20 December 2007

Choirun Nasikhin si Haji Nunut



Penampilannya tetap sederhana. Dengan pakaian seadanya, Choirun Nasikhin  masih tampil khas dengan topi haji putihnya. Bicaranya juga tetap lugu. Sikapnya polos. Bagaimana Choirun bisa naik haji gratis dengan nunut (nebeng, mendompleng) pesawat angkutan haji?

"Harus ditegaskan bahwa saya tidak nekat. Saya hanya punya niat murni untuk berhaji. Tapi, karena nggak ada biaya, saya pikir hanya bisa dengan nunut," kenangnya.

Choirun mengaku lahir dari keluarga miskin. Ongkos naik haji saat itu sekitar Rp 6 juta tak terjangkau koceknya. Padahal, keinginan warga asli Sumobito, Jombang, Jawa Timur, untuk berhaji sudah mengganggu benaknya sejak tahun 1990.

Eloknya, saking seringnya memakai topi haji putih, sehari-hari Choirun sudah sering dipanggil dengan sebutan 'haji' oleh warga kampungnya, meski dia belum pernah ke Tanah Suci. Tak hanya berdoa, Choirun juga rajin mengikuti undian berhadiah sebagai modal untuk membayar ONH. Pernah ia mengirim 900 lembar kupon sebuah undian.

Niatnya berhaji tak terbendung lagi ketika dia memenangi sebuah undian sampo pada 1992. Choirun menerima hadiah berupa emas seberat lima gram. Setelah diuangkan menjadi Rp 70 ribu, Choirun memakainya sebagai persiapan mengikut haji tahun itu juga. "Uangnya saya belikan sandal, pakaian ihram, dan perlengkapan haji yang lain," kata pria yang bekerja sebagai petani dan pedagang ini.

Merasa tak cukup bekal, pria 45 tahun ini mencari kiat jitu. Sederhana saja. Dia ingin menerapkan kebisaannya nunut kendaraan bermotor, utamanya truk, jika ingin pergi ke mana-mana tanpa ongkos. "Seperti naik truk, kalau nanti saya disuruh turun, ya, turun. Wong namanya nunut," kata pria yang betah melajang ini.

Entah karena kepolosannya itu, niat Choirun terbukti mulus-mulus saja. Berbekal uang Rp 49.950, sisa penjualan emas hadiah, ditambah Rp 5 ribu dari ibunya, Siti Khoniah, Choirun mantap pergi haji. "Pada ibu, saya bilang jika dalam satu dua hari itu saya nggak kembali, berarti saya bisa naik haji. Benar juga kan? Senin berangkat, Selasa pulang, Rabu sampai Jombang," katanya.

Dari Jombang ia naik bis ke Surabaya dan diteruskan dengan bemo ke bandara. Choirun sempat kecewa karena tak tampak jamaah haji akan berangkat. Namun, oleh seseorang ia diberitahu bahwa sore hari ada satu rombongan haji akan berangkat. Benar saja, pukul 19.00 WIB Kloter IX telihat turun dari bisa siap berangkat.

Tanpa ragu, Choirun bergabung dengan rombongan tanpa satu pun jamaah calon haji (JCH) merasa janggal, apalagi petugas bandara. Malah tanpa kecurigaan, ia sempat berfoto-foto sebagai kenangan. Sadar jika ia nunut, di dalam pesawat Chorun tak memilih kursi bernomor. Ada empat kursi pramugari di bagian lambung yang kosong. Di situlah ia duduk hingga seorang pramugari menegurnya saat pesawat sudah terbang menuju Jeddah.

"Saya jawab nggak apa-apa karena saya nunut," katanya. Si pramugari tersenyum saja karena disangka bercanda. Hingga para jamaah memperolah jatah makan dan minum, posisi Choirun masih aman.

Entah kenapa, di tengah penerbangan, seorang pramugari meminta dokumen perjalanan Choirun. Pria desa yang tak paham apa itu paspor dan dokumen JCH akhirnya membuat geger seisi pesawat. Sadarlah JCH Kloter IX bahwa ada seorang penumpang gelap yang nunut di pesawat Garuda tersebut. Untung ada JCH yang satu desa dengan Choirun di Ngrumek, Sumobito, Jombang, mengenal Choirun. Namanya Pak Harto, juragan ikan, dan Pak Yazid.

