14 November 2007

Helen Sparingga reuni di Porong




Helen Sparingga kini berusia 53 tahun dan sudah jadi nenek satu cucu bernama Aldo James McOrmack. Tapi, sungguh, kecantikan penyanyi terkenal di era 1980-an ini masih terjaga. Dia sedap dipandang, segar, ramah, selalu gembira. Yah, nenek yang awet muda.

Setidaknya itulah yang terlihat saat Helen Sparingga berkunjung ke SDN Porong 2 di Desa Mindi, Kecamatan Porong, Sidoarjo, hanya sekitar satu kilometer dari pusat semburan lumpur. Helen datang bersama pelawak Doyok, Senin [12/11/2007], untuk sebuah temu kangen para alumni sekolah itu. Asal tahu saja, Helen Sparingga dan Doyok [Sudarmaji] memang alumni SDN Porong 2 yang kini sudah nyaris ambruk terkena lumpur panas.

"Waktu kecil saya ya sekolah di sini. Kok suasananya jadi berubah menjadi gak karuan kayak gini ya?" tukas suami Mus Mulyadi, penyanyi legendaris asal Surabaya, itu. Bersama Doyok serta 40-an alumni, Helen Sparingga bernostalgia sekaligus berempati dengan penduduk Porong yang sejak akhir Mei 2006 menjadi korban lumpur lapindo.

Doyok sebelumnya sudah beberapa kali menjenguk kampung halamannya, karena dia memang lahir di Mindi. Ayah Doyok bekas juragan pabrik rokok rumahan di Desa Mindi. Meski berkarier di Jakarta, Doyok masih sering datang ke Sidoarjo untuk menemui kerabatnya. Adapun Helen Sparingga tumbuh sebagai anak polisi yang dulu kebetulan berdinas di Porong. Oh ya, Porong dikenal sebagai 'markas polisi' karena ada beberapa institusi kepolisian berskala nasional di situ.

"Saya hanya minta agar warga di sini tidak putus asa. Tabah, tawakal, terus berdoa, agar Tuhan memberikan bekat-Nya melalui musibah ini. Kita harus percaya setiap musibah itu selalu ada hikmahnya," ujar Helen Sparingga yang beberapa tahun terakhir ini juga aktif dalam pelayanan rohani kristiani.

Melihat Helen Sparingga datang ke Porong, saya teringat masa kecil di kampung halaman, Flores Timur. Waktu itu saya kerap mendengar lagu-lagu Helen Sparingga yang diputar teman saya, Mator, tetangga sebelah. Album perdana Helen Sparingga bertajuk
Birunya Cintaku terbitan JK Records.

Perusahaan rekaman milik Judhi Kristianto [JK] ini, kita tahu, sangat berjaya pada 1980-an dengan lagu-lagu manis. Meski suara Helen biasa-biasa saja, JK merasa Helen bisa dijual karena wajahnya yang jelita. Promosi gencar lewat TVRI, televisi
satu-satunya, membuat nama Helen Sparingga langsung melejit.

Dan saya menikmati suara Helen Sparingga di rumah tetangga. Tape recorder sederhana, pakai baterai biasa, karena listrik tidak ada. Kenapa di rumah tetangga? Hehehe... Keluarga kami tidak punya tape. Yang ada hanya radio transistor. Si Mator, kakak kelas ini, sangat suka suara Helen Sparingga yang melankolis dengan melodi lagu yang manis ala Obbie Messakh. Lagu Birunya Rinduku diputar ulang-ulang, sehingga saya
hafal. Sampai hari ini. Bahkan, intro hingga interlude-nya pun saya tidak lupa.

Seminggu yang lalu kau masih di sini
cerita padaku tentang asmara.
Seminggu yang lalu kau masih di sini
kau ikat kembang di rambut hitamku....
Oh... indahnya, oh... mesranya malam itu

Belum habis manis yang kuberikan
Sudah kaubalas pahit begini
Ternyata untukku kau berikan sisa
Dari cintamu yang penuh berduri

ULANGAN

[Maafkah sayang..
memang salahku membagi cinta]
Tak kusangka tak kuduga semula
Kau yang kucinta pandai berdusta

[Ohh... namun dengarlah dari semua
engkau yang kusayang]
Pergilah, pergilah saja
dan jangan datang lagi
aku pun tak mau
kau berikan cintamu yang palsu

Putuskan cintaku jangan harap lagi
Kuterlena dalam belaianmu
Merahnya asmara birunya cintaku
bagai mimpi-mimpi yang hitam




