09 November 2007

Orang Suriname yang antik



Saya (pakai topi) lagi berbincang dengan Kapten Does yang selalu tersenyum. Matur nuwun Pak Kapten!


Selasa 6 November 2007, kami di Graha Pena, Surabaya, kedatangan tamu istimewa. Enam seniman dan wartawan dari Suriname: Kapten Does alias Salimin Ardjooetomo, R Wongsosemito, Ardjooetomo Argyll Legiran, Henry Doel, Rakimin Resosemito, dan A Soelijanto.

Yang terakhir ini manis, tapi banci alias waria. Kapten Does kepalanya gundul. Wajah mereka sangat Jawa, ya, macam orang-orang di Jawa itulah!

Ditilik dari nama-namanya, mereka keturunan Jawa. Berkali-kali Kapten Does berkata: "Kulo niki tiang Jowo." Saya tidak mendengar kata-kata bahwa mereka orang Suriname. Rupanya Jawa lebih penting daripada Suriname. Hehehe....

Ketua rombongan yang juga wartawan radio dan televisi Garuda di Suriname ini benar-benar njawani! Saya menyalami Kapten Does cukup lama dan merasakan sendiri betapa orang ini sungguh Jawa. Jarang saya menemukan orang macam ini di Indonesia sekarang. Kapten Does selalu tersenyum, ramah, rendah hati, meski dia berasal dari negara yang sudah makmur.

Pendapatan per kapita Suriname sangat tinggi, sehingga praktis semua keluarga bisa beli mobil dan hidup makmur. Aneka hiburan modern, pusat belanja, kehidupan ala Barat, maklum bekas jajahan Belanda, sangat terasa. Begitu kesaksian Arif Santoso, wartawan Jawa Pos, yang tinggal di Suriname satu bulan lebih.

"Kok lain ya dengan orang Jawa di Jawa? Penampilan, gaya bicara, unggah-ungguh?" saya merenung sendiri ketika teman-teman mewawancarai Kapten Does dan lima rekannya.

Teman-teman tertawa, ngakak, mendengar bahasa Jawa ngoko ala Suriname yang katanya geli di telinga. Aneh untuk ukuran Surabaya, Jawa Timur, tapi biasa untuk Suriname. Does memakai istilah Jawa yang dirasa terlalu kasar, urakan, yang di sini tidak dipakai. Terutama kata-kata yang berkaitan dengan hubungan seks laki-laki dan perempuan. Banyak istilah sederhana, blak-blakan, yang bikin teman-teman terbahak.

Saya pun ikut tertawa. Tapi Kapten Does yang duduk di samping saya diam saja. Tidak tahu kenapa orang Surabaya menertawai kata-kata bahasa Jawa yang mereka pakai. Sebagai wartawan senior, saya kira, Kapten Does berpikir keras dengan kenyataan yang tengah dihadapinya.

Setiap kalimatnya, dalam bahasa Jawa murni, tak pakai campuran bahasa Betawi atau Inggris, atau Belanda, disambut tawa riang. "Lucu banget. Gak umum dengan bahasa Jawa di sini," kata seorang teman.

Suriname baru merdeka pada 1975. Berpenduduk sekitar 500.000 orang, warga keturunan Jawa ada 40.000-an. Sekitar 8 persen lah. Menurut catatan sejarah, orang-orang Jawa ini dikerahkan pemerintah Hindia Belanda sejak 1890 hingga 1939 sebagai buruh-buruh di perkebunan di Suriname. Orang-orang kampung, sederhana, tak sekolah, inilah yang menjadi nenek moyang Kapten Does dan ribuan warga Suriname keturunan Jawa. Kapten Does ini termasuk generasi ketiga.

Di Suriname, orang-orang Jawa membentuk komunitas sendiri yang sangat solid. Budaya, agama, tradisi, dan semua yang berbau Jawa sangat dipelihara. Termasuk nama-nama kampung dan jalan pun memakai nama khas Jawa. Kapten Does alias Salimin Adjoeotomo, misalnya, tinggal di Soekoredjoweg 27 = Jalan Sukorejo 27. Suriname pakai ejaan Belanda, sehingga U pakai OE, J pakai DJ, seperti ejaan Indonesia sebelum tahun 1947.

Latar belakang ini bisa menjelaskan mengapa gaya bahasa Jawa penduduk Suriname masih seperti itu. Campuran krama madya dan ngaka, bahkan bahasa kasar, yang sudah tidak dipakai lagi di sini.

