11 December 2007

Gereja Protestan Jawa di Tunjungrejo, Lumajang


Bulan Desember ini saya akan banyak menulis tentang gereja dan hal-hal berbau kristianitas. Menjelang Natal, bukan? Nah, pekan lalu saya ngobrol cukup lama dengan Mbak Hesti [panjangnya Dyah Hastuti Projolaksono] di Pondok Mutiara Sidoarjo.

Hesti korban lumpur lapindo di Porong. Rumah dan kampungnya di Desa Siring sudah tenggelam sejak bulan Juni 2006 alias kelompok pertama yang terdampak lumpur. Hesti dan suaminya, Mas Totok Widiarto, kontrak di Pondok Mutiara bersama komunitas pelukis Sidoarjo dan Surabaya. Asyik sekali cangkrukan di sana.

Saya sudah beberapa kali mampir di Pondok Mutiara, seperti biasa, segan bertanya apa agama dan kepercayaan Hesti. Eh, belakangan perempuan 37 tahun ini yang kasih tahu saya bahwa dia berasal dari Desa Tunjungrejo, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. “Kampung saya itu antik, Bang Hurek. Semua penduduk beragama Kristen Protestan. Gerejanya GKJW [Gereja Kristen Jawi Wetan],” tutur Dyah Hastuti Projolaksono dengan bangga.

Kebanggaan yang wajar. Sebab, setahu saya jarang ada 'kampung nasrani' di Jawa Timur. Di kediaman saya, sebuah desa di dekat Bandara Juanda, kawasan Gedangan, misalnya, orang Kristen [Protestan, Katolik, Pentakosta, dan sebagainya] tak sampai 1%. di RT 07 misalnya hanya saya seorang yang bukan Islam. Maka, saya pun menjadi penduduk pendatang paling unik di kawasan. Hehehe....

Saya tertarik mendengar cerita Hesti tentang GKJW di Tunjungrejo. Di sana ada gereja besar berusia ratusan tahun. Lonceng antik. Kebaktian berbahasa Jawa. Pasamuwan yang solid. Upacara tradisional Jawa-Kristen nan unik. Pesta syukur hasil panen alias unduh-unduh. Tradisi Natal yang khas. Dan banyak lagi.

“Saya bisa stres kalau nggak pulang untuk natalan di rumah. Sebab, suasana Natalnya tidak akan mungkin dijumpai di daerah lain. Bang Hurek saya ajak ke rumah, Natal sama-sama keluarga saya,” ujar Dyah Hastuti Projolaksono berkali-kali.

Ah, sebagai orang kampung, juga berlatar gereja desa [meski Katolik], saya bisa merasakan suasana GKJW di Tunjungrejo. Tentu saja khas, unik, menarik, meriah, berkesan, membumi. Beda dengan Natal di kota macam Surabaya atau Jakarta yang hanya meriah di plasa, mal, atau pusat belanja modern. Natal di kota-kota itu hedonis-borjuis, hanya kemeriahan di permukaan. Sekadar trik agar orang membelanjakan uangnya thok!

Saat ini penduduk Tunjungrejo sekitar 2.000 keluarga. Sejak dulu desa ini punya sistem irigasi dan pertanian sangat bagus. Selalu juara lomba desa di tingkat kabupaten, bahkan nasional. Meski diapit oleh desa tetangga yang muslim dan berbudaya Madura, Tunjungrejo ternyata mampu mempertahankan pasamuwan [ekklesia] sebagai gereja desa, GKJW, secara turun-temurun.

“Apakah 100 persen penduduk jemaat GKJW?” tanya saya.

“Tadinya begitu. Tapi dalam perkembangannya, ada juga warga yang ikut gereja lain. Orang Katolik ada juga lho, karena ada orang-orang Flores yang kawin dengan perempuan Tunjungrejo. Advent juga ada kayak saya. Hehehe...,” tutur Hesti yang sekarang bergereja di GPIB [Gereja Kristen di Indonesia bagian Barat].

Ini juga karena banyak warga Tunjungrejo yang sekolah di kota, kuliah, bekerja, sehingga punya pergaulan baru. Tapi, kalau kembali ke kampung halaman, mereka balik lagi ke GKJW, gereja warisan nenek moyang mereka. Nah, orang-orang non-GKJW boleh menetap di Tunjungrejo, tapi tidak boleh bikin gereja di situ. Singkatnya, di Tunjungrejo hanya ada satu jenis gereja: Gereja Kristen Jawi Wetan.

