18 November 2007

Sekilas paduan suara di Indonesia



Himne Guru, aransemen SATB oleh Bapak Binsar Sitompul (almarhum). Sejak sekolah dasar, anak-anak Indonesia sudah dibiasakan berpaduan suara!

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

Mas Hurek, tolong jelaskan secara umum mengenai perkembangan paduan suara Indonesia? Kapan mulai berkembangnya (apa betul pertengahan tahun 1950-an seperti yang diceritakan oleh Om Simanungkalit? Awal perkembangannya bagaimana? Dan terpengaruh dari hal apa?

Oh iya, secara pribadi Mas Hurek terkesan dengan karya Om Lit [Simanungkalit] yang mana? (Kalau Om Lit bilang ke saya dia sangat bangga dengan "Peralihan"). Lalu, menurut mas, apa yang membedakan lagu-lagu karya Om Lit dengan karya orang lain?

Yudha Trisna Wati
Mahasiswi UI Jakarta



Wah, saya jawab secara spontan saja ya. Soalnya, gak sempet buka literatur nih.

Menurut saya, paduan suara itu terkait erat dengan kehadiran gereja-gereja di Indonesia, entah Katolik, Protestan, Pentakosta, Baptis, Advent, dan sebagainya. Liturgi atau ibadah kristiani tak lepas dari nyanyian. Bisa dipastikan, paduan suara muncul di Indonesia sejalan dengan kehadiran gereja. Jadi, sudah 400-an tahun.

Namun, harap diingat, Indonesia kan baru merdeka 1945. Sebelum itu orang Indonesia mengalami diskriminasi oleh Belanda, termasuk di gereja, sehingga kaum bumiputra [Inlander] tidak bisa aktif di paduan suara. Orang Indonesia waktu itu juga belum makan sekolah, primitif, sehingga bisa dipastikan belum bisa berpaduan suara. Kalau nyanyi, ya asal saja. Belum bisa disebut paduan suara.

Di kota-kota besar pada era Hindia Belanda [sebelum 1945] terdapat tempat-tempat hiburan atau konser untuk orang Belanda atau Eropa. Di Surabaya pusatnya di Balai Pemuda [Simpangsche Societeit, tahun ini usianya 100 tahun]. Di situ ada konser musik jazz, klasik. Bisa dipastikan orang-orang Belanda pun menikmati konser paduan suara atau musik klasik di situ.

Saya pernah lihat rekaman milik Des Alwi tentang suasana menjelang Perang Pasifik, 1942, di Surabaya. Sebelum tentara-tentara Belanda dikirim perang dengan kapal-kapal di Tanjung Perak, ada paduan suara yang sangat bagus. Diiringi orkes kecil [mini orchestra]. Tentu yang nyanyi itu orang-orang Belanda.

Jadi, saya sangat yakin paduan suara sudah ada sejak Hindia Belanda, namun penikmatnya ya penjajah-penjajah plus pejabat pribumi yang dekat Belanda. Bung Karno, putra priyayi, saat sekolah di Surabaya sampai HBS saya yakin ikut menikmati paduan suara atau musik Barat umumnya.

Setelah proklamasi, 17 Agustus 1945, suasana kacau-balau. Revolusi fisik berkepanjangan karena Belanda tidak mau pergi hingga penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949. Selama itu saya kira tidak ada acara-acara hiburan, termasuk paduan suara. Tinggal paduan suara gereja untuk kebaktian atau misa, itu pun sangat simpel. Buktinya, saya belum pernah menemukan komposisi paduan suara gerejawi karya komponis Indonesia pada era itu. Gejolak terus, mana sempat mikir musik? Itu asumsi saya.

Kalau Pak Nortier Simanungkalit mengatakan, awal perkembangan paduan suara sekitar 1950-an, saya kira benar. Sebab, pada era itu nyanyian seriosa mulai berkembang. Musik pop masa itu pun bergaya seriosa yang pakai vibrasi itu. Lalu, pada 1952 pertama kali diadakan Bintang Radio yang melombakan jenis seriosa, hiburan, dan keroncong.

