18 December 2007

Gambus rohani Ortodoks Siria

Menikmati gambus rohani Kyai Sadrah di kamar ternyata asyik juga. Ini rekaman musik teman-teman Gereja ortodoks Siria di Malang, Jawa Timur. Pembinanya tak lain Bambang Noorsena, tokoh yang memperkenalkan Orotodoks Siria di Indonesia pada 17 September 1997.

Saya cukup beruntung karena pernah diundang meliput acara launching teman-teman Ortodoks Siria di Surabaya beberapa tahun silam. Waktu itu Pak Bambang dan kawan-kawan memeragakan salat tujuh waktu ala Ortodoks, gambus, tembang-tembang Arab, Yahudi, Jawa, yang intinya memuji dan memuliakan Tuhan. Pujian dan penyembahan menurut versi Otodoks Siria.

Unik karena banyak menggunakan tradisi Arab, macam teman-teman Islam. Bambang Noorsena memang sangat serius belajar bahasa Arab, Aram, dan berbagai tradisi Otodoks Siria langsung di negara-negara Timur Tengah [Siria, Mesir, Yordania, Lebanon, Israel, Palestina]. Ia ingin memperkenalkan salah satu bentuk kekristenan yang belum dikenal di tanah air. Maklum, gereja-gereja di Indonesia sejatinya ‘warisan’ penjajah Portugis dan Belanda sejak abad ke-16.

Wajah kekristenan di sini, karena itu, pun menjadi kebarat-baratan. Nah, ceruk kosong inilah yang ingin diisi oleh Bambang Noorsena dan kawan-kawan lewat bendera Kanisah Ortodoks Siria. Namanya juga gereja baru, pengikutnya belum banyak. Tapi saya melihat teman-teman Otodoks Siria ini rajin memperkenalkan diri kepada publik, khususnya komunitas muslim. Memakai busana dan topi macam orang Arab, tak banyak yang tahu kalau teman-teman ini nasrani.

Nah, kaset bertajuk GAMBUS ROHANI KYAI SADRAH ini merupakan salah satu produk Gereja Otodoks Siria. Ada 10 lagu rohani dengan syair yang mungkin terasa asing bagi orang Kristen di Indonesia. Side A: Barukh Habba Be Shem Adonai, Ahlan wa Sahlan, Quddusu Lillah, Pujilah Asma Allah. Side B: Bocah Angon, Ke Ayal Ta Aroq, Mukhalis Ash-Shaalih, Na’tiy Ilaika, Ya Malilkal-muluk, Shiviti Adonai.

Semua lagu dikutip dari tradisi semitik, dan Bambang Noorsena yang menerjemahkan semua syair ke dalam bahasa Indonesia. Rupanya, mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia [GMKI] Malang ini sangat menguasai bahasa Arab serta bahasa-bahasa Timur Tengah, termasuk yang dipakai di Israel. Jangan lupa, Mas Bambang ini pernah menulis buku telaah kritis atas Injil Barnabas yang terkenal itu. Sulit menemukan orang Indonesia dengan ketekunan luar biasa macam Mas Bambang.

Teman saya pernah mengira kalau lagu-lagu di kaset ini gambus atau kasidah muslim. Cara mengucapkan syair Arab, rancak irama, suasana... dibuat macam musik Timur Tengah. “Eh, kok pakai kata Haleluya segala?” tukasnya.

Hehehe... tak hanya engkau, saya pun awalnya salah sangka, Bung!

Bambang Noorsena, pemimpin Gereja Ortodoks Siria di Indonesia, menulis sebuah tembang berjudul Pujilah Asma Allah. Melodinya ala gambus atawa kasidah. Syair kombinasi bahasa Indonesia dan Arab. Syairnya begini:

Haleluya... haleluya...
Pujilah asma Allah
Laa Ilaha Illallah
Tingi nama Tuhan
Laa Robba ilal Masih
Kebesaran-Nya di dunia
Kemuliaan-Nya di surga
Tiada seperti Dia, Allah, Allah
Pujilah asma Allah
Laa Ilaha Illallah
Kebesaran, keagungan, hanya ada pada-Nya
Ya, Robbuna ya Allah
Haleluya!


