23 November 2007

Keluhan aktivis muda Lembata




Ciputra Golf dan Klub Keluarga merupakan kawasan paling elite di Kota Surabaya. "Angker duite," begitu kata-kata khas orang Surabaya.

Duitnya itu lho yang sangat muahaaaal. Kalau tidak kaya, jangan sekali-kali engkau menikmati fasilitas di situ. Dijamin bangkrut, Cak! Bagaimana tidak. Biaya menginap satu malam di sini Rp 700.000. Hehehe....

Nah, di tempat inilah teman-teman aktivis muda dari Kabupaten Lembata, kawasan Flores Timur, mengikuti lokakarya, sekolah demokrasi, selama dua hari dua malam. Tentu saja yang bayar bukan teman-teman dari Flores itu, tapi panitia dan donatur dari luar negeri. Selain 15 orang Lembata, sekolah ini diikuti 15 aktivis prodemokrasi dari Kabupaten Malang [Jawa Timur] dan 15 aktivis Kabupaten Jeneponto [Sulawesi Selatan].

"Wah, saya ngeri kok teman-teman ikut pelatihan di sini? Apa tidak ada tempat lain?" kata saya saat mengunjungi teman-teman Lembata di Ciputra Golf.

Sebagai orang yang cukup menguasai seluk-beluk Kota Surabaya, saya tahu sedikitlah mana tempat pelatihan yang supermurah, murah, mahal, sangat mahal, dan selangit harganya kayak Ciputra Golf. Saya kenal baik seorang romo yang mengelola tempat pelatihan berbiaya Rp 25.000 semalam per kepala. Dus, 24 kali harga di Ciputra. Ctttt.... cttttt.... cttttt!

"Kenapa ngeri? Kami sih hanya peserta, tahunya ditempatkan di sini, ya, sudah," sahut teman saya.

"Maksudnya, kalau pelatihan di tempat murah, kalian bisa santai-santai di Surabaya dan sekitarnya sampai 10 hari. Bisa jalan-jalan, lihat lumpur di Porong, ke Pasar Turi, dan sebagainya. Lha, kalau di Ciputra, kalian harus cepat-cepat check out, muahaaaal banget," kata saya. Teman-teman Lembata dan Jeneponto tidak bisa menjawab, karena memang tidak tahu situasi sebenarnya di Surabaya.

Sambil minum kopi di dekat kolam renang, pikiran saya lekas berputar. Lembata, Flores Timur, termasuk kabupaten miskin. Istilah yang dulu saya dengar lewat ceramah-ceramah di gereja atau sekolah: penduduk hidup di bawah garis kemiskinan! Jadi, bukan sekadar miskin, tapi di bawahnya miskin. Bahasa Indonesia belum punya istilah untuk kemiskinan di bawah garis kemiskinan.

Bahasa Jawa ada istilah: kere, mbambung, dan sejenisnya. Tapi di Flores, semiskin-miskinnya orang pasti punya rumah, kebun, hewan, bisa mencari ikan dan binatang atau tumbuhan laut. Sehingga, tidak bisa dibilang 'kere' atau 'mbambung'. Tapi memang sangat sulit mencari uang di Flores atau Nusa Tenggara Timur umumnya.

"Wah, berarti orang paling miskin di Indonesia bisa tinggal dua malam, ikut pelatihan, di tempat paling mewah di Jawa Timur. Luar biasa! Sungguh ekstrem! Tapi, mungkin, panitia ingin kasih tunjuk, begini lho rasanya tinggal di hotel mewah, bisa menikmati berbagai kesenangan hidup. Masa sengsara terus di kampung. Hehehe...," pikir saya.

Okelah, saya kemudian tanya-tanya soal kondisi Lembata. Apakah ada kemajuan pesat setelah jadi kabupaten sendiri. Fasilitas umum macam jalan raya, listrik, air minum, bagaimana? Peluang kerja bagaimana? Apakah jalan utama ke kampung saya, dari Lewoleba [ibukota Lembata] ke Mawa sepanjang 28 kilometer sudah diaspal?

Soalnya, orang-orang di Lembata sepanjang hidupnya tidak pernah tahu jalan aspal. Jalan raya, ya, tanah atau pakai pengerasan dengan bebatuan. Batu-batuan ini dibiarkan begitu saja, bertahun-tahun, sehingga kendaraan roda empat berjalan tidak karuan. Oleng sana sini, penumpang seakan dikocok perutnya. Ironis, karena bupati Lembata itu berasal dari kampung saya, yang tentu sering melintas di jalan raya paling bobrok di Indonesia itu.

"Apanya yang diperbaiki? Sampai sekarang, jalan raya ke kampung ya sama saja. Sama dengan ketika anda masih di Flores Timur," kata Yohanes, peserta sekolah demokrasi, aktivis di Lewoleba. "Malah tambah rusak. Jangankan memperbaiki jalan di desa-desa, di Lewoleba saja nggak karuan."