Seriosa pasti terkait erat dengan paduan suara. Hampir bisa dipastikan semua penyanyi atau juara seriosa adalah aktivis paduan suara. Semua pencipta lagu seriosa bisa dipastikan pemusik klasik yang mendalami paduan suara. Nama-nama terkenal masa itu antara lain RAJ Sudjasmin, FX Soetopo, Subronto K Atmodjo, Mochtar Embut, Syaiful Bachri, Ismail Marzuki, Cornel Simandjuntak, Iskandar, Sudarnoto, Ibu Soed... merupakan pengarang lagu seriosa sekaligus pembina paduan suara. N Simanungkalit termasuk di dalamnya. Bahkan, sampai tahun 1990-an N Simanungkalit masih menjadi juri seriosa dan paduan suara.

Dari mana komponis-komponis ini berguru? Sama musisi Belanda atau Indo, tentu. Di Surabaya ada pemusik plus pengajar vokal klasik terkenal macam Tino Kerdjk, Le Clerg van Hammel, Magda Ang. Mereka-mereka ini melahirkan komponis dan dedengkot paduan suara macam Solomon Tong.

Di Surabaya, Jawa Timur lah, Solomon Tong [lahir 1939] bisa dikatakan sebagai bapaknya paduan suara Jatim. Komponis-komponis lain belajar di guru musik gereja atau sekolah Katolik [bentukan Belanda] yang punya tradisi bermusik sangat kuat. Salah satunya SMA Van Lith di Muntilan yang antara lain melahirkan cukup banyak komponis paduan suara berpengaruh di Indonesia.

Paduan suara di lingkungan Gereja Katolik [kalau Protestan saya kurang tahu] mulai berkembang pesat sejak Pastor Karl Edmund Prier SJ, romo yesuit, mendirikan Pusat Musik Liturgi atau PML pada 11 Juli 1971 di Jogjakarta. PML tidak hanya menerbitkan buku-buku paduan suara, tapi juga menggelar lokakarya komposisi dan pelatihan paduan suara di seluruh Indonesia. Saya bisa pastikan, hampir semua pelatih paduan suara di Gereja Katolik menggunakan referensi dari PML.

PML sampai sekarang membuka kursus dirigen untuk gereja-gereja atau masyarakat umum di Jogjakarta. PML menggelar kursus dirigen di mana-mana. Nah, saya perhatikan pelatih-pelatih paduan suara mahasiswa di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Nusa Tenggara Timur, adalah alumni PML atau setidaknya pernah belajar dari alumni PML. Pelatih PSM UGM Jogja ya lulusan PML.

Kalau di Protestan, yang punya program rutin Pesparawi, N Simanungkalit sangat dominan. Buktinya, ia paling banyak menyusun komposisi-komposisi untuk lomba. Peranan Yayasan Musuk Gereja [Yamuger] di Protestan juga tak bisa diabaikan dalam menggairahkan paduan suara di lingkungannya.

Pada 1950-an Presiden Soekarno juga ikut melatih paduan suara pada waktu senggang. Bung Karno yang dekat dengan seniman meminta agar diciptakan sebanyak mungkin lagu bertema cinta tanah air, nasionalisme, perjuangan, semangat pahlawan, dan sebagainya. Bung Karno juga 'memaksa' para seniman untuk bikin lagu-lagu daerah. Dari sinilah kita kenal lagu-lagu macam Yamko Rambe Yamko, Rasa Sayange, Kampuang Nan Jauh di Mato, dan seterusnya.

Bersamaan dengan itu, paduan suara berkembang tidak lagi di gereja, tetapi di ranah umum, khususnya sekolah-sekolah dan universitas. Lomba paduan suara sangat sering diadakan mulai tingkat kecamatan hingga nasional. UI, UGM, ITB, Unair, Unibraw, dan universitas-universitas tua sangat serius menjadikan paduan suara sebagai kegiatan ekstra kurikuler terpenting.

Kalau bikin lomba, lagu apa yang dilombakan? Nah, di sinilah komponis-komponis macam N Simanungkalit, Alfred Simanjuntak, Binsar Sitompul, FX Soetopo, RAJ Sudjasmin... pegang peranan. Mereka bikin lagu khusus 'dalam rangka' festival paduan suara. Kenapa? Sebab, partitur paduan suara ala Indonesia belum banyak tersedia. Pak Simanungkalit termasuk komponis paduan suara paling produktif, antara lain dirangsang oleh lomba-lomba paduan suara yang sangat sering di mana-mana.

