05 October 2007

Malaysia suka menjiplak lagu Indonesia



NEGARAKU: lagu kebangsaan Malaysia. Mohon maaf jika notasi angka ini kurang tepat karena saya menulis hanya dengan mengandalkan ingatan semata.





Teks lagu TERANG BULAN yang sangat populer di Indonesia tempo dulu. Notasinya ada beberapa versi karena sumber tertulisnya tidak ada. Ini salah satu versi yang biasa saya dengar di Surabaya dan Sidoarjo. Nah, melodi TERANG BULAN ini dijadikan lagu kebangsaan Malaysia dengan judul NEGARAKU. Perhatikan notasinya! Boleh dibilang 100 persen sama. Yang beda hanya syair saja.

Malaysia kaya-raya, makmur, berlimpah materi. Maka, jutaan orang Indonesia pun terpaksa mencari kerja di sana. Jadi pekerja-pekerja kasar: kuli, babu, pelayan, tukang cuci, penebang kayu, sopir, pemikul barang, tukang sapu, tukang kebun, jaga hutan, kuli pelabuhan, satpam.

Dan kita berkali-kali mendengar betapa manusia Indonesia dihinakan, disiksa, dicambuk, diperlakukan layaknya binatang. Saya selalu memperhatikan sangat lama foto-foto TKI yang terpaksa melompat dari apartemen karena tak tahan disiksa majikan. Nirmala Bonat, pelayan asal Nusatengara Timur, provinsi tempat saya lahir dan dibesarkan, disiksa di luar batas kemanusiaan.

Eh, penyiksanya beroleh keringanan sehingga bebas lepas sampai sekarang. Oh, pemerintah dan rakyat Malaysia, di manakah hati nuranimu? Mungkin, karena merasa kaya, dia bebas memperlakukan pekerja asal Indonesia secara sewenang-wenang.

Di mana-mana, yang namanya hubungan antara majikan dan buruh tidak pernah setara!

Kali ini saya tak hendak membahas kasus TKI yang dianiaya bangsa Malaysia. Saya bicara yang ringan-ringan saja: musik! Kebetulan saat ini lagu RASA SAYANG, nyanyian rakyat Maluku, Indonesia diklaim sebagai nyanyian promosi wisata Malaysia. Saya membaca diskusi di internet dan media cetak, bagaimana begitu banyak orang Indonesia marah-marah karena Malaysia mengklaim RASA SAYANG.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berbincang dengan Peter, pemain oboe asal Jerman, yang kebetulan konser di Surabaya. Peter ini pun beberapa kali konser di Malaysia. Dia bilang kagum dengan musikalitas orang Indonesia. Pemain-pemain orkes simfoni di Surabaya sangat muda, usia 17 tahun ke bawah. "Luar biasa. Saya jarang sekali melihat suasana macam ini," kata Peter yang juga pengusaha.

"Bagaimana dengan di Malaysia? Apakah musikalitas mereka pun bagus?" pancing saya.

"Oh, no! Untuk urusan musik, Indonesia tidak ada tandingannya di Asia. Di sini luar biasa," ujar Peter dengan mimik serius.

Adakah si Jerman ini hanya basa-basi agar saya senang? Saya tidak tahu. Yang jelas, kata-kata macam ini sering saya dengar dari mulut orang asing. Orang Indonesia itu musikal. A singing nation!


Karena itu, harap maklum sajalah kalau Malaysia secara sistematis mengklaim lagu RASA SAYANG sebagai miliknya. Di mana-mana orang yang tidak kreatif doyan mengopi apa saja yang dianggap unggul tanpa mengindahkan hak cipta.

Mengapa Malaysia mengklaim RASA SAYANG?

Jawabnya: bangsa Malaysia, seniman Malaysia, tidak kreatif. Tidak bisa menciptakan lagu-lagu berkualitas macam Rasa Sayang. Pekerjaan paling gampang adalah mencontek atau zaman internet ini copy-paste. Mencontek tidak perlu memeras otak, bukan?

Jangan lupa, lagu AYO MAMA [juga dari Maluku] sudah lama masuk dalam album Siti Nurhaliza Live in Concert Volume II, side A. Lagu AYO MAMA di-medley-kan dengan Patendu-Patende dan Embun Sosek. Tidak ditulis nama penulis atau asal lagu AYO MAMA, selain copyright controlled.

