21 November 2007

Santoso pembuat patung Cak Durasim




Festival Cak Durasim ke-8 di Taman Budaya Jatim baru saja berlalu dan menuai sukses besar. Jumlah pengunjung jauh lebih banyak ketimbang tujuh festival sebelumnya. Kehadiran Does Cabaret, kelompok ludruk asal Suriname, dengan bahasa Jawa yang antik menjadi pemicu antusiasme warga Surabaya dan sekitarnya untuk menikmati festival seni pertunjukan berbasis etnik ini.

Tapi ada peristiwa yang nyaris lolos dari pantauan publik. Yakni, peresmian patung Cak Durasim, seniman ludruk legendaris Surabaya, yang berjuang lewat kesenian tradisional. "Begupon omahe doro, meluk Nipon tambah soro," begitu parikan Cak Durasim yang bikin pemerintah Jepang tersinggung.

Cak Durasim ditangkap, disiksa, dan akhirnya meninggal dunia pada 1944. Patung Cak Durasim diresmikan pada 10 November 2007, bertepatan dengan Hari Pahlawan, mengawali Festival Cak Durasim ke-8.

Upacara peresmian patung Durasim yang dipimpin Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur Dr Rasiyo berlangsung meriah. Ada reka ulang adegan Cak Durasim ditangkap tentara Jepang saat kidungan di atas panggung. Juga visualisasi dengan multimedia nan menarik. Kapten Does dari Suriname ikut pidato. Tapi si pembuat patung Durasim tak ikut didaulat ke panggung. Ada apa?

"Saya memang meminta Pak Pribadi Agus Santoso (kepala Taman Budaya, red) supaya tidak dipanggil ke atas panggung. Itu komitmen saya. Aku iki opo sih? Pematung biasa, pekerja seni patung. Tidak lebih," ujar Santoso Setijono, lulusan alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) tahun 1978, kepada saya.

Santoso lah yang 'ketiban sampur' menggarap patung Cak Durasim. Membuat patung (apa saja) bukanlah pekerjaan sulit buat Santoso yang sudah malang melintang di seni patung sejak 1970-an. Santoso bahkan ikut menggarap patung-patung di Monas (Jakarta) serta Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta. Namun, menggarap patung Cak Durasim ternyata punya kesulitan sendiri.

"Soalnya, kita tidak punya dokumentasi foto Cak Durasim," tutur Santoso yang masih energik di usia 57 tahun itu.

Taman Budaya memang punya koleksi sebuah lukisan Durasim, tapi sejatinya bukan wajah Durasim otentik. Santoso kemudian mencermati sosok legenda ludruk itu, mulai guratan wajah, sorot mata, otot, hingga model ikat kepala (udheng). Setelah mewawancarai para sesepuh dan budayawan, ternyata udheng Durasim di lukisan itu salah.
"Saya juga melacak ke rumah keluarga dekat Cak Durasim di kawasan Jogoloyo. Saya tanya sosok Cak Durasim itu seperti apa, ciri-ciri, kebiasaan, dan sebagainya," tutur pria yang tinggal di kawasan Gedangan, Sidoarjo, itu.

Sudah menjadi rahasia umum, para pematung di tanah air kerap melakukan 'olah spiritual' sebelum membuat patung tokoh tertentu, khususnya figur karismatik. Inilah bedanya dengan membuat patung aksesoris yang biasa dijual di jalan-jalan. Maka, Santoso pun nyekar ke makam Cak Durasim di kawasan Tembok, Surabaya. "Saya sampai akrab dengan orang-orang di sekitar makam saking seringnya ke sana. Hehehe...."

Percaya atau tidak, berkat 'laku spiritual' ini sosok Cak Durasim semakin jelas. Dan, suatu ketika, Santoso seperti mendapat petunjuk agar bagian mata dibuat lebih dulu. Jadi, berbeda dengan teknik membuat patung yang dipelajari di akademi seni rupa atau tradisi di masyarakat.

"Lazimnya, dua mata itu dibuat paling akhir, untuk memberi roh pada patung. Nah, ini terbalik, matanya harus dibuat lebih dulu. Tapi, bagi saya, tidak apa-apa karena sudah komitmen untuk membuat patung Cak Durasim sebaik mungkin," kenang ayah dua anak ini.

Awal Juli, Santoso mulai menggarap patung seniman ludruk idolanya itu. Tanah liat didatangkan dari Kebumen, Jawa Tengah. Menurut para pematung profesional, struktur tanah liat Kebumen paling bagus untuk bikin patung. Tanahnya tidak cepat kering seperti di Jawa Timur. Kekuatannya pun lebih bagus.

