibiarkan saja? Tunggu sampai stagnan sama sekali? Bang Yos sudah memberi contoh dengan bus Transjakarta. Apa pun kritik orang, saya sangat menghargai kenekatan Bang Yos menawarkan solusi untuk mengurangi kemacetan. Jika Transjakarta dan pendukungnya jalan, sebaiknya Jakarta membatasi secara drastis kendaraan pribadi.

Bila perlu meniru Singapura yang membatasi usia kendaraan. Singapura juga bikin kebijakan yang memaksa warganya berpikir 214 kali untuk mengoleksi kendaraan pribadi. Singapura bikin angkutan massal yang nyaman, aman, mewah, tepat waktu, tersedia di mana-mana, dengan tarif murah.

Tahun 2008, pemilihan gubernur Jatim. Kandidat-kandidat yang muncul Soekarwo, Soenarjo, Achmady, Sutjipto. Saya menilai tak ada satu pun kandidat yang berkarakter tegas, berani bikin kebijakan riskan, tapi visioner. Sejauh ini tidak ada sama sekali program untuk mengatasi kemacetan di Surabaya dan kota-kota besar lain.

Pak Soekarwo, anak buah Imam Utomo, punya slogan abstrak: ‘APBD untuk rakyat’. Sejak dulu APBD itu ya untuk rakyat, Pak! Pak Soenarjo pun bicara abstrak, mengawang-awang. Pak Achmady hanyalah bupati Mojokerto yang belum berpengalaman di tingkat provinsi.

Lha, apa jadinya kalau nama-nama ini yang menjadi gubernur Jatim periode 2008-2013? Mustahil kasus kemacetan di Surabaya bisa dipecahkan. Prek!

No comments:

Post a Comment