12 November 2007

Bambang Sujanto tokoh PITI Jatim



Bertahun-tahun menjadi motor penggerak Yayasan Haji Muhammad (HM) Cheng Hoo, Surabaya, tiba-tiba Haji Muhammad Yusuf Bambang Sujanto memutuskan untuk segera mundur. Keputusan itu disampaikannya tepat ketika dia berusia 60 tahun sekaligus ulang tahun ke lima Masjid Muhammad Cheng Hoo, 13 Oktober 2007.

Oleh NOFILAWATI ANISA

"Saya ini sudah tua. Sudah waktunya mundur. Biar yang muda-muda yang di depan. Saya di belakang layar saja," bisik Bambang, sapaan karib Bambang Sujanto kepada RADAR Surabaya sepekan menjelang perayaan ulang tahunnya sekaligus ulang tahun Masjid Muhammad Cheng Ho. Wawancara siang itu terpaksa terhenti, karena Bambang harus memimpin rapat untuk acara halal bi halal sekaligus perayaan ultah Masjid Cheng Hoo yang digelar Minggu, 28 Oktober 2007.

Ulang tahun ke lima masjid berarsitektur China itu, sengaja dibuat lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Lebih istimewa. Karena perayaan tahun ini juga bertepatan dengan Lebaran, sehingga acara halal bi halal pun dijadikan satu. Ribuan umat Islam malam itu tumplek blek di Kompleks Masjid Cheng Hoo, Jl Gading.

Minimal ada empat acara yang malam itu dijadikan satu. Pertama, ulang tahun kelima Masjid Cheng Hoo, halal bi halal Idul Fitri 1428 Hijriah, ultah HMY Bambang Sujanto ke-60 serta peluncuran buku Jus'ama Tuntunan Bagi Saudara Baru.

Selain anggota Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Jatim, puluhan tokoh malam itu juga hadir. Di antaranya Konjen AS di Surabaya Caryn R. McClelland, Konjen RRT Fu Shuigen, mantan gubernur H Mohammad Noer dan Basofi Sudirman, Ketua PW NU Jatim Ali Maschan Moesa, dan Chairman Grup Jawa Pos Dahlan Iskan.

Begitu para undangan berdatangan, mereka langsung disuguhi aneka hidangan. Sambil santap malam hadirin dihibur musik hadrah dan tradisional China yang menembangkan lagu-lagu Islami. Para pemusik tradisi itu juga membawakan lagu Xiao Ma lui dan Mama hao. Sedangkan vokal group Yayasan Cheng Hoo menampilkan lagu-lagu nasional, seperti lagu kebangsaan Indonesia Raya, Bangun Pemudi-Pemudi, dan lagu Jawa Gethuk.

Setelah dihibur berbagai macam kesenian, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Quran. Yang menarik, ayat-ayat suci itu diterjemahkan dalam dua bahasa, Mandarin dan Inggris. Pembacaan dilakukan oleh Xiang Fei, Wang Lei, dan Isa Zhang, juga dari yayasan yang sama.

Ada pula penyerahan tanda penghargaan kepada lima orang yang selama ini banyak mendukung keberadaan Masjid Cheng Hoo, sejak pendirian hingga sekarang. Mereka adalah Donny Assalim SH, Ir Tony Hartono Bagio MT MM, Azis Djohan ST, Ir Rachmat Kurnia, dan HS Willy Pangestu.

Di malam perayaan itu rupanya Bambang Sujanto menjadi tokoh sentral. Dia terlihat larut dengan suasana meriah halal bi halal yang sudah digagasnya beberapa pekan sebelumnya. "Wawancaranya nanti saja ya. Atau nggak, Jumat depan. Biar lebih leluasa. Kalau sekarang ribet, saya masih banyak tamu," katanya meminta pengertian RADAR Surabaya.

Rupaya pernyataan Bambang untuk mundur dari Yayasan HM Cheng Hoo itu tak main-main. Saat wawancara dilanjutkan pekan berikutnya, dia mengaku tak sampai akhir tahun 2007 ini dia akan memberikan tongkat estafet kepemimpinan yayasan kepada mereka yang lebih muda. Bambang tak menyebut siapa calon penggantinya itu.

"Di sini itu banyak orang muda yang pintar-pintar. Saya ini apa sih, sudah tua. Sudah waktunya saya konsentrasi untuk mencari bekal ke surga. Ada 85 orang yang layak menggantikan saya," seloroh ayah empat anak (yang sulung meninggal pada tahun 1992 karena kecelakaan di Boston, Amerika Serikat).