Saya khawatir, AYO MAMA bakal senasib dengan Rasa Sayang yang sama-sama enak itu. Harap maklum, orang Malaysia itu tidak kreatif, tidak punya kemampuan menciptakan komposisi lagu yang baik dan enak. Ajaibnya, mereka selalu punya dalih, akal-akalan, sehingga jika kasus ini dibawa ke pengadilan, besar kemungkinan Malaysia menang.

Ingat, kasus Pulau Sipadan dan Ligitan yang akhirnya jatuh ke tangan Malaysia karena jago diplomasi. Orang yang tidak kreatif, pembajak, pencuri, jika didukung argumentasi kuat, wah bisa menanglah dia. Kita, orang Indonesia, terlalu sering kalah hanya karena tak bisa menunjukkan bukti-bukti tertulis yang memperkuat klaim kita.

Saya sama sekali tidak heran dengan klaim Malaysia atas lagu Rasa Sayang. Kenapa? Cermati baik-baik lagu kebangsaan [national anthem] Malaysia berjudul NEGARAKU. Ketika lagu kebangsaan Malaysia diperdengarkan, siapa pun orang Indonesia pasti teringat TERANG BULAN. Lagu rakyat yang sangat populer pada tahun 1940-an hingga 1960-an.

Lima puluh tahun lalu, ketika Malaysia diberi hadiah kemerdekaan oleh Inggris, orang Malaysia belum punya lagu kebangsaan. Beda dengan Indonesia yang sudah punya INDONESIA RAYA, karya WR Soepratman, sejak 28 Oktober 1928. Nah, karena tidak punya lagu, sementara kebutuhan akan himne kebangsaan sangat mendesak, maka Malaysia menempuh jalan pintas.

Lagu TERANG BULAN diganti syair, melodi dimodifikasi sedikit... lantas jadilah NEGARAKU. Saya sering tertawa sendiri mendengar lagu kebangsaan Malaysia yang menjiplak habis TERANG BULAN. Apa bangsa Malaysia tidak bisa bikin lagu yang lebih patut, Encik? Saya tertawa geli mengingat syair TERANG BULAN yang memang lucu dan agak main-main.

TERANG BULAN TERANGLAH DI KALI
BUAYA TIMBUL DISANGKALAH MATI
JANGAN PERCAYA MULUT LAKI-LAKI
B'RANI SUMPAH TAPI TAKUT MATI

"Masak sih lagu kebangsaan Malaysia itu TERANG BULAN? Yang bener nih?" ujar Ahmad, teman saya di Surabaya. Setelah saya perdengarkan rekaman NEGARAKU, kawan ini akhirnya percaya. Dia juga tertawa terbahak-bahak atas kekonyolan Malaysia.

"Mestinya mereka memesan lagu ke Indonesia. Di sini kan banyak komponis yang bisa menulis lagu kebangsaan atau mars dengan bobot musikal tinggi," usul teman saya.

Begitulah Malaysia.

Lagu kebangsaan saja dicomot dari lagu dolanan kakek-nenek tempo dulu, TERANG BULAN. Apalagi, RASA SAYANG yang hanya dijadikan lagu promosi wisata. Tentulah orang Malaysia, yang memang sudah terbiasa menjiplak lagu-lagu Indonesia, tidak akan ragu-ragu mengklaim lagu tersebut. Protes sekeras apa pun niscaya tak akan didengarkan pemerintah dan bangsa Malaysia.

Kamis, 4 Oktober 2007, saya ditelepon Markus Sajogo, pengacara dan tokoh masyarakat di Surabaya. Ternyata, ia ikut merespons kasus lagu RASA SAYANG yang diklaim oleh negara jiran tersebut. Markus berpendapat, orang Indonesia tidak perlu memberikan reaksi berlebihan karena masih banyak urusan yang harus diselesaikan di sini.

Jangan sampai energi kita habis untuk membahas lagu RASA SAYANG. "Lagu ini kan sudah jelas lagu Indonesia, dari daerah Maluku. Kalau Malaysia membajak, ya, nanti di malu sendiri karena semua orang tahu asal-usul RASA SAYANG," kata Markus Sajogo.

Menurut dedengkot Lions Club di Surabaya ini, kita, orang Indonesia, perlu juga melakukan introspeksi. Apakah benar kita tidak pernah mengklaim atau membajak lagu milik orang lain seperti yang dilakukan Malaysia? Markus menunjuk kasus KULIHAT IBU PERTIWI. Lagu ini, seperti saya bahas di blog ini, jelas-jelas menjiplak melodi dari lagu gospel dari Amerika Serikat.

