06 November 2007

Refleksi Pater Daniel Moa SVD


Oleh Pater Daniel Moa, SVD

Ajaran Katolik yang masuk telingaku di waktu saya kecil dan yang sampai sekarang masih saya ingat ialah ajaran tentang api neraka; bahwa orang yang meninggal dengan dosa berat akan masuk dalam api naraka sampai selamanya. Ini kata2 yang saya dengar dari inan, pada usia pra sekolah, sekitar 4, 5, atau 6, tahun.

Hal ini menakutkan dan mengerikan saya. Pikiran saya waktu itu pingin menghindar dari hal yang menakutkan itu, dari api naraka itu. Karena itu keinginanku untuk menjadi imam saja demi memahami ajaran itu secara lebih baik demi menghindar/luput dari hukuman api neraka itu. Inilah awal mula timbulnya keinginan dalam diri saya untuk menjadi imam. Pada waktu prasekolah.


Dalam perkembangan selanjutnya, keinginan ini tetap mengiang dalam diri dan hatiku. Sering mengikuti mama pergi gereja, misa, saya saksikan dari jauh pastor yang sedang misa, pastor khotba berapi2. Mulai kls IV SD saya mejadi misdinar di paroki. Sekitar kls V ada satu brosur dari keuskupan Ende, sebagai brossur aksi panggilan, diedarkan di sekolah2, yang di luarnya tertulis “Mari, ikutilah aku”!. Aku merasa bahwa kata2 itu sepertinya diarahkan untuk saya.

Waktu SD kls V, kami pergi Ziarah ke Maria Fatima Lela. Pada waktu itu kami juga mengunjungi Seminari tinggi Ledalero dan Ritapiret, dan menyaksikan frater2 yang berjuba sedang tekun studi. Memasuki kelas 6 SD ketika guru tanya tentang niat, aku menulis ke Seminari, meski agak malu-malu karena takut diolok teman-teman. Juga pada ujian akhir kls 6 SD di bagian kanan atas kertas ujian, di judul tentang niat: aku tulis “seminari”.

Tapi aku belum menceriterakan niat ini kepada orang tua atau orang lain. Pikiran waktu itu hanya tentang Seminari Mataloko, yang jauh dari rumahku, sambil aku masih terlalu kecil, belum ada keberanian untuk tinggal jauh dari orang tua. Sementara itu orang tuaku konsentrasi pada kaka saya yang mau pergi sekolah ke Madiun. Karena itu pikiran tentang seminari itu aku simpan hanya untuk diriku sendiri. Aku belum komunikasikan kepada orang tua dan kakak2 saya.

Akhirnya aku masuk SMP Hewerbura di kampung saya sendiri Watublapi. Di SMP saya jalan seperti biasa, hidup seperti anak di desa, bekerja dan beraktivitas, termasuk juga main judi, yang aku sudah mulai sejak di kls V SD, dalam pelbagai bentuk dan macamnya. Dalam bermain judi aku sering menang. Ini yang membuat aku suka dan semangat untuk bermain judi. Karena aku bisa membedakan bunyi dadu maupun tahu membaca dari ekspresi wajahnya ayam jago/taji mana yang bakal akan menang. Akhir kls II SMP kami pindah ke Gait-Watublapi.

Sejak saat itu aku selalu ditegur oleh bapa kecil Martin Sino. Kalau melihat saya datang ke tempat judi, dia bilang, “anak sekolah pulang”!. Karena itu aku mulai pelan2 berhenti main judi. Selanjutnya aku mulai pikir lebih serius untuk masuk Seminari Hokeng karena hanya itu yang dapat menampung anak2 yang tamat SMP. Tamat SMP aku sampaikan di inan dan keluarga bahwa aku mau masuk Seminari Hokeng. Dengan perantaraan kaka Lis, aku minta Pater Kornelisan, SVD, yang pada suatu hari minggu datang misa di Watublapi, untuk melamarkan saya ke Hokeng. Karena waktu itu P. H. Bollen, SVD lagi cuti di Jerman.

Pergulatan untuk masuk seminari.

Tahun 1963, ketika aku di SD kls IV, bapa jatuh sakit. Sebagai anak laki2 sulung aku harus menjadi tangan kanan mama/keluarga. Karena itu maka semua yang harus dikerjakan seorang laki2/bapa, harus dikerjakan oleh saya: naik kelapa, dirikan dan perbaiki rumah, potong kayu, buat kandang babi dll. Pendeknya semua tugas yang dikerjakan oleh laki2, saya yang kerjakan. Ini menjadi ganjalan besar bagi saya. Karena saya memikirkan mereka itu, siapa yang dapat menggantikan saya kalau aku ke Seminari, sementara adik laki yang lain masih kecil.