Meski nantinya mundur dari Ketua Yayasan HM Cheng Hoo, kata Bambang, dia tetap akan mengawal yayasan itu. Dia tidak begitu saja tega, melepas yayasan yang menjadi kebanggaan banyak masyarakat itu.

"Ibaratnya, di yayasan ini kalau dulu saya yang ngarang surat, nanti fungsi saya akan berubah tukang ngoreksi saja. Saya tetap akan mengawasi mereka di yayasan. Ngarang surat itu lebih sulit daripada ngoreksi," tandasnya.

Yayasan HM Cheng Hoo didirikan berdasarkan akta pendirian No 1 tanggal 5 April 1995 yang dibuat notaris Johan Sidharta SH. Jumlah pendiri sebanyak 13 orang. Selain Bambang, ada nama Abdul rahman Djoko Wijaya, Abdul Chalim, M Trisno Adi Tantiono, fauzan Adjie Chendra, Burnadi, A Syaukanie Ong, Anshary Thayib, Ma'mun Hasan, Guntur Salahuddin, Nursalim Sholeh, Ali Suseno Andy, dan M Luthfillah Masduqie.

Atas gagasan Bambang dan teman-teman PITI, Yayasan HM Cheng Hoo membangun berarsitektur China yang diberi nama sama, Masjid Muhammad Cheng Hoo. Pembangunan masjid ini diawali pada 15 Oktober 2001 dengan upacara peletakan batu pertama yang dihadiri sejumlah tokoh Tionghoa Surabaya, seperti Liem Ou Yen (Ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoan Surabaya), Bintoro Tanjung (Preskom PT Gudang Garam Tbk), Henry J Gunawan (Direktur POT Surya Inti Permata Tbk), dan Bingky Irawan (Ketua Makatin Jawa Timur), serta puluhan pengusaha dan tokoh lainnya.
Rancangan awal Masjid Cheng Hoo diilhami dari bentuk masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi.

Kemudian pengembangan desain arsitekturnya dilakukan Ir Aziz Johan (anggota PITI dari Bojonegoro) dan didukung tim teknis HS Willy Pangestu, Donny Asalim, Tony Bagyo, serta Rachmat Kurnia dari jajaran pengurus PITI jatim dan Yayasan HM Cheng Hoo Indonesia.

Untuk tahap pertama pembangunan masjid itu, dibutuhkan dana sekitar Rp 500 juta. Uang itu diperoleh dari jerih payah dengan menerbitkan buku Saudara Baru/Ju'ama dalam tiga bahasa, Indonesia, Arab dam Inggris. Sisanya adalah hasil gotong royong serta sumbangan masyarakat.

Total untuk keseluruhan pembangunan masjid tersebut dibutuhkan dana Rp 3,3 miliar. Luas tanah Masjid Cheng Hoo 3.070 meter persegi, dengan status kepemilikan tanah SHM No. 502 atas nama HM Trisnoadi Tantiono dan HMY bambang Sujanto. Belakang keduanya menerbitkan surat pernyataan bahwa kepemilikan tanah tersebut adalah kepunyaan Yayasan HM Cheng Hoo.

Seiring dengan selesainya pembangunan masjid, maka pada 13 Oktober 2002 dilakukanlah peresmian. Dengan selesainya tahap pertama itu, masjid ini pun sudah bisa digunakaan untuk beribadah. 13 Oktober akhirnya dijadikan sebagai hari jadi masjid yang sangat dikenal masyarakat itu.

Tak sulit menemui Bambang Sujanto, Ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo. President Director tujuh perusahaan besar di bawah bendera KITA Group itu selalu punya waktu di hari Jumat. Tepatnya mulai pukul 11.00 di Masjid Cheng Hoo, Jl Gading. Kalau sedang berada di Surabaya, dia selalu Jumatan di masjid yang dibangun tahun 2002 itu.

"Biasanya kalau di sela-sela Jumatan selalu ada saja tamu yang ingin ketemu saya di sini. Dari berbagai kalangan, ya teman bisnis, teman urusan sosial-kemanusian, termasuk wartawan, ngobrolnya yang di ruang (Kantor Yayasan haji Muhammad Cheng Hoo). Di sini ini tempatnya enak. Netral," bebernya di pertemuan ketiga.

