15 October 2007

Virus HP di gereja


Gereja Katolik HKY Kayutangan, Malang, yang antik dan gagah. Tapi dewan paroki perlu menertibkan umatnya agar tidak ber-HP saat perayaan ekaristi.

Minggu, 14 Oktober 2007.

Saya ikut misa di Gereja Hati Kudus Yesus, Kayutangan, Malang. Gereja ini tua [diresmikan 1906], antik, sangat bagus, jadi cagar budaya dan ikon kota Malang. Dia menjadi simbol keberadaan umat Katolik di Kota Malang.

Letak Gereja Kayutangan sangat strategis, persis di tengah kota, hanya 50-an meter dari alun-alun. Kini, di samping Gereja Kayutangan ada gerai McDonald's, tempat orang makan-makan dan bersantai. Saya pikir lama-kelamaan gereja tua nan awet itu bakal digusur oleh kekuatan kapitalisme dan hedonisme.

Misa jam delapan pagi itu meriah. Meski bersamaan dengan libur Lebaran, gereja penuh. Bahkan, temat duduk tambahan di samping gereja pun penuh. Saya dan belasan jemaat terpaksa duduk paling belakang meski harus berhadapan dengan sinar matahari. Antusiasme umat mengikuti perayaan ekaristi di Malang patut dipuji.

Mazmur dinyanyikan seorang perempuan bersuara sopran. Cukup bagus meski kurang semangat. "Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita," begitu refrein mazmur yang harus diulang oleh umat. Melodinya diciptakan Philipp Nicolai, kemudian dimodifikasi oleh Romo Karl Edmund Prier, S.J.

Saat umat asyik bermazmur, eh tiba-tiba saya melihat seorang nona manis, Tionghoa, asyik bicara di ponsel alias HP [handphone]. Suaranya agak keras. Mungkin, karena penting sekali, si nona merasa perlu berjalan keluar agar bicara lebih bebas. Berjalan sambil bicara. Tidak ada rasa risi sama sekali dengan ratusan umat yang memperhatikannya.

Saya juga perhatikan anak muda, juga gadis, yang duduk di samping gereja. Dia asyik ber-SMS, senyam-senyum. Kemudian, laki-laki berusia 40-an tahun, agak gemuk, duduk sama istri, memamerkan ponselnya saat pastor berkhotbah. Khotbah cukup menarik, tentang 10 orang kusta yang disembuhkan Yesus, tapi hanya satu yang mengucapkan terima kasih. Sang pastor memanggil 10 umat untuk peragaan di depan altar. Sangat menarik.

"Kok begini ya misa di Kayutangan? Kok tidak ada instruksi mematikan HP dan semua perangkat komunikasi saat masuk gereja ya? Umat asyik bicara di HP kok dibiarkan? Petugas tata tertib kok diam saja? Apa tidak bisa mematikan HP selama misa yang hanya satu jam lebih?"

Dan banyak lagi pertanyaan yang muncul spontan di dalam hati saya. Saya teringat pada kata-kata Yesus Kristus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?" [Matius 26:40].

Tapi saya berusaha memahami kegandrungan manusia modern pada ponsel, alat komunikasi yang efektif dan makin mempengaruhi gaya hidup kita. Di Kota Surabaya, sejak tiga empat tahun lalu hampir semua gereja Katolik menulis larangan berponsel di dalam gereja selama perayaan ekaristi. Larangan ini cukup dipatuhi meski awal-awalnya, ya, kayak di Kayutangan ini.

Begitulah. Di zaman modern nan canggih ini manusia modern makin sulit fokus pada Tuhan. Gereja masih penuh, kebaktian raya di mana-mana, tapi pikiran orang lari ke mana-mana. Meditasi makin sulit. Memusatkan pikiran susah.

Dulu, tahun 1990-an, para mahasiswa Katolik di Jawa Timur sering dilatih mempraktikkan Doa Yesus yang hanya mengandalkan pernafasan dan konsentrasi. Fokus di satu titik, tarik nafas, menyebut nama Ye... su... berulang-ulang. Saya akui tidak gampang meski sangat sederhana. Tapi banyak teman yang berhasil, kemudian menangis dan mengalami banyak perubahan hidup.

Lha, di zaman HP macam begini apa bisa ya umat [tak hanya Katolik] benar-benar fokus pada Tuhan? Silakan dijawab sendiri. Sebab, setiap manusia punya persoalan dan pergumulan masing-masing.

Di Jawa Timur, orang-orang kristiani yang kaya mendirikan tempat retret, bukit doa, rumah doa, griya samadhi, atau apa pun namanya di tempat wisata pegunungan macam Pacet, Prigen, Trawas, Batu. Ini saya kira mencontoh Yesus Kristus yang kerap naik ke bukit, mencari tempat sunyi, untuk berdoa. Bukit doa dan tempat-tempat retret ini selalu ramai dikunjungi jemaat kristiani.

Tapi apa yang terjadi? Lagi-lagi manusia kota sulit melepaskan beban pikirannya di kota. Badannya di bukit, tapi pikirannya masih ada di tempat kerja, keluarga, teman-teman, hingga area konkow-kongkow. Alih-alih meninggalkan HP beberapa hari selama retret, perangkat komunikasi jarak jauh itu dibawa-bawa saat refleksi, meditasi, dan sebagainya.