Abdul Malik Buzaid, komposer lagu-lagu Melayu yang tinggal di Sidoarjo, pernah mengatakan kepada saya bahwa lagu-lagu di industri pop kita sebenarnya banyak yang bajakan. Melodi, aransemen, dicontek mentah-mentah dari pop negara lain.

"Di musik dandgut praktik bajak-membajak musik sudah menjadi budaya lama di tanah air," ujarnya. Malik Bz, pencipta lagu legendaris KEAGUNGAN TUHAN, kemudian menyebut penyanyi dangdut senior dan terkenal yang banyak menjiplak lagu-lagu India.

Karena kita pun sering membajak lagu--juga piawai membajak buku, kaset, CD/VCD/DVD, Markus Sajogo meminta agar kita jangan terlalu 'sok suci'. "Sudahlah, biarkan saja Malaysia menjiplak RASA SAYANG, menjiplak TERANG BULAN, dan entah lagu apa lagi," ujar Markus Sajogo enteng-entengan.

Kasus RASA SAYANG yang sedang ramai, lanjut Markus, seharusnya membuat orang Indonesia bangga. Kenapa? Bangsa yang di Malaysia sana dijuluki INDON itu ternyata jauh lebih kreatif ketimbang orang Malaysia. INDON yang selalu dihina, selalu disiksa, dilecehkan... diam-diam punya kemampuan kreatif yang luar biasa. Bagaimana tidak bangga kalau lagu milik si INDON ternyata menjadi dasar lagu kebangsaan Malaysia, NEGARAKU?

"Kita dibilang INDON, ya, jangan tersinggung atau protes macam-macam. Buat apa? Contoh itu orang Tionghoa di Indonesia. Dulu, pemerintah Orde Baru memaksakan sebutan CINA agar harga diri orang-orang Tionghoa.

"Tapi apa yang terjadi? Orang Tionghoa nggak reken. Mereka tetap kerja keras, tidak pernah protes, mau dipanggil CINA kek, TIONGHOA kek, CHINA kek. Mereka akhirnya sukses secara ekonomi," tegas Markus Sajogo.

BACA JUGA

Indonesia Bangsa Kuli di Malaysia.
Malaysia BUKAN Bangsa Serumpun.
Malaysia Larang ALLAH untuk Kristen.
ALLAH dan Orang Flores di Malaysia.

24 comments:

  1. Kalau dibilang lagu kebangsaan Malaysia menjiplak lagu kita saya sendiri tak begitu setuju. Sejarah lagu Negaraku itu sebenarnya sudah lama semenjak abad 19. Syahdan ketika Sultan Perak diundang untuk menghadap Raja/Ratu Inggris ia sempat berdiskusi dengan ajudannya mengenai lagu kebangsaan. Mengingat Kesultanan Perak saat itu belum memiliki lagu kebangsaan, Sultanpun menjadi khawatir hal itu akan memalukan. Namun akhirnya Sultan teringat dengan sebuah lagu yang menjadi kesukaannya dulu ketika pernah diasingkan di pulau Mahé di Kepulauan Seychelles. Lagu itu berjudul La Rosalie gubahan komposer Prancis Pierre Jean de Beranger. Akhirnya karena tidak ada lagu Kebangsaan Sultanpun memerintahkan untuk menyanyikan lagu itu saja sebagai lagu kebangsaannya. Dan sejak saat itulah melodi gubahan Pierre Jean de Beranger tersebut menjadi lagu kebangsaan Kesultanan Perak Allah Lanjutkan Usia Sultan. Kejadian itu kira-kira sekitar tahun 1888. Kembali ke soal Malaysia, saat Malaysia mau didirikan dahulu mereka mengadakan kontes untuk membuat lagu kebangsaan. Beberapa komposer ternama termasuk komposer lagu kebangsaan Singapura Encik Zubir Said ikut serta dalam kontes tersebut. Namun akhirnya tidak ada seorangpun dari peserta kontes tersebut yang menang. Sebaliknya Malaysia malah mengambil melodi lagu Kesultanan Perak sebagai lagu kebangsaan mereka Negaraku. Karenanya melodi dari Negaraku itu ternyata asalnya dari Prancis. Sekarang yang saya merasa aneh, kenapa Indonesia bisa punya Lagu Terang Bulan yang melodinya mirip ya??? Dan juga nun jauh di Hawai sana juga ada lagu dengan melodi yang sama persis yang berjudul Mamula Moon. Jadi sebenarnya melodi La Rosalie/Allah Lanjutkan Usia Sultan/Terang Bulan/Mamula Moon/Negaraku itu asalnya dari mana sih???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya kalo masalah jiplak-jiplakan sih juga banyak, lagu "Jana Gana Mana" punya India buatan orang Bangladesh tapi bangladesh gak nuntut india kok

