12 November 2007

Selamat jalan Pak Agil H Ali



Oleh Djoko Pitono
Sumber: Jawa Pos 12 November 2007


"Dunia jurnalistik adalah satu dunia yang penuh dengan fatamorgana. Ia menakutkan, menggelisahkan, tetapi menghibur jiwa. Saya telah memilihnya dan saya tidak keliru. Karena itu, saya tidak ingin melepaskannya."


Kata-kata itu adalah salah satu pernyataan Agil H. Ali, tokoh pers nasional, yang meninggal dunia pada Minggu (11/11/2007) petang. Dia tutup usia dalam usia 62 tahun setelah hampir sebulan dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya, akibat serangan stroke.

Agil memang tetap setia kepada profesinya sebagai jurnalis. Kepada kawan-kawannya, dia bahkan menyebutkan akan menerbitkan sebuah surat kabar di Jakarta pada Januari 2008.

Karena kesetiaan pada profesinya itu, juga berkat prestasinya di dunia pers, para sahabatnya di Universitas Brawijaya, Malang, malah sedang mengupayakan pemberian gelar doktor honoris causa (Dr HC) untuk Agil.

"Cukup banyak kawannya di Unibraw yang mendukungnya," kata Djanalis Djanaid, seorang sahabatnya, yang tak bisa bertakziah karena ada acara di Batam.

Sebagai jurnalis, Agil H. Ali dikenal sebagai seorang orator. "Dia orator dan agitator yang andal, bisa bikin orang terharu, bangkit, atau marah. Beliau juga selalu sukses kalau diminta untuk menangani proyek-proyek jangka pendek," kata Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan begitu mendengar kabar meninggalnya Agil.

Dalam beberapa bulan terakhir, Agil menunjukkan hal-hal yang agak berbeda daripada biasanya. Dia sering menelepon saya dan sejumlah kawannya. Tidak seperti biasanya, dia juga sering berbicara tentang kematian. Mati besok atau sekarang sama saja, katanya. Apa yang kita tunggu?

Lahir di Tondano, 1 Juli 1945, Agil H. Ali mengawali karir jurnalistiknya saat menjadi mahasiswa di Unibraw dengan mendirikan Bulletin Mahasiswa, kemudian berubah menjadi Mingguan Mahasiswa, sebelum akhirnya menjadi Mingguan Memorandum, dan terakhir Harian Memorandum (kini di bawah Grup Jawa Pos).

Laki-laki yang selalu tampil perlente itu juga pernah mengangkat prestise dunia sepak bola di Indonesia berkat kepiawaiannya memotivasi para pemain bola.

Tetapi, kawan-kawan Agil merasa paling terkesan ketika masa mahasiswa pada 1960-an dan 1970-an. Saat itu, Agil sering diundang untuk berbicara di berbagai forum diskusi, seminar, dan semacamnya, terutama di kampus-kampus di berbagai kota di Indonesia. Dia memikat ratusan dan bahkan ribuan pendengar yang berdarah muda hingga menyulutnya bergerak melakukan demonstrasi-demonstrasi. Dia pun berkali-kali harus mendekam di balik jeruji besi kekuasaan.

Seorang sahabatnya, Sam Abede Pareno, melukiskan gaya jurnalistik Agil sangat indah, namun bebas dan lugas sehingga membuat para pejabat geregetan terhadap pemuda kurus yang dandy dan flamboyan itu.

"Bukan hal yang mengherankan bila kemudian Agil harus ditangkap dan dijebloskan ke tahanan," kata Sam Abede.

Sam juga melukiskan, Agil adalah seorang aktor yang besar meskipun panggungnya kecil. "Gagasan-gagasannya melampaui sekat-sekat kewilayahan, keagamaan, kebangsaan, dan ideologi," tambah Sam.

Begitu besarnya daya tarik Agil ketika berbicara dan memengaruhi massa, dua jenderal terkemuka pada masanya, Jenderal Soemitro dan Jenderal Ali Murtopo, merasa perlu mengundang Agil untuk bertemu.

Para duta besar negara-negara kaya bergantian mengundang Agil untuk melakukan kunjungan jurnalistik ke negeri-negeri mereka. Para pejabat sipil militer, seperti Pangdam dan gubernur, serta tokoh-tokoh Jawa Timur lainnya juga sering mengundang dia untuk bertukar pikiran.

Dia juga pernah menjadi ketua PWI Jawa Timur dua kali masa jabatan, juga pengurus Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Pusat, dan menjadi anggota MPR.

"Dia memang pandai sekali berpidato. Pidato-pidatonya selalu menarik. Jarang saya temui orang yang pintar berbicara seperti Pak Agil," kata Prof Budi Darma PhD, sastrawan terkemuka dan guru besar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Sebagai pemimpin sebuah koran, Agil juga bermurah hati kepada anak-anak muda yang berniat menjadi jurnalis. Lewat korannya, Agil telah menumbuhkan entah berapa ratus jurnalis yang kini tersebar ke berbagai media massa, termasuk radio dan televisi. Mereka datang dan pergi, tapi tak ada rasa kecewa, apalagi sakit hati. Dia bahkan selalu memuji para mantan anak buahnya yang berprestasi.

Dalam kiprahnya yang panjang itu, Agil memang kadang menimbulkan kontroversi-kontroversi. Sebagian orang tentu tidak senang kepadanya. Tetapi, sejak lama Agil telah menyadari hal itu dan memang itulah konsekuensi yang harus dipikul seorang tokoh seperti dia. Saat mengakhiri jabatan ketua PWI, Agil menutup sambutannya dengan sangat puitis:

"Sebagai ketua, sebagai pemimpin organisasi ini, saya menyadari bahwa saya dicintai dan sekaligus dibenci, saya dipuja bersamaan saya dicaci. Kepada yang mencintai dan yang membenci, maafkanlah saya, izinkan saya pergi dari jabatan ini, kembali ke tengah Saudara-Saudara dalam keakraban yang tidak berjarak. Saya mencintai Anda semua, lebih lama dari selama-lamanya," kata Agil.

Seorang kawannya, Noor Fattah Syafi’i, punya komentar yang menarik hanya dua hari menjelang meninggalnya Agil. "Setiap orang punya kelemahan, termasuk Mas Agil. Tetapi, saya berani mengatakan, nyaris tidak ada jurnalis di Jawa Timur ini yang di masanya tidak pernah bersentuhan dengan dia dan memperoleh sesuatu darinya," katanya.

Dan, jurnalis itu sekarang telah pergi. Selamat jalan Bung Agil.

No comments:

Post a Comment