"Pak Yazid Abdullah itu guru madrasah saya. Beliau meyakinkan kalau saya bukan orang gila. Dia juga bilang, saya warga satu desa dengannya. Saya miskin, tapi berniat betul menjadi haji karena sudah lama dipanggil Pak Haji," jelentrehnya.

Meski sempat bikin heboh, di sepanjang perjalanan ke Jeddah, Choirun justru beroleh simpati seisi pesawat. Bahkan, dari rapat kru pesawat dan ketua rombongan, mulanya Choirun akan diupayakan memperoleh paspor. Sementara biaya akan ditanggung bersama oleh semua jamaah Kloter IX. Tapi, akhirnya, Choirun diputuskan harus kembali ke tanah air.

Sempat disembunyikan kru pesawat dalam toilet pesawat selama satu jam untuk menghindari pemeriksaan Imigrasi Kerajaan Arab Saudi. Bahkan, agar petugas Imigrasi tidak curiga, toilet pesawat ditulisi 'rusak'. Trik jitu ini membuat Choirun tak sampai berurusan dengan aparat keamanan Arab Saudi.

Singkatnya, Choirun dipulangkan langsung hari itu juga. Dalam perjalanan, dia malah merasa dimanjakan. Dia menjadi satu-satunya penumpang di pesawat berkapasitas 500-an kursi itu. Dia bisa menyaksikan film serta menikmati makanan kesukaannya. "Kayak wong sugih, aku iso carter pesawat. Opo ora hebat? Hehehe...," ungkapnya.

Kasus Choirun ini mendapat liputan luas dari media massa saat itu. Maka, dia pun dijuluki HAJI NUNUT. Choirun kemudian mendapat simpati dari berbagai pihak, termasuk harian Jawa Pos. Bahkan, ada empat pihak lain yang menawarkan ONH gratis untuk Choirun. Salah satunya Haji Tosim yang akhirnya memberangkatkan haji si Choirun pada 1994.

Pada 2005, seorang pengusaha yang juga menaruh simpati padanya juga memberikan fasilitas Choirun naik haji gratis. "Tahun depan, saya juga akan berhaji lagi," kata Choirun.

Kini, Choirun sering diminta berbagai kalangan untuk membacakan doa dalam hajatan atau memberikan tausiyah di majelis taklim. Meski sudah dua kali naik haji (beneran), Choirun Nasichin masih tetap dijuluki 'haji nunut'.

TAMBAHAN DARI NASARUDDIN ISMAIL
Wartawan senior JAWA POS asal Pulau Sumbawa

Meski telah dua kali menunaikkan ibadah haji, Choirun Nasikhin lebih senang dijuluki HAJI NUNUT. Sebab, untuk memperoleh predikat tersebut bukan hal yang mudah. Julukan Haji Nunut sudah melekat pada Choirun Nasikhin. Dia sangat bangga dengan julukan Haji Nunut daripada dipanggil namanya sendiri.

Maklum, tidak mudah untuk lolos ke pesawat hingga Jeddah tanpa dokumen keimigrasian selembar pun. Namun, hal itu bisa ia lakukan dengan mulus. ''Kenapa harus marah? Saya memang pernah nunut berangkat haji, meski dipulangkan dari Jeddah. Saya kira sampai sekarang belum ada yang bisa melakukan seperti itu.''

Lantas ia pun berkisah. Ketika melompat pagar masuk ke pesawat yang parkir di Bandara Juanda, dia masuk lewat pagar di ujung timur ruang kedatangan internasional. ''Sambil wirid, saya jalan biasa saja. Tidak ada yang menegur sampai saya berada di atas pesawat.''

Choirun mengaku memang sering nunut bus dari Jombang ke Surabaya. Dengan modal wiridnya itu, kondektur jarang meminta karcis padanya. Begitu sebelahnya membayar, ia dilewati. ''Tapi saya juga sudah siap, bila disuruh turun kendektur, ya akan turun. Habis mau gimana lagi? Memang saya tidak punya uang,'' cerita Choirun yang sering ke Surabaya untuk berziarah di Masjid Sunan Ampel itu.

