29 October 2007

Korban lumpur belajar melukis


Rumah Hesti di Siring, Porong, sebelum ditenggelamkan lumpur.

"Ini lukisan terbaru saya. Coba lihat," kata Hesti, 37 tahun, kepada saya di kawasan Pondok Mutiara, Sidoarjo, akhir pekan lalu.

Lukisan bunga matahari, lumayan bagus untuk ukuran pemula. Ibu rumah tangga lagi. Hesti beberapa waktu lalu ikut pameran bersama di Sidoarjo dan Surabaya. Pengalaman baru yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Semua bermula dari semburan lumpur panas di kawasan Porong pada 29 Mei 2006.

Rumah Hesti yang hanya berjarak 200-an meter dari Sumur Banjarpanji I milik Lapindo Brantas Inc [pusat semburan lumpur] tenggelam. Kemudian seluruh Desa Siring habis. Nah, sejak itu Hesti dan suaminya, Totok, mengungsi di Pasar Porong. Tak betah, Hesti bersama suaminya mencari kontrakan di Pondok Mutiara.

Kemudian, korban lumpur asal Perumahan Tangulangin Anggun Sejahtera I datang menyusul ke Pondok Mutiara. Kita tahu, Perum TAS I tenggelam gara-gara pipa gas Pertamina meledak pada 22 November 2006. Sejumlah korban lumpur pun mengisi waktunya dengan macam-macam kegiatan. Salah satunya, ya, menggambar.

"Kebetulan saya ini kan pernah belajar nggambar waktu kecil. Jadi, waktu dibimbing sedikit saja sudah bisa," tutur Hesti lalu tersenyum.

Tinggal di Pasar Seni Pondok Mutiara [meski pasar seninya tidak jalan, hanya nama] membuat Hesti bergaul tiap hari dengan pelukis-pelukis Sidoarjo dan Surabaya. Mereka memberikan masukan, membimbing, hingga Hesti dan beberapa ibu rumah tangga lain bisa mengambar. Kegiatan ini sedikit banyak mengalihkan perhatian mereka pada kerugian luar biasa akibat lumpur lapindo.

"Rumah kami yang besar itu sama sejumlah barang berharga tidak bisa diselamatkan. Kamu tahu itu kan rumah tua, warisan, yang di dalamnya banyak koleksi benda-benda berharga. Saya dan Mas Totok hanya bisa menyelamatkan barang-barang yang gampang diangkut," tutur Hesti.

Kalau bicara soal lumpur, Lapindo, kenangan di Desa Siring, Hesti selalu sendu. Keriangan karena lukisan saya puji seperti tiba-tiba hilang. Asal tahu saja, saat ini kampung tua bernama Siring sudah menjadi lautan lumpur. Tinggi air lumpur sudah melampaui bubungan rumah, bahkan pabrik arloji PT Catur Putra Surya, bekas tempat kerja mendiang Marsinah [pahlawan buruh] dulu. Tugu Kuning, tetenger khas Siring, masih ada, tapi saya pastikan akan segera lenyap.

Kini, setelah mampu menggambar, Hesti melukis tiap hari. Lukisannya, ya, kembang, kembang, dan kembang. Macam-macam kembang dengan corak atau karakter yang berbeda. Kembang atawa bunga itu bisa dikreasi menjadi seribu satu macam, seakan tak berhingga. Hesti menyimpang lukisan di sebuah ruang khusus, semacam showroom.

"Saya melukis kapan saja saya suka. Kadang kala malam pun saya tidak tidur karena melukis. Nggambar thok sampai pagi. Yah, kehidupan saya sudah kayak seniman beneran," papar perempuan kelahiran Lumajang pada 1970 ini.

Tak jauh dari situ terdengar irama keroncong. Beberapa pemusik tua main musik, pelukis tua nyanyi, meski suaranya fals, buat hiburan. Masih di kompleks sama, beberapa seniman diskusi, bicara ngalor-ngidul, tentang kesenian di Surabaya, Sidoarjo, Jawa Timur umumnya. Syaiful Hajar, perupa, sedang membuat karya untuk biennale di Bandung beberapa waktu mendatang.

Seni memang sarana katarsis terbaik buat korban lumpur. "Kapan pameran lagi? Lukisan sampean kan sudah banyak?" tanya saya. Mas Totok, suami Hesti, tertawa kecil.

"Wah, belum ada rencana. Yang penting, menggambar, menggambar, menggambar. Lihat situasi saja," kata Hesti. Tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Tapi, usut punya usut, setelah saya tanya beberapa orang yang tepat, rangkaian pameran bersama korban lumpur beberapa waktu lalu tidak berjalan mulus. Ramai dan terkesan sukses di media massa, tapi menyisakan persoalan di kalangan sesama seniman. Banyak protes, ketidakpuasan, karena ini-itu.

"Itu proyek ruwet. Katanya untuk korban lumpur, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Transparansi juga kurang, sehingga timbul saling curiga. Dan itu tidak sehat," kata Bambang Haryadi, pelukis senior. Suara sumbang juga disampaikan beberapa pelukis asal Sidoarjo.

Malam itu, saya melihat Hesti makin asyik melukis. Melukis bunga. Rupanya, dia enggan terlibat dalam keruwetan khas seniman daerah yang tak putus dirundung kemelut. Hesti, teruslah melukis!

No comments:

Post a Comment