Tak hanya saya dan Mator, bocah-bocah di kampung saya pada 1980-an [album ini terbit 1985] selalu menyanyikannya. Maka, seluruh desa pun ikut-ikut dilanda virus Helen Sparingga, khususnya Birunya Cintaku. Lagu-lagu manis macam itu memang cepat mendarat di hati orang-orang Flores Timur, selain karena akornya sederhana, juga melodius. Lagu apa saja, jika melodinya tak kuat, sulit populer di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Helen Sparingga tergolong artis JK yang langsung sukses pada album perdana. Dan itu termasuk bagus untuk ukuran bisnis kaset [CD belum ada] masa itu. Sebab, JK yang dikenal piawai mengendus pasar musik pada 1980-an ternyata gagal mengobitkan sejumlah penyanyi meski wajah mereka cantik-cantik.

 Sukses Helen tak lepas dari tangan dingin Obbie Messakh, pencipta lagu pop asal NTT paling laris masa itu, yang menulis lagu sesuai dengan karakter vokal Helen Sparingga. Suara Obbie juga dipakai di bagian refrein, tentu untuk mengangkat popularitas Helen.

Kalau tidak salah, Helen Sparingga merilis lima album bersama JK Records. Juga ada sejumlah single bersama artis-artis JK, termasuk album Natal. Selera masyarakat yang sulit ditebak membuat album-album Helen tidak semuanya mulus. Nama Helen Sparingga melejit lagi ketika merilis album Antara Hitam dan Putih, juga karya Obbie Messakh. Nomor ini ngehit hampir bersamaan dengan Hati yang Luka [juga karya Obbie Messakh] yang dibawakan Betharia Sonata.

Radio-radio swasta di Jawa Timur--saya sudah pindah ke Malang--sangat sering memutar Antara Hitam dan Putih. Cukup lama lagu ini bertengger di urutan pertama tangga lagu radio di Malang. Dari sini sadarlah saya bahwa penggemar Helen Sparingga ternyata bukan hanya orang-orang kampung di luar Jawa, tapi juga kota besar di Jawa. Kaset Helen Sparingga laku keras.

Dia bersama para artis JK sempat menggelar konser di GOR Pulosari, Malang [sekarang tidak ada lagi], dan saya kebetulan menonton. Artis-artis JK ini sejatinya bukan penyanyi pangung, melainkan spesialis rekaman. 

Suara mereka dipoles sedemikian rupa oleh Judhi Kristianto karena rata-rata materi suara mereka pas-pasan. Nah, di atas panggung, di depan ribuan penonton, Helen Sparingga, Dian Piesesha, Meriam Bellina, Ria Angelina... kelabakan. Tapi tidak apa-apa karena para penggemar di Malang bisa melihat langsung penyanyi idolanya dari dekat.

Booming lagu-lagu melankolis bertema patah hati, kekerasan dalam rumah tangga, kesedihan mendalam--umumnya karya Obbie Messakh--membuat Menteri Penerangan Harmoko resah. Dia melarang TVRI menyiarkan lagu-lagu macam itu. Intervensi politik Harmoko ternyata sangat efektif untuk mengakhiri tren musik melankolis ala Obbie Messakh, Pance Pondaag, Rinto Harahap, Judhi Kristianto, dan sejenisnya. 

JK Records pun perlahan-lahan menghadapi masa surut. Bagaimana tidak? Lagu-lagunya dianggap 'cengeng', tidak membuat orang Indonesia punya semangat membangun.

Tentu saja, Helen Sparingga ikut terkena getah kebijakan bredel 'lagu cengeng' ala Harmoko. Sejak itulah karier musik Helen semakin surut. Dia sih tetap menyanyi, apalagi punya suami Mus Mulyadi yang penyanyi terkenal, tapi cerita sukses albumnya macam Birunya Cintaku atau Antara Hitam dan Putih sudah tinggal sejarah.

"Sekarang saya sih tetap nyanyi, tapi nggak kayak dulu. Saya menikmati hidup dan berkat yang Tuhan berikan kepada saya dan keluarga. Saya harus selalu bersyukur," ujar Helen Sparingga dalam sebuah kebaktian di Surabaya.

Berkat yang terbesar, menurut dia, adalah rumah tangga yang bahagia, jauh dari gosip. Ketika begitu banyak selebriti, termasuk artis lama angkatan Helen Sparingga, diberitakan kawin cerai, pasangan Helen Sparingga dan Mus Mulyadi justru tenang-tenang saja. Dia mengaku sangat bahagia punya seorang cucu, Aldo James, buah pernikahan anak pertamanya, Irene Patricia, dengan pria Australia.