Setelah Jawa Pos gencar memberitakan tentang kasus haji nunut, 1992, banyak pihak yang merasa iba . Salah satunya, H Tosim, pengusaha tambak di kawasan Osowilangon. H Anas Saduruwan, bos Fath Indah, biro perjalanan haji dan umrah, juga saat itu mau memberangkatkan Choirun, namun kalah duluan dengan H Tosim.

Kala itu H Tosim yang mendapat rezeki miliaran rupiah dari pembebasan tambak untuk Tol Surabaya-Gresik memberangkatkan Choirun untuk beribadah haji tujuh anggota keluarga dan tetangganya, termasuk Choirun, warga Sumobito, Jombang. H Tosim secara diam-diam mengontak Jawa Pos.

Ia menyanggupi untuk memberangkatkan Choirun untuk beribadah haji setahun kemudian. Pemuda lajang itu pun menyatakan kegembiraannya, setelah Jawa Pos memberitahukan keinginan pengusaha tambak tersebut. Tahun sebelumnya H Tosim juga memberangkatkan keluarga dekatnya ke tanah suci, Makkah.

Surat-surat pun mulai dipersiapkan untuk pendaftaran haji tersebut. Saya [Nasaruddin Ismail] saat itu sibuk menangani keberangkatan Choirun ke rumah H Tosim di kawasan Osowilangon. Petani tambak yang kaya mendadak itu betul-betul mewujudkan janjinya untuk memberangkan Choirun. Akhirnya, berangkatlah dia bersama enam calon haji lainnya, yang semuanya dibiayai oleh H Tosim.

''Ini sudah nazar saya, kalau tanah itu laku saya berangkatkan haji famili dan tetangga,''`kata H Tosim saat itu.

Hingga sekarang, hubungan Chairun dengan Grup Jawa Pos tak pernah putus. Bila ke Surabaya, ia selalu mampir di Graha Pena, hanya sekadar menyambung silaturahim. Bahkan, ia mampir ke rumah wartawan Jawa Pos yang saat itu membantunya untuk menghubungkan dengan H Tosim.

Ada pengalaman menarik lainnya yang dialami Choirun . Meski ia tidak berurusan dengan pihak imigrasi, kepolisian, dan bandara, karena ia nyelonong masuk ke pesawat tanpa izin petugas , dia harus berurusan dengan Detasmen Intelijen (Deintel) Kodam V/Brawijaya di Wonocolo. Berhari-hari dia menginap di sana untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Maklumlah, pada zaman Orde Baru Den Intel cukup besar pengaruhnya dalam berbagai persoalan. Wartawan yang salah nulis pun harus 'disekolahkan' di Wonocolo. Nah, ketika pulang dari Wonocolo, di bawah mata Choirun terlihat seperti bekas benda tumpul. Bekas itu masih ada hingga sekarang. Namun, ketika ditanya ia mengaku jatuh terpeleset di kamar mandi ketika dimintai keterangan di Wonocolo.

“Saya tidak diapa-apakan kok,” katanya.

Hehehehe..... Pancet heibat banget arek Jombang iki!!!

8 comments:

  1. Thanks ya telah muat cerita ini lagi...
    salam kenal!

    ReplyDelete
  2. Wah ..menarik sekali ceritanya

    ReplyDelete
  3. Mas Hurek...

    Saya sampai geleng2 kepala membacanya....

    susah dipercaya bisa terjadi :)


    syukurlah beliau sudah jadi haji beneran sekarang


    salaaaam

    ReplyDelete
  4. Hehehe... Mbak Dyah di Singapura. Memang benar2 ajaib Haji Nunut ini. Layak masuk buku rekor dunia, setidaknya Muri Semarang. Orangnya lugu, apa adanya, enak diajak ngobrol. Salam juga.

    ReplyDelete
  5. Brow... blognya sangat bagus...
    di tunggu Invite baliknya ya

    syalomm

    ReplyDelete
  6. benar-benar lucu dan mengharukan :)

    ReplyDelete
  7. Ajaib nih, keyakinan yang kuat ,salut

    ReplyDelete
  8. kisah haji nunut yg ajaib dan inspiratif.

    ReplyDelete