      Delete
  2. Wah, terima kasih atas penjelasan anda. Sama persis dengan artikel-artikel versi Malaysia yang ada di internet. Saya sudah baca itu kira-sejak tahun 10 tahun lalu sejak saya kenal internet. Bagaimanapun juga kita jangan terlalu menjadikan internet sebagai rujukan atau referensi.

    Yang terbaik, saya kira, para musikolog, dokumentator musik, sejarawan, membongkar catatannya agar semuanya menjadi jelas. Tapi memang melacak bukti-bukti macam itu tidak gampang. Kalau sekadar cari data di internet, ya, masuk google atau mesin pencari lain, selesai. Sekali lagi, terima kasih sudah mampir ke blog saya.

    Salam!

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas tanggapannya Mas Lambertus.

    Untuk lagu Mamula Moon yang dari Hawai sendiri saya sudah pernah dengar. Memang benar melodinya mirip banget. Namun liriknya seingat saya tidak sepicisan Terang Bulan (tidak ada "Jangan percaya lelaki berani sumpah tapi takut mati"). Namun untuk La Rosalie sendiri saya belum pernah dengar karena sulit mencarinya. Karenanya versi "Sejarah Resmi" tersebut memang belum bisa ditelan bulat-bulat. Hanya saja melihat kenyataan kalau melodi tersebut juga muncul di Hawai, berarti kemungkinan lagu tersebut memang mengglobal dong??? Dan mungkin juga harus dicari Terang Bulan itu asalnya dari mana ya???

    Namun satu hal yang bisa saya simpulkan : Mau dari La Rosalie, dari Terang Bulan, dari Mamula Moon, intinya Negaraku itu bener-bener NJIPLAK.

    ReplyDelete
  4. semakin hari semakin berani aja yah...
    malahan sekarang dah perorangan yang berani melecehkan negara kita ini...
    sebelumnya hanya sebagian intuisi oatau organisasi yang berani mencaplok kebudayaan negeri kita ini...
    tetapi sekarang perorangan sudah berani menginjak2 bahkan melecehkan negeri kita...
    ini semua diakibatkan oleh lemahnya hukum dan tindakan di negeri kita ini, sehingga orang bisa dengan mudah melakukan hal

    demikian dan juga dengan mudah meminta maaf...

    sangat tragis sekali jika kejadian ini selalu saja terulang...

    dimana kehormatan bangsa kita...
    dimana jati diri bangsa kita...
    dengan mudahnya negara ini diinjak2 dan dilecehkan...
    dan dengan mudahnya juga mereka mendapatkan maaf...

    apapun dan sekecil apapun perbuatan yang membuat negara ini tercoreng dan malu, harusnya mendapat tindakan serta hukum yang

    membuat jera.
    semoga dengan kajadian ini, bangsa kita semakin bisa menjaga nama baik.
    semoga hal2 penghinaan seperti ini tidak akan pernah terulang lagi...

    semoga bangsa ini bisa menjadi bangsa yang lebih terhormat dan tidak akan pernah mengalami hal seperti ini lagi...amin..
    Iklan Gratis

    ReplyDelete
  5. Orang Indonesia baiknya berhenti sejenak sebelum mengklaim macam-macam tentang negeri tetangga. Harus bisa memilah, mana yang kesalahan institusi, mana yang kekeliruan perorangan. Mana yang disengaja, mana yang kekhilafan. Mana karya yang public domain, dan mana yang dilindungi oleh hak cipta. Dua negara yang budayanya dekat, tidak heran kalau ada overlap. Sebenarnya ini kesempatan bagi pengusaha dan kementrian pariwisata Indonesia untuk melakukan kampanye melawan yang dilakukan oleh industri pariwisata di Malaysia: "can't beat the real thing", seperti Coca Cola.

