09 October 2007

Kawin cerai ala selebriti

*Telaah Kasus Perceraian Kristina dan Al Amin

Kristina Iswandari resmi menjadi istri Muhammad Al Amin Nur Nasution pada 4 Januari 2007. Enam bulan kemudian, pasangan suami-istri ini siap-siap bercerai. Seperti biasa, infotainmen di televisi kita ramai-ramai membahasnya dalam aneka macam liputan.

Kenapa Kristina dan Al Amin bercerai? Jawab terbaik, dan paling benar, tentu hanya kedua orang ini yang tahu. Kita, orang luar, hanya bisa menduga-duga. Tapi, dari berbagai pemberitaan selama ini, naga-naganya perbedaan ‘ideologi’ keduanya sulit dijembatani.

Al Amin politikus dari partai konservatif. Kristina penyanyi dangdut yang terbiasa tampil di depan umum. Kristina seniman industri. Panggung dan publik tak bisa lepas dari kehidupannya. Dan berkat panggung dangdutlah, saya kira, Al Amin mengenal Kristina, dan kemudian memutuskan menjadi pendamping hidupnya.

Dus, sejak awal Al Amin tentu tahu benar siapa Kristina itu. Penyanyi dangdut itu kayak apa. Goyang Kristina kayak apa. Dan seterusnya. Lha, bagaimana mungkin mengubah seorang Kristina ‘Jatuh Bangun’ dalam sekejap setelah resmi menjadi istri Al Amin? Di sinilah masalahnya.

Al Amin politikus dari partai konservatif. Kita harus sadar bahwa orang konservatif menjaga nilai-nilai, tradisi lama, yang sudah berlangsung ratusan, bahkan ribuan tahun. Nilai-nilai ini dilegitimasi oleh ajaran agama, nas kitab suci. Maka, ajaran patriarkhi senantiasa menjadi rujukan kaum konservatif.

Bagi orang-orang konservatif [mungkin 90 persen orang Indonesia], suami itu kepala keluarga. Merah hitamnya rumah tangga, demikian ajaran patriarkhi, ditentukan oleh suami. Kendati suami jelek, bodoh, pendidikan kurang, kurang modis… ya harus dihormati. Wong dia kepala keluarga. Orang Jawa bilang: swargo nunut neraka katut.

Karena itu, tak heran di infotainmen Al Amin sering bilang dia ingin Kristina mendampingi dirinya selama 24 jam. Artinya, Al Amin secara halus mau mengatakan bahwa Kristina harus menjadi istri yang manut suami, mengatur rumah tangga, mengurus suami, fokus di rumah. Tidak perlulah cari uang di luar dengan nyanyi dan sebagainya.

Bukankah penghasilan suami sudah cukup? Kenapa harus cari uang malam-malam dengan konser di mana-mana? Kristina, jadilah ibu rumah tangga yang baik. Jadilah manusia rumahan, bukan figur publik.

Tapi, kita tahu, Kristina sudah telanjur jadi manusia publik. Penyanyi dangdut terkenal dengan mutu vokal bagus. Jangan heran, upaya ‘merumahkan’ Kristina sangat tidak mudah. Belum lagi ada kepentingan keluarga Kristina yang, kata infotainmen, ingin jatah rezeki dari kerja Kristina di dunia dangdut. Tambah runyam lah keadaan.

Saya kira, persoalan ini lebih mudah diselesaikan manakala Kristina mau menyadari bahwa dia itu istri politikus agamis-konservatif. Satu-satunya jalan, ya, Kristina mau mengalah, berhenti menjadi penyanyi dangdut, dan mengikuti irama kerja suaminya, Al Amin, yang menginginkan Kristina menjadi istri yang ‘berbakti’ kepada suami. Seharusnya, Kristina sejak awal sudah tahu risikonya menjadi istri seorang konservatif.

“Kasus Kristina dan Al Amin itu akibat perbedaan ideologi,” ujar Muhammad Asikin, teman saya di Surabaya. “Dan itu sulit dipertemukan kalau tidak ada upaya saling memahami dan mengalah. Kalau keduanya sama-sama keras, ya, gak akan ketemu.”

Kristina jelas menganut ideologi hiburan yang sekuler. Di mana-mana penyanyi itu kerja malam hari. Dunia malamlah. Bisa jalan bareng siapa saja, terlihat mesra sama siapa saja, demi karier. Ramah, manis.. dengan banyak orang demi memelihara pasarnya.

Sebaliknya, manusia konservatif jelas tak ingin melihat istrinya 'dekat' dengan banyak orang. Istri adalah konco wingking, pendamping suami… yang siap melayani suami selama 24 jam. Istri bertugas mendidik anak-anak dan tidak perlu larut dalam pekerjaan di luar rumah (publik) yang menyita begitu banyak waktu.

“Gak iso ketemu kalo salah sijinya gak gelem ngalah, Cak,” ujar Syamsul, teman asal Sidoarjo.

“Kenapa kasus Kristina versus Al Amin kok dibahas? Apa gunanya untuk pembaca blog?” tanya teman saya.

Bagi saya, kasus Kristina vs Al Amin hanyalah satu contoh kecil. Ia ibarat gunung es yang akan terus membesar di tanah air seiring makin berkembangnya gerakan perempuan yang terus-menerus mendekonstruksi sistem patriarki di tanah air.

Jangan kaget, ke depan kasus-kasus rumah tangga macam Kristina vs Al Amin akan terjadi dan terus terjadi di Indonesia. Dan paradigma masyarakat sudah berubah sama sekali. Kalau dulu status janda dianggap sebagai ‘aib’, kini jadi janda… siapa takut?

Bukankah perempuan bisa cari uang sendiri seperti laki-laki? Maka, saya perkirakan, ke depan kita akan semakin sulit menemukan pasangan suami-istri yang merayakan usia pernikahan perak [25 tahun], emas [50 tahun], 60 tahun, 70 tahun. Alih-alih hidup bersama selama puluhan tahun, pedangdut Kristina hanya bisa bertahan selama enam bulan. Hehehe....

“Mau enaknya saja laki-laki itu. Dikira hanya dia yang bisa kawin lagi setelah bercerai. Perempuan pun kalau memang sudah jodoh, ya, bisa dapat suami baru. Gitu aja kok repot,” komentar teman saya, aktivis perempuan di Surabaya.

Menurut teman ini, Kristina telah menunjukkan bahwa dia bukanlah perempuan yang bisa begitu saja ditaklukkan oleh laki-laki konservatif-patriarkis. Sebuah pelajaran berharga bagi anda dan saya.

1 comment:

  1. Analisa yang menarik dan menambah wawasan.

    ReplyDelete