Tapi, menurut Yohanes, jalan raya di Lewoleba saat ini sangat ramai. Banyak kecelakaan di jalan. Ini berarti banyak warga sudah bisa membeli kendaraan bermotor. Rumah-rumah pun lebih bagus, tidak kumuh macam tahun 1980-an. Dari dermaga ke 'kota' [pakai tanda petik, karena Lewoleba itu sejatinya desa. Beda dengan kota-kota di Jawa] ada angkutan umum, ojek, bahkan becak. Sebelum 1990-an, kita harus jalan kaki ke pusat Lewoleba. Saya pun sering menikmati jalan kaki 28 km dari Lewoleba ke Mawa, desa kelahiran saya. Mirip gerak jalan Mojokerto-Surabaya [55 km] atau Tanggul-Jember [30 km]. Saya sangat mengenang masa-masa indah itu!

"Bagaimana dengan politik? Kebijakan publik?" pancing saya.

Aha, pertanyaan ini ternyata sangat disukai teman-teman dari Lembata. Sebab, mereka memang bergerak di bidang ini. Dari 15 peserta, ada anggota DPRD Lembata, kepala desa, pegiat NGO, wartawan, petani, dan sebagainya. Mereka sangat fasih bicara politik. Bahkan, menikmati topik politik [padahal, di Jawa Timur penduduk sudah malas bicara politik dan jengah dengan perilaku politisi saking korup dan tamaknya].

Sebelum 1990, orang Lembata cenderung apatis, antipolitik. Pokoknya bisa merantau, ke Malaysia, dapat uang, ya, sudah. Zaman memang sudah berubah!

Saya menyimak cerita tentang politik di Lembata. Mulai unjuk rasa menolak rencana tambang mineral. Anggota dewan [20 orang] tidak aspiratif, tidak memihak rakyat. Konflik horizontal gara-gara kebijakan penguasa. Sumpah-menyumpahi. Gerakan massa. Pegawai negeri yang cenderung menjilat atasan demi mengamankan posisi. Wartawan dianggap tidak netral, tidak membela kepentingan rakyat. Kata Yohanes, warga dan aktivis LSM sudah tidak percaya lagi pada koresponden media besar di
Lembata.

"Konflik kepentingan sangat tinggi. Sesama keluarga bisa terlibat perang karena beda kepentingan. Sebab, di Lembata sekarang mengkritik kebijakan pemerintah bisa dianggap musuh. Anda akan dikucilkan kalau bicara yang berbeda dengan selera pemerintah," tutur teman aktivis di Lembata.

Singkatnya, Yohanes mengatakan, setelah menjadi kabupaten sendiri, terpisah dari Flores Timur, kondisi semakin carut-marut. Orang-orang yang dulunya polos, apa adanya, berubah menjadi tamak dan rakus luar biasa. Proyek-proyek dijadikan bancakan, nyaris tidak menyentuh kehidupan rakyat yang sangat miskin itu. Pejabat dan keluarga pejabat berlomba memperkaya diri -- berkat proyek pemerintah. "Tender mesti jatuh ke kroni atau keluarga pejabat," tutur pria hitam manis ini.

Yang membuat saya geli, teman-teman bercerita bahwa kondisi Lembata sekarang macam era pengujung Orde Baru. Ada tiruan Pak Harto yang feodal dan sangat berkuasa. Kemudian Tutut, Tommy, Tatiek, hingga Bambang Tri. "Sudahlah, Bang, kondisi KKN di Lembata sekarang sangat, sangat buruk," begitu cerita teman-teman peserta sekolah demokrasi.

"Sikap gereja bagaimana? Uskup Larantuka?" tukas saya.

"Ada gerakan moral dari gereja, tapi tidak solid. Uskup sulit diharapkan. Romo-romo praja sulit. Hanya imam-imam SVD [Societas Verbi Divini] yang bersikap tegas menghadapi situasi ini."

Yohanes mengingatkan Felix Fernandez, bekas bupati Flores Timur, yang saat menjabat kerap dikecam kalangan LSM dan hierarki. Felix bahkan berusaha menjebloskan Romo Frans Amanue ke penjara, tapi gagal. Setelah menjabat, giliran Felix yang dikirim ke penjara karena dakwaan korupsi uang rakyat di kabupaten termiskin di Indonesia. "Saya khawatir, jangan-jangan di Lembata pun seperti itu," ucap Yohanes.

Saya tak punya data, tak tahu situasi sebenarnya, sehingga hanya bisa diam dan pasang kuping. Jadi pendengar yang baik. "Kok bisa ya Lembata menjadi seperti sekarang, kalau cerita teman-teman itu benar. Lalu, apa makna pemekarasan wilayah? Buat apa jadi kabupaten sendiri?" renung saya dalam hati.

Sambil menghirup kopi hitam ala Ciputra Golf dan Klub Keluarga [harganya belasan ribu, di warung kopi hanya Rp 1.000], saya lantas bertanya. "Lantas, apa evaluasi pemerintah pusat tentang Kabupaten Lembata. Masih layakkah dipertahankan sebagai kabupaten? Atau, dibubarkan, kembali ke Flores Timur?"

"Wah, kalau dievaluasi, jelas rapor Lembata merah. bocorannya, Lembata dan Rote dinilai gagal jadi kabupaten," kata Yohanes.