    Lagu kebangsaan Inggris "God Save the King/Queen" pun dijiplak oleh orang Amerika, menjadi "My Country Tis of Thee", hanya liriknya saja yang berbeda. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Aretha Franklin pada pelantikan Presiden Obama. Bayangkan, pelantikan presiden USA, penyanyinya menyanyikan lagu kebangsaan bekas penguasa, hanya liriknya saja yang berbeda. Toh semua adem ayem saja, tidak perlu ribut-ribut. Orang Indonesia saja yang terlalu sensitif, karena dulunya lebih maju dan merdeka lebih dahulu, eh sekarang ketinggalan ekonomi dan teknologi dari mantan "adik".

    ReplyDelete
  6. mari bersama-sama lawan pembajakan, perampasan kedaulatan bangsa kita,

    satu kalimat untuk malaySIAL.. Kiss my fukc'in ASS, please

    ReplyDelete
  7. maaf jika terasa..
    tapi untuk pengetahuan kamu juga...
    bukankan waktu dahulu kala ramai warga malaysia dan indonesia bernikah campuran..
    oleh karena itu, mungkin budaya mereka bercampur..
    jadi tidak hairanlah kalau budaya malaysia dan indonesia lebih kurang sama...
    oleh itu, kalian harus belajar dan tahu dahulu sejarah dahulu kala ya...
    saya juga campuran melayu dan bugis..
    iaiatu malaysia dan indonesia...
    di malaysia juga ada kampong bugis dan kampung jawa...

    ReplyDelete
  8. coba cek,
    musik "dari sabang sampai merauke" dan "La Marseillaise" (lagu kebangsaan Perancis).

    Internet bukan untuk memulai perang, tetapi untuk mencari referensi yang bersifat membantu..

    Sy tidak membela ini itu tetapi jika pengin perang, silahkan sana terjun ke negara Malaysia/ Indonesia sendiri..

    ReplyDelete
  9. bisa dibuka : http://www.rollingstone.co.id/read/2010/04/28/695/9/2/Menyelamatkan-Musik-Indonesia

    ada info ttg lagu Negaraku dngn Terang Bulan

    ReplyDelete
  10. salam, saya kurang senang dgn kenyataan ttg tki yg didera dan sebagainya... bgaimana dgn pekerja2 asing yang terbela dan terjaga kebajikan mereka? yang disyangi seperti keluarga sendiri? sudah pasti kes2 positif tak dipamer dalam mana2 artikel cetak? apakah di indonesia sendiri semuanya mulia2 belaka rakyatnya? tiada sebarang jenayah sesama mereka? tiada kes aniaya, sifar kes menghina??? satu persoalan yang amat saya ingin tahu dari kalian...

    bagi saya, x semua majikan malaysia hanya tahu menghina dan mendera org indonesia, dan org indonesia pula x semua berperangai elok di malaysia? bagaimana dgn pembantu rumah indonesia yang mencuri, membunuh anak majikan dan sebagainya? kalian setuju dengan kenyataan ini??? jadi kenapa sentimen leceh begini harus digembar-gembur?? anda cari sendiri jawapan...

    bukan mahu berbangga, malaysia sedikit maju dr indonesia. jadi sebagai negara SERUMPUN, malaysia buka peluang kpd rakyat indonesia utk cari rezeki di malaysia. Nah! bukankah ini satu cara perkongsian nikmat kemakmuran dan kemajuan malaysia? betapa pentingnya saling kebergantungan antara malaysia dan indonesia, tapi kenapa ada pihak yang x senang dgn kemajuan ini? rakyat indonesia marah, dan menuntut semua rakyatnya di malaysia pulang ke tanah air.. mereka berdemonstrasi, tetapi MENGAPA bendera Malaysia yang harus dipijak dan dibaling najis? apa salah Malaysia? Malaysia x pernah menghalang utk mereka kembali ke indonesia, tetapi sudah tentu berat hati melepaskan, kerana memikirkan kesan2 ekonomi... boleh kalian terangkan, apakah rasional perkara2 seperti ni?? maklumlah, mungkin saya kurang arif seperti kalian?