Kemudian, karena keinginanku besar untuk masuk seminari maka aku berjanji kepada mama dan adik-kaka: bahwa semua itu akan kukerjakan waktu liburan. Pada masa itu ada 2x libur dalam setahun. Atas dasar perjanjian dan penyanggupan ini mereka mengiakan aku masuk seminari..

Tanpa surat lamaran, aku pergi ke Hokeng dengan sejumlah teman asal Maumere seperti: Klemens Langor, Goris Gogong, Kletus Retet, Moses Wair, Sensi Rodiquez, H. Thyissen, Yosef Susanto, Domi Matildis, Hugo Parera, Elias Esi, Yustus Mada dll, yang semuanya berjumlah 13. Desember, sebelum Natal 1967 kami naik motor Siti Nirmala di Maumere menuju Larantuka, selanjutnya ke Hokeng. Kelihatan inan dan semua adik-kakak pasrah melepaskan aku ke Seminari, setelah semua perjanjian itu.

Ada seorang kakak saya mungkin rasa berat kalau aku ke seminari dan menjadi imam. Sebelum saya tamat SMP ia tawarkan saya masuk sekolah pelayaran di Semarang, atau ke Seminari Garum-Blitar. Kemudian, pada saat terakhir, beberapa hari sebelum ke Hokeng, waktu di Maumere-selesai belanja perlengkapan saya untuk ke seminari, ia masih tawarkan saya masuk SMA St. Gabriel. Dia katakan: “tamat SMA baru ke Seminari”. Tapi saya jawab, “hati saya hanya ada di Hokeng”.

Jadi, saya masuk seminari dengan satu pergulatan tersendiri. Saya ke seminari atas kemauan dan keinginan serta keputusan saya sendiri tanpa ada dorongan atau masukan dari luar.

Seminari Hokeng:

Pengalaman dua tahun petama: pada awal2nya kadang2 saya merasa tidak kerasan, bosan, jenu, tidak senang, kadang2 ingin pulang saja. Ada rasa menyesal juga karena dengan masuk seminari, saya tertinggal dari teman2 yang tidak ke seminari sudah masuk SMA. Juga dengan masuk seminari aku tidak bisa masuk jurusan pasti-alam yang sebenarnya saya ada kemampuan dan ada minat ke situ.

Tapi semua perasaan ini ditutup oleh satu perasaan malu: rasa malu untuk pulang, nanti orang omong apa tentang saya, karena ini adalah kemauan dan pilihan saya sendiri. Karena terdorong oleh perasaan malu ini, saya berusaha setia ikut aturan di seminari, studi rajin, supaya tetap di seminari. Setiap kali aku merasa tidak kerasan dan tidak senang di Seminari Hokeng aku selalu berdoa. Doa yang paling sering saya lakukan dalam situasi batin seperti ini ialah doa Rosario. Dengan doa itu aku jadi tenang.

Selanjutnya saya studi di seminari lancar dan mulus saja, rajin studi, patuh dan setia ikut aturan dan pembinaan. Meskipun pikiran waktu itu bukan terutama karena untuk jadi imamnya, tapi karena saya malu kalau gagal dan keluar dari seminari.

Pernah dua peristiwa yang membuat saya takut sekali dikeluarkan dari seminari ialah: pertama waktu masih di kelas Gabungan, saya sterika dan taruh besi sterika tidak tepat sehingga sterika jatuh dan pecah. Saya takut sekali bahwa dengan ini pasti saya dikeluarkan. Tapi waktu saya pergi lapor di prefek P. Yan Perasan, dia hanya bilang: “Oh ya, lain kali coba lebih hati-hati lagi”!

Kemudian dalam ratio aku sampaikan dan ucapkan terima kasih kepada Pater, ia jawab, ya karena kelihatan kamu begitu polos dan lugu datang menyampaikan itu. Kedua: waktu di kelas IV. Pada satu hari minggu, saya dengan beberapa teman pergi ke Padang pasir untuk petik jambu. Karena keasyikan kami pulang terlambat. Kami beberapa orang kedapatan terlambat, tidak ikut doa siang, sehingga ditegur keras oleh subprefek Fr. Mikael Timu. Kepada saya dia ancam katanya: saya akan perhatikan engkau sampai kapan pun. Ini ancaman yang membuat saya takut sekali kalau ingat itu. Tapi setelah beberapa bulan frater itu keluar dari SVD, sebelum selesai TOP-nya di Seminari Hokeng.

