18 November 2007

Mazmur 51 untuk Roy Marten


Anna Maria [istri Roy Marten] bersama anaknya. Ia titip Mazmur 51 untuk sang suami yang ditangkap polisi di Surabaya gara-gara terlibat narkoba.

Selasa, 13 November 2007, aktor kawakan Roy Marten ditangkap di Novotel Surabaya gara-gara terlibat kasus narkoba jenis amfetamin. Roy dicokok bersama tiga kawannya, termasuk Winda, kupu-kupu malam.

Roy tersandung batu yang sama karena sebelumnya dia sudah dipenjara delapan bulan di Cipinang, Jakarta, juga gara-gara kasus narkoba. Tiga hari sebelumnya, Roy Marten ceramah di Graha Pena, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya, tentang bahaya narkoba. Bicaranya enak, memukau, tapi melakukannya tak gampang.

Saya teringat kata-kata bijak: "Ikuti nasihat orang Farizi, tapi jangan ikuti kelakuannya. Sebab, orang Farizi itu hanya pandai bicara, tapi tidak melakukan apa yang dikatakannya."

Tentu, saya tidak berhak mengatakan bahwa Roy Marten tergolong kaum Farizi. Sebab, siapa saja, saya juga, senantiasa terjebak kasus apa pun. Ingat, bekas menteri agama kita saat ini mendekam di penjara gara-gara korupsi. Beliau hafal kitab suci, dikenal piawai berkhotbah, dan punya kualitas alim. Bicara itu gampang!

Kamis, 15 November 2007, Anna Maria Sofyana, istri Roy Marten, menggelar jumpa pers di rumahnya, Kalimalang, Jakarta Timur. Intinya, Anna menyesalkan perbuatan Roy, namun tetap setia, tetap mendukung aktor kawakan itu dalam doa. Tidak ada kamus perceraian bagi Anna Maria.

"Semoga Mas Roy lebih jujur," ujar Anna Maria, tegar. Bagi Anna, yang terlihat makin religius, kasus kedua Roy Marten ini ibarat ujian kenaikan kelas di bidang rohani. Orang beriman, di mana-mana, memang selalu bicara begitu.

Yang membuat saya terkesan dari kata-kata Anna Maria adalah pesan agar Roy Marten berdoa setiap saat, khususnya Mazmur 51. "Ah, Mazmur 51!" kata saya dalam hati saat menyaksikan kata-kata Anna Maria di televisi.

Bukan apa-apa, mazmur itu sangat terkenal di kampung saya, pedalaman Flores Timur. Kalau di Jawa, orang Katolik lebih mengenal Mazmur 23 [Tuhan Gembalaku], karena ada beberapa lagu bagus berdasar Mazmur 23, di Flores Timur Mazmur 51 paling populer. Bukan karena orang Flores rajin baca Alkitab--sungguh, saya baru mendalami Alkitab setelah di Jawa Timur--tapi gara-gara dibiasakan oleh pater-pater Belanda.

Pater Petrus Maria Geurtz SVD [alm] di kampung saya dulu selalu membiasakan umat di desa-desa untuk mendaraskan Mazmur 51. Dua puluh ayat itu kita daraskan pelan-pelan, berirama [12333...35432... 22222...234321], lalu diresapi. Mazmur ini ditulis Daud sebagai ungkapan pertobatannya setelah berzinah dengan Batsyeba [2 Samuel 12:1-15]. Maknanya sangat dalam.

"Kasihanilah aku ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!" Kata-kata ini diucapkan Anna Maria sambil menangis. Saya ikut terharu.

Pada pekan suci, menjelang Paskah, Pater Geurtz juga membiasakan pendarasan Mazmur 51 saat upacara lamentasi. Lamentasi dilakukan pada Jumat Agung pagi dan Sabtu Paskah pagi. Saya yang masih kecil, belum begitu paham mazmur, masih ingat pater Belanda itu begitu tekun memimpin Mazmur 51. Melodi yang sederhana, tapi indah, sehingga masih saya ingat sampai sekarang.

Ketika Anna Maria mengingatkan agar Roy Marten, suaminya, mendaraskan Mazmur 51, saya pun merasa ditegur. "Kenapa engkau tidak pernah mendaraskan dan merenungkan Mazmur 51? Apakah engkau lupa bahwa dulu, di kampung, mazmur itu menjadi doa jemaat yang selalu didaraskan? Apakah engkau terlalu sibuk sehingga lupa bermazmur?"

Begitu suara hati saya berkata. Maka, tengah malam saya membuka-buka Alkitab, mencari Mazmur 51. Saya mencoba merenungkan, dan tenyata maknanya sungguh dalam. Siapa saja, saya, anda, Roy Marten, ya, kita semua, sesungguhnya jatuh dalam dosa yang sama berkali-kali. Bentuknya saja yang berbeda.

Jikapun Roy Marten disorot media massa, jadi objek pemberitaan, bukan berarti dia manusia paling berdosa. Kita semua berdosa, berdosa, berdosa, dan berdosa. "Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, siapakah yang dapat bertahan?"

Seperti Anna Maria, saya pun berharap Roy Marten beroleh banyak peluang untuk merenungkan ayat-ayat mazmur, khususnya Mazmur 51, selama menjalani proses hukum yang cukup panjang ini. Dan mudah-mudahan Roy 'naik kelas' seperti harapan sang istri.

"Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir. Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!"

No comments:

Post a Comment