“Bukan berarti kami fanatik, Bang Hurek, tapi sudah menjadi tradisi di kampung kami. Dan orang-orang di Lumajang pun bisa menerima ini sebagai warisan sejarah yang perlu dilestarikan,” ujar Hesti, istri Mas Totok, yang beragama Hindu-Jawa itu.

Lalu, bagaimana kisah pembentukan pasamuwan GKJW di Tunjungrejo?

“Wah, kalau itu ceritanya panjang. Sudah masuk ke sejarah. Aku gak ingat lah. Tapi saya pastikan sejak zaman Belanda. Waktu itu yang babat alas, memulai, empat keluarga. Mereka berasal dari Mojowarno, Jombang,” kata Hesti spontan.

“Mojowarno yang pusatnya GKJW itu kah?”

“Seratus. Memang kami di Tunjungrejo punya ikatan kekerabatan dengan Mojowarno. Bahkan, semua pasamuwan GKJW itu masih tergolong kerabat dekat karena leluhurnya sama,” tutur Hesti alias Dyah Hastuti Projolaksono. Saya bisa menangkap kebanggaan besar di wajah teman yang satu ini. Bangga menjadi ahli waris sebuah gereja legendaris di Jawa Timur.

Hesti kemudian meminta saya untuk wawancara langsung dengan sesepuh desa atau pengurus GKJW Tunjungrejo. “Kalau saya yang cerita mungkin nggak valid karena gak ada buku. Lain dengan datang sendiri ke Tunjung. Hehehe...,” tegasnya.

Aha, tentu saya akan ke sana dalam waktu dekat. Sekaligus menikmati Nusa Barong, melihat kampung penyu, yang terkenal itu. Sebab, Tunjungrejo ini terletak di dekat pantai selatan Pulau Jawa dengan ribuan pohon nyiur melambai-lambai, pasir nan indah, laut nan bersih. Begitu kata Mas Totok.

“Pokoke rugi kalo sampeyan gak ngelencer nang Tunjungrejo. Hehehe,” kata Mas Totok dengan suaranya yang keras lalu ketawa renyah.

Pulang ke rumah saya bongkar literatur karya Philip van Akkeren, peneliti asal Belanda, yang menulis buku DEWI SRI DAN KRISTUS. Philip mengkaji keberadaan gereja pribumi di Jawa Timur. Dia bahas habis asal-muasal pasamuwan GKJW Ngoro yang berdiri pada 1827, Kertorejo 1830, Mojowarno 1844.

Saya sangat tertarik mengikuti cerita bagaimana Abisai Ditotruno dan Paulus Tosari membuka hutan pada 1846 dan bikin kampung Mojowarno setahun kemudian, 1847. Pada 8 Desember 1848 berdiri pasamuwan atau jemaat gereja pribumi di Mojowarno, Jombang. “Pendeta JE Jellesma [misionaris Belanda di Surabaya] menyaksikan sebuah peristiwa langka: kelahiran spontan sebuah gereja di tengah orang-orang Jawa,” tulis Philip van Akkeren.

Sekitar 70 tahun kemudian, jemaat GKJW yang telah hidup dan mekar di Mojowarno melakukan migrasi ke kawasan timur. Mereka bermukim di kawasan yang dihuni orang-orang berkebudayaan Madura. Mengutip Philip van Akkeren, pada 1905 para pembabat alas [hutan] itu mendirikan jemaat permukiman Tunjungrejo, Kabupaten Lumajang.

“Lalu, menyusul sejumlah jemaat permukiman yang lain,” tulis Philip. Dari tahun 1827 [jemaat Ngoro] hingga 1960 [Purwosari], tercatat 40 kantong atau permukiman GKJW di Jawa Timur.

Keturunan mereka ini lah, termasuk Hesti asal Tunjungrejo, yang sesungguhnya menjadi pewaris sah gereja protestan pribumi di Jawa Timur. Karena itu, saya bisa mengerti mengapa Hesti begitu bangga dengan kampung halamannya serta GKJW di Tunjungrejo yang luar biasa.

TERKAIT

125 tahun GKJW

11 comments:

  1. Hehehe, be ju orang GKJW Bu, meski bukan orang jawa. GKJW di be pung tempat malah isinya ada orang Timor (spt be sendiri), Batak, Manado, Ambon, Papua, Tionghoa, dan Jawa ju.

    Tapi dg kondisi skr, sepertinya susah kalau GKJW menutup diri terus. sbg sebuah greja yg notabene hakekatnya adalah perkumpulan ORANG2 percaya dan bukan institusi belaka, maka sewajarnya kalau GKJW mengalami ataupun dikondisikan spy lbh dinamis dan cerdik dlm menyikapi perkembangan jaman. Kalau tidak sudah barang tentu akan ada perlawanan, spt yg skr be alami dan lakukan di be pung jemaat. Perlawanan thd oppresi kaum status quo. GKJW bisa tetap eksis kalau dinamis, stagnasi = mati.