Setelah menyimak kata-kata Kapten Does, saya bisa menyimpulkan bahwa teman-teman kita yang di Suriname ini berusaha melestarikan bahasa leluhurnya secara ketat. Bahasa nasional memang bahasa Belanda, tapi bahasa komunitas sangat dihargai. Bahasa Jawa menjadi penanda atau ciri khas warga Suriname keturunan Jawa di sana.

Pakar bahasa dan budaya Jawa perlu melakukan riset khusus di Suriname untuk mengupas fenomena bahasa Jawa ala Suriname. Sebab, dari sini kita bisa menelaah perkembangan bahasa yang digunakan secara aktif di seberang dengan bahasa Jawa di Pulau Jawa.

Saya pikir: jangan-jangan orang Tiongkok pun akan tertawa-tawa mendengar warga Indonesia keturunan Tionghoa berbahasa Mandarin ketika berkunjung ke Tiongkok. Bahasa selalu berkembang dengan masyarakat pemakainya, sehingga betapapun akar bahasa itu sama, rasa bahasa, vokabuleri, tata kalimat, sedikit banyak ikut bergeser.

Bahasa Jawa ala Suriname, menurut perkiraan saya, sama dengan bahasa yang pernah dipakai para buruh perkebunan alias kuli yang dikerahkan secara massal oleh Belanda pada tahun 1900-an. Orang kebun, petani, kuli, itu egaliter. Bicara blak-blakan tanpa ada strata bahasa macam di Pulau Jawa: ngaka, krama, kratonan, dan sebagainya.

Tak ada raden, ningat, raja, priyayi... di Suriname. Semuanya, ya, sama-sama rakyat jelata. Sama-sama kuli perkebunan.

Maka, mereka bisa bicara seenaknya, blak-blakan, tanpa ada sensor. Tak ada yang 'saru' saat orang-orang Jawa tempo doeloe itu melakoni hidup yang berat, berjuang untuk bertahan hidup, nun jauh dari kampung halamannya. Orang-orang Jawa di Suriname, pun terisolasi dari Tanah Jawa selama ratusan tahun. Mereka asyik sendiri dengan dunianya, dunia kebun, sebagai sesama petani yang sederajat.

Terus terang, saya sangat tertarik dengan gaya bahasa Jawa Kapten Does dan teman-temannya saat bertandang ke Surabaya. Bahasa Jawa yang boleh dikata 'bersih' dari intervensi kata-kata asing, entah bahasa Melayu, Betawi, Inggris, bahkan Belanda yang menjadi bahasa nasional Suriname.

"Kok bisa ya, Kapten Does berkata-kata dalam bahasa yang polos, apa adanya, tanpa polesan bahasa asing untuk melambangkan kemajuan atau gaya hidup? Kok bisa dia tulus seperti itu meski penduduknya sudah maju dan sangat makmur?"

Saya heran karena saya makin sulit menemukan anak-anak muda asli Jawa sekarang yang bisa berbahasa Jawasecara baik, benar, tepat. Di Surabaya dan Sidoarjo, penduduknya rata-rata hanya bisa berbahasa ngaka, lalu dicampur Indonesia, dicampur Inggris, dicampur bahasa sinetron Jakarta, dan entah apa lagi.

Jangan-jangan suatu saat nanti kita harus pigi ke Suriname untuk belajar bahasa, tradisi, dan kebudayaan Jawa! Hehehe....

Kapten Does dan kawan-kawan tentu sangat sulit menangkap makna kata-kata bahasa Jawa ala Surabaya yang sudah berubah sangat pesat itu.

Usai Kapten Does [dia tiga kali ke Indonesia] menjelaskan misinya di Surabaya, giliran kami, tuan rumah, menyampaikan sambutan. Pakai bahasa Indonesia jelas Does tidak paham. Pakai bahasa Jawa?

Aha, setahu saya belum pernah ada acara resmi atau setengah resmi di Surabaya/Sidoarjo yang pidatonya pakai bahasa Jawa! Bahasa Belanda? Kita orang tidak bisa lah. Terpaksalah berbahasa Jawa. Tapi, ya bisa ditebak, kalimat-kalimat tidak meluncur mulus dan alami, dan selalu muncul kata-kata bahasa Indonesia.

Kapten Does bingung, tapi tetap tersenyum ramah. Saya tanya berapa hari Does dan kawan-kawan berada di Surabaya. "Sedoso dinten, tanggal sedoso dalu pamer wonten pembukaan festival [Cak Durasim]," kata Does dalam bahasa Jawa yang khas.

