07 October 2007

Theys Watopa Pelatih Paduan Suara




Di Surabaya ada banyak pelatih, dirigen, sekaligus arranger paduan suara hebat, tapi tidak dikenal masyarakat. Ini karena media-media di Surabaya kurang tertarik menulis paduan suara atau musik klasik umumnya. Yang ditulis hampir selalu penyanyi pop, selebriti, band-band, pelawak... semua yang populer di televisi.


Saya, yang pernah menjadi pengurus Paduan Suara Mahasiswa [PSM] Universitas Jember, pun tak bisa berbuat banyak. Sebab, paduan suara memang bukan kesenian populer yang punya banyak penggemar. Wartawan-wartawan muda lebih asyik menulis Mulan Kwok, Inul Daratista, Bunga Citra Lestari... daripada membahas paduan suara. Jikapun wartawan diundang meliput konser, belum tentu mereka datang.

"Apaan tuh paduan suara? Boring ah," begitu kata-kata khas reporter masa kini. Bisa dipahami karena anak-anak muda di Pulau Jawa memang tidak terbiasa dengan paduan suara. Apresiasi paduan suara sangat rendah. Musik klasik Barat apalagi. Musik dangdut? Luar biasa!!!!

Dengan kondisi macam ini, berapa orang di Surabaya yang kenal Theys Watopa? Nama asing yang nggak njawani. Yah, Pak Theys memang bukan orang Jawa, tapi sudah puluhan tahun tinggal di Surabaya. Ia melatih beberapa paduan suara pelajar, mahasiswa, gereja, dan umum. Setahu saya, pada 1990-an Theys Watopa berhasil mengangkat mutu PSM Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya [ITS]. PSM ITS sangat disegani di Jawa Timur, salah satunya karena tangan dingin Theys Watopa.

Saat melatih teman-teman PSM Fakultas Pertanian Universitas Jember, saya pun menggunakan beberapa partitur lagu daerah yang diaransemen Theys Watopa. Salah satunya, Rek Ayo Rek. Tata suara karya Theys Watopa sangat khas paduan suara mahasiswa: enak dinyanyikan, harmoni apik, tapi tidak sulit-sulit amat. Pakai iringan piano oke, apalagi diperkaya dengan alat musik lokal.

Sejak beberapa tahun terakhir Theys Watopa dipercaya sebagai pelatih Paduan Suara SMAN 5 Surabaya -- lebih dikenal dengan PS Gita Smala. Saya kebetulan beberapa kali berdiskusi dengan Pak Theys soal musik, khususnya paduan suara. Ah, pria berdarah Papua ini baik banget, ramah, sopan, halus tutur katanya. Dia bicara dengan suara halus macam orang Jawa tempo doeloe.

Kenapa melatih paduan suara pemula? Dan kenapa selalu sukses? Begitu kira-kira pertanyaan awal saya.

Maklum, Theys Watopa harus menggembleng anak-anak SMAN 5 Surabaya yang rata-rata tidak berlatar belakang paduan suara atau musik klasik. Di Jawa Timur pelajar SMA umumnya buta paduan suara yang baik dan benar. Kalaupun pernah ikut kor, ya, kor-koran. Di sinilah Theys masuk dan memperkenalkan bahwa paduan suara itu asyik. Bahwa paduan suara sebetulnya sebuah cabang seni musik klasik yang bisa diapresiasi.

"Harus disiplin, dikondisikan agar-agar anak-anak suka. Anak-anak harus enjoy agar bisa menyanyi dari hati," kata Theys Watopa yang juga pelatih paduan suara pelajar Jawa Timur untuk tur beberapa kali ke Jepang.

Bagi Theys Watopa, pada dasarnya semua manusia itu senang bernyanyi. Tinggal cara memancing saja agar anggota paduan suara mau bernyanyi dengan baik dan enak. Selain kemampuan teknis musik, pelatih paduan suara harus punya 'indra keenam'. Ia harus bisa membuat para penyanyi bernyanyi dengan gembira.

"Orang nyanyi itu sangat dipengaruhi suasana hati. Itu kelihatan sekali di panggung," tutur pemusik yang kerap menjadi juri lomba paduan suara, vocal group, dan solo di Surabaya ini. Nah, jika hati sudah gembira, maka paduan suara akan sangat mudah membuat gerakan-gerakan ritmis. Itu penting, khususnya dalam komposisi-komposisi lagu daerah Indonesia.

Saya nilai, Theys Watopa sukses besar sebagai pelatih PS Gita Smala. Paduan suara SMAN 5 Surabaya ini kini menjadi paduan suara pelajar terbaik di Jawa Timur bersama Paduan Suara SMAK Sint Louis I Surabaya [pelatih FX Arie Soeprapto]. Boleh dikata, Gita Smala identik dengan prestasi. Pada 12 Mei 2006 Gita Smala menjadi juara satu ITS Choir Competition.