Kali ini Bambang Sujanto benar-benar punya waktu untuk meladeni pertanyaan saya. Sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, Bambang mulai bercerita mengenai pertemuannya dengan Islam.
Jauh sebelum tahun 1980, Bambang adalah pria nakal. "Wah, aku iki sak nakal-nakale arek (Wah, saya ini senakal-nakalnya anak). Kalau ingat masa lalu, malu," ujarnya sambil tertawa renyah.

Saking nakalnya, Bambang pernah mau dibunuh orang. Ternyata yang membantunya terhindar dari pembunuhan itu adalah orang Islam. Singkat cerita, Bambang masuk Islam karena panggilan sekaligus petunjuk Tuhan. Keluarganya tak pernah mempersulit Bambang masuk Islam. "Bapak saya demokrat. Ibu saya juga demikian. Pokoknya, asalkan saya bisa mempertanggung jawabkan ajaran yang dianut, silakan," ujarnya.

Bambang masuk Islam tahun 1980, tepatnya ketika usianya masuk 33 tahun. Dia diislamkan oleh almarhum KH Muttaqin di Masjid Al Falah.

Cercaan dan halangan justru didapat Bambang setelah bergelar mualaf. Banyak teman bisnisnya yang menuduh Bambang masuk Islam karena ingin mendapat kemudahan (fasilitas). "Bagi saya cemoohan itu sudah konsekuensi. Warna-warni kehidupan supaya saya tahap banti," akunya.

Tuduhan semakin banyak, karena Bambang adalah orang China. Menurut mereka, tak pantas bagi Bambang untuk masuk Islam. "Mereka itu salah 200 persen. Memang kenapa kalau Tionghoa masuk Islam. Emang nggak boleh," katanya dengan nada tinggi.

Pendek kata, setelah masuk Islam Bambang berusaha untuk selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hal yang paling membuatnya bahagia adalah setelah bebarapa tahun atas ikrar Islamnya, dia juga bisa mengislamkan istrinya, Tin Indrawati.
Tin Indrawati masuk Islam tahun 1986.

Tapi menjadi mualaf tetap saja tidak mudah, seperti halnya membalik telapak tangan. Banyak ujian dan halangan. Ujian terberat yang pernah dialami Bambang setelah masuk Islam adalah kehilangan anak. Anak pertamanya, Rahmat Widodo meninggal dunia karena kecelakaan di Boston, 14 Februari 1992. Kejadiannya tepat setelah sembilan hari Rahmat masuk Islam.

"Waktu itu dia sedang ngambil ijasah. Tanggal lima dia masuk Islam, tanggal 14 rahmat meninggal. Tapi saya sudah ikhlas. Ratmat itu hanya dititipkan pada saya. Dia milik Allah. Kalau memang diambil lebih cepat, saya tidak bisa mengelak. Alhamdulillah dia sudah Islam," katanya sambil terawangnya.

Meninggalnya putra sulung Bambang membuat dia semakin banyak tekanan. Ada yang beranggapan bahwa meninggalnya Rahmat karena kenekatan Bambang masuk Islam. "Cobaan sangat banyak. Tapi saya tetap yakin bahwa saya sedang diuji. Nggak pernah sedikit pun terbersit kata menyesal," tukas yang memiliki nama China Lioe Ming Yen ini.

Kini, Bambang sudah 27 tahun memeluk Islam. Karena kebutuhan duniawi sudah dianggapnya terpenuhi, hanya surga yang kini dikejarnya. Untuk merintis jalan ke surga itu pula, Bambang ingin semakin khusyuk beribadah. Caranya, salah satunya dengan mundur dari yayasan yang sudah bertahun-tahun digelutinya.

"Tiket ke surga itu sulit. Sementara saya sudah tua. Lha kalau nggak dari sekarang, kapan lagi," ujar mantan ketua PITI Jatim yang kini jadi penasehat PITI Pusat maupun Jatim itu.

Nama : HMY Bambang Sujanto
Panggilan : Bambang Sujanto
Tempat Lahir : Surabaya
Tanggal Lahir : 13 Oktober 1947
Status : Menikah
Istri : Tin Indrawati.
Anak : 4 Orang (yang sulung meninggal tahun 1992 di Boston, Amerika Serikat)
Agama : Islam

Pendidikan :
1. SD Chung Kwoo Nie Siok tahun 1959
2. SMP Chiau Chung tahun 1962
3. SMU Chiau Chung tahun 1964

No comments:

Post a Comment