10 December 2007

Daniel Rohi: Malaysia pelestari kesenian Indonesia


Tadi saya mampir ke kampus Universitas Kristen Petra di Jalan Siwalankerto Surabaya. Bertemu Daniel Rohi, dosen yang asli Timor Barat, Nusa Tenggara Timur. Bung Daniel bekas ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Surabaya.

Aktivis senior ini juga lulusan Universiti Putra Malaysia (UPM) di Kuala Lumpur, Malaysia. Lulus pascasarjana di UPM, Daniel Rohi mengajar di Universiti Teknologi Islam [alias College Unity] di Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari Kuala Lumpur.

“Di Malaysia sana dosen itu disebut pensyarah. Nah, beta sempat jadi PENSYARAH di sana, sehingga ikut mengajar mahasiswa Malaysia. PENSYARAH itu di sini DOSEN atau PENGAJAR. Siapa bilang orang Indonesia hanya bisa jadi pembantu rumah tangga? Hehehe,” ujar Daniel Rohi kepada saya.

Gaya bicara dosen UK Petra ini selalu pakai bahasa Indonesia ala Kupang bisa bertemu saya. SAYA jadi BETA, BAGAIMANA jadi KERMANA, TIDAK jadi SONDE, JALAN-JALAN disebut TAPALEUK, dan seterusnya. Bahasa Indonesia gaul versi Kupang ini sangat populer di Nusa Tenggara Timur. Supaya anda kelihatan ‘kota’, bukan ‘orang kampung’, teman-teman saya suka berbahasa Kupang. Enggan bicara bahasa Indonesia biasa, apalagi bahasa Lamaholot, bahasa daerah di Flores Timur.

Aha, senyampang isu tentang pencaplokan kesenian REOG PONOROGO dan lagu RASA SAYANG sedang ramai, beta tentu mengorek lagi soal itu. Apa betul lagu RASA SAYANG yang kita klaim sebagai lagu daerah Maluku itu populer di Malaysia? “Wah, populer sekali. Saya jadi saksi bagaimana lagu Rasa Sayang selalu dinyanyikan orang Malaysia di berbagai acara. Dan itu selalu disiarkan di televisi. Anak-anak sampai kakek-kakek nyanyi lagu Rasa Sayang,” ungkap Daniel Rohi.

Menurut pria kelahiran Atambua, Belu, NTT, 3 Oktober 1968, ini, orang Melayu itu sangat terkenal dengan budaya berbalas pantun. Kalau ada perayaan apa pun, pejabat rendah sampai tinggi bikin pantun, berbalas-balasan. Karena bahasa Melayu itu bahasa ibu mereka, ya, gampang sekali mereka bikin pantun apa saja. Rima atau aturan bunyi di akhir kata gampang saja buat mereka. Nah, lagu RASA SAYANG itu melodinya sangat akrab dan sangat pas buat mengantar pantun.

“Jadi, tidak salah kalau lagu RASA SAYANG sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Malaysia. Di mana-mana dinyanyikan. Sebaliknya, kita di sini saya nggak pernah dengar orang menyanyikan lagu RASA SAYANG. Saya terakhir kali nyanyi RASA SAYANG waktu masih sekolah, ikut pramuka, di Kupang. Coba, apa Lambert pernah dengar orang menyanyikan RASA SAYANG di Surabaya, Jakarta, atau kota lain? Atau, pernah lihat di televisi?” tanya Daniel Rohi.

Saya pun tertegun. Terus terang, saya pun tidak pernah mendengar orang menyanyi RASA SAYANG di perayaan-perayaan umum. Di televisi tidak ada. Televisi-televisi kita justru lebih suka menayangkan musik industri: dangdut, band, singkatnya penyanyi-penyanyi populer. Hampir 100 persen nyanyian tentang cinta remaja, rayuan gombal, teman tapi mesra, kucing garong, bang SMS, dan sejenisnya. Lagu-lagu daerah tidak dapat tempat, kecuali mungkin di TVRI. Itu pun sudah kehilangan pemirsa karena TVRI kalah bersaing dengan belasan televisi swasta dan televisi asing.

“Lha, kalau kita sendiri tidak biasa menyanyikan RASA SAYANG atau lagu-lagu daerah, kenapa kita marah kalau orang Malaysia yang menyanyikan?” tegas Daniel Rohi.

