22 December 2007

Album Christmas Embong Rahardjo


Embong Rahardjo saat tampil di North Sea Jazz Festival bersama The Djakarta All Stars di Den Haag, Belanda, 14 Juli 2001. [foto: Radio Nederland]

Embong Rahardjo, saksofonis papan atas kita, meninggal dunia pada 30 November 2001 dalam usia 51 tahun. Dunia musik, khususnya jazz Indonesia, sangat kehilangan. Namun, berkat rekaman yang dibuat tak lama sebelum almarhum dipanggil Tuhan, saya bisa menikmati alunan melodi Natal yang merdu.

Sebagai penggemar musik jazz, saya tentu senang dengan permainan Embong Rahardjo. Almarhum tergolong salah satu pemain saksofon terbaik di Indonesia. “The great Embong,” begitu penyanyi dan pembawa acara Koes Hendratmo menjulukinya.

Tak berlebihan, memang. Pria ramah, pendiam, dan sederhana ini sudah berkiprah di dunia musik selama tiga dekade lebih. Embong Rahardjo juga kerap tampil di festival-festival jazz bergengsi di luar negeri. “Saya percaya bahwa semua yang saya dapat semata-mata ini karena anugerah Tuhan,” ujar Embong Rahardjo kepada saya di Surabaya beberapa tahun lalu. Sebelum meninggal, kata-kata Pak Embong memang sangat bijak, religius.

Nah, menjelang Natal ini saya secara khusus menikmati beberapa album Natal. Salah satunya, ya, punyanya Embong Rahardjo: Christmas Embong Rahardjo. Diproduksi Maranatha, Jakarta, label spesialis musik rohani [kristiani], album instrumentalia ini berisi 10 nomor khas Natal alias Christmas Carols. Lagu-lagu yang sangat akrab di telinga kita, umat Kristen tentu.

Side A: White Christmas, Blue Christmas, O Holy Night, Felice Navidad, What Child is This, Rudolf the Red Nose Reindeer.

Side B: Jingle Bell, When the Child Born, Marry's Boy Child, Silver Bell, Winter Wonderland, Silent Night.


Embong Rahardjo pemusik jazz kawakan. Macan jazz Indonesia. Pada 14 Juli 2001 dia tampil di North Sea Jazz Festival, Den Haag, Belanda, bersama The Djakarta All Stars [Embong Rahardjo, Ireng Maulana, Kiboud Maulana, Idang Rasyidi, Cendy Luntungan, Jeffrey Tahalele, Adjie Rao, Syaharani]. Menurut laporan Radio Nederland, sambutan terhadap Embong Rahardjo dkk sangat baik. Saya juga melihat foto-foto betapa publik Belanda antusias menyambut penampilan pemusik jazz asal Indonesia.

Lantas, bagaimana seorang maestro saksofonis, yang darah dagingnya jazz, bikin album Natal? Tentu saja, harus banyak kompromi. Pak Embong tetap meniup saksofon dengan gayanya, ragam jazz, tapi dia sadar bahwa pendengar album Natal ini sebagian besar bukanlah penggemar musik jazz. Asal tahu saja, Maranatha itu label yang paling banyak merekam lagu-lagu pujian dan penyembahan. Praise and worship songs!

Maka, Pak Embong memilih jalan tengah. Iringan musiknya pop, tidak memakai disiplin jazz ketat. Bisa saya pastikan bahwa musik pengiring di album ini hasil program [musik mesin]. Teman-temannya yang jazzer murni macam Ireng Mulana, Idang, Kiboud, Cendy, Jeffrey... tidak dilibatkan. Pak Embong bikin sendiri musik pengiring, lalu mengisi melodi. Hasilnya: Christmas Embong Rahardjo.

Terang saja, tidak bisa maksimal. Tadinya, saya mengira album ini jazz Natal setelah melihat foto Embong Rahardjo di sampul. Eh, ternyata bukan jazz, melainkan instrumentalia biasa. Kebetulan saja Embong Rahardjo memainkan melodi di semua lagu. Toh, saya tidak terlalu kecewa karena memang inilah pilihan almarhum untuk mendekatkan musik jazz pada pendengar pemula.

Jika sudah terbiasa mendengar instrumentalia, apalagi saksofon, lama kelamaan orang akan suka jazz. Kata orang, jazz yang benar itu adalah jazz instrumental, bukan jazz nyanyian. Musik jazz kurang berkembang di sini, juga musik klasik, gara-gara masyarakat kita terlalu mendewakan musik vokal. Mana ada album instrumentalia yang laku keras di Indonesia?

Pak Embong Rahardjo tak hanya sekali ini bikin album instrumentalia rohani. Sebelumnya, dia merilis album PUJI SYUKUR bersama Audiensi Band dan Indra Lesmana. Album ini memuat 10 lagu dari Puji Syukur, buku nyanyian umat Katolik di Indonesia. “Saya ingin menyumbangkan sesuatu kepada gereja. Sebab, saya hanya bisa main musik,” kata Pak Embong di Gereja Katedral Surabaya beberapa tahun lalu.

Kepada saya, Pak Embong pernah mengatakan bahwa dia selalu berusaha memberikan yang terbaik di mana pun dia bermusik. Entah di festival jazz kelas dunia, di rekaman, di gereja, di hajatan nikah, ulang tahun instansi, dan sebagainya. “Mas, saya ini musisi profesional. Orang profesional itu hanya mau memberikan yang terbaik,” tegasnya.

Saya percaya, di album Natal satu-satunya yang pernah dibuatnya ini Embong Rahardjo telah memberikan kemampuan terbaiknya untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Karena itu, album Natal Pak Embong ini layak disimak.

No comments:

Post a Comment