Gita Smala pun selalu ikut Festival Paduan Suara ITB, lomba paduan suara dengan standar paling tinggi di Indonesia. Prestasi Gita Smala juga mencorong. Pernah juara satu, juara dua, juara tiga. Jarang tim asuhan Theys Watopa ini kalah. Tapi suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2002, PS Gita Smala terkena diskualifikasi. Padahal, kor ini digadang-gadang sebagai juara pertama.

Kenapa sampai didiskualifikasi? "Setelah di atas panggung, ternyata anggota kami kelebihan satu orang," tutur Theys Watopa kepada saya.

Tentu saja, Theys dan para anggota Gita Smala sangat sedih. Namun, mereka tidak putus asa. Next time better and better. Harus menebus kesalahan tahun lalu. Dan, benar saja, sejak itu Gita Smala tidak pernah pulang dari Festival Paduan Suara ITB dengan tangan kosong.



Selain melatih pelajar SMAN 5 Surabaya, Theys Watopa juga dipercaya sebagai pembina tim Pesparawi [Pesta Paduan Suara Gerejawi] Jawa Timur. Dulu, saya pernah dilibatkan sebagai panitia Pesparawi. Kepiawaian Pak Theys banyak membantu mengangkat prestasi Jawa Timur di tingkat nasional.

Hanya saja, karena Pesparawi ini banyak pelatih yang pintar, saya menilai Theys Watopa tidak bisa optimal. Beda dengan melatih paduan suara pelajar atau mahasiswa di mana Theys Watopa bisa berkreasi sebebas mungkin. Maka, prestasi PS Pesparawi Jatim tidak stabil di kancah nasional. Repotnya lagi, tim Pesparawi melibatkan banyak gereja yang visi dan semangatnya tidak selalu sama.

Meski begitu, Theys Watopa yang kerap memberikan bimbingan paduan suara di gereja-gereja, termasuk di luar Jawa, tetap setia di bidang paduan suara. "Sekarang ini peta kekuatan paduan suara gerejawi di Jawa dan luar Jawa mulai merata. Beda dengan sebelum 1990-an di mana Jawa sangat dominan," kata pria yang suka memakai kopiah ini.

Suatu ketika saya 'mengeluhkan' kebiasaan anggota paduan suara asal Indonesia Timur [Flores, Maluku, Papua] yang biasa saya temui di gereja. Teman-teman ini kerap kali suka mengarang sendiri suara dua, suara tiga, dan seterusnya. Padahal, sudah ada partitur baku yang wajib diikuti. Musik klasik memang sangat menekankan disiplin partitur.

"Itu justru kelebihan orang-orang kita di Indonesia Timur. Sebab, suara yang keluar itu feeling, berasal dari hati," kata Theys Watopa, bijak.

Menurut dia, 'kenakalan' anak-anak paduan suara dari Flores, Maluku, Papua, juga Batak, menunjukkan bahwa mereka punya rasa harmoni yang kuat. Bisa spontan bikin suara satu, dua, tiga, sehingga lagu bisa enak. Tinggal dirigen atau pelatih memberi arahan agar kreativitas musik itu disalurkan secara tepat. Tidak asal-asalan.

Dalam beberapa kali percakapan, saya bertanya apa kiat jitu untuk membangun paduan suara yang baik. Dengan halus, Theys Watopa memukul dadanya. "Anda harus membuat anggota paduan suara menyanyi dengan HATI-nya," ujar Theys Watopa.

Terakhir kali, pada 17 Agustus 2007, Theys Watopa memimpin paduan suara peringatan detik-detik proklamasi di halaman Gedung Grahadi yang dipimpin Gubernur Imam Utomo. Pak Theys memang bisa memimpin paduan suara macam apa saja. Sungguh, Theys Watopa pembina paduan suara sejati di Jawa Timur.

20 comments:

  1. makasih dah nulis gita smala n pak theys. bagus banget.

    susan

    ReplyDelete
  2. saya pernah dilatih selama 3 tahun oleh Pak Theis. Sungguh pengalaman yang mengesankan dan membuat saya sangat menghormati dan menghargai beliau. terima kasih atas ulasannya yang mewakili sedikit dari tingginya rasa kekaguman saya terhadap beliau. salam

    ReplyDelete
  3. wah jarang skali orang - orang yang mau mengangkat tentang kehidupan paduan suara di indonesia ini... hebatnya penulis dapat menceritakan hingga ke tokoh pelatih paduan suara sendiri. mengenai pak Theis Watopa, siapa dia? mengapa dia dsb sepertinya sudah disebutkan diatas. Memang saat pertama kali melihat beliau pasti orang yg blum kenal menyangka wah serem amat ya orangnya. tapi ketika beliau mulai melatih banyak orang akan berpikir dua kali ketika dengan tangan dingin dia membagi suara dari sopran hingga bass satu persatu. Suara yang ngebass dan intonasi yang konstan membuat kami - kami terpedaya untuk mengikuti setiap arahannya... wah klo diceritakan pengalaman selama diajar beliau pasti gak ada abisnya... tapi masih ada yang masih mengganjal dalam hati... knapa ya orang seperti pak theis yang berjiwa seni tinggi harus tenggelam oleh waktu... mengapa generasi - generasi muda kita tidak ada yang mau seperti beliau? tanya kenapa???


