22 October 2007

Ungu Band tumbuh 1.000 kali




Oleh Lambertus Hurek
Wartawan Radar Surabaya

UNGU baru saja tampil dalam konser Salam Lebaran di Stadion Tambaksari, Surabaya. Saya tak sempat menonton, namun teman saya, Cak Munir yang bertugas sebagai fotografer, mengatakan bahwa penonton membeludak. Satu stadion penuh. Sambutan penonton pun luar biasa.

Band beranggota Pasha [vokal], Makky [bas], Rowman [drum], Enda [gitar], Oncy [gitar] ini memang lagi ngetop di Indonesia. Saking populernya, Ungu muncul di berbagai stasiun televisi, jadi bintang iklan, diundang konser ke mana-mana. Album rekamannya, saya dengar, 'meledak' alias laku luar biasa.

Selama bulan puasa, Ungu juga selalu eksis karena dia punya single khusus rohani [Islam]. Di tayangan infotainmen, Pasha dan kawan-kawan juga kerap dipuji sebagai band anak muda religius. "Ungu ini masih muda, tapi sudah memikirkan surga. Beda dengan saya dulu, waktu muda tidak ingat Tuhan, tuan baru insaf," kata Gito Rollies, bintang rock 1970-an, yang kini intens di dakwah Islam.

Pada 2002/2003 saya kebetulan menjadi reporter musik, hiburan, dan kebudayaan di Radar Surabaya. Tentu saya meliput banyak band terkenal saat itu: Padi, Dewa, Sheila on 7, Jamrud, Elemen, Ada, Slank, dan sejenisnya. Ungu baru merintis karier di industri musik Indonesia. Suatu ketika saya dan teman-teman diundang jumpa pers Ungu Band.

"Ungu iku band opo to? Kok gak pernah dengar? Paling band ecek-ecek, pemula, gak terkenal. Kalaupun ditulis pasti tidak muat sama redaktur," kata beberapa teman wartawan. Memang benar Ungu belum punya nama saat itu. Nilai jualnya boleh dikata belum ada.

Tapi saya datang saja ke Cadik Cafe di Jalan Jemusari Surabaya [sekarang tutup], kafe pemula di Kota Surabaya. Rupanya, manajemen Ungu belum punya biaya untuk jumpa pers di hotel berbintang seperti band-band top masa itu.

"Ah, jumpa pers saja di Cadik. Pasti band itu nggak bonafid," kata teman wartawan lain.

Saya menemui personel Ungu di sana. Saya berkesempatan bincang-bincang dengan Pasha dan kawan-kawan. Pasha pendiam, tak banyak bicara, sehingga saya lebih banyak bicara santai dengan Makky. Gayanya sangat Suroboyoan: santai, ceplas-ceplos, tanpa beban.

Mau tanya apa? Bahan tentang Ungu belum banyak, lagu-lagunya di album perdana belum dikenal publik. Yah, saya tanya kontroversi soal nama band, Ungu, karena nama ini sama dengan band asal Kediri, juara festival band versi Log Zhelebour. Menurut Makky, soal nama ini sudah selesai karena band Kediri akhirnya ganti nama.

"Mudah-mudahan nama ini membawa hoki," kata Makky.

Saya lihat Pasha alias Sigit ini tersenyum mengiyakan pernyataan juru bicaranya. Mereka optimistis album perdana Ungu laku di pasaran. Sebab, salah satu lagunya dipakai sebagai sound track sinetron di televisi. Numpang promosi macam ini diharapkan bisa membuat nama Ungu terangkat.

Waktu itu musik Indonesia dikuasai Padi, Sheila, Dewa. Para personel Ungu pun gamang oleh nama besar band-band papan atas tersebut. "Kira-kira bisa nggak Ungu menyaingi Padi?" tanya teman wartawan yang datang belakangan.