Dimensi patung: tinggi 100 cm, vestek 160 cm, luas 60 x 60 cm. Kenapa tidak membuat patung berukuran besar atau jumbo? Kata Santoso, disesuaikan dengan halaman depan Gedung Cak Durasim serta lay out Taman Budaya secara keseluruhan. "Patung itu yang penting rohnya, hidup, bukan besar kecilnya. Orang bisa saja bikin patung setinggi puluhan meter. Tapi kalau nggak ada rohnya, buat apa?"

Secara umum penggarapan patung Cak Durasim berjalan lancar. Santoso diberi ruang khusus di Taman Budaya agar bisa lebih fokus. Dia pun sengaja tidak menggarap pekerjaan lain agar konsentrasinya tidak terpecah. "Eh, dalam perjalanan ada sedikit keanehan," tutur Santoso.

Apa itu? "Belakang kepalanya meledak jadi bubur. Ini baru pertama kali saya alami. Padahal, secara teknik, bahan, tukang yang ngecor, sudah profesional dan malah melebihi standar. Gipsnya pun kelas satu," tambahnya.

Kembali Santoso melakukan konsultasi dengan beberapa pemangku adat di Surabaya. Lalu, Santoso melanjutkan proyek ini setelah melakukan penyesuaian di sana-sini. "Begitulah. Seni patung itu memang bukan kerajinan tangan belaka, tapi ada dimensi lain yang lebih luas. Alhamdulillah, patung itu selesai juga dan saya pasang tanggal 4 November 2007 di lokasi sekarang," kata pengurus Ikatan Alumni Institut Seni Indonesia (ISI) di Jawa Timur itu.

Sabtu Legi, 10 November 2007, Santoso mengaku sangat lega. Patung Cak Durasim garapannya diresmikan di hadapan ribuan orang, termasuk rombongan seniman asal Suriname dan pejabat dari beberapa daerah. Waktu itu, kata Santoso, ada sejumlah pengunjung, bahkan orang Suriname, bertanya-tanya siapa yang buat patung Cak Durasim. Kok tidak diperkenalkan di panggung?

"Saya bilang nggak tahu. Hehehe...," cerita Santoso lalu tertawa kecil.

Menurut dia, seniman patung itu ibarat arsitek atau tukang bangunan yang membuat bangunan, misalnya, hotel berbintang atau pusat belanja modern nan megah. Setelah bangunan jadi, si tukang pun mundur teratur. Bahkan, bisa saja para tukang bangunan itu tidak pernah sekalipun datang menjenguk bangunan yang pernah dibikinnya. Si tukang menggarap proyek lain lagi, dan seterusnya.

"Kami sudah puas, bahagia, kalau karya kami dihargai dan bermanfaat bagi orang lain. Jadi, buat apa pematung diperkenalkan segala?" tukas Santoso dalam nada tinggi.

Dengan filosofi ini, Santoso mengaku tidak ingat lagi sudah berapa banyak karya patung yang dihasilkannya selama 30 tahun terakhir. Terlalu banyak, katanya. Ratusan, bahkan ribuan patung, tersebar di seluruh Indonesia. Namun, patung Cak Durasim memberi kepuasan tersendiri bagi Santoso.

Kenapa? "Siapa yang nggak kenal Cak Durasim? Ketokohan, kepahlawanan, kesederhanannya sangat kuat. Dan, alhamdulillah, saya mendapat kepercayaan untuk menggarap patungnya," kata Santoso bangga.

Setelah Cak Durasim, kini Santoso berancang-ancang membuat patung almarhum Gombloh. Kalau Cak Durasim legenda ludruk, siapa pun mengakui bahwa Gombloh seniman musik legendaris yang karya-karyanya sangat merakyat.

"Bicara musik di Surabaya orang pasti ingat Gombloh. Dia itu pahlawan musik meskipun belum ada penghargaan resmi dari pemerintah. Saya akan sangat bangga kalau bisa membuat patungnya," tutur Santoso.

Santoso berencana membuat patung Gombloh dalam ukuran yang jauh lebih besar daripada Cak Durasim. Dia juga ingin agar patung itu ditempatkan di lokasi strategis di Surabaya, sehingga bisa disaksikan masyarakat. Pada 1996, sejumlah seniman mengenang Gombloh dengan membuat patungnya di Taman Hiburan Rakyat. Namun, patung ini tak banyak diketahui masyarakat.

"Saya tidak ingin seperti itu. Saya ingin patung dipasang di lokasi yang pas. Tidak sembarangan," tegas Santoso.

Bukan apa-apa. Di Surabaya ini banyak patung yang 'salah tempat'. Patung karapan sapi, sebagai contoh, 'ketelisut' di kawasan Keputran. "Siapa yang lihat patung itu? Padahal, patung itu hanya bermakna kalau diapresiasi masyarakat dan bisa memberi inspirasi bagi masyarakat," papar Santoso.