Selanjutnya studi di seminari jalan mulus saja sampai tamat 1972. Menjelang akhir kelas VII seminari tiba saatnya untuk melamar masuk seminari Tinggi. Ketika itu, ada beberapa teman lain lamar ke: Redemtoris, Projo, Karmelit, Fransiskan, saya dengan beberapa teman melamar SVD. Memang waktu itu saya tidak ada pikiran lain selain ke SVD. Semua yang lamar ke SVD diterima.

1 Januari 1973, saya dihantar oleh P. H. Bollen yang kebetulan ke Ledalero, bersama kaka Odi dan ibu Tilde ke Novisiat Ledalero. Kami bertemu Magister P. Philipus Juang dan Socius P. Kalix Suban Hadjon, SVD. Selama di Novisiat jalan lancar saja, kaul I: 1975. Lalu masuk studiosi.

Selama di Studiosi keinginan untuk menjadi imam tidak pernah kendur, meski sana-sini dibayangi oleh beberapa kecemasan: seperti entah saya bisa menjadi imam, jadi pemimpin rohani bagi umat? Entah saya bisa bertahan hidup selibat dan kaul kemurnian? Dua kecemasan ini selalu menghantui saya, sehingga juga menjadi pusat refleksi saya secara berkala dan mendalam dan terus menerus. Kecemasan ini kadang2 memuncak bila mendengar ada imam yang jatuh atau keluar dari imamat. Meski untuk studi Filsafat aku lancar2 saja.

Refleksi itu saya bawa terus ke tempat TOP 2 tahun di Paroki Kalikasa, Lembata, yang pastor parokinya P. Eugenne Schmitz, SVD. Selama di tempat TOP saya bergaul banyak dengan umat, termasuk mudika. Bersama pastor kami kunjungi umat secara rutin dan disiplin dari stasi ke stasi. Pernah juga saya rasa tertarik dengan beberapa gadis di sana. Tapi semuanya tidak membuat panggilan kendur, atau niat jadi imam lemah. Akhir 1978 saya selesai TOP dan kembali ke Ledalero.

Kembali studi lagi di Seminarit Tinggi Ledalero, pikiran untuk menjadi imam sudah agak lebih pasti, meski kecemasan itu kadang2 masih saja menghantui saya. Pernah aku konsultasi dengan P. Paulus Due, SVD dan Rm Geradus Korohama Pr tentang dua kecemasan itu. Namun keduanya tidak memberikan jalan keluar yang meyakinkan saya.

Sampai menjelang akhir tingkat V, kami mulai siapkan diri untuk mengambil keputusan dan melamar kaul kekal. Pada waktu itu tidak ada Novisiat Kekal seperti sekarang tapi kami sendiri yang cari pembicara untuk berbicara tentang kaul2: Rm Philipus Riwu Pr tentang hidup selibat, John Prior, SVD tentang kemiskinan, dan seorang imam lagi berbicara tentang kaul ketaatan.

Dalam refleksi selanjutnya, saya secara yakin memutuskan untuk berkaul kekal, tanpa mengalami banyak kesulitan. Pada 8 Januari 1981, kami 17 orang mengikrarkan kaul kekal. Tahbisan Diakon 18 Oktober 1981, tahbisan Imam 6 Juni 1982 di Paroki saya Watublapi.

Merefleksi tentang latarbelakang keluargaku (baik keluarga besar maupun keluarga inti): mereka orang sederhana, yang tidak terlalu aktif di gereja, sifat dan kemampuan diriku, perjalanan panggilan ini serta semua perjuangannya sejak dari awal sampai saya ditahbiskan, saya melihat bahwa ini semua terjadi bukan karena kemampuan saya, bukan juga karena keluarga tapi hanya atas berkat dan kerahiman Tuhan saja yang membuat saya bisa jalan lancar2 saja sejak awal sampai jadi imam. Sampai saya sendiri ketika diterima kaul kekal dan selanjutnya imam, saya bangga campur heran berkata dalam hati: “saya bisa ya?!.