Menurut dia, isu lagu RASA SAYANG, kemudian REOG PONOROGO terlalu dipolitisasi sehingga hubungan baik antara kedua negara sedikit terganggu. Padahal, sejatinya itu hanya kesalahpahaman belaka. Kita terlalu berlebihan merespons isu kebudayaan. Malaysia, kata Daniel, sengaja memopulerkan lagu RASA SAYANG dan lagu-lagu Indonesia lain untuk menunjukkan bahwa kita punya bahasa, kesenian, dan kebudayaan yang hampir sama.

“Sampai sekarang orang Melayu lebih suka mempekerjakan orang Indonesia di rumahnya ketimbang katakanlah orang Filipina atau Thailand. Itu jangan dilupakan,” kata Daniel yang saat masih mahasiswa di UK Petra kerap memimpin unjuk rasa prodemokrasi di Kota Surabaya ini.

Daniel Rohi menambahkan, lagu-lagu keroncong pun ternyata hidup dan sangat disukai di Malaysia, khususnya Johor. Kebetulan negara bagian di selatan Malaysia ini dihuni banyak pendatang asal Indonesia. “Waktu saya tinggal beberapa tahun di Malaysia, setiap hari saya putar radio, dengar siaran musik keroncong mulai jam delapan malam. Lagu JALI-JALI, KERONCONG KEMAYORAN, DI BAWAH SINAR BULAN PURNAMA... semuanya ada. Kalau dengar radio itu beta rasa macam kita di Indonesia saja. Radio itu buat penghiburan orang-orang Indonesia di Malaysia”

Stasiun radio di Johor yang getol menyiarkan keroncong bernama RADIO SENSASI SELATAN. Tiap hari dua jam acaranya diisi dengan keroncong. Kenapa begitu? “Sebab, Sultan Johor itu keturunan Bugis yang sangat suka musik keroncong. Beliau lah yang meminta agar musik keroncong dilestarikan di wilayahnya,” papar Daniel Rohi.

Nah, bagaimana dengan musik keroncong di Indonesia? Masih adakah televisi yang menyiarkannya? Masih adakah anak muda yang menyanyikannya? Masih adakah orang Indonesia yang beli kaset keroncong? Nonton konser keroncong?

Berondongan pertanyaan Daniel Rohi ini saya jawab dengan diam. Sebab, saya tahu persis bagaimana nasib musik dan pemusik keroncong di Jawa Timur. “Kita introspeksi lah. Apakah kita di Indonesia sudah melestarikan keroncong dan berbagai kesenian tradisional lainnya?” tanya Daniel Rohi lalu tertawa kecil.

“Kalau kita tidak mau merawat musik keroncong, merawat lagu RASA SAYANG dan lagu daerah lain, merawat kesenian tradisional, mungkin, suatu ketika kita akan belajar di Malaysia,” tegas Daniel yang menikah dengan perempuan Batak itu.

Obrolan sudah asyik dan mulai menghangat. Namun, Daniel Rohi permisi karena harus segera menemui mahasiswa-mahasiswanya yang sudah menunggu. “KERMANA kalo diskusi ini kita lanjutkan lain kali? Soalnya, beta su ditunggu mahasiswa nih? Terima kasih, lu su meluangkan waktu ke Petra,” ujar Daniel Rohi dengan gaya Kupang-nya.

Oooo, beta juga permisi. Sampe baku dapat!

1 comment:

  1. Alo Bu...

    Salam kenal, be singgah komen sedikit e.

    Masalah budaya memang masalah yg cukup pelik utk bangsa kita. di satu sisi kita merasa budaya sbg sesuatu yg kampungan, tapi di sisi lain kita juga merasa sakit hati kalo ada yg melecehkan atau "mencuri" budaya kita. tapi sebenarnya ada masalah yg lbh serius dari sekedar masalah budaya, yaitu masalah jati diri bangsa.

    Arus globalisasi nyatanya terlalu kuat utk dilawan dan akibatnya kita terseret terlalu jauh sampai2 nyaris mengikis jati diri kita. sdg pemerintah sendiri, institusi pendidikan, lembaga agama, bukannya membawa pencerahan justru semakin tenggelam dlm arus globalisasi dan mengalami bias jati diri.

    Liat aja sistem pendidikan kita yg nyaris dpt disamakan dg sistem industri, pemerintah yg lbh banyak memposisikan diri sbg makelar bangsa, dan lembaga agama celakanya semakin menguatkan megalomania dan primodialisme golongan.

    Dg bobroknya 3 pilar ini, gimana jati diri bangsa bisa terbentuk dan terbangun dengan kuat??

    Begitu sa e Bu, nanti kapan katong lanjut lae. Thx.

    ReplyDelete