    mengenai lagu2 dan budaya yang diciplak malaysia. spt yang dinyatakan penulis, dlm album konsert Siti, bukankah sudah tertulis "copyright controlled"? atau mungkin di indonesia, jika penyanyi mereka memasukkan lagu hakcipta org lain dalam album mereka, mereka akan menulis penuh, "Cipta Dari masyarakat bla bla bla....". sedang kan di malaysia sendri, sperti lagu bunga melor lagu asal p ramlee, dalam album siti, dia menyatakan "copyright controlled" juga.., jadi apa maslahnya yang ingin di bawa di sini??? pelik bukan?

    seterusnya, saya ingin bertanya, Parameswara yg membuka negeri Melaka di malaysia datangnya dari mana? bukankah beliau datang merantau dari kepulauan jawa (indonesia)... beliaulah yang membuka negeri melaka, dan titik tolak dari sini, tak mustahil bukan, pasti ada pengaruh budaya dari negara indonesia... malah, bukankah malaysia juga terkenal dgn pusat pedagang yang menjadi tumpuan pelbagai bangsa, jadi tak hairanlah malaysia punyai pelbagai budaya...

    dalam hal ini, mengapa rakyat indonesia x menyalahkan parameswara yg menyebabkan pengaruh mereka tersebar hingga ke malaysia??? siapakah parameswara? asalnya bukankah dr indonesia juga? (ini salah satu cara penyebaran budaya) jadi, anda jawab sendiri...

    ReplyDelete
  11. sisi lain, bukankah majoriti rakyat indonesia berbangsa melayu? x kiralah melayu apa sekalipun tetapi pokok pangkalnya adalah melayu, jadi mengapa kita perlu hairan bila budaya dan adat resam yang serupa diamalkan bangsa yang serupa tetapi dalam negara yang berbeza? hairan? pelik bukan?

    atau lebih hairan jika bangsa serupa yang tinggal di negara berbeza tetapi bergaduh berebut adat budaya mereka walaupun asalnya, mereka adalah sama.... jadi apakah yang ingin di bawa oleh anda wahai rakyat indonesia?

    tidakkah anda tahu, perkara sekecil2 begini, bila dipanas2kan, x mustahil dua wilayah akan berperang suatu hari nnti. dan pada ketika itu, kita bangsa melayu serumpun akan dipandang rendah dan di tertawa bangsa lain... jadi, itukah yang anda mahu???

    bukan saya menyokong malaysia menciplak, mencuri budaya indonesia, tapi anda harus faham maksud "pengaruh", "asimilasi", "penerapan" dan sebagainya yang amat berbeza dengan "maling, menciplak,," dan sebagainya...

    seperti lagu negaraku, anda seharusnya bangga bila sultan melayu suka dgn karya org indonesia, dan bangga bila susunan muzik itu diterap sbg lagu kebangsaan malaysia... bukankah begitu rakan serumpun?

    atau jika benar indonesia betul2 ingin menuduh malaysia meniru dan menciplak adat budaya mereka, mengapa anda tidak claim bahasa2 dalam 'kamus dewan' malaysia yang diterimapakai di malaysia, yang banyak diasimilasi dr perkataan2 jawa indonesia, spt 'bobrok, bejat' dan sebagainya... persoalannya, kenapa kami di malaysia menerima penggunaan bahasa indonesia? kerana kami terbuka dan faham kita berasal dt tuturkata adat budaya yang sama, atas bangsa yang sama...

    jika benar malaysia adalah 'MALINGSIA',
    1)mengapa negara2 arab tidak claim dan mendakwa malaysia mencuri budaya mereka, kerana malaysia ada tarian zapin, dabus, alat muzik gambus dan sebagainya.... tetapi, kenapa mereka x menuduh malaysia mencuri? kerana mereka faham dan bangga, pengaruh muzik dan budaya mereka sampai ke malaysia ketika berdagang dulu kala..

    2)mengapa masyarakat portugis x berdemonstrasi menuntut tarian portugis yang dipromosi di malaysia?
    - kerana mereka faham, kesan pengaruh budaya mereka disebar ketika zman dulu kala.

