12 November 2007

Ludruk Suriname puaskan penonton



Pelawak Surabaya, Cak Kartolo, tampil bersama Susi alias Soelijanto, waria cakep asal Suriname keturunan Jawa, di Gedung Cak Durasim Surabaya.


Baru kali ini saya melihat Gedung Cak Durasim di Jalan Gentengkali 85 Surabaya penuh sesak. Setengah jam sebelum pertunjukkan, pukul 21.00, gedung teater itu tiga perempat penuh. Sepuluh menit sebelum pertunjukkan penuh. Sekitar 1.200 orang tumplek-blek.

Lantas, ratusan orang terpaksa [atau malah enak?] berselonjor di karpet, persis di bawah panggung. Gayeng suasananya! Macam nonton ludruk tobong di pelosok-pelosok Jawa Timur.

Kok orang Surabaya bisa antusias begini? Tak lain karena malam itu [10/11/2007] para seniman dari Republik Suriname, Amerika Selatan, manggung. Dipimpin Kapten Does, empat seniman memainkan lakon Lelakone Wong Songko Jowo. Cerita tentang sejarah pembuangan orang Jawa pada 1890, tanggal 9 Agustus, ke negeri asing. "Soro.. soro tenan," kata Kapten Does alias Salimin Ardjooetomo, ketua rombongan, dalam pengantarnya.

Dikirim sebagai kuli perkebunan, orang-orang Jawa masa itu harus babat alas, buka hutan. Tidak ada rumah, ya, harus bikin gubuk. Makanan terbatas. Untuk mengusir stres, para kuli perkebunan itu main ceki [judi] bersama temannya.

"Kalau uangnya habis, istrinya digadaikan," tutur Kapten Does dalam bahasa Jawa. Penonton tertawa, suit-suitan. Istri kok digadai? Tapi, itulah, suasana perbudakan era Hindia Belanda yang memang kejam dan tak manusiawi.

Tahun berganti, tak terasa Kapten Does sudah tergolong generasi ketiga. Kini, kehidupan orang-orang Jawa di Suriname [50.000 orang dari 500.000 penduduk Republik Suriname alias 10 persen] sudah makmur. Istilah Does: wis mulyo! Mereka bisa menikmati hidup bersama penduduk keturunan India, Kreol, Tionghoa... yang latar belakangnya sama, yakni sebagai budak di perkebunan tebu.

Lantas, bagaimana orang Jawa mempertahankan budaya, adat, agama, unggah-ungguh... di Suriname di tengah gempuran globalisasi dan budaya Barat? Itulah kisah Does Kabaret yang ditampilkan dalam Festival Cak Durasim tahun 2007 ini. Selama satu jam lebih, kami menikmati ludruk ala Suriname. Benar-benar ludruk kayak di Joyoboyo, minus tari remo. Juga mengedepankan laki-laki yang bermain sebagai perempuan.

Kalau Ludruk Irama Budaya, Joyoboyo, punya banyak waria, ludruk Suriname punya Amatirsat Soelijanto, waria cakep. Ia bermain sebagai gadis gaul Suriname [Susianti] yang sangat modis, kebarat-baratan, pacaran bebas dan panas, nyaris melupakan budaya Jawa. Susi ini manis, tidak pakai operasi apa pun. Banyak gadis di Surabaya yang iri. Hehehe....

Saat mamanya ke pasar, Susi mengajak pacarnya, Jon [Resosumito Rakimin], untuk datang ke rumah. Nah, di situlah keduanya bercumbu ria. Lantas, si mama datang memergoki adegan mesra nan panas itu.

Susi gegeran [dan ger-geran] dengan mamanya yang energik dan sangat ketat menjaga adat istiadat leluhurnya. "Wong njowo kok gak duwe unggah-ungguh. Eling, mbahmu iku wong njowo," nasihat si mama. Tapi, dasar Susi, semua nasihat selalu dilawan dengan celetukan-celetukan protes, tapi penuh humor, sehingga penonton terbahak-bahak.

Cerita biasa-biasa, pemain yang hanya empat, ternyata sangat berhasil. Kedekatan budaya, kesamaan bahasa, juga beda istilah antara Suriname dan Surabaya menjadi bahan humor tersendiri. Penonton geli mendengar kata 'sroto' yang di sini sama dengan 'kunci'. Kalau di sini 'bumbu' berarti rempah-rempah penyedap masakan, orang Suriname mengartikan sebagai masalah atau problem. Inggris menjadi Engels.

Si mama dan Susi ternyata sudah melakukan 'survei' tentang Gang Dolly [pusat pelacuran di Surabaya] hingga kebiasaan masyarakat mlaku-mlaku nang TP [Tunjungan Plaza].

Sayang sekali, ludruk yang sangat menghibur ini tiba-tiba dipotong Kapten Does karena durasinya sudah satu jam. "Kalau gak dipotong, sampai pagi pun belum selesai. Kita sambung besok karena saat ini ada kesenian lain yang mau tampil," ujar Does. Penonton puassss!

