23 November 2007

Didit Hape, Rona-Rona TVRI Surabaya



Kini, stasiun televisi sangat banyak. Kalau anda langganan televisi kabel, wah, ratusan channel bisa dilihat setiap saat. 24 jam nonstop. Mau menikmati hiburan macam apa saja, olahraga, film, berita... tersedia. Kalau tidak bisa mengontrol diri, anda akan menjadi teradiksi televisi.

Sungguh kontras dengan era sebelum 1990. Televisi hanya satu, TVRI [Televisi Republik Indonesia], yang diresmikan Presiden Soekarno pada 1964. Jumlah televisi di Pulau Lembata, Flores Timur, waktu itu tak sampai lima biji, semua milik baba-baba Tionghoa. Itu pun hitam-putih, banyak bintiknya, karena stasiun relai terlampau jauh. Maka, kita di seluruh Indonesia menikmati tayangan yang satu dan seragam.

Acaranya: Aneka Ria Safari, Selekta Pop, Kamera Ria, Ria Jenaka, Dari Gelanggang ke Gelanggang, Temu Remaja, Rumah Masa Depan, Losmen, Dunia Dalam Berita, Wajah Baru. Lalu, ada Si Unyil Kucing, ACI [Aku Cinta Indonesia], Ragam Pesona, Candrakirana, Film Cerita Akhir Pekan.

Tayangan berita sangat khas TVRI: formal, banyak pidato pejabat, peresmian, keterangan Menteri Penerangan Harmoko. Presiden Soeharto kerap menggelar temu wicara, kelompencapir, sidang kabinet, dan itu harus disiarkan oleh TVRI secara utuh. Maka, selayaknya para awak televisi berhagia lantaran sekarang keragaman informasi dan televisi sudah terjadi. Mau bikin berita, liputan, dengan gaya apa saja oke. Berita bisa dinimati 24 jam tanpa harus khawatir dibredel atau disensor pemerintah.

Nah, dalam kondisi begini, Didit Hari Purnomo [lebih terkenal dengan Didit Hape], penyiar TVRI Surabaya, berusaha membuat liputan informasi yang berbeda. Didit ingin agar televisi kita setidaknya memuat human ineters features macam televisi di luar negeri. Berita-berita menarik tentang orang biasa, hal-hal unik, yang tidak formal. Beda versi dengan berita keras ala TVRI pada 1980-an.

"Saya ini kan orang yang gak suka formal-formalan. Saya punya hobi bertualang ke mana-mana. Saya banyak menemukan hal-hal menarik, dan itu mau saya tayangkan di televisi," cerita Didit Hape kepada saya di Sanggar Alang-Alang, Joyoboyo, Surabaya, belum lama ini.

Laki-laki kelahiran Lumajang, 14 September 1952 ini kemudian menyampaikan usulannya kepada petinggi pemberitaan TVRI Surabaya pada 1980-an. Respons mereka kurang baik. Wartawan-wartawan TVRI lain pun mengangap tayangan human interest ala Didit tidak lumrah. Sebab, saat itu, orang-orang TVRI melihat berita itu, ya, hardnews ala TVRI atau RRI yang bersifat formal, berita seputar pembangunan, peresmian gedung, pernyataan pejabat-pejabat. Orang biasa praktis tidak dapat tempat.

Tapi bukan Didit Hape kalau tidak nekat. Meski tidak didukung, dia tetap bertualang ke semua tempat di Jawa Timur [kadang-kadang luar Jawa Timur] untuk bikin liputan khas, features. Setelah lobi kanan-kiri, akhirnya liputan Didit ditayangkan di TVRI Surabaya. Nama programnya RONA-RONA. "Saya tayangkan hal-hal aneh dan menarik," tutur suami Budha Ersa ini.

Nah, sejak itulah penonton televisi di Jawa Timur bisa menikmati sajian khas Didit Hape. Binatang aneh, koleksi-koleksi antik, upacara tradisional, budaya lokal, hingga orang-orang saksi. Singkatnya, hal-hal yang tidak umum, luar biasa. Program RONA-RONA ternyata disukai penonton. Bahkan, televisi Jepang NHK pada 1992 mengundang Didit ke Osaka karena tertarik dengan Rona-Rona.

"Jadi, apresiasi pertama justru datang dari orang Jepang. Kalau nggak ada Rona-Rona nggak mungkin saya bisa jalan-jalan ke Jepang. Mana mungkin TVRI mau membiayai? Hehehe...," tutur pembina anak-anak jalanan di Surabaya ini.

