07 October 2007

Bangkrut dimakan teknologi baru



Tadi saya ketemu Sulityowati di pusat kota Sidoarjo, Jalan Gajah Mada. Rupanya, gadis asli Sidoarjo ini masih kenal saya. Saya tahu tempat kerjanya, Foto Dhoho di Jalan Ahmad Yani Nomor 406, sudah lama tutup karena rugi.

"Sekarang kerja di mana?" tanya saya.

"Waduh, Mas, masih cari-cari. Pernah kerja di toko, tapi gak cocok. Sekarang cari lagilah," ujar Sulis lalu tersenyum.

Sulis hanyalah satu dari sembilan karyawati [sebagian besar gadis] yang dulu bekerja di Foto Dhoho. Ini studio cuci cetak foto paling laris dan palin cepat prosesnya di Sidoarjo. Lokasinya strategis, pekerjanya banyak, membuat Dhoho senantiasa didatangi orang yang ingin cuci cetak foto.

Kami, para wartawan di Sidoarjo, pun selalu memanfaatkan jasa Dhoho. Selesai liputan, datang ke Dhoho, untuk proses. Agar hemat filem, sebelumnya Sulis dan kawan-kawan potong dulu, lalu cuci cetak. Kita masih diberi kesempatan untuk mencetak semua atau hanya beberapa yang diperlukan saja.

Karena sering berhubungan dengan Dhoho, bahkan hampir tiap hari, Sulis dan kawan-kawan kenal hampir semua wartawan di Sidoarjo. Saya selalu berusaha kasih tips berupa kaus oblong konser artis, buah-buahan, atau apa saja, agar didahulukan. Kalau Sulis dikasih, pegawai lain minta.

"Kok aku gak diberi sih?" tukas Mbak Ambar.

Maka, kali lain oleh-oleh buat Ambar. Dan seterusnya. Lama-kelamaan saya menjadi begitu dekat dengan mereka. Saya pun kerap ngobrol santai sama bos Dhoho sambil menungu cuci cetak. Habis dicetak, saya ke kantor untuk menyeken, kemudian kirim ke redaksi via internet.

Pola kerja wartawan di luar kota memang selalu begitu. Kelihatannya repot, tapi cara ini lebih cepat dan santai ketimbang ke kantor pusat tiap hari. Sebab, di kantor pusat proses cuci cetak bari dimulai pukul 20.00 ke atas sehingga kita tidak bisa pulang cepat. Di Sidoarjo, rata-rata wartawan sudah tuntas bekerja sebelum pukul 18.00. Enak sekali!

Sekitar tahun 2004/2005 era digital nyaris sempurna di Jawa Timur. Sebelumnya sih sudah, tapi tidak sehebat tahun-tahun itu. Kamera digital murah, banyak ditawarkan di toko-toko. Para pemburu berita tentulah memanfaatkan peluang ini untuk menyingkat proses kerja.

Kerja menjadi sangat efisien, banyak proses harus hilang. Dengan kamera digital, studio foto tidak perlu lagi. Foto langsung masuk ke komputer, ukurannya diperkecil, kemudian kirim. Tidak ada proses cuci cetak yang ribet. Tidak perlu scan di kantor. Warnet yang mulai marak di Sidoarjo sejak 2003 juga sangat membantu pengiriman naskah dan berita. Maka, saya dan teman-teman, pelanggan utama Dhoho, tidak perlu lagi menemui Sulis dan kawan-kawan.

Sekarang memang era teknologi informasi yang berkembang sangat cepat. Terlambat belajar, engkau ketinggalan. Itulah yang terjadi dengan studio Dhoho Sidoarjo. Ketika kamera digital marak, bosnya tidak mau menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Sang bos saya nilai tidak membaca tanda-tanda zaman.

Pelan tapi pasti, kamera lama yang pakai film masuk museum. Cuci cetak filem tinggal sejarah. Benar saja. Dhoho akhirnya gulung tikar. Sembilan karyawan diputus kerjanya, jadi penganggur. Sang bos tidak mampu mempertahankan perusahaannya. Apa boleh buat, bekas studio foto di pinggir jalan raya strategis itu harus dijual. Sampai tadi [7/10/2007] belum laku juga.