Usai pergelaran, saya mampir ke kamar ganti artis. Saya ketemu Kapten Does, Argill, Soelijanto... ya semua personela kabaret. Pak Does tersenyum ria saat saya menjabat tangannya. "Matur nuwun, matur nuwun!" kata penyiar radio dan televisi Garuda di Paramaribo, ibukota Suriname itu.

Soelijanto alias Susi pun sumringah. "Kalau bisa saban tahun bisa main di sini," katanya kepada teman-teman Trans TV yang mewawancarai di ruang ganti. Dia bicara dalam bahasa Jawa, tentu saja. Nah, teman-teman reporter banyak yang kelabakan karena sulit bicara panjang dalam bahasa Jawa. Hehehe...

Masih di kamar ganti, Argyll Legiran Ardjooetomo [pemeran mama] menangis histeris. Menangis sejadi-jadinya macam anak kecil. Ada apa ini? Ternyata, kawan dari Suriname ini sangat terharu dengan sambutan masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Dia tak menyangka kalau ludruk Suriname beroleh sambutan begitu luas. Gedung penuh sesak, respons penonton selama show pun luar biasa.

Begitulah! Argyll mengungkapkan rasa bahagianya dengan menangis, menangis, menangis. Air mata bahagia! Saya menilai Argyll ini luar biasa karena sudah 15 tahun ikut kabaret Kapten Does. Bicara sendiri alias monolog, penguasaan panggung, komunikasi dengan penonton, sangat bagus. Dialah motor, roh, kelompok ludruk Suriname itu.

Esoknya, ludruk dilanjutkan dengan cerita yang mirip. Pertunjukkan khusus untuk pelajar, guru-guru, dan undangan khusus. Ger-geran masih terjadi, apalagi pelawak Kartolo ditanggap khusus sebagai bintang tamu. Susi [Soelijanto], si waria yang biasanya fasih 'menghantam' lawan mainnya kali ini seperti kena batunya. Kartolo bukan seniman sembarangan memang. Maka, semua umpan Susi dimakan habis. Penonton ger-geran!

"Wonge endek, sembarange ya mesti endek," goda Susi.

"Endek tapi pancalane banter. Koen durunge ngerti rasane," jawab Kartolo.

Yah, lawakan-lawakan macam ini memang khas ludruk di Jawa Timur. Asosiasinya ke seks dan dijamin semua penonton paham, lalu tertawa. Eh, Kabaret Does alias Ludruk Suriname ini pun pakai formula yang sama.

Luar biasa!

Sudah 117 tahun orang Jawa di Suriname berpisah dengan negeri asalnya, yang kini sudah menjadi Republik Indonesia, tapi adat istiadat, bahasa, dan unggah-ungguh Jawa tidak hilang. Boleh dikata, cara Jawa ala Suriname jauh lebih murni karena di negaranya Kapten Does itu ada semacam konservasi budaya. Ada yayasan, paguyuban, orang tua, media massa [televisi, radio] yang secara teratur melestarikan semua yang berbau Jawa.

Di sini, orang Jawa sudah 'menjadi Indonesia', berinteraksi dengan nilai-nilai baru yang makin berkembang seiring gempuan arus globalisasi. Generasi muda dibiarkan mencari jati diri sendiri. Orang tua [Jawa] pun tidak ketat lagi memaksa anak-anaknya berbahasa Jawa dengan segala unggah-ungguh basanya. Anak-anak muda dibiarkan berbahasa gado-gado, Melayu-Betawi, nginggris-ngingris, ngaka pasaran, dan mengabaikan kesenian tradisional macam ludruk, ketoprak, atau wayang kulit.

"Saya malah nggak bisa pidato dalam bahasa Jawa seperti Kapten Does," aku Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Dr. Rasiyo. "Anak-anak sekarang apalagi. Bicara bahasa Jawa sudah susah."

Melihat ludruk Suriname, cara bertutur Kapten Does dan lima anggota rombongan [salah satunya kamerawan], bahasa Jawa ala Suriname yang relatif 'murni', saya optimistis bahasa dan budaya Jawa tidak akan hilang. Negara kecil bernama Suriname itu telah menjadi cagar budaya Jawa yang luar biasa!

Matur nuwun Kapten Does! Matur nuwun para pemain kabaret atawa ludruk Suriname! Sebagai bentuk apresiasi saya kepada enam saudara dari Suriname ini, saya memberikan tali asih berupa kostum tim sepak bola Indonesia, kaus merah dengan gambar burung garuda. Jumlahnya hanya empat, sehingga Pak Does dan Mas Doel dapat kaus hitam komunitas motor di Surabaya.

Sekali lagi, matur nuwun dan salam persahatan dari saya untuk semua warga keturunan Jawa di Republik Suriname.

BACA JUGA
Orang Suriname yang antik

2 comments:

  1. suwun cak... hebat

    ReplyDelete
  2. Wahh hebat euy.... betul betul two tumbs up :)

    ReplyDelete