    thank bung lambertus atas ulasannya,

    ReplyDelete
  4. kebetulan saya termasuk anggota dalam Gita Smala 2006 di ITB, memang terasa beda dilatih sm pak theys

    ReplyDelete
  5. hei bung, bgm kabar pak theys sekarang? moga2 selalu sukses n bahagia. salam musik!

    donatus

    ReplyDelete
  6. beliau masih aktif melatih paduan suara di beberapa tempat.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih atas respons teman-teman. Salam damai.

    ReplyDelete
  8. Hallo pak thanks atas pelatihan buat adik2 di smala surabaya n maju terus pantang mundur

    Suwun

    ReplyDelete
  9. Pak Theis memang hebat...

    sukses selalu buat Pak Theis...

    dan untuk PSGS yg mau berangkat ke FPS ITB 2008...

    tetap semangat!

    Gita Smala Bisa!



    Benedicto "Tenor"

    ReplyDelete
  10. kapan2 kita diskusi ttg paduan suara ya bung. aq senang baca ulasan anda.

    ReplyDelete
  11. Iseng2 searching maunya cari partitur lagu, eh gak tahunya ketemu ulasan pak theis...saya sempat jadi murid beliau walau hanya 3 bulan, gak nyangka banget vocal saya bisa bulet langsung, waktu itu masih SMP hanya karena mendadak disuruh lomba keroncong he..he.. jadi mengenang masa kecil..
    beliau walau punya murid banyak, ngajar dimana2 tetapi hidupnya sederhana. Kalau Rony Kleden udah dibahas belum ya? he..he.. itu pelatih saya waktu di Unika WM Sby, asli Flores juga, dan yahud banget...

    ReplyDelete
  12. semoga gita smala juga menang pd lomba di Penang.

    ReplyDelete
  13. Selamat Jalan Pak Theys Watopa. Terimakasih atas segala ilmu yang telah engkau ajarkan pada kami. Dirimulah guru yang didatangkan Tuhan pada kami agar bisa bernyanyi dengan hati, dan sampai kapanpun engkau tetap akan menjadi guru kami yang terus mengajarkan kami agar menjalankan hidup ini dengan hati laksana symphoni yang indah.Selamat jalan bapak, may you rest in peace.

    ReplyDelete
  14. mohon ijin copy ulasannya bang lambertus... ( Michael Watopa )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan mas, saya sangat kehilangan Pak Theys. Semoga jasa2 beliau mendapat balasan dari Tuhan, sang empunya seni.
      Rest in peace!! Kita tak akan pernah lupa kelembutan hati dan profesionalitas serta dedikasinya dalam pengembangan paduan suara di Surabaya dan Jatim umumnya.

      Delete
  15. pak theys salah satu yg the best di bidang choir. thanks n rest in peace!!!!!

    ReplyDelete
  16. Saya pernah mengenal dan pernah dilatih oleh beliau. Beliau adalah inspirasi saya. Inna lillaahi wa inna ilaihi roojiun. Terima kasih bung Hurek atas informasinya. Saya belum tahu kalau beliau meninggal. Sejenak rasa terkejut mendengar wafatnya beliau. Semoga Tuhan memberi kedamaian bagi pak Theys.

    ReplyDelete
  17. waktu saya pemuda dulu, aktif di paduan suara pemuda di suatu gereja di surabaya tepatnya di daerah gubeng yang waktu itu jl. Dharma Husada..pernah sebentar di ajar koor oleh pak Theys, ilmu dan teori vocal dalam bernyanyi yang dia ajarkan sungguh sangat berguna bagi saya, sampai detik ini tetap saya pakai teori yang beliau ajarkan...Beliau pernah mengumpamakan supaya suara kita jadi bulat, bayangkan di dalam mulut kita ada bakso bulat yang tidak boleh penyet...saya ingat betul salah satu perumpamaan itu....Bersyukur sekali pada Tuhan telah memberikan saya kesempatan, bertemu dengan guru yang baik seperti beliau...Selamat jalan pak Theys...

    ReplyDelete
  18. tolong dong kirim no hp pak they.. mau konsul ama beliau tentang paduan suara. trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Theys sudah lama meninggal dunia. Kalau minta informasi, lain kali, supaya sebutkan identitas dan sedikit latar belakang. Jangan biasakan pakai anonim. terima kasih.

      Delete