22 October 2007

Kris Mariono penggerak seni rupa

Teman saya yang satu ini, Kris Mariono, tidak bisa melukis. Tapi apresiasinya terhadap seni rupa sangat baik. Kris juga bergaul luas dengan para pelukis [pemula hingga senior] di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang. Hampir semua pelukis di Jawa Timur yang menggelar pameran di Surabaya atau Sidoarjo dia kenal.

Maklum, sehari-hari Kris Mariono bekerja sebagai reporter RRI [Radio Republik Indonesia] Surabaya. Kris banyak dipercaya membuat reportase tentang seni budaya, khususnya seni rupa. Teman-teman pelukis merasa kurang afdal manakala Kris tidak kelihatan batang hidungnya.

"Kris RRI mana? Kok gak kelihatan?" begitu komentar Bambang Harryadjie, pelukis senior Sidoarjo, dalam sebuah pameran bersama di Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Karena bergaul rapat dengan para pelukis [dia tidak pilih-pilih pelukis], pria yang tinggal di Sidoarjo ini lama kelamaan menjadi kolektor. "Yah, kolektor kecil-kecilan lah. Saya simpan untuk apresiasi dan sewaktu-waktu akan saya pamerkan."

Kris Mariono bukan wartawan biasa. Kalau wartawan atawa reporter umumnya hanya wawancara, cari data, menulis, memublikasikan laporan, Kris menjalin ikatan dengan para pelukis. Hampir tiap hari dia 'jagongan' dengan pelukis. Diskusi membahas macam-macam gaya lukisan, peluang pasar, hingga menggagas pameran lukisan. Maka, Kris kemudian dikenal sebagai salah satu panitia penyelenggara [event organizer] pameran lukisan.

Saya mencatat pada tahun 2004 Kris menggarap begitu banyak pameran lukisan di Surabaya dan Sidoarjo. Pelukis-pelukis pemula, sedang, hingga senior diajak pameran bersama baik di Surabaya maupun Sidoarjo.

"Saya ingin karya teman-teman pelukis dikenal masyarakat. Punya karya, tapi tidak dikenal orang, untuk apa? Lukisan itu kan sebaiknya dikoleksi orang," ujar laki-laki murah senyum ini.

Profesi wartawan RRI membuat Kris Mariono bisa menjalin komunikasi dan lobi ke mana-mana. Di daerah, pendekatan pada pejabat macam bupati, wali kota, kepala dinas... sangat penting. Juga omong-omong dengan pengusaha, calon kuat kolektor lukisan. Kadang-kadang sambil wawancara untuk medianya, Kris diskusi kecil soal pengembangan seni lukis di daerah. Bagaimana kalau bikin pameran yang melibatkan pelukis ini, ini, ini.

Begitulah. Kris pernah berhasil meyakinkan pejabat di Sidoarjo bahwa pameran lukisan itu penting untuk mengangkat citra Kabupaten Sidoarjo. Apalagi, Bupati Win Hendrarso sejak tahun 2000 mencanangkan Sidoarjo sebagai kota festival. "Kita harus gulirkan event-event seni rupa. Kalau bisa sebanyak mungkin," tuturnya.

Dr. Emmy Susanti, istri Bupati Win Hendrarso, akhirnya setuju dengan program pameran lukisan khusus perempuan pelukis. Pameran bersama dilakukan di pendapat kabupaten, kawasan alun-alun Sidoarjo. "Saya kerja sama dengan Anita [Sechan, pelukis asal Waru]," kenangnya.

Pameran itu cukup berhasil. Pendapa yang tadinya terkesan 'angker', sulit didatangi rakyat biasa, akhirnya bisa dinikmati ramai-ramai. Bersamaan dengan peringatan Hari Kartini, Kris Mariono bersama pengurus PKK [Pembinaan Kesejahteraan Keluarga] Sidoarjo, yang dipimpin Bu Emmy Susanti, memecahkan rekor Muri [Museum Rekor Indonesia] untuk bordir terpanjang. Peristiwa ini beroleh liputan luas dari media massa.

Sukses menggelar pameran untuk pelukis-pelukis Sidoarjo, Kris Mariono kemudian mengajak pelukis-pelukis dari kota lain di Jawa Timur.
Istilahnya, Sidoarjo plus. Alasannya: "Kita tidak bisa jalan sendiri tanpa kolaborasi dengan teman-teman pelukis dari daerah lain. Ini juga sekalian untuk menambah referensi teman-teman pelukis Sidoarjo."