    Kalo boleh tau, Bu tinggal dimana?? kalau Bu ada waktu main dulu di GKJW Ngagel, ketemu dg generasi muda GKJW. liat GKJW dari dorang pung sudut pandang.

    Ok Bu, begitu dulu e. GBU....

    ReplyDelete
  2. Terima kasih, lu su baca be pu blog.

    Di sini fokus saya di gereja desa, pasamuwan kampung, di Jatim. Kalau GKJW di kota macam Ngagel ya jelas beda karena pergumulannya beda, sangat heterogen. Lain sekai lah dengan cikal bakal GKJW di desa macam Tunjungrejo.

    Yang jelas, saya kagum setelah membaca cerita tentang cikal bakal GKJW, bagaimana Pak Coolen membina pasamuwan, menjaga tradisi budaya, hingga melahirkan ekklesia yang unik seperti sekarang.

    Salam untuk teman2 GKJW di Ngagel dan di mana saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. foto yang terupload
      adalah foto Greja GKJW jemaat Bongsorejo di Jombang

      Bukan foto greja GKJW Mojowarno ya

      saya dari GKJW Bongsorejo

      salam kenal
      wibi

      Delete
    2. foto yang terupload

      itu foto greja GKJW Bongsorejo di Jombang
      bukan foto GKJW mojowarno lo ya

      salam
      wibi ( GKJW Bongsorejo )

      Delete
  3. Persis seperti Bu bilang, kondisi di kota besar macam sby jauh beda dg kondisi di pedesaan. masalahnya kaum2 oppresan GKJW yg di kota merasa bahwa GKJW yg ideal adl seperti GKJW yg di desa. jelas tidak masuk akal toh. krn itu, katong yg muda2 ini berusaha utk merombak pola pikir itu.

    tapi yg di desa pun harus hati2. arus globalisasi dan kapitalisasi tdk berhenti hanya sampe kota besar, tapi juga merangsek sampe kedalaman desa. kalau tidak antisipatif bisa2 GKJW yg di desa2 ju kena imbasnya. contoh, berapa lama desa Tunjungrejo harus bersikukuh bahwa greja denominasi lain tdk blh berdiri di sana?? sdg Bu tau sendiri, greja2 americanese dg pola kapitalisasi dan franchaisenya sudah menusuk jauh bahkan sampe ke desa2.

    Be hanya mencoba menunjukkan potensi2 bahaya yg menghadang GKJW jika GKJW terlalu nyaman dg kondisi kemapanannya. dimanapun dan kapanpun kemapanan berpotensi menjerumuskan.

    Ini hanya diskusi singkat sa, itung2 tukar pikiran.

    Ok Bu, sukses...GBU...

    ReplyDelete
  4. oya Bu, kalo Bu ijinkan. Be ada sadur Bu pu tulisan ttg 125 tahun GKJW di katong pu website www.gkjwngagel.org. mohon maaf kalau permohonan ijinnya terlambat. Be lihat Bu pu tulisan itu masih relevan dg kondisi GKJW sekarang terutama GKJW yg di kota2 besar. boleh toh?? Thx.

    ReplyDelete
  5. Pada dasarnya boleh saja, tapi perlu diedit lagi kalau dimuat di media resmi. Sebab, namanya juga blog, subjektivitas sangat tinggi, ceplas-ceplos, apa adanya. Saya khawatir menyinggung perasaan pihak tertentu.
    GBU too.

    ReplyDelete
  6. baiknya datng dulu ke tunjungrejo dan lihat sendiri situasi dan kondisi di sana sebenarnya bagaimana,jangan berdebat aja.di negara ini sudah terlalu banyak orang yang pintar berdebat....

    ReplyDelete
  7. tambahan
    NB:aku orang asli tunjungrejo bung.....

    ReplyDelete
  8. Training Sound System Gereja surabaya 23 Juli 2011

    pelajaran : feedback, mixing, EQ, compressor, delay, gate, reverb, mixer, mic, phase, layout, desain instalasi.

    www.soundsystemschool.com 08998-100-555

    SERTIFIKAT !!!

    ReplyDelete
  9. saya borang tunjung yang tinggal dijogja,tlng bloknya diisi dngan sejarah gkjw. terus mereviw satu satu gkjw yang ada di jawatimur

    ReplyDelete