29 November 2007

Lukisan Yesus versi Jawa


Alkitab mengatakan, Yesus Kristus atawa Isa Almasih lahir di Betlehem, Palestina, negerinya mendiang Yasser Arafat. Namun, lukisan-lukisan Yesus yang beredar selama ini menampilkan sosok pria berwajah Eropa, berkumis, rambut gondrong. Sebagai pelukis asli Jawa, berproses cukup lama di Jogjakarta, Stevanus Djoko Lelono mengaku sangat tidak sreg.

"Yesus kok potonganne kayak Londo. Kok nggak kayak wong Palestina utowo Arab?" ujar Djoko Lelono kepada saya di rumahnya, Sidoarjo. [Yesus kok potongannya seperti bule Eropa? Kok tidak seperti orang Palestina atau Arab.]

Dia lalu menceritakan keresahan batinnya pada 1970-an di Jogja dulu. Setiap menjelang Natal, Djoko berusaha mendalami kisah kelahiran Yesus Kristus di Injil Lukas. Ada gembala sederhana. Kandang hewan. Orang-orang kecil yang sangat menderita. "Saya akhirnya bisa membayangkan kok mirip banget dengan keadaan di desa-desa Jawa saja. Kayak wong cilik di sawah, kampung-kampung."

Dari sinilah, Djoko mulai berani memainkan kreativitasnya untuk menggambarkan beberapa peristiwa Kristiani. Mau tahu bagaimana Yesus lahir dulu? Djoko melukis seorang ibu berkebaya biru dengan bayi dan gentong. Mirip dengan peristiwa kelahiran biasa di kampung-kampung.

Tidak ada gembala, kandang hewan, malaikat, tiga majus, dan seterusnya. "Soalnya, saya bayangkan Yesus itu lahir di Tanah Jawa," ujar Djoko Lelono, serius.

Djoko juga menggambar 'Perjamuan Terakhir' antara Yesus dengan 12 muridnya. Lagi-lagi gayanya khas wong tani di Jawa. Yesus duduk di tengah-tengah, badannya kurus, pakai topi khas petani Jawa. Tiga belas orang itu mengelilingi makanan rakyat yang siap disantap.

"Perjamuan itu kayak petani yang syukuran atau pesta panen. Saya menganggap Yesus dan murid-muridnya, ya, seperti itu," ujar pria kelahiran Sidoarjo, 21 Agustus 1959, itu.

Tak lupa Djoko Lelono menampilkan Yudas Iskariot, rasul yang mengkhianati Yesus. Si Yudas ini berada di bagian belakang dan tampak menyembul senjata tajam (arit) di balik bajunya.

Lukisan-lukisan semacam ini, kata dia, cukup banyak penggemarnya namun sulit berkembang di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo. Selain apresiasi masyarakat masih jauh dibandingkan Jogja, "Di Sidoarjo dan Surabaya belum ada tempat untuk memamerkan karya-karya yang dulu sangat sering saya buat di Jogjakarta," ujar seniman yang
pernah membuat rekor lukisan terpanjang versi Museum Rekor Indonesia (MURI).

Mengapa Djoko begitu getol 'men-Jawa-kan' cerita-cerita Alkitabiah? Ia mengaku tak punya pretensi apa-apa, tak punya motivasi teologis, selain keresahannya sebagai orang Jawa belaka. Bertahun-tahun ia melihat gambaran Yesus yang sangat khas Eropa, jauh dari potret manusia Jawa, dan itu membuatnya merasa asing.

"Gereja dan Yesus menjadi barang asing di masyarakat karena gambaran yang sangat Eropa tadi," tukasnya.

Ulah Djoko Lelono ini sebetulnya sudah banyak dilakukan seniman-seniman di Jepang, Korea, atau Afrika.Mereka sejak lama membuat lukisan Yesus sesuai dengan budaya dan adat-istiadat setempat. Jangan heran ada 'The Black Jesus', gambaran Yesus
ala kaum negro, dan seterusnya.

Ternyata, proses 'Jawanisasi' ala Djoko Lelono ini mendapat apresiasi positif dari pimpinan Gereja Katolik. Pada 1993 lalu Djoko mendapat medali 'Redemptor Hominis' dari Paus Yohanes Paulus II lewat Duta Besar Vatikan untuk Republik Indonesia. "Mungkin di seluruh Indonesia baru saya sendiri yang mendapat medali itu," ujar Djoko lalu memperlihatkan medali kecil tersebut.

No comments:

Post a Comment