06 November 2007

Satu abad Balai Pemuda Surabaya


Sabtu, 6 November 2007, beberapa pemusik senior tampil di Balai Pemuda Surabaya. Di antaranya, Mus Mujiono [gitaris plus penyanyi yang sangat dikenal di Surabaya], kemudian band lawas, Panbers, serta grup rock terkenal 1980-an macam Andromeda. Hari-hari ini acara-acara kesenian pun cukup marak digelar di gedung antik itu.

Ada apa? Aha, ini terkait dengan peringatan satu abad Balai Pemuda. Didirikan pada 1907, gedung di tengah kota Surabaya itu tadinya dikenal sebagai Simpangsche Societeit atawa Simpangsche Club. Orang pribumi pada masa kolonial tak mampu menyebut istilah Belanda itu. Orang sini pun menyebut Rumah Kamar Bola. Ada lagi yang bilang: Bioskop Londo.

"Soalnya, di situ selalu ada permainan biliar. Beberapa tahun lalu saya masih lihat meja biliar di Balai Pemuda. Meja asli," kata Dukut Imam Widodo, penulis serial Soerabaia Tempo Doeloe. Selama ini saya banyak menggunakan naskah-naskah Pak Dukut, yang kerja di PT Smelting Gresik untuk 'jalan-jalan' ke Surabaya masa silam.

Simpangsche Societeit dibangun oleh arsitek Westmaes dengan perhitungan sangat cermat. Dia tahu betul bahwa gedung kesenian itu berdiri di Surabaya yang panas, sehingga desainnya harus bisa membuat nyaman pengunjung. Tidak seperti gedung-gedung sekarang yang asal jadi, gerah, harus pakai penyejuk ruangan.

Nah, kubah Simpangsche Societeit ini mirip mahkota ratu Belanda. Di kiri kanan ada haluan rumah atawa lazim disebut gevel. Selasar mengelilingi bangunan sehingga sejuk. Jendela-jendela dan pintu terbilang sangat tinggi. Jika malam tiba, kata Pak Dukut Imam Widodo, gedung terang benderang. Bukan karena listrik, tapi lampu gas di kandelar-kandelar. Halaman pun dihias lampu yang elok pada tiang berukir. Tiap malam oto-oto datang membawa orang-orang kulit putih ke gedung itu.

Orang Jawa atawa bumiputra? Itu, meminjam kata almarhum pelawak Asmuni, hil yang mustahal. Pribumi dilarang sangat, sangat keras masuk. Ada tulisan: VERBODEN VOOR INLANDER! Artinya, dilarang masuk untuk kaum inlander, pibumi. Siapa pun pribumi yang masuk akan diproses verbal dan ujung-ujungnya tinggal di Kalisosok, penjara legendaris. Kalaupun ada pribumi, mereka jongos. Sablomnya dorang sudah diajar kenal tata cara, sopan santun, bagaimana melayani tuan-tuan dan nyonya-nyonya londo yang rewel dan judes itu.

Pak Dukut, yang belajar banyak buku-buku sejarah dalam bahasa Belanda [ini kelebihannya yang bikin dia bisa menulis banyak sekali tulisan menarik tentang masa lalu di Surabaya dan kota-kota lain], mengungkapkan bahwa para jongos pribumi pakai kostum khas inlander. Jas tutup warna putih, celana putih. Antara baju dan celana dikasih lilit kain panjang atawa jarit yang diwiron. Para jongos pun harus pakai ikat kepala [udheng] yang warnanya senada dengan kain jarit.

Tugas jongos-jongos: melayani para tamu menyajikan makanan-minuman serta menjaga kebersihan gedung. Minuman aneka jenis diletakkan di nampan kayu ukuran besar. Cara membawanya tidak sembarangan. Nampan harus diangkat di atas kepala, tidak boleh di bawah kepala. Kenapa?

Penjajah Belanda menganggap bau mulut orang pribumi bisa meracuni makanan dan minuman mereka. Belanda penjajah memang sangat keparat! Penghinaan yang luar biasa!

