19 November 2007

Musik liturgi Katolik Jawa




Surabaya dan Sidoarjo itu berada di JAWA Timur, tapi saya sangat jarang melihat perayaan ekaristi dilakukan dengan 'cara Jawa'. Musik liturgi berbasis etnik Jawa sangat jarang. Kalaupun ada, ya, cuma satu dua lagu dari Puji Syukur atau Madah Bakti yang kebetulan menggunakan tangga nada pentatonik Jawa.

Saya juga mengecek ke teman-teman Gereja Kristen Jawi Wetan [GKJW], yang dikenal sebagai gereja pribumi di Jawa Timur. Ternyata, belakangan ini GKJW makin mengindonesia. Nyanyian-nyanyian dan kebaktian menggunakan Kidung Jemaat berbahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa. Ya, tidak ada beda dengan GPIB [Gereja Protestan Indonesia Barat] atau GKI [Gereja Kristen Indonesia].

Di Paroki Pagesangan, Surabaya, ada kebiasaan menggelar misa berbahasa Jawa--termasuk penggunaan gamelan, khotbah, semua dalam bahasa Jawa--pada hari Minggu kelima. Minggu kelima itu kan sangat jarang, sehingga boleh dikata misa jawa ini tidak populer. Umat di sini, yang berlatar Jawa sekalipun, gamang dengan bahasa daerahnya.

Musik litugi berbasis pentatonik Jawa? Apalagi.

Tidak aneh. Sebab, sejak awal agama Kristen [Katolik dan Protestan] yang disebarkan di Indonesia pada abad ke-16 memang gereja-gereja berwajah Barat. Para misisonaris kurang mengembangkan musik liturgi ala Indonesia, bahkan cenderung mencemooh gending-gending Jawa sebagai kurang rohani, kurang pantas untuk kebaktian.

Kalaupun GKJW menggunakan nyanyian berbahasa Jawa di desa-desa, sebetulnya tangga nadanya tetap 100 persen Barat. Syairnya saja yang Jawa. Melodi dan sebagainya sama persis dengan nyanyian di gereja-gereja Barat.

Maka, lokakarya komposisi musik litugi di Surabaya beberapa waktu lalu, meski tak banyak yang tahu, sangat menarik. Para pegiat musik liturgi Katolik dari berbagai daerah di Jawa Timur berupaya mengangkat musik daerah, jawa timuran, untuk perayaan ekaristi. Tokoh Pusat Musik Liturgi [PML] Jojakarta--Romo Karld Edmund Prier SJ dan Paul Widyawan--hadir memberikan masukan berharga untuk para pemusik dan pembina paduan suara di sini.

"Selama ini Jawa identik dengan Jogjakarta dan Surakarta yang dikenal memiliki gaya musik halus dan lembut. Padahal, ada daerah lain di Jawa yang mempunyai karakter musik yang khas, yaitu Jawa Timur," kata Romo Prier yang mendirikan PML pada 11 Juli 1971. PML merupakan dapur pengolah musik etnik untuk 'diangkat' sebagai musik liturgi di Indonesia.

Nah, pada 1971, Gereja Hati Kudus di Jogjakarta mulai memperkenalkan Misa Inkulturasi Jawa. Misa dirayakan dalam bahasa Jawa, menggunakan lagu-lagu Jawa, yang diiringi musik gamelan. Jadi, bukan sekadar menerjemahkan lagu-lagu liturgi Barat ke dalam bahasa Jawa. Terobosan penting ini jalan di Jogja dan Jawa Tengah, tapi tidak bisa berkembang pesat.

Di Surabaya, misa ala Jawa praktis tidak jalan sama sekali. Ini diperparah lagi dengan minimnya kemampuan warga Surabaya, termasuk Sidoarjo, berbahasa Jawa. Jangankan anak-anak dan remaja, orang dewasa saja semakin sulit menguasai ungkapan-ungkapan dalam bahasanya sendiri.

Belum lagi citra bahwa berbahasa daerah identik dengan 'ndeso, 'wong kampung', 'terbelakang', 'tidak modern', dan berbagai imej buruk. Apa boleh buat, gereja pun tercerabut dari akar budayanya sendiri. Jangan heran, ada pendapat miring di Pulau Jawa bahwa 'Nasrani itu agamanya Londo [Belanda]'.

"Ini memang tantangan tersendiri bagi para aktivis musik liturgi untuk mengembangkan musik bernuansa Indonesia," kata Markus Kurnianto, teman saya, pemimpin sebuah paduan suara inkulturasi di Surabaya.

Markus mengakui tidak mudah mengembangkan musik liturgi inkulturasi di Jawa Timur baik karena kendala internal maupun eksternal. Sebab, bagaimanapun juga mencari anak-anak muda [Katolik] yang bisa main gamelan itu tidak mudah. Pula, saat ini hampir tidak anak muda yang mau belajar musik tradisional. Para orang tua lebih senang memasukkan anak-anaknya ke kursus musik Barat seperti piano, biola, flute, gitar, dan sebagainya.

Lebih parah lagi karismatik katolik. Kelompok kategorial ini nyaris tidak punya pemahaman sama sekali terhadap musik liturgi. Karismatik pakai musik pop, band, rock, musik apa saja, tanpa mempertimbangkan unsur teologis, budaya, tradisi, dan berbagai kelaziman di Gereja Katolik. Jangan heran misa ala karismatik cenderung heboh, hura-hura, dan kurang mendukung misi 'indonesiaisasi' musik liturgi.

Kalau kita membuka catatan sejarah, sebenarnya sudah cukup banyak misionaris [Protestan, Katolik] yang telah berusaha mengindonesikan gereja. Coonraad l. Coolen, lahir di Semarang 1773, wafat di Ngoro [Jawa Timur] 1873, ayah Rusia mama Solo, mewartakan Injil dengan pendekatan budaya Jawa.

"Coolen belajar mendalang dan menjadi dalang, melaras gamelan di gereja, menggunakan tradisi macapat warisan Wali Sanga...," tulis Remy Sylado.

Masih menurut Remy, penulis paling hebat di Indonesia [versi saya], Romo van Deinse SJ mengembangkan nada-nada pelog-slendro di Semarang pada tahun 1950-an. Eksperimen Romo Deinse beroleh penghargaan dari Presiden Soekarno karena dinilai sebagai sumbangan berarti bagi musik Indonesia pada umumnya.

Kini, eksperimen sekaligus kegandrungan pada musik tradisi kita diteruskan oleh Romo Karl Edmund Prier SJ bersama Pusat Musik Liturgi di Jogjakarta. Sekarang kembali kepada kita, orang serani sekaligus orang Indonesia. Sebab, melestarikan budaya bangsa, tradisi musik kita, merupakan tugas sejarah saya dan anda -- yang masih mengaku bangsa Indonesia.

No comments:

Post a Comment