Panitia Festival Cak Durasim mengundang para seniman Jawa-Suriname ini tampil dua kali di Gedung Cak Durasim, Jalan Gentengkali Surabaya. Mereka membawakan LELAKONE WONG SONGKO NJOWO dengan durasi 90 menit. Ceritanya tentang perjalanan orang Jawa di Suriname sejak 117 lalu hingga melahirkan keturunan macam Kapten Does.

Naskah sandiwara yang ditulis 15 tahun silam itu katanya sering dipentaskan di Suriname dan Belanda. Setiap tanggal 9 Agustus, naskah ini dimainkan untuk memperingati kedatangan orang-orang Jawa di Suriname. Di sela-sela obrolan, Kapten Does dan kawan-kawan melantunkan tembang ini:

WONG JOWO NENG LONDO KELORO-LORO
SAIKI WIS MULYO NANG SURINAME

Seorang teman menambahkan:

MANGKANE, ORA GELEM MULIH
NENG TANAH JAWA

35 comments:

  1. Di sela-sela obrolan, Kapten Does dan kawan-kawan melantunkan tembang ini:

    "Wong Jowo neng Londo keloro-loro
    Saiki wis mulyo nang".

    Seorang teman menambahkan:

    "Orang gelem mulih
    neng Tanah Jawa"

    taktambahi yo?

    "Neng nek sido muleh tenan,
    saiki iso tambah sara...."

    ReplyDelete
  2. kapten dus heibaaat...

    ReplyDelete
  3. matur nuwun sanget sampun ngelingaken kulo menawi budaya, kalin bahasa kromo meniko wajib dipun lestarikan....

    ReplyDelete
  4. ding aja bali meng Indonesia nang kene rekasa pada kurang gizi

    ReplyDelete
  5. iya... biasanya warga peranakan, entah itu peranakan tionghoa atau jawa, lebih semangat dalam melestarikan kebudayaan leluhurnya. mereka juga kerja lebih keras... dan sukses. tulisan ini sangat inspiratif.

    aloysius mardiyanto
    semarang

    ReplyDelete
  6. salu utk teman2 dr singapura. matur suwun.

    ReplyDelete
  7. pengen denger sendiri cerita dari mereka,?
    gimana ya kehidupan mereka disana apakah amasih ada jiwa nasionalisme terhada Indonesia..???

    ReplyDelete
  8. Suriname itu negara kecil, multikultur, yang maju. Semua keluarga punya mobil. Negara kesejahteraan! Orang-orang keturunan Jawa pun maju, pegang banyak posisi penting.

    Nasionalismenya untuk Suriname tentu saja. Mereka rata-rata tidak kenal Indonesia, tapi Jawa. Indonesia itu dianggap seolah-olah hanya Jawa. Kita tidak usah berharap mereka punya "nasionalisme" sama Indonesia karena perjalanan sejarah mereka sudah beda banget.

    Boro-boro meminta orang Suriname, kita di Indonesia saja banyak yang tidak nasionalis. Kira-kira ngono ae tanggapanku. Matur suwun.

    ReplyDelete
  9. Oalah, sedulurku yg di Suriname memang mengagumkan dalam hal menghargai (dan ngugemi) warisan nenek moyang leluhurnya. Sebetulnya tidak mengherankan jika kemudian Saudara kita tersebut rata2 cenderung berjiwa besar (tahu diri, empan papan), mengedepankan unggah-ungguh atau budi pekerti (karena tidak mengabaikan sejarah dan jatidiri sbg wong jawa), dst. Mungkin aku tidak punya nyali jika berhadapan dengan orang seperti itu karena sebagai orang jawa aku malu dgn perkembangan "jiwa-jawi" orang-orang jawa di tanah Jawa. Kalo ada yg tahu Web atau Blog punya para sedulur "wong Jawa" di Suriname, mohon aku dikasih tahu alamatnya. Matur Nuwun.

    ReplyDelete
  10. postingane jan inspiratif mas ... salam kenal dari Bogor!

    ReplyDelete
  11. aku penasaran mbek wong jowo suriname
    kepingin pados konco tiang suriname ten facebook
    tapi dos pundi nggeh carane
    nyuwun saranipun
    matur thanks a lot

    ReplyDelete
  12. ojo bali nang indonesia akeh rampok,sunami,lindu,lan wedus gembel

    ReplyDelete
  13. Sumpah Demi Tuhan....aku nangis rek !!!! sak wise moco artikel iki....terharu ...! tapi keri..keri aku kudu ..ngguyu..moco komentare cak ngadiman mbek anonymous.... bener ojo mulih...Indonesia akeh goro goro ..malah soro menko..!