Unik, bukan?

Dari segi aransemen, kualitas musik, menurut saya, biasa-biasa saja lah. Maklum, mereka bukan pemusik dan komposer profesional yang terbiasa membuat rekaman musik. Mereka jemaat Ortodoks Siria yang ingin mengungkapkan imannya lewat tembang. teman-teman ini anak gembala, bocah angon dari Malang.

“Alunan nada yang disenandungkan bocah-bocah angon di gurun-gurun tandus, bukit-bukit gersang, di lembah-lembah, ngarai, padang ilalang, dan sungai-sungai sembari memandikan dombanya, sehingga menggetarkan hati yang mendengarnya,” begitu pidato Bambang Noorsena di album Kyai Sadrah.

Yah, musik anak gembala [bocah angon] yang sederhana sering kali lebih jujur daripada musik pop industri bermodal triliunan rupiah. Sambil menikmati tembang-tembang ini, saya membayangkan gembala-gembala bersukaria, menyanyi, main musik, karena telah melihat Sang Almasih di kandang Bethlehem.

BACA JUGA

Gereja Ortodoks Siria di Indonesia

9 comments:

  1. bagus juga idenya.

    ReplyDelete
  2. gak ada permurtadan. kalau kita jernih berpikir, ortodoks siria itu sudah lama di negara2 timur tengah, khususnya siria, libanon, mesir, iraq. dan bhs arab itu tidak identik dg agama tertentu. mudah2an salah paham ini bisa dikurangi. salam damai.

    tony gunawan

    ReplyDelete
  3. Beberapa komentar yang provokatif dan emosional saya hapus. Terima kasih!

    ReplyDelete
  4. Luar biasa.. salut sekali dengan pak Bambang Noorsena... kepengen belajar banyak dari beliau..

    ReplyDelete
  5. saya cuma bisa mengucapkan
    ASTAGHFIRULLAH HALADZIM

    ReplyDelete
  6. wah wah ini baru pencerahan, ini pencerahan baru, gimana cara dapatkan kasetnya. di Jakarta grjanya dimana? Syallooom, haleluya, wasalam mualaikum.

    ReplyDelete
  7. link downloadnya dimana? jadi pengen mendengarkan juga neh......

    ReplyDelete
  8. Sangat ingin belajar bhs mesir/arab tapi tidak tau dimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahasa Mesir dan Bahasa Arab itu sangat berbeda. Kalau mau belajar Bahasa Arab, ya gampang lah. Tinggal ke pesantren atau ke Kampung Ampel, banyak gurunya. Kalau mau belajar bahasa asli Mesir (Coptic), sulit. Karena seperti Bahasa Latin, ia tidak digunakan lagi secara lisan, dan hanya digunakan sebagai bahasa liturgi Gereja Kristen Mesir alias Gereja Ortodoks Koptik (yang masih bersaudara dengan Gereja Ortodoks Syria). Nah, yang ini, benar-benar harus ke Mesir, hehehe.

      Orang Mesir itu aslinya tidak Muslim, dan tidak Arab. Aslinya Koptik, dan Kristen (Ortodoks). Iskandariyah merupakan salah satu pusat Kristen purba, di mana Santo Athanasius pernah menjadi uskup agung dan bapak teologi Kristen.

      Setelah invasi thn 640-642 oleh tentara kalifah Umar ke Mesir (yang tadinya merupakan bagian dari Kekaisaran Roma Timur / Byzantium), barulah terjadi Islamisasi dan berangsur-angsur Arabisasi di Mesir.

      Bertanyalah terus, dan belajarlah sejarah!

      Delete