05 November 2007

Dr. Surono dan Gunung Kelud


Oleh PUSPITORINI DIAN
Wartawan Radar Kediri

“Setiap saya tanda tangan jadi (status) siaga, tidak ada gunung yang tidak meletus,” tandas Dr. Ir. Surono. Ketua Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ini memang terkenal lugas dan spontan.

Bukannya menakut-nakuti, Surono mengaku telah berhitung. Dasarnya tentu saja data-data yang dihimpun tim pemantau. Meski dia tidak tahu kapan pastinya gunung akan meletus. “Kita hanya ikuti gerakan gunung. Hanya Tuhan yang tahu,” ucapnya dalam
berbagai kesempatan.

Beberapa bulan terakhir ini, instansi yang dipimpinnya itu terus menjadi sorotan. Banyak gunung api yang meningkat aktivitasnya. Tiga di antaranya sudah berstatus siaga. Salah satunya Gunung Kelud. Khusus gunung yang berada di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, lelaki asli Cilacap ini turun langsung melakukan pemantauan.

“Kalau gunung-gunung lain, cukup staf saya. Bahkan di Karangetang (Sulawesi Utara) dipimpin oleh kasub saya,” beber pria 56 tahun ini.

Bukan tanpa alasan, jika ayah dua putri ini rela menginap selama seminggu di pos pemantau aktivitas Gunung Kelud. Posisi Gunung Kelud yang berada di Jawa
menjadi alasan utama. “Rentan muncul korban, jadi perhatian dunia. Juga banyak sorotan. Seperti anda-anda,” terangnya.

Alasan inilah yang membuat Surono datang lagi ke Kediri, saat Kelud akhirnya naik status menjadi awas. Apalagi, karakteristik kelud yang khas juga menjadi alasan Surono harus meninggalkan keluarganya di Bandung.

Kelud sendiri sebenarnya tidak asing bagi lulusan doktor Grenoble University, Prancis ini. Saat meraih gelarnya itu, Surono memilih Kelud sebagai bahan penelitiannya. “Kelud itu unsur gempanya sangat irit. Makanya perlu ada alat pendeteksi lainnya,” bebernya.

Dia lalu menggunakan alat akustik yang bisa merekam suara frekuensi tinggi. Dasarnya sangat sederhana, Sarjana Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik dengan bayi yang mampu mendengar suara sekecil apa pun. Padahal, suara itu tidak terdengar oleh orang dewasa. Alat akustik inilah yang diharapkan Surono mampu menangkap gerakan tubuh Gunung Kelud.

Makanya, ketika dia diberitahu kalau gunung setinggi 1.713 meter ini meningkat aktivitasnya, dia teringat alatnya yang terpasang di kawah. Sayang, alatnya itu
rusak. “Sempat ganti program, ternyata justru tambah rusak,” sesal Surono.

Supaya tidak kecolongan, Surono akhirnya memutuskan turun langsung ke Kelud. Tiap harinya, dia terus berkoodinasi dengan seluruh ahli gunung api yang bertugas di pemantau. Seperti gunung-gunung berapi lainnya, diterangkan suami dari Surahmani ini, dia selalu meminta pendapat dari masing-masing penanggung jawab gunung api dalam menentukan naik turunnya status.

Meski begitu, semua keputusan ada di pundaknya. “Hasil analisa mereka saya bawa ke kantor dan saya yang tentukan,” ujarnya.

Bukan seperti pejabat pengambil keputusan lainnya, Surono tidak akan mengambil suara terbanyak. Paling berpengaruh, lanjut lelaki yang sebagian besar rambutnya beruban ini adalah jam terbang dari para tenaga ahlinya. Apapun putusannya, Surono yakin selalu menyebabkan kontroversi. Ada yang setuju, tetapi banyak yang menghujat. Apalagi, instansinya, mengadakan kerja sama dengan Belgia dan Perancis dalam
melakukan pemantauan gunung api.

“Apa yang sudah saya putuskan, saya siap bertanggung jawab. Bahkan kalau perlu di audit,” tegasnya.

Karena tanggung jawab besar inilah, Surono tidak mau, hasil putusannya diintervensi orang lain, termasuk negara-negara maju seperti Prancis atau Belgia.

Pantas jika Surono harus bertindak tegas. Hasil putusannya itu akan berpengaruh dengan tindakan pemerintah daerah. Naik status menjadi siaga, pemerintah kabupaten harus bekerja keras menyiapkan tempa pengungsian dan sarana darurat lainnya.

Belum lagi jika naik menjadi awas, maka pemkab harus menanggung puluhan ribu pengungsi. “Makanya saya hati-hati kalau menaikkan jadi awas. Paling tidak ada
tenggang waktu sehari hingga meletus,” bebernya. Termasuk jika akhirnya diputuskan turun lagi menjadi siaga. Surono dan staf ahlinya kembali berhitung agar
tidak kecele, pemda juga tidak terlalu lama mengeluarkan banyak biaya.

Lalu, bagaimana dengan keluarga? Melihat kesibukan Surono menghadapi banyak gunung api yang terus bergolak? Surono hanya tersenyum. “Istri saya sudah biasa, modalnya trust," ucapnya.

Mental istri yang sudah dinikahinya saat masih kuliah ini memang sudah teruji. Apalagi, pernah ditinggalkannya dua tahun ketika mengambil S-2 dan S-3 di Prancis. “Dia sering curiga, takut kalau saya punya pacar. Tahun ketiga saya boyong saja ke Perancis,” kenangnya lalu tertawa.

Untuk menghilangkan kangen, Surono memanfaatkan sarana teknologi yang sudah ada. Seperti fasilitas 3G yang membuatnya bisa melihat langsung istrinya.

Begitu juga dengan dua putrinya. Karena sudah dewasa, Surono mengaku putrinya itu sudah asyik dengan dunianya sendiri. Bahkan, pernah karena kangen dan menelepon anaknya justru dianggap mengganggu. “Sudah Pak, mau kuliah nih,” ucap Surono menirukan ucapan anaknya itu.

Justru, yang membuatnya repot adalah menghadapi wartawan. Berpuluh-puluh wartawan, diakui Surono, telah dihadapinya. Hanya saja, dia mengaku kesal jika ada wartawan yang menangkap sepenggal-penggal penjelasannya hanya untuk menaikkan oplah. “Apalagi kalau salah interpretasi,” keluh Surono.

Meski begitu, Surono akan menerima kedatangan dan pertanyaan apa pun. Sebab, data yang dimilikinya terbuka. Apalagi prinsipnya, berhubungan dengan bencana, tidak ada yang bisa ditutup-tutupi. “Itulah untungnya kerja di sini, bebas korupsi,” candanya.

No comments:

Post a Comment