Larang Anak Jadi Seniman

Sebagai alumni Akademi Seni Rupa Indonesia tahun 1978, Santoso melihat perbedaan mencolok antara mahasiswa sekarang dan mahasiswa pada masanya. Dulu, mahasiswa dibiarkan mengembara sebebas-bebasnya untuk menemukan jati diri. Kampus ASRI--sekarang bergabung dengan akademi-akademi lain menjadi Institut Seni Indonesia (ISI)--dikondisikan untuk mencetak seniman bebas.

Mahasiswa bebas diskusi, berkarya, demonstrasi, manggung, dan melakukan apa saja sepanjang masih dalam koridor kesenian. Tidak ada batasan satuan kredit semester (SKS), pun batasan masa studi yang ketat. Sistem gugur alias drop out (DO) belum dikenal.
"Makanya, tiap tahun ada saja mahasiswa yang gila. Benar-benar gila. Seleksi alam sangat ketat, sehingga kelihatan mana yang seniman dan bukan," tutur ayah dua anak ini.

Ketika pemerintah Orde Baru memandang perlu membuat diorama untuk memperingati peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Lubang Buaya, Jakarta, mahasiswa ASRI ketiban proyek. Santoso yang masih muda pun ikut bekerja membuat begitu banyak patung.

"Memang, waktu itu kami, para mahasiswa, bayar kuliah, cari makan, ya, pakai biaya sendiri. Nggak minta-minta orangtua kayak anak sekarang," tuturnya.

Iklim pendidikan yang keras di ASRI, kemudian ISI, hingga 1980-an terbukti melahirkan banyak seniman berkarakter. Dari tangan mereka lah lahir karya-karya bagus di berbagai daerah di tanah air, bahkan mancanegara. Bagaimana dengan kampus akademi kesenian sekarang?

"Sudah berbeda jauh," tegas Santoso.

Menurut dia, kurikulum sekarang sangat ketat, ruang kebebasan menyempit, ada ancaman DO, sehingga mahasiswa cenderung melahap teori agar lulus secepat mungkin. Orientasinya segera mendapat ijazah.

"Saya sering tanya anak-anak yang baru lulus. Setelah punya ijazah, kamu mau kerja di mana. Ternyata, dia tidak tahu."

Lantas, apakah Santoso mengarahkan kedua anaknya, Natashia Sekar Akoso dan Christosa Lingga Hasmoro, mengikuti jejaknya sebagai seniman?

"Tidak. Sejak awal saya justru melarang anak-anak saya jadi seniman. Cukup bapaknya saja yang jadi seniman. Saya tidak mau anak-anak melakoni hidup seperti saya," ujar Santoso, serius.

Kehidupan seniman yang bebas, seenaknya, tidak terikat pada formalitas, menurut dia, tak jarang melahirkan nestapa. Penghasilan tidak jelas, sehingga sering kelaparan. "Mana ada seniman yang kaya? Paling cuma Afandi (pelukis eksentrik) dan beberapa nama saja. Seniman-seniman lain umumnya susah. Makanya, saya larang anak saya jadi seniman," tandasnya.

Karena itu, dua anak Santoso yang sudah dewasa memang hidup 'normal' layaknya orang biasa. Meski begitu, mereka tetap mengapresiasi kesenian, entah itu seni rupa, seni musik, dan sebagainya.



Nama : Santoso Setijono
Lahir : Jogjakarta, 12 Oktober 1950
Istri : Lisa Andriana
Anak : Natashia Sekar Akoso (29)
Christosa Lingga Hasmoro (29)

Alamat :
Buyut Ngungsen 377, Desa Keboan Anom, Gedangan, Sidoarjo

Pendidikan : SD-SMA di Jogjakarta
ASRI Jogjakarta, 1978
Aktivitas :
Pematung profesional.
Dekorasi.
Komunitas Perupa Sidoarjo.
Komunitas Seniman Surabaya.
Ikatan Alumni ISI Jogjakarta.
Penyelenggara pameran lukisan.

2 comments:

  1. kami PINBOO Bandung hendak mempromosikan pruduk PIN, dlm berbagai model mulai seperti pin penitik,
    pin gantungan kunci bolak-balik, pin gantungan kunci+crop pembuka botol,
    pin magnet,dan pin gantunagn kunci 1 muka, kami juga menjual laminasi(glossy, salur/kanvas, gliter, dll)
    dan bahan baku pin mulai dari ukuran 25mm s/d 75mm.
    terimakasih..
    tlp. (022)91147817, (022)91357313
    http://www.pinboo.org
    proprint_pinboo@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. Sukses terusss yh,pa..semangaaatttt

    ReplyDelete