Saya kira, Sulis tidak sendiri. Masih banyak karyawan yang kehilangan pekerjaannya karena studio foto tempatnya bekerja tutup. Di beberapa kantor surat kabar saya tahu sejumlah karyawan senior jadi korban perampingan. Sebab, mesin cuci cetak foto memang tidak digunakan lagi. Teknologi memang senantiasa maju, dan siapa yang tidak peka dengan perkembangan ini akan menjadi korban.



Sebelum foto digital, para pekerja di perusahaan pager [penyeranta] menjadi saksi kejamnya perkembangan teknologi. Di Surabaya dulu ada beberapa perusahaan pager terkenal: starco, easycall, skytel. Para wartawan dahulu menggunakan jasa pager untuk berkomunikasi dalam urusan meliput berita.

Para operator pager, kebanyakan gadis-gadis manis, pun menjadi teman akrab wartawan. Hmmm... ada teman wartawan yang bahkan berpacaran dan kemudian menikah dengan gadis pager. Asmara bermula dari telepon-teleponan dari wartel untuk menyampaikan pesan ke nomor pager tertentu.

"Aku sampai sekarang masih hubungan sama si X, dulu anak starco," ujar teman saya lalu tertawa kecil. Selingkuh tiada akhirnya, rupanya. Hehehe....

Pager kemudian digusur oleh telepon seluler, ponsel. Penetrasi HP di Jawa Timur dimulai tahun 1995/1996, pelan tapi pasti, menjadi komoditas massal. Ponsel kini sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia kota. Apa pun profesinya.

Maka, semua perusahaan pager tutup sejak awal tahun 2000. Tak bersisa sedikit pun. Kantornya berubah menjadi tempat berjualan pakaian anak-anak atau kantor perusahaan swasta di luar bidang komunikasi.

Ke mana para bekas karyawan pager? Sudah lari ke mana-mana. Banyak yang menikah, punya anak, bisnis kecil-kecilan di rumah. Ada yang pindah ke stasiun radio menjadi penerima telepon. Ada yang kuliah lagi. Ada yang pulang kampung. Dan seterusnya.

Begitulah. Hidup di era teknologi canggih, teknologi informasi, memang penuh risiko. Jika tidak pandai mengantisipasi, membaca tanda-tanda zaman, kita bakal menjadi korban teknologi. Maka, jangan pernah abaikan inovasi baru, sekecil apa pun.

6 comments:

  1. betul, di mana2 ada kasus kayak ini.

    ReplyDelete
  2. hmmm,
    saya justru lagi nyari pager,
    apa masih ada yang punya ?

    please email daripada pagernya enggak kepakai, lebih baik dimanfaatkan untuk temen2 mainan foxhunting/ardf.

    73,
    rudi

    ReplyDelete
  3. apakah masih ada operator pager yg masih bertahan??
    klo ada dmn? sy pengen nyoba pake pager/beeper.
    sy sangat terkesan dgn cerita kk2 yg dlu pernah pake pager. . .

    ReplyDelete
  4. apakah masih ada operator pager yg bertahan???
    sy pengen banget pake pager, . cerita kk2 tentang pager sungguh menarik dan kyknya seru sekali. . .

    ReplyDelete
  5. Tidak ada. Semua operator pager alias radio panggil sudah lama tutup karena masuknya HP. HP itu menggantikan kerja pager dan jauh lebih kaya dan efisien. Pager harus menggunakan jasa operator dengan cara menelepon via wartel. Jelas sangat tidak efisien.

    Tapi bagaimanapun juga pager pernah menjadi 'barang langka' dan bergengsi sebelum ada ponsel alias HP. Kasusnya mirip mesin ketik manual yang habis setelah datangnya komputer.

    Terima kasih sudah membaca tulisan saya.

    ReplyDelete
  6. Pecinta teknologi1:11 PM, April 22, 2012

    Perusahaan pembuat film Kodak (yang namanya sampai diserap ke dalam Bahasa Indonesia di dalam kata "Mat Kodak" alias fotografer) pun barusan gulung tikar. Kalau tidak mengantisipasi perkembangan teknologi baru, dan lebih penting lagi mengambil keputusan berani untuk meluncurkan servis atau produk baru yang menggunakan teknologi baru tersebut, siap2 saja untuk tikarnya digulung oleh pesaing.

    ReplyDelete