Saat meditasi ada saja HP berdering. Saat sharing pengalaman, banyak peserta yang mengirim atau menerima SMS. "Ada juga lho gembala umat, entah itu romo, pendeta, evangelis, yang tidak bisa meninggalkan HP. Dia memimpin misa atau kebaktian, tapi HP masih on di kantongnya. Hehehe...," kata seorang teman.

Cerita-cerita konyol tentang perilaku rohaniwan yang gila HP [suka pamer HP terbaru, fitur-fitur ajaib, bikin SMS konyol] sudah sering saya dengar di Surabaya. Saya tertawa di mulut, tapi menangis di dalam hati. Karena itu, saya salut pada romo-romo yang memilih tidak mengunakan HP apa pun agar lebih fokus pada tugas rohaninya.

"HP saya ini pemberian umat. Kalau nggak dikasih, ya, saya nggak punya HP," ujar seorang romo senior saat berkhotbah di Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Andai saja beliau tidak menggunakan HP itu, saya kira, lebih bagus. Sebab, perangkat HP sangat menggoda di zaman hedonisme macam ini. Bisa-bisa uang kolekte diambil untuk membeli pulsa. Hehehe....

Seorang romo senior di Surabaya, asal Flores, dikenal gagap teknologi. Mengetik di komputer tak bisa, HP nggak bisa, singkatnya sulit memahami teknologi informasi. Bagi saya, bukan masalah karena reksa pastoralnya justru sangat bagus. Dia disenangi umat.

Suatu ketika saya bertemu romo ini. "Sekarang saya sudah punya HP, diberi umat," ujarnya.

Wah, HP romo ini tergolong edisi terbaru. Beda dengan HP saya yang hanya bisa SMS dan menelepon. Pastor senior ini tampak asyik dengan mainan baru tersebut. Sebentar-sebentar HP-nya berdering.

"Siapa yang telepon?" tanya saya.

"Yah, umat yang kasih saya HP ini," jawabnya santai. "Saya diundang untuk doa di rumahnya. Dia punya acara ulang tahun."

Makin lama makin sadarlah saya bahwa beberapa rohaniwan sudah 'disetir' oleh umat pemberi HP. Merasa berutang budi, si pastor pun sulit menolak undangan ulang tahun dan acara-acara remeh di rumah orang kaya. Lha, di mana option for the poor?

Kriiing! Kriinggg! Lamunan liar saya di Gereja Kayutangan buyar gara-gara deringan HP seorang laki-laki [50-an tahun] di samping saya. "Hallo, saya masih di gereja. Kira-kira setengah jam lagi kita ketemu," suara laki-laki itu.

Ah, urusan bisnis rupanya!

"Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?"

7 comments:

  1. Menarik sekali membaca postingan tentang budaya HP di rumah ibadah. Di pintu masuk gereja paroki St. Yakobus Kelapa Gading ada peringatan untuk tidak menyalakan HP selama misa berlangsung. Ada gambar HP yang di beri tanda kali dan dibawahnya ada tulisan meminta untuk tidak menyalakan HP. Tetapi yang namanya manusia ya tidak kurang akal. Kalau tidak boleh bunyi, mode-nya diganti saja ke vibra. Alhasil selama misa berlangsung tidak jarang ada umat yang asik ber-sms ria. Saya suka bingung jam 6 pagi (saya selalu pergi misa pertama) kok sudah sms-an??? sama siapa dan ngobrol apa ya kira2??? Kalau ada perayaan penting seperti Paskah dan Natal lebih parah lagi. Memang betul seperti yang Mas Lambertus katakan, jangankan meluangkan waktu satu jam untuk Tuhan, mematikan HP satu jam saja tidak bisa kok? Saya juga berharap para romo tidak menjadi pengikut teknologi yang sudah kebablasan ini. Apalagi sampai berhutang budi segala.

    ReplyDelete
  2. yg penting tau sikon. di greja ya sebaiknya matiin hp dulu. aq setuju pendapat anda. gbu.

    ReplyDelete
  3. Sama mas. Di masjid juga gitu. Untungnya ada larangan berbicara ketika khotbah Jumat sedang berlangsung, jadi umat tidak diperbolehkan mengangkat telpon & membaca SMS. Tapi dering HP tetep aja mengganggu. Apalagi kalo dah mulai salatnya. Hhhhhhhh.....

    ReplyDelete
  4. yah, ini memang masalah di mana2.

    ReplyDelete
  5. maap mo tanya aja.. tempat retret yang di trawas tu nyarinya gampang ga ya? ada petunjuk jalan yang nunjukin ga?aku ada rencana mo kesana tapi lupa jalannya , terakhir waktu skolah sih... thx...
    nb : ya bgitu lah tempat yang banyak orang , termasuk tempat ibadat. kalo ga tahan , ya kasi usul aja ke romo nya biar nyuruh umat matiin hp

    ReplyDelete
  6. Terima kasih sudah baca.

    Tempat retret di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, ada beberapa. Yang paling terkenal namanya Sasana Krida, Desa Jatijejer, biasa disingkat SKJJ. Kapasitasnya sangat besar, bisa nampung 1.000 peserta. Ada tempat kemah, aula besar, vila, konsumsi, dan sebagainya.

    Tidak ada petunjuk arah karena bukan objek wisata kabupaten. Tapi saya rasa warga sekitar tahu lah. Harus banyak bertanya lah. Sebaiknya, kalau mau bikin acara di sana kirim dulu satu dua orang untuk survei, negosiasi, dan sebagainya, sehingga pada hari-H sudah siap. Salam.

    ReplyDelete
  7. ok ok thank's mr. lambertus =)

    ReplyDelete