29 October 2007

Malik Bz prihatin musik dangdut


Tadi [29/10] saya ikut halal bihalal di rumah Bapak Abdul Malik Buzaid [A Malik Bz], tokoh musik melayu di Jawa Timur. Ia penulis lagu Keagungan Tuhan yang terkenal itu. Minum kopi ala Arab, menikmati camilan kecil, lalu... diskusi soal musik.

Kalau ketemu Pak Malik memang susah menghindar dari bincang-bincang soal musik. Sebab, saya sering dinilai bukan wartawan biasa, tapi juga pengamat musik. Hehehe.... Maka, dia merasa perlu 'curhat' ke saya. Siapa tahu unek-uneknya didengarkan 'insan-insan dangdut' yang salah arah.

"Musik melayu [dangdut] sekarang makin terpuruk. Dan yang merusak, ya, insan-insan dangdut sendiri," kata Malik Bz.

Kalau sudah memulai tesis macam ini, biasanya Pak Malik akan bicara panjang lebar. Saya pun menyimak dengan serius, sambil sekali-sekali menyela atau bertanya.

Pak Malik mengaku sedih karena dalam setahun ini para penyanyi dangdut lebih gandrung lagu-lagu pop. Di televisi, show di daerah, rekaman VCD... justru lagu-lagu pop yang dibawakan. Biasanya, hit milik band terkenal macam Dewa, Radja, Samsons, Kangen, dan seterusnya. Lagu-lagu hit ini dilantunkan dalam irama koplo atau dangdut. Pop ala dangdut.

"Lha, kalau caranya seperti ini, bagaimana nasib penulis lagu dangdut kayak saya dan ratusan orang lain di Indonesia? Mau dibawa ke mana musik dangdut," kata Pak Malik dalam nada tinggi.

Ironisnya, menurut komposer senior ini, pengusaha rekaman dangdut pun ikut arus. Tak ada upaya untuk menjaga eksistensi dangdut. "Saya tanya teman-teman produser, musisi. Mereka bilang, mau gimana lagi, ini kan ikut pasar. Lha, pasar itu kan seharusnya kita kendalikan. Bukan seperti ini," tegas pria keturunan Arab yang tinggal di Desa Kureksari, Kecamatan Waru, Sidoarjo, ini.

Saya tambahkan bahwa fenomena itu mulai terasa sejak Inul Daratista merajai blantika dangdut pada 2003-2005. Berlatar penyanyi pop-rock, Inul membawakan lagu apa saja, Indonesia, Barat, daerah. Dangdut gaya Inul pun menjadi lebih cair, bisa dinikmati oleh penggemar musik pop. Bahkan, Inul didaulat mendampingi beberapa konser artis pop ternama. Tentu saja, imej penyanyi dangdut lain mengekor sukses Inul Daratista.

"Analisis itu benar. Tapi sekarang tambah parah. Kita makin sulit menemukan lagu yang benar-benar ditulis sebagai lagu dangdut. Yang ada di televisi itu lagu pop didangdutkan," kata pria yang mengaku mula pertama belajar orgel gereja dari mendiang Jack Lesmana di Surabaya pada 1960-an.

"Orang pop itu kan pintar-pintar, anak-anak kuliah, nggak kayak insan dangdut. Lha, kalau lagunya dipakai untuk orkes atau penyanyi dangdut, ya, mereka tentu mau saja. Lain dengan orang dangdut yang sejak dulu saling iri, cemburu, jegal-jegalan," tambah Pak Malik.

"Apakah pemusik-pemusik dangdut, katakanlah PAMMI [Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia], sudah merespons kasus ini?" tanya saya.

"Wah, mana sempat mikir? Sejak dulu insan-insan dangdut hampir tidak pernah memikirkan hal-hal strategis kayak begini? Rhoma Irama [ketua PAMMI] juga saya rasa tidak sempat mikir. Yang ramai kan waktu dia 'berkelahi' dengan Inul Daratista itu thok," tandas Pak Malik, juga pengurus PAMMI Jawa Timur.

Obrolan makin seru, sementara kopi di gelas saya sudah habis. "Saya mau pulang dulu, Pak. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi."

Kalau tidak segera dipotong, obrolan seputar musik dangdut bersama Pak Malik akan sulit dihentikan. Tapi saya bersyukur selalu mendapat wawasan baru setiap kali berbincang dengan Abah Malik Bz.

NASKAH TERKAIT

Malik Bz pencipta lagu Keagungan Tuhan.

Mengenang A. Kadir, pemimpin OM Sinar Kemala

No comments:

Post a Comment