Irene kebetulan pernah ikut Daniel Sparingga, adik kandung Helen Sparingga, dosen Universitas Airlangga yang kuliah di Australia. Nah, di negara kanguru itulah Irene berkenalan dengan bule setempat yang kemudian menjadi suaminya. "Keluarga yang harmonis itu merupakan berkat terindah dari Tuhan," kata Helen Sparingga.

Saya pernah menanyakan resep rumah tangga harmonis kepada pasangan suami-istri Mus Mulyadi dan Helen Sparingga ketika mereka mengisi sebuah acara di Surabaya. Mus Mulyadi langsung tersenyum ramah. 

 "Resepnya itu ya sederhana saja. Kita sebagai orang percaya, ya, menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Kalau ada masalah, kita bawa dalam doa kepada Tuhan. Dan, yang penting, kita saling percaya," ujar Mus Mulyadi.

Karena itu, jika anda mendengar lagu-lagu Helen Sparingga yang hampir semuanya melankolis, sedih, gagal cinta, percayalah, itu hanya lagu. Sama sekali tidak mencerminkan kehidupan rumah tangga Helen Sparingga dan Mus Mulyadi. Jadi, berbahagialah Mus Mulyadi yang punya istri cantik, setia, dan beriman kepada Tuhan dalam suka dan duka!



20 HITS HELEN SPARINGGA

1. Antara Hitam dan Putih [Obbie Messakh]
2. Birunya Cintaku [Obbie Messakh]
3. Antara Cinta dan Kenyataan [Obbie Messakh]
4. Masih Ada Kita-kita [Obbie Messakh]
5. Semerah Duka di Hati [Judhi Kristianto/Maxie
Mamiri]
6. Beri Mereka Kesempatan [Ted Sutedjo]
7. Ku Dustai Dukaku [Judhi Kistianto]
8. Seandainya Kau Punya Perasaan [Judhi Kristianto]
9. Selamat Malam [Judhi Kristianto/Ade Putra]
10. Lagu Cinta [Deddy Dores]

11. Rindu dan Air Mata [Pance Pondaag]
12. Birunya Kasihku [Benny Ashar]
13. Di Saat Aku Ingat Dirimu [Judhi Kristianto]
14. Bukan Kau yang Pertama [Pance Pondaag]
15. Segalanya Untukmu [Pance Pondaag]
16. Kecewa [Judhi Kristianto/Maxie Mamiri]
17. Antara Dusta, Duka, dan Cinta [Nosita]
18. Kau Biarkan Aku Rindu [Mully Mulia]
19. Seuntai Puisi Untukmu [Maxie Mamiri]
20. Tak Percaya Tapi Nyata [Pance Pondaag]

10 comments:

  1. hmmmm... helen sparingga. aq ingat betul tuh. tq banget

    ReplyDelete
  2. mbak helen. wah awet muda!

    ReplyDelete
  3. ada lagu koleksinya gak bro :D pengen tuh denger :D tembang kenangan. Lagu sekrang ngebosenin :D

    ReplyDelete
  4. ada kaset/cd di toko-toko musik. saya yakin di medan ada lah. biasanya ada embel2 'the best' atau 'greatest hits'.
    bisa juga memburu kaset2 bekas di kota anda. kalau jeli, kita bisa dapatkan koleksi lagu2 bagus, legendaris. cuma harus teliti karena kualitas rekamannya sudah buruk. maklum, sudah tua.
    salam musik.

    ReplyDelete
  5. salam utk helen sparingga. mamaku suka banget lagu2nya.

    ReplyDelete
  6. deswandi@gmail.com10:35 PM, March 23, 2009

    Bagus Om, blognya...!

    ReplyDelete
  7. Hi There ,
    Helen Sparingga is a Dutch name ! Does anybody outhere knows if her parents or Grand Parents are Dutch ?

    Thanks

    ReplyDelete
  8. Her Granfather was Dutch.

    ReplyDelete
  9. Rasa2nya sih, Daniel Sparingga, adiknya bu Helen itu teman saya, sesama aktivis GMNI jaman duluuuu

    ReplyDelete
  10. hebat....luar biasa helen. lagu2y kalem nyentuh meski usiaku br 25th..nyokap suka jd ikutann dech............

    ReplyDelete