10 October 2007

Solomon Tong dapat penghargaan gubernur


Gubernur Jawa Timur Imam Utomo menyerahkan penghargaan kepada 10 seniman berprestasi di Jawa Timur, Sabtu [6/10/2007]. Ini merupakan tradisi Pak Imam sejak ia menjabat gubernur sejak 9 tahun lalu. Katanya, tradisi ini akan berlanjut meskipun tahun depan Jawa Timur punya gubernur baru.

Para seniman penerima penghargaan:

1. Agus Sunyoto [sastra, Malang]
2. Tjuk Sudarma [karikatur, Surabaya]
3. Amenan/Parman/Bolet [tari, Jombang]
4. Emil Sanossa [film, Malang]
5. Max Arifin [teater, Mojokerto]
6. Sabrot D. Malioboro [teater, Surabaya]
7. Solomon Tong [musik klasik, Surabaya]
8. Subiyantoro [musik tradisi, Sidoarjo]
9. Sumitro Hadi [tari, Banyuwangi]
10. Umi Kulsum [ludruk, Surabaya]


Jumat siang, sehari sebelum penyerahan penghargaan, saya mampir ke kantor Surabaya Symphony Orchestra [SSO]. Solomon Tong, dirigen sekaligus pendiri SSO, kebetulan berada di sana. Saya sudah baca di koran kalau Pak Tong bakal menerima penghargaan. "Selamat ya, semoga terus berprestasi," kata saya. Pak Tong tersenyum lebar.

Tiga perempuan, staf SSO--Jujuk, Yanti, Miming--tampak bahagia karena bosnya beroleh penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur. Ternyata, Pak Tong mendapat informasi ini secara mendadak. Ada staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur mengirim surat undangan ke Pak Tong. Kemudian minta isian formulir biografi singkat.

Sebagai orang yang sudah banyak makan asam garam di dunia seni musik klasik [Barat], Pak Tong tampak biasa-biasa saja menanggapi penghargaan ini. Toh, ia bersyukur karena pemerintah akhirnya mengapresiasi kerja kerasnya selama ini. Ingat, membina musik klasik, apalagi orkes simfoni [symphony orchestra], di Indonesia tidaklah ringan. Perlu kerja keras, tekad, kemauan, dan semangat baja. Juga uang, sponsor, serta pemusik berkualitas internasional.

Masing-masing seniman beroleh uang Rp 10 juta dari Gubernur Imam Utomo. "Saya tidak akan gunakan uang itu. Saya akan salurkan ke yayasan sosial. Apa kamu bisa cari yayasan sosial yang sangat membutuhkan bantuan?" ujar Pak Solomon Tong kepada saya.

"Bagaimana kalau duitnya dibagi-bagikan ke karyawan? Atau untuk makan-makan," tukas Miming, staf kantor SSO. Hehehe.... Kami semua tertawa. Kalau urusan makan enak, wah, para staf kantor SSO memang boleh lah. Mereka tidak takut kelebihan kolesterol atau asam urat. Toh, badan mereka kurus-kurus.

Saya juga ditanya staf SSO apakah Pak Solomon Tong pantas mendapat penghargaan? Apakah pilihan panitia objektif? Atau, sekadar sistem arisan, ganti-ganti seniman tiap tahun?

"Wah, kalau Pak Solomon Tong, ya, sangat pantas. Saya malah heran kok Pak Tong baru dapat tahun 2007. Menurut saya, mestinya Pak Tong sudah dapat tahun 1990 atau 1986. Boleh dikata, penghargaan untuk Pak Tong ini sangat terlambat," ujar saya dengan tegas.

Beberapa tahun sebelumnya, pemusik senior macam Buby Chen dan Slamet Abdul Sjukur sudah menerima penghargaan. Lha, kok Solomon Tong tidak dapat-dapat? Padahal, beberapa seniman muda, yang jam terbangnya masih pas-pasan, dapat. Kapan Solomon Tong diberi penghargaan? Begitu pertanyaan terpendam saya sejak beberapa tahun terakhir.

Saya tidak sedang memuji-muji Solomon Tong di depan anak buahnya. Buat apa cari muka? Toh, selama ini saya cukup objektif menulis catatan-catatan konser SSO. Saya juga pernah membuat catatan kritis yang tidak selalu diterima Pak Tong dengan senyum.

Saya cukup intens mengikuti perjalanan Solomon Tong bersama SSO dan sekolah musik yang dipimpinnya. Solomon Tong, kelahiran Xia Men, Tiongkok, 20 Oktober 1939, memang sangat gigih mempertahankan orkes simfoni di Kota Surabaya. Padahal, upaya itu tidak mudah.

Kepada saya, Pak Tong mengatakan bahwa dia tekor Rp 100 juta setiap kali konser. Satu tahun minimal SSO mengadakan tiga kali konser besar. Kemudian konser-konser kecil, kemudian home concert untuk para siswa. Sekali konser besar, biasanya di Hotel JW Marriott, Pak Tong membutuhkan biaya produksi sekitar Rp 230 juta. Tapi SSO kok bisa bertahan sampai sekarang?

Pak Tong selalu tersenyum mendengar pertanyaan macam ini. Lalu, gaya pendetanya muncul. "Pak Tong itu apa lah. Pak Tong is no body, tapi saya punya kemauan yang besar. Dan saya selalu didukung oleh DIA," ujar Pak Tong sambil menunjuk ke atas. Pendiri beberapa sinode gereja di Surabaya ini hendak mengatakan bahwa berkat Tuhan lah yang membuat SSO bertahan sampai hari ini. Berkat campur tangan Tuhan pula ia bisa membina begitu banyak pemusik klasik muda di Kota Surabaya.

Tak terasa, Solomon Tong berdedikasi di musik klasik selama 50 tahun. Menjadi pendidik, pelatih paduan suara, mengajar piano, mengajar di universitas, gereja, dan berbagai lembaga lain. Pada 1996 Solomon Tong bersama beberapa pengusaha yang tergabung dalam Visi dan Misi membuat gebrakan besar: mendirikan Surabaya Symphony Orchestra. Orkes simfoni permanen yang diharapkan menjadi ikon, kebanggaan, Kota Surabaya.

Kini, Pak Tong sudah bisa memetik hasilnya. SSO sudah punya komunitas tetap yang siap hadir dalam setiap konser. Jumlahnya kurang lebih seribu orang. Bagi Pak Tong, keberadaan orkes simfoni di kota sebesar Surabaya adalah mutlak, tidak bisa ditawar-tawar. Suka tak suka, symphony orchestra merupakan simbol peradaban kota raya.

Mudah-mudahan saja, setelah penghargaan terhadap Solomon Tong, pemerintah daerah lebih memperhatikan kehidupan musik klasik di Jawa Timur. Yang mendesak saat ini adalah penyediaan gedung konser alias concert hall berstandar internasional. Juga, insentif berupa penghapusan pajak, pengadaan instrumentasi, beasiswa, master class, dan sebagainya.

Meneer Tong, beter telaat dan noit! Selamat!

NASKAH TERAIT DI BLOG INI
Surabaya Symphony Orchestra

No comments:

Post a Comment