Hehehe... Pasha dan kawan-kawan tertawa bareng. Bersaing dengan Padi? Wah, berat nian pada saat itu. Target Ungu, kata Pasha, tidak muluk-muluk. Menjual kaset perdana sekitar 20.000 keping saja sudah bagus. Yang penting, nama Ungu dikenal dulu di belantika musik Indonesia. Kemudian ada target baru dan seterusnya.

"Tapi kami sangat serius masuk ke industri musik," tegas Makky dalam bahasa campuran Jawa-Indonesia. Kami kemudian makan siang, masakan Jawa, sederhana saja. Tak ada kesan makan bersama personel band yang bakal menjadi sangat populer di Indonesia.

Malam hari, sesuai dengan komitmen, saya meliput konser perdana Ungu di Surabaya. Tepatnya di Cangkir Cafe Jalan Sriwijaya, belakang BCA Darmo. Mau tahu berapa yang hadir?

Jangan kaget: tidak sampai 50 orang! Ditambah pekerja kafe, manajemen Ungu, penggembira, ya, sekitar 70. Seingat saya, tak banyak wartawan meliput karena Ungu saat itu belum punya nilai berita. Belum masuk kategori nama makes news!

Bayangkan konser di depan 50-an penonton? Band atau penyanyi mana pun pasti sedih. Ini tamparan berat buat band, penyanyi, aktor. Toh, saya melihat Pasha tampil semangat layaknya berhadapan dengan ribuan orang. Pasha yang pendiam saat jumpa pers ternyata atraktif di panggung. Suaranya oke. Personel Ungu yang lain pun bermain bagus, wajar, penuh dedikasi.

Selama konser, satu jam lebih, Pasha praktis nyanyi sendiri. Sebab, lagu-lagunya memang belum dikenal publik. Waktu itu mencari kaset Ungu--yang berwarna ungu--tidak mudah di Surabaya dan Sidoarjo. Toko-toko kaset umumnya tidak mau ambil risiko dengan menampung barang yang dianggap tidak akan laku. Meskipun tanggapan perdana di Surabaya sangat buruk, teman-teman Ungu menuntaskan konser dengan baik.

Beberapa waktu kemudian, saya menawarkan kaset perdana Ungu, pemberian manajemen Ungu, kepada cewek-cewek magang Biro Jawa Pos di Sidoarjo. "Siapa mau kaset gratis? Ungu Band," kata saya.

Adik-adik ini tampak kurang berminat. Mereka justru minta kaset/CD Padi, Sheila, atau Slank. Ungu Band siapa yang mau? Mungkin, karena kasihan, Titin [asal Gedangan] akhirnya mau menerima kaset gratis itu. Saya tidak tahu apakah kaset perdana Ungu itu diputar Titin di rumahnya atau disimpan saja, atau dikasihkan ke orang lain lagi.

Setelah menyaksikan konser perdana Ungu, saya tidak lagi meliput acara-acara musik. Saya dimutasi ke Sidoarjo. Nama Ungu Band pun nyaris tidak terdengar. Album perdana saya kira kurang sukses meskipun ada satu dua lagu yang diingat masyarakat. Berkat titip promosi di sinetron.

2006 boleh dikata menjadi tahun sukses Ungu. Siapa tak kenal Ungu? Siapa tak kenal Pasha? Siapa tak hafal lagu-lagu Ungu? Siapa tak mau kaset/CD gratis Ungu? Ungu yang tadinya nothing, tak ada apa-apanya, berubah menjadi band paling top di Indonesia.

Band papan atas, bahkan melebih band-band besar sebelumnya macam Padi, Sheila, Dewa. Ungu dengan vokal khas Pasha memberikan warna baru di persada musik Indonesia. Konser Ungu tidak lagi di kafe, melainkan di stadion, dihadiri ribuan penggemar. Bahkan, saya baca di media massa, ada penggemar pingsan, konser kisruh, saking banyaknya penonton. Ungu menjadi band besar.