Benar saja. Rencana Kris akhirnya terwujud. Teman saya ini memang selalu fokus pada rencananya. Kalau Kris sudah menyiapkan rencana, program, gagasan, biasanya jalan. Dananya dari mana, siapa saja pendukungnya, biasanya teratasi meskipun awalnya berat.

Kuncinya: "Kita harus jalan terus, jangan menyerah meski banyak rintangan. Jangan mundur di tengah jalan."

Menurut Kris, mengurus seniman, apalagi pelukis, apalagi di Jawa Timur, itu tidak gampang. Sebab, para pelukis ini orang bebas yang tidak pernah terikat tenggat waktu [deadline] macam wartawan atau profesi lain. Janji menyerahkan lukisan tanggal 10, misal, tanggal 12 belum jadi. Omongannya sulit dipegang.

"Tahu sendiri lah kerja sama pelukis itu bagaimana. Tapi kita harus sadar bahwa dunia seniman memang kayak begitu. Mereka bukan buruh atau pekerja kantoran yang diatur-atur dengan aturan ketat," tutur Kris.

Toh, dia tidak jera bekerja sama dengan pelukis karena sudah telanjur mencintai seni rupa. Mengurus pameran seni rupa--jangan tanya keuntungan, katanya--membawa kepuasan batin tersendiri baginya. Puas karena dia bisa memberikan sedikit sumbangan untuk kesenian di Jawa Timur. "Saya senang kalau pameran itu mendapat apresiasi luas," katanya.

"Misalnya ada lukisan yang laku. Bagaimana pembagian hasil antara pelukis dan panitia? Kemudian, bagaimana komitmen pelukis dengan panitia?" saya bertanya.

Menurut Kris Mariono, soal ini sangat sensitif dan belum ada aturannya di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Karena itu, pelukis-pelukis kerap mencurigai panitia dan sebaliknya. Iklim kesenian kita pada umumnya belum sehat, belum profesional, sehingga perlu waktu untuk memperbaikinya. Panitia yang sudah kerja capek-capek untuk bikin pameran selalu dicurigai 'makan' lukisan. Menilep pelukis. Alamak!

"Yang penting, kita saling komunikasi dan saling terbuka," ujar Kris.

Sejak tahun 2006 saya melihat gairah Kris Mariono tidak sehebat tahun-tahun sebelumnya. Capekkah? Saat saya hubungi beberapa waktu lalu, Kris mengaku sibuk mengelola BENDE, jurnal kebudayaan versi Taman Budaya Jawa Timur. Juga aktif berdiskusi dengan komunitas seniman di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya.

"Sekarang giliran teman-teman lain dulu yang bergerak. Kalau terlalu diforsir, bisa sakit kita," ujar Kris. Tiarapnya jangan lama-lama, Cak!

4 comments:

  1. Salam dari Semarang untuk Pak Kris dan Anda. Sosok Pak Kris unik dan diperlukan banyak seniman.

    Salam saya juga untuk Slamet "Boy" Peng An.

    ReplyDelete
  2. Salam kenal sebelumnya.
    Saya ardanang.Surprise buat saya membaca posting tulisan anda tentang makhluk yg bernama kris mariono yg ternyata beliau punya
    apresiasi yg tinggi thd seni.
    Saya jadi kangen, maklum kami terputus sejak 13 th yl,saat sama2 sekolah di jogja.
    Melalui kesempatan ini kl ga keberatan,saya minta no.tlp/alamat email sdr. kris. Sebelumnya saya ucapkan trimakasih.Ini alamat email saya:
    ardanang@yahoo.com tlp:08156015398

    tx

    ReplyDelete
  3. Bung Tubagus dan Bung Ardanang,
    terima kasih sudah baca dan komentari tulisan saya. Salam budaya!

    ReplyDelete
  4. perlu orang2 seperti beliau untuk menyatukan insan seniman di tanah air, perkembangan zaman saat ini begitu besar, pengaruh western culture didunia anak muda sekarang sgt memprihatinkan. ayoo kita dukung program2 beliau, jayalah budaya Indonesia

    ReplyDelete