    ReplyDelete
  14. seneng karo wong jowo suriname,wonge iso melestarikan adat jowo sampe saiki,salam hangat dariku kanggo warga jowo ning suriname

    ReplyDelete
  15. malah aku sedeh nyawang cah2 jowo saiki akeh sg podo niru budoyo lan bahasa asing koyo2ne isen dadi wg jowo lan pengen ngilangno identitas jowo,,kuwi mau mergo pola piker wg kampung pgn di anggep wg kuto,supoyo dianggep modern ng sejatine mboten ngkertos opo iku modern''ngapuntene ''iku kabeh mergo masyarakat akeh sg urep kekurangan saking ekonomi lan pndidikan,niki kabeh mestine dados tanggung jawab kito sedoyo ..ngapuntene yen wonten sg kleru

    ReplyDelete
  16. sangat menarik cerita ttg org suriname ini. moga2 kita bisa mengambil hikmah n pelajaran dari saudara2 kita itu.

    ReplyDelete
  17. memang aneh,berbicara bhs jawa dgn org su,sebutan suriname.awalx aneh di dgr menurut sy bhs jawa itu trllu baku,n mkn wktu krn msh asli.tp lama2 sy trbiasa dgn semua itu krn pacar sy cowo su,yg awalx knl dr facebook,tiap hari tlp pk bhs djowo n belanda.. isyalloh thn dpn dia dtg mau jemput sy utk jd istri n stay di distric lelydrop..

    ReplyDelete
  18. Salam kagem wong Jowo Suriname....Kados pundi kabaripun sampeyan sedoyo? Rak nggih sami sugeng, rahayu, slamet, to?

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyekitf.com)

    ReplyDelete
  19. Salam saka Suriname sedulurku kabeh ana ing Indonesia,terutama pulo Jawa. Aja pada mikir
    nek adewe(keturunanJawa)ning Suriname kepengin
    bali meneh nang Indonesia. Negara iki wis dadi negarane adewe.Senajan teka seprene adewe isik
    akeh sing nduweni pangrasa Jawa, nanging
    Suriname wis mantep ning njero ati, tanpa owah gingsir. Pancen adewe ning Suriname kene luwih lumayan cukup sandang lan pangan nek dipadakke
    karo orang awam ning Indonesia, nanging ora
    keneng dibandingke, karena negeri Indonesia
    adalah negeri yang luar biasa. Dengan penduduk
    yang no 4 di dunia. Dadi upamane adewe bali gek
    kepriye bakale parane. Karomeneh pulo Jawa wis
    kakehan wong ora ngarep-arep wong sakkepel saka
    Suriname. Sakestu, kita sami sugeng, rahayu,
    slamet manggen teng mriki. Kabaripun sae sedaya.
    Matur kesuwun sed2 nJawa pada ngabarke
    kabecikan marang adewe. Sapa nduwe pitakonan lan
    pengin ngerti apa wae bakal tak bales ning kene
    meneh. Nuwun

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal karo aq wong jowo indonesia....hhhmmm pirang2 minggu iki aq tansah kesengsem karo wong jowo suriname,malah no ngomah lan kantor setelanku radio garuda suriname..aq pengen ngerti gambar lan vidio urippe wong jowo suriname di tonton soko panguripane saben dino,....tulung aq di kirim wong jowo suriname..roso2ne aq pengen dolan ono suriname tapi durung ono sing di jujug....aq ngroso yen wes koyo sedulur wae,...hehehe salam yo go konco2 kabeh..iki alamatku..herisulistyanto@rocketmail.com......tak tunggu

      Delete
  20. Kang DSodi ning Suriname ana kesenian Lengger karo Jathilan ora ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jathilan, ning kene beken/terkenal ning tengahe
      saben kelompok etnis kayadene: keturunan Afrika,India, Cina, Amer-Indian lan liya-liyane.
      Mbiyen kabeh ngerti jathilan, nanging
      jaman saiki arane jaran kepang. Nek lengger itu salah satu jenis tarian yang saya tidak tahu...karena saya bukan orang budaya. Nangin ning KBRI-Paramaribo,ibu kotane negaraku
      saben taun ana pembukaan kursus Basa Jawa
      lan Bahasa Indonesia lan pelajaran tarian
      saka Indonesia. Aku dewe blajar Bahasa Indonesia namung tingkat pemula. Wong Jawa Suriname kene ora dunung Bah. Indonesia.
      Mbiyen nek enek sunatan apa kawinan tanggapane
      ludruk apa tayub, nanging saiki akeh-akehe
      kabaret Jawa, awit menawa wae iki ora mbutuhke
      wong akeh. Desa2 panggonane wong Jawa ning Suriname ya pirang2, kayadene: Tamanredjo,
      Tamansari, Poerwodadi, Sidoredjo, Damboentong,
      Tambahredjo.....Lan nek ning tengahe desa
      ngono ya meh wae kaya ning pulo nJawa wae,
      awit taun kang kepungkur aku ya wis mrana.
      Namung desa-desane nJawa padhet mbanget.
      Ning desa Suriname omahe rada seje lan latare
      rada amba lan omongane enek sing Jawa, basa
      keturunan Afrika apameneh basa Landa.
      Panganan Jawa ning Suriname ora eneng tunggale,
      lan populer dewe. Mila, warung2 Jawa ning
      kene kesuwur temenan. Ora eneng etnis liya sing bisa madani. Panganan Jawa: Bami-goreng,
      nasi-goreng, saoto(soto), sate, gedang goreng
      (pisang goreng), pecel, lutes, tiwol, kemplang,
      jadah, wajik, telo-goreng, apem, getuk, cenil,
      lapis, gudangan,dawet...nanging rasane seje
      setitik karo panganan nJawa.
      O ya, sate ning kene sakjempol sikil, luwih
      gedih tenimbang ning nJawa sakdriji tangan,hehe
      Te wan tra lesi baka(sampai lain kali lagi)

