19 October 2007

Siao Cia penyanyi dan guru vokal klasik


Minat pengusaha Surabaya menyanyikan lagu-lagu klasik cukup tinggi. Ini tak lepas dari kehadiran Surabaya Symphony Orchestra [SSO] sejak akhir 1996. SSO yang dipimpin Solomon Tong memang gencar memperkenalkan musik vokal klasik berstandar internasional.

SSO ibarat membangun macan-macan tidur. Pengusaha, ekspatriat, istri diplomat, bahkan birokrat yang selama ini diam saja, akhirnya muncul dan mengakui bahwa mereka pernah belajar seni suara klasik [seriosa]. Solomon Tong kemudian mengajak beberapa di antara mereka menyanyi bersama orkes simfoni.

Cang Siao Cia salah satunya.

Perempuan asal Tiongkok ini ternyata piawai menyanyi seriosa. Apalagi, kalau repertoair dari negara tirai bambu. Suara sopran yang lantang ditambah cengkok Tiongkok yang khas. Penonton SSO yang sebagian besar warga keturunan Tionghoa memberikan aplaus meriah. Lebih meriah lagi kalau Siao Cia menyanyikan Sepasang Mata Bola, karya Ismail Marzuki.

Wuih, bukan main! Saya ikut merinding.

"Saya suka sekali lagu itu. Saya tanya teman-teman apa cerita di balik lagu itu. Lagu ini bagus banget," ujar Siao Cia kepada saya. Kini, setiap kali Siao Cia tampil di Surabaya hampir pasti ada Sepasang Mata Bola.

Siao Cia juga bikin konser tunggal di Kowloon, klub hiburan terkenal di Surabaya. Penggemarnya cukup banyak. Selain suaminya, warga Tionghoa yang juga pengusaha sukses, punya jaringan luas, para murid Siao Cia ramai-ramai datang ke konser. Mereka ingin melihat langsung bagaimana sang guru musik menyanyi secara baik dan benar.

"Tapi saya masih kesulitan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Makanya, koleksi lagu-lagu Indonesia masih sedikit. Kalau Sepasang Mata Bola sih saya hafal. Juga Indonesia Pusaka yang sangat merdu," tutur Siao Cia kepada saya saat menonton sebuah konser opera Milan, Italia, di Hotel Mojopahit Surabaya beberapa waktu silam.

Siapa saja murid-murid vokal Siao Cia?

Mereka tak lain para pengusaha, istri pengusaha, keluarga pengusaha, yang suka menyanyi di karaoke. Biasanya, pertemuan bisnis, mentraktir klien, pengusaha cari hiburan, ya, di tempat-tempat khusus yang ada musiknya. Bisa musik hidup atau karaoke. Yang suka nyanyi sumbang suara.

Ada yang lumayan, ada setengah fals, fals, hingga berantakan. Nah, saat Siao Cia bergabung [dia menetap di Surabaya sejak 2000] orang-orang terkesima. "Kalau ini sih bukan suara biasa. Lebih dahsyat daripada penyanyi-penyanyi terkenal. Kok mirip penyanyi opera ya? Nggak mungkin bisa nyanyi kayak begini kalau tidak berlatar belakang pendidikan musik klasik," kata teman-teman baru Siao Cia.

Benar saja. Usut punya usut Cang Siao Cia ini lulusan Akademi Musik Xing Hai di Guangzhou, Tiongkok. Dia juga beberapa kali tampil dalam konser musik klasik di Tiongkok dan Korea. Wah, pantas saja suaranya dahsyat, bagus, sangat akademis. Sejak itulah, sekitar tahun 2001, Siao Cia didatangi sejumlah pengusaha yang ingin belajar menyanyi.

"Saya kasih teknik dasar bernyanyi: pernapasan, teknik vokal, dan sebagainya. Tapi tidak sampai mendalam karena mereka kan menyanyi karena hobi saja. Beda dengan penyanyi profesional," tuturnya.

Eh, beberapa 'murid' Siao Cia kecanduan menyanyi ala klasik. Saya pernah lihat beberapa bos perusahaan besar menyanyi dalam konser SSO. Tidak sangat istimewa memang, tapi mereka bisa mengatasi tingkat kesulitan nomor-nomor klasik yang sulit. Siao Cia pun bangga dengan prestasi anak-anaknya.

"Saya belajar nyanyi, ya, sama Siao Cia. Dia yang membuat saya bisa menyanyi dan terus menyanyi sampai sekarang," ujar seorang bos pabrik besar.

Surabaya memang panas, macet, hiruk-pikuk, belum punya infrastruktur musik yang memadai. Orkes simfoni hanya satu: Surabaya Symphony Orhestra. Gedung konser atau gedung kesenian tidak ada. Toh, Siao Cia mengaku sangat senang tinggal di Surabaya. "Saya suka di sini. Bahkan, saya lebih banyak menyanyi di sini," aku Siao Cia.

Maka, perempuan kelahiran Korea yang dibesarkan di Tiongkok ini mengurus naturalisasi alias pindah kewarganegaraan. Dia bilang telanjur mencintai Indonesia sejak tiba di Surabaya pada tahun 2000. "Saya cinta Indonesia, terutama kerupuknya. Hehehe...."

Keinginannya menjadi WNI juga karena didorong oleh murid-murid kursus vokal di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang. Mereka protes saat Siao Cia pulang ke Tiongkok untuk mengurus berbagai surat seputar izin kerja dan izin tinggal. "Butuh waktu lama."

Kini, dia plong. Setelah masa penantian sekitar lima tahun, Siao Cia akhirnya resmi menjadi warga negara Indonesia. Dia juga sudah bisa mengerti bahasa Indonesia, bisa berbicara sedikit-sedikit. Kalimatnya masih kacau, tapi masih bisa dipahami. Kalau di tulisan ini Siao Cia terkesan bicara lancar, spontan, enak, hehehe... itu karena sudah saya sunting di sana-sini.

"Sekarang saya merasa punya tiga tanah air: Korea, Tiongkok, dan Indonesia," ujar Siao Cia, bangga.

Sebagai wujud kebanggaannya pada Indonesia, tanah air baru, Siao Cia berjanji belajar bahasa Indonesia lebih giat lagi. Juga belajar lagu-lagu patriotik macam Sepasang Mata Bola, Indonesia Pusaka, dan sebagainya. Dan, jika bikin konser tunggal, Siao Cia berusaha menyertakan lagu-lagu Indonesia.

Di ujung percakapan, saya meminta Siao Cia membawakan lagu Sepasang Mata Bola, yang juga sangat digemari mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. "Saya sudah kangen suara anda. Suara yang sangat indah, lantang, tegas," rayu saya.

Ah, ternyata Siao Cia terpancing. Lalu, meluncurlah Sepasang Mata Bola dari mulut Siao Cia. Bahasa Indonesia, namun kental dengan nuansa Tiongkok. Oh, ya, saya memang punya kebiasaan 'mengetes' penyanyi macam begini. Dulu, saat jumpa pers pun, saya suka 'memaksa' si biduan menyanyi. Hehehe....

Hampir malam di Jogja
ketika keretaku tiba
remang-remang cuaca
terkejut aku tiba-tiba

Dua mata memandang
seakan-akan dia berkata
lindungi aku pahlawan
daripada si angkara murka

Sepasang mata bola
dari balik jendela
datang dari Jakarta
menuju medan perwira

kagum ku melihatnya
sinar sang perwira rela
pergilah pahlawanku
jangan bimbang ragu
bersama doaku

No comments:

Post a Comment