    3)mengapa negara China dan India tak menyalahkan malaysia kerana terdapat persamaan budaya meraka di malaysia?
    -kerana mereka tahu makna 'pengaruh budaya' yang dibawa bangsa mereka ke tanah melayu dulu kala...

    jadi siapa sebenarnya yang gopoh, siapa sebenarnya yang salah? adakah malaysia salah menerima kehadiran orang2 asing ini ketika zaman dulu? adakah malaysia yang mencuri budaya mereka? anda jawab sendiri.
    bagi saya, tiada siapa yang salah, cuma ada pihak yang salah faham...

    saya x menyalahkan rakyat indonesia 100%, kerana kita juga manusia biasa, kadangkala terlepas amarah atas nama patriotik. saya juga patriotik atas nama negara malaysia tercinta.. anda kutuklah malaysia mencuri, tidak kreatif dan sebagainya.. kerana bagi saya, tuhan itu maha adil. Ya, org malaysia tidak kreatif, tapi kami ada kelebihan di lapangan yang lain. Ya, indonesia punyai banyak org berotak kreatif, tapi anda juga ada kelemahan di bidang yang lain. dan kerana itulah, pentingnya kerbergantungan dan saling memerlukan antara malaysia-indonesia. kerana bila adanya penyatuan, pasti lebih berkat dan kuat.
    justeru, mengapa perlu kita yang sebangsa bersengketa, hanya kerana berebut budaya yang diperjuang atas nama negara berbeza. berbaloikah semua usaha anda itu? fikir-fikirkan.

    ReplyDelete
  12. Gak masalah dibilang penjiplak, yang penting Malaysia kaya raya. Kita di Indonesia juga perlu belajar bagaimana mengelola kekayaan alam sehingga tak ada lagi orang Indonesia jadi pekerja kasar di Malaysia.

    Selama kita hanya bisa kirim tenaga kerja KASAR, maka selamanya orang Indonesia dianggap bangsa yang bodoh, tak punya otak. Kita harusnya malu.....

    wong jowo

    ReplyDelete
  13. tidak mustahil indonesia juga akan sukses seperti malaysia, cuma kita janganlah bersangka buruk sesama negara jiran. kerana kita saling perlu dan apabila indonesia susah, kami di malaysia turut memberi sumbangan. mungkin hari ini indonesia susah, esok lusa mana tahu malaysia pula yg perlukan indonesia. jadi jangnlah kita terpengaruh dengan hasutan kecil begini. indonesia tidak perlu merasa malu, kerna malaysia ketika awal dulu pun rakyatnta hidup di bawah tunjuk org lain dan kerja kasar juga, tapi mungkin indonesia memerlukan masa yang lebih panjang utk menjadi sebuah negara yang maju, atas faktof penduduk yang berkali ganda ramai, dan kawasan yang luas. cuma satu, jika kita terus bergaduh dan berbalah, alangkah rugi kedua2 negara, sama2 jatuh reputasi, malah x mustahil nanti kita dijajah semula....

    ReplyDelete
  14. bung, menjiplak itu kadang2 malah bagus. jepang maju karena mejiplak Barat, khususnya USA. sekarang china juga maju dengan menjiplak produk2 bangsa lain. menjiplak or copying itu merupakan langkah awal untuk mencapai kemajuan.

    kita di Indonesia pun seharusnya MENJIPLAK bagaimana malaysia bisa maju dan mampu memberi makan jutaan orang indonesia. kalau kita sukses menjiplak, insya allah, tak akan ada lagi orang Indonesia yang bekerja kasar, dihinakan, di Malaysia.

    Kalau sekadar menjiplak nyanyian atau tarian, menurut saya, itu sih persoalan kecil. yang paling penting justru bagaimana membangun Indonesia menjadi negara yang maju sehingga disegani. selama kita miskin, maka kita akan terus dihinakan oleh bangsa Malaysia.