Begitulah. Setelah Pak Harto lengser pada 21 Mei 1998, lalu reformasi, provinsi dan kabupaten dipecah-pecah alias dimekarkan. Kalau dulu kita kenal 27 provinsi [termasuk Timor Timur], setelah reformasi dan Timor Timur merdeka, jumlah provinsi malah bertambah menjadi 33. Hilang satu provinsi, tambah tujuh provinsi. Pemekaran kabupaten malah nggak karu-karuan, termasuk Lembata di Flores Timur. Tiap tahun bertambah lima sampai 10 kabupaten baru di Indonesia.

Hasilnya, seperti cerita teman-teman saya ini, elite-elite lokal berpesta pora, bancakan proyek, memperkaya diri, tak punya empati dengan kemiskinan struktural yang diderita rakyatnya. Ketika LSM menyoal kemiskinan rakyat, tak segan-segan raja-raja kecil di pelosok ini berkata: "Berbahagialah orang miskin karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga!"

Prek!

5 comments:

  1. Lembata... lembata.

    Tergantung tangan siapa yang memegang (sebuah judul puisi)

    Banyak yang cuma mau kenyang sendiri, senang sendiri, suka sendiri dan lupa diri...

    generasi muda lembata yang peduli, mari kita bangun lembata dengan cara kita masing-masing... jangan mudah dibodohi dengan bahasa politis yang manipulatif.



    Putera Lembata, Yogya
    http://gurumuda.wordpress.com
    http://infokarya.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. teman2 muda, jangan cuman mengeluh dong. bangkit! bergerak! kalian bisa memperbaiki situasi. dialoglah sama para pejabat. kalo cuman menggerutu, ya, gak akan ada perubahan. aq yakin kok kalau semua org lembata punya komitmen agar daerahnya maju. masak sih ketinggalan terus.

    ReplyDelete
  3. kalo mo jujur, persoalan di lembata itu karena banyak org gak suka ama bupati pak andreas manuk. shg apa pun kebijakan pak bupati ditentang habis2an. kita juga perlu kritis pada kaum oposisi yg selalu menyudutkan pak bupati. kenapa begitu sulit dialog? kan org lembata itu sama2 lamaholot?

    ReplyDelete
  4. SetidaK-tidaknya orang mulai mengeluh berarti sudah merasakan dampak dari kedaan yang tidak diinginkan tapi terjadi di lembata. Kalau tidak mengomel artinya bisa saja tidak merasahkan atau tidak mau peduli.Tahun lalu saya libur tiga bulan di Lembata sempat Ke Ileape, Kedang, Atakowa dan ke Lebala...Bupati sibuk sekali mempertahankan proyek tambangnya lupa masalah pokok yang harus dihadapi sperti kekurangan air minu, keadaan jalan yang sudah parah atau banyak tempat yang tidak bisa dijankau. Situasi kepemimpinan hanya jiplakan dari luar makanya timbul konflic yang tidak diinginkan. Kepemimpinan yang sangat jau dari kebudayaan orang Lembata.. Orang berlomba masuk dunia politik karena dilihat sebagai kesempatan emas memperkaya diri. Pembanguna (gedung-gedung, pasar, telekomunikasi dan beberapa jenis lainnya)di Lembata itu karena hanya memenuhi persyaratn sebuah kabupaten yang modalnya datang dari luar. Nah susahnya orang berpikir kalau uang banyak maka pembangunan bisa terjadi di lembata. Pemikiran ini membuat pemimpin2 lembata ambil jalan pendek mau korek lembata supaya bisa mendapatkan uang sebanyak-banyak dan dikira bisa membangun Lembata....Pemikiran seperti begini yang diperkuat dengan kekuasaan politik yang ada mempunayai dampak negative untuk masyarakat lembata. makanya, perlu suat reformulasi visi lembata yang berpandu pada keterlibatan masyarakat. artinya apa yang diinginkan oleh masyarakat dan bagaimana mereka mau mencapainya. bukan visi yang hanya dirumuskan oleh pemimpin yang gaya berkeusa hanya jiplakan dari luar.

    franskupangujan

    ReplyDelete
  5. selamat pagi kak Lambertus,,
    saya tertarik sekali dengan artikel2 yang kaka buat tentang lembata..
    kebetulan saya mahasiswa di salah satu universitas swasta terkenal di bandung...
    kak saya ingin banyak2 lagi mencari informasi tentang lembata,,,
    karna saya akan melakukan ekspedisi pegamatan masyarakat tradisional yang berlokasi di lembata atau di suku moko di pulau alor..
    apakah kakak bisa bantu sa kasih informasi tentang apapun terkait dengan suku2 hususnya di lembata..karna sa tertarik dengan perburuan paus kak...
    sa bingung mau tanya kontak kaka dari mana..
    karna sa rada gaptek..hehe
    mungkin kakak bisa kontak saya lewat email saya di :
    Ly_m_bus@yahoo.co.id
    saya tunggu kontak2an pertama kita kak..

    Best Regards,

    Librina Thenu

    ReplyDelete