Saya menyadari dan yakin bahwa ini semua terjadi karena Tuhan yang selalu menyertai dan yang telah berbuat hal besar ini dalam diri saya sejak awal sampai sekarang. Karena itu aku memilih motto: “tanpa Aku kamu, tidak dapat berbuat apa-apa” Yoh 15,5. Karena aku yakin dan percaya, tanpa kehendak, tanpa kemauan, tanpa kasih dan cinta Tuhan atas diriku dan tentu juga seluruh keluarga serta seluruh anggota umat parokiku, aku tidak mungkin bisa maju dan menjadi imam ini.


Selama 25 tahun imam. Sejak tahbisanku (bahkan sejak tahbisan diakon) aku ditugaskan oleh pimpinanku bekerja di Formasi SVD. Saya bekerja di Novisiat Ledalero tiga tahun : Socius, Studi BK di Manila 4 tahun, selanjutnya di Studiosi Ledalero 13 tahun: prefek, di Malang lima tahun: prefek.

Dalam pengalaman bekerja sebagai imam-formator-konselor (dengan bekal Bimbingan dan Konseling) aku didatangi dan dikunjungi oleh macam2 jenis manusia pria dan wanita: untuk pelayanan pastoral, bimbingan rohani, konsultasi maupun untuk ngobrol dan bincang2. Aku menemukan bahwa mereka itu sangat membutuhkan orang sebagai imam yang bisa menerima mereka setiap saat, bisa mendengarkan mereka setiap kali mereka datang, membantu sejauh bisa (bukan bantuan material) dengan bekerja bersama mereka untuk memecahkan kesulitan yang dihadapinya.

Dalam seluruh karyaku sebagai imam, biarawan dan misionaris SVD, sambil berjalan dan sambil berefleksi tentang motivasiku, tentang mengapa saya begitu bersemangat melayani orang2 yang datang maupun yang aku kunjungi, sebagai awam maupun religius, sebagai formandi dan student saya atau bukan, saya menyadari dan menemukan bahwa hidup imamatku adalah suatu ziarah kasih: yaitu suatu ziarah pelayanan dan pengabdian untuk menyalurkan kasih Allah kepada manusia sebagai orang yang tertahbis. Saya berkeyakinan dan juga saya berusaha supaya lewat seluruh tingkah lakuku, lewat seluruh karyaku, lewat seluruh tutur kata dan tindakanku, lewat seluruh hidupku orang lain dapat mengalami kasih Allah secara konkret.

Cinta dan kasih yang saya berikan, tugas dan pelayanan yang saya abdikan bukan dalam bentuk barang materi, karena “emas dan perak tak ada padaku”. Tapi saya berikan seluruh hidup dan seluruh diriku sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala kemampuan dan kelemahanku sebagai orang yang tertahbis demi kebaikan mereka yang saya layani dan demi kebesaran nama Tuhan yang kusembah.

Dan untuk mengasihi secara tepat dan benar, aku harus menyertakan Allah dalam hidup dan pelayananku. Allah adalah kasih. Karena itu untuk dapat mengasihi secara baik dan benar maka aku harus bersatu dan bersama dengan Tuhan. Karena kalau tanpa Tuhan, atau di luar Tuhan atau jauh dari Tuhan, maka kasih manusia itu akan lebih destruktif, cinta manusia itu akan lebih meruntuhkan. Karena kasih manusia itu tidak sempurna yang selalu ada syaratnya, yang bisa merusak. Hanya Tuhanlah yang membuat aku bisa mencintai, mengasihi secara baik dan benar sesuai dengan cinta Allah sendiri.

Aku merasa dan yakin bahwa aku sampai bisa bertahan melayani sebagai imam sampai 25 tahun itu hanya karena berkat Tuhan semata. Karena: “Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” kata Tuhan mengingatkan saya.

Dan aku merasa bahagia dengan pelayananku ini.

Malang, 6 Juni 2007



Pater Dan Moa, SVD

1 comment:

  1. pada waktu Tahbisan P. Daniel Moa, saya dan beberap teman dipersiapkan untuk menjadi Misdinar pada Misa Pentahbisan, namun karena kami datang terlambat akhirnya kami diganti, namun saetelah itu datang Ibu guru Maria Seti (waktu itu mengajar di SMPK Hewerbura Watublapi) dan meminta kami untuk mempersiapkan diri menjadi Misdinar pada Misa Perdana P. Daniel yang juga dibuat di Watublapi. (alfred Wempy)

    ReplyDelete