    ReplyDelete
  15. tidak ada istilah rakyat indonesia dihina oleh rakyat malaysia. semenjak dulu pernah tidak anda dengar rakyat indonesia dihina dan sebagainya? tetapi, mengapa semenjak dua menjak ini, selepas ada provokasi kecil dan dituduh sebagai mencuri budaya, barulah malaysia bertindak balas dgn komen2 menghina di web dan sebagainya. dalam hal ini adakah malaysia tidak berhak utk menyatakan perasaan mereka bila mereka dikutuk dan digelar pelbagai ejekan oleh rakyat indonesia? saya beranggapan, jika anda semua tidak memprovokasi isu kecil yang kebanyakannya x berasas,mustahil kami mahu bertindak balas. dan bila malaysia dituduh dgn pelbagai gelaran, sudah pasti kami berasa marah juga. ya, mungkin ada segelintir rakyat malaysia yg menghina indonesia secara melulu, tp adakah adil jika melabelkan semua rakyat malaysia memandang hina terhadap anda? apakah di indonesia sendiri yang kaya semuanya memuliakan yang kurang mampu? atau tetap ada kasus yg kaya menghina yang kurang mampu? nah! ini semua realiti hidup... kami di malaysia tidak akan menghina anda melainkan jika anda yang memulakan serangan2 terhadap malaysia... sudah banyak kali kami bersabar, bukan sekali dua anda mahu mengganyang malaysia, tp kami masih boleh bersabar... bukan bermakna kami 'banci', tapi selagi kami mampu mempertahankan hubungan kita saudara serumpun, insyaallah kami akan terus bersabar dgn anda... kalau kami keji dan ingin menghina kalian, kami juga punya isu penting spt kasus 'pekerja indonesia tikam pekerja nepal'. jika kami berniat jahat, kami boleh provokasi hal sekecil begini hingga kedua buah negara terancam.. tetapi, kita harus akur, itulah realiti hidup, ada manusia baik, dan ada manusia yang kejam. jadi, amatlah tidak adil jika anda mengatakan kami warga malaysia menghina anda warga indonesia. kerna di sini, masih banyak pembantu rumah indonesia yang dilayan baik seperti keluarga sendiri, berita mereka x pernah anda baca di koran. jadi, adilkah jika kami dikata menghina anda sedangkan kami x memulakannya melainkan anda sendiri yg memulai... saya x mahu berbalah.. tapi saya menyeru anda semua sama memulihkan hubungan 2 negara. adkah dgn perbalahan akan dapat memajukan indonesia? jika tidak, mengapa kita tidak memilih jalan damai yg pasti menyenangkan kita semua pihak...

    ReplyDelete
  16. NOT ANGKA berasal dari Indonesia. NOT BALOK dari Eropa. saya sendiri lebih mudah membaca not angka daripada not balok.

    ReplyDelete
  17. setuju gan... NOT ANGKA memang asli produk Indonesia... kembangkan terus...

    ReplyDelete
  18. saya sangat setuju. blog ini harus lebih di ekspor lagi. semua warga Indonesia wajib melakukan aksi dan pembelaan dalam kasus ini. sedikit demi sedikit karya, budaya, suku, dan kemerdekaan kita akan direnggut!

    ReplyDelete
    Replies
    1. salahnya indo itu, kalo ada budaya, makanan, tarian, lagu, dll, bagusnya langsung di patenkan biar tidak di rebut. tempe aja asli indo, tapi indo ga inisiatif buat patenkan tempe, malah duluan di patenkan sama Jepang. kan sayang tuh, makanan asli 100% indo di ambil duluan sama Jepang.

      Delete
  19. Menurut saya,malaysia itu tdk merebut lagu negara kita

    ReplyDelete
  20. Malaysia kan kecil, jadi gampang ngatur negaranya, dan dia kan dibawah naungan inggris, wajarlah maju, dan kita indonesia bangsa yang besar, luas, dari sabang sampai marauke, ribuan bahasa, suku, agama, adat istiadat dan kebudayaan menyatu dalam naungan demokrasi pancasila, kita mencoba dalam proses mewujudkan akan eksistensi NKRI yang satu, sampai kapanpun Nusantara ini tetap indah.. mengenai lagu, sudahlah, kita ini bangsa yg kreatif, ulet, mandiri, dan ramah tentunya, seluruh dunia pasti ada orang indonesia, kalo memang Malaysia menjiplak lagu indonesia biarkan saja, mereka seperti hidup penuh kebohongan, kalo mau ngaku ya syukur, tp kalo berbohong, Tuhan akan bicara, kebohongan tidak akan bisa di tutupi, sekarang bgini, saran saya, kita ini kan negara serumpun, mari kita bangun rasa saling menghargai, dan mengerti, apa yg seharusnya dilakukan, karya itu mahal, anda juga pasti ngerti kan, oke gan .. dan bisa hidup rukun antar bangsa .. wassalamualaikum, salam sejahtera, dan salam hangat dari saya, pemuda Nusantara .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari dulu alasannya Malaysia itu kecil, Singapura itu kecil, dll. Jadi gampang toh, penyelesaiannya, NKRI dibagi-bagi saja menjadi negara kecil-kecil. Nggak terima? Lah ya itu. Lantas bgmn negara sebesar Indonesia mau makmur? Karakternya itu lho bung, yang jadi pejabat jangan suka korupsi. Sudah itu saja.

      Delete