Setelah diundang ke Jepang, para petinggi TVRI akhirnya mendukung penuh program Rona-Rona. Didit diberi kebebasan dan fasilitas untuk membuat liputan sebanyak-banyaknya, semenarik mungkin, untuk ditayangkan di Rona-Rona. Awalnya, tayang setiap bulan. Tapi, karena diminati pemirsa, Rona-Rona tayang setiap minggu. "Saya sampai kewalahan membuat liputan, tapi sangat asyik. Sebab, hobi saya ternyata mendapat wadah di TVRI, satu-satunya televisi saat itu."

Selama 10 tahun lebih Rona-Rona menemani pemirsa setia di Jawa Timur. Saya beberapa kali meliput acara unik, kebetulan, bersama-sama Didit Hape. Ditemani seorang kamerawan, Didit terlihat sangat menikmati pekerjaannya. jam terbang yang tinggi membuat dia fasih memilih sudut [angle] menarik. Usai penyuntingan, program itu ditayangkan di TVRI Surabaya [kini TVRI Jawa Timur]. Wajah Didit pun menjadi sangat akrab di Jawa Timur.

"Saya dapat ratusan, bahkan ribuan surat, dari masyarakat terkait Rona-Rona. Ada kritik, informasi, saran, minta diliput dan sebagainya. Saya sampai kewalahan," kenang ayah dua anak ini.

Karena sering meliput 'orang sakti', pawang ular dan semacamnya, Didit sering dianggap sebagai 'orang pinter' atau dukun yang punya kelebihan. Suatu ketika ada orang Surabaya yang rumahnya didatangi tiga ular besar. "Mereka bilang, gampang, panggil saja Pak Didit Rona-Rona pasti beres. Hehehe.... Padahal, saya nggak bisa ngatasi ular. Begitulah, saya sering disangka dukun sakti," cerita Didit Hape.

Kejadian lain, seorang perempuan hamil di Tulungagung ngidam minta dimandikan oleh Didit Hape. Hehehe... Bersama suaminya, perempuan itu pun datang menemui Didit Hape. Wartawan senior yang sudah haji ini tentu saja 'tak tega' memandikan ibu hamil tersebut. Tapi dengan bertemu Didit saja, perempuan itu akhirnya lega. "Macam-macam lah kejadian menarik yang saya alami," tuturnya.

Januari 1996, Didit Hape mulai tertarik pada anak-anak jalanan. Ketika usianya makin senja, Didit ingin fokus pada proyek sosial kemanusiaan, sekaligus mencari pahala. Popularitas sebagai produser sekaligus presenter Rona-Rona dirasa tak penting. Toh, sebagai pegawai negeri, dia akan pensiun, berhenti dari TVRI.

Rona-Rona pun meredup. Tayangan masih ada, tapi tidak serutin dulu. Sebenarnya Didit ingin ada wartawan baru yang melanjutkan program rintisannya di TVRI Surabaya. Tapi ternyata tidak mudah. Sadarlah Didit bahwa bakat seseorang itu tidak bisa diwariskan begitu saja. Rona-Rona memang khas Didit Hape, sulit menemukan orang lain dengan bakat, selera, petualangan, macam itu.

Maka, program features yang pernah menjadi favorit penonton televisi di Jawa Timur itu berakhir. Didit Hape memasuki masa persiapan pensiun, makin intens dengan urusan anak jalanan di Sanggar Alang-Alang. Apa pun kritik orang, diakui atau tidak, Rona-Rona merupakan pelopor tayangan human interest di televisi Indonesia. Pak Didit telah meninggalkan jejak berharga di jurnalisme televisi kita.

Terima kasih!


BACA JUGA

Didit Hape dan Sanggar Alang-Alang

5 comments:

  1. pak didit emang hebat. sukses terus ya!!!

    ReplyDelete
  2. mas kenal dgn Biyan, mas Zen ama ibu lina suharyo gak? yg bekerja di tvri stasiun surabaya?

    mohon infonya

    Makasi

    ReplyDelete
  3. gak begitu kenal tapi pernah dengar. kamu bisa kontak TVRI Jatim di jl mayjen sungkono 124 surabaya. kalau mas didit saya kenal banget. salam.

    ReplyDelete
  4. rona2 bagus memang. gak kayak acara tvri laen.

    ReplyDelete
  5. pak minta lagu pembuka acara rona rona dong ...

    ReplyDelete