Di ruang makan Simpangsche Societeit ada sebuah meja oval berukuran besar hampir memenuhi separo ruangan. Di situ tersaji aneka makanan dan minuman yang bikin ngiler. Kaum pribumi yang miskin, kurus kering, tidak makan sekolah, tentu sulit membayangkannya. Menu utama di Simpangsche Societeit antara lain ayam besengek, semoer oma lintje, daging goeloeng, goebis, serta lidah sapi. Pokoknya banyak lah. Kalau tuan ingin tahu lebih banyak, silakan baca buku tulisannya Pak Dukut Imam Widodo.

Sambil makan malam ada hiburan musik nan elok. Orkestra kecil dengan tiga pemain biola, satu cello, memainkan lagu-lagu berirama waltz. Karya Johan Strauss paling banyak disajikan dalam pesta dansa para tuan dan nyonya londo itu. Makin malam makin heboh: aroma keringat, minuman keras, asap cerutu berbaur jadi satu. Pemusik mengganti irama dengan polka yang rancak. Komposisi favorit waktu itu Mamsell Ubermut dan Die Lustigen Kahlenberger. Gerakan kaki cepat, lincah, ritmis, serta ketukan sepatu di lantai melahirkan kesan tersendiri. Trek... trek... trek... trek!

Pada Oktober 1929 orang Belanda di Surabaya bikin Vaderlandse Club, klub elite orang-orang kaya. Dengan klub ini mereka menciptakan kondisi macam di negaranya yang sangat jauh dari Indonesia. Tiap kali pertemuan, mereka menyanyikan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus, dengan iringan piano. Piano besar itu masih ada sampai sekarang dan pernah dimainkan Buby Chen, maestro jazz Surabaya, beberapa tahun lalu.

Setelah Belanda hengkang--karena kita orang sudah merdeka, 17 Agustus 1945, bukan?--Simpangsche Societeit berganti nama menjadi Balai Pemuda. Fungsinya sebagai tempat kongkow-kongkow, hiburan, masih dipertahankan. Gelar musik merupakan agenda tetap.

"Dulu saya menjadi pemain tetap di sini, main musik untuk mengiringi orang-orang Belanda, indo, dan sebagainya," tutur Buby Chen. Boleh dikata, tiap hari ada saja acara-acara musik yang berbobot. Bukan konser-konser band pop yang dangkal macam sekarang.

Pada 1960-an hingga menjelang 1980-an Surabaya dikenal sebagai barometer musik jazz di Indonesia. Selain Buby Chen, banyak pemusik jazz yang awalnya memulai karier dengan main musik rutin di Balai Pemuda alias Simpangsche Societeit. Warga Surabaya ramai-ramai nonton karena tidak ada lagi 'larangan untuk inlander' atau diskriminasi lain. Tentu saja harus beli karcis agar panitia tidak bangkrut.

"Dulu kami main karena senang main musik. Tidak main karena uang atau motivasi lain. Suasananya benar-benar luar biasa, hidup, memberi tantangan tersendiri bagi pemusik," kata Ireng Maulana, gitaris jazz, kepada saya usai tampil di Balai Pemuda beberapa waktu lalu.

Hal yang sama dikatakan Mus Mujiono, juga gitaris jazz. Dulu Mus Mujiono alias Cak Nono ini bikin band bernama De Hands, ya, berkat atmosfer musik di lingkungan Balai Pemuda. Boleh dikata, hampir semua pemusik Surabaya [Jawa Timur umumnya] sebelum 1980-an memulai karier di Simpangsche Societeit atawa Balai Pemuda.

Para seniman lukis, teater, sastra, kriya [kerajinan], musik memang menjadikan Balai Pemuda sebagai pusat kegiatan. Diskusi, konser, proses... semua di situ. "Saya yang kerja di bank, BNI 46, pun setiap hari menyempatkan diri ke Balai Pemuda untuk ketemu teman-teman pelukis. Daya tarik Balai Pemuda memang luar biasa," ujar Tarmuji Sofyan yang kini menekuni seni lukis setelah pensiun sebagai bankir.