      Delete
    2. mas Dsodi, opa neng suriname tekan saiki anak-anake tsih iso bahasa jawa,

      Delete
    3. selainn keturuna jawa ada keturunan dari sunda, bali sumatra ga mas

      Delete
  21. Matur sembah nuwun Kang Dsodi,
    Penjelasan sampeyan sangat bermanfaat bagi kami di Indonesia. Berkah Dalem!

    ReplyDelete
  22. saya kira ada kaitan dg kultur perantau yg memang berusaha mempertahankan identitas budaya leluhur. sama dg orang2 tionghoa di indonesia (dan di seluruh dunia) yg tetap menjaga tradisi budayanya meski sudah tinggal ratusan tahun, beberapa generasi, di luar negeri tiongkok. makanya, di orang2 tionghoa di indonesia pun sangat fasih berbahasa tionghoa. beda dg kita yg pribumi gak merasa perlu mempertahankan identitas tapi menyerap budaya modern. dan itu sering membuat kita lupa tradisi budaya sendiri. nuwun.

    eyang kakung

    ReplyDelete
  23. apakah ada sekolah berbahasa jawa di suriname? lantas, bagaimana hubungan antara orang jawa dengan warga suriname dari etnis lain? apakah tidak sulit kalau masing-masing etnis fanatik dengan budayanya sendiri? terima kasih.

    mas anton di malang jawa timur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di negeri Suriname tidak ada sekolah berbahasa
      Jawa mas Anton. Di KBRI dan yayasan Jatas mengadakan kursus Bah.Jawa dan Bah.Indonesia oleh inisiatif orang Suriname sendiri, tapi
      hanya tingkat pemula dan lanjutan. Belum cukup
      untuk bisa lancar berbahasa dan menulis Bah. Jawa atau Bah.Indonesia. Di Indonesia walaupun
      serupa penduduk(Pulo Jawa),Bah.Indonesia men-
      jadikan Bah.Jawa terbelakang.
      Tentang Bah.Jawa lingkungan di negeri Suriname
      sulit dan lain sekali! Tanpa Bah Belanda untuk
      semua kelompok etnis tidak bisa dapat kemajuan.
      Semua harus fokus bahasa itu.
      Budayanya keturunan India lebih fanatik. Dan
      "budayanya" orang Cina "menunggu" toko.
      Mengenai hubungan antara orang Jawa dengan warga Suriname(kami termasuk) dari etnis lain
      sama saja/sama sama, sebagai orang Suriname.
      Tetapi wataknya dan perasaannya masih punya
      Jawa, India, Afrika,Cina....begitu.
      Disini tidak pernah ada kerepotan tentang agama, etnis,teroris, gempa bumi, sunami, bencana apa saja......Hanya politik...yaitu
      etnis....
      etnis

      Delete
    2. Matur nuwun Mas D Sodi, sudah bercerita banyak tentang Suriname. Moga-moga jadi tambahan informasi yang berguna bagi konco-konco di Indonesia. Nuwun!

      Delete
  24. mantepppp... salam utk dulu2 nang suriname.

    ReplyDelete
  25. matur nueun mas Dsodi muga wong jowo ing suriname tansah kepenak uripe sing biyen rekasa saiki kepenak. kaya wong ngombe jamu, paite disik legine keri, awake sehat. salam saking Cilacap Jateng

    ReplyDelete
  26. sipplah pokokne..wong jowo

    ReplyDelete