Saya pun terkenang perjumpaan akrab dengan para personel Ungu di kafe, kemudian konser di kafe yang hanya dilihat 50-an orang, di Surabaya dulu. Sedikit banyak saya ikut menjadi saksi bagaimana Pasha dan kawan-kawan merintis karier dari bawah, dari titik nol, melata, hingga akhirnya mencetak sukses di industri musik.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dari kasus Ungu. Salah satunya: jangan sekali-kali menganggap remeh band atau artis pemula. Saya yakin, gadis-gadis manis itu kini menyesal karena telah menolak hadiah kaset Ungu dari saya. Hehehe....

24 comments:

  1. Wah...wah..menarik...dulu 50 penonton sekarang berapa ya? he...he...

    ReplyDelete
  2. moga2 cerita ungu ini bisa jadi inspirasi utk kita semua. fokus, kerja keras, pantang menyerah...

    ReplyDelete
  3. selamat buat ungu. moga2 gak lupa jaman susah.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas komentar teman2. Salam.

    ReplyDelete
  5. ungu emang rruarrrrr biasa.

    ReplyDelete
  6. i love ungu.....
    very very love you....


    banget we laCh..

    ReplyDelete
  7. I Love k' Oncy 4ever....!!!! semoga k' oncy tambah maniezz 'n ganteng aj...

    ReplyDelete
  8. dulu 50 0rang
    sekarang takterhinga

    ehmmmmm

    knp gak bagi2 kaetX ungu sekarang?????????
    hehehe

    ReplyDelete
  9. ahakzhakz..

    woah.. qreen nie "kisah" na..
    kira2 Pasha msh inetz gag y ttg pengalaman manggung dgn 50org pnonton tuch???

    kpn2 qta tanyain yuk???^^

    ReplyDelete
  10. hmm......... gw gak salah kan pilih idola,,UNGU tuch is the best bngt dach.... love U UNGU......Terutama kak ONCI yg kereeeeeeeeeeeen bngt wkt maen gitar....

    ReplyDelete
  11. NieZs@_^

    q ngFans bGd m@ UNGU ...
    aPa lagi ma yG nMA'ny ENDA..

    moGa UNGU m@kin suksEz y@@...

    LoVe U t0 !!!!!

    ReplyDelete
  12. ungu kapan main di sidoarjo?????????
    love you pasha n oncy.........
    mmmuuuuuuaaaaaaccchhhh...............

    ReplyDelete
  13. sumpah,,tak terbayangkan perjuangan UNGU dulu sangat keras supaya bsa seperti ini...
    SALUT bwt UNGU..

    ReplyDelete
  14. aq kira ini cerita paling menarik ttg perjalanan karir UNGU. salut!!! sukses buat pasha cs..

    ReplyDelete
  15. waCHHHHHH BAnYAK BANGETzzzzzzzz............
    Buat uNGU mOGA suksez NXAAAAA,AMINNNNNNNNNNNN

    ReplyDelete
  16. hai.... ungu
    ku qeliqers kamu bgt tau...law leh ju2r aku ska bgt ma yg nama nya k'pasha.... udh mah gnteng,baik,shaleh, pokoknya k'pasha is the best bgt dech... jd g slh khan law bnyak yg ska ma ka2
    tpi law ungu kpn yach tmpil di bandung bis aku blm prnh ketmu kalian tau nontn lngsng law mau ke bandung plzzzz ya ksh tau aku ke no aku yach plzzz nie nonya 022svn-sx-on-tw-thre-svn-sx-nn-
    jngn lpa ya plzzzzzzzzzz

    ReplyDelete
  17. maju terus ungu.. we luv u.. n we always vote u..

    ReplyDelete
  18. album terakhir ungu kurang bagus. kayaknya sudah jenuh ya??????

    ReplyDelete
  19. emang band ungu makin tua makin jadi deh.,.,.
    soalnya lagunya makin bagus aje, dan lebih modern,.,

    sukses terus buat pasha,dkk.

    ReplyDelete
  20. ungu keren deh, btw di foto itu si endah ungu mirip ryan d'masiv yahh hehee :D

    Chord Ungu Laguku

    ReplyDelete