Dalam perjalanan waktu, peranan Balai Pemuda sebagai pusat kegiatan seni surut. Pada 1980-an, lebih-lebih 1990-an, Balai Pemuda pelan tapi pasti beralih fungsi sesuai dengan perkembangan zaman yang makin materialistis. Orang makin mata duitan, segala sesuatunya diukur dengan uang. Sementara kegiatan-kegiatan seni entah teater, pameran lukisan, musik, tidak menghasilkan uang.

Maka, sebagian areal disulap menjadi bioskop Mitra, yang kini juga bangkrut. DPRD Kota Surabaya bikin kantor di situ. Gedung utama dan gedung Merah Putih masih ada, tapi suasana kesenian tak berasa di Balai Pemuda. Dewan Kesenian Surabaya hanya kebagian ruang kecil, sumpek, dekat kakus untuk sekretariat. Begitu pula beberapa ruang kecil dijadikan markas teater, pelukis, tapi sangat sumpek. Yah, seniman kini menjadi paria, terusir dari rumahnya sendiri.

"Seniman itu senewen, kerjanya gak jelas. Mereka itu dikasih hati minta rempelo. Pokoke angel ngatur seniman," begitu kata-kata pejabat yang sering saya dengar. [Anehnya, kalau pilkada para calon pejabat ini selalu menggunakan jasa seniman. Pejabat kita akhir-akhir ini pun rajin terjun sebagai dalang wayang kulit atau penulis lagu pop. Hehehe....]

Pantas saja Balai Pemuda kemudian dikomersialkan agar bisa menghasilkan uang. Dijadikan tempat pameran furniture, bunga, alat-alat rumah tangga, dan sebagainya. Pameran lukisan masih kerap digelar di Galeri 66, tapi tidak punya greget. Malam hari, ketika saya lewat di sana, Balai Pemuda lebih sering gelap tanpa kehidupan. Lain sekali dengan era Simpangsche Societeit sebagaimana diceritakan Pak Dukut Imam Widodo.

Nirwana Yuda, ketua pengurus Balai Pemuda, sejak beberapa tahun terakhir mencoba menghidupkan atmosfer kesenian, khususnya musik, di Balai Pemuda. Artis-artis senior, legenda musik, dihadirkan. Tapi ya, tetap belum bisa mengangkat wibawa Balai Pemuda sebagai kiblat utama kesenian di Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur.

Tapi, bagaimanapun juga, kita layak bersyukur karena di usia 100 tahun Simpangsche Societeit alias Balai Pemuda masih berdiri kokoh. Beda dengan Rumah Sakit Simpang [sekitar 100 meter dari Balai Pemuda] yang sudah rata tanah dan berubah menjadi Plaza Surabaya]. Juga puluhan [bahkan ratusan] gedung cagar budaya lain yang sudah hilang karena pemerintah kota tidak punya apresiasi pada sejarah, budaya, dan kesenian.

3 comments:

  1. Sip Bang Hurek,
    Sampeyan sudah mengalahkan salah satu penyakit utama wartawan. Yaitu, selalu merasa tidak sempat.
    Terbukti, sampeyan sempat bikin blog yang cukup manis ini. Saya tunggu buku karangan sampeyan..

    ReplyDelete
  2. Sip Bang Hurek,
    Sampeyan sudah mengalahkan salah satu penyakit utama wartawan. Yaitu, selalu merasa tidak sempat.
    Terbukti, sampeyan sempat bikin blog yang cukup manis ini. Saya tunggu buku karangan sampeyan..

    -dos-

    ReplyDelete
  3. Pak Dukut, sebenarnya sdh lama saya denger cm br skr liat profile n buku2 bapak,itpun saya dikasi tau teman2 mas Nofan heheheeeee...saya salut sm bapak pny ank yg lowprofile tdk pamer/menyombongkan apa yg dia miliki.
    Saya doakan sukse dan semua yg baik ditambahkan dlm karir n keluarga bapak. Amin

    ReplyDelete