Pesta paduan suara gerejawi [Pesparawi] pun banyak memesan lagu pada Simanungkalit. Orang bikin himne, mars, pesan ke Simanungkalit. Di samping itu ia langsung turun gunung untuk melatih. Jadi juri. Pengamat. Pembicara. Di mana-mana, khususnya di Jawa.

Tahun 1964 Bung Karno meresmikan TVRI sebagai satu-satunya televisi di Indonesia. Bintang Radio menjadi Bintang Radio dan Televisi [BRTV] dan makin ngetop. Agar populer harus ikut Bintang Radio dulu. Paduan suara bahkan mendapat acara khusus di TVRI. Lagi-lagi, nama Pak Kalit makin dikenal di seluruh tanah air.

TVRI juga menyajikan pelajaran menyanyi dan paduan suara yang diasuh oleh Pranadjaja. Beliau ini mantan juara seriosa, aktivis paduan suara, dan penggubah banyak lagu, khususnya anak-anak. Saya waktu bocah duduk di depan TV hitam-putih [warna belum ada] untuk menyimak pelajaran almarhum Pranadjaja. Wawasan musik saya banyak dipengaruhi siaran TVRI dulu.

Tiap tanggal 17, semua perguruan tinggi di bersaing agar bisa tampil di TVRI dalam acara 'Cintaku Negeriku'. Lagu-lagu nasional dan daerah. Banyak yang membawakan karya dan aransemen Pak Simanungkalit. Daftar tunggu di TVRI sangat banyak, sehingga Universitas Negeri Jember [kampus saya], misalnya, menunggu sampai satu tahun lebih sebelum tampil di TVRI. Kami, aktivis PSM, saling memata-matai kekuatan, salah satunya dari TVRI.

Di era Orde Baru paduan suara tetap marak. Kampus-kampus, sekolah-sekolah, tetap dikondisikan agar paduan suara berkembang. Ini ada kaitan dengan program normalisasi kampus dari Menteri Pendidikan Daoed Joesoef. Mahasiswa dikondisikan agar banyak aktif di kegiatan-kegiatan kampus dan tidak berpolitik. Demo, bicara politik, mengkritik pemerintah sangat berbahaya sebelum 1998.

Menurut Solomon Tong, dedengkot paduan suara di Surabaya, pemerintah Orde Baru sengaja menjadikan paduan suara sebagai katarsis bagi mahasiswa.
"Mahasiswa dibuat sibuk nyanyi agar tidak macem-macem sama pemerintah," kata Tong yang juga pendiri dan dirigen Surabaya Symphony Orchestra.

Pengalaman saya, pihak rektorat Universitas Jember jarang menolak proposal dana untuk lomba paduan suara yang jutaan rupiah. Padahal, unit-unit kegiatan lain agak susah mendapat bantuan. Ini karena paduan suara selalu dibutuhkan untuk wisuda, dies natalis, dan seremoni-seremoni lainnya.

Saya melihat sampai sekarang paduan suara masih berjalan baik meskipun tidak seramai pada era saya, sebelum 1998. ITB tetap bikin lomba, dan jadi barometer nasional. Universitas Parahyangan Bandung tetap jalan dengan keunggulannya. Anak-anak SMA 6 Surabaya saat ini sedang persiapan untuk dikirim ke Jepang.

Paduan suara gereja juga jalan, tapi saya nilai rata-rata kurang bermutu karena kurang latihan. Juga kekurangan pelatih berbobot. Akibatnya, ordinarium misa serta lagu-lagu liturgi yang seharusnya dahsyat dan berkualitas tinggi jarang saya dengarkan saat ikut misa di tanah Jawa.

11 comments:

  1. Wah...baru kali saya lihat blognya lengkap tentang paduan suara.
    Tentang Pak theis yang dulu pernah jadi guru bina vokalia saya, tentang om paul widyawan sang aransement lagu-lagu gereja cukup rumit..dan orang sangat telit...group cantate domino saya aja dulu kena kritikan he..he..siiiip deh...
    emang jarang-jarang orang ngerti bahwa orang faham not-not lagu, faham cara bernyanyi yang benar asalnya ya dari gabung paduan suara. Pingin bisa suara bass, alto, tenor atau sopran ya wajib ikutan PS tul kan?

    ririn-coratcoret.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. salut sama orang kampung ini. banyak catatan paduan suara yg berguna bagi kita semua. salam kenal, mas.

    deddy, jogja

    ReplyDelete
  3. suwun ning ririn..
    ini cuma catatan ringan aja kok. sekadar apresiasi saya pada orang2 yg berdedikasi pada musik, khususnya paduan suara. mudah2an ada gunanya.
    salam untuk teman2, adik2, semua aktivis paduan suara di mana pun berada.

    ReplyDelete
  4. Bung Hurek,
    salam kenal. Saya baru saja melihat blog anda. Selamat untuk catatan tentang paduan suara Indonesia. Sangat teliti dan komprehensif. Tidak banyak catatan serupa di Indonesia. Terus menulis.

    Salam

    Jay Wijayanto

    ReplyDelete
  5. suwun, cak hurek masih sempet nulis catatan ttg paduan suara. kayaknya jarang lho ada blog yg membahas paduan suara. GBU.

    eddy, malang

    ReplyDelete
  6. wah senangnya liat blog yg banyak ngebahas ttg paduan suara,eh mas lambert skali2 bikin artikel tentang seputar paduan suara d malang dong,jangan salah loh malang nih gudangnya talent2 d bidang paduan suara dr mulai arangger,conductor malah da beberapa paduan mahasiswa maupun independent yg sukses mengharumkan nama indonesia n jatim d kancah internasional(alah atunya kmps q) hehehe.....so tulis dong mas
    justin,Malang

    ReplyDelete
  7. Justin, terima kasih. Kamu di kampus apa kah? Memang dari dulu Malang cukup hebat di paduan suara. Dulu, tahun 1990an, teman-teman Unibraw dan IKIP Malang [sekarang Universitas Malang ya] selalu menang di festival paduan suara mahasiswa.

    Di lingkungan gereja pun Malang Raya selalu ciamik. Cuma, aku sudah lama gak ikut perkembangan paduan suara di Malang. Selamat berlatih terus dan good luck!

    ReplyDelete
  8. aq kuliah d institut teknologi nasional malang mas,sbuah kampus teknik yg ank2 rada kaku kalo soal seni taunya belajaaarr mulu...tp d satu sisi talent2 bidang seni(musik terutama) buanyyaak banget,buktinya d 4th world choir game d cina ma 1th asean choir games qt sukses dapet silver medal loh mas....n masih banyak paduan suara malang yg laen..
    terus tulis artikel 'bout choir thing's mas..cz buat qt2 sesama choir freak it's like daily need can't live without it hahaha
    justin,justin_ajee@yahoo.com
    malang

    ReplyDelete
  9. Oke, Justin arek ITN. Memang tugas mahasiswa kan belajar, belajar, belajar biar cepat tuntas kuliah. SPP kan mahal? Maka, di mana2 pegiat kesenian, media kampus, pecinta alam, organisasi intra n ekstra... selalu sedikit.

    Dari dulu juga begitu. Tapi hidup kan perlu warna-warni. Ikut paduan suara berdasar pengalamanku gak ada ruginya lah. Selamat atas prestasi Justin dkk. Semoga makin memacu semangat kalian.

    Kapan2 kita bisa ketemu ya biar aku dapat info lebih banyak tentang paduan suara mahasiswa di Malang. Kayaknya ada dinamika yang luar biasa nih. GBU.

    ReplyDelete
  10. makasih bang, dah nulis paduan suara secara komplet. bagus buat bahan bacaan temen2 aktivis psm. gbu.

    ReplyDelete
  11. Kami sedang mencari alamat/nomor kontak ahli waris Bapak Binsar Sitompul. Apa ada yang punya informasinya?

    Thanks.

    Imam

    ReplyDelete